<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-27366165</id><updated>2012-01-04T13:56:45.262+07:00</updated><title type='text'>Catatan Fauzi Rachmanto</title><subtitle type='html'>Catatan-catatan ringan Fauzi Rachmanto.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Fauzi Rachmanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14831845815996709974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_AFw7AVcDntE/ShJCO9gF3KI/AAAAAAAAAIQ/VVgCHydCDDU/S220/fauzi.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>96</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27366165.post-3606179327952094909</id><published>2011-02-17T00:48:00.001+07:00</published><updated>2011-02-17T15:58:40.308+07:00</updated><title type='text'>Pengumuman Penting</title><content type='html'>Terimakasih kepada teman-teman yang berkunjung ke blog ini. Supaya lebih nyaman bagi teman-teman semua, saya telah membuatkan tempat baru yang lebih baik. Untuk selanjutnya silakan kunjungi http://fauzirachmanto.com/ untuk terus mengikuti tulisan-tulisan terbaru saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fauzi Rachmanto&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27366165-3606179327952094909?l=fauzirachmanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/feeds/3606179327952094909/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27366165&amp;postID=3606179327952094909' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/3606179327952094909'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/3606179327952094909'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/2011/02/pengumuman-penting.html' title='Pengumuman Penting'/><author><name>Fauzi Rachmanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14831845815996709974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_AFw7AVcDntE/ShJCO9gF3KI/AAAAAAAAAIQ/VVgCHydCDDU/S220/fauzi.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27366165.post-1442112981208739404</id><published>2010-03-09T10:24:00.000+07:00</published><updated>2010-03-09T10:26:30.888+07:00</updated><title type='text'>Choose Your Customers, Choose Your Destiny</title><content type='html'>“Maaf Pak, solusi yang kami miliki tidak sesuai dengan kebutuhan perusahaan Bapak, namun demikian saya akan referensikan nama Bapak kepada teman saya yang menyediakan jasa yang lebih sesuai dengan kebutuhan Bapak …” demikian saya sampaikan kepada calon pelanggan di depan Saya, sesopan mungkin, sambil mengemasi alat tulis saya. Mata beliau terbelalak, mulut nya terbuka, seolah ingin berkata-kata tapi sulit keluar. Saya paham beliau dilanda kebingungan teramat dahsyat. Sudah gila apa orang di depan saya ini. Menolak pelanggan? Bukankah seharusnya perusahaan IT seperti SDGI ini mencari dan mengejar pelanggan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, jangan salah paham, kami tentu juga butuh pelanggan. Namun pelanggan yang seperti apa? Itu yang kami juga harus selektif. Wah, kenapa harus menyeleksi pelanggan? Bukankah seharusnya kita yang diseleksi pelanggan? Nah, ini yang harus diluruskan. Menurut saya, penjual juga harus menyeleksi pembeli nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profil pembeli yang tidak sesuai dengan jualan Anda akan merepotkan. Bayangkan, jika Anda adalah pemilik butik yang menyediakan baju-baju pesta “high-end” dengan harga berjuta-juta. Lalu kemudian datang serombongan remaja ABG datang dan mencari T-Shirt dan Jeans murah meriah untuk nongkrong di Kafe. Tentu akan ada ketidaknyamanan disana. Karena profil ABG yang masuk ke butik Anda tidak sesuai dengan produk yang Anda tawarkan. Model mutakhir butik Anda yang rancangan designer ternama bisa-bisa malah jadi bahan tertawaan calon pelanggan Anda. Belum lagi, harga nya bisa-bisa membuat calon pelanggan ABG Anda pingsan berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya jangan heran kalau outlet butik-butik ternama akan menyesuaikan diri dengan profil pelanggan yang diharapkan akan datang. Bangunan dan desain interiornya umumnya dibuat sangat mewah dan “angker”. Sehingga kalau “orang biasa” yang uangnya pas-pas an, mau masuk saja akan takut dan gemetar. Ini memang disengaja, karena orang yang keuangannya pas-pas an tidak diharapkan menjadi pelanggan mereka, inilah proses seleksi pelanggan.&lt;br /&gt;Apakah seleksi awal untuk menyelaraskan profil pelanggan dan produk atau jasa kita sudah cukup? Belum. Ini baru tahap awal. Selanjutnya kita juga bisa melakukan seleksi atas pelanggan-pelanggan yang memberikan kontribusi positif lebih banyak kepada usaha kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kita tahu, tidak semua pelanggan memberikan kontribusi yang sama. Ada pelanggan yang rewel, banyak meminta, jarang beli, kalaupun beli nawarnya minta ampun, sudah begitu bayarnya susah. Sebaliknya ada pelanggan “ideal”, yang penggemar fanatik produk kita, tidak banyak menuntut, sering beli, gak pakai nawar, sudah begitu aktif mempromosikan produk kita pada teman-teman nya. Anda pilih punya pelanggan yang mana? Tentu yang ideal. Nah, misi kita adalah memperbanyak pelanggan tipe ideal, dan mengurangi yang tidak ideal. Caranya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pertama. Tetapkan Kriteria Pelanggan Ideal Anda.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda belum punya, buat. Pelanggan ideal yang seperti Apa yang ingin Anda miliki? Kalau mereka individu, dari kelompok umur berapa? Apa profesinya? Berapa besar pendapatannya? Bagaimana mereka membelanjakan uangnya untuk produk Anda? Kalau mereka perusahaan, di industi apa mereka berkiprah? Seberapa besar assetnya? Berapa jumlah karyawannya? Bagaimana metoda pembelian barang dan jasa mereka? Bagaimana mereka membayar Anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriterianya tidak usah banyak-banyak dan sederhana saja. Misalnya, kriteria pelanggan ideal saya adalah: 1. Perusahaan atau lembaga dengan karyawan minimal 1,000 orang, 2. Menggunakan IT sebagai pendukung operasi usaha nya, 3. Memiliki infrastruktur IT tersebar di lebih dari 5 kantor cabang, 4. Memiliki anggaran belanja IT dan siklus pembelian yang jelas, 5. Memiliki prosedur pembayaran tagihan yang jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang ada banyak calon pelanggan di luar sana, dengan berbagai profilnya. Namun, kali ini Anda memilih profil pelanggan yang ideal menurut Anda, yang profilnya selaras dengan produk atau jasa yang Anda tawarkan, dan akan memberikan kontribusi lebih besar bagi usaha Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kedua. Buat Kelompok Pelanggan Anda.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sekarang lihatlah database existing pelanggan Anda. Oh ya, meskipun Anda menjual produk retail, sebaiknya Anda memiliki database pelanggan. Kalau belum, coba buat data sampling pelanggan yang membeli produk Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu cocokkan dengan Kriteria Pelanggan Ideal yang sudah Anda buat. Misalnya saja Anda memiliki 5 kriteria Pelanggan Ideal, mungkin ada pelanggan yang dapat memenuhi ke-5 kriteria tadi, atau mungkin ada perusahaan yang hanya memenuhi 3 kriteria, 2 kriteria, dst. Dari sini Anda akan memiliki kelompok-kelompok Pelanggan. Misalnya Kelompok Pelanggan A (memenuhi 5 kriteria), Kelompok B (memenuhi 4 kriteria), Kelompok C (memenuhi 3 kriteria atau kurang). Ini hanya contoh, silakan gunakan kreatifitas Anda sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuannya adalah untuk mengetahui, berapa banyak pelanggan Ideal yang sudah Anda miliki. Apakah usaha Anda sudah menarik pelanggan ideal, atau malah kebanyakan pelanggan Anda, ternyata bukanlah pelanggan ideal. Informasi ini menentukan langkah kita selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ketiga. Undang Pelanggan Ideal Anda.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Nah kini saatnya “mengundang”. Pelajari dengan baik. Mengapa “Pelanggan Ideal” Anda membeli produk Anda. Apa yang sebenarnya mereka cari? Mengapa mereka memilih produk Anda? Logikanya, jika ada pelanggan dengan kriteria seperti itu memilih produk Anda, di luar sana masih banyak lagi pelanggan seperti itu yang sedang haus akan produk Anda. Kepada merekalah kita akan memusatkan perhatian kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah pertama dalam “mengundang” pelanggan ideal adalah dengan menyesuaikan cara komunikasi kita dengan mereka. Dan komunikasi mencakup komunikasi verbal dan non-verbal. Misalnya kalau Anda menjual tas wanita sekelas Louis Vuitton, sudah barang tentu Anda harus sesuaikan komunikasi verbal dan non-verbal toko dan karyawan Anda dengan orang-orang yang akan datang mencari tas sekelas LV tadi. Mulai dari tampilan toko, busana dan penampilan karyawan, hingga cara mereka berperilaku dan berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, materi “kampanye” Anda juga harus ditujukan untuk kelompok pelanggan Ideal tadi. Dengan mengetahui alasan pelanggan ideal membeli produk Anda, kita dapat membangun tema promosi yang sejalan dengan alasan tadi. Misalnya, jika produk Anda dibeli karena pelanggan ideal puas dengan mutu, corak dan warna nya. Maka sebaiknya tema ini yang digeber dalam promosi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Keempat. Pelihara Pelanggan Ideal Anda.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pelanggan Ideal Anda harus dipertahankan. Ciptakan program-program sesuai harapan mereka, yang akan membuat mereka bertahan menjadi pelanggan. Seseorang dengan profil tertentu, biasanya bergaul dengan orang-orang dengan profil yang sama. Sehingga pelanggan ideal Anda akan melakukan “getok tular” kehebatan produk Anda kepada pelanggan potensial, yang juga ideal.&lt;br /&gt;Bagaimana untuk pelanggan perusahaan? Percayalah, getok tular juga terjadi. Pejabat yang berwenang memutus pembelian produk Anda, juga berinteraksi dengan pejabat dari perusahaan lain, dan dapat menjadi “evangelist” produk Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana dengan “pelanggan tidak ideal” yang sudah terlanjur menjadi pelanggan kita. Apa dibuang saja? Hehehe … tidak perlu seekstrim itu. Berfoksulah pada Pelanggan Ideal, maka jumlah pelanggan ideal akan bertambah, entah itu dari pelanggan baru, atau bisa jadi pelanggan lama ternyata berevolusi menjadi pelanggan ideal. Atau pelanggan tidak ideal yang rontok sendiri terkena seleksi alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan empat langkah tadi, Anda sudah bisa mulai memilih pelanggan. Karena saya percaya, masa depan usaha kita, tergantung pada siapa pelanggan kita. Anda bermimpi Usaha Anda menjadi perusahaan World Class?, maka jadilah perusahaan World Class. Layani pelanggan World Class. (FR).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27366165-1442112981208739404?l=fauzirachmanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/feeds/1442112981208739404/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27366165&amp;postID=1442112981208739404' title='10 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/1442112981208739404'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/1442112981208739404'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/2010/03/choose-your-customers-choose-your.html' title='Choose Your Customers, Choose Your Destiny'/><author><name>Fauzi Rachmanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14831845815996709974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_AFw7AVcDntE/ShJCO9gF3KI/AAAAAAAAAIQ/VVgCHydCDDU/S220/fauzi.jpg'/></author><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27366165.post-8520034189341844941</id><published>2010-03-09T10:23:00.000+07:00</published><updated>2010-03-09T10:24:20.995+07:00</updated><title type='text'>Break, Turn … Accelerate !</title><content type='html'>Kalau Anda ditanya mobil apakah yang paling kencang di dunia? Mungkin yang pertama terlintas di benak Anda adalah mobil Formula 1. Tidak salah memang, karena balapan Formula 1, yang sering dijuluki sebagai “jet darat” itu konon adalah puncak pencapaian teknologi mobil yang ada saat ini. Ketika digeber di berbagai sirkuit dunia, dalam sebuah balapan resmi sebuah mobil F-1 mampu mencapai kecepatan puncak (top speed) sekitar 300 – 330 Km/Jam. Bahkan di beberapa sirkuit dengan karakter “low downforce” seperti Monza – Italia, tercatat bisa mencapai 360 Km/Jam, meskipun sangat jarang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kecepatan seperti itu sebenarnya bukan hanya monopoli mobil F1. Mobil road car yang masuk kategori mobil sport seperti Ferrari Enzo atau Lamborghini Murcelago memiliki top speed lebih dari 330 Km/Jam. Bahkan mobil berkategori “super car” seperti Bugatti Veyron mampu dikebut mendekati angka 400 Km/Jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dimana hebatnya sebuah mobil F1? Kehebatan mobil F1 sebenarnya bukan melulu soal kemampuan nya untuk melaju di jalur lurus. Namun justru kehebatan dalam melibas tikungan. Seperti Anda tahu, sebuah sirkuit balap, tidak hanya terdiri dari jalur lurus, namun justru sebagian besar terdiri dari tikungan. Dan disinilah persoalan utama sebuah mobil balap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menikung dengang kecepatan tinggi, sebuah mobil akan menerima gaya lateral (menyamping) yang cukup tinggi. Sebagai ilustrasi, ketika melibas tikungan dengan kecepatan di atas 200 Km/Jam, maka sebuah mobil balap bisa menerima gaya menyamping sebesar 3 kali gaya gravitasi (3g). Sementara, sebuah mobil sport car seperti Ferrari Enzo hanya mampu menahan gaya lateral sekitar 1g, karena mengandalkan mechanical grip dari roda-roda nya. Mobil F1? Nah disini hebatnya. Dengan bentuknya yang aerodinamis, Mobil F1 dirancang untuk memiliki downforce yang mampu menahan gaya lateral hingga 5 – 6g . Seperti ketika melibas tikungan “Copse” di Silverstone dengan kecepatan mendekati 300 Km/Jam. Maka tidak heran, kalau mobil F1 diadu di sirkuit dengan Super Car, akan jauh sekali selisih waktu per lap nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lha terus apa hubungannya dengan bisnis? Hehehe … oh ya, hampir saya lupa, keasyikan bicara soal mobil. Pelajaran yang bisa kita ambil dari keunggulan mobil F1 adalah, bahwa untuk menjadi yang terbaik, ternyata bukan hanya soal seberapa cepat Anda bisa berpacu di jalur lurus, tapi justru sebagian besar tergantung pada seberapa baik Anda mampu menghadapi tikungan tajam.&lt;br /&gt;Jalur lurus dalam bisnis adalah saat-saat semuanya serba kondusif dan mendukung bagi usaha Anda. Momentum nya demikian tepat. Pasar sedang tumbuh, permintaan akan produk Anda sedang tinggi. Produk Anda terjual demikian mudah, dengan “effortless ease”. Sementara, Anda juga didukung oleh orang-orang yang demikian mumpuni, capable, penuh dedikasi. Pelanggan mendapat pelayanan prima dari tim Anda. Pembayaran dari pelanggan juga lancar, dan kas perusahaan benar-benar sehat. Tinggal injak gas dalam-dalam usaha Anda pun dapat melaju dengan kencang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bagaimana apabila saat melaju kencang di depan tiba-tiba ada tikungan tajam? Seperti apa tikungan dalam bisnis. Wah … Banyak. Bisa jadi berupa Pelanggan yang tiba-tiba berpaling dari produk Anda karena muncul produk sejenis yang lebih disukai. Pelanggan yang karena pergeseran prioritas menunda keputusan membeli produk-produk Anda. Supplier Anda yang tiba-tiba memberikan harga baru, mengganti spek produk, atau bahkan ekstrimnya berhenti berproduksi! Atau, ada regulasi baru yang tidak sesuai dengan usaha Anda. Atau, pelanggan setia yang menunda pembayaran tagihan-tagihan Anda. Hingga, kenaikan harga bahan baku, biaya bahan bakar, listrik, yang membuat produk Anda tidak lagi kompetitif di pasar. Kalau dalam situasi seperti ini Anda tetap melaju kencang, maka ibarat mobil F1, Anda bisa menabrak dinding pembatas sirkuit!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa yang dilakukan seorang pengendara mobil F1 ketika memasuki tikungan?&lt;br /&gt;Yang pertama adalah “Break”. Atau menginjak rem untuk mengurangi kecepatan, untuk menyesuaikan keadaan tikungan di depan kita. Seperti mobil, bisnis juga harus memiliki rem. Ada kalanya kita harus menginjak rem karena situasi nya memang bukan jalur lurus yang siap dilibas dengan kecepatan penuh. Kalau daya serap pasar terhadap produk kita sedang turun, tentu saja tidak logis kalau kita malah menginjak gas dengan meningkatkan produksi, merekrut tim baru, menambah stok bahan baku, dan seterusnya. Lebih logis apabila kita kurangi produksi kalau memang daya serapnya tidak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Break itu tidak apa-apa. Demi keselamatan usaha. Seringkali ego seorang pengusaha mencegah untuk melakukan break. Padahal semua pembalap juga akan melakukan pengereman kalau didepan terbentang potensi bahaya. Ingat break ini bukan untuk selamanya, tapi karena sedang memasuki tikungan. Sebuah mobil, dilengkapi dengan rem bukan untuk menghambat mobil tersebut. Tapi justru untuk memastikan bahwa Anda aman disaat melaju dengan kecepatan maksimal. Kalau Anda masih belum yakin situasi nya, Anda juga bisa melakukan “late breaking”, menginjak rem sedikit terlambat seperti yang sering dilakukan pembalap dalam mempertahankan posisinya ketika akan disalip pembalap lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Break”, bukan langkah utama dan satu-satunya. Setelah menyesuaikan kecepatan, maka seorang pembalap akan melakukan langkah kedua yaitu “Turn”. Menyesuaikan arah mobilnya untuk melewati tikungan. Kita juga harus menyesuaikan kemudi usaha kita untuk melewati tikungan bisnis yang kita hadapi. Sesuai hasil evaluasi atas penurunan usaha yang terjadi, proses “Turn” bisa mencakup banyak hal. Bisa jadi kita harus merevisi produk kita, menghentikan produk tertentu, mengeluarkan varian produk baru. Mengevaluasi, mereposisi, mengganti atau bahkan mengurangi tim kita. Mencoba mengeksplorasi pasar baru. Dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mobil F1 mampu melakukan “turn” dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi dari mobil road car, berkat rancangan aerodinamisnya. Bisnis pun juga begitu. Ada organisasi bisnis yang demikian gemuk dan birokratis, sehingga sulit melakukan “turn”. Maka, pastikan design organisasi bisnis Anda efisien untuk mengantisipasi ketika harus melakukan “turn”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun “Turn” juga bukanlah langkah terakhir. Kalau hanya berorientasi pada penyesuaian arah, seorang pembalap bisa-bisa hanya berputar-putar saja. Namun setelah arah sesuai dengan jalan yang terbentang di depan, pada satu titik maka pembalap akan kembali melakukan “Accelerate”. Menginjak kembali pedal gas untuk menambah laju kendaraan. Bisnis Anda juga harus kembali digeber, pada saat sudah menemukan kembali arah yang tepat. Ini tidak mudah, karena bisa jadi di depan sudah menghadang tikungan lagi, atau arah bisnis Anda belum benar-benar tepat. Disinilah pengalaman dan intuisi seorang pengemudi bisnis berperan. Adakalanya keputusan melakukan “Accelerate” bukan keputusan terbaik pada saat itu, dan bisnis Anda malah “spin” dan terpental dari sirkuit. Tapi semakin lama Anda menekuni bisnis, Anda akan tahu kapan saat yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga langkah, dan hanya tiga langkah itulah yang dilakukan oleh seorang pembalap ketika menghadapi tikungan. Tapi justru tiga langkah ketika memasuki tikungan ini, yang dapat memastikan apakah mobil akan berhasil sampai di garis finish dengan selamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayo geber usaha Anda !, jangan takut memasuki tikungan, lakukan maneuver  dan selamat memasuki garis finish kesuksesan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27366165-8520034189341844941?l=fauzirachmanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/feeds/8520034189341844941/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27366165&amp;postID=8520034189341844941' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/8520034189341844941'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/8520034189341844941'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/2010/03/break-turn-accelerate.html' title='Break, Turn … Accelerate !'/><author><name>Fauzi Rachmanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14831845815996709974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_AFw7AVcDntE/ShJCO9gF3KI/AAAAAAAAAIQ/VVgCHydCDDU/S220/fauzi.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27366165.post-1584779883319068231</id><published>2010-02-18T15:22:00.001+07:00</published><updated>2010-02-18T15:25:41.845+07:00</updated><title type='text'>Lima Penyebab Kegagalan Pebisnis Pemula</title><content type='html'>Bagi pelaku usaha pemula terkadang sulit untuk menerima kenyataan bahwa rencana usaha yang telah disusun dengan matang tidak berjalan seperti yang diharapkan. Sikap demikian wajar karena pelaku usaha pemula, biasanya belum kenal dengan “kegagalan”.  Sebagai pengusaha, kegagalan adalah peristiwa yang harus kita “akrabi”, sehingga ketika terjadi reaksi kita bukan frustrasi, namun dapat menganalisa penyebabnya dan mampu menyusun ulang strategi tepat untung mengatasinya. Penyebab kegagalan pebisnis pemula yang wajib diketahui, untuk dapat diantisipasi adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penyebab pertama: Alasan yang salah dalam memulai usaha. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Banyak pengusaha pemula, memulai usaha dengan alasan yang tidak tepat. Misalnya, memulai usaha dengan alasan menghindari kerja keras di tempat kerja, tidak bahagia di tempat kerja, dan sebagainya. Karena alasan nya adalah menghindari kerja keras, maka pebisnis pemula tadi akan cepat sekali merasa frustrasi ketika dalam mengelola bisnis ternyata perlu usaha yang jauh lebih keras.&lt;br /&gt;Kerja keras adalah hal biasa, baik di tempat bekerja maupun ketika mengelola usaha, justru bagaimana supaya bisa melengkapi dengan kerja cerdas dan kerja ikhlas, disitulah pekerjaan rumah nya. Kebahagiaan dapat hadir kapan saja, baik saat menjadi pekerja, maupun ketika menjadi pengusaha. Justru bagaimana dapat selalu menghadirkan semangat dan kebahagiaan di hati kita, dalam situasi apapun, disitu tantangannya.&lt;br /&gt;Ketika alasan yang dipilih tidak tepat, maka frustrasi dan kegagalan akan mudah sekali menghampiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penyebab kedua: Tidak berhasil menarik pelanggan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Euphoria ketika memulai usaha, seringkali membutakan kita dengan hal-hal yang sangat prinsipil dalam bisnis, misalnya bagaimana mendatangkan pelanggan dan menciptakan transaksi yang menguntungkan.  Karena sangat bersemangat memulai usaha, kadang pelaku usaha pemula lupa untuk melakukan mengenali pasar, apakah produk yang diciptakannya memiliki kebutuhan yang nyata pada pasar yang menjadi sasarannya. Produk yang luar biasa inovatif, desain menarik, tetap saja akan berpotensi gagal apabila memang tidak ada kebutuhan riil. Misalnya, jika pasar sasaran kita adalah para petani di desa, tentu produk yang cocok adalah perangkat pertanian yang mereka butuhkan, bukan perangkat perkantoran canggih yang dibutuhkan kaum professional di kota besar.&lt;br /&gt;Dalam kasus lain, kita sudah menciptakan produk inovatif yang luar biasa, dan memang ada kebutuhan kuat dari masyarakat akan produk tersebut, namun kalau tidak dilakukan marketing yang baik, maka potensi gagal juga akan besar. Karena suatu produk yang baik, baru akan sukses, jika kita komunikasikan dengan cara yang tepat, kepada orang yang tepat, secara masal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penyebab ketiga:  Biaya operasional terlalu besar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Banyak pengusaha pemula yang gagal tinggal landas, karena besar pasak daripada tiang. Misalnya usaha sudah dapat mendatangkan hasil yang baik. Memiliki produk yang inovatif, pasar yang potensial, dengan kebutuhan yang terdefinisikan dengan baik. Strategi pemasaran pun dapat dijalankan dengan baik. Namun apabila untuk itu semua diperlukan biaya yang lebih besar dari pendapatan, maka dalam jangka panjang usaha tersebut akan sulit dipertahankan.&lt;br /&gt;Seringkali biaya operasional yang besar tersebut datang dari “jebakan kemewahan korporat” belaka. Hal-hal yang sesungguhnya jika dikaji ulang tidak perlu. Misalnya, kantor yang mewah, sementara tidak pernah ada customer yang perlu datang ke kantor kita. Perangkat komunikasi dan komputer mobile yang canggih, sementara kita jarang perlu menggunakan di luar kantor. Kendaraan yang mahal sementara kita jarang memerlukan, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penyebab keempat: Manajemen hutang yang buruk.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Karena terlalu bersemangat dalam berusaha, seringkali pelaku usaha mengabaikan prinsip dasar berhutang. Seringkali mereka menggunakan hutang untuk hal-hal yang tidak terkait langsung dengan memperbesar hasil usaha.  Akibatnya adalah jebakan hutang, yang ditutup dengan hutang yang lain, kemudian ditutup dengan hutang yang lain, dan seterusnya. Tidak jarang pengusaha pemula, berakhir usaha nya dalam kondisi terjebak hutang yang sudah sulit diurai ujung pangkal nya.&lt;br /&gt;Prinsip dasar manajemen hutang adalah kita menggunakan hutang untuk mengungkit usaha kita. Kita mengambil hutang karena usaha kita dapat mendatangkan pendapatan, memiliki keuntungan yang cukup, yang akan menjadi sumber pengembalian hutang. Bukan semata karena ada jaminan berupa harta tetap (fixed asset).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penyebab kelima: Tim yang tidak solid.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tidak jarang usaha yang awalnya berjalan baik, kemudian harus bubar karena tim yang didalamnya memutuskan untuk berpisah. Terlebih apabila usaha tersebut dibangun secara bersama-sama. Potensi “pecah kongsi” dapat menjadi sumber kegagalan.&lt;br /&gt;Umumnya ini terjadi karena tidak adanya “trust”, rasa percaya diantara anggota tim. Ketiadaan trust datang dari keinginan untuk dipercaya, tapi tidak dapat membuktikan diri bahwa kita layak dipercaya. Kepercayaan adalah sesuatu yang harus kita raih, kita buktikan melalui tindakan nyata. Bukan sesuatu yang diberikan begitu saja oleh orang lain.&lt;br /&gt;Selain itu, pecah kongsi sering terjadi karena satu pihak merasa lebih unggul atau lebih berjasa dari pihak lain. Tidak menyadari bahwa setiap orang punya kekuatan dan kelemahan. Sikap seperti ini akan menjadi sumber perpecahan. Kalau memang ingin membangun usaha dengan partner, maka toleransi terhadap kelemahan partner lain menjadi kata kunci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah lima penyebab kegagalan yang harus kita antisipasi. Seorang pengusaha sejati, tidak hanya siap untuk menerima keuntungan, tidak hanya terbius dengan angka-angka proyeksi keuntungan. Namun juga siap, jika hasilnya adalah sebaliknya. Pengusaha sejati akan menjadikan kegagalan tadi sebagai umpan balik, menyusun ulang strategi, dan bangkit kembali. (FR).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27366165-1584779883319068231?l=fauzirachmanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/feeds/1584779883319068231/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27366165&amp;postID=1584779883319068231' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/1584779883319068231'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/1584779883319068231'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/2010/02/lima-penyebab-kegagalan-pebisnis-pemula.html' title='Lima Penyebab Kegagalan Pebisnis Pemula'/><author><name>Fauzi Rachmanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14831845815996709974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_AFw7AVcDntE/ShJCO9gF3KI/AAAAAAAAAIQ/VVgCHydCDDU/S220/fauzi.jpg'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27366165.post-5262725809850410385</id><published>2009-11-02T00:21:00.000+07:00</published><updated>2009-11-02T00:23:23.180+07:00</updated><title type='text'>Keranjang Jebol</title><content type='html'>Salah satu berkah menjadi wirausaha, dan lantas “diduga” memiliki banyak uang, adalah banyaknya kenalan dan saudara baru. Ada yang sekedar ingin berteman, ada yang ingin bersahabat dan sekaligus menawarkan “peluang investasi”. Tidak apa-apa tentu nya. Malah saya berterimakasih sudah diperkenalkan kepada rupa-rupa peluang investasi. Dan rupanya semakin maju peradaban, makin beraneka ragam “peluang investasi” tadi. Mulai dari yang sering kita dengar seperti saham, valuta asing, emas, pompa bensin, properti, dan sebagainya, hingga yang meski tidak pasti usahanya apa, namun pasti dalam menjanjikan keuntungan sekian persen per bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya, ada tawaran investasi yang menjamin keuntungan 60% per tahun. Dan modal pokoknya dijamin kembali dalam setahun. Menarik bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau mau lebih cerdas, saya bisa pinjam uang di bank dengan bunga pinjaman katakanlah 15% per tahun, dan saya investasikan, maka saya sudah untung 45% per tahun. Wow, bayangkan kalau properti saya dijaminkan ke bank, dan dapat pinjaman Rp. 500 juta saja, setiap tahun saya bisa terima bersih Rp.225 juta. Tanpa keluar uang dari kocek sendiri. Properti masih utuh, plus kas masih utuh seandainya pinjaman mau dilunasi. Apalagi kalau keuntungan diinvestasikan kembali. Dahsyat. Bisa cepat bebas finansial dong. Mau?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunggu dulu. Dari semua tawaran investasi tadi, jarang sekali saya mau ambil. Atau malah tidak pernah ya? Oh, berarti tidak punya uang … hehehe. Bukan, itu mungkin salah satu faktor, tapi pasti bukan alasan utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melakukan investasi kata orang seperti menaruh telur dalam keranjang. Maka kita harus memastikan keranjang seperti apa yang akan menjadi alat investasi kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya beruntung, sebelum terjun ke dunia usaha pernah bekerja sebagai analis investasi, jadi sedikit banyak masih memiliki kepekaan dalam menimbang risiko investasi. Jadi setiap peluang investasi, pasti akan melewati lima meja screening saya, dan sebagian besar memang tidak lolos. Lima meja? Iya, lima meja imajiner yg saya gunakan dalam menimbang sebuah tawaran investasi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pertama, Kenali diri Anda.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lho masa sih sama diri sendiri tidak kenal? Nama, tanggal lahir, alamat sampai nomor KTP saja kan hapal. Maksudnya, kenali betul Anda ini sebenarnya siapa? Apakah Anda seorang pegawai yang ingin mengembangkan tabungan Anda supaya lebih banyak lagi melalui investasi. Atau barangkali Anda seorang pengusaha yang sedang ingin menikmati membangun bisnis lengkap dengan suka duka nya. Ataukah Anda seorang pengusaha sukses yang sudah melewati fase mengelola usaha, dan kini ingin “beternak uang”?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa tujuan Anda berinvestasi? Apa yang Anda inginkan dari investasi yang akan Anda lakukan. Apakah Anda memang ingin menjadi investor? Atau Anda sedang ingin mengoptimalkan aset Anda untuk mendukung pengembangan usaha?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian apa target Anda dalam berinvestasi? Hasil cepat dalam jangka pendek, karena Anda sekedar memanfaatkan dana menganggur sebelum dana digunakan untuk hal lain? Atau Anda memang sedang ingin mencapai akumulasi kapital yang besar, dan siap dengan permainan investasi jangka panjang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapa dana yang siap Anda gunakan untuk investasi? Berapa lama Anda sanggup menahan dana tersebut dalam wahana investasi yang Anda pilih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapa besar risiko yang sanggup Anda tanggung seandainya investasi tidak berjalan sesuai rencana?&lt;br /&gt;Anda jawab dulu pertanyaan-pertanyaan di atas, sebelum masuk ke meja kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kedua, Kenali mitra investasi Anda&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda sudah kenal calon mitra investasi Anda? Nama, alamat, nomor telpon, email, jenis usaha, kegiatan sehari-hari, account facebook? Tidak cukup. Oh, jangan khawatir Anda mungkin mengenal calon mitra Anda dari komunitas terpercaya, atau bahkan kenal dari aktivitas keagamaan. Atau barangkali, calon mitra Anda terkenal, sering muncul di koran dan majalah bisnis. Sayangnya semua itupun tidak cukup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda akan mempercayakan dana investasi Anda. Maka Anda harus mengenal betul mitra Anda.&lt;br /&gt;Bukan sekedar mengenal pribadi nya. Tapi Anda harus tahu betul dana Anda akan diinvestasikan kembali dalam kegiatan usaha apa. Dan bagaimana mitra Anda menjalankan usaha tersebut. Baguskah pengelolaannya? Baguskan manajemen nya? Pengalaman dan track recordnya? Dan terutama baguskah hasilnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya dana Anda akan diinvestasikan kembali dalam usaha agrobisnis? Maka Anda harus terjun melakukan observasi sendiri bagaimanan kegiatan agrobisnis akan dilakukan. Apa risiko-risiko nya, dan bagaimana mitra Anda mampu menangani risiko tadi. Apakah ada pengalaman sebelumnya yang membuktikan mitra Anda mampu menangani risiko. Properti? Anda harus tahu dimana lokasinya? Bagaimana prospeknya? Kemampuannya menyelesaikan proyek, dan sebagainya. Industri telekomunikasi? Pertambangan? Pelayaran? Penerbangan? Sama saja. Jangan ragu dan malu bertanya, daripada nanti menyesal. Jangan sampai mitra usaha Anda belakangan sekedar berdalih "maaf, saya ditipu orang" hanya karena ketidaktahuan mereka dalam bisnis yang akan dimasuki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ketiga: Berhitunglah Sendiri&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percayalah, semua hitungan dalam proposal investasi sudah pasti indah adanya. Kalau saya, pasti saya hitung kembali. Dengan asumsi saya sendiri. Karena seringkali asumsi nya over-optimistic dan tidak realistis. Cara terbaik adalah dengan melakukan cross-check dengan dunia nyata. Misalnya jika calon mitra mengaku usaha tersebut revenue perbulannya sekian milyar, maka coba cek usaha sejenis, apa betul angka tadi masuk akal. Dengan sedikit survey, maka Anda akan memiliki perhitungan yang lebih masuk akal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhitungan yang luar biasa khayal biasanya menyangkut proyeksi pertumbuhan per tahun. Wah, bisa sangat indah. Tumbuh sekian puluh persen per tahun, BEP dalam sekian tahun. Dan seterusnya. Ingat, semua adalah berdasarkan asumsi. Hasilnya bisa sama sekali berbeda ketika asumsi berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Keempat: Bicaralah dengan Mr. Spock dan Dr. Mc.Coy&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di film Star Trek, Kapten Kirk punya dua penasehat: Dr. Mc.Coy yang emosional, dan Mr. Spock yang logis. Ketika membuat keputusan Kirk sering bertanya kepada keduanya, untuk mendapat masukan yang balance.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam berinvestasi Anda juga harus bertanya pada Spock dan Mc.Coy. Jangan hanya karena faktor emosi, Anda membuat keputusan investasi. Misalnya, karena memiliki ikatan batin atau terpesona kharisma mitra investasi, Anda rela melepas ratusan juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau Anda melakukan investasi hanya karena teman lain sudah melakukan. Anda tidak kuasa membayangkan teman Anda nanti akan kaya raya dari investasi yang ditawarkan, dan Anda takut ketinggalan miskin sendirian. Kata-kata “Yang lain sudah ambil nih, tinggal kamu saja ...” terngiang di telinga. Maka karena perasaan Anda tidak mau kalah, keputusan investasi diambil dengan cepat. Sebenarnya ini tidak salah, karena emosi manusia memang sesungguhnya membantu. Tapi tolong tanya juga Mr.Spock yang ada dalam diri Anda sendiri. Apakah investasi ini memang layak dilakukan? Apakah keuntungan yang ditawarkan masuk akal? Apakah risiko yang mungkin terjadi sepadan dengan dana yang akan Anda keluarkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlebih kalau mitra investasi Anda menghimpun dana dari orang banyak. Tanyakan ke Spock, bagaimana dengan likuiditasnya? Bayangkan, calon mitra investasi Anda mengumpulkan uang dari banyak investor. Kemudian menginvestasikan dana yang terkumpul kedalam berbagai bentuk usaha dan investasi. Dan dapat dipastikan sebagian besar nvestasi yang dilakukan tidak likuid. Karena yang likuid (mudah menjadi kas kembali) paling hanya rekening bank, deposito dan investasi surat berharga yang marketabel dan dijual di pasar modal dan pasar uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi misalnya 20% saja dari dana investor ditarik pada hari yang sama, mitra investasi Anda akan kolaps. Kenapa? Karena uang sudah menjadi asset tidak likuid, yang perlu waktu untuk kembali menjadi cash kembali. Bagaimana kalau yang menarik dana sebanyak 50%, 80%? Wah, bisa saya pastikan mitra investasi Anda akan mendadak sulit ditemui. Bukan karena soal itikad baik, namun memang secara logis, ada siklus “asset conversion cycle”, yang membuat kas tidak bisa ditarik begitu saja dengan cepat, apalagi dalam jumlah banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kelima: Miliki “Exit Strategy”&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua investasi pada prinsipnya harus memiliki strategi untuk “keluar pada keadaan darurat”. Mirip pintu darurat pada pesawat terbang atau gedung-gedung perkantoran. Jika terjadi risiko yang tidak dikehendaki, melalui jalan mana Anda akan keluar dari investasi Anda. Investasi saham dan valas, punya pintu exit berupa batas untuk cut-loss. Misalnya kalau harga terus turun, di titik tertentu harus berani melepas supaya kerugian tidak semakin besar. Dalam hal ini exit strategy nya mudah, yaitu jual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Property, emas, dsb, juga exit strategy nya adalah melepas dan memperoleh kembali kas, meskipun tidak 100% karena dipotong “realized loss”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan bank, ketika memberikan pinjaman kepada debitur, selalu meminta kolateral untuk memback-up pinjaman yang diberikan. Kalau debitur tidak mampu membayar, maka exit strategy nya adalah dengan mengeksekusi kolateral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda bisa menilai sendiri, apakah investasi yang Anda lakukan memiliki exit strategy? Bagaimana jika mitra investasi tidak mampu membayar hasil investasi yang dijanjikan. Atau malah lebih gawat lagi tidak mampu membayar pokok investasi nya? Apa yang dapat dilakukan untuk memperoleh kembali kas yang Anda tanam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Investasi yang tanpa exit strategy sama saja dengan pesawat tanpa pintu darurat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau setelah melewati lima meja di atas, Anda yakin investasi Anda layak dilaksanakan, maka lakukan saja. Banyak yang mengatakan bahwa dalam berinvestasi, jangan menaruh telur di keranjang yang sama. Itu betul. Namun tidak cukup. Lima langkah di atas saya maksudkan untuk memastikan bahwa kita tidak menaruh telur di keranjang yang sama, dan pastinya bukan keranjang yang jebol. (FR)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27366165-5262725809850410385?l=fauzirachmanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/feeds/5262725809850410385/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27366165&amp;postID=5262725809850410385' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/5262725809850410385'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/5262725809850410385'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/2009/11/keranjang-jebol.html' title='Keranjang Jebol'/><author><name>Fauzi Rachmanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14831845815996709974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_AFw7AVcDntE/ShJCO9gF3KI/AAAAAAAAAIQ/VVgCHydCDDU/S220/fauzi.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27366165.post-8279661607715997019</id><published>2009-10-09T16:32:00.001+07:00</published><updated>2009-10-09T16:36:23.195+07:00</updated><title type='text'>The Art of The Start: 8 Hal yang Harus Anda Perhatikan Ketika Memulai Usaha</title><content type='html'>Saya memulai membangun usaha pada tahun 2002. Waktu itu saya merasa sudah cukup menjalani karir di bidang perbankan dan kemudian teknologi informasi. Dengan penuh rasa percaya diri, penuh keyakinan, dengan restu orang tua, dukungan istri, dukungan keluarga, teman dan segenap handai taulan, berdirilah perusahaan saya. Yang kemudian ternyata “failure to launch”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, ibarat mencoba meluncurkan Apollo ke Bulan, boro-boro sampai bulan. Mesin nya saja gak langsung nyala. Masih untung gak sampai meledak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi itu dulu … Alhamdulillah sekarang usaha IT yang saya tekuni relatif berjalan dengan baik. Ini yang membuat saya sering ditodong berbagi pengalaman. Tentu banyak sekali pengalaman yang bisa dibagikan. Baik pengalaman yang indah maupun tidak indah untuk dikenang. Kalau mau diceritakan satu persatu, mungkin bisa jadi novel. Hari ini, saya ingin share 8 hal yang menurut saya harus diperhatikan oleh siapapun yang sedang memulai usaha nya sendiri. Ini bukan dari teori, bukan dari buku, tapi saya ambil dari pengalaman saya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;1. Ide Harus Besar, Tapi Tetap Membumi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu memulai usaha, terus terang saya dan rekan-rekan saya memiliki segudang ide besar. Yang mungkin saking besar nya, tidak cukup realistis dengan kenyataan di pasar. Produk yang kami bawa memang bagus secara teknologi, tapi hampir-hampir tidak bisa dijual. Memiliki ide besar boleh, tapi jangan sampai melupakan realitas pasar, karena ujung-ujung nya kita harus menjual sesuatu.&lt;br /&gt;Untuk tidak mengulang kesalahan semacam itu, paling tidak kita harus memperhatikan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Apa sebenarnya produknya? Menjawab ini saja bagi saya dulu, kadang sulit. Mungkin saking ingin menerapkan prinsip “apa lu mau gua ada”, sampai-sampai sosok “binatang” nya apa tidak jelas. Dari A – Z ingin di cover semua, sampai bingung sendiri kalau harus diceritakan ke calon pelanggan. Kalau kita saja bingung, gimana yang mau beli?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Produk ini mau dijual kesiapa? Siapa yang memerlukan? Kadang-kadang kami di bidang IT saking asik nya menciptakan produk dengan teknologi terkini, sampai lupa siapa sebenarnya yang memerlukan produk ini. Kami mencipta karena kami bisa, bukan karena ada pihak yang memerlukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga: Kira-kira berapa nilai pasarnya? Wah, musti riset pasar? Iya, tapi bisa riset pasar kecil-kecilan, tanpa bayar konsultan. Artinya, secara sederhana kita bisa mengukur sendiri, pihak yang memerlukan produk yang kita jual, sebenarnya bersedia membayar berapa. Jangan-jangan butuh sih butuh, tapi kalau disuruh beli tidak mau. Dan selanjutnya kita juga perlu tahu ada berapa banyak potensi pelanggan di area yang jadi sasaran kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat: Bagaimana persaingannya? Siapa saja pemain lama yang lebih dulu ada. Seberapa banyak mereka menguasai pasar yang jadi sasaran tadi. Apakah pasarnya tetap, berkembang, atau malah sedang menyusut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima: Mengapa produk kita lebih baik dibanding produk pesaing? Apa keunikan-nya? Apa kelebihannya? Apa USP nya? dsb. Bagaimana strategi kita untuk membawa produk kita ke pasar tadi. Apa irresistible sensational offer yang ingin kita sampaikan ke pelanggan potensial kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima hal tadi kalau Anda tulis, sudah sama isinya dengan rencana pemasaran. Memang tidak canggih, tapi cukup untuk membumikan ide besar kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2.  “Isi” Lebih Penting dari “Bungkusan” &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Lho bukannya sudah jelas? Kalau makan Duren, mending isinya apa kulitnya? Ya tentu isi nya. Untuk kasus Duren sepertinya jelas. Nah, tapi bagi para pebisnis pemula, godaannya justru seringkali adalah bagaimana memiliki bungkusan yang bagus, entah ada isi nya atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu baru mendirikan usaha, saya memiliki pemahaman, bahwa yang namanya usaha, kantor, harus langsung dilengkapi infrastruktur yang lengkap. Sekalipun baru berdiri. Yang penting bungkusnya dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang salah sebenarnya, apabila usaha nya berjalan dengan baik. Tapi dalam kasus saya dulu, karena revenue tak kunjung tiba, sementara “tongkrongan” kantor sudah terlanjur keren, kemana-mana pake jas. Malah jadi mirip main kantor-kantor-an … hehehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya belajar bahwa ternyata percuma buang-buang resources demi “bungkusan”, kalau tidak ada isi nya. Jangan sampai perusahaan seolah menjadi bungkusan besar, padahal isi nya tidak ada. Kantor nya bagus, karyawan banyak, bos nya naik mercy semua. Tapi revenue nya secara konsisten selalu kecil. Ya percuma. Sebaliknya, tanpa memaksakan diri untuk “main kantor-kantoran”, bungkusan toh akan membesar sendiri ketika isi nya memang sudah besar. Tanpa perlu kita paksakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;3. Modal tidak Selalu Berupa Uang &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan klasik yang selalu disampaikan dalam setiap diskusi yang pernah saya lakukan adalah: “Bagaimana memulai usaha, sementara saya tidak punya modal.” Atau “Bagaimana mau memulai, Saya tidak punya uang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menjalani usaha, Anda akan paham bahwa modal awal tidak selalu berupa uang. Dalam pengalaman saya, ketika saya mencoba menginvestasikan segenap sumber-daya keuangan yang saya miliki, sampai habis-habis an, ternyata usaha yang saya rintis malah tidak menghasilkan. Mungkin karena sebagian besar habis untuk main kantor-kantoran tadi. Tapi justru pada saat saya kehabisan sumber-daya uang, dan tinggal mengandalkan sumber-daya ide dan jaringan kerja, usaha saya malah mulai berjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi menurut saya modal utama yang harus dimiliki adalah idea atau gagasan. Dan ide ini diproduksi oleh otak kita sendiri, gratis. Kalau Anda saat ini belum punya ide, tidak apa2. Masih punya otak kan? Karena selama masih punya otak, ide nanti akan dating sendiri, tentunya kalau kita stimulasi terus menerus melalui baca buku, diskusi dan brainstorming dengan teman-teman. Kalau setelah di cek ternyata otak juga sudah tidak punya, nah itu soal lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya percaya kalau sebuah ide terbukti dapat menghasilkan uang, maka dengan sendiri nya akan menarik hal-hal lain untuk mendukungnya. Termasuk menarik pemilik modal berupa uang yang kita perlukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, dengan demikian kita juga harus punya skill untuk menjual gagasan. Ide atau gagasan tadi harus kita sampaikan kepada orang yang tepat, dengan cara yang tepat, pada waktu yang tepat. Jadi kalau mau mulai usaha harus terbiasa menyampaikan gagasan secara lisan, tertulis ataupun melalui demo. Ini skill yang tidak mudah, tapi bisa dilatih dan dipelajari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;4. Anda Bukan Superman &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Mungkin saja, di tempat kerja sebelumnya kita dikenal memiliki keahlian teknis yang baik. Bisa jadi kita adalah engineer dengan segudang keahlian dan sertifikasi di tangan. Tapi seorang teknisi yang baik, seandainya kemudian diminta untuk duduk di jajaran management, belum tentu akan menjadi manager yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai manager, bukan lagi skill teknis yang harus dikuasai, namun lebih banyak strategi dan taktik bagaimana bisa mendapat hasil melalui orang lain. Namun, manager yang baik belum tentu bisa menjadi pewirausaha yang baik juga. Karena sebagai pewirausaha, tidak lagi bagaimana mengurus hari ini, tapi harus berorientasi masa depan, lebih banyak berurusan dengan visi, mau dibawa kemana perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Programmer yang hebat, tidak selalu adalah seorang project manager yang hebat juga, project manager yang sukses dalam berbagai implementasi, belum tentu akan menjadi pewirausaha handal. Ketiganya adalah sosok berbeda. Dan jika Anda tidak bisa menjadi ketiganya, maka Anda butuh orang lain untuk menjadi partner usaha Anda. Kalau Anda jago dibidang pengembangan, dan hanya mau bekerja dalam hal pengembangan, maka Anda butuh partner yang menguasai pengelolaan sumber daya, pemasaran, keuangan, dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpartner dalam usaha tidak mudah. Usaha pertama saya, yang didirikan oleh empat partner, tidak berjalan dengan baik. Kami memutuskan berpisah di depan. Karena sungguh sulit menyatukan ide 4 kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk bisa berjalan dengan baik, kata kunci nya adalah adanya rasa saling percaya (“trust”), dan toleransi. Toh kita bukan Superman. Kita bukan manusia sempurna, maka kita juga harus bisa menerima ketidak-sempurnaan partner kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;5. Manfaatkan Jaringan &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Yang saya lupakan pada tahap awal membangun usaha adalah kedekatan dengan jaringan kerja. Padahal, dikemudian hari terbukti, jaringan adalah modal yang sangat berharga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, kita harus mengenal komunitas pelanggan kita. Kalau perlu hadir dalam pertemuan-pertemuan mereka, jika ada. Berinteraksi dengan intens dengan mereka. Supaya kita dapat memahami “what’s hot” dan dapat segera merespon dengan produk atau solusi yang kita tawarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, kita juga harus dikenal dikalangan usaha sejenis. Penting untuk eksis dan dikenal oleh perusahaan-perusahaan sejenis, terutama yang sudah lebih dulu maju. Kita harus bersikap kooperatif, bukan kompetitif. Kalau keahlian kita sudah dikenal, jangan heran, seringkali pekerjaan-pekerjaan penting bisa datang dari kerjasama dengan perusahaan sejenis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, kita juga harus eksis dimata pemilik modal. Apakah itu bank, lembaga keuangan, ataupun pribadi-pribadi yang punya uang tapi bingung mau bisnis apa. Track record kita dimata mereka harus baik. Pada masa pertumbuhan, dukungan mereka akan penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, kita juga harus dekat dengan pihak-pihak yang berpotensi membantu pemasaran produk kita. Apakah itu sebagai partner, agent atau reseller.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, kalau kita memerlukan produk dari pihak ketiga, maka kita harus dekat dengan jaringan supplier. Jika ada, maka bagus lagi masuk dalam komunitas supplier, sehingga kita tidak bergantung pada satu pihak saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;6. Jangan Malu Untuk “Narsis” &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Banyak teman pelaku usaha IT yang saya tahu sangat hebat dalam menciptakan produk. Sayangnya mereka terlalu “malu-malu kucing”. Nah, kalau sudah menjadi pewirausaha, saatnya untuk “narsis-narsis macan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana orang tahu Anda punya produk hebat, kalau Anda simpan untuk diri sendiri. Tampilkan diri Anda dan produk Anda, supaya dikenal. Dengan demikian Anda sudah membantu mempermudah hidup orang yang sedang mencari produk Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak perlu iklan yang mahal. Rajin-rajin lah berbagi tentang apa yang Anda sukai. Baik secara offline maupun online. Rajinlah menulis, berkomentar di milis, dan berbicara tentang topik yang Anda kuasai, terkait bisnis Anda. Bagikan ilmunya secara gratis, tidak usah terlalu memikirkan uangnya dulu. Setelah Anda mendapatkan atensi dan reputasi, maka uang akan mengikuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;7. Tetap fleksibel&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Selama perjalanan Anda dalam berbisnis, tetaplah fleksibel. Memang Anda disarankan untuk merumuskan tujuan yang jelas, sehingga tahu persis aksi apa yang harus dilakukan. Namun tujuan bukanlah peta mati yang membatasi gerak Anda. Lebih sesuai kita sebut tujuan tadi adalah kompas yang menunjuk kemana Anda akan menuju. Jika di tengah jalan ada kejutan? Ya, improvisasi-lah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu memulai usaha IT, saya berniat berjualan system untuk remote trading. Eh ternyata gagal. Kemudian, sempat membangun visi untuk menjadi penyedia solusi mobile. Kurang greng. Memposisikan sebagai web application developer, lumayan, tapi sedikit “kurang gizi”. Maklum baru nyari bentuk. Ketika ada peluang masuk ke market IT Service Management dan IT Asset Management, dan kita coba. Ternyata berjalan. Dan segala rintisan yang sudah dijalani pun seperti menemukan momentum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisnis memang lebih banyak kejutan, dibanding peristiwa “sesuai scenario”. Coba kalau saya “fanatik” hanya mau jualan solusi remote trading, misalnya. Demi visi, cita-cita, dan tujuan sakral yang tdk boleh diganggu gugat misalnya. Entah apa yang akan terjadi. Saya memutuskan tujuan menjadi guide saya, tanpa menolak peluang yang hadir ditengah perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;8. Think Big – Start Small – Act Now.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Punya rencana besar kalau tidak dilaksanakan percuma. Saya dulu sempat dikenal sebagai tukang bikin rencana. Mudah sekali saya memunculkan ide-ide bisnis. Yang tidak satupun saya kerjakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai suatu hari ada teman mengingatkan. Stop berwacana. Kerjakan. Nah, ini yang bikin bingung. Memang kalau mau dikerjakan semua jadi bingung. Maka cita-cita besar kita harus coba dipecah dalam rencana-rencana kecil. Dan yang kecil-kecil ini dulu yang kita kerjakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingin punya online store buku nomer satu di Indonesia? Sebuah cita-cita besar. Tapi langkah pertamanya apa? Karena online store Anda tidak bisa tiba2 muncul begitu saja. Anda bisa pecah dalam “start small”. Menyusun catalog buku yang akan dijual? Merancang tampilan? Memilih aplikasi online store yang cocok? Membeli domain? Memesan hosting? Dan sebagainya. Ketika dipecah menjadi pekerjaan-pekerjaan kecil, semua jadi masuk akal untuk dikerjakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kapan mulainya? Ya sekarang! Semua bisa dikerjakan sekarang. Belum punya uang untuk beli domain, bisa merancang tampilan dulu. Belum bisa aplikasi online store, bisa belajar dulu, dsb. Jadi, Think Big – Start Small – Act Now!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, mengapa masih membaca tulisan saya ini. Ayo mulai kerjakan sekarang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(*) Tulisan ini adalah rangkuman materi yang saya sampaikan pada Seminar penutupan Program Pemagangan untuk SDM IT yang diselenggarakan RICE dan PT.INTI di Bandung 8 Oktober 2009.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27366165-8279661607715997019?l=fauzirachmanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/feeds/8279661607715997019/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27366165&amp;postID=8279661607715997019' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/8279661607715997019'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/8279661607715997019'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/2009/10/art-of-art-8-hal-yang-harus-anda.html' title='The Art of The Start: 8 Hal yang Harus Anda Perhatikan Ketika Memulai Usaha'/><author><name>Fauzi Rachmanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14831845815996709974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_AFw7AVcDntE/ShJCO9gF3KI/AAAAAAAAAIQ/VVgCHydCDDU/S220/fauzi.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27366165.post-2771203772543831536</id><published>2009-10-07T11:09:00.001+07:00</published><updated>2009-10-07T11:11:26.937+07:00</updated><title type='text'>Gratiskan Jualan Anda !</title><content type='html'>“Cara jualan kamu kuno !” Demikian kata seorang pengusaha senior kepada saya ketika kami sedang berbuka puasa bersama, bulan Ramadan lalu. Saya tergagap. Wah, baru kali ini ada yang mengatakan demikian tentang model bisnis saya. Tapi berhubung beliau jauh … jauh … jauh … lebih berpengalaman dibanding saya, dengan usaha yang skala nya ratusan kali lipat usaha saya, saya tidak punya pilihan lain selain mendengar kritikan beliau. Saya menahan nafas menunggu kalimat beliau berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau menambahkan, “Kalau kamu bisnis IT, nyuruh pelanggan beli produk, itu bisnis jaman dulu”. Saya mulai paham. Karena beberapa pelanggan saya ada yang memang menggunakan pola pembayaran bulanan atau sewa. Tidak mau kalah saya langsung berkomentar: “Kalau sewa atau bayar biaya bulanan bagaimana Pak?” Beliau menjawab: “Itu lebih baik. Tapi itu sekarang juga sudah kuno!” Nah ini bikin saya kaget lagi. “Yang gak kuno gimana dong Pak?”, saya makin penasaran. “Yang gak kuno itu kalau pelanggan gak usah bayar !.” Nyaris saya lompat dari kursi. Gratis? Musti bayar gaji karyawan dari mana? Beliau hanya tertawa-tawa, membuat saya makin penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seolah “Law of Attraction” bekerja keras untuk saya. Dua minggu kemudian tanpa sengaja saya nemu buku baru karya salah satu penulis favorit saya Chris Anderson, judulnya: “Free: The future of radical price”. Ya, pengusaha senior tadi ternyata benar! Masa depan ternyata ada pada harga nol, alias gratis. Pelanggan gak usah bayar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Semua Serba Gratis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tidak dapat disangkal, virus gratis memang sudah menjalar kemana-mana. Kita sekarang bisa dengan mudah mengakses internet di mall-mall melalui infrastruktur hot-spot gratis. Saya menggunakan laptop dengan OS Linux Ubuntu yang dibagi-bagikan gratis oleh Canonical, mengetik dengan word-processor OpenOffice yang disediakan gratis oleh Sun Microsystem, menggunakan browser Firefox yang gratis, menggunakan layanan email gratis dari Google, chatting gratis melalui Yahoo Messenger dan mengakses jaringan seperti Facebook secara gratis. Malah kalau online nya di bandara, kopi yang menemani saya online pun gratis, komplimen dari lounge yang disponsori penerbit kartu kredit yg saya pakai. Chris Anderson malah mengetik seluruh isi buku nya melalui aplikasi Google Docs, word processing gratis yang disediakan online oleh Google.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunggu … kenapa yang gratis hanya layanan-layanan yang terkait dengan internet? Oh tidak. Diluar itu Anda juga dengan mudah menemukan produk atau layanan gratis atau sangat murah. Memang tidak semua sudah tersedia di Negara kita. Beberapa tahun lalu, kalau ingin pasang antenna parabola di rumah, kita harus membayar cukup mahal. Sekarang antenna parabola “dipinjamkan” oleh provider layanan siaran TV melalui satelit. Modem bisa kita peroleh gratis jika kita berlangganan broadband. Hampir semua penerbit kartu kredit sudah menggratiskan iuran tahunan-nya. Low cost airlines telah merevolusi dan mempelopori penjualan tiket pesawat terbang sangat murah atau bahkan gratis.  Di Negara-negara maju, daftar produk gratis ini semakin banyak. Anda dapat memiliki handphone dengan gratis, tentu dengan kontrak berlangganan tertentu. Memiliki laptop gratis, dengan berlangganan akses broadband. Singkat kata semua ada versi gratis nya, bahkan mobil gratis pun ada. Kalau majalah gratis sudah sangat biasa, Di Tokyo, malah ada toko yang menyediakan 5 item gratis untuk setiap pengunjungnya, mulai dari lilin, mie instan, sampai krim wajah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Makan Siang Gratis Memang (Pernah) Ada&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Anda tentu pernah mendengar ungkapan “tidak ada makan siang gratis”. Ungkapan ini sebenarnya berasal dari jaman Cowboy di Amerika Serikat. Pada waktu itu banyak Saloon, tempat nongkrong orang Amerika jaman dulu, yang menyediakan makan siang gratis untuk menarik pengunjung. Makan siang nya memang benar-benar gratis. Tapi pengunjung harus bayar mahal untuk yang lain-lain, seperti minuman, permainan kasino, sewa kamar, dsb.&lt;br /&gt;Bagi-bagi produk gratis juga awalnya dilakukan oleh King Gillette, pencipta silet cukur pertama di dunia. Jaman dahulu pria bercukur dengan pisau cukur lipat yang tidak praktis, harus sering di asah, dsb. Ide menggunakan pisau cukur super tipis yang tidak perlu diasah, tapi dibuang jika sudah tumpul, adalah ide baru yang awalnya sulit dipahami. Gillette pun membagikan secara gratis sebagai marketing gimmick produk lain, dengan harapan pengguna baru yang menyukai ide ini selanjutnya akan membeli. Misalnya bekerjasama dengan bank, pisau baru Gillette dijadikan bonus bagi pembuka rekening tabungan. Dan Gillette benar, lambat laun pisau cukur Gillette dikenal dan kemudian mendunia hingga hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jell-O, dessert paling popular di Amerika juga awalnya sulit untuk dijual. Peter Cooper, penemu makanan dari gelatin ini kesulitan memperkenalkan produk baru nya. Baru setelah produk ini dipasarkan oleh genius pemasaran dan orator Francis Woodward, Jell-O menemukan tempatnya di pasar. Woodward bukan membagikan produk ini secara gratis. Namun mencetak dan membagikan buku resep gratis untuk memberi ide kepada calon pelanggan, bahwa Jell-O sangat praktis dan dapat disajikan dengan berbagai variasi. Woodward yang membeli lisensi Jell-O hanya seharga $450 sukses besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dari Kelangkaan Menuju Keberlimpahan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Model gratis a la Saloon, Gillette dan Jell-O adalah model-model gratis abad lalu, yang hingga sekarang masih sering digunakan. Namun, abad 21 telah menciptakan model bisnis gratis baru. Model bisnis yang digerakkan oleh kemudahan dan teknologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plastik pada awalnya dirancang sebagai produk eksklusif. Riset dan produksinya memerlukan biaya mahal. Plastik juga lebih kuat dan tahan lama disbanding kayu. Jadi sudah selayaknya produk dari plastic dijual mahal. Namun, kita lihat hari ini, plastic demikian berlimpah ada dimana-mana. Plastik pada akhirnya menjadi komoditas yang berlimpah dan murah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barang elektronik modern tumbuh pesat setelah transistor ditemukan. Pada awalnya transistor adalah barang langka yang mahal. Tahun 1961 harga 1 buah transistor adalah $ 10. Kurang dari 10 tahun harga nya sudah tinggal $1 sen. Dan hari ini, sebuah microchip yang setara dengan 2 milyar transistor hanya dijual $ 300, atau 0.000015 sen per transistor. Hal yang sama terjadi juga untuk kapasitas penyimpanan disk dan juga bandwidth, yang semakin lama semakin murah. Inilah yang kemudian memicu revolusi digital yang merubah cara pandang pengusaha dalam mencari revenue.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sebuah produk telah menjadi komoditi yang “terlalu murah untuk dihargai”, maka kita tidak lagi bisa mengandalkan harga produk sebagai sumber revenue kita. Harga sangat terkait dengan kelangkaan, sementara yang kita hadapi adalah keberlimpahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Gratis? Dari Mana Uangnya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Menjalankan usaha memang tetap harus berorientasi pada profit, yang sumber nya adalah revenue dikurangi cost. Model bisnis gratis pada dasarnya melakukan kreatifitas pada sumber revenue, bukan menghilangkan revenue. Jika semula revenue semata dari harga jual, maka dengan prinsip keberlimpahan, kita coba mencari revenue dari sumber lain. Beberapa model bisnis yang ada adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subsidi Silang Langsung&lt;br /&gt;Ini model generasi pertama. Revenue dari sumber lain memberikan subsidi silang untuk item yang sengaja dibuat lost. Misalnya, gratis handphone, tapi bayar talktime. Gratis antenna parabola, bayar biaya langganan. Gratis software, bayar hardware. Dsb. Termasuk model bisnis yang digunakan Canonical yang membagikan OS Ubuntu Linux secara gratis. Software nya memang gratis, tapi jika perusahaan kemudian butuh jasa konsultasi, training dan implementasi Ubuntu resmi dari Canonical, perusahaan tersebut harus membayar mahal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subsidi Pihak Ketiga&lt;br /&gt;Ini model bisnis yang digunakan Radio, TV dan Majalah Gratis. Pelanggan gratis, tapi pemasang iklan bayar. Digunakan juga oleh penerbit kartu kredit yang menggratiskan iuran, tapi memberikan charge yang mahal ke merchant. Diskotik juga menjadi pelopor model ini melalui program “ladies night”. Gratis untuk pengunjung wanita, tapi pengunjung pria membayar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Freemium&lt;br /&gt;Ini model yang sering digunakan perusahaan konsultan dan teknologi informasi. Gratis untuk versi yang generic, tapi membayar untuk versi premium. Bisa juga divariasikan dengan modul. Untuk modul terbatas gratis, modul yang lebih lengkap bayar. Gratis untuk konsultasi awal, bayar untuk jasa konsultasi yang lebih lengkap. Gratis untuk overview seminar, bayar untuk training yang lebih lengkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nonmonetary&lt;br /&gt;Ini yang 100% gratis. Jasa yang diberikan sama sekali gratis. Imbalan yang diterima penyedia jasa adalah perhatian dan reputasi. Dan dengan reputasi yang semakin meningkat, dikenal dimana-mana, banyak hal yang bisa dilakukan untuk mendatangkan revenue.  Musisi yang memberikan karya nya secara gratis dan memperoleh reputasi dan perhatian, dapat menghasilkan revenue dari konser-konser ataupun penjualan merchandise nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sebelum Menggratiskan Jualan Anda&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oke … oke, mungkin kedengarannya masih menakutkan untuk menggratiskan begitu saja jualan Anda. Memang ada beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum Anda menggratiskan jualan Anda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, Sesuaikan dengan model bisnis yg ada sekarang. Anda harus analisa baik-baik dari mana sumber revenue Anda. Secara umum menggratiskan jualan Anda dimaksudkan untuk memperbesar revenue, bukan mengurangi revenue. Kalau Anda jualan baju dan membagi-bagikan begitu saja produk terbaru Anda, sulit dibayangkan untuk mendapat revenue yang lebih besar. Tapi jika Anda member subsidi pada asesoris dan membagikan gratis sebagai gimmick untuk memperoleh pelanggan yang lebih banyak, jauh lebih masuk akal. Atau mungkin yang bisa digratiskan adalah catalog, newsletter atau buku kecil tentang bagaimana memanfaatkan produk Anda secara maksimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, gratis akan efektif jika sifatnya masal, melibatkan crowd yang besar. Karena dengan biaya yang sudah ditetapkan, maka semakin besar pelanggan terlibat, biaya per pelanggan akan semakin kecil hingga nyaris nol. Membagikan software gratis kepada 100 orang atau 1 juta orang akan sangat berbeda. Maka Canonical dengan Ubuntu nya rajin mengirim CD gratis. Dalam ekonomi digital eksistensi produk kita di pasar akan sangat tergantung pada atensi dan reputasi. Gratis adalah senjata untuk mencapai dua hal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menutup buka bersama dengan pengusaha senior yang saya ceritakan di depan dengan perasaan puas. Beliau menceritakan dengan detil “resep rahasia” menggratiskan layanan IT beliau, dan tetap memperoleh revenue dari tempat lain. Sebelum kami berpisah, beliau mengucapkan kalimat: “Oh ya, kalau semua sudah gratis, gratis pun jadi kuno. Harusnya pelanggan gak usah bayar, malah dibayar!” Waduh …. (FR)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27366165-2771203772543831536?l=fauzirachmanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/feeds/2771203772543831536/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27366165&amp;postID=2771203772543831536' title='21 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/2771203772543831536'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/2771203772543831536'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/2009/10/gratiskan-jualan-anda.html' title='Gratiskan Jualan Anda !'/><author><name>Fauzi Rachmanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14831845815996709974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_AFw7AVcDntE/ShJCO9gF3KI/AAAAAAAAAIQ/VVgCHydCDDU/S220/fauzi.jpg'/></author><thr:total>21</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27366165.post-1013527112945292880</id><published>2009-06-24T00:26:00.001+07:00</published><updated>2009-06-24T00:26:46.272+07:00</updated><title type='text'>Percayalah ...</title><content type='html'>“Kamu harus percaya pada ku Ma ...” Kata seorang suami memelas di depan istri nya yang marah sambil memegang kemeja kantor dengan cap lipstik di kerah nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Percayalah, meski pergi jauh, aku akan kembali dan melamarmu ...” kata seorang pemuda, sesaat sebelum meninggalkan pacarnya untuk pergi merantau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau proyek ini dipercayakan kepada kami, saya yakin akan selesai sesuai anggaran dan jadwal yang Bapak tetapkan ...” kata seorang konsultan kepada klien nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rakyat tidak lagi percaya dengan pemerintah yang sekarang ...”, demikian kata seorang politisi yang ingin dipilih rakyatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh pernyataan-pernyataan di atas berbicara tentang “ke-percaya-an” (trust). Untuk menghindari kerancuan, saya menggunakan istilah trust, karena “kepercayaan” dalam Bahasa Indonesia dapat juga berarti “beliefs” atau “faith”. Jadi apa sesungguhnya trust itu? Dan yang tidak kalah pentingnya adalah, darimana datangnya trust?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua sepakat bahwa trust itu penting. Pernikahan, dibangun di atas trust yang tumbuh di antara antara suami dan istri. Organisasi, berdiri karena ada trust di antara anggota nya. Perusahaan, berdiri karena ada trust antara pemilik usaha, pelanggan, pekerja dan mitra kerjanya. Transaksi bisnis, terjadi karena ada trust antara penjual dan pembeli. Negara, berdiri karena masih ada trust di antara warga negara dan penyelenggara pemerintahan-nya. Tanpa trust, tanpa ke-percaya-an, maka ikatan-ikatan tadi akan runtuh. Trust adalah “The one thing that changes everythings” demikian kata Stephen Covey dalam buku The Speed of Trust.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlebih lagi dalam bisnis. Trust diakui memiliki korelasi yang erat dengan biaya dan kecepatan. Pada interaksi bisnis yang dijalankan dengan trust yang tinggi, maka kecepatan akan tinggi, dan biaya akan rendah. Sebaliknya, trust yang rendah akan menyebabkan biaya yang tinggi dan kecepatan yang rendah. Misalnya, ketika kita menjual barang pada orang yang kita percayai, maka biasanya eksekusi nya akan lebih cepat, bahkan bisa dibayar kemudian. Sebaliknya, kalau pembeli belum dipercaya maka kita akan menerapkan prosedur yang lebih ketat, ada biaya dimuka, dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun mengakui betapa pentingnya trust, namun sangat jarang kita memikirkan apa dan bagaimana trust bisa dikembangkan. Akibatnya seringkali kita membina hubungan bisnis maupun hubungan sosial, dengan trust yang rendah, yang mengakibatkan biaya tinggi dan kecepatan rendah tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membangun trust tidak semudah mengucapkan kata-kata “Percayalah ...” seperti rayuan pemuda kepada pacarnya. Namun, meski tidak mudah, bisa dipelajari. Berikut beberapa catatan saya dalam mengembangkan trust.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trust harus diraih, bukan diberikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringkali orang berharap akan dapat memiliki trust ketika berinteraksi dengan seseorang yang merupakan anggota dari kelompok tertentu yang ia percayai. Dan hampir dipastikan ia akan kecewa. Misalnya, ketika kita berinteraksi dengan seseorang dengan gelar keagamaan tertentu, atau anggota kelompok keagamaan tertentu, seringkali kita langsung memiliki “trust”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun trust yang demikian seringkali hanya bersifat semu, kerena belum teruji oleh perbuatan. Pada akhirnya konsistensi perbuatan-perbuatan pribadi tersebut yang akan membuat kita memiliki trust atau tidak, bukan gelar yang dimiliki, bukan karena keturunan seseorang yang hebat, atau bukan karena anggota organisasi yang besar dan terkenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bisnis dan kehidupan, trust adalah sesuatu yang harus diraih melalui proses, bukan sesuatu yang secara instan bisa diberikan atau diwariskan begitu saja. Kalau saja trust bisa diwariskan atau dihibahkan kepada anggota-anggota organisasi yang “terpercaya”, betapa mudahnya pekerjaan bank-bank kita dalam menyalurkan kredit. Kenyataannya tidak demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua berawal dari “self-trust”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringkali kita mendengar keluhan-keluhan tentang rendahnya trust dari pelanggan, rendahnya trust dari kolega kita. Atau tidak adanya trust diantara anggota masyarakat kita. Kita mencoba mencari-cari solusi untuk organizational trust, market trust atau societal trust tadi. Akan sulit selama kita belum menyentuh akar sebenarnya yaitu “self-trust”. Trust dari pribadi kita sendiri. Membangun self-trust, tidak lepas dari: karakter dan kemampuan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian terpenting dari karekter adalah integritas. Yaitu bagaimana kita menjalani nilai-nilai yang kita anut secara konsisten. Sekedar berkata “jujur” tidak cukup. Namun juga harus dibuktikan dengan perbuatan yang kongruen dengan perkataan tadi. Serta dihiasi dengan sikap berani sekaligus rendah hati. Berani menyatakan pendapat, mengatakan yang benar adalah benar, dan yang salah adalah salah, namun rendah hati dengan tidak arogan menganggap dirinya pasti benar dan orang lain pasti salah. Inilah landasan integritas yang merupakan modal pertama dalam membangun trust.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Integritas tanpa kemampuan belum cukup untuk membangun trust. Maka selain menjadi pribadi yang penuh integritas, kita juga harus terbukti mampu. Dikenal sebagai pribadi yang ber-integritas akan membuat orang mengenal Anda sebagai “orang baik”, namun belum tentu dipercaya, jika Anda tidak memiliki catatan bahwa Anda memiliki kemampuan. Kemampuan tidak hanya diukur dari seberapa banyak Anda tahu, namun menyeluruh, mencakup: Talents (bakat), Attitude (sikap), Skills (keahlian), Knowledge (pengetahuan) dan Style (gaya atau sentuhan personal Anda).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, karakter dan kemampuan kita harus dibuktikan dengan hasil (result). Ibarat pohon, karakter adalah akar, kemampuan adalah batang dan daun, namun tetap saja, buah adalah yang akan dilihat dan dinikmati. Karakter yang baik, kemampuan yang mumpuni, harus dibuktikan dengan result yang nyata. Dengan tiga modal tadi, maka self-trust dapat kita tumbuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trust bisa naik, dan turun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memiliki hubungan sosial ataupun bisnis dengan trust yang tinggi, dapat membuat kita lengah. Seringkali kita berasumsi bahwa trust adalah abadi. Padahal fakta nya tidak demikian. Trust bisa saja naik, atau turun, bahkan hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trust yang meningkat harus menjadi agenda kita. Trust yang menurun, sedapat mungkin kita cegah. Penurunan trust biasanya terjadi apabila kita tidak menjaga “self-trust” kita masing-masing. Mungkin integritas yang mulai luntur, atau kemampuan yang tidak relevan lagi di masa sekarang, atau bisa jadi result yang tidak lagi terbukti. Kesemuanya dapat mempengaruhi trust.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian catatan saya. Jika diniatkan, saya yakin kita semua dapat belajar membangun trust secara konsisten. Percayalah ...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27366165-1013527112945292880?l=fauzirachmanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/feeds/1013527112945292880/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27366165&amp;postID=1013527112945292880' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/1013527112945292880'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/1013527112945292880'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/2009/06/percayalah.html' title='Percayalah ...'/><author><name>Fauzi Rachmanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14831845815996709974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_AFw7AVcDntE/ShJCO9gF3KI/AAAAAAAAAIQ/VVgCHydCDDU/S220/fauzi.jpg'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27366165.post-5110239496770715724</id><published>2009-05-19T12:16:00.001+07:00</published><updated>2009-05-19T12:18:08.404+07:00</updated><title type='text'>﻿Siapa Mau Pinjaman Modal?</title><content type='html'>Karena judul di atas, saya yakin tulisan saya ini langsung dibaca. Hahaha … gotcha! Ya, siapa yg tidak mau menerima pinjaman modal. Saya saja yang nulis judul di atas ikutan kepengen …. Kalau Anda pengusaha, pasti Anda pernah berusaha mendapatkan pinjaman untuk modal usaha Anda. Kalau pertanyaan diatas diajukan ke seluruh pengusaha di Indonesia bahkan dunia, sebagian besar pasti tunjuk jari. Termasuk saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah mengapa dulu sewaktu saya bekerja di bank, problem saya bukan mencari siapa yang mau menerima pinjaman. Tapi mencari, siapa yang bisa mengembalikan pinjaman. Kalau yang mau banyaaak … yang bisa mengembalikan? Belum tentyu ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ditanya, Anda mau pinjaman modal? Pasti kita langsung ngangguk pada detik pertama. Tapi kalau ditanya, Mengapa perlu pinjaman? Untuk apa pinjaman nya? Berapa besar? Berapa lama? Dari mana sumber pengembalian pinjaman nya? Nah, baru kita menelan ludah dan garuk-garuk kepala yang tidak gatal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sesungguhnya pinjam meminjam itu ada “filosofi”nya. Ini yang jarang dikuasai orang. Tanpa memahami nya, memang pasti kita akan kesulitan menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar tadi. Ini yang ingin saya bicarakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memahami Asset Conversion Cycle&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memudahkan pemahaman, kita pergunakan ilustrasi sederhana. Katakanlah saya memulai sebuah usaha dengan modal Rp. 1.5 juta. Saya ingin memproduksi dan menjual kaos saya sendiri. Maka modal tadi saya belikan bahan kaos sebesar Rp.1 juta dan membayar penjahit sebesar Rp.500 ribu. Jadilah 20 potong kaos yang saya jual di kios depan rumah saya, seharga Rp.100 ribu per potong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya baru memulai usaha, maka asset saya berupa Kas sebesar Rp.1.5 juta. Ketika saya  membeli bahan kaos, maka sebagian asset saya mengalami konversi menjadi bahan baku sebesar Rp.1 juta, plus Rp.500 ribu terkonversi menjadi upah. Dan ketika saya memiliki 20 potong kaos siap jual, asset saya terkonversi menjadi bahan jadi. Bahan jadi ini ketika terjual, akan kembali menjadi Kas. Siklus dari kas menjadi bahan baku, kemudian menjadi barang jadi dan menjadi kas kembali, inilah yang disebut “Asset Conversion Cycle”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau siklus konversi asset berjalan sempurna, maka dari Kas awal Rp.1.5 juta, saya akan memiliki kas Rp. 2 juta dari penjualan 20 potong kaos. Yang Rp. 500 ribu adalah profit saya. Yang Rp. 1.5 juta dapat saya pergunakan kembali untuk memproduksi kembali 20 kaos. Demikian seterusnya. Setiap produksi, untung 500 ribu. Mudah bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah. Namun sayangnya itu hanya terjadi di dunia khayal … hahaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dunia nyata, kenyataanya bisa jadi Anda produksi 20 kaos, yang terjual hanya 15, 10 atau bahkan cuma 3.  Sementara penjahit harus tetap Anda bayar. Bahan baku kaos juga harus sudah dibeli kembali. Sementara asset sudah berupa bahan jadi semua. Kalau sudah begini, Asset Conversion Cycle pun mandek, terhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau saya perlu membeli mesin jahit, karena mesin jahit saat ini terlalu lamban. Maka saya perlu menyisihkan dana dari Kas. Tapi kalau saya investasikan kas saya, maka kas saya akan mandek dalam bentuk mesin jahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau mau contoh yg lebih “happy problem”? Misalnya tiba-tiba saya memperoleh pesanan 100 buah kaos kampanye Capres. Kalau saya sanggupi jelas kas saya tidak akan mencukupi. Karena artinya saya harus sanggup memproduksi kaos 5 kali lipat dari kemampuan kas saya hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari skenario-skenario diatas, hasil akhirnya sama. Konversi kas yang tidak berjalan lancar. Kas yang sudah dikeluarkan tidak kembali menjadi kas. Dan karena Kas seperti darah bagi bisnis, maka bisnis kaos saya pun akan mulai kurang darah dan sakit-sakit-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sound familiar? Welcome to the club, dan teruslah membaca tulisan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memahami Lending Rationale&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencari pinjaman modal …. Adalah resep ampuh terhadap masalah konversi kas tadi. Benarkah? Belum tentu. Kalau masalah usaha kaos saya adalah pada kemampuan menjual, maka berapa pun kas yang disuntik ke usaha saya, hasil akhirnya akan sama. Konversi kas mandek. Malah, kini datang masalah baru, yaitu bagaimana mengembalikan pinjaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tentu saja ada skenario-skenario yang memang pinjaman kas akan sangat membantu. Skenario inilah yang menjadi alasan bank memberikan pinjaman. Jaman saya belajar perbankan dulu, disebut sebagai “Lending Rationale”, atau landasan pemikiran mengapa bank memberi pinjaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum ada 3 skenario lending rationale:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama. Asset Conversion Lending. Atau pinjaman untuk menambah asset (kas) yang akan dikonversi. Misalnya usaha kaos saya yang rata-rata menjual 20 kaos per bulan. Karena menjelang lebaran atau menjelang kampanye Pilpres saya prediksikan ada peningkatan penjualan sebesar 100%. Maka saya perlu tambahan kas, untuk mengatasi fluktuasi kebutuhan kas yang sifatnya temporer ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa perlu pinjaman ini? Ya, karena kalau tidak kas saya tidak akan mencukupi untuk memenuhi lonjakan permintaan. Berapa besarnya? Ya, sesuai prediksi fluktuasi yang akan dialami. Darimana pengembaliannya? Dari selesai nya siklus konversi asset secara penuh, yaitu ketika barang jadi terjual dan kembali menjadi kas. Misalnya, ketika pesanan kaos pilpres saya dibayar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua. Cash Flow Lending. Untuk menyediakan cash jangka menengah panjang, untuk modal kerja permanen atau investasi. Misalnya, usaha kaos saya perlu membeli mesin jahit baru. Tidak mungkin saya penuhi dari modal awal saya yang cuma Rp.1,5 juta tadi. Tapi saya bisa mengambil pinjaman jangka menengah (misalnya 3 tahun) yang saya bayar dari cash flow usaha. Misalnya mencicil Rp.100 ribu per bulan, karena dari profit sebelumnya saya tahu saya memiliki kesanggupan membayar sebesar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa perlu pinjaman ini? Untuk membiayai investasi jangka menengah. Berapa besarnya? Sesuai kebutuhan investasi dan kesanggupan membayar dari cash flow. Dari mana pengembaliannya? Dari operating cash flow yang berjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga. Asset Protection Lending. Ini pinjaman untuk menjaga supaya asset (cash) saya tidak terkikis pertumbuhan usaha saya sendiri. Misalnya usaha saya tumbuh 10% per bulan, maka dengan sendiri nya setiap bulan saya perlu tambahan kas untuk menambah bahan baku dsb. Jika tidak, maka kas saya akan terkikis dan bisa-bisa meskipun usaha maju, saya cash-less.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa perlu pinjaman ini? Untuk memproteksi kas supaya sesuai dengan pertumbuhan usaha. Berapa besarnya? Sesuai dengan trend pertumbuhan. Dari mana pengembaliannya? Biasanya pembiayaan bersifat revolving dan evergreen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah “rationale” atau landasan pemikiran pemberian pinjaman. Sebagai pelaku bisnis Anda tinggal menganalisa kira-kira usaha Anda sedang dalam situasi yang mana. Setelah paham situasi nya, baru diputuskan apakah pinjaman diperlukan. Dan kalau diperlukan pinjaman yang seperti apa. Bisnis adalah sesuatu yang masuk akal. Semua ada “rationale” nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lho terus pinjaman yg ditawarkan di judul? Ya ... kalau sudah tau ilmu nya Anda kan bisa ke bank ... hehehe. Selamat mengajukan pinjaman !&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27366165-5110239496770715724?l=fauzirachmanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/feeds/5110239496770715724/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27366165&amp;postID=5110239496770715724' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/5110239496770715724'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/5110239496770715724'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/2009/05/siapa-mau-pinjaman-modal.html' title='﻿Siapa Mau Pinjaman Modal?'/><author><name>Fauzi Rachmanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14831845815996709974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_AFw7AVcDntE/ShJCO9gF3KI/AAAAAAAAAIQ/VVgCHydCDDU/S220/fauzi.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27366165.post-8308917369024479067</id><published>2009-03-30T12:11:00.000+07:00</published><updated>2009-03-30T12:12:36.343+07:00</updated><title type='text'>Surat Untuk Saudaraku</title><content type='html'>Saudaraku ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dapat memahami perasaan Anda. Sesungguhnya bukan hanya Anda, saya pun dahulu juga telah mengalami ujian yang sama. Berusaha dan belum berhasil, tidak punya uang, justru banyak hutang, sudah saya alami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal sudah membuat daftar impian, tujuan yang pasti, sudah membuat strategi, sudah berani mengambil tindakan … Nekat malah, karena saya melepas pekerjaan saya demi bisnis. Bukan keberhasilan yang diraih, namun justru kesulitan demi kesulitan. Pada waktu itu pun, saya merasakan rasa frustasi yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama-tama harus kita pahami tentang sunatullah, ketetapan Allah yang berlaku sebagai   hukum yang berjalan di alam semesta ciptaanNya ini. Ketetapan ini berlaku tanpa memandang siapa pun pelaku nya. Misalnya: hukum grafitasi. Benda apapun, jika dilepaskan akan jatuh ke permukaan bumi. Siapapun yang menjatuhkan benda itu, apapun agama nya, bahkan atheis sekalipun, benda tadi akan jatuh ke permukaan bumi. Karena demikianlah sunatullah nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunatullah yang lain adalah, siapa yang ingin berhasil dan berupaya dengan sungguh-sungguh untuk mencapai nya, maka atas seizin Allah, keinginannya akan tercapai. Siapapun orangnya, apakah itu muslim, non-muslim, bahkan atheis sekalipun. Karena ini sudah merupakan sunatullah, sebagaimana hukum grafitasi. Maka saya tidaklah heran dengan keberhasilan Bill Gates ataupun Donald Trump, karena mereka memang melakukan usaha dengan sungguh-sungguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, mengapa ada orang yang sudah berusaha namun belum berhasil? Jika keberhasilan, sebagaimana grafitasi adalah sunatullah? Mengapa ini bisa terjadi? Pertanyaan nya adalah, betulkan ia sudah berusaha sesuai dengan cara-cara yang dilakukan orang yang berhasil? Jika belum, maka tentu saja dia masih belum akan mecapai keberhasilan. Sebagaimana kita melepas benda, namun benda tadi terikat dengan tali, maka hukum grafitasi bumi pun tidak bisa menarik benda tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, bagaimanakah cara-cara orang yang berhasil itu? Keberhasilan orang-orang yang sukses dalam berbisnis itu meninggalkan jejak. Sehingga kita bisa mengikuti jejak-jejak tadi, untuk ikut mencapai kesuksesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku, untuk memulai, sebagai tahap awal coba praktekkan beberapa sikap mental yang banyak kita temui pada orang-orang berhasil ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhlas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang berhasil, melakukan segala sesuatu dengan Ikhlas. Batin nya ikhlas, menerima apa yang telah Tuhan berikan untuk nya hari ini. Bahwa pasti ada kebaikan yang Tuhan semesta alam berikan hari ini. Sekalipun mungkin peristiwa hari ini “buruk” di mata kita. Karena buruk di mata kita, belum tentu buruk di mata Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkisah, jaman dahulu kala, di sebuah kampung, ada seorang lelaki tua yang hidup dengan anak lelaki tunggalnya. Suatu ketika pemuda tadi jatuh dari kuda, dan kaki nya patah. “Malang benar nasib anakmu ...” Demikian kata orang kampung. Ternyata, keesokan hari nya, datanglah tentara kerajaan untuk mengajak seluruh pemuda yang sehat maju ke medan perang yang mengerikan, yang hampir dipastikan seluruh pemuda tadi akan pulang tinggal nama. Seluruh orang tua menangis meratapi nasib anaknya … Kecuali orang tua dari pemuda yang kaki nya patah tadi. Jadi sekarang siapa yang nasib nya malang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kemalangan” ternyata hanyalah penilaian kita sebagai manusia yang lemah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi Saudaraku …. apakah hari ini usaha kita selalu gagal, banyak hutang, tidak punya uang? Saya yakin, pasti ada maksud baik Tuhan dari pengalaman kita hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain ikhlas, kita juga harus terima dan syukuri apa yang sudah kita alami dan miliki hari ini. Dan juga apa-apa yang sudah kita terima di masa lalu, dan  apa yang akan kita terima besok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tidak ada guna nya batin kita menolak dan menyesali apa yang kita alami hari ini. Seringkali batin kita menjerit-jerit, “mengapa nasib ku seperti ini ….”, namun hal ini malah akan memperkuat penderitaan kita.  “What you resist persist ... “demikian pepatah kata. Makanya, orang yang mengeluhkan penderitaannya, biasanya penderitaanya semakin buruk. Yang mengeluhkan hutang, hutangnya makin banyak, yang mengeluhkan bisnisnya sepi, bisnisnya makin sepi, yang mengeluhkan tidak punya uang, uang nya makin sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, orang yang bisa mensyukuri apa yang mereka terima hari ini, maka insyaAllah justru kenikmatan yang dia terima akan bertambah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, saudaraku … Mulailah dengan mensyukuri apa yang saudaraku sudah miliki hari ini. Tidak hanya materi, namun juga  kesehatan, cinta, pengetahuan, keluarga, dan sahabat. Banyak orang yang kaya materi namun tidak memiliki yang saya sebutkan tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lepaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Let it Go … Let it God”. Kita diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Perkasa, Maha Kaya, Maha Bijaksana. Maka lepaskanlah kembali semuanya kepada Dia. Kembalikan semuanya kepada Dia. Biarkan Tuhan yang mengatur hidup kita ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang kita merasa lebih tahu dan lebih pintar dari Tuhan. Bahwa hidup kita harus seperti yang kita “tentukan”. Padahal Tuhan lah yang menentukan hidup kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak kejadian sudah saya alami. Bahwa di satu titik kita menemui jalan buntu, ketika seluruh logika dan nalar tidak mampu lagi mencari penyelesaian, penyelesaian justru datang ketika kita pasrahkan kembali permasalahan kita kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedih karena ditolak calon pelanggan? Wajar, namun lepaskan kembali pada Tuhan, siapa tahu Yang Punya Hidup punya skenario lain, yaitu memberikan pelanggan yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanah adalah selalu bisa dipercaya, menepati janji dan menunaikan tanggung-jawab. Seringkali kita tergoda untuk tidak amanah pada saat kita mengalami perjalanan hidup yang sulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepercayaan yang diberikan kepada kita, dengan mudahnya kita sia-sia kan, demi keuntungan sesaat. Seringkali demi uang yang jumlahnya tidak seberapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita berhutang, maka kita wajib berusaha membayarnya. Dengan segala usaha yang kita mampu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga pernah mengalami tidak mampu membayar hutang seperti saudara. Namun, saya berusaha dengan menemui pemberi hutang, dengan sikap yang baik, untuk membicarakan kembali jadwal pembayaran hutang saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, saya juga pernah menawarkan barter, menukar hutang saya dengan keahlian yang saya miliki. Dan berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang penting adalah berusaha untuk amanah. Karena buah dari amanah, adalah nama baik dan kepercayaan, yang selama nya akan menjadi modal utama dalam bisnis kita. Donald Trump, misalnya, berhasil bangkit dari keterpurukan, karena nama baik nya dalam bisnis masih dipercaya investor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang terakhir saudaraku, adalah ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memberi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikanlah apa yang saudara sedang cari. Karena ia akan kembali dalam jumlah yang berlipat-lipat. Jika saudaraku mencari cinta, maka berikanlah cinta. Jika Anda mencari ilmu, berikanlah ilmu. Dan jika Anda mencari uang, berikanlah uang …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Power of Giving” sudah dibuktikan oleh banyak orang. Dengan memberi, maka kita akan menerima. Bukan sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, Bill Gates pun tidak ragu menyumbangkan lebih dari 28 milyar Dollar kekayaanya, dan apa yang terjadi? Bill Gates makin kaya, bukan tambah miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua minggu lalu, saya mengalami sendiri hal ini. Saya memberikan sejumlah uang melalui transfer bank.  Dan di tempat parkir mobil, masih di bank yang sama, saya menerima pemberitahuan dari staff saya lewat telephone kalau kami menerima order, senilai 100 kali lipat uang yang saya berikan. Kekuatan memberi benar-benar terbukti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian yang dapat saya bagikan saudaraku …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap mental Ikhlas – Syukur – Lepaskan – Amanah -  Memberi, ini telah menolong saya di masa-masa sulit dahulu, dam semoga bisa membantu Saudara mencapai apa yang dicita-citakan. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fauzi Rachmanto&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27366165-8308917369024479067?l=fauzirachmanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/feeds/8308917369024479067/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27366165&amp;postID=8308917369024479067' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/8308917369024479067'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/8308917369024479067'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/2009/03/surat-untuk-saudaraku.html' title='Surat Untuk Saudaraku'/><author><name>Fauzi Rachmanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14831845815996709974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_AFw7AVcDntE/ShJCO9gF3KI/AAAAAAAAAIQ/VVgCHydCDDU/S220/fauzi.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27366165.post-8116493935097333055</id><published>2009-03-19T23:47:00.002+07:00</published><updated>2009-03-19T23:56:04.698+07:00</updated><title type='text'>Segitiga Bermuda</title><content type='html'>Jika Anda melihat peta Amerika Serikat, di sisi Samudera Atlantik, Anda akan menemukan semenanjung Florida. Sebelah tenggara Florida, ada kepulauan Bahama, Kuba, Dominika, Haiti dan Puerto Rico. Arah timur laut dari Florida, ada kepulauan kecil, Bermuda. Jika kita menghubungkan secara imajiner antara Miami, Florida dengan Puerto Rico dan Bermuda, maka terbentanglah wilayah yang disebut “Segitiga Bermuda”, yang sering dijuluki sebagai “Segitiga Setan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya cukup seram? Ya. Bagaimana tidak. Sejak abad ke-19 hingga hari ini, terhitung sudah lebih dari 1700 kapal laut dan kapal udara yang lenyap ketika melewati kawasan Segitiga Bermuda. Bahkan, dalam beberapa kasus kapal-kapal tersebut lenyap, hilang, tanpa bekas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebabnya apa? Banyak teori yang sudah diajukan untuk menjelaskan fenomena ini. Dari mulai keterlibatan Alien, peninggalan teknologi Atlantis, semburan gas Metana, dan sebagainya. Apapun, toh kejadian yang sama masih terjadi hingga beberapa tahun belakangan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya tidak sedang ingin membicarakan teori yang menjelaskan Segitiga Bermuda di Samudra Atlantis sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bisnis, sesungguhnya juga ada “Segitiga Bermuda” mematikan yang telah banyak memakan korban perusahaan-perusahaan kecil yang baru mulai berlayar mengarungi kehidupan dunia usaha. Ini yang ingin saya bicarakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Anda punya banyak kenalan pelaku bisnis pemula, coba saja ingat-ingat. Pasti ada rekan Anda yang beberapa tahun lalu sedang semangat-semangat nya mengembangkan usaha nya, hari ini mungkin sudah tidak terdengar lagi kabar beritanya. Seolah lenyap begitu saja, seperti ditelan “Segitiga Bermuda”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini yang bagi saya menarik untuk dibicarakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keith R. McFarland dalam buku nya “The Breakthrough Company” menceritakan dengan jelas bagaimana sebuah perusahaan dapat mengarungi Segitiga Bermuda bisnis ini dan sukses menjadi pelaku bisnis luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha kecil dan menengah, sesungguhnya memiliki banyak keunggulan. Dari hasil riset McFarland, paling tidak ada tiga keunggulan usaha kecil dibanding perusahaan-perusahaan yang sudah besar dan mapan, yaitu: (1) Mereka memiliki biaya yang rendah, (2) Mereka mampu memberikan secara tepat apa yang diinginkan konsumen, dan (3) Lebih mampu bereaksi secara cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pengalaman saya mengelola usaha saya, System Design Group Indonesia (http://sdgisolutions.com), saya mengakui ketepatan hasil riset McFarland di atas. Perusahaan kami adalah konsultan Teknologi Informasi yang relatif kecil jika dibandingkan kompetitor-kompetitor kami. Dalam banyak kesempatan, “ke-kecil-an” kami tadi ternyata menjadi kekuatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal biaya, sangat jelas. Pernah dalam sebuah kesempatan mengikuti tender di luar kota, saya harus bersaing dengan sebuah perusahaan IT papan atas di Indonesia. Untuk melakukan presentasi mereka datang dengan satu tim lengkap yang terdiri dari tiga orang, naik pesawat terbang rame-rame, dan menginap di hotel selama 3 hari. Saya, karena tidak punya banyak karyawan, cukup datang sendiri, dan cukup menginap satu malam. Dan perusahaan kami yang menang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena jumlah klien dan konsultan kami relatif sedikit, klien kami juga memiliki keuntungan untuk dapat berinteraksi dengan lebih intens dengan konsultan yang ditugaskan bekerja di klien tersebut. Tidak ada jenjang birokrasi rumit hanya untuk memenuhi sebuah permintaan klien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal kecepatan, kami juga sering diuntungkan. Dalam beberapa kesempatan bernegosiasi, klien kami dapat lebih cepat memperoleh jawaban, karena saya langsung terlibat. Keputusan dapat saya berikan saat itu juga. Sementara kompetitor saya umumnya diwakili oleh tim penjualan, yang harus meminta persetujuan atasan, yang harus meminta persetujuan lagi kepada atasan di atas nya lagi. Capeek deeh ... kata Klien yang menunggu jawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau begitu, dengan segala keuntungan tadi, dimana bahaya nya? Dimana “Segitiga Bermuda” nya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Justru 3 keunggulan tadi, dapat menjadi Segitiga Bermuda yang akan menenggelamkan sebuah usaha. Yaitu ketika sebuah usaha kecil beranjak tumbuh, dan tetap berasumsi memiliki keunggulan-keunggulan yang pada fase pertumbuhan usaha sebenarnya sudah tidak relevan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya keungguan biaya. Secara alamiah keunggulan ini akan lenyap ketika sebuah usaha mulai tumbuh. Sebagai akibat pertumbuhan, biaya karyawan juga bertambah, biaya promosi bertambah, biaya kantor bertambah. Hingga pada suatu titik, tidak ada lagi keunggulan dari segi biaya. Saya mengalami sendiri fase ini. Biaya karyawan yang membengkak, biaya transportasi yang membengkak, biaya marketing yang membengkak, adalah fakta-fakta yang tidak saya jumpai ketika usaha saya lebih kecil dari sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga soal kecepatan. Ketika karyawan bertambah, tim berkembang, pendelegasian kewenangan mulai dijalankan, ada birokrasi yang mulai bekerja. Kecepatan merespon permintaan klien pun mulai terpengaruh. Jika tadinya saya melakukan sendiri pekerjaan penjualan, kini ada tim sales yang membantu saya. Ini tidak terelakkan. Akibatnya ada satu jenjang yang harus dilewati untuk dapat memberikan reaksi yang dahulu dapat diberikan seketika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini yang jadi pertanyaan saya juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut McFarland, satu-satu nya jalan adalah menjadikan keunggulan-keunggulan yang ada pada saat sebuah usaha masih relatif kecil menjadi “keunggulan yang berkelanjutan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Caranya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pertama: Optimalisasi Biaya, bukan menekan biaya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biaya yang rendah, adalah keunggulan usaha kecil. Ketika usaha Anda beranjak besar, maka  mau tidak mau biaya akan semakin besar. Ini yang harus dioptimalkan. Banyak yang salah kaprah hal ini dengan menekan biaya. Termasuk saya. Misalnya, awalnya saya enggan menambah jumlah karyawan pada saat klien mulai bertambah. Akibatnya, klien-klien lama malah tidak terperhatikan dan ini sangat berbahaya. Padahal mau tidak mau memang saya harus menambah jumlah tim konsultan. Namun, biaya karyawan yang saya keluarkan, toh dapat di optimalkan. Misalnya, saya menciptakan fungsi baru yaitu R&amp;amp;D yang melekat pada tim konsultan tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain, istri saya yang membuat baju muslimah dengan merk "Lentik", melalui usaha nya Lepuspa.Biz (http://lepuspa.biz) menyewa sebuah tempat di sebuah mall di Bandung. Semakin rame toko nya, pihak manajemen mall dengan “jahat”nya menaik-kan biaya  sewa. Tidak dapat dielakkan. Namun biaya nya bisa dioptimalkan. Misalnya jika semula cuma jadi outlet penjualan, tempat yang sama bisa sekalian untuk media promosi produk baju yang baru di launching, lengkap dengan X banner, leaflet, dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kedua, Menguasai Produk, bukan menambah Produk.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat tumbuh, untuk lebih memuaskan pelanggan yang makin beragam, godaan terbesar adalah melakukan diversifikasi. Ini juga saya alami. Klien-klien baru, dengan permintaan baru, menggoda sekali untuk memberikan produk baru untuk mereka. Padahal setiap produk baru adalah sumber biaya yang dapat menghisap cash perusahaan. Jika tidak hati-hati ini dapat berakibat fatal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah yang membuat perusahaan kami sampai hari ini hanya melayani solusi IT Service Management (ITSM) dan yang terkait, misalnya IT Asset Management. Apa tidak ada permintaan untuk solusi lain? Buanyaak. Tapi untuk mengembangkan ekspertise dalam bidang ITSM saja perlu bertahun-tahun, dan biaya tidak sedikit. Masuk ke produk lain juga akan memerlukan biaya dan usaha yang tidak sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diversifikasi boleh, namun kuasai lebih dahulu dengan sebaik-baiknya produk yang saat ini menjadi andalan kita. Yang sering terjadi adalah, sebelum menguasai betul produk yang saat ini dijual, sudah tergoda produk lain. Akibatnya malah dua-dua nya tidak berjalan dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ketiga, Let your customer be your guide.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau tetap ingin melakukan diversifikasi, biarkan pelanggan yang menjadi pemandu kita. Bukan kita. Saya pernah punya pengalaman pahit berjualan solusi IT yang menurut saya bagus. Menurut saya, bukan menurut pelanggan. Akibatnya tidak berjalan seperti yang diinginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Keempat. Buang struktur organisasi yang tidak perlu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak usaha kecil yang ketika tumbuh, jadi keasyikan main kantor-kantor an. Kalau tadinya mudah mengakses bahkan owner nya sekalipun, sekarang kalau mau ketemu manager nya saja pelanggan harus bikin janji dengan sekretaris nya. Ini yang akan meruntuhkan kecepatan yang semula jadi keunggulan kita. Sudahlah. Kalau tidak perlu sekali, tidak perlu di ada-ada in.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;That's it. Itulah empat panduan yang disampaikan Keith McFarland. Selamat mencoba, dan sukses melintasi “Segitiga Bermuda”.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27366165-8116493935097333055?l=fauzirachmanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/feeds/8116493935097333055/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27366165&amp;postID=8116493935097333055' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/8116493935097333055'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/8116493935097333055'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/2009/03/segitiga-bermuda.html' title='Segitiga Bermuda'/><author><name>Fauzi Rachmanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14831845815996709974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_AFw7AVcDntE/ShJCO9gF3KI/AAAAAAAAAIQ/VVgCHydCDDU/S220/fauzi.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27366165.post-5856941831055840468</id><published>2009-02-19T14:18:00.002+07:00</published><updated>2009-02-19T16:09:57.249+07:00</updated><title type='text'>Childhood Dreams</title><content type='html'>&lt;style type="text/css"&gt;  &lt;!--   @page { margin: 0.79in }   P { margin-bottom: 0.08in }  --&gt;&lt;/style&gt;Professor Randy Pausch, dulu adalah seorang Profesor Computer Science di Carnegie Mellon University. Sesuai tradisi di universitas Carnegie Mellon, pada bulan September 2007, Randy diminta menyampaikan “Last Lecture”. Makna kuliah terakhir tersebut begitu dalam, karena Randy Pausch pada saat itu memang sedang dalam perjuangan melawan penyakit pancreatic cancer yang mematikan. Dokter memperkirakan hidup Randy tidak lama lagi, sehingga Last Lecture kali ini bisa jadi adalah benar-benar kuliah terakhirnya. Meskipun sedang menghadapi penyakit yang mematikan, kuliah Prof. Pausch yang berjudul – Really Achieving Your Childhood Dreams, sama sekali bukan tentang kematian. Tapi justru berbicara tentang kehidupan. Tentang mimpi-mimpi masa kecilnya, bagaimana terwujudnya mimpi-mimpi tersebut, dan mimpi bagi ketiga anak nya yang akan tumbuh tanpa kehadirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan Juli 2008, Randy Pausch akhirnya meninggalkan keluarga dan teman-teman nya untuk selama-lamanya. Namun Randy telah mewariskan buku yang sangat luar biasa, “The Last Lecture”. Sebuah buku yang saya baca dengan penuh rasa haru, dan membuat saya kembali mengingat impian masa kecil saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu impian masa kecil Randy Pausch adalah “Menjadi Captain Kirk”. Pesona sang Kapten yang memimpin pesawat ruang angkasa USS Enterprise dalam serial TV Star Trek begitu melekat pada benak Randy kecil, hingga ia membayangkan kelak akan menjadi seperti Captain Kirk. Setelah dewasa, Randy Pausch memang tidak pernah menjadi Kapten kapal ruang angkasa. Namun, guess what? Dia pernah berkesempatan mencoba pengalaman mengalami zero grafity di pesawat NASA. Dan puncak pengalaman nya yang terkait dengan impian masa kecilnya adalah, ketika Pausch harus mendemokan teknologi Virtual Reality secara langsung kepada William Shatner, pemeran Captain Kirk!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Impian masa kecil Randy Pausch yang lain adalah “menjadi Disney Imagineering”. Imagineering adalah orang-orang di belakang layar di Disney yang memungkinkan segala atraksi yang fantastis di Disneyland ataupun Disney Movie terjadi. Randy kecil begitu terpesona dengan Disneyland yang disebutnya sebagai “Happiest Place on Earth”. Lama setelah Randy melewati masa kanak-kanak nya, dan menjadi seorang computer scientist dengan area penelitian Virtual Reality, sepertinya apa yang ditekuni Randy tidak berkaitan dengan mimpi masa kecilnya. Sampai ketika sebuah kesempatan datang: tawaran bekerja sama dengan Disney untuk mengembangkan Virtual Reality. Randy pun segera menuju California dengan kebanggaan: menjadi Disney Imagineering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya impian pribadi nya. Randy juga bercerita tentang impian seorang anak buahnya bernama Tommy Burnett. Ketika Randy merekrut Tommy, sebuah pertanyaan dilontarkan: Apa impian kamu? Jawaban Tommy tidak kalah lugas: Impian masa kecilnya adalah membuat film Star Wars. Pada saat itu tahun 1993, 3 serial Star Wars selesai dibuat sepuluh tahun sebelumnya, dan George Lucas belum mengumumkan rencana membuat serial baru. Tapi Tommy tetap berkeras bahwa membuat film Star Wars adalah impian masa kecil nya. Beberapa tahun kemudian, Industrial Light &amp;amp; Magic, perusahaan George Lucas mencari programmer Python, dan Tommy diterima bekerja. Dan begitulah, akhirnya Tommy terlibat dalam tiga prequel film Star Wars, sebagai lead technical director. Sama seperti impian masa kecil nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini membuat saya berpikir. Apakah saya juga telah menjalani kehidupan seperti impian masa kecil saya, sebagaimana Randy atau Tommy? Lalu apa impian masa kecil saya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saya ingat-ingat kembali impian masa kecil saya sangat dipengaruhi cerita-cerita science fiction. Sama seperti Randy Pausch, saya penggemar Star Trek, dan saya sangat mengagumi Captain Kirk, melebihi Mr. Spock, Sulu, McCoy ataupun Scott. Saya terpesona dengan kepemimpinan Captain Kirk maupun gadget-gadget nya. Banyak yg terkesan dengan “handphone flip” yang digunakan Kirk. Namun menurut saya yang paling dahsyat adalah “Tricorder”. Ini semacam komputer portabel yang mampu melakukan scanning planet yang baru didatangi dan layarnya akan memunculkan informasi-informasi berharga. Sebuah komputer portabel, bayangkan ! Saya sering memimpikan memiliki Tricorder.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu saya kecil (saya lahir tahun 1970), tentu saja belum ada personal computer seperti yang kita kenal sekarang.  Paling tidak di Indonesia. Pemahaman pertama saya tentang komputer, selain dari Star Trek, saya peroleh dari komik serial Arad dan Maya. Dalam komik tadi dikisahkan pesawat yang dikendarai Arad memiliki komputer cerdas yang bisa berbicara. Namanya CC. Saking cerdas nya kadang Arad dibikin emosi oleh si CC ini. Saya jadi sangat tertarik dengan yang namanya komputer. Apakah betul secerdas itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beruntung saya mempunyai Kakak-Kakak laki yang sangat suka elektronika, dan rajin berlangganan majalah-majalah sains, diantaranya yang saya ingat majalah Mekatronika. Gambaran komputer yang lebih jelas saya peroleh dari salah satu majalah tadi. Suatu hari Kakak saya menunjukkan gambar sebuah kotak TV dengan tombol-tombol mesin ketik di bawahnya: “ini lho kompiyuter ...” katanya. Sok ng-Inggris.  Saya pun ikut2 an menyebutnya “kompiyuter”, bukan komputer. Waktu itu saya masih SD. Saya sering berkhayal, mengoperasikan kompiyuter. Papan tulis hitam yang biasa kami gunakan untuk belajar saya gambari layar-layar, dan tombol mesin ketik di bawahnya. Dalam khayalan saya, saya berinteraksi dengan si kompiyuter, memberikan pertanyaan, dan kompiyuter menjawab. Seperti Tricorder nya Captain Kirk atau CC nya Arad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1998, mungkin 20 tahun semenjak khayalan saya, saya diterima bekerja di sebuah perusahaan software, bernama Commercial Software Services Ltd. Tugas saya, menjadi konsultan sebuah sistem aplikasi. Duduk di depan “kompiyuter”, untuk merancang, menguji dan mengoperasikan aplikasi tadi. Setiap hari saya harus berinteraksi dengan si “kompiyuter”. Memang bukan dengan kata-kata seperti Arad, tapi dengan data yang berguna untuk klien saya.  Hari ini saya baru sadar, bahwa pada saat itu terjadi, rupanya salah satu impian masa kecil saya terwujud. Meskipun dalam bentuk yang sedikit berbeda. Bahkan hingga hari ini, saya masih berbisnis di industri software computer. Ini membuat saya merinding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa impian masa kecil Anda?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27366165-5856941831055840468?l=fauzirachmanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/feeds/5856941831055840468/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27366165&amp;postID=5856941831055840468' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/5856941831055840468'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/5856941831055840468'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/2009/02/childhood-dreams.html' title='Childhood Dreams'/><author><name>Fauzi Rachmanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14831845815996709974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_AFw7AVcDntE/ShJCO9gF3KI/AAAAAAAAAIQ/VVgCHydCDDU/S220/fauzi.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27366165.post-3929174940174154508</id><published>2008-11-25T14:37:00.000+07:00</published><updated>2008-11-25T14:41:17.797+07:00</updated><title type='text'>Bukan Kimi</title><content type='html'>“Kacamata nya Kimi Raikkonen yang mana Mas?” tanya saya di sebuah toko kacamata di Bandung. Si Mas langsung mengambilkan sebuah kacamata dari tempat yg terkunci rapih. Sebuah kacamata bergagang merah yg sangat bagus diserahkan dengan hati-hati ke saya. Saya langsung mencoba, dan bercermin. Hmm ... sepertinya ada yang aneh. Saya melirik ke poster Kimi di samping saya, tersenyum manis dengan kacamata yg sama. Ganteng sekali juara dunia Formula-1 tahun 2007 itu. Saya bercermin lagi, hmm ... tetap aneh. Kacamatanya seperti kesempitan. Wajah saya terlalu bulat, dan gagang-nya yg melengkung indah itu serasa tidak pas di telinga saya. Saya lirik Kimi lagi. Masih tetap ganteng. Saya bercermin lagi. Duh, tetap saja aneh. Kacamata saya copot, saya nyerah. Ah, saya memang bukan Kimi.&lt;p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Memang manusia diciptakan sungguh unik. Dari sekian milyar penduduk bumi, kok ya tidak ada yang sama persis. Bahkan mereka yang terlahir kembar, konon tetap memiliki perbedaan. Apalagi antara saya dan Kimi Raikkonen, jelas beda sekali. Perbedaan-perbedaan yg  cukup ekstrim juga saya temukan antara saya, Brad Pitt, Nico Rosberg ataupun Zac Efron, hehehe ... ya iya laah, masa ya iya doong.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Jadi sepertinya percuma saja saya pakai kacamata Kimi Raikkonen, gak akan ngaruh apa-apa di wajah saya. Apalagi pengaruh ke skill mengemudi. Kacamata seperti punya Kimi tidak akan menjadikan saya menjadi pembalap. Saya ya saya, Kimi ya Kimi. Kami berdua, seperti juga Anda, adalah individu yang masing-masing unik. Tidak ada dua nya di dunia.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Tapi justru keunikan masing-masing individu ini yang membuat dunia ini begitu indah. Coba bayangkan kalau seluruh laki-laki di dunia diciptakan berwajah Brad Pitt semua. Atau seluruh wanita di dunia diciptakan seperti Angelina Jolie semua. Pasti sangat membosankan, membingungkan, bahkan sedikit menakutkan. Apalagi kalau cara bicara, gaya, perilaku dan kemampuan-nya dibuat sama semua. Pasti sangat menakutkan.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Alhamdulillah Tuhan menciptakan manusia dengan keunikan masing-masing. Ada yang jago balap, ada yang pandai membuat mobil, ada yang pandai menjual, ada yang pandai memasak, bahkan ada juga yang jago makan. Masing-masing punya keunikan dan kelebihan.  Keunikan ini yang membuat dunia ini “berputar”.  Saling melengkapi dengan indah-nya. Si jago masak, sepandai apapun, akan membutuhkan para jago makan. Si jago balap, percuma membalap kalau tidak ada yg mengemas olah-raga balapan dalam bisnis yang melibatkan jutaan penonton. Inilah indahnya kehidupan. Terdiri dari keunikan-keunikan yang saling melengkapi.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Kalau kita demikian unik, mengapa kita harus mengabaikan keunikan diri kita dengan mencoba menjadi orang lain?&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Mihaly Csikszentmihaly, pencetus gagasan “Flow” dalam bekerja dan berbisnis, bahkan menyebut bahwa menemukan keunikan diri kita adalah salah satu pilar kebahagiaan. Saking unik-nya kita, maka konon dipastikan  masing-masing kita sebenarnya menyimpan potensi luar biasa untuk melakukan “sesuatu” dengan cara yang lebih baik dari orang kebanyakan.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Orang-orang seperti Kimi Raikkonen, Fernando Alonso, Michael Schumacher atau Lewis Hamilton tahu persis bahwa mereka memiliki keunikan, yaitu kemampuan menyetir mobil dengan kecepatan tinggi, jauh dari rata-rata kebanyakan orang. Demikian juga dengan orang-orang seperti Bill Gates, Donald Trump atau Warren Buffet memiliki keunikan dalam melakukan bisnis.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Namun, pertanyaannya pentingnya adalah, bagaimana kita bisa menemukan keunikan kita? Berikut beberapa tips yang bisa saya share:&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Pertama: Mulailah dari “passion” Anda.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Passion adalah energi yang Anda rasakan meluap-luap ketika Anda melakukan sesuatu. Energi yang demikian membakar dari dalam diri Anda untuk melakukan sesuatu yang demikian Anda sukai. Anda tidak perlu diminta untuk melakukan, Anda dengan senang hati akan melaksanakan. Kimi Raikkonen, Lewis Hamilton atau Schumacher, dari kecil sudah memiliki passion yang kuat pada olah raga balap mobil. Donald Trump, memiliki passion yang kuat dalam mengembangkan bisnis. Itu mereka. Lalu, kalau Anda, apa passion Anda? Coba tulis saja.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Masih belum bisa? Coba jawab pertanyaan ini: Apa yang akan anda lakukan dengan senang hati sebagai pekerjaan atau kegiatan sehari-hari, seandainya uang bukan masalah. Seandainya, apapun yang Anda lakukan, hidup Anda akan berkelimpahan.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Hmmm ... Masih belum bisa?  Atau bagaimana kalau Anda memiliki banyak passion? Tidak apa-apa, tulis saja semua passion Anda tadi. Misalnya: Passion saya adalah: menulis, mengembangkan bisnis, public speaking, dan berwisata.   &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Hmmm ... Masih belum bisa? Wah, Anda sepertinya kurang-gairah ... Hehehe ... Pasti bisa, karena setiap orang pasti punya hasrat terpendam dalam diri-nya.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Kedua: Merangkai Passion Anda.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Jika Anda memiliki banyak passion. Dan kenyataanya hampir semua orang memiliki banyak Passion. Maka tentukanlah dahulu passion utama Anda. Ini adalah yang paling membuat Anda bergairah, dibandingkan passion yang lain. Misalnya, dari passion saya: menulis, mengembangkan bisnis, public speaking, dan berwisata, saya memilih passion utama saya adalah Menulis. Karena saya sangat bersemangat ketika menulis. Karena saya bisa bangun tidur dan langsung kepengen menulis dengan penuh semangat. Mungkin sama bersemangatnya dengan Lewis Hamilton kecil selalu ingin membalap go-kart.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Lalu bagaimana nasib passion-passion yang lain? Dibuang? Sabar, jangan dibuang dulu. Passion-passion yang lain ini justru akan menjadi faktor penentu keunikan kita. Jadi mari kita rangkai saja. Karena saya senang menulis dan mengembangkan bisnis, bagaimana kalau saya kombinasikan dua passion: menulis tentang pengembangan bisnis? Karena saya suka menulis dan public speaking, bagaimana kalau saya menulis buku  dan menyampaikannya dalam seminar-seminar? Ah, atau bagaimana kalau saya menulis buku pengembangan bisnis, mengadakan seminar tentang buku saya, diselenggarakan di tempat-tempat wisata bisnis? Wow ... mau meledak otak saya memikirkan kemungkinan-kemungkinan-nya.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Ini baru dari empat passion yang saya identifikasikan. Bagaimana kalau saya rangkai dengan passion-passion terpendam saya yang lain? Pasti luar biasa!&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Dan ini akan menjadi sesuatu yang unik. Sesuatu yang “Gue banget”, karena berawal dari sesuatu yang benar-benar saya sukai.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Anda juga harus mencobanya. Karena keunikan Anda, pada akhirnya akan membedakan hasil karya Anda dengan orang lain. Ini adalah dasar dari marketing yang sebenarnya.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Jadi, ternyata benar, saya adalah saya. Kimi adalah Kimi. Tidak perlu memakai kacamata Kimi Raikkonen, toh saya sudah menemukan sesuatu yang luar biasa. Sesuai keunikan yang saya miliki. Anda juga sudah menemukan keunikan Anda? (FR)&lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27366165-3929174940174154508?l=fauzirachmanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/feeds/3929174940174154508/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27366165&amp;postID=3929174940174154508' title='11 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/3929174940174154508'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/3929174940174154508'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/2008/11/bukan-kimi.html' title='Bukan Kimi'/><author><name>Fauzi Rachmanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14831845815996709974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_AFw7AVcDntE/ShJCO9gF3KI/AAAAAAAAAIQ/VVgCHydCDDU/S220/fauzi.jpg'/></author><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27366165.post-4310701483783299379</id><published>2008-11-18T14:06:00.003+07:00</published><updated>2008-11-21T14:52:14.080+07:00</updated><title type='text'>Outliers</title><content type='html'>Pernahkah Anda memikirkan, apa yang membedakan Bill Gates dengan ribuan pengusaha IT lainnya? Apa yang membedakan Beatles dengan ribuan band dari Inggris? Apa yang membedakan Joe Flom – seorang pengacara korporat terkemuka, dengan ribuan pengacara lain di Amerika? Gates, Flom dan juga the Beatles adalah  Outliers. Dalam statistik, outliers adalah hasil observasi yang tidak bisa dikelompokkan dalam kelompok utama karena sangat berbeda dengan kelompok utama. Dalam buku terbaru Malcolm Gladwell yang berjudul “Outliers: The Story of Success”, Gladwell yang juga penulis buku “Tipping Point” dan “Blink” mengungkapkan dengan sangat cerdas peran lingkungan sosiologis yang memunculkan para Outliers yang sukses luar biasa itu.&lt;p&gt;Jika selama ini kita membaca biografi orang-orang sukses dan kisah-kisah heroik mereka, kesan yang melekat adalah bagaimana mereka telah berhasil mewujudkan keberhasilan mereka dari nol, perjuangan tidak kenal menyerah yang mereka lakukan, dsb. Seolah-olah segala keberhasilan mereka adalah semata dari diri mereka sendiri. Dalam Outliers, Gladwell justru memberikan penyeimbang, bahwa selain faktor kemampuan diri mereka sendiri, ada faktor-faktor sosiologis di luar diri mereka yang berperan penting dalam kesuksesan mereka. Faktor-faktor inilah yang telah membuat mereka menjadi para Outliers.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-weight: bold;"&gt;Sukses instan vs aturan 10,000 Jam&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Banyak orang yang membaca biografi Bill Gates secara salah. Mereka hanya melihat moment dimana Bill Gates memutuskan keluar dari Harvard dan mendirikan Microsoft bersama Paul Allen. Seolah modal Bill Gates waktu itu hanyalah tekad dan semangat saja. Padahal jauh sebelum itu, Bill Gates sudah mempersiapkan diri nya dengan “berlatih” menulis program selama lebih kurang 10,000 jam. Tidak percaya? Bill Gates sudah menulis  program sejak di sekolah menengah, berkat perkumpulan orang tua murid sekolahnya yang berpikir kedepan  dengan membelikan komputer “time sharing” yang terhitung mahal. Dan selepas sekolah menengah, Gates yang tinggal di dekat University of Washington dapat menggunakan komputer mereka yang nganggur antara jam 03 – 06 pagi. Berapa kira-kira total waktu “berlatih” Bill Gates sebelum memulai Microsoft? Bisa jadi sekitar “10,000 jam”. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bagaimana dengan the Beatles? Band paling sukses di dunia hingga hari ini. Banyak yang melihat Beatles hanya pada saat mereka tenar dengan album-album legendaris seperti “Sgt. Peppers Lonely Hard Club Band” atau “White Album”. Tapi sesungguhnya, jauh sebelum mereka memperoleh kontrak rekaman pertama mereka, mereka telah menjalani latihan maraton yang panjang dan sulit. Selama 1960 – 1962 Beatles bermain untuk klub di Hamburg Jerman dan harus bermain selama 8 jam sehari, hingga 7 hari seminggu lamanya. Durasi yang panjang menyebabkan mereka harus memeras kreatifitas, memainkan bermacam genre lagu, memodifikasi lagu lama, hingga menciptakan lagu sendiri. Jika tidak, maka penonton bakal berteriak-teriak karena bosan. Masa-masa “10,000 jam” di Hamburg ini lah yang telah menempa John Lennon, Paul McCartney dan George Harrison dengan skill yang mereka butuhkan, menumbuhkan chemistry di antara mereka, dan kreatifitas nyaris tanpa batas yang kelak akan menjadikian musik Beatles memiliki spektrum yang sangat luas.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kesimpulannya, Gates, Beatles dan juga para olahragawan professional, memiliki peluang yang lebih baik, karena mereka juga telah mengasah kemampuan mereka lebih lama dari orang kebanyakan. Gladwell memberikan ilustrasi yang sangat teliti, bagaimana pemain Hockey professional kebanyakan lahir pada bulan-bulan tertentu. Semata karena pada saat direkrut di usia dini, mereka beberapa bulan lebih tua dari pesaing-pesaingnya. Akibatnya mereka dianggap lebih mampu, memperoleh keistimewaan selama sekolah, dan berlatih lebih lama dibanding rekan-rekan seusianya. Merekapun memperoleh 10,000 jam nya secara lebih cepat dibanding orang lain.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-weight: bold;"&gt;Jenius Saja Tidak Cukup&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Apakah Bill Gates jenius? Apakah John Lennon seorang jenius? Bisa jadi. Tapi bisa jadi juga tidak. Yang jelas Christopher Langan adalah manusia paling jenius dewasa ini. IQ nya mencapai 190. Bayangkan, Albert Einstein saja hanya 150. Untuk menguji kejeniusan Langan bahkan tidak cukup dengan test IQ standard, namun harus dengan test khusus untuk IQ sangat tinggi. Kecerdasan Langan sangat luar biasa. Bicaranya teratur dan runut, pengetahuan umumnya sangat luas, ingatannya sangat kuat, memecahkan soal matematika dengan mudah, dan sebagainya. Menurut Anda apakah profesi Langan saat ini? Ahli membuat roket? Bukan, dia adalah pengelola peternakan kuda. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kejeniusan Langan nyaris tidak berarti apa-apa, karena sepanjang sekolah kegagalan demi kegagalan dialaminya. Berbeda dengan Bill Gates yang didukung keluarga dan teman-temannya. Langan menjalani masa remaja nya sendirian. Dan berusaha keras masuk ke perguruan tinggi yang disukainya, sendirian. Dan Langan tidak pernah berhasil. Ternyata para jenius tadi untuk berhasil juga butuh dukungan. Dalam bahasa Gladwell:  “no one--not rock stars, not professional athletes, not software billionaires, and not even geniuses--ever makes it alone."&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Christopher Langan memiliki keuntungan dibanding orang kebanyakan. Yaitu kecerdasannya. Namun kecerdasan tadi tidak membawanya menjadi orang yang berbeda dari orang kebanyakan. Tentu saja,  kita semua membutuhkan tingkat intelegensi yang cukup untuk mencapai keberhasilan. Namun intelegensi yang mampu membawa Anda lulus sekolah sebenarnya sudah cukup. Jika IQ Anda di atas rata-rata teman sekolah Anda, itu adalah advantage, jika Anda bisa memanfaatkan. Sebagaimana Bill Gates memanfaatkan komputer di sekolah mahal nya waktu itu, atau the Beatles memanfaatkan peluang bermain di Hamburg.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-weight: bold;"&gt;Sukses Orang Pinggiran&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bagaimana jika kita tidak seberuntung Bill Gates yang orang tua nya “kebetulan” kaya, atau the Beatles yang “kebetulan” tinggal di Liverpool?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Joseph Flom adalah keturunan imigran Yahudi dari Eropa Timur yang tinggal di New York. Sangat cerdas, Flom lulus dari sekolah hukum Harvard pada tahun 1948 dengan cum laude. Tapi apakah mudah masuk ke firma hukum terkemuka bagi seorang keturunan Yahudi? Tidak. Bahkan kenyataanya tidak bisa. Pada waktu itu firma hukum terkemuka di AS hanya menerima pengacara muda dari kalangan kulit putih. Jika diterima Flom akan menjadi “makhluk aneh” ditengah-tengah pengacara yang sudah “seragam” dalam budaya. Joe Flom pun akhirnya masuk ke firma baru yang baru didirikan, dan belum memiliki klien ,Skadden &amp;amp; Arps. Waktu Flom menanyakan firma tadi berspesialisasi dalam kasus apa saja, pemilik firma menjawab, “kasus apa saja yang masuk dari pintu depan itu ...”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Begitulah, akhirnya Flom mengerjakan kasus apa saja. Utamanya kasus-kasus yang tidak akan ditangani firma besar: Proxy fights. Proxy fights adalah langkah yang dapat diambil pemegang saham perusahaan, yang meminta pemegang saham lain untuk menunjuk dia sebagai proxy untuk mengambil langkah tertentu, misalnya pergantian manajemen, dsb. Ini adalah “dirty jobs” yang tidak dikerjakan firma besar. Flom adalah jagoan dalam bidang ini, karena tanpa pesaing. Dan seiring dengan maraknya hostile takeover, reputasi Flom semakin berkibar. Memasuki tahun 1970-an, merger dan akuisisi mulai banyak terjadi di Wall-street. Pada saat itu, maka hanya satu nama yang dikenal cukup memiliki pengalaman: Joseph Flom. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Joseph Flom adalah Yahudi yang terpinggirkan di komunitas hukum Amerika Serikat. Namun justru hal ini membuatnya “terpaksa” berspesialisasi pada hal yang tidak dikerjakan oleh orang lain. Dan ketika kesempatan yang lebih besar datang, ia sudah berada disana. Ia adalah Outliers.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-weight: bold;"&gt;Warisan Leluhur&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Gladwell juga tidak menyangkal, bahwa ada “warisan-warisan leluhur” yang melekat pada budaya kita yang dapat sangat mempengaruhi keberhasilan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Korea Air (KAL) adalah salah satu maskapai penerbangan yang terkenal dengan safety yang tinggi. Merupakan member dari aliansi SkyTeam, sejak 1999 KAL tidak memiliki catatan buruk keselamatan. Bahkan tahun 2006 menerima Phoenix Award atas transformasi yg dilakukannya. Padahal sebelumnya Korea Air dikenal sebagai penerbangan dengan tingkat kecelakaan yang tinggi. Yang paling terkenal adalah crash Penerbangan KAL 801 di Guam pada tahun 1997. KAL sukses melakukan transformasi dengan mengevaluasi dan melakukan perubahan segala penyebab yang mungkin atas tingginya kecelakaan, dan salah satu point yang sangat krusial adalah: Budaya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pesawat terbang modern di desain untuk diterbangkan oleh lebih dari satu orang. Karenanya, Pilot akan dibantu oleh co-Pilot dan Flight engineer. Apa hubungannya dengan budaya? Dalam budaya Korea, adalah pantang membantah seorang pemimpin. Karenanya, seorang co-pilot akan patuh dan tidak berani menentang sang Pilot. Kalaupun menentang, mereka tidak berani menyampaikan secara to the point, namun dalam   ungkapan yang ambigu. Dalam crash penerbangan 801, dari rekaman pembicaraan di cockpit jelas terdengar bahwa co-pilot tidak berani menyampaikan opini nya. Pada saat Pilot memutuskan untuk melakukan pendaratan secara visual, flight engineer hanya berani berkomentar bahwa “Kapten, radar cuaca sangat membantu kita”. Alih-alih menyatakan:” Kapten sebaiknya kita tidak melakukan pendaratan secara visual”.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;KAL membuktikan, budaya memang bisa sangat mempengaruhi keberhasilan. Namun, kita juga bisa melakukan perubahan atas budaya yang tidak kondusif bagi pencapaian keberhasilan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Apakah dengan demikian budaya Asia secara umum tidak mengkondisikan ke arah keberhasilan? Tentu saja tidak demikian. Bahkan saat ini dunia sangat mengakui kemampuan orang Asia. Paling tidak dalam Matematika. Ya, dalam setiap kontes dan olimpiade Matematika, siswa-siswa Asia bisa dipastikan jauh lebih unggul dari siswa-siswa negara barat. Ini juga salah satu imbas dari warisan leluhur: Budaya Pertanian. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Petani Padi di Asia, ribuan tahun lamanya bekerja dengan cara berbeda dibandingkan bangsa Eropa. Di negara empat musim, praktis petani hanya dapat bertani pada 2 musim, dan sisa nya adalah menganggur. Demikian juga di negara-negara dengan malam yang lebih panjang, petani bekerja lebih singkat. Tidak demikian dengan  petani di Asia. Para penanam Padi adalah orang-orang dengan ketekunan yang sangat tinggi, yang sanggup bekerja dari subuh hingga petang, sepanjang tahun. Ketekunan dan juga bahasa yang lebih akrab terhadap angka adalah kunci penguasaan orang Asia dalam Matematika. Coba saja bandingkan cara pengucapan bilangan belasan dan puluhan dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Bahasa Inggris memiliki lebih banyak ketidak-teraturan dalam pengucapan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketekunan para Petani Padi yang kental dalam budaya bangsa Asia, merupakan sumber yang akan membawa kemajuan Asia di masa mendatang. Seperti pepatah lama China yang dikutip oleh Gladwell: “No one who can rise before dawn, 360 days a year, fail to make his family rich ...” (FR)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27366165-4310701483783299379?l=fauzirachmanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/feeds/4310701483783299379/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27366165&amp;postID=4310701483783299379' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/4310701483783299379'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/4310701483783299379'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/2008/11/outliers.html' title='Outliers'/><author><name>Fauzi Rachmanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14831845815996709974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_AFw7AVcDntE/ShJCO9gF3KI/AAAAAAAAAIQ/VVgCHydCDDU/S220/fauzi.jpg'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27366165.post-3781560514788254428</id><published>2008-10-13T11:32:00.000+07:00</published><updated>2008-10-13T11:33:30.802+07:00</updated><title type='text'>The Dip</title><content type='html'>Jumat minggu lalu menjadi hari yang sedikit menegangkan. Setelah puas berlibur selama Lebaran, ternyata urat syaraf harus langsung tegang. Bagaimana tidak, nilai tukar Rupiah terhadap dollar AS terus mengalami depresiasi hingga sempat menembus batas psikologis Rp.10,000 per dollar AS. Beberapa rekan sesama pengusaha IT terang-terang-an menyatakan kekhawatirannya. Apalagi bagi mereka yang fokus bermain di penjualan hardware. Kenaikan nilai tukar Dollar jelas akan mempengaruhi harga jual produk mereka. Bahkan diantara teman saya ada yang sudah terlanjur memegang kontrak pembelian dari customer dengan nilai Rupiah. Bisa dibayangkan, kenaikan dollar seperti ini jelas memunculkan potensi kerugian yang tidak sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita menegangkan dari Pasar Uang tadi dilengkapi dengan kondisi yang setali tiga uang di Pasar Modal. Bursa Efek Indonesia minggu lalu di suspensi oleh otoritas karena didera aksi jual hingga Indeks Harga Saham Gabungan mengalami kejatuhan hingga lebih dari 10%. Mau tidak mau, dua kejadian tadi menyisakan sebuah pertanyaan besar: Apakah kita diambang krisis ekonomi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kembali terkenang dengan masa-masa krisis sepuluh tahun lalu. Krisis ekonomi berkepanjangan yang dipicu oleh krisis moneter, dan akhirnya merembet ke krisis politik dan krisis multi dimensi, yang bahkan hingga hari ini belum tuntas kita atasi. Terbayang kembali masa-masa sepuluh tahun lalu yang dipenuhi dengan berita penutupan bank, perusahaan yang gulung tikar, dan PHK besar-besar-an. Kembali pertanyaan besar tadi mengganggu pikiran saya: Akankah kita dihantam krisis kembali? Haruskah terjadi gelombang PHK lagi? Dan yang lebih penting lagi, dapatkah usaha-usaha kecil dan menengah, seperti usaha saya, terus bertahan? Haruskah usaha-usaha kecil dan menengah yang beberapa tahun lalu mulai bermekaran di Republik ini harus terhempas oleh badai krisis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal beberapa tahun ini, benar-benar merupakan tahun keemasan bagi kami pelaku usaha kecil. Usahawan-usahawan muda bermunculan dengan semangat dan gairah baru. Iklim usaha yang kondusif. Situasi politik relatif stabil, suku bunga terjaga dalam level yang rendah, dan nilai tukar Rupiah tidak sangat fluktuatif. Meski harga BBM sempat mengalami kenaikan, namun secara umum bisnis berjalan dengan baik. Dan kemudian, terjadilah krisis keuangan di pusat ekonomi dunia, Amerika Serikat. Krisis yang mau tidak mau akan dirasakan dampaknya oleh semua pelaku ekonomi di planet ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibarat sedang berjalan melintasi dataran yang landai dan nyaman, dan tiba-tiba di depan ternyata ada sebuah jurang besar menghadang. Rupanya inilah moment yang oleh Seth Godin disebut sebagai fenomena sebuah “cekungan” (The Dip). Sebuah moment yang akan menentukan, apakah kita akan berhenti, atau bertahan. The Dip adalah sebuah batas, yang akan menentukan, apakah kita akan menjadi yang terbaik, atau menjadi yang kebanyakan, berhenti dan meratap di tepian The Dip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana jika krisis ekonomi benar-benar terjadi? Bahkan dengan tingkat yang sama atau lebih parah dari krisis sebelumnya? Akankah saya berhenti atau bertahan? Kalau saya pribadi, ternyata ada lebih banyak alasan untuk maju terus melewati The Dip, seberapa dalam pun cekungan ini nanti akan terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan Pertama: Semua pihak akan mengalami Krisis. Bukan hanya kita sendirian yang akan menghadapi krisis. Kalau krisis hanya kita alami sendirian, sementara kompetitor tidak mengalami, maka ini akan memberikan advantage bagi kompetitor kita. Krisis ekonomi global tidak akan menyisakan ruangan bagi siapapun. Ibarat hujan besar yang mengguyur sebuah permainan sepakbola dan membuat seluruh pemain di lapangan menjadi basah. Semua pemain akan menghadapi tantangan yang sama. Dalam posisi seperti ini, tidak ada pihak yang akan menjadi lebih unggul karena krisis. Kecuali kalau kita memutuskan berhenti atau melambat karena krisis, maka sama artinya dengan memberikan advantage bagi kompetitor kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan Kedua: Dampak Krisis paling dirasakan oleh mereka yang besar. Pengalaman selama Krisis 1998, justru para pemain besar-lah yang akan merasakan dampak krisis dengan lebih berat. Perusahaan-perusahaan besar, memiliki transaksi-transaksi, hutang-piutang, termasuk pinjaman-pinjaman, menggunakan mata uang asing dalam jumlah besar. Mereka adalah pihak-pihak pertama yang akan merasakan dampak dari fluktuasi nilai tukar mata uang. Mereka juga sangat tidak fleksibel dalam melakukan langkah-langkah penghematan. Untuk menyusun ulang budget, ada langkah-langkah birokratis yang harus dilalui. Demikian juga dalam membuat keputusan dalam reorganisasi, keputusan melakukan diversifikasi produk, pasar, dsb. bukanlah keputusan-keputusan yang bisa dibuat dalam waktu cepat. Usaha kecil, sebaliknya, sangat fleksibel. Reorganisasi, ganti produk, bahkan ganti pasar, diputuskan sendiri oleh owner dan bisa langsung diimplementasikan saat itu juga. Tidak heran, di era Krisis pada masa lalu, sektor usaha informal seperti industri rumah tangga dan para penjual lapak di kaki lima, justru mampu bertahan. Fleksibilitas yang menjadi advantage usaha kecil inilah yang akan saya manfaatkan sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan Ketiga: Krisis selalu memunculkan peluang. Jika produk atau jasa yang kita tawarkan adalah sebuah kebutuhan, maka sebenarnya pasar tidak akan pernah pergi meninggalkan kita. Hanya pergeseran-pergeseran yang akan terjadi. Dari kacamata usaha, peluang-nya bisa jadi sama manis nya. Orang yang biasa membeli baju seharga Rp. 1 juta, pada saat krisis, mungkin akan turun kelas membeli baju seharga Rp. 100 ribu. Ini peluang bagi mereka yg menjual baju seharga 100 ribu. Mereka yg biasa memakai parfum asli, mungkin akan mencari parfum refill. Yang biasa memakai mobil, mungkin akan membeli motor, yang biasa makan di resto mungkin akan mencari kafe tenda pinggir jalan, yang biasa nonton di bioskop, mungkin akan menyewa DVD, yang biasa liburan di luar negeri, mungkin akan memilih liburan di dalam negeri yang tidak kalah eksotis. Dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergeseran-pergeseran ini yang membuat saya yakin, The Dip yang akan membentang di depan kita akan dapat kita lewati. Pasti melewatinya tidak dengan mudah. Namun bukan sesuatu yang mustahil. Dan ketika Anda kelak berhasil melewatui The Dip, dan berdiri di seberang sana, Anda telah membuktikan diri bahwa Anda sudah menjadi yang lebih baik. Bahkan mungkin yang terbaik di bidang yang Anda tekuni.  (FR).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27366165-3781560514788254428?l=fauzirachmanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/feeds/3781560514788254428/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27366165&amp;postID=3781560514788254428' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/3781560514788254428'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/3781560514788254428'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/2008/10/dip.html' title='The Dip'/><author><name>Fauzi Rachmanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14831845815996709974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_AFw7AVcDntE/ShJCO9gF3KI/AAAAAAAAAIQ/VVgCHydCDDU/S220/fauzi.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27366165.post-6312549788639272240</id><published>2008-08-26T20:02:00.000+07:00</published><updated>2008-08-26T20:05:23.571+07:00</updated><title type='text'>C.E.M.</title><content type='html'>“Pak maaf hari ini saya tidak masuk, motor saya rusak”&lt;br /&gt;“Pak maaf kemarin saya tidak dapat hadir di meeting, saya mendadak sakit perut”&lt;br /&gt;“Maaf Bu laporan belum selesai, laptop saya tiba-tiba rusak”&lt;br /&gt;“Maaf saya terlambat Pak, tadi jalanan macet berat”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kalimat-kalimat di atas terdengar akrab di telinga Anda?  Mungkin ada rekan Anda yang senang mengucapkan kalimat-kalimat sakti tadi? Atau jangan-jangan Anda sendiri sering mengucapkan kalimat di atas dan sejenisnya? Kalau ya, maaf ya, hehehe ... tulisan kali ini memang khusus buat Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat-kalimat di atas adalah contoh kalimat “excuse” alias beralasan. Pada dasarnya semua orang punya sisi “si pembuat alasan” dalam dirinya masing-masing. Coba Anda ingat-ingat, dalam satu kesempatan, pasti Anda pernah melontarkan excuse. Entah alasan tidak datang ke kantor, alasan menunda pekerjaan, atau alasan terlambat pulang ke rumah. Saya sendiri juga pernah. Atau sering ya? Hehehe ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Excuse ini manusiawi. Karena merupakan bagian dari mekanisme manusia dalam mempertahankan diri nya. Pada dasar nya manusia selalu ingin melindungi diri nya, karena nya, ketika sang “ego” merasa “diserang”, maka muncul naluri untuk bertahan. Diantaranya dengan mengemukakan alasan. Namun, Anda harus berhati-hati. Membuat excuse yang terlalu sering dapat membuat Anda mengidap penyakit yang saya sebut “Chronic Excuse Making” (pengidap penyakit membuat alasan yang kronis). Ini yang gawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengidap Chronic Excuse Making (C.E.M) ini akan selalu berlindung di balik alasan-alasan, untuk menutupi hal-hal yang tidak mau atau tidak mampu ia kerjakan. Seolah-olah, dengan menyampaikan excuse, maka kewajiban yang harus dilaksanakan sudah terselesaikan. Jadi jika ada suatu pekerjaan yang tidak terselesaikan, maka excuse lah yang akan dikedepankan. Mengapa datang terlambat? Kan ... macet. Mengapa tidak selesai? Kan ... saya sakit. Mengapa tidak datang? Kan ... tadi hujan. Dst.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal kita semua tahu, yang namanya excuse tidak akan mengubah apa-apa. Kalau tidak selesai ya artinya tidak selesai. Apapun excuse nya. Kalau tidak datang ya artinya tidak datang, apapun alasan yang kita berikan. Pengidap C.E.M kadang melupakan hal ini, karena terjebak dalam alasan-alasan yang dikemukakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: georgia;"&gt;Never trade results for excuses.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku “Winning Habits”, Dick Lyles bertutur tentang kisah Admiral John P.J. Farragut, seorang purnawirawan Angkatan Laut Amerika Serikat yang sangat sukses baik dalam karir militer maupun karir pasca dinas militernya. Dalam buku fiksi tersebut dikisahkan Admiral Farragut mengungkap rahasia suksesnya kepada pasangan muda bernama Albert dan Jennifer. Salah satu rahasia sukses sang Admiral diperoleh selama pendidikan militer-nya. Rahasia tadi berbunyi: “Never trade results for excuses”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pendidikan militer US Navy yang penuh disiplin, ketika seorang calon perwira ditanya seniornya, dan ia tidak tahu jawabannya, maka tidak ada jawaban “I don't know”. Yang ada hanyalah “I'll find out, Sir!” Betapapun sulitnya pertanyaan tadi. Bisa dibayangkan, jika kelak mereka bertugas di sebuah kapal, dalam situasi genting, jika ada persoalan yang harus dipecahkan, maka “I don't know” memang sama sekali bukan jawaban. Padahal, selama pendidikan, mereka akan sangat disibukkan dengan berbagai program belajar yang tidak memungkinkan bagi mereka untuk berlama-lama menemukan jawaban atas pertanyaan yang diajukan seniornya. Dan ketika sang calon perwira tidak berhasil menemukan jawaban, maka hanya ada satu alasan yang dapat disampaikan: “No excuse, Sir!” Ya, tidak ada excuse. Karena excuse apapun yang dikemukakan tidak dapat menggantikan jawaban yang seharusnya disampaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para calon perwira US Navy tadi belajar, bahwa excuse, bagaimanapun adalah alasan bahwa kita gagal memenuhi komitmen yang telah kita sampaikan. Betul, bahwa kadangkala ada hambatan yang menghalangi. Namun orang-orang sukses adalah mereka yang terbukti selalu bisa mengatasi hambatan yang menghalangi komitmen yang telah mereka berikan, dan tidak menyerah dengan mudah oleh alasan-alasan sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Push it to your limit.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dulu, sewaktu masih menjadi karyawan, saya sering menerima “mission impossible”. Salah satu yang saya masih ingat adalah tugas untuk mengikuti tender di sebuah perusahaan yang berlokasi di luar Jawa. Sebenarnya ini tugas biasa. Namun kali ini dengan waktu untuk menyiapkan proposal dan dokumen tender yang sangat singkat. Hanya dua hari kerja. Biasanya butuh waktu paling cepat dua minggu untuk menyiapkan dokumen yang sama. Namun kali ini tidak ada ampun, saya hanya punya waktu dua hari saja. Hari pertama praktis habis untuk menyiapkan dokumen pendukung, mengcopy nya dan memasukkan dalam folder-folder yang akan dibawa ke tender. Di hari pertama saya pulang jam 12 malam. Hari kedua, saya baru selesai membuat proposal teknis tepat jam 12 malam, sementara jam  6 pagi saya harus sudah ada di Bandara. Dan susahnya waktu itu saya tinggal di daerah Bekasi, lebih dari 1 jam perjalanan dari kantor saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya nyaris tidak mungkin pagi harinya saya bisa ikut tender. Saya hampir menyerah. Sendirian, jam 12 malam, di kantor yang gelap dan gerah (di kawasan Sudirman overtime untuk lampu dan AC sangat mahal), belum makan malam, dan membayangkan teman-teman dan atasan saya waktu itu yang semua sudah lelap tertidur. Hampir saya memutuskan untuk menyerah. Saya sudah siap membuat alasan. Mulai dari mendadak laptop saya crash, mendadak radiator mobil saya bocor, mendadak sakit perut, tiba-tiba meriang, dst. Apapun bisa saya sebutkan supaya besok ada alasan tidak datang di tender tadi. Dan mendadak juga saya jadi kreatif sekali membuat alasan. Namun, semakin banyak alasan yang saya karang, semakin saya tersadar, bahwa: Tidak ada gunanya membuat excuse. Excuse apapun yang saya buat, tidak akan pernah menjadi penggati dari fakta yang akan saya terima besok: bahwa saya gagal ikut tender.  Ini yang saya tidak bisa terima. Dan saya mentertawakan kebodohan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu saya segera memutuskan membawa pulang semua folder kerumah, merapikan folder dan amplop di rumah, mencari-cari meterai dan segel jam 02 pagi (dan ajaibnya dapat), memasukkan semua amplop kedalam travel bag, mandi, ganti baju, dan langsung ke Bandara. Saya berhasil berada di lokasi tender tepat jam 08.30 pagi, 30 menit sebelum tender dimulai. Saya puas. Perjuangan saya selama dua hari tidak sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun saya kalah dalam tender tersebut. Padahal dokumen yang saya siapkan tanpa cela. Apa boleh buat, solusi yang kami tawarkan secara komersial kurang kompetitif. Meskipun kalah, tentu saja saya pribadi masih untung. Lho, kok untung? Bukan, bukan untung uang SPJ. Perusahaan tempat saya bekerja tidak mendapatkan projectnya, tapi saya tetap beruntung memperoleh pengalaman yang sangat berharga. Bahwa ternyata saya bisa memenuhi komitmen yang saya berikan, tanpa harus memberikan excuse apapun, ketika saya berusaha hingga limit saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kalau Anda mulai merasakan gejala-gejala C.E.M, segera coba dua resep tadi: (1) Ingatlah, bahwa excuse tidak dapat menggantikan hasil akhir, dan (2) Cobalah sampai limit Anda dahulu, sebelum menyampaikan excuse. Semoga dengan demikian kita semua (termasuk saya) bisa terhindar dari penyakit C.E.M. (fr)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27366165-6312549788639272240?l=fauzirachmanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/feeds/6312549788639272240/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27366165&amp;postID=6312549788639272240' title='11 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/6312549788639272240'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/6312549788639272240'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/2008/08/cem.html' title='C.E.M.'/><author><name>Fauzi Rachmanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14831845815996709974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_AFw7AVcDntE/ShJCO9gF3KI/AAAAAAAAAIQ/VVgCHydCDDU/S220/fauzi.jpg'/></author><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27366165.post-2454236474298034570</id><published>2008-08-07T13:24:00.000+07:00</published><updated>2008-08-07T13:26:26.844+07:00</updated><title type='text'>6 Agustus</title><content type='html'>6 Agustus, pukul 08.15 pagi. 63 tahun yang lalu. Kilatan cahaya sangat menyilaukan tiba-tiba menerangi langit. Dan sesaat kemudian sebuah asap cendawan raksasa memayungi Hiroshima. Seluruh bangunan, manusia, tumbuhan dan hewan di bawahnya, hancur seketika. Bom Atom pertama di dunia telah dijatuhkan di Horoshima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah presiden Amerika Serikat saat itu, Harry S. Truman yang memutuskan untuk menggunakan bom bertenaga atom untuk mengakhiri perlawanan Jepang. Sebuah keputusan yang telah merenggut ratusan ribu jiwa rakyat sipil Jepang. Namun juga adalah keputusan yang terbukti dapat mengakhiri Perang Dunia yang berlarut-larut dan menhindari korban lebih besar. Sebuah keputusan yang sesungguhnya juga tidak mudah, bahkan bagi seorang pemimpin sekelas Truman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika militer Amerika Serikat menyatakan mereka berhasil menciptakan Bom Atom, tidak semua orang mendukung penggunaan Bom Atom untuk mengakhiri perang. Bahkan ilmuwan Albert Einstein, Jenderal Dwight Eisenhower hingga Jenderal Douglas MacArthur pada waktu itu telah menyatakan bahwa Bom Atom tidak diperlukan untuk mengakhiri perang. Sehingga Presidan Truman dihadapkan pada pilihan yang berat, dengan konsekuensi yang sama berat nya. Namun toh keputusan harus dibuat. Sang pemimpin harus tegas membuat keputusan, apakah Bom Atom akan digunakan atau tidak. Dan Truman akhirnya membuat keputusan yang konon adalah sebuah keputusan yang paling berpengaruh di abad lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membuat keputusan adalah salah satu kualitas dari seorang Pemimpin. Seandainya kita dalam posisi Truman waktu itu, sanggupkah kita membuat keputusan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan sehari-hari kita juga harus selalu membuat keputusan, meskipun keputusan yang harus kita buat nilai penting nya jauh di bawah keputusan yang pernah dibuat oleh Presiden Truman. Terlebih dalam kehidupan para pemimpin dan pemilik bisnis. Keputusan penting yang dapat mempengaruhi keberlangsungan usaha setiap saat harus dibuat. Haruskah kita menjalankan program marketing yang mahal ini atau tidak? Haruskah karyawan yang bermasalah ini dipertahankan atau diberi kesempatan lagi? Haruskah kita meneruskan kerjasama dengan supplier ini atau mencari supplier baru? Dan banyak lagi keputusan yang harus dibuat dalam time-frame yang sangat singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menunda keputusan hampir dapat dipastikan malah akan menimbulkan masalah baru. Karena berikutnya akan mengantri masalah-masalah lain yang harus segera diputuskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi indecisive (sulit membuat keputusan) adalah penyakit yang dapat membahayakan diri Anda dan keseluruhan organisasi. Dan penyakit ini saya amati kadang demikian kronis pada diri seseorang. Anda dapat mengamati sikap indecisive ini dalam kehidupan sehari-hari. Jangankan untuk hal-hal sangat penting, untuk hal-hal sepele seperti memilih mau makan siang dimana, atau mau makan siang apa, bagi pribadi yang indecisive, bisa menjadi cerita yang panjang. Penyakit ini harus dicegah. Karena bisa kronis. Awalnya mungkin hanya indecisive dalam hal memilih menu makanan, memilih baju, atau mau pergi kemana akhir pekan nanti. Namun setelah menjadi kebiasaan, bisa-bisa kita akan selalu indecisive dalam banyak keputusan yang lebih penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda memutuskan untuk menjadi Pemimpin. Maka Anda harus lebih mengasah diri Anda untuk menjadi pribadi yang decisive. Caranya? Nah, ini harus dilatih, secara terus menerus. Beberapa metode praktis yang saya gunakan adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Gunakan bahasa yang decisive &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Apakah Anda termasuk orang yang sering menggunakan kata-kata “bagaimana lagi ...”,  “terpaksa ...”, “sepertinya ...”, “mungkin ...” secara berlebihan dan tidak pada tempatnya?. Hati-hati, jangan-jangan Anda sedang mengekspresikan sesuatu yang indecisive. Misalnya ketika  diundang di sebuah acara. Seringkali kita menjawab dengan “sepertinya saya tidak bisa datang ...”. Ini sebenarnya aneh. Kok sepertinya? Mengapa kita tidak memutuskan saja, bisa datang atau tidak. Jika bisa, akan datang jam berapa, dst. Jika tidak bisa, nyatakan saja tidak bisa. Atau dalam sebuah meeting, ketika akan menyampaikan saran, seringkali orang menyampaikan “mungkin ... saya ada sedikit saran.” Lho kok mungkin? Jadi mau menyampaikan saran atau tidak. Dulu saya punya seorang sopir yang tinggal di daerah yang setiap musim hujan selalu banjir. Dan setiap kebanjiran selalu mengeluh. Saya heran, dan bertanya mengapa dia tinggal disana. Jawabannya adalah “bagaimana lagi Pak ...” Lho, memangnya kita tidak bisa memutuskan untuk tetap tinggal atau pindah mencari tempat tinggal baru. Seorang teman pernah menyampaikan pada saya bahwa “sepertinya saya akan resign dari pekerjaan  ...” Nah, kok sepertinya? Jadi mau resign atau tidak?  Bagaimana seandainya Presiden Truman waktu diminta keputusan akan menggunakan Bom Atom atau tidak menjawab dengan “hmmm ... mungkin ...” Kira-kira bagaimana reaksi bawahannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang decisive menggunakan bahasa yang mengekspresikan keputusan atau preferensi nya. Bukan bahasa yang mengambang dan ragu-ragu. Apa yang kita ucapkan dapat membentuk diri kita. Jadi mulai sekarang, perhatikan ucapan Anda, apakah decisive atau indecisive.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Dapatkan informasi yang lengkap&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seringkali penyebab kita sulit membuat keputusan adalah informasi yang tidak lengkap. Misalnya kita diundang ke sebuah acara, yang lokasinya kita tidak tahu dimana, atau waktu nya tidak jelas. Tentu akan sulit membuat keputusan. Atau kita diminta memutuskan untuk jadi membeli mobil atau tidak, sementara warna dan harga nya kita belum tahu, tentu sulit untuk memutuskan. Seorang yang decisive tidak akan membiarkan diri dalam ketidak tahuan informasi, namun  berusaha mendapatkan informasi yang lebih lengkap, dan memutuskan berdasarkan informasi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang yang decisive akan menggali informasi lebih lengkap, misalnya: “Jam berapa acaranya, hari apa, dimana?” Dan memutuskan, misalnya: “OK kalau acaranya di Bandung Indah Plaza, hari Sabtu jam 12.00 saya bisa, saya akan datang.” Atau dalam hal membeli mobil misanya “Kalau ada yang warna nya hitam, dan harga nya bisa kurang dari 200 juta, saya beli”. Ketika akan memutuskan memberikan sanksi kepada karyawan yang bermasalah maka seorang yang decisive akan menggali informasi, kesalahan apa yang telah diperbuat, peraturan perusahaan mana yang dilanggar, sesuai ketentuan apa sanksi nya, dan memutuskan sanksi tanpa ragu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Gunakan intuisi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seringkali, meskipun informasi yang kita peroleh sudah cukup lengkap, kita masih ragu-ragu untuk memutuskan. Ini ibaratnya Anda harus memilih pasangan hidup yang sama baiknya, sama cantiknya, sama cerdasnya. Sudah di cek informasi bibit bebet bobot juga masih seimbang. Lalu bagaimana memutuskan? Ya gunakan saja intuisi. Apa kata hati Anda? Sayangnya intuisi tidak akan berkembang jika Anda tidak latih. Jadi harus sering digunakan. Percayalah, apapun keputusan yang Anda pilih nanti akan ada konsekuensi nya. Jadi percuma ada dalam posisi tidak memilih. Dengarkan intuisi Anda dan ambil keputusan, apapun konsekuensi nya ya nanti dihadapi saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kenyataanya di belakang hari kita akan sulit mengatakan apakah dulu kita membuat keputusan yang salah atau benar. Yang ada adalah bagaimana kita menghadapi konsekuensi dari keputusan kita. Contohnya ketika memutuskan resign dari pekerjaan dan memulai usaha sendiri, saya tidak melakukan kalkulasi berapa tabungan saya, bagaimana risiko usaha saya, dsb. Intuisi saya mengatakan saya harus resign hari itu, dan saya resign. Dan kemudian pada tahun pertama usaha saya nyaris kolaps. Saat itu tentu ada rasa sesal. Mengapa saya harus memutuskan resign, sehingga mengakibatkan saya kesulitan keuangan. Coba kalau tetap jadi karyawan tentu masih menikmati gaji dan hidup tenang. Apakah keputusan saya waktu itu salah? Saya tidak ada waktu untuk memikirkan apakah keputusan saya salah atau benar. Yang ada adalah mencurahkan pikiran dan tenaga supaya dapur keluarga tetap ngebul. Hingga usaha saya membaik dan membaik. Alhamdulillah hari ini saya tidak menyesal sudah membuat keputusan untuk memulai usaha sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda juga memutuskan untuk memulai menjadi orang yang decisive? Selamat mencoba 3 latihan di atas, dan nikmati konsekuensi keputusan Anda. Lagipula, Anda toh tidak sedang diminta memutuskan untuk menjatuhkan Bom Atom. (FR).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27366165-2454236474298034570?l=fauzirachmanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/feeds/2454236474298034570/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27366165&amp;postID=2454236474298034570' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/2454236474298034570'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/2454236474298034570'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/2008/08/6-agustus.html' title='6 Agustus'/><author><name>Fauzi Rachmanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14831845815996709974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_AFw7AVcDntE/ShJCO9gF3KI/AAAAAAAAAIQ/VVgCHydCDDU/S220/fauzi.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27366165.post-7012003775396828237</id><published>2008-06-30T23:58:00.003+07:00</published><updated>2008-07-01T00:17:42.875+07:00</updated><title type='text'>Surat Pengunduran Diri</title><content type='html'>Surat Pengunduran Diri! Lagi-lagi Surat Pengunduran Diri! Saya paling tidak suka dengan surat pengunduran diri dari karyawan saya. Memang tidak sering. Tapi ketika terjadi, mau tidak mau saya kesal, karena biasanya mendadak. Apalagi kalau terjadi disaat kami sedang menghadapi deadline beberapa project. Tiba-tiba salah seorang anggota team mengundurkan diri. Jelas kinerja team kami akan terpengaruh. Untuk mencari pengganti sebenarnya mudah. Karena jumlah pencari kerja di sektor IT cukup banyak. Namun, saya harus kembali berinvestasi waktu dan tenaga untuk melatih karyawan baru untuk menguasai produk kami. Belum waktu yang diperlukan untuk mengenalkan karyawan baru dengan tim dari klien kami. Dampak yang langsung terasa adalah kinerja kami untuk menyelesaikan project yang sudah terjadwal. Tapi inilah seni nya mengelola usaha. Biarpun tidak suka, saya harus jalani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasib yang saya alami ternyata juga dialami oleh tokoh Marcus dalam buku “The Ship Builder” karya Jack Myrick. Marcus adalah seorang pembuat kapal di Athena, 2,500 tahun yang lalu. Ia adalah pemilik usaha dan pekerja keras yang membawahi belasan karyawan. Namun, kerja keras tidak cukup. Usaha Marcus nyaris guncang, karena hampir tidak dapat memenuhi deadline delivery kapal yang dipesan pelanggannya. Penyebabnya karena para karyawannya yang hampir tidak punya spirit. Jumlahnya terus menurun, hingga tinggal beberapa orang, itupun dengan skill yang tidak mencukupi. Padahal Marcus sudah berusaha memberikan fasilitas yang baik. Tapi mengapa para karyawan tidak mau bekerja sesuai dengan keinginannya. Kalau Marcus sampai gagal menyelesaikan project pembangunan kapalnya, apa kata dunia? Ini kedengarannya akrab di telinga saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beruntung Marcus bertemu dengan Barnabas, seorang pembuat kapal paling sukses di Athena waktu itu. Untunglah Marcus tidak malu untuk bertanya. Dan dengan bijaksana Barnabas membagi ilmu nya. Yang ternyata dia peroleh dari lima keping sabak (tablet) yang berisi rahasia sukses dalam membangun imperium bisnis kapalnya. Saya tahu, pasti Anda juga ingin tahu rahasia nya kan? Oke, ini dia:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Buatlah mereka merasa dihargai&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapankah terakhir Anda benar-benar menyatakan bahwa Anda menghargai karyawan Anda? Maksud saya menyatakan secara langsung, face to face. Saya kembali mengingat-ingat, ternyata saya jarang mengungkapkan penghargaan saya kepada tim saya. Ini yang harus saya koreksi. Biasanya kita hanya memberikan tugas dan perintah. Namun lupa memberikan apresiasi atas apa yang karyawan telah lakukan untuk usaha kita. Padahal betapa jerih payah mereka sedikit banyak telah memberikan kontribusi bagi usaha yang kita kelola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua kita jaman dulu sebenarnya sudah banyak memberikan contoh, dengan selalu mengucapkan “tolong” ketika memberikan tugas, dan mengucapkan “terimakasih” ketika tugas selesai dilaksanakan. Ada baiknya hal sederhana ini akan saya terapkan kepada tim saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Lihat potensi mereka, bukan kekurangan mereka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini yang sulit. Sebagai pengusaha kita mau instan. Maunya kalau punya karyawan ya yang siap pakai, siap kerja. Kalau selama bekerja performance tidak sesuai dengan harapan ya kasih surat peringatan, kalau perlu dikeluarkan, ganti yang lebih bagus. Padahal ternyata sebuah permata bisa datang dari batu yang kita sangka batu biasa. Kalau kita berkutat pada kesalahan dan keburukan karyawan kita, bisa-bisa potensi yang sebenarnya tidak pernah terlihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah mengalami hal ini. Salah seorang anggota tim saya, ketika baru bergabung betul-betul performance nya jauh di bawah harapan saya. Pengetahuannya baik tentang produk maupun pengetahuan umum IT nya sangat minimal. Saya sudah berniat akan menghentikannya setelah masa percobaan selesai. Ternyata, ketika masa percobaan hampir selesai, saya melihat sisi lain dari tim saya tadi, yaitu ketekunan dan kegigihan yang cukup bagus. Akhirnya saya pertahankan dan dia kian hari semakin maju.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Memimpinlah dengan otoritas, bukan kekuasaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otoritas berbeda dengan kekuasaan. Dengan kekuasaan, kita dapat memerintahkan karyawan kita melakukan sesuatu yang kita minta. Dan kalau tidak melaksanakan kita berikan sanksi. Namun, justru seni nya adalah, bagaimana membuat karyawan melakukan sesuatu yang kita inginkan dengan sukarela, tanpa perlu kita perintahkan, itulah otoritas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otoritas datang dari integritas kita sebagai pemilik. Jika kata-kata kita bisa dipegang. Jika kita bisa memberikan contoh kepada karyawan bahwa kita melakukan apa yang kita ucapkan. Jika kita bisa “walk the talk”, maka otoritas akan dapat kita miliki. Kekuasaan bisa datang dan pergi, namun otoritas akan melekat pada pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Cintai mereka terlebih dahulu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu kita ingin dicintai oleh karyawan. Namun cinta karyawan kita tidak dapat kita beli. Mereka baru akan mencintai kita, ketika kita mencintai mereka terlebih dahulu. Dan cinta adalah kata kerja, yang baru dapat dirasakan oleh karyawan, dengan tindakan kita. Cinta disini maksudnya adalah bagaimana kita memperlakukan karyawan dengan rasa hormat, sayang dan penuh kasih. Tentu saja maksudnya ke semua karyawan, bukan karyawan2 tertentu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Buatlah mereka merasa menjadi bagian dari sesuatu yang luar biasa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin usaha Anda memiliki visi luar biasa. Mungkin Anda bercita-cita membangun konglomerasi global. Mungkin Anda yakin suatu saat nanti usaha Anda akan menjadi nomor satu di Asia. Namun, apa guna nya cita-cita tersebut bagi karyawan kita, jika mereka tidak merasa menjadi bagian dari cita-cita besar tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disinilah tantangan untuk selalu memahami apa mimpi karyawan kita, dan mengkaitkan mimpi perusahaan dengan mimpi mereka. Ketika mimpi perusahaan adalah mimpi karyawan, maka kemajuan ada di tangan. Maka prinsip terakhir ini oleh Myrick disebut sebagai “unifying principle”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, semoga saya mampu melaksanakan lima prinsip dahsyat ini, supaya tim saya semakin maju dan tidak ada lagi Surat Pengunduran Diri mampir di meja saya. (FR).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27366165-7012003775396828237?l=fauzirachmanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/feeds/7012003775396828237/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27366165&amp;postID=7012003775396828237' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/7012003775396828237'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/7012003775396828237'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/2008/06/surat-pengunduran-diri.html' title='Surat Pengunduran Diri'/><author><name>Fauzi Rachmanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14831845815996709974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_AFw7AVcDntE/ShJCO9gF3KI/AAAAAAAAAIQ/VVgCHydCDDU/S220/fauzi.jpg'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27366165.post-2782319920231843473</id><published>2008-05-27T08:01:00.002+07:00</published><updated>2008-05-27T08:01:51.562+07:00</updated><title type='text'>Risalah Hati</title><content type='html'>&lt;span xmlns=""&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Why set your heart on a piece of earth, simple one? Seek out the source which shines forever&lt;/em&gt;. --  Jalaluddin Rumi, Mathnawi II, 709.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bayangkan sebuah ruang kamar. Di dalamnya ada sebuah lampu menempel di langit-langit. Lampu tadi ditutupi oleh tudung lampu yang terbuat dari kaca putih bening. Sudah terbayang? Kalau sudah kita lanjutkan. Lampu tadi menerangi seluruh isi kamar. Sangat terang. Seisi kamar pun terlihat jelas, berkat cahaya dari lampu, yang terpancar melewati tudung lampu yang bening.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hingga kemudian ada debu kotor menempel di tudung kaca bening tadi. Debu tadi akan menghalangi cahaya. Jika dibiarkan, semakin banyak debu bertumpuk, semakin redup cahaya lampu. Hingga apabila tudung lampu tertutup penuh dengan debu hitam,  pijaran cahaya akan tertutup. Cahaya pun tidak terlihat, dan kamar menjadi gelap.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ah, mau membicarakan apa sih ini?&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sabar. Sabar. Saya sedang membuat analogi tentang hati. Bukan, bukan liver yang berwarna coklat kemerahan itu. Namun hati manusia yang tak berwujud, namun ada. Hati yang bisa membuat Anda mabuk kepayang, sekaligus bisa membuat Anda marah tujuh turunan. Hati yang membuat Anda ketakutan, namun hati yang sama bisa membuat Anda berani melawan segala rintangan. Hati yang dalam bahasa Arab disebut Qalbu.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Karena tidak berwujud makanya kita perlu model, perlu perumpamaan. Hati ibaratnya tudung lampu yang terbuat dari kaca putih bening di kamar yang saya ceritakan tadi. Ruang kamar tadi adalah Jiwa kita. Jiwa adalah aspek diri kita yang non-fisik. Anda pasti tahu, sebagai manusia kita memiliki aspek fisik dan aspek non-fisik. Aspek fisik adalah organ tubuh kita. Aspek non-fisik adalah jiwa kita. Tubuh fisik kita adalah kendaraan bagi jiwa kita. Hati dapat menerangi jiwa kita, sepanjang kita selalu menjaga hati kita tetap bersih.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Memangnya hati bisa kotor? Bisa, seperti halnya tudung lampu yang tertutup debu.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di dalam jiwa (Nafs) kita ada komponen yang bernama pikiran (Aql) yang sesungguhnya netral. Pikiran adalah alat bantu kita dalam berinteraksi dengan dunia fisik. Berkat Pikiran kita dapat memahami dunia materi. Namun jika pikiran berpaling kepada dunia materi semata, kadang ia akan memandu kita ke arah yang salah. Pikiran akan mereferensikan setiap tindakan berdasarkan penguasaan atas materi. Yang berujung pada ketakutan akan kehilangan (fear). Ini adalah landasan dari sikap kikir, bakil, dengki, iri, sombong, dan sebagainya yang akan menciptakan debu kotor yang menempel pada kaca hati. Debu yang menumpuk akan menghalangi cahaya bagi jiwa kita.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebaliknya, pikiran juga bisa berpaling ke dalam. Pikiran yang berpaling ke dalam diri kita sendiri akan menemukan bahwa, dunia materi di "luar sana", sesungguhnya memiliki aspek-aspek yang sama dengan diri nya. Sama-sama ciptaan Tuhan, yang bahan baku nya sama. Karenanya pikiran akan sadar bahwa ia sudah memiliki segala yang ia cari. Tidak akan pernah merasa takut kekurangan. Tidak akan pernah merasa takut kehilangan. Tidak merasa lebih dari orang lain, dan tidak akan merasa di bawah orang lain. Inilah cinta (love) yang menjadi dasar dari sikap welas asih, ikhlas, syukur, dan sebagainya yang akan menghapuskan debu dari kaca hati. Bola kaca hati pun menjadi bening. Hati akan memancar terang, menerangi jiwa.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tapi dari mana cahaya hati sesungguhnya berasal? Cahaya lampu itu tentu bukan berasal dari tudung kaca yang melingkupi lampu, namun berasal dari pijar lampu yang ada di dalam. Sumber cahaya itu adalah dari Ruh yang ditiupkan oleh Sang Pencipta sendiri ke dalam diri manusia. Cahaya yang berasal dari Sumber dari segala sumber. Bayangkan, betapa dahsyatnya apa yang ada dalam diri kita. Betapa terang sesungguhnya cahaya yang dapat kita pancarkan. Jika saja kita mengizinkan cahaya hati menerangi jiwa kita.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun sayangnya kita sering mengotori hati kita sendiri sehingga ruang jiwa kita demikian gelap, sehingga kita dapat dikelabuhi oleh cahaya semu dari dunia materi di luar sana. Ibarat penghuni gua, yang dalam gelap terpesona oleh bayangan dari luar pintu gua dan mengira bayangan tadi adalah realitas. Kita sering terjebak dalam ketakutan akan kekurangan. Sehingga terus mencari dan mencari, tanpa pernah merasa cukup. Atau terbuai dalam ilusi akan kenikmatan materi yang dikendalikan nafsu (syahwat), bukan cahaya dari hati.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Semangat jiwa yang berasal dari ketakutan atau syahwat, dapat datang dan pergi dengan mudah. Karena dipengaruhi oleh kondisi materi di luar sana. Namun jiwa yang diterangi oleh cahaya yang berasal dari hati, tidak akan terpengaruh oleh dunia luar. Dia akan terus terang, dan terang terus.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Maka, izinkanlah cahaya hati kita terpancar keluar, menerangi jiwa kita. Sehingga setiap tindakan adalah ekspresi dari terangnya cahaya agung yang berasal dari Ruh, yang telah ditiupkan sendiri oleh Sang Pencipta. Maka dengan demikian, sehat, bahagia dan makmur, akan kembali menjadi fitrah bagi kita semua. Amin. (Fauzi Rachmanto)&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27366165-2782319920231843473?l=fauzirachmanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/feeds/2782319920231843473/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27366165&amp;postID=2782319920231843473' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/2782319920231843473'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/2782319920231843473'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/2008/05/risalah-hati.html' title='Risalah Hati'/><author><name>Fauzi Rachmanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14831845815996709974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_AFw7AVcDntE/ShJCO9gF3KI/AAAAAAAAAIQ/VVgCHydCDDU/S220/fauzi.jpg'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27366165.post-6821647811283585895</id><published>2008-05-27T07:38:00.002+07:00</published><updated>2008-05-27T07:48:52.023+07:00</updated><title type='text'>Benar Benar Mabok</title><content type='html'>&lt;span xmlns=""&gt;&lt;p&gt;Dari minggu lalu, inbox email dan messenger saya terisi dengan banyak pertanyaan yang sama dari sesama pemilik usaha. Bagaimana nih, harga Bahan Bakar Minyak (BBM) naik. Saya, biasanya menjawab singkat dengan sedikit bercanda, Alhamdulillah di Bandung bensin dan elpiji masih terbeli. Salah satu teman baik langsung menelpon saya dan dengan sewot menguliahi, bahwa saya tidak sensitif dengan beban penderitaan rakyat miskin akibat kenaikan BBM ini. Bahkan saya dinilai pro pemerintah yang pro kepentingan perusahaan minyak asing. Hehehe … siapalah saya ini, Alhamdulillah kalau dikira kenal orang pemerintahan atau perusahaan minyak asing.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Apakah kenaikan BBM berpengaruh terhadap bisnis saya? Sudah tentu. Menurut saya semua bisnis pasti akan terkena dampak kenaikan BBM, entah besar atau kecil, baik langsung atau tidak langsung. Kenaikan BBM jelas mendorong inflasi dan akan mempengaruhi daya beli. Namun, menurut saya pertanyaan pentingnya bukanlah ada atau tidaknya pengaruh kenaikan BBM, namun bagaimana para pemilik usaha kecil dan menengah seperti saya ini dapat terus bertahan setelah BBM naik. Nah, kalau ini pertanyaannya, penting untuk dijawab. Berikut 3 tips supaya Anda tidak Benar-Benar Mabok akibat kenaikan BBM:&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;h2&gt;Menerima&lt;br /&gt;&lt;/h2&gt;&lt;p&gt;Kenaikan BBM sudah terjadi. Kalau saya, memilih untuk menerima dan tidak membuang energy dan emosi saya untuk menolak kenaikan ini.  Hehehe … jujur saja saya langsung didamprat teman saya ketika mengatakan ini. Bukan, saya bukan pro pemerintah, partai berkuasa atau apapun. Saya pro dengan kedamaian hati saya sendiri. Saya yakin Menteri Keuangan dan seluruh staff ahli nya jauh lebih pintar dari saya, dan pasti sudah memperhitungkan segala kemungkinan. Bagaimana dengan alternative lain selain menaikkan BBM? Mungkin saja ada. Saya yakin jika alternative tersebut bisa diterapkan, tidak sekedar wacana dan hitungan di atas kertas, pada saatnya pasti akan diterapkan. Namun saya tidak mau berandai-andai. Fakta nya hari ini adalah, kenaikan harga BBM masih menjadi pilihan terbaik yang mungkin di jalankan. Dan saya belajar menerima kenyataan tadi.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya juga menaruh hormat terhadap rekan-rekan yang melakukan segala daya upaya untuk membuat pemerintah merevisi keputusan menaikkan harga BBM. Saya paham sepenuhnya pendapat mereka, dan menghargai niat baik mereka. Sebagai konsumen BBM, tentu saya juga lebih senang kalau harga BBM murah. Tapi kenyataannya BBM adalah produk yang harga nya dapat mengalami fluktuasi di manapun di dunia ini. Dan saya memilih untuk siap ketika harga nya meningkat.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya juga tentu prihatin dengan dampak kenaikan harga bagi masyarakat yang kurang mampu. Namun saya juga yakin pemerintah sudah memikirkan, dan memiliki program untuk mengurangi dampak tersebut. Saya sendiri tentu juga bisa berkontribusi dengan memperbanyak sedekah, daripada berteriak-teriak "membela" mereka.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;h2&gt;Fokus Pada Peluang&lt;br /&gt;&lt;/h2&gt;&lt;p&gt;Kenaikan BBM memang menimbulkan "persoalan". Namun kalau kita amati "persoalan" tadi sebagian besar baru pada tahap potensial. Ada rekan yang menyampaikan pada saya, bahwa setelah BBM naik, pasti pembeli berkurang, pasti toko nya sepi. Saya tanya kembali, sudah sepi belum toko nya hari ini? Teman saya tadi ketawa nyengir. Hehehe … gak sih Pak, kalau hari ini malah ramai. Tapi kan nanti pasti sepi. Wah, ya nanti saja kita bahas kalau sudah beneran sepi.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya paham bahwa rekan tadi bermaksud untuk antisipatif terhadap menurunnya daya beli masyarakat. Ini bagus. Namun jangan sampai kita berkutat pada "persoalan" sehingga melupakan peluang yang muncul. Kalau Anda cukup lama di dunia marketing pasti tahu bahwa kemampuan membeli atau daya beli bukanlah satu-satu nya faktor pendorong terjadi nya pembelian.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Misalnya, beberapa waktu lalu saya membaca keberhasilan sebuah produsen alat-alat kesehatan yang sukses menjual produknya di kota-kota kecil. Produknya berupa ikat pinggang ajaib, hingga kasur ajaib. Harga nya luar biasa mahal menurut saya. Anehnya pembeli nya juga bukan dari kalangan mampu. Tinggal di kota kecil lagi. Hebatnya lagi, pembeli nya belum tentu benar-benar membutuhkan alat tersebut. Karena, alat-alat tadi sifatnya hanya "menjaga kesehatan", "melancarkan peredaran darah", "memperbaiki metabolisme", dsb. Boro-boro mikirin metabolisme, lha untuk makan saja mungkin pas-pas an. Kalau dihitung-hitung dari daya beli masyarakat di kota-kota kecil tadi, ini tidak masuk akal. Tapi itulah dunia usaha, tidak selalu masuk akal.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Daripada memikirkan "persoalan" daya beli masyarakat di kota kecil yang menjadi target, produsen alat kesehatan tadi memilih untuk melihat peluang untuk memasarkan produk secara lebih kreatif di kota-kota kecil tadi. Kita juga bisa seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;h2&gt;Kesempatan Belajar&lt;br /&gt;&lt;/h2&gt;&lt;p&gt;Dulu sewaktu krisis moneter menghantam Asia Pasifik tahun 1997, saya masih menjadi karyawan. Tugas kami lumayan berat, karena harus menjual solusi software ke industri perbankan yang pada waktu itu mulai kolaps. Belum lagi nilai tukar dollar yang melambung tinggi, sementara produk kami dijual dalam dollar. Secara logika mungkin mendingan tutup warung saja. Hanya satu hal yang membuat kami terus bertahan, bahwa kami percaya apabila kami berhasil melewati krisis tersebut, kami dapat melewati tantangan apapun.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Krisis selalu menawarkan peluang untuk belajar. Pola pikir "business as usual" harus diuji kembali dengan adanya tantangan baru. BBM naik? Harga bahan baku naik? Ongkos transportasi naik? Biaya karyawan naik? Itu adalah seri mata kuliah wajib di universitas pengusaha yang sesungguhnya. Kali ini tidak hanya di text book. Namun Anda langsung praktek di dunia nyata. Dan ketika Anda lulus ujian. Dapat dipastikan Anda satu langkah lebih baik dari kemarin.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Semoga setelah kenaikan BBM ini Anda semua menjadi Benar-Benar Mampu. (Fauzi Rachmanto)&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27366165-6821647811283585895?l=fauzirachmanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/feeds/6821647811283585895/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27366165&amp;postID=6821647811283585895' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/6821647811283585895'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/6821647811283585895'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/2008/05/benar-benar-mabok.html' title='Benar Benar Mabok'/><author><name>Fauzi Rachmanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14831845815996709974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_AFw7AVcDntE/ShJCO9gF3KI/AAAAAAAAAIQ/VVgCHydCDDU/S220/fauzi.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27366165.post-4448824356892310297</id><published>2008-04-04T14:31:00.002+07:00</published><updated>2008-04-04T14:50:52.009+07:00</updated><title type='text'>Butterfly</title><content type='html'>&lt;span xmlns=""&gt;&lt;p&gt;Secangkir kopi hitam, 2 potong lupis ketan, dengan taburan parutan kelapa dan gula merah cair. Pagi ini terhidang di depan saya. Saya sebenarnya sudah tidak minum kopi lagi. Tapi pagi ini setelah meeting di salah satu customer saya, tiba-tiba saya ingin nostalgia di kantin di dekat tempat parkir ini. Lima tahun lalu saya sering berada di kantin ini. Waktu itu perusahaan saya adalah perusahaan OMAC (One Man Army Corp). Saya adalah direktur, salesman, implementor, merangkap bagian penagihan. Lima tahun lalu, saya bolak-balik presentasi, melakukan implementasi dan menagih pembayaran, dengan segala dokumentasinya yang suka bikin senewen. Dan kantin ini adalah tempat mangkal saya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kopi nya masih hitam kental. Saya cuma berani menyeruput sedikit. Dan rasanya masih mantap. Lupis nya jangan tanya. Legit dan gurih. Lima tahun lalu, lupis ini adalah sarapan rutin saya kalau sedang ke customer saya ini. Tapi suasana dalam kantin sudah sangat berubah. Dulu kantin ini kecil, sempit, pengap dan gerah. Sekarang sudah diperluas, lega, dan jendela kaca nya besar. Cat nya pun bagus dan menarik. Lengkap degan musik yang mengalun pelan dari sound system sederhana. Lebih mirip kafe. Ah, rupanya sang pemilik kantin paham betul dengan adagium: "Change is the only constant". Satu-satu nya hal yang tetap adalah perubahan itu sendiri. Lingkungan di seputar gedung customer saya itupun sudah berubah. Semakin banyak karyawan yang mampir ke kantin tadi. Dan kantin tadi menyambut perubahan tadi dengan perubahan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bahkan perusahaan saya yang dulu OMAC pun sudah berubah. Kini saya bisa duduk santai makan lupis, sementara staff saya masih di dalam melakukan tindak lanjut hasil meeting tadi pagi. Dulu, harus saya sendiri yang melakukan semuanya. Saya hirup sedikit lagi kopi saya. Sudah lebih dari 2 bulan saya tidak minum kopi. Kafein segera terserap dan merambat ke otak saya. Rasanya segar dan nikmat sekali. Alhamdulillah. Saya mengucapkan syukur kepada yang memberi saya kehidupan. Saya merasa tenang dan bersyukur.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pandangan saya tertuju ke pot tanaman di depan jendela kantin. Tanaman sejenis bougenvile itu lima tahun lalu masih kecil. Tapi kini sudah besar. Pot nya terlalu kecil sehingga pecah, tidak sanggup menahan desakan akar tanaman. Tanahnya berserakan kemana-mana. Pohon itu berubah. Pot nya tidak bisa berubah. Pot tanaman pun pecah, karena tidak bisa menanggapi perubahan dengan perubahan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di pucuk tanaman tadi saya lihat ada kupu-kupu indah terbang melintas. Tiba-tiba kantin terasa senyap dan dingin. Musik pelan terdengar mengalun, sebuah lagu baru yang saya kurang familiar terdengar. Dari soundtrack film mungkin. Ah, penyanyinya Melly Goeslaw. Sebait lirik tertangkap di telinga "Butterfly fly away so high, As high as hopes I pray …" Oh, saya tahu judulnya Butterfly. Kupu-kupu. Tepat ketika saya mengamati seekor kupu-kupu. Adakah sebuah pertanda? Adakah ini isyarat yang harus saya tangkap maknanya? Tuhan memang suka bermain teka-teki. Saya merinding. Dan buru-buru menyeruput kopi lagi.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kupu-kupu adalah makhluk luar biasa. Bayangkan, dari ulat yang menjijikkan, mampu bertransformasi menjadi makhluk yang demikian indah. Dari binatang yang hanya bisa bergerak lamban. Menjadi makhluk yang lincah terbang kesana kemari. Kupu-kupu adalah simbol perubahan yang positif. Perubahan menjadi yang lebih baik. Perubahan. Adakah saya siap dengan perubahan? Mata saya beralih ke interior kantin yang  sudah berubah. Saya menatap pot yang pecah karena tidak berubah. Perubahan. Saya harus siap dengan perubahan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya tidak selalu siap dengan perubahan. Anak pertama saya mulai beranjak remaja. Sikap dan perilaku nya tidak seperti waktu dia masih anak-anak. Sekarang dia sudah berani memiliki pendapat sendiri, berani mengutarakan keinginan sendiri, berani menentukan pilihan sendiri. Tidak jarang kami berbeda pendapat. Kadang saya bertanya, dimana bayi manja yang dulu saya gendong-gendong itu? Tapi itulah hidup. Anak saya berubah. Saya juga harus berubah. Kalau tidak bisa pecah seperti pot tanaman di depan kantin tadi.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Customer saya juga berubah. Organisasi mereka juga tumbuh. Tuntutan nya sudah berbeda dengan jaman saya masih OMAC dulu. Mereka kini menuntut layanan yang sangat lengkap dan professional. Saya harus mengandalkan tim untuk melayani mereka. Tidak bisa one man show lagi. Perusahaan saya harus ikut berubah, atau ditinggalkan oleh customer kami.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kadang-kadang perubahan terjadi terlalu tiba-tiba, atau tidak menyenangkan kita. Unexpected change ini paling sering terjadi di dunia bisnis. Di bisnis software juga sering terjadi. Principal yang tiba-tiba merger dan tidak bekerjasama dengan kita lagi. Revisi harga secara tiba-tiba, sementara kita masih menawarkan ke customer dengan harga lama. Dan sebagainya. Bagaimana menyikapinya? Kalau saya dengan berusaha mencari sisi baiknya. Awan yang gelap selalu memiliki "silver lining". Saya pernah "bercerai" dengan suatu principal. Awalnya memang saya tidak terima, karena merasa di-zalimi. Tapi rupanya perceraian tadi adalah jalan bagi saya untuk bertemu dengan principal yang lebih baik. Kadang perubahan adalah jawaban dari doa-doa kita di waktu malam. Meskipun cara nya tidak selalu kita pahami.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dua potong lupis sudah saya habiskan. Saya tidak berani nambah lagi. Kupu-kupu cantik di luar sana terbang mendekat ke jendela seperti hendak menyapa. Saya tersenyum. Terimakasih inspirasinya, bisik saya. Kupu-kupu tadi terbang menjauh, dan hilang dari pandangan. (Fauzi Rachmanto).&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27366165-4448824356892310297?l=fauzirachmanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/feeds/4448824356892310297/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27366165&amp;postID=4448824356892310297' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/4448824356892310297'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/4448824356892310297'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/2008/04/butterfly.html' title='Butterfly'/><author><name>Fauzi Rachmanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14831845815996709974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_AFw7AVcDntE/ShJCO9gF3KI/AAAAAAAAAIQ/VVgCHydCDDU/S220/fauzi.jpg'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27366165.post-7917898831051829689</id><published>2008-04-03T21:28:00.002+07:00</published><updated>2008-04-03T21:40:30.743+07:00</updated><title type='text'>Kritik dan Keripik</title><content type='html'>&lt;span xmlns=""&gt;&lt;p&gt;Pada waktu meeting, saya sering mendapat kritik dari karyawan saya. Biasanya tentang cara saya menjalankan perusahaan. Terus terang saya kesal. Coba bayangkan, saya yang sudah belasan tahun di bisnis IT, yang merupakan pendiri sekaligus pemilik perusahaan, masa di ajarin bagaimana mengelola perusahaan sama "anak kemaren sore" yang baru kerja 3 tahun. Yang makan dari gaji yang saya bayarkan lagi. Apa gak kesal. Tahu apa mereka soal usaha yang saya bangun dengan susah payah ini. Jadi ketika mendengar kritik dari karyawan saya, meskipun wajah saya tetap tersenyum dan manggut-manggut, dalam hati saya kadang geram juga. Awas aja lu, gw pecat. Begitu kadang saya membatin.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kritik yang lain kadang saya terima dari pelanggan. Ini lebih menyebalkan lagi. Pelanggan memberikan kritik lebih tajam dan tanpa tedeng aling-aling. Kalau karyawan masih ada takut2nya, nah kalau pelanggan nggak ada takutnya sama sekali. Wong mereka yang bayar saya. Jadi meskipun pilihan kata nya menyakitkan, saya terpaksa harus tetap tersenyum dan bilang "ya pak, ya pak, ya pak" terus. Persis CD rusak. Apa lagi kalau yang mengkritik itungan nya masih junior. Wah, kebanggaan diri saya langsung kena. Kurang asem, diceramahin sama keroco nih. Gak tau apa saya ini owner. Demikian kadang saya membatin.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mungkin saya memang tidak tahan kritik. Dalam tes kepribadian yang pernah saya ikuti, saya ini tergolong tipe dominan. Salah satu ciri nya ya ini, saya sensi sekali dengan kritik.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bukan pembenaran, tapi kesal karena di kritik menurut saya manusiawi. Namanya manusia, ingin nya ya perbuatannya dipuji orang lain. Pastinya kesal atau bahkan marah kalau perbuatannya disalahkan pihak lain. Apalagi kalau di kritik oleh orang yang menurut kita tidak lebih pandai dari kita. Siapa lu, ngritik gue? Mungkin demikian perasaan kebanyakan orang.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Meskipun kesal, namun saya tidak pernah marah kalau di kritik. Malah biasanya saya diam saja. Bukan apa2, saya sadar kok kalau kritik itu bermanfaat buat saya. Bahkan, jujur saja, saya memulai usaha saya dulu karena kritik. Ceritanya begini. Dulu sejak masih jadi karyawan memang saya sudah senang membicarakan berbagai peluang usaha. Karena saya bekerja di perusahan IT, biasanya ide usaha yang saya lontarkan masih seputar bisnis IT. Ide-ide usaha ini biasanya saya sampaikan dan diskusikan dengan kawan-kawan dekat saya. Suatu hari saya sedang asyik menyampaikan suatu ide usaha di sebuah kafe dengan seorang teman. Teman tadi tiba2 mengambil buku saku, membuka nya dan geleng-geleng kepala sambil tersenyum. Kenapa? Tanya saya. Setengah mencibir dia berkata, bahwa saya punya lebih dari 30 ide bisnis (dia mencatat semua), dan tidak ada satu pun yang sudah saya jalankan. Plak! Rasanya saya seperti ditampar.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya waktu itu memang tipe pemikir. Bukan pelaku. Dan ide usaha yang saya "telor" kan ternyata cukup banyak. Saya sampai terkaget-kaget. Dan ironisnya, tidak satu pun yang saya jalankan. Saya asli omdo (omong doang) dan nato (no action think only). Kritik ini yang membuat saya malu sama teman saya, dan akhirnya mencoba merealisasikan salah satu ide bisnis saya tadi. Dan jadilah saya seorang pengusaha.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jadi kritik meskipun menyebalkan, tapi buat saya perlu. Bahkan pujian malah membuat kita terlena, dan lupa memperbaiki diri. Sementara kritik akan menggugah kita dan membuat kita menjadi lebih baik. Ya, tapi kan harus "kritik yang membangun" . Tidak juga. Kritik ya kritik, mau disampaikan setajam pisau silet atau yang lunak enak di telinga, itu terserah pengkritik. "Membangun" nya itu terserah kita. Pilih mana? Kritik pedas yang membuat hidup Anda berubah total menjadi lebih baik, atau kritik setengah hati, yang membuat Anda tidak berubah dari keadaan sekarang? Ya, tapi tolong kritik disampaikan dengan solusi. Ini juga tidak wajib. Kritik ya kritik, terserah pengkritik nya. Solusi nya terserah kita. Apalagi orang-orang yang suka mengkritik biasanya memang gak bakat memikirkan solusi. Coba saja tanya orang-orang yang suka demo. Pasti tidak bisa memberikan solusi konkret. Biarkan saja. Mari kita belajar memikirkan solusi nya sendiri. Jadi nya kan yang makin pinter kita.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pelaku itu ibarat pemain bola, dan peng-kritik itu ibarat penonton. Dua-dua nya perlu. Pertandingan bola tanpa penonton ya gak seru. Penonton tanpa ada pemain bola, mau nonton apa?&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Karena sensi sama kritikan. Saya jadinya termasuk malas meng-kritik. Pertama, karena saya memang gak bakat ngasih kritikan. Kata orang saya kalau mengkritik malah jadi kaya orang marah-marah, padahal maksud saya bukan begitu, jadinya suka bikin salah paham. Daripada salah paham, lebih baik saya menyampaikan sesuatu yang baik, atau diam.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kedua, saya sedang mencoba belajar menerapkan prinsip "non-judgement". Prinsip ini saya pelajari dari Deepak Chopra dalam "7 Spiritual Laws of Success". Inti nya, belajar untuk tidak "menghakimi" peristiwa, kejadian, maupun orang. Karena keterbatasan kita sebagai manusia, sesungguhnya kita tidak tahu "big picture" dari peristiwa yang kita hakimi tadi. Siapalah kita ini menghakimi peristiwa yang sudah digariskan Yang Maha Tahu. Apalagi menghakimi kesempurnaan ciptaan Yang Maha Sempurna. Saya tidak berani.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Lantas bagaimana kalau saya lagi kesal sama orang, atau ada peristiwa yang menurut saya tidak benar? Dari pada menyampaikan kritik saya lebih suka makan keripik. Ok .. Ok .. Ok .. Kesan nya "maksa" ya? Tapi ini beneran. Saya suka sekali makan keripik kentang (yang rasa plain), atau keripik singkong (yang plain juga). Rasa nya renyah dan keasyikan mengunyahnya bisa melupakan saya untuk mengkritik.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tulisan ini menyebalkan Anda? Anda ingin mengkritik? Silakan … silakan, sampaikan kritik Anda, saya mau ambil keripik singkong dulu.  (Fauzi Rachmanto)&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27366165-7917898831051829689?l=fauzirachmanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/feeds/7917898831051829689/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27366165&amp;postID=7917898831051829689' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/7917898831051829689'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/7917898831051829689'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/2008/04/kritik-dan-keripik.html' title='Kritik dan Keripik'/><author><name>Fauzi Rachmanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14831845815996709974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_AFw7AVcDntE/ShJCO9gF3KI/AAAAAAAAAIQ/VVgCHydCDDU/S220/fauzi.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27366165.post-6470463181097900451</id><published>2008-03-24T14:25:00.002+07:00</published><updated>2008-03-24T14:30:01.075+07:00</updated><title type='text'>Memilih</title><content type='html'>&lt;span xmlns=""&gt;&lt;p&gt;"Our lives are a sum total of the choices we have made." -- Dr. Wayne Dyer&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Alangkah beruntungnya manusia. Tuhan memberi kesempatan untuk menjalani setiap detik dalam hidup kita dengan pilihan. Dari bangun tidur, sampai kita tidur lagi, kita dapat memilih. Begitu bangun di pagi hari, Anda dapat memilih untuk langsung bangun dan beraktifitas, atau memilih untuk bermalas-malasan di tempat tidur. Di pagi hari, Anda dapat memilih untuk menyapa anak, istri dan keluarga di rumah dengan semangat dan senyuman, atau cemberut dan mengomel bahwa Anda kesiangan. Sambil sarapan, Anda dapat memilih untuk berbicara dengan anak Anda tentang sekolahnya, membaca berita buruk di koran, atau nonton gossip artis di TV. Di kantor, Anda dapat memilih untuk memulai menyelesaikan pekerjaan Anda, atau sekedar chatting dengan teman-teman Anda di kantor lain. Dan seterusnya. Pendek kata: Anda memiliki pilihan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dahsyatnya kekuatan pilihan, dapat Anda lihat dari kehidupan orang-orang sukses. Dunia teori fisika tidak akan diperkaya dengan "radiasi Hawking" seandainya Stephen Hawking memilih untuk menyerah ketika mendapati dirinya lumpuh akibat amyotrophic lateral sclerosis (ALS). Entah bagaimana wajah industri software komputer saat ini, kalau saja Bill Gates memilih untuk melanjutkan kuliah dan membuang mimpinya merintis perusahaan perangkat lunak bersama Paul Allen. Mungkin tim balap Formula 1 dan produsen mobil sport terkemuka Ferrari tidak akan pernah ada, kalau saja Enzo Ferrari memilih untuk cukup puas menjadi karyawan Alfa Romeo.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Lalu apakah dengan demikian kita harus menunggu untuk membuat sebuah keputusan besar sebagaimana Hawking, Gates atau Ferrari? Tidak. Mereka tidak serta merta membuat sebuah keputusan besar. Namun melalui hidupnya dengan pilihan-pilihan kecil yang membentuk keputusan besar mereka dikemudian hari. Bill Gates tidak serta merta memutuskan untuk mendirikan Microsoft. Namun jauh sebelumnya, Gates muda telah memilih untuk mengikuti "ekskul" komputer di SMA nya. Memilih untuk "hang out" dengan Paul Allen dan kawan-kawan untuk mengutak-atik program komputer, memilih untuk berbisnis di usia muda dengan membuatkan program untuk produsen Altair, kemudian IBM PC, dan seterusnya. Pilihan-pilihan kecil yang kemudian membentuk seluruh hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Setiap detik adalah pilihan. Dan setiap pilihan, sekecil apapun, menentukan masa depan kita.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun, apakah kita sudah benar-benar memahami bagaimana caranya memilih? Sebagai contoh, ketika ada peluang usaha ditawarkan kepada kita, apakah kita memilih untuk serta merta menolak, atau mencoba mempelajarinya dahulu? Di sebuah acara formal, ketika kita melihat ada orang yang dapat memberikan pengaruh positif kepada kita, apakah kita memilih untuk berkenalan, atau malah menunduk malu dan menghindar? Ketika anak kita tidak mengikuti kemauan kita, apakah akan kita hardik dengan amarah, atau coba ajak bicara? Pilihan-pilihan kecil. Namun bisa berdampak besar.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ya, tapi bagaimana cara memilih? Mengapa kita sering ada dalam situasi yang sepertinya "salah pilih". Apakah ada teknik untuk membantu dalam memilih. Ada. Salah satunya yang menurut saya sangat efektif digunakan di banyak bidang kehidupan adalah teknik H-O-W yang diajarkan oleh David Freemantle dalam buku-nya "How to Choose". Teknik H-O-W ini terdiri dari tiga bagian:&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;h2&gt;Hesitate (Pertimbangan)&lt;br /&gt;&lt;/h2&gt;&lt;p&gt;Langkah pertama adalah untuk selalu melakukan pertimbangan sebelum Anda memberikan reaksi. Melakukan pertimbangan berarti tidak memberikan reaksi spontan yang seringkali hanya didorong emosi. Contohnya ketika karyawan Anda ada yang melakukan sebuah kesalahan fatal yang merugikan bisnis Anda, apakah yang akan Anda lakukan: memaki, menampar atau langsung memecat. Itu kalau Anda tidak menggunakan pertimbangan. Pertimbangkanlah. Anda punya pilihan. Diamlah sejenak, untuk masuk ke tahap memilih berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;h2&gt;Outcomes (Hasil)&lt;br /&gt;&lt;/h2&gt;&lt;p&gt;Sudahkah Anda memikirkan hasil yang akan Anda peroleh. Dan yang lebih penting lagi, hasil apakah yang Anda inginkan dari pilihan yang akan Anda ambil? Ketika raport anak Anda di sekolah demikian jeleknya, mungkin Anda ingin memarahi Anak Anda habis-habisan hingga ia menangis, terluka hatinya, dan hilang rasa percaya dirinya. Itukah hasil yang Anda inginkan? Atau Anda menginginkan anak yang bahagia, optimis, percaya diri, dan buahnya nanti adalah prestasi yang baik? Pikirkan dulu hasilnya, sehingga Anda dapat masuk ke tahap memilih yang ketiga.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;h2&gt;Ways (Cara)&lt;br /&gt;&lt;/h2&gt;&lt;p&gt;Kalau sudah ketahuan hasilnya, Anda bisa memperluas pemikiran Anda ke cara-cara yang dapat Anda tempuh. Jika hasil yang ingin dicapai adalah karyawan yang tidak melakukan kesalahan, mungkin Anda bisa mulai menulis aturan perusahaan yang lebih tegas, melakukan pelatihan kembali, atau mungkin sistem dan prosedur perlu dibenahi. Jika anak yang sehat lahir batin, bahagia, optimis, bertanggung-jawab dan percaya diri yang ingin Anda peroleh, maka mungkin Anda bisa mulai memberi kepercayaan, tanggung-jawab dan bimbingan untuk anak Anda. Cara ini dapat Anda kembangkan seluas-luasnya, dan dapat Anda jalankan secara parallel.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya menggunakan teknik H-O-W ini dalam berbagai hal. Yang sederhana misalnya dalam menggunakan email. Saya sangat sering menerima email dari mitra kerja yang isinya kadang tidak enak dibaca. Sebelum menggunakan teknik H-O-W ini, saya akan bereaksi spontan. Kata-kata pedas saya balas dengan kata yang lebih pedas lagi. Akibatnya pernah saling berbalas email tak berkesudahan terjadi, dan hubungan kami menjadi renggang. Kini saya memilih menggunakan teknik H-O-W: Melakukan pertimbangan, memikirkan hasil yang ingin saya peroleh dari reply email  saya, dan memilih cara penyampaiannya. Hasilnya jauh lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ah, tapi hidup adalah pilihan. Menerapkan teknik ini atau tidak, adalah pilihan Anda. Selamat membuat pilihan yang lebih baik. (FR)&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27366165-6470463181097900451?l=fauzirachmanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/feeds/6470463181097900451/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27366165&amp;postID=6470463181097900451' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/6470463181097900451'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/6470463181097900451'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/2008/03/memilih.html' title='Memilih'/><author><name>Fauzi Rachmanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14831845815996709974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_AFw7AVcDntE/ShJCO9gF3KI/AAAAAAAAAIQ/VVgCHydCDDU/S220/fauzi.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27366165.post-1963620109723248163</id><published>2008-03-11T00:57:00.003+07:00</published><updated>2008-03-11T01:02:46.270+07:00</updated><title type='text'>Semut dan Gajah</title><content type='html'>&lt;span xmlns=""&gt;&lt;p&gt;Pernahkah Anda merasakan, betapa Anda sudah bekerja keras siang malam untuk mewujudkan apa yang Anda inginkan, namun sepertinya nasib malah membawa Anda ke arah yang berlawanan? Anda sudah bekerja keras untuk mewujudkan impian-impian Anda, namun sepertinya Anda malah dibawa menuju ke tempat lain, yang jauh dari mimpi Anda? Jika YA, maka nasib Anda sama dengan nasib seekor semut yang hidup dipunggung seekor gajah. Bayangkan saja, sang semut sudah capek-capek berjalan menuju timur, kalau gajahnya berjalan menuju barat, maka sama saja semut tadi akan menuju barat, bukan timur. Analogi ini saya temukan di buku mungil yang ditulis dengan sangat indah oleh Vince Poscente, berjudul "The Ant and the Elephant" yang di edisi bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi "Tuntunlah Sang Gajah". Vince Poscente adalah seorang mantan atlet Olimpiade, entrepreneur dan ahli strategi bisnis.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Buku yang ditulis dalam bentuk fabel (cerita tentang binatang) ini mengisahkan perjalanan Adir sang semut, dan Elgo sang Gajah. Adir adalah semut kecil dengan cita-cita besar. Setelah terhempas badai dan terpisah dari koloni nya. Adir menemukan tujuan hidupnya, yaitu Oase. Mengapa Oase? Karena bagi Adir Kehidupan haruslah menjadi perjalanan yang bermakna, bukan sekedar perjuangan untuk bertahan hidup. Bagi Adir Oase lah yang akan membuat hidupnya bermakna. Namun, pada awalnya Adir tidak menyadari bahwa ia tinggal dipunggung Elgo, jadi kemanapun ia melangkah, akan sia-sia saja jika Elgo tidak menuju ke arah yang sama dengan tujuan Adir. Beruntunglah Adir bertemu dengan Brio, sang burung hantu cerdas yang menyadarkan Adir bahwa keberhasilannya untuk mencapai Oase akan sangat tergantung pada kemampuannya untuk berkomunikasi dan menuntun Elgo, menuntun sang Gajah.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Adir dan Elgo dalam kisah ini adalah perlambang dari pikiran sadar dan pikiran bawah sadar kita. Kekuatan pikiran sadar kita, dibandingkan dengan kekuatan pikiran bawah sadar kita, memang bagaikan semut dengan gajah.  Ini bukan analogi yang mengada-ada. Vince mengutip penelitian Dr. Lee Pulos yang mengungkapkan bahwa dalam setiap detik, pikiran sadar kita menggunakan 2000 neuron, dan pikiran bawah sadar menggunakan 4 milyar neuron. Bayangkan, keputusan sadar dihasilkan oleh hanya 2000 neuron, sementara keputusan yang dibuat oleh pikiran bawah sadar menggunakan 4 milyar neuron. Jadi jelas siapa mengendalikan siapa. Gajahlah yang ternyata membawa kemana semut pergi, bukan sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jadi, jika selama ini "semut" Anda yang cerdas itu mungkin sudah merumuskan visi hidup Anda dengan jelas, sudah merancang strategi berbisnis dengan rinci, dan sudah mengambil langkah-langkah berani, misalnya resign dari pekerjaan, sampai pinjam uang mertua segala, namun kok bisnis Anda sepertinya masih jauh dari visi yang Anda angankan, mungkin disini jawabannya. Barangkali Anda belum berbicara dengan "Gajah" Anda. Ya jangan heran, kalau Anda sudah take action ke utara tapi kok malah menuju ke selatan, mungkin Gajah Anda yang membawa kesana. Lalu bagaimana menuntun Gajah kita ini?&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kata kunci nya adalah emosi. Dalam kisah Adir dan Elgo dikisahkan bahwa Elgo hanya dapat mendengar Adir hanya melalui emosi. Emosi Adir tentang Oasis yang sangat kuat, yang dapat ditangkap oleh Elgo dan membuatnya mulai melangkah menuju Oasis. Beberapa waktu yang lalu saya pernah membaca kisah seorang anak kecil yang mampu berlari beberapa puluh kilometer, di malam hari, sendirian, demi mencari pertolongan bagi Ayahnya yang tidak dapat bergerak di mobil mereka yang mengalami kecelakaan. Jika anak itu diminta melakukan lagi hal yang sama, mungkin sudah tidak sanggup. Jangankan anak kecil, orang dewasapun mungkin tidak mampu. Namun emosi yang sangat kuat untuk menyelamatkan nyawa sang Ayah, telah menggerakkan "Gajah" nya yang luar biasa kuat.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Demikian pula para pebisnis sukses. Umumnya mereka punya emosi yang sangat kuat untuk mewujudkan apa yang mereka cita-citakan. Mereka memiliki "burning desire" yang mampu menggerakkan sang Gajah. Mungkin Anda perlu merenungkan lagi apa yang ingin Anda wujudkan, dan kali ini rasakan emosi Anda. Adakah emosi meledak-ledak disana? Adakah air mata Anda tiba-tiba meleleh membayangkan kebahagiaan dan kelimpahan yang akan Anda alami bersama istri dan Anak Anda? Jika YA, selamat!  Besar kemungkinan Gajah Anda mulai mendengar, dan siap melangkah menuju Oasis Anda. Selamat menuntun Gajah Anda, dan sampai ketemu di Oasis!. (FR)&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27366165-1963620109723248163?l=fauzirachmanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/feeds/1963620109723248163/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27366165&amp;postID=1963620109723248163' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/1963620109723248163'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/1963620109723248163'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/2008/03/semut-dan-gajah.html' title='Semut dan Gajah'/><author><name>Fauzi Rachmanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14831845815996709974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_AFw7AVcDntE/ShJCO9gF3KI/AAAAAAAAAIQ/VVgCHydCDDU/S220/fauzi.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27366165.post-2925436348561362040</id><published>2008-02-04T21:02:00.001+07:00</published><updated>2008-02-04T21:02:29.458+07:00</updated><title type='text'>Menjual Tanpa Berjualan</title><content type='html'>&lt;span xmlns=''&gt;&lt;p&gt;Beberapa minggu lalu saya sempat melakukan hal yang saya sebenarnya tidak saya sukai. Saya mengusir dua orang salesman produk investasi keuangan yang memaksa menjelaskan produk mereka di kantor saya. Akhir-akhir ini memang saya sering ditawari berbagai macam produk investasi. Entah dapat informasi dari mana, sepertinya mereka kok tahu saja kalau saya sedang banyak duit, hehehe … Dari awal dihubungi lewat telepon, Saya sebenarnya sudah menyatakan tidak berminat dengan produk mereka. Bukan saya tidak open-minded, namun sebagai mantan investment analyst, saya tahu persis risiko produk investasi yg mereka tawarkan, dan tipe investasi mereka tidak sesuai dengan profil dan karakter saya. Namun, karena kantor kami berdekatan, dua sales ini memaksa sekali untuk datang ke kantor ketika saya sedang berada di kantor. Akhirnya, saya memberikan waktu sepuluh menit kepada mereka untuk menjelaskan apa keuntungan bagi saya jika saya berinvestasi pada produk yang mereka tawarkan. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dan ternyata sepuluh menit tadi menjadi sepuluh menit yang sangat menjengkelkan. Bukannya to the point meyakinkan saya soal keuntungan investasi, risiko dan penanggulangan risiko, namun dua salesman tadi malah menceramahi saya bahwa produk mereka tidak haram, produk mereka adalah produk legal, dan seterusnya. Hingga sepuluh menit berlalu masih belum jelas apa yang dijual dan apa untungnya buat saya. Sebagai sesama penjual, saya bersimpati kepada mereka, maka saya bantu mereka dengan pertanyaan yang mengarahkan:  jika saya memiliki USD 10 ribu, berapa yang saya dapat?. Masih tidak terjawab juga. Kembali saya diceramahi bahwa produk mereka berbeda dengan investasi valuta asing, dst. Akhirnya dengan berat hati, saya mengucapkan terimakasih, dan meminta mereka meninggalkan ruangan saya.  Ini mengagetkan mereka. Semoga pengusiran saya menjadi pelajaran dan menjadikan mereka penjual-penjual tangguh di masa depan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya juga seorang penjual, dan saya selalu bersimpati dengan para penjual. Namun saya sangat prihatin dengan masih digunakannya teknik-teknik penjualan yang tingkat keberhasilannya sangat minim seperti itu. Teknik penjualan produk investasi tadi menggunakan teknik "Cold Call" sebagai basis. Calon pelanggan akan dihubungi oleh telemarketer untuk membuat janji, kemudian apabila calon pelanggan bersedia, akan ada salesman yang berkunjung dan mencoba merayu Anda untuk membeli produk mereka. Saya juga menggunakan teknik yang sama bertahun-tahun yang lalu ketika menjual produk software di sebuah perusahaan software asing. Prinsipnya sederhana, dari sekian ratus orang yang ditelpon, ada sekian persen yang akan mau didatangi salesman, dari sekian puluh orang yang mau didatangi salesman, akan ada sekian persen yang mau membeli. Jadi kalau target sales Anda tidak tercapai, Anda harus menelpon lebih banyak lagi dan lebih banyak lagi. Dan percayalah, ini sangat melelahkan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Teknik "Cold Call" membuat seorang penjual harus berburu mengejar-ngejar calon pembeli, entah mereka membutuhkan atau tidak. Dan ini dapat sangat mengganggu calon pembeli. Tidak ada yang lebih menjengkelkan dari ditawari sesuatu yang tidak kita butuhkan. Teknik "Cold Call" tidak peduli itu. Teknik ini juga tidak mempertimbangkan betapa tidak nyaman nya di telpon atau tiba-tiba dikunjungi orang yang tidak dikenal, dan kemudian orang tidak dikenal tadi memaksa kita mengikuti kemauan mereka. Mungkin Anda pernah merasakan ditempel para penjual kartu kredit di mall-mall yang nyerocos tanpa mempedulikan kerepotan Anda membawa belanjaan, atau tiba-tiba rumah Anda kedatangan tamu penjual alat sedot debu yang memaksa demo, sementara Anda sedang ingin beristirahat bersama keluarga. Teknik "Cold Call" kurang peduli pada calon pelanggan. Teknik "Cold Call" membuat calon pembeli membenci penjual, dan sudah menciptakan jarak sejak awal. Lalu apakah ada alternatifnya?&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tentu ada. Frank J. Rumbauskas Jr. dalam buku nya "Never Cold Call Again!" menyebutkan "Self Marketing" sebagai alternatif yang jauh lebih sesuai dengan perkembangan jaman. Untuk memahami Self Marketing, Anda dapat membayangkan seorang dokter ahli yang laris manis. Yang reputasi nya sudah sangat diakui, dan mungkin untuk mendapatkan jasa nya Anda harus daftar dan antri berjam-jam. Perlukah dokter tadi menelpon calon pasien, untuk menawarkan jasa nya? Tidak perlu. Namun, mengapa orang rela antri berjam-jam? Karena nama dokter tadi sudah menjual diri nya sendiri. Bahkan jika Anda tidak tahu alamat dan nomor telpon dokter tadi, Anda akan bertanya kesana kemari atau googling di internet. Anda sebagai calon pembeli yang akan aktif mendatangi sang dokter, bukan sebaliknya. Dengan kata lain, jika Teknik "Cold Call" adalah "cara menjual, penjual aktif", maka teknik "self-marketing" adalah "cara menjual, pembeli aktif".&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Self Marketing tidak akan merendahkan Anda sebagai penjual, karena calon pembeli yang akan aktif mendatangi Anda. Dan yang lebih penting lagi, calon pembeli yang menghubungi Anda adalah orang yang tepat. Orang yang memang membutuhkan produk atau jasa Anda. Mereka tidak akan merasa terganggu, justru akan senang berbicara panjang lebar dengan Anda. Tapi bagaimana menerapkan Self Marketing?&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;h2&gt;Jadilah Sang Ahli&lt;br /&gt;&lt;/h2&gt;&lt;p&gt;Untuk dapat benar-benar melakukan Self Marketing, Anda harus menjadi ahli dalam bidang Anda, karena yang akan dijual adalah reputasi Anda. Misalnya Anda menjual software akuntansi, maka Anda memang harus dikenal sebagai orang yang ahli dalam software akuntansi. Orang dapat bertanya segala hal tentang akuntansi dan metoda pencatatan dalam komputer kepada Anda. Kalaupun Anda sendiri tidak mampu menjadi ahli, Anda dapat merekrut orang-orang yang benar-benar ahli, dan menjadikan mereka sebagai tim yang ahli. Track record Anda di masa lalu juga dapat menjadi referensi ke-ahli-an Anda. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;h2&gt;Pesan Yang Jelas&lt;br /&gt;&lt;/h2&gt;&lt;p&gt;Anda harus memiliki "pesan" yang jelas bagi para calon pelanggan Anda. Calon pelanggan haruslah dengan mudah memahami bidang apa yang Anda kuasai, dan solusi apa yang dapat Anda berikan untuk masalah mereka. Coba Anda teruskan kalimat saya berikut ini: "Ingat beras, ingat …….". Besar kemungkikan Anda akan langsung menyebut sebuah merk produk-produk elektronik yang berhasil memposisikan diri mereka sebagai produk untuk beras. Pesan mereka selama ini sangat jelas, sehingga menempel di benak kita semua. Nah bayangkan, jika Anda berhasil memiliki pesan yang jelas seperti itu sehingga orang akan selalu mengasosiasikan nama Anda dengan keahlian tertentu. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;h2&gt;Gunakan Pengungkit&lt;br /&gt;&lt;/h2&gt;&lt;p&gt;Semakin banyak orang yang mengetahui keahlian Anda, maka semakin banyak calon pelanggan untuk Anda. Teknik Cold Call memiliki kelemahan dimana hubungan selalu tercipta secara one to one. Anda hanya bisa menelpon satu orang setiap saat. Dengan Self Marketing, Anda dapat menggunakan pengungkit (leverage) untuk menciptakan lebih banyak calon pelanggan. Teknik yang dapat digunakan dapat memanfaatkan banyak media. Anda dapat membuat event yang mengukuhkan keahlian Anda, misalnya dengan seminar gratis tentang bidang keahlian Anda. Media masa juga dapat dimanfaatkan, misalnya dengan membuat artikel tentang keahlian Anda dan memuatnya di majalah. Teknik Cold Call dikembangkan sebelum ada internet. Leverage yang dapat diberikan oleh internet dalam Self Marketing sangat luar biasa. Misalnya dengan membuat blog tentang keahlian Anda, sehingga orang menjadikan blog Anda sebagai referensi, menciptakan mailing-list tentang bidang keahlian Anda sehingga Anda bisa terus berkomunikasi dengan market potensial Anda, memberikan email newsletter gratis untuk mengupdate calon pelanggan Anda dengan hal-hal terbaru, hingga memanfaatkan search engine optimization untuk membuat nama Anda mudah dicari melalui search engine.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;h2&gt;Ciptakan Sistem&lt;br /&gt;&lt;/h2&gt;&lt;p&gt;Dan yang tidak kalah penting adalah bagaimana membangun sistem untuk menjamin supply calon pelanggan. Pengungkit yang Anda gunakan haruslah menjadi bagian dari sistem yang idealnya berjalan secara "otomatis". Dengan teknologi internet hal ini semakin mudah, misalnya dengan memanfaatkan search engine untuk memandu pencari kata kunci tertentu ke website Anda, kemudian menyediakan download brosur, whitepaper, atau file gratis di website Anda, namun sekaligus Anda melakukan tracking siapa yang berminat terhadap produk Anda. Sehingga bukan Anda yang harus mengejar-ngejar calon pelanggan, namun sistem yang akan melakukan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dengan demikian, Self Marketing akan membuat orang semakin mengenal Anda meskipun Anda tidak sedang aktif melakukan penjualan. Anda akan dapat melakukan penjualan, tanpa berjualan. (FR)&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27366165-2925436348561362040?l=fauzirachmanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/feeds/2925436348561362040/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27366165&amp;postID=2925436348561362040' title='11 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/2925436348561362040'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/2925436348561362040'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/2008/02/menjual-tanpa-berjualan.html' title='Menjual Tanpa Berjualan'/><author><name>Fauzi Rachmanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14831845815996709974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_AFw7AVcDntE/ShJCO9gF3KI/AAAAAAAAAIQ/VVgCHydCDDU/S220/fauzi.jpg'/></author><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27366165.post-5354614798295432010</id><published>2008-01-10T17:54:00.001+07:00</published><updated>2008-01-10T17:54:06.079+07:00</updated><title type='text'>Sebatang Paku</title><content type='html'>&lt;span xmlns=''&gt;&lt;p&gt;Karena sebatang paku terlepas, lepaslah sepatu kuda;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Karena sepatu terlepas, terjatuhlah kuda;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Karena kuda terjatuh, pesan tidak terkirim ke garis depan; &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Karena pesan tidak terkirim, pasukan kalah perang;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Karena kalah perang, jatuhlah sebuah negara! &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Untaian kalimat bijak di atas adalah sebuah ungkapan lama, yang konon aslinya dari cerita Jepang. Mungkin Anda juga pernah membaca dalam berbagai versinya. Pertama kali mendengar saya langsung terkesan dan kemudian terus teringat. Bagaimana mungkin sebatang paku bisa menjatuhkan sebuah Negara? Bagaimana sebuah hal "sepele" ternyata membawa konsekuensi yang demikan besar? &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada tahun 1994 ketika Rudy Giuliani mulai menjadi walikota New York City, angka kriminalitas di NYC sangat tinggi. Pada kurun waktu 1994 hingga 2001, statistik menujukkan bahwa angka kriminalitas di NYC menurun sangat drastis. Bagaimana Rudy Giuliani melakukannya? Apakah dengan melakukan operasi perburuan kriminal besar-besaran a la film Hollywood? Bukan. Giuliani dan tim kepolisian NYPD berhasil menurunkan tingkat kriminalitas dengan memperbaiki "jendela pecah". Ini serius. Inilah yang oleh kriminolog disebut teori "broken windows". &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Asumsi nya begini, jendela pecah yang dibiarkan menimbulkan kesan bahwa sebuah rumah sudah tidak ada yang mengurus atau tidak ditinggali. Ini akan mendorong vandalisme dan tindakan anarki berikutnya. Misalnya memecah jendela yang lain, dinding yang dicoreti graffiti, hingga akhirnya lingkungan menjadi tempat nongkrong berandalan, dan seterusnya. Ini yang secara akumulatif menjadikan angka kriminalitas demikian tinggi. Sehingga untuk menurunkan kriminalitas harus dimulai dari hal kecil, seperti memperbaiki jendela pecah tadi. Menurut Giuliani: "You had to pay attention to small things, otherwise they would get out of control and become much worse." Giuliani memperhatikan hal kecil, memperhatikan "paku di sepatu kuda" nya supaya tidak lepas. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Para pengusaha sukses umumnya juga dikenal sebagai orang-orang yang sangat memperhatikan hal kecil. Pengembang waralaba McDonald's Ray Kroc terkenal memiliki obsesi yang luar biasa terhadap kecepatan dan kebersihan. Anda boleh berdebat soal rasa burger McDonald's, tapi siapapun pasti terkesan dengan kecepatan pelayanan dan kebersihan restoran McDonald's. Howard Schultz, orang yang berhasil mengembangkan Starbuck menjadi kedai kopi terbesar di dunia juga sangat memperhatikan detail. Tahun lalu Schultz, sebagai chairman, menulis memo nya yang mengkritik para eksekutif Starbuck yang kurang memperhatikan hilangnya "Starbuck Experience", misalnya mesin expresso yang menghilangkan keakraban dengan customer, packaging biji kopi yang mengutamakan kesegaran namun menghilangkan aroma, hingga desain outlet. Tahun ini Schultz kembali menjadi CEO, dan kita akan lihat apa gebrakannya. Pendiri Apple, Steve Jobs mungkin adalah satu-satu nya pemimpin perusahaan teknologi beromset milyaran dollar, yang masih ikut mendesain sendiri rancangan tangga pada outlet-outlet Apple. Perhatiannya pada hal detail yang sering dianggap sepele sangat luar biasa. Hingga hari ini, kalau membicarakan produk Apple, entah itu komputer, iPod hingga iPhone, mau tidak mau Anda akan mengakui desainnya yang sangat inofatif, efisien, stylish dan elegan. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dengan menyadari bahwa hal kecil dapat berdampak besar, kita juga dapat mulai belajar untuk menjadi seperti Giuliani, Ray Kroc, Howard Schultz ataupun Steve Jobs. Sekalipun usaha atau organisasi kita belum sebesar mereka. Ada empat hal sederhana yang dapat kita terapkan:&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;h2&gt;Segera Perbaiki&lt;br /&gt;&lt;/h2&gt;&lt;p&gt;Teori "broken windows" sangat relevan dalam kehidupan kita sehari-hari. Coba perhatikan seisi rumah Anda. Adakah keran air yang bocor tapi belum diperbaiki? Adakah lampu yang mati tapi belum diganti? Adakah atap yang bocor belum diperbaiki? Adakah selokan yang mampet belum dibersihkan? Dst. Kalau menurut teori "broken windows", maka kerusakan kecil seperti itu harus segera diperbaiki, karena dapat mendorong kerusakan yang lebih besar. Yang ujung-ujung nya biaya yang lebih besar. Seringkali rantai kerusakannya diluar dugaan kita. Misalnya, kebocoran keran air ternyata memicu kerusakan pompa air, kerusakan pompa air memicu hubungan pendek dan listrik mati, listrik mati mendadak memicu rusaknya kulkas, dst. Lho kok lancar ya menceritakannya? Soalnya ini pengalaman pribadi, hehehe … &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kalau dalam bisnis, kerusakan kecil yang tidak diperbaiki juga menggambarkan kondisi organisasi Anda. Pernahkah Anda datang ke sebuah kantor atau toko yang lampu neonnya terus berkedip-kedip dan tidak diperbaiki, atau plafond atapnya sudah jebol namun dibiarkan. Bagaimana perasaan Anda? Pasti sangat tidak nyaman berada disana. Orang akan berpikir, memperbaiki hal-hal kecil saja tidak bisa, apalagi hendak berurusan dengan hal-hal yang lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;h2&gt;Ciptakan Standar&lt;br /&gt;&lt;/h2&gt;&lt;p&gt;Sebagai penggemar makanan enak, saya memiliki beberapa tempat makan favorit. Beberapa diantaranya sudah menjadi langganan saya sejak saya masih kuliah. Beberapa waktu yang lalu saya mampir di salah satu warung sate langganan saya dulu. Ternyata rasa nya sudah sangat berubah. Saya amati memang generasi yang mengurus warung tadi juga sudah berganti. Dan generasi penerus rupanya tidak mengikuti standar yang telah ditetapkan oleh pelopornya dahulu. Seperti halnya dalam "process industry", menciptakan makanan enak yang konsisten itu ada standar baik dalam bahan atau prosesnya. Sama-sama membuat sate, tapi dengan mengganti merk kecap, mengganti arang dengan pemanggang lain, atau menambah waktu memanggang sedikit saja, hasil akhirnya bisa jauh berbeda.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Untuk menghidari perubahan-perubahan kecil yang dapat berdampak besar, maka diperlukan standar. Standar tadi tidak cukup hanya di mulut saja, namun sebaiknya di dokumentasi kan dengan baik, supaya dapat menjadi referensi tetap. Tidak perlu dokumentasi yang canggih-canggih, yang penting standar pekerjaan terdokumentasi dan dapat dikomunikasikan dengan mudah. Perusahaan yang sudah mewaralabakan usaha nya, sangat pandai dalam hal ini. Tidak hanya standar dalam pembuatan produknya sendiri, namun hingga standar kebersihan dan standar perilaku karyawan. Semua sudah diatur berapa kali lantai harus dipel, berapa kali toilet harus dibersihkan dsb, hingga bagaimana cara menyapa pelanggan. Di beberapa perusahaan yang sangat memperhatikan pelanggan, bahkan diatur berapa kali harus menyapa pelanggan dengan sebutan nama.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;h2&gt;Semua Terlibat&lt;br /&gt;&lt;/h2&gt;&lt;p&gt;Memastikan bahwa tidak ada "paku yang terlepas" bukan hanya pekerjaan satu orang saja. Namun butuh keterlibatan semua pihak, dari pemilik usaha hingga anggota tim terbawah. "Ignorance" adalah awal dari terjadinya paku yang terlepas. Jika ada yang menemukan kerusakan atau kejadian diluar standar, siapapun orangnya, harus segera mengambil tindakan. Mentalitas "ah cuma begitu doang" harus dibuang. Biasanya pemilik usaha adalah pihak paling rewel karena rasa memiliki yang besar. Ray Kroc semasa hidupnya mengepel sendiri restorannya. Saya pernah melihat pemilik usaha travel terbesar di Bandung, yang memiliki ratusan karyawan, pagi-pagi sedang merapikan counter. Tapi pemilik usaha tidak selamanya bisa berada di lokasi usaha. Jadi anggota tim di semua lini harus memiliki keterlibatan yang sama. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;h2&gt;Terbuka Terhadap Kritik&lt;br /&gt;&lt;/h2&gt;&lt;p&gt;Kritik, baik dari diri kita sendiri, sesama anggota tim, apalagi dari pelanggan, merupakan cara terbaik mengetahui adanya "paku yang akan lepas". CEO Starbuck Howard Schultz memberi contoh otokritik yang sangat baik. Saya pernah mendapat kritik tajam dari salah satu klien kami, karena panggilan ke support center kami (kebetulan) di angkat oleh seorang office boy. Hal tersebut tidak dapat diterima, karena seharusnya operator yang menerima telpon adalah orang yang mengetahui persoalan, dan dapat melakukan tindak lanjut. Hal ini masuk akal. Kritik tersebut menjadi masukan yang sangat berharga bagi kami dalam meningkatkan mutu layanan kami, sebelum kejadian yang sama membuat klien lain merasa tidak nyaman.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bagaimana dengan Anda? Apakah ada sebatang paku di sepatu kuda Anda yang hampir terlepas? Ayo segera perbaiki! (FR)&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27366165-5354614798295432010?l=fauzirachmanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/feeds/5354614798295432010/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27366165&amp;postID=5354614798295432010' title='12 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/5354614798295432010'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/5354614798295432010'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/2008/01/sebatang-paku.html' title='Sebatang Paku'/><author><name>Fauzi Rachmanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14831845815996709974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_AFw7AVcDntE/ShJCO9gF3KI/AAAAAAAAAIQ/VVgCHydCDDU/S220/fauzi.jpg'/></author><thr:total>12</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27366165.post-2513857150509844854</id><published>2008-01-07T14:59:00.001+07:00</published><updated>2008-01-07T14:59:15.186+07:00</updated><title type='text'>Simple-ology</title><content type='html'>&lt;span xmlns=''&gt;&lt;p&gt;Berapa di antara Anda yang pernah punya keinginan memiliki perusahaan IT yang sukses? Saya duga cukup banyak. Saya termasuk diantaranya. Apalagi sewaktu boom dot com pertengahan 90 an dulu, hampir setiap anak kuliahan terinspirasi untuk menjadi seperti Bo Peabody, founder Tripod.Com yang pada tahun 1997 sukses menjual perusahaanya senilai $ 58 juta (hebatnya lagi Tripod waktu itu belum pernah untung). &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun kalau kita perhatikan, dari mungkin sekian juta orang di dunia yang ingin memiliki perusahaan (berbasis) IT yang sukses, maka hasilnya bisa sangat berbeda, misalnya:&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Pertama, ada yang tidak pernah memulai membuat perusahaan IT sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kedua, ada yang kemudian membuat perusahaan IT, namun tidak berhasil, dan berhenti.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ketiga, ada yang malah menekuni dan mengerjakan hal-hal lain. Dan setiap malam merenung, kenapa saya tidak memiliki perusahaan IT yang sukses.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Keempat, ada yang betul-betul membangun perusahaan berbasis IT, sukses besar dan kaya raya seperti Bill Gates (Microsoft), Jeff Bezos (Amazon), Larry Page &amp;amp; Sergey Brin (Google), dsb. &lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;Dari satu keinginan yang sama, yaitu membangun perusahaan IT yang sukses. Ternyata hasilnya akhirnya bisa berbeda-beda. Mengapa?&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mark Joyner memberikan cara pandang menarik dalam bukunya yang sangat luar biasa: "Simple-ology: The Simple Science of Getting What You Want". Sederhana nya begini, menurut Joyner, kita seringkali tidak berhasil mewujudkan apa yang kita inginkan karena mengabaikan hukum pertama dari simple-ology, yaitu: "jarak terdekat dari dua titik adalah sebuah garis lurus".&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam teori sungguh simple bukan? Namun dalam praktek, kenyataanya memang kita sering melakukan hal-hal yang tidak relevan dengan tujuan utama yang ingin kita capai. Ibaratnya bukannya membuat garis lurus yang tegas diantara dua titik, kita seringkali malah membuat garis berbelok-belok, memutar kesana kemari tidak menentu. Ketidak-sederhana-an ini yang seringkali akhirnya membuat kita lupa tujuan kita sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya punya teman yang sedang membangun usaha jasa konsultan. Bersama tim mereka yang terdiri dari sejumlah pakar bergelar Doktor, Master dengan sertifikasi professional yang berderet, saya nilai usahanya cukup potensial. Apalagi knowledge yang dimiliki teman saya tadi tergolong sangat dicari perusahaan-perusahaan besar dewasa ini. Sayangnya usahanya hingga lebih dari satu tahun kurang berkembang. Yang membuat saya heran, setiap saya bertemu dengan teman saya tadi, topik pembicaraan yang dibicarakan selalu itu-itu saja: masalah ruangan untuk kantor. Rupanya, bagi teman saya tadi, membangun perusahaan jasa konsultan berarti memiliki ruangan kantor yang representatif dan nyaman di lokasi strategis. Sehingga, selalu saja masalah ruangan kantor menjadi "topic of the month" di perusahaan mereka. Mulai dari mencari lokasi, memilih diantara berbagai alternative lokasi, kemudian masalah renovasi, memilih furniture, warna cat yang sesuai corporate color, dsb. Hal-hal yang menurut saya jauh dari relevan dengan upaya menjual jasa mereka. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Padahal kalau mau menjual jasa konsultasi menurut saya ya straight to the point saja: Berjualanlah ke calon klien yang butuh dan punya uang. Dapatkan kontraknya. Kerjakan projectnya. Kemudian tagih uangnya. Mission accomplished. Simple. Bagaimana dengan ruang kantor? Siapa yang butuh ruang kantor kalau sebagaian besar waktu kita habiskan di lokasi klien. Bagaimana dengan alamat yang representative? Haloo … kemana saja?, apakah Anda belum pernah mendengar "virtual office" yang siap disewa di lokasi-lokasi terbaik di Jakarta? Bagaimana kalau mau meeting? Ini lebih mudah lagi, percayalah, klien lebih senang meeting di kantornya. Wah jadi tidak usah investasi bangunan, ruangan, peralatan kantor?. Lha kok enak? Ya memang jadi konsultan itu enak, bayarannya gede lagi, hehehe …&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Point nya adalah, dengan berpikir menurut "prinsip garis lurus" tadi, hal-hal yang tidak secara langsung relevan dengan bagaimana menghasilkan uang kita kesampingkan dulu. Meskipun contoh di atas adalah usaha jasa konsultan, prinsip ini umum, sehingga Anda bisa aplikasikan dalam model bisnis Anda sendiri. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Anda dapat menyederhanakan banyak hal, dengan mengacu pada 3 kesederhanaan (simplicity) berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;h2&gt;Simplicity in Purpose&lt;br /&gt;&lt;/h2&gt;&lt;p&gt;Anda dapat meninjau kembali tujuan Anda. Jangan-jangan tujuan Anda sendiri sudah njlimet. Analogi paling mudah adalah program komputer. Setiap program komputer yang terinstal di komputer Anda ditulis dengan tujuan tertentu. Misalnya, MS Word untuk word-processing, MS Excel untuk spreadsheet, MS PowerPoint untuk membuat presentasi dan MS Internet Explorer untuk membaca blog saya, (hehehe ... tentu boleh juga kalau mau dipakai untuk sekedar browsing). Setiap baris kode program-program tadi ditulis sesuai dengan tujuan pembuatan program tadi. Bagaimana jika tujuan-tujuan tadi mencoba ditumpuk bersama? Bisa dibayangkan penulisan programnya harus banyak berkompromi dengan berbagai tujuan tadi, sehingga yang dihasilkan adalah program yang tidak "lean" dan tidak efisien.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;h2&gt;Simplicity in Method&lt;br /&gt;&lt;/h2&gt;&lt;p&gt;Mungkin tujuan Anda sebenarnya cukup sederhana: Pergi ke dari Jakarta ke Bandung. Namun banyak cara menuju Bandung. Anda bisa menggunakan mobil lewat jalan tol Cipularang, menggunakan kereta api lewat stasiun Gambir, menggunakan pesawat terbang lewat Bandara Soekarno-Hatta. Hmmm … karena sekarang sudah tidak ada flight Jakarta – Bandung, maka Anda bisa gunakan flight Jakarta – Surabaya, dan Surabaya – Bandung. Metoda mana yang paling simple? Anda pasti bisa menjawabnya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;h2&gt;Simplicity in Execution&lt;br /&gt;&lt;/h2&gt;&lt;p&gt;Katakanlah tujuan Anda sudah cukup sederhana. Metoda yang Anda pilih juga adalah yang paling sederhana. Namun, masih ada satu jebakan lagi, yaitu kerumitan dalam eksekusinya. Bertahun-tahun yang lalu, saya (yang waktu itu masih berusia 20 tahun) pernah menjadi seksi perlengkapan dalam sebuah acara di kampus. Kami ingin membuat acara yang sederhana. Dengan panggung sederhana, dan backdrop sederhana dengan sebuah tulisan yang sederhana. Jenis huruf dan bahan pun sangat sederhana. Kami membuat huruf-huruf dari karton yang digunting. Simple dan cepat sekali bikinnya. Yang tidak sederhana ternyata adalah bagaimana melekatkan tulisan2 tadi di dinding belakang panggung! Ternyata susah sekali. Saya bahkan masih melekatkan huruf-huruf terakhir ketika tamu-tamu mulai berdatangan. Rasa malu nya betul-betul tidak sederhana.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mark Joyner masih memiliki 4 prinsip lagi dalam Simple-ology. Tapi yang paling penting adalah "prinsip garis lurus" di atas. Lagipula tulisan ini pun saya maksudkan untuk sederhana. Sehingga meskipun masih banyak yang ingin saya sampaikan, terpaksa harus saya akhiri supaya tetap sederhana. Ah, jangan berlama-lama membaca, silakan mencoba menerapkan Simple-ology. (FR).&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27366165-2513857150509844854?l=fauzirachmanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/feeds/2513857150509844854/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27366165&amp;postID=2513857150509844854' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/2513857150509844854'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/2513857150509844854'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/2008/01/simple-ology.html' title='Simple-ology'/><author><name>Fauzi Rachmanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14831845815996709974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_AFw7AVcDntE/ShJCO9gF3KI/AAAAAAAAAIQ/VVgCHydCDDU/S220/fauzi.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27366165.post-188211480256967772</id><published>2008-01-07T01:17:00.001+07:00</published><updated>2008-01-07T01:27:28.252+07:00</updated><title type='text'>Tangan (Tetap) Di Atas</title><content type='html'>&lt;span xmlns=""&gt;&lt;p&gt;Jim Braddock adalah petinju yang sama sekali tidak diunggulkan. Lawan dalam pertarungan saat itu adalah Max Baer, juara dunia kelas berat yang demikian ganasnya sampai pernah menewaskan dua lawan sebelumnya. Sementara Jim bertinju sekedar untuk bertahan hidup, bahkan sering sekedar untuk dapat menyediakan makan malam bagi keluarganya. Amerika Serikat di awal tahun 30-an adalah masa "great depression" dengan puncaknya kejatuhan pasar saham tahun 1929. Dampaknya langsung dirasakan James Braddock dan keluarganya. Petinju yang sangat berbakat itupun harus lebih sering bekerja sebagai kuli di galangan kapal daripada berlatih tinju. Namun, melawan Max Baer yang diunggulkan 10 : 1, ternyata James mampu bertahan, bahkan kemudian memenangkan pertarungan 15 ronde yang sangat ketat dan brutal. James Braddock kemudian tercatat sebagai juara dunia tinju kelas berat dari tahun 1935 hingga 1937.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dibalik keberhasilan Jim, adalah Joe Gould, manager dan sahabat Jim yang selalu memompakan semangat kedalam diri Jim. Padahal kehidupan Joe sendiri juga bukanlah tanpa persoalan. Meskipun tinggal di apartemen berkelas dan selalu tampil selayaknya manager sukses, Joe sebenarnya dalam kondisi nyaris bangkrut. Apartemen mewahnya, ternyata di dalamnya sudah kosong nyaris tanpa perabotan. Ada satu kalimat dari Joe Gould yang menjelaskan mengapa sekalipun dalam kondisi bangkrut, Joe, dengan pakaian yang selalu rapih, terus berusaha bernegosiasi memperoleh pertandingan yang baik untuk Jim. Kalimat yang sama, yang selalu diingatkannya kepada Jim, agar dapat bertahan dari gempuran pukulan lawan. Yaitu, "Always keep your hands up.". Jaga tanganmu tetap di atas!&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Demikianlah kisah nyata perjalanan hidup James Braddock, yang diceritakan dalam film Cinderella Man yang dibintangi Russel Crowe.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menjalankan bisnis bagi saya ada persamaanya dengan perjuangan petinju di atas ring. Butuh keberanian dan perjuangan untuk mendapat kesempatan bertanding di atas ring. Namun butuh perjuangan yang lebih besar lagi untuk dapat bertahan di atas ring. Butuh perjuangan untuk memulai usaha. Namun jangan lupa, akan perlu perjuangan yang lebih keras lagi untuk membuat usaha Anda bertahan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Paling tidak demikianlah pengalaman saya. Pada masa awal memulai usaha, sama seperti kebanyakan pengusaha pemula, semangat saya begitu berkobar. Namun dalam beberapa bulan, ketika cash outflow selalu lebih besar dari cash inflow, dapat Anda bayangkan, usaha saya dengan cepat berubah menjadi petinju kurang tenaga yang hanya dapat berjalan seperti zombie. Pukulan-pukulan tajam dari kreditor yang datang menagih, mulai terasa sangat menyakitkan. Apalagi pukulan-pukulan balasan dalam bentuk usaha penjualan yang sekuat tenaga coba saya lontarkan dengan sisa tenaga, hanya mengenai tempat kosong, alias gagal total. Ibarat petinju, usaha saya sudah terpojok di sudut ring, dan yang bisa saya lakukan hanyalah menjaga "tangan tetap di atas", agar tidak terkena pukulan mematikan. Seperti kata Joe Gould, "Always keep your hands up."&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kalau dalam bisnis, konkretnya seperti apa "menjaga tangan tetap di atas" tadi. Tentu dapat berbeda-beda tergantung situasi yang Anda hadapi. Kalau dalam kasus saya dahulu, ada tiga hal yang saya lakukan untuk dapat bertahan di atas ring bisnis saya. Tiga prinsip yang saya sebut sebagai prinsip "Tangan Tetap di Atas".&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;h2&gt;Tidak pernah lari. Tidak pernah bersembunyi.&lt;br /&gt;&lt;/h2&gt;&lt;p&gt;Ketika Anda memiliki kewajiban usaha, Anda pasti dicari-cari orang. Cara mudah yang paling sering ditempuh adalah "menghilang". Mulai dari tidak mengangkat telpon, berganti nomor telpon, tidak merespon surat, email, selalu tidak ada di rumah, hingga ekstrimnya pindah tempat tinggal. Apakah masalahnya kemudian selesai? Bisa ditebak, biasanya malah lebih parah, karena pihak lain yang semula masih mau bicara baik-baik, kini sudah kehilangan kesabaran. Lebih buruk lagi, dengan sulit dihubungi, tidak mau menerima telpon, atau bahkan menghilang, maka peluang-peluang pun ikut pergi. Ketika punya masalah, memang setiap kali telpon berdering, kadang membawa beban ketakutan. Namun, siapa tahu kalau yang menelpon adalah orang yang akan memberi order, bukan debt collector? Lagipula tidak ada alasan untuk lari, karena toh yang kita hadapi manusia juga, yang masih memiliki hati nurani dan rasa hormat kepada sesama manusia.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sewaktu menghadapi masalah, memang selalu ada godaan untuk diam merenung di rumah. Kalau buat saya ini malah menambah stress. Untuk menghilangkannya saya memilih untuk selalu melakukan sesuatu pekerjaan setiap hari. Saya ingat, dulu setiap pagi saya membuat catatan apa yang akan saya lakukan hari ini, siapa yang akan saya telpon, siapa yang akan saya temui. Dan saya kadang kaget sendiri karena jadwal saya luar biasa padat. Begitu banyak orang yang saya temui, bahkan kadang sekedar meeting-meeting tidak penting. Paling tidak bertemu orang membuat saya tidak memikirkan "masalah" lagi, bahkan kemudian terbukti pertemuan-pertemuan tadi membawa peluang-peluang baru.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;h2&gt;Lihat fakta, bukan opini.&lt;br /&gt;&lt;/h2&gt;&lt;p&gt;Dalam masa sulit, maka biasanya penilaian kita akan dikaburkan oleh opini. Sewaktu upaya-upaya penjualan saya tidak membawa hasil, sementara kewajiban semakin menumpuk, yang mengemuka di pikiran saya adalah opini, bahwa saya nyaris bangkrut, bahwa bisnis saya sudah "habis", bahwa saya punya banyak hutang, dan sebagainya. Semuanya hanyalah opini. Yang segera masuk ke perasaan, dan terasa sangat berat. Padahal ketika saya mencoba mengurai fakta nya, maka situasinya lebih mudah dipahami dan dicari penyelesaiannya. Dan fakta dalam bisnis adalah angka-angka rupiah yang mudah dihitung. Saya kemudian mengesampingkan opini dan perasaan, dan masuk ke dalam detil angka. Berapa rupiah kewajiban saya, berapa rupiah piutang saya di luar, berapa rupiah saya bisa mendapat pinjaman pihak lain. Atas dasar analisa angka-angka tadi, saya dengan mudah dapat menawarkan solusi kepada kreditor untuk membayar kewajiban secara bertahap. Fakta berupa angka-angka tadi menjadi panduan yang sangat baik untuk segera keluar dari masalah.  &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;h2&gt;Hanya memikirkan peluang.&lt;br /&gt;&lt;/h2&gt;&lt;p&gt;Pada awalnya ini mungkin bentuk dari pelarian saja. Karena berpikir tentang peluang jauh lebih menyenangkan daripada memikirkan persoalan. Jadi saya lebih suka memikirkan peluang-peluang dibanding masalah yang waktu itu saya hadapi. Pada masa sulit, saya telah menyusun puluhan proposal dan melakukan puluhan presentasi, sekalipun tidak semua membawa hasil. Dan ajaibnya, memikirkan peluang dan selalu melakukan sesuatu setiap hari, ternyata menarik lebih banyak ide, peluang dan orang, yang kemudian sangat membantu dalam bisnis saya. Dan ketika peluang berhasil kami wujudkan dalam bisnis yang nyata, yang menghasilkan cash inflow, maka masalah selesai dengan sendirinya. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Demikian tiga prinsip sederhana yang dulu pernah membuat saya bertahan untuk tidak KO. Semoga mengilhami Anda untuk memiliki prinsip sendiri agar selalu dapat menjaga "Tangan Tetap di Atas", tidak peduli seberat apapun pukulan-pukulan yang Anda hadapi di atas ring bisnis Anda. (FR).&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27366165-188211480256967772?l=fauzirachmanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/feeds/188211480256967772/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27366165&amp;postID=188211480256967772' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/188211480256967772'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/188211480256967772'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/2008/01/tangan-tetap-di-atas.html' title='Tangan (Tetap) Di Atas'/><author><name>Fauzi Rachmanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14831845815996709974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_AFw7AVcDntE/ShJCO9gF3KI/AAAAAAAAAIQ/VVgCHydCDDU/S220/fauzi.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27366165.post-1038247032235389295</id><published>2007-11-15T18:44:00.001+07:00</published><updated>2007-11-15T18:44:11.029+07:00</updated><title type='text'>Inersia</title><content type='html'>&lt;span xmlns=''&gt;&lt;p&gt;Pernahkah Anda mendorong mobil yang mogok? Kebetulan saya pernah. Berat sekali pada awalnya. Baru setelah mobil mulai bergerak, akan terasa ringan. Fenomena ini dijelaskan oleh Sir Isaac Newton dalam konsep "inertia" yang merupakan bagian penting dari hukum Newton tentang gerak. Apakah itu inersia? Karena saya bukan fisikawan, secara gampang saja, konsep inersia dapat dipahami dalam kalimat sebagai berikut: "bahwa benda yang diam akan cenderung diam, dan benda yang bergerak akan cenderung bergerak". Jadi sebuah benda yang dalam keadaan diam, akan cenderung mempertahankan keadaan diamnya. Itulah kenapa sebuah mobil yang diam memerlukan gaya yang lebih besar untuk dapat bergerak, dibanding ketika mobil tersebut sudah bergerak. Dan karena inersia juga,maka ketika Anda sedang melaju di jalan tol dengan kecepatan tinggi dan melakukan pengereman mendadak, maka tubuh Anda akan terdorong ke depan, karena tubuh Anda yang sedang bergerak maju akan cenderung mempertahankan gerak maju. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Apa hubungannya dengan bisnis? Ternyata, konsep inersia tersebut tidak hanya berlaku untuk benda dan gerak benda, namun juga dapat dianalogikan kedalam bisnis dan gerak bisnis:&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;h2&gt;Deperlukan "gaya" untuk dapat membuat bisnis yang diam mulai bergerak.&lt;br /&gt;&lt;/h2&gt;&lt;p&gt;Ini bukan gaya dalam pengertian "style", namun gaya yang dalam bahasa Inggrisnya disebut "force". Ketika Anda memulai bisnis dari nol, maka usaha Anda dapat diibaratkan seperti sebuah benda diam. Yang sesuai hukum Newton, akan mempertahankan keadaan diamnya. Seperti halnya mendorong mobil dalam keadaan diam tadi. Makanya Anda tidak perlu heran, pada tahap awal bisnis, memang dibutuhkan force yang besar untuk membuat bisnis Anda mulai bergerak. Demikan juga Anda yang sudah memiliki bisnis yang sudah bergerak dengan kecepatan yang bagus, harus dijaga jangan sampai bisnis mengalami perlambatan atau bahkan berhenti. Karena, nantinya akan butuh gaya yang besar untuk membuatnya bergerak kembali. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;h2&gt;Percepatan bisnis Anda dipengaruhi oleh besarnya "massa" bisnis Anda.&lt;br /&gt;&lt;/h2&gt;&lt;p&gt;Dalam pengalaman keseharian, jelas lebih sulit mendorong truk dibanding motor misalnya. Karena massa truk yang lebih besar, maka dibutuhkan gaya yang lebih besar untuk membuat truk bergerak atau berubah kecepatannya. Demikian juga, semakin besar bisnis Anda, perlu gaya yang lebih besar untuk membuat bisnis Anda yang semula diam menjadi bergerak, ataupun membuat bisnis mengalami percepatan (perubahan kecepatan). "Gaya" tadi kalau dalam bisnis dapat berupa sumber daya manusia, waktu, modal, dsb. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Inilah kenapa dalam berbisnis selain mempertahankan kecepatan kita juga harus menjaga "massa" atau ukuran bisnis kita. Ketika bisnis Anda sudah bergerak, maka dengan ukuran bisnis yang semakin besar, Anda akan memperoleh percepatan yang lebih baik. Tidak salah makanya jika Anda melakukan eskpansi atau penambahan ukuran bisnis Anda, ketika sudah memperoleh kecepatan yang bagus. Sebaliknya, ketika bisnis Anda terhenti, untuk mempermudah agar bergerak kembali, salah satu cara yang dapat ditempuh adalah dengan mengurangi "massa" nya terlebih dahulu, supaya gaya yang diperlukan untuk membuat bisnis Anda bergerak kembali tidak terlalu besar.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;h2&gt;Gerak bisnis Anda adalah resultant dari beberapa gaya yang mempengaruhi bisnis Anda.&lt;br /&gt;&lt;/h2&gt;&lt;p&gt;Ketika Anda melempar sebuah bola ke depan, mengapa bola tidak terus bergerak lurus ke depan, namun bergerak melengkung dan jatuh ke bumi? Jawabannya karena selain terpengaruh gaya dorong lemparan yang Anda lakukan, bola juga terpengaruh gaya gravitasi yang menarik bola ke bumi. Demikian sebuah mobil yang dipasang rem tangan, akan sulit sekali di dorong, karena selain gaya dorong yang berlaku, ada gaya gesek dari rem tangan yang sangat kuat. Mungkin Anda merasa sudah memberikan "gaya dorong" yang sangat kuat kepada bisnis Anda, namun bisnis Anda masih tidak mau bergerak. Maka Anda harus memeriksa, mungkin ada "gaya-gaya" lain yang mempengaruhi bisnis Anda. Yang bisa jadi bahkan berlawanan dengan gaya dorong Anda. Seperti halnya gaya gesek rem tangan tadi. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya bahkan sempat mengalaminya. Dulu saya pernah mati-matian berjualan sebuah software online trading yang sangat bagus. Namun, bisnis saya tidak dapat bergerak, karena regulasi pada waktu itu tidak memungkinkan software yang saya jual untuk segera digunakan. "Gaya" yang saya berikan dalam bentuk modal, tenaga kerja, infrastruktur dan waktu, kalah dengan gaya gesek dari regulasi yang lebih kuat. Namun hal ini tidak selalu dalam pengertian negative. Misalnya, pengalaman saya belakangan dalam menjual software tools untuk membantu perusahaan menerapkan pengelolaan infrastruktur IT. Meskipun "gaya" yang saya kerahkan tidak sebesar sebelumnya, namun hasilnya justru jauh lebih baik. Usaha saya menggelinding dengan mudah. Ini karena ada faktor "gaya" lain yang positif, yaitu semakin banyaknya perusahaan yang menerapkan "best practice" pengelolaan IT, baik karena regulasi, ataupun dalam rangka good governance. Ini mirip mendorong mobil di jalanan menurun, menjadi ringan karena dibantu gaya gravitasi.  Mungkin Anda punya contoh lain?&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;h2&gt;Dalam keadaan bergerak, bisnis Anda akan sulit berhenti.&lt;br /&gt;&lt;/h2&gt;&lt;p&gt;Bisnis yang sudah jalan akan cenderung berjalan, kecuali ada gaya yang membuatnya berhenti. Ketika sebuah mobil sudah melaju kencang, sekalipun Anda matikan mesinnya, akan terus berjalan. Tentu saja hingga ada gaya yang membuatnya berhenti, misalnya gaya gesekan dari roda, gesekan rem, dsb. Makanya ketika bisnis sudah berjalan dengan baik, sebetulnya memiliki momentum untuk melaju dengan lancar. Dengan demikian tugas kita sebagai pemilik bisnis sesungguhnya adalah memastikan bahwa tidak ada gaya yang dapat memperlambat atau menghentikan laju bisnis kita.  Contohnya, suatu ketika bisnis Anda kebanjiran order, tapi ternyata Anda tidak punya SDM yang cukup, atau Anda tidak mampu membeli bahan baku karena modal kerja Anda habis untuk investasi aktiva tetap, dsb. Dalam hal ini, akibat pengelolaan sumberdaya yang tidak sejalan dengan percepatan usaha, maka usaha yang sedang berjalan bagus tiba-tiba seperti direm mendadak.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Terakhir, pelajaran yang paling penting untuk diingat adalah, bagi Anda yang masih diam belum berani mencoba berbisnis. Ingat prinsip inersia. Semakin Anda diam, semakin berat nanti Anda untuk menggerakkan bisnis Anda. Dan ketika Anda sudah mencoba, maka gerak sekecil apapun akan membuat gerak bisnis berikutnya menjadi lebih mudah. (FR)&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27366165-1038247032235389295?l=fauzirachmanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/feeds/1038247032235389295/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27366165&amp;postID=1038247032235389295' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/1038247032235389295'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/1038247032235389295'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/2007/11/inersia.html' title='Inersia'/><author><name>Fauzi Rachmanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14831845815996709974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_AFw7AVcDntE/ShJCO9gF3KI/AAAAAAAAAIQ/VVgCHydCDDU/S220/fauzi.jpg'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27366165.post-5988337695386448241</id><published>2007-11-13T11:43:00.001+07:00</published><updated>2007-11-13T11:43:08.194+07:00</updated><title type='text'>Detachment</title><content type='html'>&lt;span xmlns=''&gt;&lt;p&gt;"Habis Gue …. " Demikian ungkap salah seorang teman saya sambil tertunduk lesu. Maklum, usaha nya sedang mengalami banyak cobaan. Saya bertanya, "Yang habis, Lu apa bisnis Lu?". Teman tadi langsung menjawab galak "Apa beda nya … !!". Ya, apa beda nya? Bagi seorang pengusaha, apalagi kelas pemula seperti kami, memang sulit memisahkan antara kami sebagai pemilik bisnis, dengan bisnis yang kami kelola. Bisnis yang kami bangun adalah mimpi yang dari nol kami perjuangkan mati-matian. Kami bukan hanya sebagai pemilik, namun juga sekaligus tenaga penjualan, bagian delivery, pelayanan pelanggan, hingga bagian keuangan. Dari bangun tidur sampai tidur lagi hanya bisnis ini yang kita pikirkan dan kerjakan. Bagaimana mungkin memisahkan kami dengan bisnis kami? &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Demikian melekatnya sang pemilik bisnis kepada usahanya. Umumnya yang paling gampang dilihat adalah, uang bisnis adalah uang pemilik, utang bisnis pun adalah utang pemilik. Makanya tidak heran, ketika usaha nya sedang sehat pemilik ikut sehat, namun sebaliknya ketika usahanya sakit, pemiliknya ikutan sakit. Nah ini yang jadi sedikit merepotkan. Karena memang yang namanya bisnis, fluktuasi sering terjadi. Akhirnya, jika maksud menjalankan bisnis sendiri adalah untuk mencapai kebebasan waktu, kebebasan keuangan, bebas dari stress pekerjaan, dsb. Akhirnya malah tidak bebas waktu, tidak bebas keuangan, bahkan hidup menjadi "stress-full". &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tentu bukan hal seperti itu yang kita inginkan. Bisnis seharusnya justru mencerahkan dan membawa kebahagiaan. Dalam hal ini ada satu prinsip dasar dalam mengelola bisnis dengan bebas-stress yang sering dilupakan, yaitu prinsip "bebas dari keterikatan" (detachment). &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;h2&gt;Anda Bukan Bisnis Anda&lt;br /&gt;&lt;/h2&gt;&lt;p&gt;Ini prinsip dasar yang harus Anda pegang. Bahwa Anda bukanlah bisnis Anda. Anda juga bukan pekerjaan Anda. Mengidentifikasikan diri Anda dengan bisnis atau pekerjaan Anda seperti mengidentifikasikan pemain sepak bola dengan seragam tim-nya. Seragam tim bisa berganti-ganti, namun seorang pemain bola yang baik akan selalu menjadi pemain bola yang baik. Demikian pula diri Anda yang sejati adalah mulia, bahagia dan berkelimpahan. Bisnis hanyalah salah satu sarana untuk mengalami keberlimpahan Anda. Bisnis bisa naik dan turun, bisa rame bisa sepi, bisa datang dan pergi. Namun diri Anda yang sejatinya selalu berbahagia dan berkelimpahan itu, tidak akan pernah tergoyahkan.   &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Lihatlah para konglomerat yang bisnisnya babak-belur selama krisis moneter. Bisnisnya bisa bangkrut, disita bank, dilikuidasi, dsb. Namun mereka tidak pernah "habis". Karena mereka bukanlah bisnis mereka. Mereka sudah mengenali diri mereka yang sejati. Yang tidak tergoyahkan, dan mampu bangkit memulai bisnis yang lain lagi.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;h2&gt;Menjaga Jarak&lt;br /&gt;&lt;/h2&gt;&lt;p&gt;Menjaga jarak dengan bisnis Anda merupakan dasar untuk selalu bersikap obyektif. Karena sangat terlibat dan melekat dengan bisnis, seringkali kita sebagai pemilik usaha sulit bersikap obyektif terutama ketika masalah membelit bisnis kita. Misalnya, jumlah hutang yang sudah tidak masuk akal dibanding dengan hasil usaha, kita justifikasi dengan "kalau mau sukses ya harus berani berhutang". Dan ketika masalah terjadi, tiba-tiba saja kita tidak sanggup lagi mengurai benang kusut, dari mana mulai nya dan bagaimana nanti ujungnya. Karena subyektif, biasanya yang dikemukakan adalah opini dan ungkapan emosional. Misalnya, bahwa "ini perlu untuk usaha", "kalau mau sukses ya harus siap berkorban", dsb. Dan bukan fakta-fakta obyektif yang dapat menyelamatkan usaha Anda. Bahkan ada teman saya yang nyata-nyata usaha nya merugi dan aktifitasnya menggerus cash-flow setiap bulan, masih melakukan hal yang sama tanpa upaya perbaikan. "This is my way ...!" demikian kalau diingatkan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dengan menjaga jarak, kita mengamati usaha kita sebagai orang lain. Bayangkan saja kita adalah orang lain yang sedang melihat fakta-fakta usaha secara obyektif. Berapa revenue nya, berapa besar cost nya, berapa profit nya, berapa kewajiban hutangnya, berapa prospek yang datang per bulan, berapa customer yang dapat di tangani per bulan, dst. Dari fakta-fakta obyektif tadi akan lebih mudah bagi kita untuk merencanakan perubahan, pertumbuhan usaha, ataupun penyelesaian masalah.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;h2&gt;It's Just a Business &lt;br /&gt;&lt;/h2&gt;&lt;p&gt;Pada akhirnya, ... ini hanya bisnis kok. Hanya alat bagi kita untuk memberi dan menerima di dunia yang fana ini. Anda tidak perlu meratapi ketika ia pergi. Tidak perlu juga pongah dan menepuk dada ketika dia datang. Mirip permainan. Tidak perlu nangis garuk-garuk aspal kalau kalah, tidak perlu juga terbahak-bahak sampai lemas kalau menang. Hanya bisnis saja. Jadi kalah atau menang bersikap biasa-biasa saja. Hari ini kalah, besok masih bisa menang di permainan yg lain. Bisnis adalah permainan yang luar biasa mengasyikkan, apalagi jika dijalani dengan prinsip yang bebas stress. Jadi, tunggu apa lagi: Ayo main yang bagus !! (FR).&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27366165-5988337695386448241?l=fauzirachmanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/feeds/5988337695386448241/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27366165&amp;postID=5988337695386448241' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/5988337695386448241'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/5988337695386448241'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/2007/11/detachment.html' title='Detachment'/><author><name>Fauzi Rachmanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14831845815996709974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_AFw7AVcDntE/ShJCO9gF3KI/AAAAAAAAAIQ/VVgCHydCDDU/S220/fauzi.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27366165.post-2822281954469515828</id><published>2007-10-26T00:46:00.001+07:00</published><updated>2007-10-26T00:46:15.075+07:00</updated><title type='text'>Creative Mind</title><content type='html'>&lt;span xmlns=''&gt;&lt;p&gt;Konon, di jaman kisah seribu-satu malam, Abunawas pun pernah memutuskan untuk menjadi wirausaha. Abunawas tidak mau lagi menjadi si "Tangan di Bawah", dan bertekad bulat menjadi mereka yang dalam posisi "Tangan di Atas" alias pengusaha.  Tidak tanggung-tanggung, Abunawas memutuskan untuk membuka toko pakaian di sebelah toko pakaian Nasarudin yang sudah sangat terkenal di kota Baghdad. Pada hari pertama buka, toko Abunawas pun ramai dikunjungi pembeli. Nasarudin yang sudah menjadi pedagang pakaian selama 25 tahun itu pun dibuat gundah gulana. Maka supaya tidak kehilangan pelanggan, Nasarudin pun memasang papan di depan toko nya, bertuliskan: "Toko Nasarudin: sudah melayani rakyat Baghdad sejak 25 tahun lalu". Tidak mau kalah, keesokan harinya Abunawas pun memasang papan di depan toko nya, dengan tulisan: "Toko Abunawas: Baru buka kemarin, tidak menjual stok lama". Nah, toko Abunawas pun makin rame!&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sesungguhnya dalam berbisnis yang namanya kehadiran pesaing adalah hal yang sangat lumrah. Malah aneh kalau ada bisnis yang gak ada pesaingnya. Namun rupanya dalam kisah di atas, Nasarudin merespon kehadiran pesaing bisnisnya dengan sikap yang berlandaskan pola berpikir "competitive mind". Pikiran yang berdasarkan pada paham kelangkaan (scarcity). Bahwa sumber-daya itu langka, makanya kita harus melakukan kompetisi habis-habisan untuk menguasainya. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Paham ini sungguh kuat berakar dalam otak kita semua. Lihat saja definisi ilmu ekonomi yang banyak ditulis di buku-buku teks misalnya, kita akan menemukan definisi seperti: "allocation of scarce resources to satisfy unlimited wants", atau "study of the choices people make to cope with scarcity", atau "study of how to use our limited resources to satisfy our unlimited wants", dan sebagainya. Kata kunci nya adalah, "keterbatasan sumber daya" dan "kebutuhan yang tidak terbatas". Jadi dapat dibayangkan, dengan paham seperti ini, maka dorongan berkompetisi yang muncul adalah dorongan untuk mengalahkan lawan, atau nanti tidak kebagian. Yang pada akhirnya hanya akan memunculkan ketakutan, keresahan, kekhawatiran, dan sebagainya. Kalau Anda sudah paham prinsip Law of Attraction, bisa dibayangkan vibrasi yang akan terpancar dari pikiran seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebetulnya ada alternatif yang lebih baik dari pola pikir "competitive mind" yang berlandaskan pada rasa takut (fear) dan kelangkaan (scarcity) ini. Yaitu pola pikir "creative mind", yang berlandaskan pada paham kelimpahan (abundance), bahwa bahwa alam semesta menyediakan sumber daya yang melimpah-ruah. Yang justru tidak akan pernah ada habisnya jika manusia mampu melakukan eksplorasi. Jika competitive mind membatasi diri untuk memperebutkan hal-hal yang sudah ada dan tersedia, maka creative mind justru mendorong kita untuk menciptakan hal-hal yang baru yang mungkin sebelumnya belum pernah ada. Kalau Anda ingin berhasil mengembangkan usaha, maka justru menggunakan "creative mind" ini adalah salah satu rahasia penting, seperti diungkapkan oleh Wallace Wattles dalam bukunya Science of Getting Rich: "…man must pass from the competitive to the creative mind; otherwise he cannot be in harmony with the Formless Intelligence, which is always creative and never competitive in spirit."&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jika kita amati, orang-orang yang sukses luar biasa dalam bisnisnya terbukti menggunakan prinsip ini. Mereka memasuki bisnis dengan "menciptakan" sesuatu yang baru. Menciptakan hal-hal yang sebelumnya belum pernah terpikirkan, dan kemudian sukses. Sebut saja Henry Ford, Colonel Sanders atau Bill Gates sebagai contoh. Anda juga bisa mencari contoh sendiri di sekitar Anda. Sebaliknya pebisnis yang menggunakan "competitive mind", umumnya terjebak pada penyakit "me-too" yang kronis. Ketika orang ramai mendirikan bank, mereka ikut mendirikan bank. Ketika ramai orang mendirikan maskapai penerbangan, semua bikin maskapai penerbangan. Karena tidak terdorong untuk menciptakan hal yang baru, ujung-ujungnya adalah perang tariff, mengorbankan kualitas, dan akhirnya sama-sama kehilangan bisnis.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bahkan tidak cukup dengan perang harga, di beberapa lingkungan bisnis, tidak jarang kompetisi dilakukan dengan cara yang sudah tidak mengindahkan etika bisnis lagi. Sabotase, mata-mata, pencurian ide, penjiplakan, dsb. Semuanya dilakukan karena ketakutan bahwa jika tidak melakukan hal demikian nanti kalah dari competitor dan tidak kebagian. Karena paham kelangkaan tadi. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Penganut "competitive mind" juga umumnya enggan bekerjasama. Mereka selalu takut "pihak lain" akan merebut kue rejeki yang di mata mereka sudah sempit itu. Sebaliknya, penganut "creative mind" umumnya sangat terbuka untuk melakukan kerjasama. Karena yakin, dengan kerjasama akan tercipta hal-hal baru yang akan mendatangkan bisnis lebih banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tentu tidak ada salahnya memasuki bisnis yang sudah banyak pemainnya, dan kemudian berkompetisi. Karena kompetisi sendiri tidak akan bisa kita elakkan. Namun bisnis Anda akan lebih dahsyat lagi ketika Anda menggunakan "creative mind", bukan "competitive mind". Dengan dorongan untuk menciptakan hal yang baru, maka Anda tinggalkan rasa takut bahwa Anda akan dikalahkan kompetitor. Anda akan selalu yakin bahwa masih banyak peluang yang menunggu di eksplorasi. Anda akan selalu terbuka bekerjasama dengan siapapun. Sehingga vibrasi yang memancar dari diri Anda adalah vibrasi positif yang harmonis dengan vibrasi alam semesta yang pada dasarnya selalu kreatif itu. Dan semoga dengan demikian, keberhasilan akan semakin cepat Anda raih. (FR)&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27366165-2822281954469515828?l=fauzirachmanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/feeds/2822281954469515828/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27366165&amp;postID=2822281954469515828' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/2822281954469515828'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/2822281954469515828'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/2007/10/creative-mind.html' title='Creative Mind'/><author><name>Fauzi Rachmanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14831845815996709974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_AFw7AVcDntE/ShJCO9gF3KI/AAAAAAAAAIQ/VVgCHydCDDU/S220/fauzi.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27366165.post-4999074968253900452</id><published>2007-10-25T04:54:00.001+07:00</published><updated>2007-10-25T04:54:51.844+07:00</updated><title type='text'>Menikmati Perjalanan</title><content type='html'>&lt;span xmlns=''&gt;&lt;p&gt;Waktu lebaran kemarin saya mudik. Bersama istri dan kedua anak saya, kami menempuh lebih dari 10 jam perjalanan bermobil untuk menuju rumah orang tua saya. Banyak teman saya di Jakarta dan Bandung merasa heran dengan agenda tahunan saya ini. Apakah tidak buang-buang waktu dan tenaga? Kenapa tidak pakai pesawat terbang saja biar cepat?, atau kenapa tidak pulang kampung di hari lain saja?. Ya, saya mengerti, bagi mereka yang tidak pernah mengalami mudik memang yang terbayang adalah macet dan lelahnya perjalanan mudik. Namun buat saya perjalanan mudik itu begitu indah dan menyenangkan. Karena saya menikmati perjalanannya. Jika Anda tidak bisa menikmati perjalanannya, maka perjalanan apapun akan terasa berat. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Perjalanan mudik bahkan kadang saya analogikan seperti perjalanan menuju tujuan yang kita cita-citakan. Dalam perjalanan mudik kita sering melewati jalur-jalur yang tidak mudah dilalui, kemacetan luar biasa, tanjakan yang padat merayap, hujan deras, jalan longsor, belum kalau ban bocor, ditabrak motor dari belakang, air radiator tiba-tiba habis, anak nangis terus, anak pipis di mobil, dan sebagainya. Tidak kita kehendaki memang, namun peristiwa-peristiwa tadi adalah hal-hal yang kemudian terjadi, dan mau tidak mau kita nikmati. Peristiwa-peristiwa tadi adalah asam-garamnya perjalanan yang justru menambah indahnya perjalanan. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Anda mungkin pernah menonton film "Click" (2006). Di film tersebut tokoh utama yang dibintangi komedian luar biasa Adam Sandler, memiliki "universal remote control" yang dapat digunakan untuk mengendalikan peristiwa di sekitarnya. Persis menggunakan remote control di DVD player, Michael Newman yang diperankan Adam Sandler bisa dengan mudah menghentikan, memundurkan, dan memajukan segala peristiwa disekitarnya. Jadilah Michael yang tidak sabar untuk menjadi CEO di perusahaan tempatnya bekerja keasyikan mempercepat peristiwa-peristiwa yang semestinya terjadi tapi  tidak ingin dialami. Namun, sekalipun kemudian berhasil menjadi CEO, ternyata Michael mendapati ujung kehidupannya penuh kehampaan dan penyesalan. Ia kehilangan moment-moment penting yang seharusnya dialaminya. Ia tidak ada ketika anjing kesayanganya mati, tidak hadir ketika ayahnya meninggal, dan mendapati hubungan dengan istri nya berakhir dengan perceraian, dan anak-anak yang lebih dekat dengan suami baru istri nya. Michael mencoba mencapai tujuan dengan melewati prosesnya. Dan ternyata dia kehilangan begitu banyak hal yang memang hanya akan diperoleh jika ia mau menikmati prosesnya, bukan sekedar hasil akhirnya. Michael mencoba untuk menghindari perjalanan, namun ternyata justru peristiwa-peristiwa dalam perjalanan yang membuat hasil akhir menjadi indah.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Demikian juga banyak teman saya, sesama pemilik bisnis baru, yang sering mengeluhkan betapa berat perjalanan menjadi pengusaha. Mulai dari keluhan bahwa ternyata untuk menjadi pengusaha harus bekerja lebih keras dan lebih sibuk dibanding saat menjadi pegawai, kehabisan cash untuk gaji karyawan hingga susu anak sendiri tidak terbeli, kartu kredit yang dulu waktu jadi karyawan tdk pernah dipakai kini mentok semua, hingga cicilan mobil dan rumah sudah jatuh tempo sementara cash-inflow dari bisnis tidak ada. Padahal mimpi sudah ditulis besar-besar: Punya asset senilai 11 digit pada tahun sekian. Yang tak kunjung tercapai. Sementara istri mulai complaint karena kebutuhan rumah tangga ternyata tidak bisa dipenuhi dengan selembar "daftar impian", foto Mercy dua pintu impian, dan gambar rumah mewah impian. Seandainya ada "universal remote control" seperti yang dimiliki Adam Sandler, pasti enak sekali bisa menekan tombol Fast-Forward untuk melewati berbagai peristiwa saat ini yang terasa begitu berat. Tinggal klik, beres. Langsung nyampai target 11 digitnya, ditambah Mercy plus rumah mewah. Sayangnya remote control tadi cuma ada di film. Dan lagipula, Anda pasti tidak mau kehilangan moment-moment perjalanan yang sesungguhnya bisa begitu indah tadi.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Percayalah, semua pengusaha pernah mengalami bagian perjalanan yang berat tadi. Anda bisa baca di semua biografi pengusaha sukses. Bahkan hingga sudah mencapai sukses luar biasa pun, tantangan demi tantangan berat masih terjadi. Dan moment-moment tadi akan terasa indah ketika Anda menghadapi dan berhasil melampauinya. Tidak akan pernah menjadi moment yang indah ketika Anda memutuskan untuk lari, menyerah atau berhenti. Ibarat perjalanan mudik yang terkendala jalanan yang macet. Puas rasanya ketika mencoba jalur alternative dan berhasil sampai di tujuan lebih cepat. Namun Anda tidak akan menikmati kepuasan tadi jika memutuskan untuk berputar arah dan kembali pulang, hanya karena satu kemacetan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bagi saya, memutuskan untuk menjalankan bisnis sendiri adalah seperti memulai sebuah perjalanan. Di tengah jalan tentu banyak peristiwa yang terjadi, ada kejutan-kejutan, ada tujuan yang berhasil tercapai, ada yang tidak, ada peristiwa yang tidak saya kehendaki namun ternyata positif buat bisnis saya, ada juga yang negatif.Tapi ya dinikmati saja. Seperti menikmati perjalanan mudik. Rangkul dan akrabi penderitaan, kalau kata Om Bob Sadino. Ojo gumunan (jangan mudah terkejut oleh peristiwa baru), kalau kata Pak Harto dulu. (hehehe … kok sedikit gak nyambung ya?) Peristiwa yang positif buat bisnis, sudah tentu kita syukuri dan rayakan. Yang negatif, ya kita cari jalan keluarnya, dan nanti ketika berhasil mengatasinya, kita syukuri dan rayakan juga. Kalau gak berhasil mengatasi?, tetep kita syukuri pengalamannya. Jadi apapun peristiwanya, bersyukur dan nikmati terus. InsyaAllah perjalanan panjang tidak terasa, dan ternyata kita sudah sampai tujuan. (FR).&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27366165-4999074968253900452?l=fauzirachmanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/feeds/4999074968253900452/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27366165&amp;postID=4999074968253900452' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/4999074968253900452'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/4999074968253900452'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/2007/10/menikmati-perjalanan.html' title='Menikmati Perjalanan'/><author><name>Fauzi Rachmanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14831845815996709974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_AFw7AVcDntE/ShJCO9gF3KI/AAAAAAAAAIQ/VVgCHydCDDU/S220/fauzi.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27366165.post-2590194700281059105</id><published>2007-09-18T20:55:00.001+07:00</published><updated>2007-09-18T20:55:16.470+07:00</updated><title type='text'>Genetika Pengusaha</title><content type='html'>&lt;span xmlns=''&gt;&lt;p&gt;George Bernard Shaw adalah penulis besar kelahiran Irlandia. Kecerdasannya sangat luar biasa, sehingga Shaw pernah memperoleh hadiah Nobel untuk karya sastra, sekaligus penerima Piala Oscar untuk karyanya yang diangkat ke layar perak. Demikian mengagumkannya kecerdasan seorang George Bernard Shaw, sehingga konon dia pernah dilamar oleh seorang aktris cantik. Dengan maksud, supaya kelak menghasilkan keturunan yang rupawan seperti ibunya, dan cerdas seperti ayahnya. Namun, Shaw kemudian menjawab, "Lalu bagaimana kalau kita memiliki anak dengan otak seperti Anda, dan wajah seperti saya?".&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ya demikianlah menurut ilmu genetika. Bahwa banyak hal kita warisi secara turun temurun dari orang tua kita. Kulit kita yang sawo matang, rambut kita yang hitam, hidung kita yang tidak mancung. Hingga ke hal-hal yang sifatnya non fisik seperti misalnya sifat atau bakat tertentu. Maka banyak anak penyanyi yang kemudian menjadi penyanyi, anak jenderal jadi tentara, dan anak pedagang jadi pedagang. Maklum, bakat dari orang tua nya mengalir deras di darah mereka. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ini yang kadang membuat saya sedikit iri dengan rekan-rekan saya yang berasal dari keluarga pebisnis. Sangat wajar jika mereka kemudian juga menekuni bisnis. Bahkan tidak jarang mereka bisa langsung mulai belajar berbisnis dengan meneruskan usaha yang telah dirintis orang tuanya. Ini jauh berbeda dengan saya, karena keluarga saya sama sekali bukan keluarga pebisnis. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Karena tidak memiliki "darah pedagang" ini, sewaktu mulai berbisnis terus terang saya sempat ragu. Benarkah jalan yang saya ambil? Bukankah saya sama sekali tidak memiliki bakat? Saya sudah cek silisilah keluarga saya dari Ayah ataupun Ibu, kalau dirunut ke atas semua adalah pegawai pemerintah. Jadi sudah yakin, pasti, 100%, positif, tidak ada gen pedagang di tubuh saya. Kalau bakat seni, mungkin sedikit-sedikit masih ada karena kedua orang tua saya menyukai seni musik. Bakat menjadi pembicara, mungkin saja ada menetes sedikit, karena Kakek saya pemimpin kampung dan pembicara yang baik sekali. Tapi berbisnis? berdagang? jual beli? Tidak ada sama sekali. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Maka ketika usaha pertama saya tidak berjalan lancar, saya kemudian mengingatkan diri saya. "Tuh kan gagal, wong tidak ada bakat dagang …"&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya bahkan sempat percaya bahwa bakat berdagang memang diwariskan. Dan mencoba menerima kenyataan bahwa saya bukan salah seorang yang mewarisi bakat tadi. Namun, kemudian pelan-pelan saya mengamati, ternyata banyak teman-teman saya yang meskipun orang tuanya pengusaha sukses, toh juga bisa mengalami kegagalan dalam bisnisnya. Ini sedikit membuka wawasan saya. Wah, ternyata sama saja, yang punya "bakat" dagang toh juga bisa gagal. Bukan bermaksud "nyukurin", tapi ini sedikit membuka harapan saya, bahwa jangan-jangan bakat bukan faktor penentu untuk menjadi pengusaha sukses. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Atau, mungkinkah bakat seseorang memang bisa berubah? &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Adalah Prof. Kazuo Murakami, seorang ahli genetika, dalam bukunya The Divine Message of The DNA yang kemudian membuka wawasan saya lebih luas. Ternyata menurut ilmu genetika memang betul, segala sesuatu yang merupakan "bakat" ditentukan oleh kode genetis yang ada dalam DNA kita. Sebagai gambaran, setiap kilogram tubuh kita terdiri dari sekiar 1 trilyun sel. Jadi seorang bayi yang baru lahir sudah memiliki sekitar 3 trilyun sel. Padahal awalnya kita hanyalah satu buah sel yang sudah dibuahi. Yang kemudian membelah menjadi 2, 2 menjadi 4, 4 menjadi 8 dan seterusnya hingga trilyunan tadi. Setiap sel memiliki inti sel (nucleus) yang mengandung DeoxyriboNucleic Acid (DNA). DNA inilah yang menyimpan kode genetis yang menjadi cetak biru tubuh kita. Jadi akan menjadi seperti apa kita, seolah sepertinya sudah terprogram dalam DNA tadi.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Lalu jika dalam setiap sel tubuh kita terdapat DNA yang sama, bagaimana sebuah sel tahu bahwa ia adalah bagian dari rambut, misalnya, dan kapan rambut mulai tumbuh, dsb. Menurut pakar genetika, ternyata terdapat mekanisme "nyala/padam" pada DNA tadi. Sebagai contoh, gen yang menentukan sifat kelamin laki-laki (berkumis, bersuara berat, dsb) yang semula "padam" akan "menyala" pada saat pubertas. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bahkan, lebih jauh lagi. Proses nyala/padam tadi ternyata dapat terjadi sebagai respon lingkungan yang berubah. Dua ilmuwan dari Institut Pasteur mengamati hal ini. Bakteri E.Coli yang hanya mengkonsumsi glukosa, ternyata ketika ditempatkan pada lingkungan yang hanya ada laktosa, mampu merubah diri menjadi pemakan laktosa. Mekanisme internalnya sangat ajaib, karena bakteri adalah makhluk satu sel. Sehingga perubahan menjadi pemakan laktosa seolah-olah seperti menyalakan sebuah kemampuan yang semula tidak nampak. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dan ini membawa konsekuensi luar biasa. Karena jika benar gen pembawa sifat tadi memiliki mekanisme nyala-padam seperti itu. Kita tidak pernah tahu potensi apa dalam diri kita yang saat ini belum kita nyalakan. Jangan-jangan saya juga memiliki bakat bermain saksofon sebagus Dave Koz, hanya saat ini belum dinyalakan saja. Atau jangan-jangan ada bakat bisnis sehebat Donald Trump yang masih terpendam dalam diri saya, dan menunggu dinyalakan? &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dan memang demikianlah menurut Prof. Murakami. Bahwa bakat seseorang dapat muncul pada umur berapapun. Banyak sekali contoh pemusik atau olahragawan yang semula hanya memperlihatkan "bakat" yang biasa-biasa, namun kemudian tumbuh secara luar biasa seiring dengan disiplin dan latihan yang dilakukan. Atau seorang yang hari ini dikenal sebagai ilmuwan genius, padahal teman SD nya mengenal dirinya dulu sebagai anak yang kurang pandai. Atau seseorang yang hari ini dikenal sebagai politisi dan orator hebat, sementara dulunya anak yang kuper. Jadi kalau anak Anda hari ini kurang pandai matematika, sumbang kalau bernyanyi, atau kurang berprestasi dalam orahraga. Anda tidak perlu buru-buru frustrasi sambil berteriak "Ah, dasar gak bakat".  Siapa tahu, gen positif pembawa bakatnya saja yang belum menyala. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Faktor penting yang akan dapat mengaktifkan gen positif Anda adalah lingkungan. Jadi yang membuat seorang Ananda Mikola pandai mengemudi mobil balap bukan semata karena ayahnya adalah pembalap. Namun karena lingkungan yang sangat mengkondisikan dia menjadi pembalap. Kalau hanya mengandalkan bakat keturunan saja, maka pembalap Formula 1 paling fenomenal hari ini, Lewis Hamilton, akan menjadi pekerja di jawatan Kereta Api seperti kakeknya, atau jadi konsultan IT seperti ayahnya. Namun, bakat membalap Lewis ternyata menyala ketika ayahnya memberikan Go Kart sebagai hadiah natal. Dan semakin berkobar ketika diasuh Ron Dennis, bos tim McLaren.  &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jadi, Anda yang tidak memiliki "bakat pedagang" seperti saya tidak perlu khawatir. Gen pembawa bakat dagang Anda dapat menyala belakangan. Dan Anda yang merasa memiliki "bakat dagang", selamat …  Anda sudah punya modal awal. Namun tetap hati-hati, tanpa dukungan lingkungan dan sikap yang benar, gen pembawa bakat Anda dapat saja padam.&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27366165-2590194700281059105?l=fauzirachmanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/feeds/2590194700281059105/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27366165&amp;postID=2590194700281059105' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/2590194700281059105'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/2590194700281059105'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/2007/09/genetika-pengusaha.html' title='Genetika Pengusaha'/><author><name>Fauzi Rachmanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14831845815996709974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_AFw7AVcDntE/ShJCO9gF3KI/AAAAAAAAAIQ/VVgCHydCDDU/S220/fauzi.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27366165.post-2842098634616521300</id><published>2007-09-13T23:59:00.001+07:00</published><updated>2007-09-13T23:59:44.425+07:00</updated><title type='text'>Berjualan di Negeri China</title><content type='html'>&lt;span xmlns=''&gt;&lt;p&gt;Richard Branson, pendiri dan pemilik kelompok usaha Virgin adalah sosok pengusaha yang tidak hanya sukses, namun juga sangat terkenal. Tidak heran kemanapun dia pergi, selalu ada saja yang minta foto bareng dengan dia.  Suatu ketika, sewaktu sedang bersantai dalam liburannya di kepulauan Karibia, sepasang suami istri tua tampak tergopoh-gopoh mendekati Richard Branson dengan membawa kamera. Richard pun membatin, yah … dimintai foto bareng lagi deh. Demikian asumsi Richard, maklum dia kan sosok public figure yang cukup terkenal. Setelah dekat, Richard pun bersiap-siap pasang pose sambil tersenyum lebar dan merapikan rambut gondrong nya. Namun ternyata, sang suami malah menjulurkan kamera nya kearah Richard sambil berkata, "mas, bisa tolong fotoin kita berdua gak?" &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hehehe … Ternyata pasangan tadi kenal sama Richard Branson pun tidak. Asumsi Richard Branson ternyata salah. Dan demikianlah memang asumsi lebih sering salah. Dan kalau dalam bisnis kesalahan asumsi akan mendatangkan kesulitan. Tidak heran, di dalam bahasa Inggris kata "assume" sering di plesetkan menjadi singkatan dari, maaf, "making &lt;strong&gt;ass&lt;/strong&gt; for &lt;strong&gt;u&lt;/strong&gt; &amp;amp; &lt;strong&gt;me&lt;/strong&gt;". &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sementara kebanyakan pebisnis pemula teramat sering mengandalkan asumsi. Wajar, karena bisnis baru dimulai, sehingga segala perikiraan baru bersifat asumsi. Namun ada asumsi yang demikian naïf sehingga akhirnya malah membuka jalan menuju bangkrut. Gejala ini saya sebut sindrom "berjualan di negeri China" yang pernah diuraikan Guy Kawasaki di buku the Art of the Start. Singkatnya, karena di China jumlah penduduknya demikian besar, seolah-olah jualan apa saja pasti untung besar. Maka banyak perusahaan Amerika yang memulai bisnis disana dengan model asumsi seperti di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;China berpenduduk 1,3 milyar, taruhlah 1% nya saja perlu akses internet, dan kita bisa memperoleh 10% saja dari yang 1% tadi, dimana setiap pelanggan bersedia membayar $240/tahun, maka pendapatan pertahun adalah= 1,3 milyar x 1% x 10% x $240 = $ 312 juta!   Dahsyat bukan. Wah kalau gitu kita rame-rame bisnis internet di China saja. Kalau ini begitu mudah apa gak sudah jadi billionaire semua pengusaha internet di China. Nah disinilah Guy Kawasaki mengingatkan kita. Betapa asumsi tadi amat sangat menjebak. Karena pada kenyataanya, justru persoalannya adalah bagaimana memperoleh 10% dari 1% penduduk China tadi. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam petualangan bisnis saya di masa lalu, saya juga sempat mengalami sendiri ke-naif an berasumsi. Bersama beberapa teman kami pernah berniat patungan menjadi distributor suatu PC local yang baru di launch. Seperti halnya sindrom "berjualan di negeri China" tadi, kalkulasi di atas kertasnya begitu indah. Dari sekitar 1 juta unit penjualan PC di Indonesia per tahun, kami mengincar 1% saja. Satu persen saja masa gak bisa sih, demikian waktu itu tim kami menyimpulkan dengan penuh semangat. Maka dengan harga sekitar Rp.5 juta per unit maka omzet akan mencapai Rp. 50 M, dengan profit margin 3% saja sudah laba 1.5 M per tahun. Enak ya, hitungan nya em-em an. Bahkan kami waktu itu sudah berhayal akan menyisihkan laba untuk membeli mobil para eksekutifnya, termasuk saya tentunya. Realisasinya? Hampir mustahil. Banyak sekali hal yang harus dibereskan sebelum yang 1% tadi bisa dipegang, mulai dari masalah cashflow hingga distribusi. Demikian hijau dang masih jauhnya perjalanan kami untuk mencapai asumsi 1% tadi, hingga kami tidak bisa menyelesaikan. Ungkapan yang pas adalah nafsu besar tenaga kurang. Petualangan bisnis saya yang nomor sekian ini pun mandek di jalan. Bahkan sedihnya, ini sempat membuat antar partner tidak akrab lagi.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Lalu apakah tidak boleh kita berasumsi? Tentu boleh, namun lakukan asumsi sesuai dengan kapasitas usaha kita. Cara terbaik adalah dengan melakukan asumsi bottom-up, bukan model top-down seperti di atas. Dalam hal ini model yang ditawarkan Brad Sugar jauh lebih masuk akal dan akan menghindarkan kita dari sindrom "berjualan di negeri China" tadi. Mulailah dengan menghitung berapa kemampuan Anda saat ini untuk mendatangkan calon pelanggan yang berminat (lead), kemudian berapa % kemampuan konversi dari lead menjadi pelanggan, berapa jumlah transaksi per pelanggan, berapa rata-rata belanja mereka, dan berapa profit margin. Peningkatan yang masuk akal bisa dilakukan dengan memberikan leverage untuk setiap aspek tadi. Misalnya, jika selama ini dengan 1 orang salesperson Anda hanya bisa mendatangkan 100 lead per bulan, maka dengan 2 salesperson Anda bisa berasumsi akan ada 200 lead per bulan. Perhitungan begini jauh lebih membumi daripada hitung-hitungan manis seperti asumsi a la "berjualan di negeri China" tadi.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Singkatnya, untuk berbisnis memang perlu bermimpi besar. Namun untuk memperoleh hasil yang realistis gunakan juga cara kalkulasi yang realistis. Paling tepat gunakan fakta, jangan sekedar tebakan, asumsi atau guessing.  (FR).&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27366165-2842098634616521300?l=fauzirachmanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/feeds/2842098634616521300/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27366165&amp;postID=2842098634616521300' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/2842098634616521300'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/2842098634616521300'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/2007/09/berjualan-di-negeri-china.html' title='Berjualan di Negeri China'/><author><name>Fauzi Rachmanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14831845815996709974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_AFw7AVcDntE/ShJCO9gF3KI/AAAAAAAAAIQ/VVgCHydCDDU/S220/fauzi.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27366165.post-4293974167182343684</id><published>2007-09-10T14:35:00.001+07:00</published><updated>2007-09-10T14:35:20.686+07:00</updated><title type='text'>Mengail di Kolam Kecil</title><content type='html'>&lt;span xmlns=''&gt;&lt;p&gt;Banyak rekan saya yang heran dengan bisnis saya. Ngaku nya bisnis IT, tapi ditanya harga bikin portal web saja gak bisa jawab. Ditanya apakah menyediakan aplikasi ERP, Akunting, hingga HR, selalu geleng kepala. Apalagi dimintai informasi soal perangkat jaringan atau harga notebook, desktop atau server, pasti buru-buru saya suruh tanya saja ke paman Google. Sampai-sampai ada rekan saya yang meragukan bahwa saya beneran bisnis IT. Karena kalau beneran bisnis IT, semestinya dapat menyediakan layanan yang saya sebut di atas. Harusnya kan "PALU GADA", apa Lu mau Gua ada, begitu kata rekan saya tadi. Jadi one stop shopping, segala keperluan IT pelanggan bisa saya sediakan. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Celakanya bisnis saya memang betul-betul tidak PALU GADA. Perusahaan yang saya kembangkan saat ini hanya menyediakan solusi bagi perusahaan yang ingin menerapkan manajemen layanan IT yang baik dan benar, sesuai best practice pengelolaan IT yang banyak diterapkan perusahaan di negara maju. Kalau bicara soal  solusi IT Service Management atau IT Asset Management, maka saya dapat menyediakan tools dan orang-orang terbaik. Tapi di luar itu, wah maaf, mungkin bisa tanya ke toko sebelah saja.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya sadar sepenuhnya bahwa ceruk yang kami ambil amat sangat sempit. Ibarat memancing, maka kami seperti mengail di kolam yang sangat kecil. Tentu ini ada untung rugi nya. Meskipun jujur saja proses menemukan ceruk ini tidak secara sadar kami lakukan dari awal. Namun terbentuk dan terjadi secara alamiah (baca: kebetulan). Jadi awalnya kami mau nya juga PALU GADA, namun ternyata belakangan kami menemukan bahwa memancing di kolam kecil lebih cocok bagi kami. Berikut beberapa alasan saya, mengapa memancing di kolam kecil lebih masuk akal:&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Mengatasi Keterbatasan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Alasan utama untuk bermain di ceruk yang terbatas sebenarnya adalah masalah keterbatasan kami sendiri. Saya sadar sepernuhnya bahwa perusahaan kami bukanlah raksasa yang memiliki resources yang melimpah. Justru sebaliknya, sumber daya kami sangat terbatas. Bayangkan kalau kami harus masuk ke berbagai segmen sekaligus. Biaya operasional akan membengkak besar sekali, melebihi kemampuan kami. Menyediakan resource IT, baik itu orang, hardware ataupun software, itu tidak mudah dan kadang juga cukup mahal. Perusahaan yang lebih besar dan PALU GADA dengan mudah dapat merekrut dan menyediakan SDM dengan berbagai keahlian. Kami tidak. Setiap pengeluaran yang tidak memberikan hasil akan terasa sekali dampak nya. Jadi lebih masuk akal kalau membatasi diri pada market yang kami sudah lebih dahulu kuasai.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Perbedaan ini saya rasakan sekali misalnya waktu berkompetisi dalam berbagai tender. Sewaktu melakukan presentasi ataupun beauty contest para "big brothers" biasanya datang mirip rombongan sirkus. Minimal ada sales, engineer dan project manager. Kadang jumlahnya sampai  5 – 7 orang datang bersama. Sementara karena keterbatasan resource, biasanya saya tampil berdua dengan engineer saya. Bahkan sering saya datang sendirian.  Pertanyaan "sendirian aja Pak?" sudah biasa saya dengar. Nah, kalau opportunity nya di luar kota bisa dibayangkan repotnya kalau saya juga harus membawa rombongan sirkus. Para big brothers tadi dengan mudah menginap di hotel berbintang, buka 3 atau 4 kamar tidak masalah. Kalau saya, karena sendirian, bisa menginap di mana saja. Yang jelas saya sudah menang irit.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Menjadi yang Terbaik&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Karena menekuni satu macam solusi software saja, maka para engineer saya tumbuh menjadi spesialis yang sulit dicari tandingannya. Mereka dari bangun tidur sampai tidur lagi, hanya memikirkan satu solusi software itu-itu saja. Sehingga peluang kami untuk menjadi yang terbaik di bidang yang kami tekuni jauh lebih besar, misalnya dibandingkan jika kami harus memikirkan berbagai solusi yang satu sama lain tidak ada hubungannya. Bahkan, enaknya lagi adalah, problem yang dihadapi klien kami pada umumnya adalah generic. Itu-itu saja. Dan pemecahan nya juga itu-itu saja. Bagi mereka yang tidak menekuni bidang kami, problem tadi akan begitu kompleks. Namun bagi kami, menjadi sangat sederhana. Bahkan kami dapat bekerja lebih cepat dan mudah dengan berbagai template solusi yang sudah kami kembangkan. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Membangun Benteng&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sesungguhnya banyak sekali godaan untuk masuk ke ceruk lain. Dan jujur saja bukan saya tidak tergoda. Bahkan saya sempat beberapa kali mencoba opportunity di area yang diluar ceruk kami. Dan sejauh ini selalu menghasilkan keuntungan berupa "pengalaman" saja. Namun belakangan saya teringat dengan nasehat Guy Kawasaki di buku nya "The Art of the Start", bahwa sangat penting untuk menguasai ceruk yang terbatas lebih dahulu dan membangun benteng yang kokoh, sebelum mulai masuk ke ceruk yang lain. Microsoft misalnya, memang hari ini sudah menjadi supermarket untuk system operasi, berbagai aplikasi bisnis , hiburan, game hingga aplikasi mobile. Namun ingat, mereka awalnya hanya mengerjakan pemrograman BASIC. Begitu banyak peluang kemudian tercipta setelah Microsoft memiliki benteng kokoh berupa system operasi untuk PC.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menekuni satu ceruk buat saya adalah upaya membangun benteng tadi. Setelah benteng ini cukup kokoh, maka saya dapat masuk ceruk lain (bahkan bisnis lain) dengan relative lebih aman. Jika upaya memperluas wilayah belum berhasil, saya selalu dapat kembali ke benteng untuk berlindung. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jadi, menurut saya tidak ada salahnya kita mengail di kolam kecil. Apalagi kalau ternyata di kolam kecil tadi ikan nya gemuk-gemuk.&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27366165-4293974167182343684?l=fauzirachmanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/feeds/4293974167182343684/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27366165&amp;postID=4293974167182343684' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/4293974167182343684'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/4293974167182343684'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/2007/09/mengail-di-kolam-kecil.html' title='Mengail di Kolam Kecil'/><author><name>Fauzi Rachmanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14831845815996709974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_AFw7AVcDntE/ShJCO9gF3KI/AAAAAAAAAIQ/VVgCHydCDDU/S220/fauzi.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27366165.post-6297219426295629531</id><published>2007-09-08T23:29:00.001+07:00</published><updated>2007-09-08T23:29:29.612+07:00</updated><title type='text'>Kucing Bisa Terbang</title><content type='html'>&lt;span xmlns=''&gt;&lt;p&gt;Apa reaksi Anda kalau saya bilang ada kucing yang bisa terbang?&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dugaan saya, ada tiga kemungkinan reaksi Anda:&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pertama, Anda langsung tertawa terbahak-bahak, menganggap saya pembohong, atau bahkan sedikit tidak waras. Karena menurut logika Anda, dan menurut seluruh fakta masa lalu yang Anda miliki, belum pernah ada kucing bisa terbang. Dan tidak akan mungkin ada kucing bisa terbang. Ini wajar. Anda adalah seorang yang logis, yang cenderung menggunakan logika. Anda tidak percaya sebelum ada bukti. Anda akan langsung skeptis dan menginterogasi saya dengan pertanyaan dimana saya melihat, kapan, berapa ekor, tahun berapa? Dst.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kedua, Anda akan mengkerutkan kening sambil mengatupkan bibir rapat2, karena tergelitik rasa penasaran. Bagaimana mungkin membuat seekor kucing bisa terbang? Apakah dipasang pesawat jet dipunggungnya, atau sudah ada teknologi rekayasa genetik untuk menumbuhkan sayap dipunggung seekor kucing? Anda akan langsung mencecar saya dengan pertanyaan bagaimana caranya kucing yg saya ceritakan bisa terbang.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketiga, Anda akan mengerutkan kening sejenak, melihat mata saya dalam2, tersenyum-senyum, kemudian tertawa terbahak2 bersama saya. Mungkin karena Anda teringat sosok kucing gendut yang terbang dengan baling2 bambu di kepala nya. Yang jelas, Anda segera berbagi cerita dengan saya tentang sosok kucing yang bisa terbang. Tidak penting apakah kucing tadi beneran bisa terbang, atau sekedar saya lempar dari jendela, yang jelas Anda bisa melihat bahwa akan sangat menarik jika kucing terbang tadi bisa dipopulerkan. Mungkin bisa dibuat film kartun nya, buku komik, boneka, kaos anak, selimut, wah banyak lagi. Makanya Anda tertawa senang dengan ide kucing bisa terbang tadi.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Nah, berjualan teknologi itu mirip sekali dengan menjual cerita bahwa ada kucing yang bisa terbang. Nyaris mustahil?&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Disinilah perlunya kejelian melihat dengan siapa kita membicarakan teknologi yang kita jual. Terlebih lagi kalau teknologi yang Anda tawarkan tergolong baru. Kalau kebetulan orang-orang yang kita temui adalah para pelaksana di lapangan. Mereka akan cenderung memiliki reaksi yang pertama. Tidak percaya. Mereka mungkin bertahun-tahun bekerja dengan alat dan cara yang sama. Maka ketika mendengar sesuatu yang baru, mereka akan skeptis dan menuntut Anda untuk bisa membuktikan apa yang Anda sampaikan. Bahasa mereka adalah "tolong di demo kan". Padahal sudah capek2 di demo kan, belum tentu dibeli juga. Maklum para penuntut bukti ini juga kebetulan bukanlah pembuat keputusan akhir dalam proses pembelian. Jadi sebetulnya nyaris percuma menjual cerita Anda kepada mereka.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kelompok kedua lain lagi. Mereka sangat penasaran dengan bagaimana teknologi Anda bisa bekerja. Mereka biasanya minta Anda menyediakan segala dokumentasi teknologi yang Anda tawarkan untuk mengetahui bagaimana teknologi tadi dibuat. Biasanya mereka adalah kalangan level manager. Bahasa nya adalah "tolong disediakan dokumentasi system nya". Mungkin mereka memang ingin tahu, atau mungkin saja penasaran, jangan2 bisa bikin sendiri dan tidak perlu jasa Anda. Meskipun mereka lumayan punya pengaruh dalam proses pembelian, namun tetap saja mereka bukan pembuat keputusan sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Nah, kelompok terakhir, yang bisa menghayalkan kucing bisa terbang menggunakan baling-baling bambu di kepalanya, ini lah yang harus Anda incar. Maksudnya begini.  Perusahaan, seperti halnya individu, juga membangun dongeng masa depan mereka. Akan menjadi seperti apa mereka kelak, berapa market share yang akan mereka kuasai, dst. Kalau Anda perhatikan kebanyakan semuanya baru "akan", bukan realitas hari ini, jadi lebih mirip "dongeng" daripada fakta. Nah, kalau cerita "kucing terbang" Anda bisa masuk dalam dongeng mereka, maka kemenangan sebenarnya sudah ditangan. Apalagi mereka umumnya adalah para pembuat keputusan puncak. Yang mampu melihat potensi teknologi yang Anda tawarkan untuk mewujudkan dongeng masa depan mereka. Merekalah yang akan membeli teknologi yang Anda tawarkan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tiga kelompok tadi mau tidak mau harus kita hadapi dalam suatu siklus penjualan. Seringkali secara berurutan kita bertemu dahulu dengan pelaksana, para manager, baru pembuat keputusan. Namun tidak jarang, kita harus meyakinkan pembuat keputusan dahulu sebelum bertemu dengan kelompok-kelompok di bawahnya. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dari pengalaman saya, kesalahan yang umum dilakukan dalam berjualan teknologi adalah terlalu berpaku pada proses penjualan di tahap pertama dan kedua. Kita sebagai penjual disibukkan dengan usaha keras untuk membuktikan bahwa ada kucing bisa terbang, dan bahwa kita bisa membuat kucing bisa terbang. Sementara proses paling penting, yaitu membuka mata pembuat keputusan bahwa si kucing terbang akan berperan penting bagi perusahaan di masa mendatang, lebih sering terabaikan.  &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya juga pernah melakukan kesalahan ini. Dulu, ketika menjual sistem untuk melakukan transaksi saham secara online, saya keasikan berbicara tentang betapa canggihnya teknologi yang kami tawarkan. Proses penjualan biasanya kami lalui dengan instalasi proof of concept yang mahal dan makan waktu. Waktu itu saya terjebak untuk membuktikan bahwa saya memang punya kucing terbang, bukan berusaha meyakinkan pembuat keputusan bahwa kucing terbang ini penting bagi mimpi mereka. Bahkan sejujurnya saya tidak pernah berusaha memahami apa mimpi calon pelanggan saya waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Padahal berbicara dengan para pembuat keputusan tentang mimpi2 mereka bisa jadi lebih mudah. Dalam perjumpaan pertama Anda bisa segera mengenali impian dan obsesi apa yang sedang mereka miliki untuk perusahaan mereka di masa mendatang. Dan ketika Anda bisa menciptakan dongeng menarik tentang bagaimana teknologi Anda tawarkan nyambung dengan impian para bos tadi, bisa saya pastikan Anda akan memenangkan hati mereka.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jadi, setelah membaca tulisan ini, semoga Anda bisa berjualan gajah terbang sekalipun.&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27366165-6297219426295629531?l=fauzirachmanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/feeds/6297219426295629531/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27366165&amp;postID=6297219426295629531' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/6297219426295629531'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/6297219426295629531'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/2007/09/kucing-bisa-terbang.html' title='Kucing Bisa Terbang'/><author><name>Fauzi Rachmanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14831845815996709974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_AFw7AVcDntE/ShJCO9gF3KI/AAAAAAAAAIQ/VVgCHydCDDU/S220/fauzi.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27366165.post-2368933545410719129</id><published>2007-07-18T20:27:00.001+07:00</published><updated>2007-07-18T20:27:38.480+07:00</updated><title type='text'>LOA Semudah 1,2,3</title><content type='html'>&lt;span xmlns=''&gt;&lt;p&gt;Banyak teman yang mengatakan pada saya, bahwa mereka umumnya sudah pernah mengalami sendiri berjalannya hukum Law of Attraction (LOA). Bahwa pikiran dan perasaan Anda, akan menarik hal-hal yang berkesuaian kedalam hidup Anda. Likes attract likes. Ini mungkin banyak yang sudah pernah mengalami. Dari sekedar Anda ingat seorang teman, tiba-tiba teman tadi menelpon. Hingga pada saat Anda berniat menjalankan bisnis, tiba-tiba ada kesempatan bisnis yang datang tidak terduga. Namun, hampir semua umumnya terjadi di luar kesadaran. Sementara untuk "menggunakan" LOA secara sadar, kelihatannya masih agak sulit. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Padahal menerapkan Law of Attraction (LOA) secara sadar, ternyata semudah 1,2,3. Paling tidak begitu kata Michael J. Losier. Beliau ini pengarang buku "Law of Attraction" (2006), yang pemikiran-pemikirannya banyak terinspirasi oleh Jerry dan Ester Hicks. Tidak hanya Losier, konsep yang diajarkan Joe Vitale pun banyak yang mirip dengan konsep dari Ester Hicks. Bahkan di Indonesia banyak praktisi LOA, pengajar, dan motivator yang sering mengajarkan ini. Namun sayangnya, karena buku dan tulisan yang banyak beredar di Indonesia jarang menyebut referensi nya dari mana, maka ketika ada beberapa detil yang hilang, jadi sedikit membingungkan. Selain itu, banyak teman saya yang mengalami kesulitan melakukan teknik-teknik visualisasi canggih seperti yang sering diajarkan. Saya juga begitu. Saya termasuk orang yang lebih mudah menulis daripada bervisualisasi. Jadi kadang niatnya saja bervisualisasi, tapi ujung-ujungnya malah ketiduran.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Nah, akan saya coba sampaikan 3 langkah mudah menerapkan LOA menurut Michael J. Losier, yang menurut saya cukup lengkap namun sederhana. Anda yang sudah mencoba LOA secara sadar silakan membandingkan dengan praktek Anda. Tiga langkah ini oleh Michael J. Losier disebut sebagai "Deliberate Attraction". Maksudnya proses attraction yang kita lakukan secara sadar. Ah, jangan kepanjangan, mari kita mulai saja. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;h2&gt;Satu.&lt;br /&gt;&lt;/h2&gt;&lt;p&gt;Kalau Anda pernah nonton film the Secret, Anda pasti ingat wajah Pak Tua Bob Proctor, yang dengan muka serius bertanya: "what do you really want?" Di sampul DVD asli nya bahkan ada selembar kertas kosong, dimana Bob meminta kita menuliskan, apa sebetulnya yang kita mau. Memang langkah awal ini penting. Michael J. Losier menyebut langkah pertama ini sebagai langkah mengidentifikasikan hasrat kita (identify your desire). Mengidentifikasikan apa yang sebetulnya kita inginkan. Nah, ini yang gampang-gampang susah. Biasanya ketika ditanya "jadi sebetulnya kamu mau apa?", mulut langsung terkunci, pikiran jadi blank. Atau sebaliknya, nyerocos tanpa henti dari A sampai Z, sampai gak jelas mau apa. Nah, supaya jelas gunakanlah "clarity through contrast worksheet". &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Caranya? Pertama, tentukan dulu di "prominent area" apa Anda ingin identifikasikan hasrat Anda ini. Misalnya, dalam area karir, keuangan, kesehatan, keluarga atau asmara juga boleh, kalau mau. Katakan Anda akan membuat worksheet untuk keuangan, maka ambil selembar kertas, tulis judulnya: Kondisi Keuangan Idealku. Ini contoh saja, Anda bisa kreatif sedikit lah. Misalnya kalau soal asmara, tulis saja: Pacar Idealku, dsb.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di bawah judul, buat tabel dua kolom. Kolom sebelah kiri sebut saja kolom "contrast". Di kolom ini cantumkan hal-hal yang Anda tidak mau terjadi. Karena manusia memang aneh. Ketika disuruh mengungkapkan hal-hal yang gak disukai biasanya lebih gampang.  Tuliskan satu item untuk satu baris. Misalnya kalau dalam hal keuangan: 1. Selalu kekurangan uang, 2. Penghasilan pas-pas an, 3. Penghasilan gak naik-naik, 4. Cuma mengandalkan penghasilan dari satu sumber, 5. Penghasilan tidak cukup untuk menyekolahkan anak di sekolah terbaik, dst. Gampang kan? Sounds familiar? Hehehe … maaf ya, saya gak maksud nyinidir siapa2. Tuliskan sebanyak yang Anda mau.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kemudian, baca setiap item. Dan kemudian tanyakan: "Jadi, apa yang kamu inginkan?  Nah, lalu tulis jawabannya di kolom sebelah kanan, kita sebut saja kolom "clarity". Misalnya item 1: "Selalu kekurangan uang". Ini tidak Anda inginkan, jadi tanyakan: "Jadi, apa yang kamu inginkan?", nah tulis jawaban Anda, misalnya: "Selalu memiliki uang dalam jumlah yang stabil dan melimpah". Jawaban ini yang kita tulis di kolom clarity, dan kemudian jangan lupa coret kalimat di kolom contrast. Selesai satu item, ulangi untuk setiap item yang sudah Anda tulis.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Akhir dari langkah pertama ini, Anda akan memiliki daftar apa yang sebetulnya Anda inginkan. Anda bisa membuat beberapa worksheet sesuai prominent area yang sedang ingin Anda kerjakan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;h2&gt;Dua.&lt;br /&gt;&lt;/h2&gt;&lt;p&gt;Nah, setelah jelas keinginan Anda. Langkah ke dua adalah memberi perhatian dan perasaan atas keinginan tadi, sehingga vibrasi nya akan semakin kuat. Michael J. Losier termasuk yang skeptis dengan efektifitas afirmasi tradisional, sehingga menganjurkan untuk memodifikasi. Alternatifnya? Dengan membuat "Desire statement". Nah, ambil kertas kosong lagi. Hehehe … saya lupa mengingatkan ya, Anda harus sediakan alat tulis dan kertas banyak2. Kemudian tulis desire statement Anda dalam tiga bagian. Alinea pertama, adalah opening sentence, tuliskan: "Saya sedang dalam proses menarik segala sesuatu yang perlu saya lakukan, ketahui, dan miliki untuk menarik …."Nah, titik2 nya silakan diisi sesuai judul prominent area yang sedang Anda kerjakan. Misalnya, dari contoh di atas adalah "situasi keuangan ideal saya".&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bagian kedua adalah batang tubuh (body) desire statement itu sendiri. Disini Anda mulai berikan perhatian dan perasaan. Anda tuliskan kembali poin-poin keinginan yang sudah Anda identifikasikan di clarity through contrast worksheet, kedalam kalimat-kalimat positif yang penuh emosi. Caranya dengan menggunakan kata-kata seperti: "Saya sangat senang, bahwa  …", "Saya sangat bahagia dan bersemangat, mengetahui bahwa …". Dan semacam itu. Contoh? Misalnya: "Saya sangat bahagia dan bersemangat bahwa kondisi keuangan ideal saya memungkinkan saya selalu memiliki uang dalam jumlah yang stabil dan melimpah", dsb.  Rasakan emosi nya sewaktu Anda menuliskan. Apalagi kalau sudah menyangkut keluarga. Misalnya, "Saya sangat berbahagia dan penuh semangat, bahwa kondisi keuangan ideal saya memungkinkan saya menyekolahkan anak saya di sekolah yang terbaik …". Bagian ini bisa terdiri dari beberapa alinea sesuai jumlah desire yang sudah Anda identifikasikan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bagian ketiga adalah penutup. Tuliskan satu alinea yang menjadi closing sentence, misalnya: "Law of Attraction bekerja dan menggerakkan apa yang perlu terjadi untuk terwujudnya hasrat saya". Oh ya, ini contoh saja dari Michael Losier. Anda mungkin kurang sreg dengan bunyi kalimatnya. Menurut saya, ya Anda harus sreg dengan apa yang Anda tuliskan, jadi silakan dimodifikasi sendiri. Point nya adalah memberi perhatian dan perasaan pada point2 yang sudah Anda identifikasikan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;h2&gt;Tiga.&lt;br /&gt;&lt;/h2&gt;&lt;p&gt;Bagian ketiga adalah "allowing". Ya meskipun Anda memiliki hasrat yang membara, namun jika disertai dengan keraguan yang kuat, sama saja anda tidak membiarkan LOA bekerja. Umumnya yang membatasi adalah keraguan bahwa apa yang sudah Anda tulis akan ditarik kedalam hidup Anda. Tapi tenang, karena sekali lagi Losier memberikan kita cara praktis. Nah, kalau Anda masih punya cukup persediaan kertas, ambil selembar lagi, dan siaplah menulis "allowing statement". Tujuannya adalah menyingkirkan keraguan Anda.   &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Caranya? Pertama biarkan keraguan Anda muncul melalui pernyataan "tapi …" dan "karena …". Biasanya setelah membaca Desire Statament Anda muncul berbagai keraguan, tuliskan saja. Misalnya, keragan Anda adalah: "Tapi … saya saat ini tidak punya uang sama sekali, karena … saya nyaris bangkrut …". Tulis. Berapapun banyaknya keraguan Anda, tulis semua. Paling tidak selesai latihan ini, Anda jadi lebih pandai menulis, hehehe … Kemudian, atas pernyataan yang sudah Anda tulis, sampaikan pertanyaan: "Adakah di dunia ini orang yang (dalam kondisi seperti Anda), namun bisa mencapai (kondisi ideal Anda)?". Misalnya dalam contoh ini, maka pertanyaannya adalah: "Adakah di dunia ini, orang yang nyaris bangkrut, namun kemudian bisa memiliki kondisi keuangan yang stabil dan berlimpah?". Ingat baik-baik, apakah ada orang yang seperti itu. Saya yakin pasti ada. Nah, Jawab pertanyaan tadi secara tertulis. Misalnya, "Di dunia ini, banyak sekali orang yang pernah hampir bangkrut, namun bisa bangkit dan memiliki keuangan yang berlimpah …". Anda akan rasakan bahwa keraguan Anda tidak beralasan sama sekali, karena ada orang lain yang pernah dalam kondisi seperti Anda namun bisa mewujudkan hasrat yang Anda inginkan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Demikian beberapa latihan yang pernah saya baca dari buku Law of Attraction nya Michael J. Losier. Tentu tidak sampai disitu saja, ada beberapa latihan praktis lagi yang akan semakin memperkuat vibrasi untuk menarik yang Anda inginkan. Misalnya dengan membuat "book of proof", dimana Anda catat semua kejadian yang menjadi bukti bahwa LOA yang Anda niatkan terjadi. Kemudian membuat "appreciation and gratitude statement", dimana setiap hari Anda menulis jurnal yang isinya rasa syukur dan apresiasi Anda atas kejadian-kejadian positif yang mulai terjadi pada diri Anda. Sekecil apapun. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Relatif mudah bukan? Nah kini Anda siap mencoba membuktikan LOA secara sadar. Selamat mencoba. (FR)&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27366165-2368933545410719129?l=fauzirachmanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/feeds/2368933545410719129/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27366165&amp;postID=2368933545410719129' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/2368933545410719129'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/2368933545410719129'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/2007/07/loa-semudah-123.html' title='LOA Semudah 1,2,3'/><author><name>Fauzi Rachmanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14831845815996709974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_AFw7AVcDntE/ShJCO9gF3KI/AAAAAAAAAIQ/VVgCHydCDDU/S220/fauzi.jpg'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27366165.post-6492913639798816678</id><published>2007-07-17T00:25:00.001+07:00</published><updated>2007-07-17T00:25:35.227+07:00</updated><title type='text'>Menghadirkan Kebahagiaan</title><content type='html'>&lt;span xmlns=''&gt;&lt;p&gt;Wahai Anda para pencari kebahagiaan, ada ucapan tiga orang yang ingin saya kutip, dan mohon Anda baca dan renungkan baik-baik:&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Sekarang saya jauh lebih baik, secara fisik, finansial, mental dan hampir dalam segala hal …" (JW)&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Sebuah pengalaman yang luar biasa …" (MB)&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Saya belum pernah bisa menghargai orang lain seperti yang saya rasakan sekarang …" (CR)&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ucapan-ucapan yang luar biasa bukan? Ucapan yang pantas diucapkan oleh orang-orang yang telah mencapai puncak kebahagiaan. Anda mau menjadi seperti mereka? Jika saya katakan bahwa mereka bertiga mengucapkan kalimat di atas selepas mengikuti sebuah pelatihan, Anda mau mengikuti pelatihan tadi?  Mau … ? Wah, banyak yang langsung menganggukkan kepala.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;OK, mungkin perlu sedikit dijelaskan tentang siapa yang mengucapkan kutipan di atas. JW, adalah Jim Wright, mantan anggota House of Representative Amerika Serikat yang dipaksa mundur secara tidak hormat karena melanggar kode etik, MB adalah Moreese Bickham, mantan napi, kutipan diatas adalah ucapan selepas masa tahanannya,  dan CR adalah Christopher Reeves, sang Superman yang mengucapkan kalimat di atas setelah terkena lumpuh. Semua mengucapkan ucapan di atas setelah menjalani "pelatihan" yang sangat berat dalam hidupnya. Nah, Anda mau mengikuti "pelatihan kebahagiaan" seperti mereka? Gak mau? Hehehe … kok sekarang gak mau?&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ya, Anda mungkin serentak menggelengkan kepala. Sekaligus mungkin jadi penasaran bagaimana mungkin orang dapat mengucapkan hal-hal yang demikian luar biasa, justru setelah mengalami musibah. Sementara Anda mungkin sudah mengikuti puluhan pelatihan motivasi dan melahap ratusan buku self help, dan belum mampu mengucapkan kalimat-kalimat seperti di atas. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Semua orang pasti menginginkan kebahagiaan. Tapi apakah kebahagiaan itu? Apakah pengertiaan kebahagiaan menurut "seorang" Lori dan Reba Schapel, pasangan kembar siam yang sangat berbahagia dan mampu berprestasi, yang hingga dewasa tidak pernah bersedia menjalani operasi pemisahan, sama dengan kebahagiaan seorang Paris Hilton yang rupawan dan mewarisi kerajaan bisnis Hilton, namun masih harus repot dengan urusan penggunaan obat terlarang?  &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jadi, jika kebahagiaan begitu penting, lalu apakah kebahagiaan itu?&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Siapakah yang lebih bahagia, George Eastman pelopor proses fotografi, salah satu pelopor prinsip manajemen modern, dan pendiri Kodak, yang penjualan kamera nya menguasai dunia itu, atau Adolph Fischer, anggota serikat buruh dalam sejarah Amerika Serikat yang ditangkap atas tindakan yang tidak pernah dilakukan, diadili dengan saksi bayaran, dan dihukum mati? Anda, dan juga saya, tentu yakin George Eastman lebih bahagia. Namun kenapa justru Fischer yang mengatakan "Ini saat paling membahagiakan dalam hidup saya …" beberapa detik sebelum tali gantungan merenggut nyawanya. Dan George Eastman, mati bunuh diri di kamar kerja nya!&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kutipan di atas saya ambil dari buku "Stumbling on Happiness " yang ditulis secara sangat cerdas oleh Daniel Gilbert. Buku yang merangkum pemikiran-pemikiran mutakhir tentang kebahagiaan dengan cara yang sangat humoris ini memang dalam banyak detilnya mampu mengguncang pengetahuan dan keyakinan kita tentang kebahagiaan. Sayangnya tidak ada jawaban instan dalam buku "Stumbling on Happiness". Kalau Anda penggemar cerita detektif dan punya rasa penasaran yang tinggi, Anda akan sangat menikmati tulisan Dan Gilbert yang akan membawa Anda memasuki lorong-lorong pemikiran tentang kebahagiaan. Sebaliknya jika Anda penggemar buku self-help yang berharap mendapat tips praktis, Anda akan kecewa, karena buku ini sama sekali bukan buku self-help. Justru Gilbert sepanjang bukunya menyisakan pertanyaan besar, mengapa manusia selalu gagal untuk memperkirakan hal-hal apa sajakah yang akan membuat diri nya merasa bahagia di masa mendatang.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kebahagiaan demikian penting, hampir semua sepakat. Always "feel good" demikian pesan di ujung film the Secret nya Rhonda Byrne. Gunakan "the Power of Positive Feeling", demikian pesan Pak Erbe Sentanu dalam bukunya Quantum Ikhlas. Bahkan lebih lanjut beliau mengatakan bahwa kebahagiaan adalah fitrah manusia. Namun mengapa begitu sering kita tidak merasa bahagia. Padahal kita paham kalau dalam hukum Law of Attraction dikatakan "likes attract likes", bahwa perasaan bahagia akan menarik hal-hal yang akan membuat kita bahagia. Namun mengapa begitu sulit untuk selalu menghadirkan rasa bahagia di hati kita.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kadang kita merasakan kebahagiaan yang meluap, ketika kita sedang berkumpul dan bercanda bersama keluarga. Namun perasaan itu bisa lenyap begitu saja, ketika kita sendirian. Kita merasa begitu bahagia ketika berhasil mewujudkan yang kita inginkan, namun tidak berapa lama rasa cemas dan khawatir kembali menyergap hati kita. Kalau diibaratkan hati kita sebagai rumah, kebahagiaan seringkali hanya mampir sebagai tamu, menginap sesaat, dan pergi lagi, namun masih enggan menetap menjadi penghuni di hati kita. Wah, kalau begini, bagaimana kita bisa selalu "feel good"?&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ada yang mencoba menghadirkan kebahagiaan melalui kepemilikan materi, uang yang banyak, rumah yang mewah, mobil yang bagus. Namun justru semakin tidak bahagia, karena selalu merasa kurang uang, mobilnya kurang bagus, dan rumahnya kurang mewah. Belum lagi kalau mengalami kehilangan materinya. Ada juga yang mencoba mewujudkan kebahagiaan dengan berbagai aktifitas. Mulai dari ikut pesta, berwisata ke luar negeri, hingga nonton konser atau pertandingan olahraga. Namun, rasa bahagia berakhir ketika pesta berakhir. Kebahagiaan pergi ketika mereka harus kembali pulang ke rumah, atau ketika konser atau pertandingan berakhir. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Karena semua yang ingin dimiliki atau dilakukan tadi, ternyata hanya sekedar menghadirkan kesenangan. Namun bukan kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jadi, bagaimana menghadirkan kebahagiaan?&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam buku "How We Choose To Be Happy" yang ditulis Rick Foster dan Greg Hicks pertanyaan ini menjadi tema sentral. Bagaimana kita bisa menghadirkan kebahagiaan yang terus menerus di hati kita? Ternyata menurut Foster dan Hicks, setelah meneliti orang-orang yang luar biasa bahagia, ada 9 choices yang selalu dilakukan oleh orang-orang tersebut. Jika Anda ingin menghadirkan kebahagiaan secara berkesinambungan dan berkesadaran, Anda bisa mencontoh choices mereka. Cukup panjang kalau dibahas semua. Namun, menurut saya, untuk memulai, paling tidak Anda bisa mencontoh dua hal:&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Berniatlah Untuk Bahagia.  Kedengarannya begitu sederhana, namun betapa jarang kita lakukan. Bisakah Anda mulai sekarang, setiap hari, meniatkan dan berjanji dalam hati, bahwa hari ini Anda akan merasakan kebahagiaan, apapun pengalaman yang akan Anda alami? Dan sepanjang hari, jaga kesadaran Anda bahwa Anda sudah memilih untuk bahagia, apapun peristiwa yang terjadi di depan Anda. Setiap pagi ketika akan memulai hari Anda, ingatlah lagi komitmen Anda ini.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bertanggungjawablah. Anda sendiri yang bertanggungjawab atas kebahagiaan Anda. Jadi, mulai sekarang, apapun peristiwa yang Anda alami, pilihan untuk bahagia atau tidak bahagia, ada di tangan Anda. Jangan pernah menimpakan kesalahan ke orang lain. Hilangkan kalimat bahwa: "saya jadi tidak bahagia karena si … " Orang-orang yang luar biasa bahagia, selalu merasa in control, bukan korban atas perbuatan orang lain atau peristiwa yang tengah di alami. Mereka mengendalikan hidupnya secara sadar, dan selalu memilih untuk bahagia.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dua pilihan yang begitu mudah dibaca, namun cukup menantang untuk dipraktekkan. Saya juga sedang berlatih. InsyaAllah dengan menjalankan dua pilihan orang-orang yang luar biasa bahagia tadi, semoga kebahagiaan dapat lebih betah singgah di hati Anda. Untuk kemudian menetap. Selamanya. (FR)&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27366165-6492913639798816678?l=fauzirachmanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/feeds/6492913639798816678/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27366165&amp;postID=6492913639798816678' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/6492913639798816678'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/6492913639798816678'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/2007/07/menghadirkan-kebahagiaan.html' title='Menghadirkan Kebahagiaan'/><author><name>Fauzi Rachmanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14831845815996709974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_AFw7AVcDntE/ShJCO9gF3KI/AAAAAAAAAIQ/VVgCHydCDDU/S220/fauzi.jpg'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27366165.post-5728192300739796028</id><published>2007-07-05T08:09:00.001+07:00</published><updated>2007-07-05T08:09:43.947+07:00</updated><title type='text'>Menjadi Jenderal</title><content type='html'>&lt;span xmlns=''&gt;&lt;p&gt;Betapa besar perbedaan cara kerja seorang Jenderal  di masa perang modern dengan Jenderal di masa lampau. Jika Anda pernah menyaksikan film "Ike: The Countdown to D Day", yang dibintangi Tom Selleck sebagai Jenderal Dwight D. Eisenhower, Sang Supreme Commander pada waktu serangan besar-besaran pasukan sekutu ke Normandia, Anda akan bisa menyaksikan bahwa Jenderal Eisenhower bekerja dengan luar biasa melalui pemikiran, strategi dan keputusan yang dibuat dengan penuh perhitungan di war-room nya. Ini berbeda dengan aksi Jenderal Gaius Julius Caesar atau Jenderal Mark Anthony misalnya, yang dapat Anda saksikan di film serial "the Rome". Pada masa kerajaan Romawi tadi, para Jenderal tidak hanya memikirkan strategi dan membuat keputusan, namun juga langsung melakukan aksi fisik di medan pertempuran. Maka di film the Rome Anda dapat menyaksikan Jenderal Mark Anthony yang langsung turun bertempur dan ikut berdarah-darah. Sesuatu yang sulit kita bayangkan akan terjadi pada Jenderal Eisenhower, ataupun Jenderal Norman Schwarzkopf, misalnya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Anda yang memiliki bisnis juga adalah Jenderal bagi bisnis Anda. Karena mengelola bisnis prinsipnya tidak jauh beda dengan apa yang dilakukan para Jenderal tadi. Sebagai "Jenderal Bisnis" kita juga harus pandai menyusun strategi, mengalokasikan sumberdaya, dan membuat keputusan untuk mencapai tujuan. Kompetisi dengan para pesaing pada market yang terbatas juga mirip dengan pertempuran antar pasukan dalam memperebutkan wilayah tertentu. Dan konsekuensi dari keputusan yang dibuat oleh seorang jenderal bisnis pun bisa berupa kemenangan ataupun kekalahan. Hampir sama dengan hasil suatu peperangan. Idealnya, di jaman modern ini, seorang jenderal bisnis mampu bekerja seperti para Jenderal militer di masa modern seperti Eisenhower atau Schwarzkopf.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Buat saya ini masih menjadi pekerjaan rumah yang tidak mudah. Bagaikan Jenderal masa Romawi kuno, saya lebih sering ikut langsung dalam pertempuran-pertempuran di garis depan. Meskipun sudah berhasil untuk membatasi diri tidak terlibat langsung dalam delivery, namun hingga saat ini saya masih sangat terlibat dalam pemasaran dan penjualan. Ini yang kadang membuat saya mengalami kesibukan yang sedikit di luar batas. Dan ini saya akui sangat melelahkan. Seperti yang saya alami beberapa minggu ini. Kami mendapat begitu banyak opportunity yang sangat menantang. Tentu ini baik buat bisnis. Namun konsekuensinya, saya harus sering terjun langsung dalam mempelajari kebutuhan calon pelanggan, merumuskan konsep solusinya dalam bentuk proposal, hingga melakukan presentasi dan demo solusi yang kami tawarkan. Kadang hal ini memakan waktu yang tidak sedikit. Beberapa minggu ini saya selama beberapa malam hanya bisa tidur 2 – 3 jam, itupun besoknya harus segar kembali karena harus siap melakukan presentasi. Nah, presentasinya sendiri kadang bisa makan waktu seharian. Caaapee deh …&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ini mungkin sindrom pebisnis pemula seperti saya. Sebenarnya yang sekarang sudah lumayan, karena sebelumnya malah lebih parah lagi. Saya terlibat langsung di semua lini. Mulai dari proses jualan, proses delivery, hingga penagihan. Kalau istilahnya Brad Sugars, masih work in the business. Saya kemudian mulai untuk tidak terlibat dalam delivery, karena ini yang paling melelahkan, juga antara lain setelah terinspirasi oleh pemikiran Brad Sugars. Tapi rupanya di area penjualan, saya masih sering keasyikan bertempur.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Delegate !&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya tahu, Anda pasti berpikir, kenapa saya tidak delegasikan tugas yang melelahkan tadi? Bukankah di berbagai bukunya Brad Sugars dengan jelas mengatakan, bangun system dan delegasikan ke tim. Bahkan kemampuan untuk melakukan pendelegasian ini oleh banyak pemikir seperti John C. Maxwell atau Jeffrey J. Fox dianggap sebagai ukuran kemampuan kepemimpinan seseorang. Jenderal Eisenhower sebelum "D Day" melakukan delegasi kewenangan yang jelas kepada pimpinan angkatan udara, angkatan laut dan angkatan darat yang akanmenjadi eksekutor keputusannya. Seorang Jenderal modern tahu persis, tidak mungkin ia melakukan semua sendirian, tanpa dukungan seluruh anggota tim. Singkatnya, seorang Jenderal bekerja dengan memberikan delegasi kepada tim.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun pelaksanaan pendelegasian tidak semudah teorinya. Saya sendiri juga masih terus mencoba. Dan mungkin saya termasuk orang yang sering gagal melakukan pendelegasian. Tapi tidak apa-apa, paling tidak saya jadi belajar. Dalam pengalaman saya, ada beberapa hal yang menjadi penyebab tidak berjalannya pendelegasian:&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pendelegasian tanpa kepercayaan.&lt;/strong&gt; Pendelegasian artinya memberikan kepercayaan penuh kepada tim Anda untuk melaksanakan. Mungkin seringkali kita "gemas" dengan cara tim kita melaksanakan tugas yang tadinya biasa kita kerjakan. Dan dorongan untuk mengambil alih kembali tugas tadi kadang demikian besar. Tapi apabila ini kita lakukan, maka delegasi yang kita coba jalankan akan berakhir. Ini godaan yang paling sering saya alami. Saya sudah delegasikan, namun saya juga gemas, karena saya tahu saya bisa melakukan dengan lebih baik. Tapi jika semua hal saya ambil alih kembali, kapan jadi Jenderal nya ya?&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pendelegasian tanpa pengarahan.&lt;/strong&gt; Ini sering sekali dilakukan oleh para Jenderal bisnis pemula seperti saya. Memberikan delegasi kewenangan dengan pola "saya gak mau tahu" dan "pokoknya urusan kamu". Padahal sebagai Jenderal kita harus memberikan arahan apa yang akan dicapai, kenapa harus dicapai, dan bagaimana mencapainya. Pelaksanan tugasnya yang kemudian di delegasikan. Tanpa arahan, tim yang menerima delegasi akan tidak tahu arah.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pendelegasian tanpa persiapan.&lt;/strong&gt; Ini juga kerap terjadi. Delegasi diberikan tanpa persiapan atas tim nya sendiri. Belum ada struktur organisasi dan pembagian tugas yang jelas, belum ada prosedur yang jelas, langsung di delegasikan kewenangannya. Bahkan kadang belum jelas apakah anggota tim nya sudah siap atau belum. Kalau belum siap, ya harus disiapkan. Mungkin perlu dilakukan pelatihan, atau di re organisasi dulu tim nya. Memberikan delegasi tanpa persiapan anggota tim, sama saja dengan menciapkan chaos. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pendelegasian tanpa pengendalian.&lt;/strong&gt; Pendelegasian tanpa control kadang bagaikan menciptakan api dalam sekam. Kita sudah ciptakan sistemnya, siapkan orangnya, memberikan pengarahan, dan memberikan delegasi penuh kepada anggota tim kita. Dan semua kelihatan berjalan dengan baik. Namun tiba-tiba customer Anda menghubungi Anda untuk menyatakan memberhentikan jasa yang diberikan perusahaan Anda, dan Anda pun kebingungan dimana salahnya. Ini sangat mungkin terjadi jika dalam pemberian delegasi, Anda tidak punya metode yang baku untuk mengukur hasil yang dicapai oleh tim Anda.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Semoga Anda bisa memetik manfaat dari pengalaman saya. Tanpa delegasi, bisnis jadi tidak sehat. Seorang Jenderal tidak seharusnya ikut larut dalam pertempuran sehingga melupakan fungsi utama nya untuk memimpin pasukan mencapai tujuannya. Seorang Jenderal harus lebih sering meluangkan waktu nya untuk hal-hal yang strategis, berpikir tentang masa depan, sehingga bisnis nya memiliki masa depan yang baik. Ah, rupanya masih banyak yang harus saya pelajari. Semoga kita semua mampu menjadi Jenderal bisnis sejati. (FR)&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27366165-5728192300739796028?l=fauzirachmanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/feeds/5728192300739796028/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27366165&amp;postID=5728192300739796028' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/5728192300739796028'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/5728192300739796028'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/2007/07/menjadi-jenderal.html' title='Menjadi Jenderal'/><author><name>Fauzi Rachmanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14831845815996709974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_AFw7AVcDntE/ShJCO9gF3KI/AAAAAAAAAIQ/VVgCHydCDDU/S220/fauzi.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27366165.post-8042305456534099367</id><published>2007-06-24T13:18:00.001+07:00</published><updated>2007-06-24T13:38:19.443+07:00</updated><title type='text'>Something Happened On the Way To Heaven</title><content type='html'>&lt;span xmlns=""&gt;&lt;p&gt;Judul di atas adalah judul lagu Phil Collins, yang dinyanyikan di era solo karirnya setelah keluar dari supergrup Genesis. Kalau Anda terbiasa mendengarkan lagu-lagu Genesis pada masa Phil Collins masih menjadi drummer dengan lead vocal Peter Gabriel, mungkin Anda kurang suka lagu yang sedikit groovy tadi. Tapi memang harus diakui kemampuan Phil Collins untuk beradaptasi dengan selera pasar dan merangkul generasi yang lebih muda. Termasuk dalam lagu bertemakan cinta yang judulnya saya pinjam ini, Phil Collins mampu mengungkapkan dengan sangat baik, betapa dalam hidup kadang bisa saja terjadi bahwa segala sesuatu yang tampaknya berjalan dengan sangat baik, tiba-tiba berubah menjadi buruk. Perumpamaanya bagaikan perjalanan yang indah menuju surga. Namun tiba-tiba sesuatu terjadi, dan kita batal pergi ke surga. Dan tinggal kita merenung dan menyenandungkan lagu Phil Collins tadi, " how can something so good, go so bad … how can something so right, go so wrong …" &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam bisnis hal demikian juga seringkali terjadi. Paling tidak saya pernah mengalaminya. Ketika pertama kali terjun ke dunia bisnis. Saya memulai dengan mulus dan sempurna. Saya dan tim saya sudah memiliki impian yang luar biasa, kami sudah share impian kita dengan orang-orang terdekat , dan memperoleh dukungan yang luar biasa dari orang-orang tercinta. Modal uang yang tidak sedikit sudah disiapkan, rencana yang sangat matang sudah disusun dengan berbagai skenario, dan relasi bisnis sudah siap mendukung. Kami pun langsung take action. Kami menyewa kantor yang mahal, dan merekrut karyawan, dan langsung menggeber berbagai event dan seminar untuk memperoleh awareness. Keanggotaan club bisnis yang mahal juga kami jalani untuk berpromosi. Bahkan, event kami selalu memperoleh eksposure yang luar biasa dari koran dan majalah bisnis. Waktu itu tiada hari kami lalui tanpa seminar dan presentasi ke berbagai perusahaan besar. Selalu tampil berjas dan berdasi, menggelar berbagai seminar, segala tepuk tangan, wawancara, sorot kamera dan jepretan foto, membuat hati ini melambung, serasa "melayang menuju surga". Penjualan sepertinya akan melampaui rencana, dan keuntungan yang besar sudah membayang di depan mata. Kemudian "something happened on the way to heaven". Ada beberapa faktor regulasi baru yang akan menghambat penggunaan produk kami oleh prospek-prospek kami. Satu demi satu mereka pun menunda dan membatalkan untuk menggunakan produk kami. Bisa Anda tebak selanjutnya. Gak jadi deh ke surga nya … hahaha.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam berbagai skalanya, "something happened on the way to heaven", mungkin juga pernah Anda alami. Entah itu bisnis yang semula bagus tiba-tiba memburuk, hubungan percintaan yang baik-baik saja, namun tiba-tiba memburuk, atau project yang sedang Anda kerjakan, yang semula sempurna, namun tiba-tiba berantakan. Jika Anda mengalaminya, menurut saya ada tiga hal yang bisa Anda lakukan:&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Menerima Kenyataan.&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hal yang paling sulit adalah menerima kenyataan, bahwa apa yang sudah direncanakan tidak akan berjalan. Sehingga kadang kita malah membuang-buang waktu dan tenaga untuk mencoba membalik keadaan. Disini kita harus dapat berpikir jernih dan jujur. Kalau memang kapal sedang tenggelam, maka terima kenyataan bahwa kapal sedang tenggelam, bukan berpura-pura bahwa kapalnya baik-baik saja, dan terus dipaksa berlayar. Ini sangat penting, karena hanya dengan menerima kenyataan, maka kemudian kita bisa menentukan tindakan yang benar. Misalnya kapalnya sedikit lagi akan tenggelam, ya kita cepat-cepat menyelamatkan diri, bukan memaksa mengembangkan layar.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menerima juga berarti tidak mengutuki apa yang sudah terjadi. Apalagi terjebak dalam frustrasi atau bahkan sampai ingin bunuh diri, aduh … amit-amit. Segala sesuatu terjadi pasti ada purpose nya. Mungkin saja, "perjalanan ke surga" Anda yang sekarang tertunda karena Tuhan sedang menyiapkan surga yang lebih besar lagi. Atau, mungkin ada pelajaran bagus yang harus Anda pelajari dalam perjalanan yang gagal kali ini, sehingga perjalanan-perjalanan Anda berikutnya akan lebih mudah dan menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menerima berbeda dengan menyerah. Dalam hal ini kita menerima apa yang sudah terjadi. Karena percuma jika batin Anda terus memberontak atas apa yang sudah terjadi. Mau berteriak-teriak dan membenturkan kepala di tembok juga, apa yang sudah terjadi tidak akan bisa direvisi lagi. Kita hanya bisa berikhtiar, soal hasil adalah urusan Tuhan. Ini yang kita terima. Namun bukan berarti kemudian kita tidak melakukan usaha apa-apa lagi.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dengan menolak, mungkin Anda akan meratapi atau menangisi kenyataan. Namun dengan menerima kenyataan, Anda bisa mulai tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Ambil Manfaatnya.&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jika sesuatu yang tidak Anda kehendaki bisa menimpa bisnis Anda yang semula tampak begitu baik, artinya ada sesuatu yang tidak Anda pikirkan sebelumnya. Dan ini adalah hal baru yang bisa Anda pelajari. Dengan demikian, justru ketika menghadapi peristiwa yang tidak dikehendaki, maka Anda sedang dalam proses untuk menjadi semakin baik dan semakin baik. Tentu saja ini akan terjadi jika Anda mau jujur mengevaluasi hal-hal apa yang masih harus diperbaiki. Termasuk jujur menerima jika ternyata diri Anda sendirilah yang harus diperbaiki.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada dasarnya kita dapat mengambil manfaat yang baik dari setiap hal yang semula kita anggap buruk. Ketika menghadapi penjualan yang sepi, Anda bisa belajar untuk memiliki teknik promosi dan penjualan yang lebih baik. Ketika biaya operasional membengkak dan profit Anda sangat sedikit, Anda bisa belajar banyak dalam hal efisiensi. Ketika Anda kesulitan uang kas, pada dasarnya Anda bisa belajar berhemat … hehehe.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Lebih bagus lagi jika Anda mampu merubah hal yang semula Anda anggap buruk, menjadi sesuatu yang baik. Misalnya, seorang pembalap yang mengalami kecelakaan, daripada meratapi nasibnya, dia dapat menulis buku yang bagus tentang safety dalam balapan. Pengusaha yang nyaris bangkrut karena krisis moneter, mungkin bisa menjadi pembicara yang baik dalam hal menghadpai krisis keuangan. Saya juga pernah menghadapi hal semacam ini. Ketika pusing mencari jalan keluar membayar tagihan sewa ruang kantor yang menumpuk, saya mendapat ide untuk menawarkan barter biaya sewa dengan software yang kami buat.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Ini Belum Berakhir.&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Yang terakhir, Anda harus ingat, bahwa tidak bisa melanjutkan "perjalanan ke surga" hari ini, bukan beratrti Anda tidak akan pernah bisa ke surga. Pernah nyaris bangkrut itu tidak berarti Anda selamanya akan bangkrut, belum laku itu tidak berarti bahwa produk Anda selamanya tidak akan laku. Salalu ada kesempatan berikutnya yang Anda dapat manfaatkan. Mundur selangkah tidak apa-apa, asal jangan lupa jujur melakukan evaluasi atas apa yang telah Anda lakukan, melakukan perbaikan, dan coba lagi. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kalau kata lagunya Lenny Kravitz: It ain't over till its over! (FR)&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27366165-8042305456534099367?l=fauzirachmanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/feeds/8042305456534099367/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27366165&amp;postID=8042305456534099367' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/8042305456534099367'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/8042305456534099367'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/2007/06/something-happened-on-way-to-heaven.html' title='Something Happened On the Way To Heaven'/><author><name>Fauzi Rachmanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14831845815996709974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_AFw7AVcDntE/ShJCO9gF3KI/AAAAAAAAAIQ/VVgCHydCDDU/S220/fauzi.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27366165.post-6606399837490425957</id><published>2007-06-07T21:20:00.001+07:00</published><updated>2007-06-07T21:20:08.500+07:00</updated><title type='text'>Kyai Tanpa Sarung</title><content type='html'>&lt;span xmlns=''&gt;&lt;p&gt;Anda pasti tahu Bob Sadino. Salah seorang figur pengusaha sukses di Indonesia yang mengawali karirnya dengan berjualan telur secara door-to-door, kemudian menjadi pelopor dalam industri peternakan unggas dan makanan olahan, hingga berhasil membangun kerajaan bisnisnya hingga saat ini. Kemarin saya diundang oleh Pak Budi Utoyo (Leha-Leha Spa), Pak Nyoman Londen (Edola Burger) dan Pak Dodi Mawardi (penulis) untuk berbincang-bincang langsung dengan Om Bob. Sebuah kesempatan langka buat saya pribadi, karena sudah sejak lama saya mengagumi salah satu fenomena bisnis Indonesia ini.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jika Anda bertemu dan berdialog langsung dengan beliau, dan berharap akan memperoleh tips-tips bisnis instan a la Brad Sugars, besar kemungkinan Anda akan kecewa. Justru seluruh pola pikir Anda akan dijungkir-balik kan, dikocok-kocok, dibuyarkan, dan Anda pulang dalam kebingungan. Saya pun demikian. Namun, di perjalanan pulang, saya merenung, dan ternyata banyak hal yang semula tidak masuk akal, berhasil saya rangkai dalam otak saya menjadi sesuatu yang justru luar biasa jernih dan masuk akal. Betul-betul seperti berdialog dengan seorang Sufi. Nah, Anda tidak perlu ikut kebingungan, berikut catatan pertemuan saya dengan Om Bob, dari sudut pandang dan kesimpulan saya:&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Menjadi Goblok&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Betul, Anda tidak salah baca. Untuk menjadi pengusaha yang baik, Anda justru harus goblok. Ini bahasa beliau sendiri yang cara bertuturnya sangat khas orang "jalanan". Sekilas terdengar kasar dan mengada-ada. Bahkan Om Bob terkenal dengan ucapan beliau yang kemudian pernah dibukukan: "Kalau Mau Kaya, Ngapain Sekolah?". Ya, seolah-olah beliau sangat anti sekolah, anti belajar, anti membaca dan sebagainya. Padahal, di rumahnya, saya lihat rak buku beliau yang jauh lebih padat dari rak buku saya, jelas beliau makhluk pembelajar. Namun yang membedakan adalah, beliau lebih berorientasi pada tindakan dan belajar langsung dari kehidupan, bukan dari sekolah. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dan kalau dicermati, justru "menjadi goblok" ini memiliki filosofi yang sangat mendalam. Dengan menjadi goblok, maka Anda sebenarnya selalu dalam posisi mengesampingkan "Mr. I Know" Anda dan terus belajar dan terus maju. Sebaliknya, mereka yang masuk kategori "orang pintar" kadang memiliki beberapa kelemahan yang akan menghambat proses menjadi pengusaha, misalnya:&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Terlalu menggunakan logika, sehingga tidak berani bermimpi besar. Orang pintar mengandalkan logika, sehingga hanya berani bermimpi dalam batas logika mereka. Sementara orang goblok akan bermimpi jauh melampaui logika mereka.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Terlalu banyak menganalisis. Orang pintar melakukan berbagai perhitungan untung rugi dari berbagai metoda dan scenario, sehingga malah tidak berani segera mengambil tindakan. Orang goblok, sebaliknya mengambil keputusan dengan cepat dan berani, dan akan belajar dari kesalahan.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Orang pintar karena tahu banyak hal, cenderung ingin mengerjakan semuanya sendiri. Sebaliknya, orang goblok, karena keterbatasannya akan berpikir untuk melakukan rekrutmen dan delegasi kewenangan. Ini yang menyebabkan banyak orang pintar ketika memulai bisnis gagal membentuk tim, karena ingin berada di semua lini.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Orang pintar mengandalkan pengetahuan dan informasi dari masa lalu. Ibarat makanan, informasi di masa lalu sudah menjadi basi, sehingga kadang malah meracuni. Orang goblok justru selalu menggali informasi yang segar dan relevan dengan apa yang sedang dikerjakan sekarang.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Manusia Tanpa Tujuan dan Tanpa Rencana&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Nah, pasti Anda makin melotot, masa tanpa tujuan? Betul, berulangkali beliau mengatakan bahwa beliau tidak punya rencana dan tidak punya tujuan. Wah, bagaimana bisa? Bukankah selama ini kita diajarkan untuk memiliki tujuan yang jelas dan rencana yang detil untuk mencapai tujuan tersebut? Bagaimana mungkin usaha yang demikian besar dikembangkan tanpa rencana dan tujuan? Ya demikian kenyataannya, menurut Om Bob. Beliau tidak pernah terbebani oleh rencana dan tujuan. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ada dua kata kunci yang saya tangkap dari Om Bob dalam menjalani hidup tanpa tujuan yang beliau istilahkan "mengalir" tadi. Pertama adalah: &lt;strong&gt;Proses&lt;/strong&gt;. Dengan tidak berpaku kepada tujuan, maka kita akan lebih mengikuti prosesnya, menekuninya, dan memberikan yang terbaik. Kedua adalah: &lt;strong&gt;Enjoyment&lt;/strong&gt;. Om Bob menekankan pada "kenikmatan" mengikuti prosesnya. Pahit dan getirnya menjalani proses, nikmati saja. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Prinsip ini sesuai benar dengan prinsip "goal free living" yang pernah ditulis Stephen Saphiro dalam bukunya yang terkenal itu. Dengan membebaskan diri dari tujuan yang kaku, kita malah akan selalu dapat melihat berbagai kesempatan dan peluang yang kadang tiba-tiba hadir dalam perjalanan kita. Orang-orang yang "goalaholic", seringkali melewatkan berbagai peluang dalam perjalanan hidup mereka karena terpaku pada "tujuan" mereka. Isn't that interesting?&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Bebas dari Tiga Belenggu&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ada tiga belenggu yang menurut Om Bob dapat menghambat kita: Pertama: Belenggu &lt;strong&gt;Rasa Takut&lt;/strong&gt;. Ini belenggu yang sangat kuat mencengkeram kita, seperti takut gagal, takut miskin, takut ditolak, dsb. Ini faktor penghambat yang sangat kuat dan harus dipatahkan. Kedua: &lt;strong&gt;Belenggu Harapan&lt;/strong&gt;. Kadang kita berharap terlalu banyak, sehingga malah menjadi belenggu bagi diri sendiri. Belum-belum sudah berharap banyak, dan akhirnya kecewa karena harapan nya tidak tercapai. Dengan membebaskan diri dari harapan, maka Anda akan bebas dari kekecewaan. Menurut saya ini prinsip "detachment" (tidak melekat pada hasil) yang juga sangat dianjurkan oleh Deepak Chopra. Dan ketiga: &lt;strong&gt;Belenggu Jalan Pikiran&lt;/strong&gt;. Ini yang sering menghinggapi "anak sekolahan", yang terbelenggu oleh jalan pikirannya sendiri, sementara realitas di kehidupan masyarakat jauh dari teori yang pernah dipelajari. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Modal Jadi Pengusaha&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam kesempatan kemarin, Om Bob membagi-bagikan modal kepada kami semua untuk menjadi pengusaha. Bukan, bukan modal duit. Modal untuk menjadi pengusaha menurut beliau bukanlah sekedar modal yang tangible seperti uang, barang, dsb. Namun justru ada 5 modal yang meskipun intangible namun sangat penting untuk dimiliki semua Pengusaha:&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Kemauan&lt;/strong&gt;. Untuk menjadi pengusaha syaratnya sungguh simple. Anda mau. Kalau Anda tidak memiliki kemauan yang tulus dan kuat untuk menjadi pengusaha, maka lupakan bahwa Anda akan menjadi pengusaha. &lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Tekad &lt;/strong&gt;atau Determinasi. Yaitu tekad yang sangat kuat dan bulat, yang tidak akan tergoyahkan oleh keadaan apapun, untuk menjadi pengusaha.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Keberanian&lt;/strong&gt; mengambil peluang. Menjadi pengusaha berarti berani ambil tindakan ketika peluang lewat didepan mata. &lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Tahan Banting&lt;/strong&gt; dan Tidak Cengeng. Om Bob melukiskan bahwa, kesuksesan hanyalah titik kecil diatas gunung "kegagalan" atau penderitaan. Bagi beliau gagal itu baik, karena dengan gagal kita belajar dan menjadi lebih baik. Maka, seorang pengusaha harus tahan banting, dan tidak ada tempat untuk cengeng.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Bersyukur&lt;/strong&gt; pada Tuhan Yang Maha Esa. Ini yang sangat sering beliau ingatkan, bahwa kita harus selalu mengembalikan segala sesuatu kepada Tuhan YME. Syukuri segala yang telah dicapai selama ini.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Dari Hitam Putih menuju Ikhlas&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurut saya, Om Bob ternyata adalah seorang spiritualis dengan tingkat pemahaman yang sudah melampaui kebanyakan orang. Beliau menyandarkan hidupnya total kepada Allah SWT. Menurut beliau, manusia tumbuh melalui beberapa tahap: Tahap pertama adalah tahap "hitam putih", dimana kita mengandalkan logika semata. Selalu berpikir dalam kacamata hitam atau putih, benar atau salah, dan 2 + 2 selalu 4. Tahap kedua adalah tahap "kearifan" atau "kebijaksanaan", dimana kita sudah bisa memberi makna dibalik yang hitam putih tadi. Bahwa dibalik hitam, kadang ada putihnya, pada sesuatu yg putih, kadang ada hitamnya. Nah, tahap yang ketiga adalah tahap "kosong", atau "total surrender", atau ikhlas. Dimana kita percaya sepenuhnya bahwa semua sudah diatur oleh Tuhan YME. Nah, silakan dinilai sendiri Anda nyampai tahap yang mana?&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dari sini kita paham. Mengapa beliau tidak punya rencana? Karena beliau memiliki Sang "master planner". Dan mengapa beliau tidak punya tujuan? Karena beliau tahu bahwa hidup beliau Tuhan yang menentukan. Karena yakin, maka beliau ikhlas menjalani kehidupan ini. Bahwa kemudian beliau memetik hasil seperti sekarang, semata hanyalah akibat dari tindakan yang terus menerus beliau lakukan. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Anda setuju? Kata Om Bob, terserah Anda untuk setuju atau tidak. Beliau memang tidak pernah memaksa orang sepaham dengan beliau. Menurut saya, beliau adalah contoh manusia yang sudah mencapai tahap "total surrender" tadi. Tidak berlebihan, jika atas usul salah seorang rekan, kami yang hadir kemarin sepakat bahwa Bapak Haji Bob Sadino ini pantas dijuluki sebagai "Kyai Tanpa Sarung". (FR)&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27366165-6606399837490425957?l=fauzirachmanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/feeds/6606399837490425957/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27366165&amp;postID=6606399837490425957' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/6606399837490425957'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/6606399837490425957'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/2007/06/kyai-tanpa-sarung.html' title='Kyai Tanpa Sarung'/><author><name>Fauzi Rachmanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14831845815996709974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_AFw7AVcDntE/ShJCO9gF3KI/AAAAAAAAAIQ/VVgCHydCDDU/S220/fauzi.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27366165.post-4952921190868512316</id><published>2007-05-29T09:45:00.001+07:00</published><updated>2007-05-29T09:45:05.995+07:00</updated><title type='text'>Mata Ketiga</title><content type='html'>&lt;span xmlns=''&gt;&lt;p&gt;Konon, di dunia persilatan, orang yang linuwih, atau orang yang punya kemampuan melebihi kemampuan orang kebanyakan, mampu melihat hal-hal yang tidak dapat dilihat mata orang biasa. Misalnya, mereka konon dapat melihat medan bio energi yang menyelimuti manusia, melihat makhluk-makhluk ghaib, bahkan dapat melihat peristiwa di tempat lain, ataupun peristiwa yang akan terjadi di masa depan, yang kalau dalam bahasa Jawa nya disebut "weruh sadurunge winarah". Singkatnya, kemampuan  luar biasa yang sangat membantu mereka dalam menjalani kehidupan. Tentu saja, mereka memperoleh kemampuan tadi tidak dengan cara gampang. Mereka telah menempuh berbagai latihan dan disiplin untuk membuka "mata ketiga" mereka, sehingga pandangan mereka mampu menembus hal-hal yang tidak terlihat mata biasa tadi.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Seperti halnya di dunia persilatan, di dunia usaha pun sebetulnya Anda harus memiliki "mata ketiga" untuk dapat melihat hal-hal yang tidak dapat dilihat orang kebanyakan. Bukan, maksud saya  ini bukan untuk melihat makhluk ghaib, namun untuk melihat peluang-peluang usaha yang lalu-lalang di depan mata, tapi selalu luput dari pandangan mata biasa kita. Makanya kita perlu disiplin dan latihan untuk membuka "mata ketiga" kita. Memang, ada beberapa orang tertentu yang dilahirkan dengan bakat untuk gampang melihat peluang bisnis. Namun, sesungguhnya semua orang memiliki kesempatan yang sama. Karena ada latihan-latihan sederhana yang jika Anda sering lakukan, akan membuat mata ketiga Anda semakin peka melihat peluang. Latihan yang akan saya paparkan sebaiknya Anda lakukan sendirian, dalam lingkungan yang tenang dan nyaman. Karena Anda harus banyak melakukan kerja otak, mirip-mirip mindstorming-nya Brian Tracy. Tentu, Anda perlu alat tulis untuk menuliskan latihan-latihan Anda. Berikut dua latihan yang ingin saya share:&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Latihan yang pertama adalah latihan "Si Sukses". Caranya begini. Pikirkan dan tuliskan 20 benda yang ada disekitar Anda, dan kemudian di sebelahnya tuliskan minimal satu nama "si sukses", yaitu orang yang sukses menjalankan usaha terkait benda yang Anda tuliskan tadi. Bisa orang yang Anda kenal secara langsung, bisa juga tidak. Contoh: Komputer – Michael Dell (Dell); Kertas – Eka Cipta (Sinar Mas Group); Mi Instan – Anthony Salim (Indofood); Kopi – Howard Schultz (Starbuck); Kerudung – Nia Kurnia (Rabbani); Sepatu – Edo Edward Forrer; dst. Contoh yang saya tulis adalah figur pebisnis kelas nasional dan internasional. Namun, akan lebih bagus jika Anda mengganti dengan orang yang betul-betul Anda kenal dan dekat dengan Anda. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Awalnya mungkin sulit. Kadang-kadang Anda akan sedikit "hang" memikirkan siapa orang yang pernah sukses menjual benda yang Anda tulis. Namun, lama kelamaan Anda akan semakin mudah menemukan nama si sukses. Setelah Anda berhasil dengan latihan pertama, Anda bisa melakukan beberapa variasi latihan. Misalnya, Anda menulis 20 nama makanan dan si sukses dalam bidang makanan, 20 nama benda dan si sukses dalam bidang teknologi; dan lain-lain. Benda apa yang bisa Anda tulis? Apapun, mulai dari makanan, pakaian, peralatan, apa saja yang Anda lihat atau melintas di otak Anda. Jika Anda belum menemukan nama si sukses atas benda yang Anda tulis, skip saja dulu dan cari informasi ke teman, koran, majalah atau di internet. Karena pasti ada. Santai saja, Anda bisa mengulang latihan ini sebanyak yang Anda mau dengan variasi yang Anda sukai.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Apa makna latihan ini? Latihan ini akan membuktikan kepada Anda, bahwa untuk setiap benda yang Anda tulis, ternyata ada orang yang sukses luar biasa. Artinya, setiap benda yang Anda lihat, sebenarnya adalah prospek bisnis luar biasa yang melambai-lambai di depan mata Anda. Namun selama ini mungkin Anda abaikan, karena "mata ketiga" Anda belum terbuka.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Latihan yang kedua adalah latihan "Tantangan Satu Milyar". Dalam latihan ini Anda harus dapat menjawab tantangan: bagaimana membuat uang satu milyar rupiah, dari benda apa saja yang Anda pilih. Nama benda nya bisa Anda ambil dari salah satu yang ada di daftar latihan "si Sukses". Misalnya Anda memilih "Sepatu". Maka tantangan Anda adalah bagaimana membuat satu milyar dari benda yang bernama Sepatu ini. Ooh gampang, misalnya Sepatu nya seharga 100 ribu kalikan saja dengan 10 ribu, ketemu semilyar. Ya, tapi logika mengatakan akan sangat sulit menjual 10 ribu Sepatu dalam satu waktu. Lalu bagaimana caranya?&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Caranya adalah dengan menggunakan "faktor kali". Sebagai contoh, faktor kali yang dapat Anda gunakan misalnya adalah: &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Pertama, tentu harga produk. Misalnya adalah harga sepatu yang 100 ribu tadi. &lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kedua, variasi produk, misalnya ada 5 jenis sepatu. &lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ketiga, wilayah, misalnya Anda punya teman atau saudara di 4 kota, yang Anda bisa ajak memasarkan sepatu Anda&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Keempat, reseller, misalnya di masing-masing kota, teman atau saudara Anda mengajak 5 orang rekannya untuk menjadi reseller&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kelima, penjualan per bulan, misalnya masing-masing reseller mendapat target menjual 10 pasang sepatu per bulan&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Keenam, waktu, misalnya Anda berjualan selama 10 bulan&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;Maka, berapa uang yang Anda peroleh. Coba ambil kalkulator: 100,000 x 5 x 4 x 5 x 10 x 10 = 1000,000,000. Pas semilyar ! Selamat Anda sudah menghasilkan satu milyar. Sayangnya, baru di atas kertas, hehehe … Ya, karena latihannya baru di atas kertas, maka uang nya juga baru di atas kertas. Kalau mau uang beneran ya Anda harus take action di dunia nyata.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Anda dapat melakukan banyak variasi dari latihan ini. Misalnya ganti semilyar dengan sepuluh milyar, seratus milyar, dsb. Demikian juga dengan faktor kali nya, ciptakan faktor kali-faktor kali sendiri sesuai imajinasi Anda. Bisa Anda buktikan sendiri, semakin banyak faktor kali semakin masuk akal. Seorang reseller yang menjual 10 pasang sepatu perbulan selama sepuluh bulan, tentu lebih masuk akal dibanding menjual 10 ribu sepatu dalam satu hari. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Apa makna latihan ini? Bahwa ternyata menghasilkan satu milyar atau bahkan sepuluh milyar dari barang-barang di sekitar Anda itu sangat mungkin, jika Anda memanfaatkan faktor kali. Lakukan latihan ini sesering mungkin, sehingga setiap kali Anda melihat suatu benda, Anda bisa melihat uang satu milyar di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dengan latihan-latihan tadi, insyaAllah "mata ketiga" bisnis Anda akan terbuka lebar, dan Anda bisa melihat peluang dimana-mana. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27366165-4952921190868512316?l=fauzirachmanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/feeds/4952921190868512316/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27366165&amp;postID=4952921190868512316' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/4952921190868512316'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/4952921190868512316'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/2007/05/mata-ketiga.html' title='Mata Ketiga'/><author><name>Fauzi Rachmanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14831845815996709974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_AFw7AVcDntE/ShJCO9gF3KI/AAAAAAAAAIQ/VVgCHydCDDU/S220/fauzi.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27366165.post-7459042338719826941</id><published>2007-05-23T15:36:00.001+07:00</published><updated>2007-05-23T15:36:15.639+07:00</updated><title type='text'>Mengatasi Masalah Dengan Masalah</title><content type='html'>&lt;span xmlns=''&gt;&lt;p&gt;Siapa yang pernah berhutang mohon tunjuk jari? Saya yakin hampir semua yang membaca tulisan ini akan tunjuk jari. Termasuk saya sendiri. Siapa yang pernah punya masalah dengan hutang harap tunjuk jari? Nah, sekarang banyak yang tidak tunjuk jari tapi malah senyum-senyum. Mungkin ada yang teringat pengalaman pribadinya, atau mungkin sulit untuk mengakuinya. Meski kadang kita malu mengakuinya, saya yakin banyak diantara kita yang pernah memiliki masalah dengan hutang. Entah dari sekedar terlambat membayar kartu kredit hingga tiap hari  ditelpon petugas kartu kredit, hingga didatangi debt collector yang kasar dan serem.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Untuk apa kita berhutang? Umumnya hutang digambarkan sebagai "solusi atas masalah keuangan kita". Lihat saja iklan2 produk perbankan, semua menggambarkan hutang sebagai solusi. Hutang memang akan menjadi solusi ketika kita bisa mengelola nya dengan benar. Namun dapat menjadi masalah ketika tidak dikelola dengan baik. Dan yang lebih penting lagi, ketika hutang sudah menjadi masalah, bagaimana mengatasinya?&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bagi Anda yang pernah ada dalam posisi berhutang dan merasakan beratnya membayar hutang, pasti ingat alternatif apa yang kita pikirkan ketika hutang menjadi masalah. Ya, berhutang lagi. Hampir selalu begitu. Pengalaman saya bekerja di perbankan adalah demikian. Sebagian besar debitur yang bermasalah, akan mencoba mengatasi masalah dengan menambah hutang. Ini sama saja mengatasi masalah dengan masalah. Hasilnya ya masalah yang lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya juga pernah dalam posisi berhutang, dan Alhamdulillah dapat mengatasinya. Bagaimana saya bisa menyelesaikan masalah saya dulu? Ternyata bukan dengan berhutang lagi. Masalah ternyata tidak dapat diselesaikan dengan masalah, namun harus diselesaikan secara tuntas dari dalam ke luar (inside-out). Ibarat pengobatan, harus dari dalam, baru manjur. Berikut sharing pengalaman saya:&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Jangan menghindar.&lt;/strong&gt; Mengalami masalah dalam berhutang itu wajar dan dapat diselesaikan. Jadi Anda jangan sampai menghindar dari pemberi hutang. Semakin Anda menghindar, masalah akan semakin besar. Hadapi dan ajak bicara baik-baik. Tawarkan solusi dan ajak diskusi. Mereka juga berkepentingan supaya Anda mampu membayar hutang. Anda juga tidak perlu merasa dalam posisi di bawah. Hubungan bisnis itu posisinya setara. Para konglomerat yang punya hutang trilyunan saja (dan nunggak bertahun-tahun!) kalau bernegosiasi dengan pejabat pemerintah tampil super pe-de. Jadi kalau hutang Anda masih puluhan atau ratusan juta ya santai aja. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Jangan membuat pikiran kita terpaku dengan memikirkan masalah hutang.&lt;/strong&gt;  Semakin dipikirkan, maka masalah akan semakin berat. Lagipula, suatu masalah  tidak akan selesai dengan dipikirkan. Sebagai ganti nya, mulailah berpikir tentang peluang-peluang dan kesempatan-kesempatan untuk memperoleh uang tambahan TANPA BERHUTANG. Kalau kita berpikiran bahwa solusi akan datang dengan cara mencari hutang lagi, maka itu yang akan terjadi. Jadi stop memikirkan bahwa kita akan menambah hutang untuk menutup hutang. Pikirkan peluang.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mungkin Anda akan protes, walah susah nih, bagaimana caranya? Peluang apa? Hari ini mungkin Anda belum kepikiran, tapi InsyaAllah Tuhan akan memberikan pertolongan ketika Anda mulai berpikir tentang peluang. Perhatikan sekitar Anda, adakah peluang untuk menghasilkan uang tambahan secara halal dengan cepat? Saya yakin pasti ada. Ketika kita mulai berpikir tentang peluang, pintu rizki akan terbuka. Saya pernah membuktikannya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Terus bersyukur.&lt;/strong&gt; Ini yang paling berat. Mana mungkin dalam keadaan babak-belur "terjepit hutang" masih bersyukur. Justru disini tantangannya. Tuhan Maha Bijaksana. Pengalaman berhutang ini tentu ada maksudnya. Saya yakin maksud tadi adalah baik untuk Anda. Barangkali akan mengantarkan Anda pada posisi yang jauh lebih baik. Maka tidak ada alasan untuk tidak bersyukur. Tiap detik, tiap waktu, ucapkan rasa syukur di hati dan di bibir. Caranya dengan mengingat-ingat anugerah dari Tuhan yang sudah Anda terima. Anak Anda yang lucu-lucu, pasangan Anda yang baik, Pekerjaan Anda yang diperebutkan ribuan orang, bisnis Anda yang Alhamdulillah masih berjalan, dan banyak lagi. Ini penting untuk menjaga agar hati Anda selalu dalam keadaan "feel good". Peluang tidak akan datang kepada orang dengan pikiran yang suntuk dan hati yang terus menggerutu. Ganti isi pikiran dan hati Anda dengan rasa syukur yang mendalam.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tetap berbahagia.&lt;/strong&gt; Masalah serius yang saya amati dari orang yang menghadapi masalah hutang adalah mereka menjadi tidak bahagia. Mereka merasa jadi orang susah. "Aura" susah ini terpancar keluar dan akhirnya mereka canggung dalam berbisnis, akibatnya bisnis ya makin susah. Anda harus selalu berbahagia. Hutang Anda terjadinya di dunia "luar" Anda. Diri Anda yang ada di dalam Anda tidak terpengaruh apapun yg terjadi di luar sana. Kalau Anda mau bahagia, maka jadilah Anda bahagia SEKARANG, apapun keadaan Anda. Dengan selalu bahagia, "aura" bahagia Anda akan selalu terpancar, bahasa tubuh Anda akan enak, ngomong lancar, berbisnis pun lancar. Susah dipahami ya? Hehehe … kalau gitu praktekkan saja.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Ambil tindakan.&lt;/strong&gt; Ketika ada peluang untuk mendapatkan rizki tambahan tanpa berhutang, segera ambil tindakan. Sekecil apapun itu. Kadang Tuhan bekerja dengan misterius. Hal-hal yg kelihatannya kecil dan sepele, kadang menjadi besar dan membawa berkah di masa depan. Jangan ada hari tanpa tindakan. Mulai setiap hari Anda dengan semangat, karena Anda tahu akan melakukan apa hari ini.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pasrahkan. &lt;/strong&gt;Dengan tetap berusaha, selalu pasrahkan pada Tuhan penyelesaian terbaiknya. Let it God. Tuhan Maha Tahu dan Bijaksana, pasti akan memberikan solusi yang terbaik. Kadang Tuhan membayarkan hutang Anda dengan cara yang unik, maka Anda harus selalu open-minded. Saya pernah melunasi hutang saya dengan cara barter. Hutang saya, ternyata dapat saya tukar dengan skill dan knowledge (software) yang zero cost buat saya. Peluangnya datang begitu tiba-tiba, ketika orang yang memberi hutang menanyakan dimana mencari vendor suatu software yang dia perlukan. Langsung saya sambar kesempatan ini dengan menyatakan bahwa saya bisa memberikan. Besoknya langsung saya majukan proposal. Dan ketika matanya terbelalak membaca angka di proposal saya, saya berbaik hati memberikan secara gratis, asal hutang saya dianggap nol. Kami langsung berjabat tangan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan. Termasuk hutang. Bahkan masalah yang Anda hadapi mungkin adalah salah satu bagian dari pembelajaran Anda menjadi pebisnis besar. Kalau mengatasi hutang puluhan juta saja tidak bisa bagaimana nanti jadi konglomerat yang punya hutang ratusan milyar? Jadi bagi yang sedang punya masalah dengan hutang, tetap semangat, selalu bersyukur, dan selalu hadirkan kebahagiaan di hati. InsyaAllah semua akan beres. (FR)&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27366165-7459042338719826941?l=fauzirachmanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/feeds/7459042338719826941/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27366165&amp;postID=7459042338719826941' title='16 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/7459042338719826941'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/7459042338719826941'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/2007/05/mengatasi-masalah-dengan-masalah.html' title='Mengatasi Masalah Dengan Masalah'/><author><name>Fauzi Rachmanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14831845815996709974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_AFw7AVcDntE/ShJCO9gF3KI/AAAAAAAAAIQ/VVgCHydCDDU/S220/fauzi.jpg'/></author><thr:total>16</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27366165.post-4031896181164828518</id><published>2007-05-22T02:07:00.001+07:00</published><updated>2007-05-24T00:55:54.785+07:00</updated><title type='text'>Tiga Murid</title><content type='html'>&lt;span xmlns=""&gt;&lt;p&gt;Sang Guru bijak, pagi itu menerima kembali tiga murid terbaiknya, yang telah pergi merantau selama tiga tahun. Mereka turun gunung dari kampung ke kampung dan dan dari kota ke kota, untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan dari Sang Guru: Apakah makna kekayaan bagi manusia? Jawaban dari pertanyaan tersebut akan menentukan, siapakah yang akan menjadi pengganti sang Guru kelak. Maka kini tibalah saatnya bagi mereka untuk menjawab pertanyaan Sang Guru:&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Murid Pertama berkata: Ya Guru, setelah tiga tahun merantau, murid sampai pada kesimpulan, bahwa kekayaan adalah akar kejahatan. Dalam perjalanan, murid banyak menjumpai anak manusia yang rela melakukan berbagai kejahatan, melakukan tipu muslihat, kecurangan, perampokan bahkan pembunuhan untuk memperolah kekayaan. Bahkan setelah meraih kekayaan, mereka kemudian menggunakan kekayaan tadi untuk melakukan perbuatan-perbuatan keji. Mereka gunakan kekayaan untuk berjudi, berzina, mabuk-mabukan dan madat. Tidak ada kebaikan sedikitpun dari kekayaan. Demikianlah pengamatan murid, oh Guru.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sang Guru: Oh menarik sekali pengamatanmu murid. Lalu menurutmu apa yang sebaiknya kita lakukan?&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Murid Pertama: Manusia harus menjauhkan diri dari kekayaan yang merupakan sumber kejahatan ini Guru. Supaya selalu dekat dan ingat kepada Yang Maha Esa, kita harus hidup jauh dari kekayaan. Kita dekatkan diri kita kepada Yang Maha Esa dengan meninggalkan ikatan keduniawian seperti halnya kekayaan ini Guru. Kita harus memurnikan hati kita dengan meninggalkan hal-hal yang dapat membuat hati kita terpaut kepada selain Tuhan Yang Maha Esa. Demikian menurut pendapat murid, oh Guru.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sang Guru tersenyum: Engkau sungguh memiliki kemuliaan wahai murid pertama. Aku bangga kepadamu.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Murid Kedua: Mohon maaf Guru, murid punya pendapat yang berbeda. Selama perjalanan, murid banyak berjumpa dengan raja dan saudagar kaya yang sangat dermawan. Mereka membangun tempat ibadah, mereka membangun tempat tinggal untuk orang miskin, mereka menyantuni anak yatim, mereka memberi makanan dan pertolongan untuk orang yang kesusahan. Mereka mencari kekayaan yang sangat banyak, namun juga menggunakannya untuk kebaikan banyak orang. Murid sampai pada satu kesimpulan, bahwa kekayaan adalah sumber kebaikan, yang akan membawa umat manusia kepada kebaikan. Demikian pendapat murid, oh Guru.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sang Guru: Oh, sungguh luar biasa pengamatanmu muridku. Lalu menurutmu apa yang sebaiknya kita lakukan?&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Murid Kedua: Manusia harus mencari kekayaan sebanyak-banyaknya Guru. Dengan memiliki kekayaan yang cukup, maka manusia dapat menjalani kehidupan dengan sebaik-baiknya. Dengan kekayaan yang cukup maka manusia dapat memperolah pendidikan yang baik, dapat beribadah dengan tenang, dapat bersedekah, dapat menolong keluarga dan sesama manusia yang membutuhkan. Manusia tidak boleh hidup dalam kemiskinan Guru. Kita harus melakukan seganap upaya agar manusia terbebas dari kemiskinan dan memperoleh kekayaan. Demikian pendapat murid.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sang Guru tersenyum: Engkau adalah samudera kebijaksanaan wahai murid kedua. Aku bangga kepadamu.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sang Guru berpaling ke Murid Ketiga: Murid ketiga, bagaimana menurutmu?&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Murid Ketiga: Guru, selama perjalanan, murid telah berjumpa dengan orang kaya yang baik, namun ada juga orang kaya yang jahat. Murid bertemu dengan orang miskin yang baik, dan ada orang miskin yang jahat. Murid menjumpai ada orang kaya yang taat beribadah dan selalu ingat pada Tuhan nya, namun ada juga orang kaya yang lupa pada Tuhan. Seperti halnya ada orang miskin yang selalu ingat pada Tuhan, dan ada juga orang miskin yang lupa pada Tuhan. Banyak orang kaya yang …&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sang Guru tersenyum: Jadi apa maksudmu muridku yang baik?&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Murid Ketiga: Maksud murid, ternyata kekayaan adalah sekedar alat. Semuanya akan kembali kepada diri kita sebagai manusia. Manusia yang memiliki tujuan hidup yang baik, akan menggunakan kekayaan sebagai alat untuk mewujudkan kebaikan. Demikian maksud murid, oh Guru.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sang Guru: Lalu menurutmu apa yang sebaiknya kita lakukan?&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Murid Ketiga: Manusia haruslah mengetahui hendak kemana ia akan menuju. Dengan demikian, apa pun yang dimilikinya di dunia ini hanyalah alat, bukan tujuan. Termasuk kekayaan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sang Guru: Lalu hendak kemanakah manusia menuju?&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Murid Ketiga: Manusia adalah semata ciptaan Yang Maha Esa. Kesanalah semua manusia menuju. Jika manusia menyadari tujuannya, kekayaan dapat menjadi kendaraan untuk mendekatkan diri kepada Yang Maha Esa. Namun jika sebaliknya, maka kekayaan dapat juga menjauhkan manusia dari Yang Maha Esa.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sang Guru tersenyum: Muridku, sungguh engkau adalah sumber kebijaksanaan dan samudera pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sang Guru menundukkan kepala menghormat murid ketiga: Engkaulah Guru baru di perguruan ini.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dan kedua murid yang lain, serentak menunduk hormat pada Murid Ketiga.(FR)&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27366165-4031896181164828518?l=fauzirachmanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/feeds/4031896181164828518/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27366165&amp;postID=4031896181164828518' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/4031896181164828518'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/4031896181164828518'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/2007/05/tiga-murid.html' title='Tiga Murid'/><author><name>Fauzi Rachmanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14831845815996709974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_AFw7AVcDntE/ShJCO9gF3KI/AAAAAAAAAIQ/VVgCHydCDDU/S220/fauzi.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27366165.post-4913923405555075005</id><published>2007-05-22T00:53:00.001+07:00</published><updated>2007-05-22T00:53:11.234+07:00</updated><title type='text'>Murah, Meriah, Meriang.</title><content type='html'>&lt;span xmlns=''&gt;&lt;p&gt;Siapa yang tidak mau barang murah? Tentu semua orang mau. Pembeli pasti mencari produk atau jasa dengan harga yang paling murah. Mungkin karena logika tadi, penjual sering menerapkan strategi "jual murah" untuk memenangkan kompetisi. Banting harga. Jual dengan margin sekecil mungkin, demi memenangkan persaingan. Strategi ini yang sering digunakan terutama oleh para pendatang baru supaya eksis di market. Termasuk saya, adalah orang yang sering menerapkan strategi ini ketika harus bersaing dengan para raksasa. Tapi betulkah strategi ini efektif? Hehehe … jujur saja menurut pengalaman saya tidak.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam jangka pendek, memang harga yang murah dapat membuat produk atau jasa kita kompetitif, namun dalam jangka panjang ternyata lebih banyak bikin Anda meriang. Ada beberapa alasan mengapa secara jangka panjang, strategi harga rendah bukanlah penentu kemenangan:&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pertama: Faktor kepercayaan.&lt;/strong&gt; Harga yang murah biasanya diikuti dengan pertanyaan: bagaimana kualitasnya? Ya, produk murah yang tidak diikuti dengan kualitas yang baik, malah biasanya dihindari pelanggan. Karena bagaimanapun, pelanggan membeli suatu produk atau jasa, dengan harapan memperoleh manfaat tertentu. Jika harga yang murah tadi tidak disertai dengan manfaat minimal yang seharusnya diperoleh, maka pelanggan akan kapok. Contoh sederhananya, dulu saya pernah tertipu membeli durian di tukang buah keliling yang harganya murah sekali. Ternyata setelah dibuka, tidak lebih dari setengahnya yang enak dimakan. Setelah itu saya hanya mau membeli durian di toko buah yang terpercaya. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di industri jasa yang saya tekuni juga demikian. Perusahaan-perusahaan besar umumnya kurang percaya dengan perusahaan yang menawarkan produk dan jasa nya dengan harga murah. Diantaranya terkait dengan factor kepercayaan tadi. Saya pernah menawarkan produk software untuk perbankan dengan harga yang lebih murah dibanding vendor lain, namun justru tidak dipilih karena menurut mereka tidak masuk akal software tadi bisa semurah itu. Rupanya saya amati pelanggan korporasi yang besar umumnya tidak memiliki kepercayaan pada software2 dengan harga murah.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Kedua: Kelangsungan usaha Anda.&lt;/strong&gt; Sebetulnya banyak faktor yang menjadi komponen dalam penentuan harga. Diantaranya aspek biaya untuk pengembangan dan mempertahankan usaha. Saya sering menerima keluhan dari rekan2 saya sesama pebisnis IT soal tidak kompetitifnya para pebisnis/konsultan IT di Indonesia dibanding rekan2 nya dari negara lain. Padahal dari segi harga sudah banting2an. Tetap saja konsultan "bule" atau konsultan dari India lebih laku. Padahal ini pertempuran di kandang sendiri.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kenapa bisa terjadi? Sebagian besar disebabkan kesalahan strategi harga yg selama ini dilakukan. Teman-teman saya kebanyakan terlanjur "jual murah" jasa mereka. Dampaknya adalah, mereka sendiri akhirnya hanya bisa memperoleh profit sekedar untuk bertahan hidup. Jadi jangan tanya soal melakukan research &amp;amp; development atau melakukan peningkatan pengetahuan. Akhirnya pengetahuannya stagnant, tidak ada improvement, kualitas delivery nya buruk, dan kelangsungan usaha nya tidak terjamin. Jadi bagaimana mau tetap kompetitif dan sustainable? &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Ketiga: Memicu perang harga.&lt;/strong&gt; Sekali Anda melakukan strategi banting harga, maka pesaing Anda akan melakukan hal yang sama. Dan ketika sebagian besar pesaing sudah menjual harga di bawah harga Anda, maka Anda akan terpaksa membanting harga lagi, dan seterusnya hingga menjadi pusaran yang menyedot Anda dan pesaing2 Anda untuk sama-sama kandas ke dasar. Siapa yang diuntungkan? Pelanggan? Tidak. Tidak ada yang diuntungkan. Bahkan pelanggan pun akan rugi jika para penyedia produk dan jasa yang mereka perlukan ambruk satu demi satu.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Banyak pendatang baru dalam bisnis mengira bahwa mereka pasti akan menang dalam perang harga dibanding pesaing2 yang sudah raksasa. Kenyataannya adalah sebaliknya. Para raksasa tadi lebih siap untuk melakukan perang harga dibanding Anda. Mereka punya infrastruktur yang lebih siap, jaringan yang lebih luas, supplier yang lebih murah dan akomodatif, dsb. Mereka bisa memenangkan perang harga dengan sekali tepuk. Jadi jangan coba-coba membangungkan raksasa tidur. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Alternatif&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Strategi menekan harga harus Anda tempatkan pada konteks nya. Sebagai bagian dari taktik mungkin OK dilakukan pada waktu tertentu. Namun jika konteksnya adalah untuk menjadi kompetitif, ada banyak alternatif yang tidak akan menyakiti bottom-line Anda. Banyak metode yang mungkin Anda pernah dengar. Diantaranya menurut saya yang cukup efektif adalah:&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Jadikan eksklusif.&lt;/strong&gt; Jika produk atau jasa Anda menjadi eksklusif, maka persaingan harga menjadi tidak relevan. Orang akan loyal dan mau membayar lebih mahal untuk eksklusivitas. Jangan jadikan produk atau jasa Anda menjadi produk komoditas yang mudah dipermainkan naik turunnya harga. Caranya bagaimana, terserah kreatifitas Anda. Kadang-kadang bukan sesuatu yang luar biasa. Di Solo dulu ada penjual nasi liwet yang hanya berjualan tengah malam. Antreannya jangan tanya. Orang rela bangun dan pergi malam-malam untuk makan nasi liwet tadi. Lho kenapa gak buka siang atau sore saja? Itulah, yang buka siang atau sore sudah banyak. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Berikan nilai tambah.&lt;/strong&gt; Pelanggan tidak akan terlalu membandingkan harga jika mereka memperoleh banyak nilai tambah dengan menggunakan produk atau jasa Anda. Tentu Anda harus pastikan nilai tambah yang Anda berikan tidak memiliki komponen biaya tinggi. Misalnya, dalam negosiasi penjualan software Anda dapat menawarkan report gratis atau pelatihan gratis, plus layanan dukungan gratis setahun, daripada misalnya menurunkan harga,. Tentu setelah berhitung, bahwa bagaimanapun hal2 tadi toh akan mengeluarkan biaya karena harus Anda kerjakan sewaktu implementasi. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Evaluasi produk atau pelanggan berbiaya tinggi.&lt;/strong&gt; Ya, bisa jadi selama ini keuntungan Anda terhisap oleh pelanggan atau produk tertentu yang berbiaya tinggi. Pelanggan yang over demanding, tapi nilai transaksinya kecil, harus Anda evaluasi. Jika dapat nilai transaksinya di perbesar, jika tidak sebaiknya Anda tinggalkan dang gunakan resources Anda untuk melayani pelanggan yang lebih produktif. Demikian juga produk. Barangkali ada beberapa produk tertentu yang untuk mendelivernya memakan cost cukup besar, namun kontribusinya terhadap penjualan tidak signifikan. Ini wajib di evaluasi.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Demikian beberapa kiat yang bisa Anda coba. Apalagi kalau Anda termasuk penjual yang gampang jual murah. Anda wajib hati-hati. Bisa-bisa strategi jual murah Anda bukan membuat usaha Anda makin meriah, namun justru dibelakang hari bikin Anda meriang.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27366165-4913923405555075005?l=fauzirachmanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/feeds/4913923405555075005/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27366165&amp;postID=4913923405555075005' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/4913923405555075005'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/4913923405555075005'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/2007/05/murah-meriah-meriang.html' title='Murah, Meriah, Meriang.'/><author><name>Fauzi Rachmanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14831845815996709974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_AFw7AVcDntE/ShJCO9gF3KI/AAAAAAAAAIQ/VVgCHydCDDU/S220/fauzi.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27366165.post-7939609669686430473</id><published>2007-05-15T14:35:00.001+07:00</published><updated>2007-05-15T19:39:27.571+07:00</updated><title type='text'>Cara Gampang Kehilangan Pelanggan</title><content type='html'>&lt;span xmlns=""&gt;&lt;p&gt;Ya, Anda gak salah baca, saya mau kasih tips bagaimana caranya supaya Anda dengan mudahnya kehilangan pelanggan. Sebenarnya tips saya kali ini ada latar-belakangnya. Saya mau cerita dulu sedikit. Baru-baru ini saya mendapat pelajaran berharga dari rekan-rekan saya di Quasar (&lt;a href="http://www.quasar.net.id"&gt;www.quasar.net.id&lt;/a&gt;), salah satu ISP terkemuka di Bandung yang menyediakan koneksi internet unlimited. Sesuai kebutuhan saya. Saya tadinya adalah salah satu pelanggan yang bangga dan setia kepada mereka. Sayangnya, kesetiaan saya bertepuk sebelah tangan. Rekan-rekan di Quasar ini tidak memberikan pelayanan yang memuaskan kepada saya. Singkatnya, setelah mengalami begitu banyak kekecewaan, saat ini saya sedang mempertimbangkan untuk mengganti provider koneksi internet saya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya jadi berpikir, ternyata begitu mudahnya saya sebagai pelanggan untuk pindah ke lain hati. Terus terang saya berterimakasih sama Quasar, karena telah mendapat pelajaran berharga dari mereka. Ternyata memang ada hal-hal yang akan membuat pelanggan dengan cepat ingin berpaling. Anda ingin tahu? Berikut cara gampang kehilangan pelanggan:&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;1. Berikan janji melebihi kemampuan delivery Anda&lt;/strong&gt;. Ini cara paling efektif untuk mengecewakan pelanggan. Sewaktu jualan, buatlah janji-janji setinggi langit, sekalipun Anda tidak mampu mendeliver yang Anda janjikan tadi. Pasti nanti pelanggan Anda akan protes. Nah, ketika mereka protes, Anda harus pinter ngeles, jadi dalam janji Anda yang super gombal tadi, gunakanlah kata2 yang sedikit membingungkan supaya Anda dapat berlindung dibalik kata-kata tadi. Contoh? "Proses cepat, up-to 1 hari selesai". Padahal sudah tahu Anda bisanya mengerjakan paling cepet 5 hari. Kalau pelanggan protes bagaimana? Ya Anda jawab saja "kan up-to 1 hari", jadi 5 hari masih masuk. Menyebalkan bukan? Ya, dijamin pelanggan cepat kabur.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;2. Abaikan Pelanggan&lt;/strong&gt;. Sedapat mungkin jangan berkomunikasi dengan pelanggan. Jangan lakukan komunikasi langsung, apalagi yg tidak langsung. Jika Anda memberikan nomor telpon hotline, kemudian pelanggan nelpon, jangan diangkat. Biarkan berdering-dering, toh nanti pelanggan tadi akan bosan sendiri. Atau jika pelanggan berhasil menelpon melalui operator, buatlah pelanggan menjadi repot, lemparkan saja ke ekstension lain, di oper2 saja, nah nanti ujung-ujungnya tidak diangkat juga, lalu katakan supaya menghubungi di lain waktu, dst. Pokoknya hindari komunikasi dengan pelanggan. Kalau pelanggan nekat email, jangan dijawab. Anggap saja tidak ada. Kalau terlanjur masuk mailbox Anda, ya delete saja.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;3. Anda selalu benar, pelanggan selalu salah&lt;/strong&gt;. Ini harus jadi motto Anda. Kalau perlu motto ini Anda print besar2 dan tempelkan di dinding tempat kerja Anda. Kalau pelanggan berhasil menyampaikan keluhan pada Anda, bersikaplah defensive, pertahankan bahwa Anda benar dan pelanggan salah. Berdebatlah, mati-matian, jangan sampai terlihat Anda yang salah. Alasannya bisa seribu satu, pokoknya harus pelanggan dulu yang salah. Sebelum kita disalahkan. Argumentasi Anda tidak perlu berorientasi pada solusi. Jangan dengarkan feed-back dari pelanggan. Kalau mereka memberikan masukan bagaimana seharusnya Anda membuat atau mendeliver produk, abaikan saja. Anda harus merasa lebih pintar dari mereka. Kalau perlu bohongi mereka, anggap mereka tidak tahu apa-apa. Pokoknya pelanggan harus menerima segala alasan yang kita berikan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;4. Berikan kejutan tidak menyenangkan&lt;/strong&gt;. Coba Anda bayangkan kalau Anda pergi ke bank dan tiba-tiba ada pengumuman: maaf hari ini tidak melayani transaksi, sedang ada maintenance system sampai waktu yang tidak ditentukan. Menyebalkan bukan? Nah kalau ingin kehilangan pelanggan, berikanlah kejutan-kejutan menyebalkan seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;5. Berikan ketidakpastian&lt;/strong&gt;. Bekerjalah tanpa agenda dan jadwal yang jelas. Sehingga Anda tidak pernah bisa memberikan kepastian kepada customer. Jika customer meminta solusi dan menanyakan kapan? Jawablah "secepatnya". Secepatnya itu kapan? Ya secepatnya. Gunakan istilah2 seperti "sampai waktu yang tidak ditentukan", dsb. Biarkan saja pelanggan menunggu dan menunggu. Semakin tidak pasti Anda, semakin customer ingin meninggalkan Anda.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Silakan Anda terapkan tips diatas, maka Anda akan segera kehilangan pelanggan. Anda gak mau? Gak mau kehilangan pelanggan? Ya sudah, kalau gitu sedapat mungkin tips2 tadi harus Anda hindari. Saya sekedar mengingatkan saja, siapa tahu secara tidak sadar justru tips diatas sering kita laksanakan. Oh ya, untuk Quasar, thanks atas pelajarannya.(FR)&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27366165-7939609669686430473?l=fauzirachmanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/feeds/7939609669686430473/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27366165&amp;postID=7939609669686430473' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/7939609669686430473'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/7939609669686430473'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/2007/05/cara-gampang-kehilangan-pelanggan.html' title='Cara Gampang Kehilangan Pelanggan'/><author><name>Fauzi Rachmanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14831845815996709974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_AFw7AVcDntE/ShJCO9gF3KI/AAAAAAAAAIQ/VVgCHydCDDU/S220/fauzi.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27366165.post-2424669787427486345</id><published>2007-05-07T00:26:00.001+07:00</published><updated>2007-05-07T18:20:58.430+07:00</updated><title type='text'>Putar Kunci Sukses Anda</title><content type='html'>&lt;span xmlns=""&gt;&lt;p&gt;Dalam berbagai versinya, Anda tentu pernah mendengar cerita klasik ini: Seseorang pergi meninggalkan rumahnya untuk pergi merantau mencari harta karun. Dengan perjalanan yang penuh perjuangan, tantangan dan rintangan, akhirnya yang ia temukan adalah kenyataan, bahwa harta karun yang ia cari selama ini terpendam di dalam rumahnya sendiri! Versi cerita yang sangat indah dan inspiratif tentunya pernah Anda baca di novel "the Alchemist" nya Paulo Coelho. Namun versi lain dari cerita ini bahkan sudah ada di kumpulan syair "Mathnawi" karangan Jalaludin Rumi. Cerita-cerita tadi seolah adalah pesan universal yang ingin menyampaikan satu rahasia kepada kita: bahwa yang selama ini kita cari-cari, sudah ada dalam diri kita.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selama ini sebagian besar dari kita mendefinisikan sukses sebagai pencapaian atas hal-hal yang sesungguhnya merupakan akibat dari sukses, bukan sukses itu sendiri. Misalnya kita baru akan sukses jika sudah memiliki uang dalam jumlah tertentu, memiliki barang tertentu, atau ada dalam konsisi tertentu. Maka mulailah Anda mencari sukses diluar sana. Mulailah Anda menempuh perjalanan mencari harta karun Anda. Siang jadi malam, malam jadi siang, Anda sibuk kesana kemari, tapi kok Anda merasa tidak kunjung "sukses". Saking sibuknya Anda mencari di dunia luar Anda, sampai Anda lupa bahwa barangkali yang Anda cari2 sebenarnya sudah ada di dalam diri Anda.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jika Anda mendefinisikan sukses sebagai kepemilikan atas benda atau situasi yang melingkupi Anda, maka sikap yang oleh Deepak Chopra dalam "Seven Spiritual Laws of Success" disebut sebagai "object-referral" tadi justru akan membelenggu Anda dengan kebutuhan pengakuan, kebutuhan untuk menguasai, kebutuhan untuk mengendalikan, dsb, yang semuanya akan berujung pada ketakutan. Ketakutan akan kehilangan, ketakutan tidak diakui, ketakutan tidak bisa memiliki, dan berbagai ketakutan lain yang semuanya bersumber pada object2 di luar diri Anda. Padahal object2 di luar diri Anda semuanya adalah hal yang semu. Hari ini ada, besok bisa lenyap tidak ada. Hari ini bisa begitu istimewa, besok tidak ada artinya. Anda akan frustasi jika mengejar sesuatu yang semu seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jadi dari mana memulai sukses Anda? Semua sudah ada dalam diri Anda. Diri Anda yang sejati adalah sukses itu sendiri. Master your mind, master your destiny, kalau kata Adam Khoo, sukses adalah mindset, kata Jennie S. Bev, change your thinking, change your life, kata Brian Tracy, change what's going on inside your mind, kata Bob Proctor. Semua guru sukses menyerukan hal yang sama. Mulailah dari dalam diri Anda. Kalau sukses sudah ada dalam diri Anda, artinya Anda tidak perlu mencari sukses, atau mencoba untuk sukses. Anda bisa "menjadi" sukses, "be success", saat ini juga.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun sukses yg ada dalam diri Anda tadi bagaikan harta karun yg tertutup rapat di dalam peti pikiran Anda. Sementara Anda sibuk mencari harta karun di luar sana. Ia tersembunyi bagaikan "hidden treasure" yang menunggu dengan setia. Menunggu Anda untuk segera tersadar dan membuka kunci sukses Anda. Pada saat pikiran dan perasaan Anda menyatakan bahwa Anda "be" sukses. Maka Anda sudah memutar kunci untuk membuka kesuksesan Anda. Dan jadilah Anda sukses.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Cukup sampai disitu? Tentu tidak. Setiap saat, jika tidak berhati-hati, maka Anda akan kembali memenjarakan kesuksesan Anda kedalam peti harta karun tadi. Paling tidak ada empat hal yang harus Anda jaga supaya Anda selalu membawa sukses beserta Anda.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pertama adalah pikiran. Jaga pikiran Anda sebagaimana orang sukses berpikir. Orang sukses selalu berpikir tentang peluang, opportunity dan harapan. Orang yang sukses pikirannya diisi dengan optimisme masa depan. Orang yang sukses selalu meluangkan waktu untuk memikirkan rencana nya di masa mendatang, memvisualisasikan apa yang ingin diwujudkannya di masa mendatang. Pikiran orang sukses terus diisi dengan ilmu-ilmu baru untuk meningkatkan kualitas dirinya. Orang sukses tidak pernah mengisi pikirannya dengan hal-hal diluar kendali nya, seperti kejadian2 yang berlangsung di masa lalu, kejadian yang tidak berkenaan dengan dirinya seperti gossip, kehidupan orang lain, dsb.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Yang kedua, adalah perasaan. Perasaan orang sukses dipenuhi dengan rasa syukur atas apa yang telah ia terima dan yang akan ia terima. Ya, bahkan ia telah mensyukuri apa yang baru akan dia terima. Karena perasaanya dipenuhi oleh keyakinan, bahwa apa yang sedang ia upayakan ditakdirkan untuknya, dan ia bersyukur untuk itu. Perasaannya juga jauh dari kebencian dan prasangka. Ia tidak pernah iri dengan sukses orang lain, karena tahu ia juga sukses. Hatinya diluputi dengan cinta, karena ia tahu bahwa yang ia lakukan adalah perwujudan dari rasa cinta. Cinta nya pada Rabb-nya, dan kepada orang-orang yang disayanginya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Yang ketiga adalah perkataan. Mulai sekarang berkata-kata lah seperti orang sukses. Pelajari bagaimana orang sukses berbicara, dan lakukan hal yang sama. Orang yang sukses tidak akan pernah mengucapkan kata-kata yang pesimis. Yang keluar dari mulutnya adalah semangat dan ucapan-ucapan yang membesarkan hati. Orang sukses tidak akan mengeluarkan kata-kata yang merendahkan diri nya atau orang lain. Orang sukses selalu menggunakan kalimat yang positif dan membesarkan hati, baik untuk dirinya sendiri atau orang lain.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kemudian yang terakhir adalah tindakan. Melalui tindakan, orang sukses mengalami sukses nya. Tindakan seperti apa yang dilakukan orang sukses? Mereka akan selalu take action begitu ada peluang. Mereka aktif menyambut rejeki yang sudah menjadi miliknya. Mereka menikmati setiap tindakan sebagai ekspresi dari sukses nya. Mereka berbagi kepada sesamanya, mereka ringan tangan membantu yang membutuhkan. Mereka sadar bahwa setiap tindakan mereka, adalah manifestasi kesuksesan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dengan empat hal tadi, insyaAllah sukses Anda yang ada dalam diri Anda akan mewujud dalam hal-hal diluar diri Anda. Anda akan menarik kedalam hidup Anda setiap kejadian, situasi, orang, benda, yang merupakan buah dari sukses Anda. Dan pada saat itu terjadi, orang sukses akan tetap tenang dan terus menjalankan empat hal diatas. Karena orang sukses sudah mencapai tahap "tidak bersedih terhadap apa yang lepas dari tangan mu, dan tidak bangga terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu". (FR)&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27366165-2424669787427486345?l=fauzirachmanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/feeds/2424669787427486345/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27366165&amp;postID=2424669787427486345' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/2424669787427486345'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/2424669787427486345'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/2007/05/putar-kunci-sukses-anda.html' title='Putar Kunci Sukses Anda'/><author><name>Fauzi Rachmanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14831845815996709974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_AFw7AVcDntE/ShJCO9gF3KI/AAAAAAAAAIQ/VVgCHydCDDU/S220/fauzi.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27366165.post-2654490179811586187</id><published>2007-05-03T22:28:00.001+07:00</published><updated>2007-05-03T22:56:24.426+07:00</updated><title type='text'>Asset atau Net Worth?</title><content type='html'>&lt;span xmlns=""&gt;&lt;p&gt;Saya lagi ingin menulis topik yang membosankan. Apalagi kalau bukan dunia keuangan. Membosankan tapi kok ya penting. Jadi OK lah saya tulis aja. Kali ini tentang perbedaan Asset dan Net worth. Sering kita mendengar ungkapan, wah hebat assetnya meningkat dua kali lipat, dsb. Ini sejak lama menggelitik saya. Kenapa asset yang jadi perhatian? Bukan net-worth?&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Atau Anda mungkin pernah dengar istilah "high net-worth individuals"? Dalam Bahasa Indonesianya kurang lebih adalah "para individu dengan kekayaan bersih yang tinggi". Kurang enak didengar memang. Jadi kita sebut saja high net worth individuals, disingkat HNWI. Kalau Anda sering berinteraksi dengan orang-orang di dunia jasa keuangan, pasti Anda pernah mendengarnya. Ya, kaum HNWI ini adalah orang-orang yang biasanya diburu oleh para penyedia layanan perbankan investasi, private banking, priority banking, maupun bentuk investasi lain seperti deposito, reksadana, forex ataupun saham. Mengapa mereka? Ya, karena mereka memiliki kekayaan bersih (net-worth) dalam jumlah yang relatif tinggi dibanding anggota masyarakat pada umumnya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kalau Anda cukup jeli, mungkin Anda akan bertanya-tanya, mengapa kriterianya adalah "net-worth", bukan "asset"?. Bukankah asset adalah kekayaan. Bukankah yang termasuk di dalam kelompok "Asset" adalah kas, investasi2 dalam bentuk tabungan deposito, dsb maupun investasi dalam harta tetap seperti tanah dan bangunan. Jadi, semesti nya kalau ingin mencari orang dengan kekayaan dalam jumlah besar, lihat saja asset-asset nya. Tentu ini bukan masalah istilah semata, namun memang ada perbedaan yang signifikan antara individu dengan banyak asset dengan individu dengan banyak net-worth. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Demikian juga ketika banker menganalisa suatu perusahaan, mereka tidak akan terlalu terpesona dengan ungkapan debitur "asset kami meningkat sekian persen", dst. Karena peningkatan asset belum tentu memiliki pengertian positif.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Sumber Asset&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mari kita bicara sedikit tentang prinsip akuntansi. Dalam neraca, seluruh kekayaan dicatat dalam kelompok asset yang berada di sebelah kiri, dan kewajiban dan modal dicatat di sebelah kanan. Sesuai namanya, "neraca" atau balance sheet. Akuntasi menganut pencatatan dua sisi, maka kita juga harus mencatat lawan atau yang menjadi sumber penambahan dan pengurangan kekayaan tadi. Lebih jelasnya pakai contoh saja:&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Misalnya Anda mendirikan sebuah unit usaha dengan modal Rp.100 ribu, maka "kas" Anda, yang termasuk dalam kelompok asset akan bertambah Rp.100 ribu. Dan, Anda juga harus mencatat lawan yg menjadi sumber dari kas tadi dalam hal ini "modal disetor" sebanyak Rp.100 ribu. Jadi kelompok asset yang berada di sebelah kiri neraca akan balance dengan kelompok liabilities yang ada di kanan neraca.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kemudian ternyata untuk menambah modal kerja, Anda meminjam uang Rp. 500 ribu dari paman Anda, maka kini "kas" Anda bertambah 500 menjadi Rp.600 ribu. Dan jangan lupa, catat juga lawan yg menjadi sumber dari kas tadi adalah "hutang" yang ada di kelompok liabilities, sebesar Rp.500 ribu. Jadi kini total asset Anda yg ada di sebelah kiri neraca adalah Rp.600 ribu dalam bentuk kas, dan total liabilities Anda disebelah kanan adalah Rp 600 juga yaitu Rp.500 dari hutang + Rp.100 ribu dari modal disetor.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jadi, sumber asset dalam hal ini ada dua, dari modal, atau dari hutang. Kalau ingin mengetahui jumlah kekayaan bersih (net-worth), kurangkan saja nilai asset dengan jumlah hutang. Disitulah nilai kekayaan yang sebenarnya. Jika Anda ingin mengetahui nilai saham suatu perusahaan, Anda juga bisa menggunakan cara yg sama. Net-worth dibagi jumlah lembar saham. Inilah yang disebut sebagai nilai buku saham.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Lho bukankah dalam usaha semakin tinggi asset, semakin bagus? Belum tentu. Lihat dulu dari mana sumber assetnya. Jika dari hutang, maka Anda harus analisa dulu tipe hutangnya. Kalau semua terdiri dari hutang liquid yg harus dibayar kurang dari satu tahun. Sementara asset yang bertambah adalah harta tetap yang tidak liquid, maka kondisi nya justru mengkhawatirkan. Selain itu kualitas Asset juga harus diperhatikan. Asset yang tidak likuid dan tidak marketable tentu lain dengan asset yang likuid dan mudah diperjual belikan. Apalagi kalau assetnya tidak produktif. Harusnya malah di write-off.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Sumber Net-worth&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Nah, supaya lebih paham, kita juga harus menganalisa darimana datangnya net-worth? Tadi di awal kita tahu bahwa sumber nya adalah modal disetor. Tapi tidak berhenti di situ. Selama usaha berjalan, Anda seharusnya menghasilkan profit. Dalam akuntansi, profit ini tidak dicatat di neraca tapi di Laporan Rugi Laba (Profit and Loss statement). Pencatatannya adalah dari hasil penjualan, dikurangi harga pokok penjualan (cost of goods sold), eits, sebentar, ada pembaca yg mungkin awam nih, apa pula HPP ini? Singkatnya ini adalah biaya yg Anda keluarkan untuk pengadaan barang yg Anda jual. Gampangnya lagi barang tersedia dijual dikurangi persediaan, itulah HPP Anda.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Nah penjualan dikurangi HPP ini adalah laba kotor Anda. Dikurangi biaya operasional maka akan ketemu laba bersih sebelum bunga dan pajak (earnings before interest and tax). Kurangkan lagi dengan pajak dan beban bunga, ketemu net profit. Nah mau dikemanakan profit Anda ini, misalnya Anda tidak apa-apakan keuntungan Anda dan akan dipergunakan untuk usaha lagi, maka dia menjadi laba ditahan (retained earnings). Nah, retained earnings ini lah yang baru boleh dicatat di sisi neraca, menambah posisi modal. Lawan nya di sisi asset adalah penambahan Kas. Dengan kata lain, laba ditahan memiliki kontribusi positif terhadap peningkatan Net-Worth.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Jadi Apa Maknanya?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pertumbuhan usaha memang dapat kita lihat dari pertumbuhan asset. Namun harus diperhatikan sumber pertumbuhan asset tadi. Jika sumbernya adalah hutang, maka kita harus perhatikan rasio perbandingan antara hutang dan modal. Debt to equity ratio yg terlalu tinggi memiliki risiko yg lebih besar, karena hutang mengakibatkan cash-outflow di masa mendatang, baik dalam bentuk cicilan pokok maupun bunga. Beban bunga, adalah komponen yg akan mengurangi net profit, yg pada gilirannya menurunkan nilai "net-worth". Tanpa diikuti dengan pertumbuhan pendapatan (revenue) dari operasi usaha, maka dapat diduga usaha yg mengalami "pertumbuhan asset" tadi justru akan segera menghadapi masalah.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jadi, saran saya bagi mereka yg tergila2 dengan pertumbuhan asset, perhatikan net-worth Anda. Semoga dengan demikian Anda akan cepat masuk dalam kelompok High Net Worth Individuals. Atau sudah ya?&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27366165-2654490179811586187?l=fauzirachmanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/feeds/2654490179811586187/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27366165&amp;postID=2654490179811586187' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/2654490179811586187'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/2654490179811586187'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/2007/05/asset-atau-net-worth.html' title='Asset atau Net Worth?'/><author><name>Fauzi Rachmanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14831845815996709974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_AFw7AVcDntE/ShJCO9gF3KI/AAAAAAAAAIQ/VVgCHydCDDU/S220/fauzi.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27366165.post-3472821908155011135</id><published>2007-05-03T15:31:00.001+07:00</published><updated>2007-05-03T15:45:03.137+07:00</updated><title type='text'>Brad</title><content type='html'>&lt;span xmlns=""&gt;&lt;p&gt;Nama lengkapnya Bradley J. Sugars. Panggilannya Brad. Umurnya 36 tahun, sama dengan saya. Mungkin seharusnya saya dulu di kasih nama Brad juga. Karena sepertinya yg namanya Brad kok beruntung sekali. Ada Brad Pitt yang ganteng, terkenal dan jago akting. Sekarang ada Brad Sugars, ganteng juga, terkenal, dan jago bisnis. Kemarin tanggal 2 Mei 2007 Brad yg ke-2 ini sempat mampir ke Jakarta untuk bagi-bagi ilmu bisnis dalam acara yg diberi judul "Billionaire in Training", sesuai salah satu judul bukunya. Saya bersyukur sempat menghadiri, meski gak kebagian tandatangan dan foto bareng. Tapi gak penting lah, saya toh mengagumi pemikirannya, bukan fisiknya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebetulnya bagi yang pernah baca buku-buku Brad, apa yang dia sampaikan pasti tidak asing lagi. Namun, dengan gaya penuturan yang asik, mendengar Brad nya sendiri yang ngomong jadi lebih berkesan. Yang pertama, Brad mengingatkan tujuan kita semua dalam berbisnis, bahwa kita berbisnis adalah untuk: "bekerja sekali, namun mendapatkan hasil selamanya". Ini berlawanan dengan kerja sebagai karyawan, dimana kita mendapat hasil sesuai dengan kerja kita. Hal ini dapat dicapai apabila kita mampu merubah sumber income kita yg semula adalah "active income" menuju "passive income". Bagaimana caranya? Menurut Brad, untuk dapat "bekerja sekali, namun mendapatkan hasil selamanya" cara terbaik adalah dengan memiliki bisnis (selain menulis buku tentunya … hehehe, yg ini dia ucapin setengah becanda, wong dia penulis) Namun kenapa banyak business owner yang gagal? Menurut Brad mereka tidak menerapkan prinsip LEARN before you EARN. Jadi belajar lah lebih dahulu, sebelum menuai hasilnya. Caranya? Salah satu nya adalah … ya baca buku nya Brad … hehehe. Sehingga nanti nya sebagai bisnis owner kita tidak sekedar dapat MAKE the money tapi juga MANAGE the money.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Disinilah kemudian Brad memaparkan tangga entrepreneur nya yang terkenal itu: Di anak tangga paling bawah, ada pelajar dan pemagang (apprentice), mereka yang masih spend money ataupun tidak terima apa-apa untuk learning. Ketika mereka akhirnya bekerja menjadi EMPLOYEE, barulah mereka dibayar untuk belajar. Ini kalau cara berpikir mereka betul bahwa bekerja adalah sarana belajar sebelum dapat membangun bisnis sendiri. Di tangga berikutnya adalah para SELF EMPLOYEE, mereka yang akhirnya memutuskan untuk mengelola bisnis sendiri. Umumnya, pada tahap awal mereka adalah para single fighter. Mengerjakan sendiri semua hal dari produksi hingga penjualan. Akhirnya kadang mereka menjadi lebih sibuk dibanding ketika menjadi karyawan. Banyak yang akhirnya tidak tahan dan kembali menjadi karyawan. Jika cukup pandai mengelola usaha, para self employee tadi, biasanya akan bertahan dan mulai merekrut tim, sehingga mereka naik tangga menjadi MANAGER. Pada tahap ini, kadang kehidupan menjadi lebih kompleks dari sebelumnya. Karena para manager ini sering harus kerja keras untuk menggaji karyawan, bukan sebaliknya. Jika berhasil mengatasi tantangan ini, mereka bisa menciptakan system dan membayar orang lain untuk mengelola bisnis, maka mereka layak naik tangga menjadi BUSINESS OWNER. Seharusnya, pada level ini business berjalan sesuai dengan definisi bisnis menurut Brad: A commercial, profitable enterprise, that work without me. Dengan menjadi business owner, maka Anda akan menciptakan cashflow yang banyak dan stabil, apakah Anda terlibat langsung atau tidak, sehingga Anda bisa naik tingkat menjadi INVESTOR. Pada tingkat investor ini, Anda dapat melipatgandakan kekayaan dengan cara yang FUNtastic. Selanjutnya? Sabar … waktu itu saya jg tdk sabar sampai ingin berteriak …. Caraanya Braad ….!&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Eh, Brad Sugars malah cerita bagaimana waktu dia kecil. Ternyata bakat bisnis Brad sudah terlihat dari umur 7 tahun. Waktu itu, dia pergi ke rumah kawan Ayahnya yang sangat kaya. Dia adalah seorang pengusaha di bidang susu sapi. Brad kecil pun bertanya:"Pak, bagaimana sih Anda bisa begitu kaya?". Kawan Ayahnya menjawab:"Nak, saya kaya bukan karena menjual SUSU, tapi menjual BISNIS SUSU". Ini merupakan moment AHA saya malam kemarin. Ya, seharusnya selama ini saya berpikir bagaimana menjual BISNIS saya, bukan produk dan jasa saya semata. That's what its all about. McD besar bukan karena jualan burger sama ayam, tapi karena jualan BISNIS burger dan ayam. Demikian juga dengan Starbuck, Kebab Turki Baba Rafli, AutoBridal, dan sebagainya. Semua menjadi besar karena menjual BISNIS. Wah, saya langsung keringetan. Brad … Brad, kok pinter amat sih kamu.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bahkan, sebagai investor, Anda dapat membeli BISNIS, selain menciptakan dari awal. Kita dapat menerapkan prinsip Buy, Build and Sell. Dengan pengetahuan yang diperoleh selama proses LEARN sewaktu kita mendaki tangga EMPLOYEE hingga OWNER, kita akan mampu melakukan ini. Selain BISNIS, investor juga dapat melakukan investasi pada PROPERTY dan STOCK (saham). Prinsip membeli bisnis, investasi pada property maupun stock, dapat dilakukan dengan cara RETAIL, maupun WHOLESALE (dengan volume tertentu dengan harga negosiasi yang lebih baik). Misalnya investasi pada property dan stock dapat dilakukan dengan harga yang sangat fantastis, sehingga investor dapat langsung untung pada waktu pembelian dilakukan (day one).&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ada beberapa prinsip dasar yang disampaikan oleh Brad dalam membeli, membangun dan menjual bisnis. Yang pertama adalah, ketika semua orang menggali emas, jadilah orang yang menjual alat nya (pan nya). Penggali emas bisa untung dan buntung, tapi penjual pan akan untung terus. Prinsip ini contohnya berlaku ketika booming internet. Dari berbagai perusahaan teknologi yang muncul dan tenggelam, yang untung adalah para investment bankernya. Selain itu dalam memilih bisnis, kita harus memperhatikan aspek "repeat business" dan potensi pertumbuhan bisnis nya. Jangan ragu dalam penentuan pricing. Be expensive, supaya profit terjamin. Ini penting, karena salah satu aspek yg vital dalam bisnis adalah cashflow nya bukan assetnya. Jadi yang dibeli dari suatu bisnis adalah cashflow bukan assetnya semata.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jika Anda mampu mencapai tahap INVESTOR ini, maka Anda tinggal selangkah lagi untuk mencapai puncak tangga yaitu: ENTREPRENEUR. Jika INVESTOR masih berkutat pada jual beli asset fisik. Maka ENTREPRENEUR sudah mampu bergerak dalam tataran "PAPER ASSETS". Sebagai contoh, Brad menjual lisensi franchise nya untuk kawasan London senilai jutaan poundsterling. Berapa cost nya? NOL. Paling2 ongkos ngeprint kontraknya. Disinilah dahsyatnya ENTERPRENEUR sejati. Mereka bekerja dengan kertas untuk menghasilkan uang dalam jumlah yang luar biasa besar. Tandatangan sana, tandatangan sini, dan rekening bertambah. Hebat bukan? Anda mau? Pasti Anda juga bisa.(fr)&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27366165-3472821908155011135?l=fauzirachmanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/feeds/3472821908155011135/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27366165&amp;postID=3472821908155011135' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/3472821908155011135'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/3472821908155011135'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/2007/05/brad.html' title='Brad'/><author><name>Fauzi Rachmanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14831845815996709974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_AFw7AVcDntE/ShJCO9gF3KI/AAAAAAAAAIQ/VVgCHydCDDU/S220/fauzi.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27366165.post-4242211643996583799</id><published>2007-04-30T15:07:00.001+07:00</published><updated>2007-04-30T15:13:31.206+07:00</updated><title type='text'>26 April</title><content type='html'>&lt;span xmlns=""&gt;&lt;p&gt;Selamat ulang tahun sayang. Tidak terasa kamu sekarang sudah 11 tahun. Rasanya baru kemarin Ayah menunggu Bunda semalaman menahan sakit menjelang kelahiran kamu. Rasanya baru kemarin Ayah mendengar tangisan pertama kamu yang keras membelah pagi subuh di Bandung yang sepi dan dingin. Rasanya baru kemarin, Ayah melihat untuk pertama kalinya wajahmu yang bercahaya kemerahan. Waktu itu Ayah langsung tahu, kamu istimewa.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dan kemudian, Ayah pun melewati 11 tahun yang sangat luar biasa. Menyaksikan betapa kehadiran kamu selalu membawa keceriaan. Kamu pasti ingat foto-foto masa kecil kamu. Atau video kamu waktu nyanyi dirumah Kakung yang lucu banget itu. Kamu perhatikan deh, semua orang disekitar kamu melihatmu dengan takjub, dan tertawa. Kamu adalah keajaiban buat kita semua.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kamu juga penghayal yang hebat. Dulu, waktu kita masih tinggal di rumah pertama kita yang kecil mungil. Kamu sering menepuk2 lantai rumah kita, sambil berkata :"cepat besar ya rumah …". Ah, rupanya kamu waktu itu kepengen punya rumah yang lebih besar. Dan kamu pikir rumah bisa tumbuh seperti tanaman. Tapi kamu memang benar. Putri secantik kamu, bagaimana mungkin tinggal di kamar sempit. Karena kamu ingin rumah yang lebih besar, bagaimana Ayah bisa menolak? Kamu begitu istimewa. Sementara, gaji Ayah waktu itu, meskipun lumayan, kalau ditabung-tabung mungkin baru 20 tahun lagi bisa membelikan kamu rumah yang lebih besar. Waktu itu Ayah langsung berpikir, bagaimana caranya?&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Seolah petunjuk dari Tuhan, Ayah waktu itu melihat iklan sebuah buku di koran, judulnya "Rich Dad – Poor Dad". Isinya provokatif. Ayah langsung ke toko buku, membeli buku tadi, selain tentu majalah Princess buat kamu. Ayah betul-betul kaget dengan isi buku tadi. Apa yang selama ini Ayah cita-cita kan seolah dijungkir-balik kan sama Pak Robert yang ngarang buku tadi. Semula, Ayah ingin jadi CEO perusahaan multinasional. Kelihatannya sangat mungkin, melihat prestasi kerja Ayah waktu itu. Namun, ternyata kalau Ayah jalani, itu sama saja seperti tikus yang terjebak berlari-lari dalam sebuah roda. Nanti Ayah akan semakin sibuk dan gak sempat main dengan kamu. Belum lagi rumah besar kamu bagaimana? Ayah pun semakin penasaran. Bagaimana caranya?&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jadilah Ayah waktu itu makin sering ke toko buku. Ternyata banyak buku yang membahas bagaimana mencapai keberhasilan. Ayah beli satu demi satu. Tentu, selain majalah Princess buat kamu. Ayahpun jadi yakin, bahwa kita bertanggungjawab atas masa depan kita sendiri. Ayah sangat yakin bisa mewujudkan masa depan yang lebih baik. Ayah merasa harus segera melakukan sesuatu. Ayah tidak mau ragu-ragu. Waktu itu, segera Ayah putuskan untuk keluar dari pekerjaan dan membuat usaha sendiri. Waktu itu ucapan kamu yang Ayah ingat adalah: "wah Ayah jadi bos ya!" Terimakasih Nak. Kamu sudah mengapresiasi langkah Ayah.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Nak, ternyata kemudian Allah memberikan pelajaran berharga buat Ayah. Bahwa sekalipun kita merasa kuat atau hebat. Tidak selamanya apa yang kita rencanakan akan terjadi. Kecuali atas izin Allah. Rencana-rencana Ayah waktu itupun banyak yang tidak berjalan dengan baik. Sementara Bunda, Kamu dan Ade harus sudah kembali ke Bandung, karena Bunda kembali bekerja di sana. Jadilah kita harus terpisah. Malam-malam yang Ayah lalui adalah malam-malam yang sangat berat. Tanpa kehadiran kalian, dengan tekanan pekerjaan yang ternyata lebih berat dari yang Ayah kira. Tidak jarang Ayah menjadi ragu dan takut. Tapi setiap kali Ayah pulang ke Bandung dan melihat kamu dan Ade menjalani kehidupan, Ayah mendapat banyak pelajaran. Kalian selalu ceria, selalu tertawa, dan seolah tidak ada tempat bagi kesedihan dan ketakutan di hati kalian. Ayah pun jadi ingin seperti kalian. Kalianlah yang membuat Ayah tidak pernah memutuskan untuk menyerah.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Alhamdulillah, perlahan usaha Ayah berjalan sesuai rencana. Dan, seperti keinginan kamu, Ayah dan Bunda bisa membuat rumah yang lebih besar dari rumah kita dulu. Tepatnya enam kali lebih luas dari rumah kita dulu. Dan kamu punya kamar sendiri yang luas. Rumah kita memang untuk kamu sayang. Kamu bisa nonton Disney Channel kesukaan kamu, bisa browsing website idola kamu sepuas hati kamu. Dan cuma 20 menit ke sekolah kamu.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ah Nak, kamu sudah 11 tahun. Dan semakin banyak saja kejutan buat Ayah. Entah apa yang ada di benak kamu sekarang. Kamu bahkan sudah tertarik nonton film the Secret, entah kamu paham atau tidak. Yang jelas kamu sangat terpesona dengan adegan anak yang menginginkan sepeda itu kan? Kamu juga diam2 mengambil dan mencoba membaca buku the Secret. Kamu juga sudah baca buku pemberdayaan anak-anak yang sangat luar biasa, "the Power of One" dari James Lee Valentine. Wah nak, Ayah tidak bisa membayangkan, kehidupan separti apa yang akan kamu jalani kelak. Pasti sangat luar biasa. Jaman memang sudah sangat berubah. Ayah perhatikan teman2 dekat kamu juga orang tua nya kebanyakan wirausaha seperti Ayah. Ada yang punya toko komputer, toko pakaian jadi. Ah, kamu dan teman-teman kamu ada di lingkungan yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Makanya, Nak. Terus miliki ceria dan keberanian yang selalu Ayah lihat di mata bening mu itu. Sebentar lagi kamu akan ujian SD. Tapi kamu tidak usah terlalu pikirkan nilai kamu. Lakukan saja yang terbaik, dengan kejujuran dan keyakinan. Berapapun hasilnya, Ayah akan selalu bangga. Kamu juga tidak usah terlalu takut tidak keterima di SMP favorit. InsyaAllah kamu toh nanti tidak akan melamar pekerjaan. Justru kamu akan menciptakan pekerjaan. Ayah sudah baca coretan2 di buku mimpi mu. Luar biasa Nak. Beyond my dreams. Ayah yakin, kamu sedang menuju kesana. Amin.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Salam sayang,&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ayahnya Sasha.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27366165-4242211643996583799?l=fauzirachmanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/feeds/4242211643996583799/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27366165&amp;postID=4242211643996583799' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/4242211643996583799'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/4242211643996583799'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/2007/04/26-april.html' title='26 April'/><author><name>Fauzi Rachmanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14831845815996709974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_AFw7AVcDntE/ShJCO9gF3KI/AAAAAAAAAIQ/VVgCHydCDDU/S220/fauzi.jpg'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27366165.post-1421422397308752297</id><published>2007-04-29T22:51:00.001+07:00</published><updated>2007-04-29T23:04:17.849+07:00</updated><title type='text'>The Power of No</title><content type='html'>&lt;span xmlns=""&gt;&lt;p&gt;Waktu kecil mungkin Anda pernah menemani Ibu Anda ke pasar tradisional. Ingatkah Anda bagaimana Ibu-ibu kita jaman dulu menawar harga? Saya tahu, kalau Ibu-ibu jaman sekarang lebih sering berbelanja ke supermarket, yang harga nya tidak bisa ditawar. Garis besarnya pasti sama: Pertama, tawar setengah harga atau bahkan kurang, kemudian penjual akan mengatakan "TIDAK", dan menawarkan harga sedikit di bawah harga awal, kemudian Ibu kita juga akan mengatakan "TIDAK" dan pura-pura pergi meninggalkan kios, dan lima langkah kemudian sang penjual akan memanggil dengan meneriakkan harga terakhir (biasanya sedikit di atas harga yg ditawar Ibu), baru Ibu kita berbalik untuk mengatakan "YA", mungkin karena hari mulai siang. Kalau masih pagi, tawar2 an tadi bisa berlangsung lebih alot, berpindah dari kios ke kios. Anda mungkin berpikir bernegosiasi harga cara Ibu kita tadi kuno. Jangan salah, justru ditengah-tengah ratusan teori negosiasi modern, ternyata negosiasi a la Ibu-ibu di pasar tradisional tadi adalah yang paling efektif. Setidaknya demikian kata Jim Camp dalam buku nya "Start with NO".&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jim Camp menyarankan agar kita tidak terlena pada jargon "win/win" yang sering dikemukakan perusahaan besar sewaktu bernegosiasi dengan perusahaan yang lebih kecil. Kenyataannya, kesepakatan-kesepakatan yang dihasilkan dari pendekatan "win/win" tadi hanya bertujuan menguntungkan perusahaan besar. Disinilah perusahaan kecil harus waspada menghadapi permainan para "pemangsa" dari perusahaan yang lebih besar. Dan itu dapat dicapai dengan memulai dengan kata TIDAK. Seperti Ibu kita di pasar dulu.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Camp mengidentifikasikan dua kelemahan yang umumnya kita miliki sewaktu melakukan negosiasi:&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pertama:&lt;/strong&gt; Anda terlalu membutuhkan. Ya, sadarkah Anda bahwa ketika melakukan negosiasi, seringkali kita kita datang dengan "mu-peng", muka-pengen. Saya juga sering begitu. Bahkan sewaktu berangkat sudah kepikiran: "udah deh, mau ditawar berapa aja gw iya – in". Bagaimana tidak, kontrak sudah terbayang-bayang, asik … rekening bakal nambah, bisa nutup operational cost sekian bulan, bisa beli ini-itu, wah … pokoknya harus saya yang dapet. Belum lagi ketakutan kalau ada kompetitor yang masuk. Kita tidak siap menerima kenyataan kalau kesepakatan akan batal. Maka tidak jarang, ketika kita menyampaikan penawaran harga, dan calon klien kita setelah membacanya terlihat berkerut dan terbatuk2. Langsung saja kita berkata: "Mmm .. ngomong2 harga nya bisa di nego kok Pak …". Mungkin kliennya sampai heran sendiri, lho wong belum ditawar kok sudah mau nurunin harga? Menurut Jim Camp, dalam kondisi demikian Anda sudah menganggap kontrak yg ingin Anda dapatkan menjadi sebuah kebutuhan, bukan sekedar keinginan. Dan kalau sudah butuh, Anda siap berkorban apa saja. Mulai dari margin yang sangat tipis, hingga resources yg lebih banyak. Tidak jarang, setelah dihitung-hitung Anda bahkan sebenarnya rugi. Anda tentu tidak mau bernegosiasi untuk rugi. Jadi buang jauh2 "mu-peng" Anda. Gampangnya ingat saja Ibu Anda yg "pura-pura" tidak butuh dan meninggalkan kios waktu menawar.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Kedua:&lt;/strong&gt; Anda terlalu "sempurna". Tahun 70-80 an, TVRI pernah memutar film detektif Mr. Columbo. Wah, mungkin Anda belum lahir, atau sudah tidak ingat. Jangan dibayangkan ini adalah detektif ganteng dan jagoan seperti tipikal film Hollywood. Mr. Columbo ini tidak gagah atau ganteng, justru dekil, naik mobil butut, memelas, dan sering lupa mengajukan pertanyaan kunci. Pokoknya "katro" habis. Namun berhadapan dengan orang dalam posisi "di bawah" seperti ini, orang merasa nyaman berbicara. Dan Mr. Columbo sangat gampang mendapat informasi. Dalam bisnis kita sering berusaha memberikan kesan hebat, sehingga berusaha tampil "hebat". Padahal orang cenderung merasa baik, justru ketika melihat orang lain kurang baik. Ini yang saya lupakan ketika mengawali bisnis saya. Dulu, jika melakukan presentasi, saya dan tim saya selalu berjas-berdasi, mirip the Beatles mau manggung. Dan hasilnya nol besar. Kini kami tampil apa adanya, tanpa jas, tanpa dasi, tak jarang saya hanya memakai kemeja lengan pendek. Tentu tetap rapih dan wangi, karena sudah bawaan. Ternyata kami malah bisa membuat banyak deal. Mungkin, para IT manager yang saya temui dulu tidak nyaman berbicara dengan "the Beatles.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dengan memperbaiki dua kelemahan tadi, kini Anda siap menerapkan teknik negosiasi yang diawali dengan kata TIDAK. Kedengarannya memang kontroversial, namun sebenarnya logis. Bagi Jim Camp, negosiasi merupakan kesepakatan antara dua pihak, dimana masing-masing pihak memiliki hak veto - hak untuk berkata TIDAK. Jadi justru kita harus berawal dari kata TIDAK, sebelum kemudian menggali hal-hal yang bisa disepakati. Memulai dengan TIDAK artinya kita berorientasi kepada keputusan. Yang justru akan membuat negosiator lawan Anda langsung berpikir pada pokok persoalan, bukan yang lain. Karena dorongan emosi dan kebutuhan, seringkali kita akan langsung berkata "YA" di depan. Sambil membayangkan keuntungan, komisi, atau BMW baru yang akan Anda beli. Dalam keadaan demikian, negosiator ulung di depan Anda akan langsung menyodorkan berbagai "JIKA … "yang akan segera membelenggu Anda. Memulai dengan TIDAK bukan untuk mengorbankan siapapun, termasuk lawan Anda, namun justru untuk mendapatkan keputusan yang logis.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tentu bukan berarti setelah Anda berkata TIDAK, lantas berhenti. Semua negosiasi tentu ujungnya adalah kesepakatan kedua belah pihak. Langkah-langkah selengkapnya menurut Jim Camp cukup panjang, seperti: menetapkan tujuan; bagaimana menggali dan menggunakan "pain" lawan,; bernegosiasi dengan bujet waktu, tenaga, uang dan emosi; hanya bernegosiasi dengan orang yang berwenang; hingga bahaya melakukan presentasi (waduh, saya baru tahu!). Namun, saya ingin memberikan catatan pada beberapa poin yang menurut saya sangat menarik:&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Ajukan Pertanyaan.&lt;/strong&gt; Awal berbisnis dulu, (eh, sejujurnya bahkan mungkin sampai sekarang), saya sering mengira bahwa dalam negosiasi, kita harus dalam posisi dominan. Dan itu artinya mendominasi pembicaraan. Ternyata pengalaman mengajarkan sebaliknya. Justru dengan sedikit bicara dan banyak bertanya, maka Anda dalam posisi mengendalikan. Banyak teknik yang diajarkan Camp. Diantaranya adalah "mengasuh". Dimana kita mengajukan pertanyaan dengan sikap yang membuat lawan merasa nyaman, didengarkan dan dihormati. Anda harus menjadi Mr. Columbo yang mengumpulkan informasi sebanyak mungkin.Informasi tadi yang akan sangat penting untuk mendukung langkah2 Anda selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Netralkan Pikiran.&lt;/strong&gt; Ini menurut saya yang paling sulit buat pemula. Dorongan untuk segera "closing the deal", bisa mengacaukan pikiran kita. Tiga pantangan agar memperoleh pikiran yang tenang dalam bernegosiasi adalah: Jangan ber-ekspektasi (berharap), Jangan ber-asumsi, Jangan bicara:&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Terlalu berharap, baik harapan positif ataupun negatif, dapat berbahaya. Negosiator ulung pandai mengumbar harapan yang menjebak. Salah satu umpan yang klise adalah: "saya minta harga untuk pembelian dalam jumlah banyak". Dan ketika Anda setuju,sekaligus membuka kartu berapa harga ter-rendah Anda, mereka akan mengorder dalam jumlah kecil, dengan alasan bahwa pembelian akan dilakukan parsial. Dan ingat, kapanpun mereka dapat membatalkan kesepakatan. Saya pernah mengalami hal semacam ini, dan ternyata menurut Jim Camp, di Amerika juga sering terjadi hal yang sama. Ber-asumsi juga jelas berbahaya, karena asumsi adalah sekedar asumsi, lebih baik Anda lakukan verifikasi untuk memperoleh realitas yang sebenarnya. Sebaiknya kerjakan riset Anda.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bagaimana dengan "jangan berbicara". Maksudnya adalah, Anda sebaiknya sesedikit mungkin berbicara, apalagi kalau Anda tidak tahu mau berbicara apa, lebih baik tidak berbicara. Saya jadi teringat salah satu bagian dari novel Godfather karya Mario Puzo. Sewaktu Don Corleone berunding dengan Virgil Sollozzo. Don didampingi putra tertuanya Sonny, dengan satu perintah tegas: jangan berbicara. Don yang sudah kenyang asam garam perundingan tahu, bahwa setiap kata yang keluar dari mulut Sonny dapat berbahaya. Dan betul saja, ketika Don secara tegas mengatakan TIDAK, atas usulan Sollozzo, dan Sollozo tengah mencerna ucapan Don, Sonny tidak tahan untuk mengucapkan komentar. Sebuah komentar tak perlu yang mengungkapkan fakta bagi Sollozzo, bahwa ada kemungkinan perbedaan pandangan antara Don dan anaknya. Bahwa keluarga Corleone mungkin tidak se-solid kelihatannya. Dan di kemudian hari, Sollozzo pun berani bertindak. Don Corleone ditembak.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Demikianlah kekuatan kata TIDAK, menurut Jim Camp. Cukup menarik untuk diaplikasikan. Yang jelas kata TIDAK, menyebabkan orang berpikir tentang poin apa yang menyebabkan dia ditolak. Saya ingin menutup catatan ini dengan sebuah cerita yang sangat relevan:&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ada seorang anggota US Marine (AL) yang bertugas untuk merekrut lulusan2 terbaik dari salah satu sekolah di Amerika. Anggota US Marine tadi mendapat giliran terakhir untuk melakukan presentasi, setelah anggota US Air Force (AU) dan US Army (AD). Ternyata dua presentasi sebelumnya telah menghabiskan sebagian besar waktu yg tersedia. Akhirnya sang perwira AL, yang tinggal memiliki waktu tidak lebih dari 5 menit tadi hanya mengatakan: "Maaf, Saya TIDAK melihat banyak kandidat yang bisa saya rekrut disini. Saya perhatikan paling banyak hanya 5 orang yang pantas menjadi anggota US Marine. Jika Anda merasa salah seorang diantaranya, hubungi saya setelah ini." Dan, sebagian besar siswa pun akhirnya melamar menjadi anggota US Marine! &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27366165-1421422397308752297?l=fauzirachmanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/feeds/1421422397308752297/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27366165&amp;postID=1421422397308752297' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/1421422397308752297'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/1421422397308752297'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/2007/04/power-of-no.html' title='The Power of No'/><author><name>Fauzi Rachmanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14831845815996709974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_AFw7AVcDntE/ShJCO9gF3KI/AAAAAAAAAIQ/VVgCHydCDDU/S220/fauzi.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27366165.post-4128490866845579986</id><published>2007-04-18T23:21:00.001+07:00</published><updated>2007-04-18T23:34:08.265+07:00</updated><title type='text'>Bisnis atau Kerja Bakti?</title><content type='html'>&lt;span xmlns=""&gt;&lt;p&gt;Anda pernah kerja bakti? Kerja bakti itu budaya yg bagus. Selain menambah keakraban antar peserta, kerjabakti dapat menyelesaikan banyak persoalan bersama. Kadang-kadang kerja bakti cukup melelahkan. Kita harus kerja keras berjam-jam untuk kepentingan bersama. Karena namanya juga kerja-bakti, maka Anda tidak boleh mengharap imbalan apa-apa atas kerja keras tadi. Karena memang tujuan kerja bakti bukan untuk mencari uang. Inilah beda nya kerja bakti dengan bisnis. Kalau dalam bisnis, kerja keras Anda tentu bukan for free. Namun banyak pelaku bisnis secara tidak sadar melakukan "kerja bakti", meskipun niatnya adalah berbisnis. Termasuk saya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya dulu juga pernah mengalami kebingungan yang sama. Saya bekerja sangat keras. Dan karena saya bekerja sesuai passion saya di bidang IT, tentu saja saya sangat menikmati kerja keras saya. Tapi di kemudian hari, ketika tagihan2 masuk, saya lalu bingung mau membayar dengan apa. Ya, karena usaha saya waktu itu belum memberikan hasil financial yang berarti. Wah, kok jadi kerjabakti begini? Begitu dulu saya berpikir. Anda juga pernah mengalami hal yang sama? Anda tidak sendirian. Jadi mari kita sama-sama belajar untuk menjadikan bisnis kita bukan lagi kerja bakti.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebelumnya mari kita pahami dulu maksud dari "Bisnis" itu sendiri. Kalau menurut Brad Sugars, bisnis adalah suatu usaha komersial, yang menghasilkan profit, yang dapat berjalan tanpa kehadiran kita. Disini mulai jelas, usaha kita haruslah komersial (bukan LSM atau yayasan sosial), yang menghasilkan profit, dan bisa berjalan sendiri, meskipun kita sebagai owner tidak hadir. Sederhana kan? Jadi Anda tinggal lakukan saja self assessment sekarang, apakah bisnis Anda bisa berjalan dengan profitable, sekalipun Anda tinggal pergi jalan-jalan?. Belum bisa? Hahaha … sama dengan saya. Saya, juga masih menuju kesana. Memang kalau kata Brad Sugars, Anda harus menempuh perjalanan penuh disiplin untuk melalui 6 anak tangga menuju kondisi "bisnis terus jalan meski kita jalan-jalan" tadi.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Anak tangga yang pertama adalah Mastery. Ini merupakan penguasaan dasar yang akan membedakan bisnis Anda dari kerja bakti. Mastery yang akan membedakan apakah usaha Anda komersial atau mau jadi "yayasan sosial". Mastery memastikan bahwa kita melakukan delivery produk atau jasa kita dengan cara yang menguntungkan, produktif, dan cukup informasi untuk membuat keputusan penting. Yang harus Anda kuasai adalah: &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;1. Money Mastery.&lt;/strong&gt; "Wah, kalau soal duit saya mah udah jago …" mungkin Anda berpikir begitu. Ya, membelanjakannya saya yakin Anda jago … hehehe. Bukan, disini bukan cuma soal membelanjakan uang. Tapi bagaimana Anda menguasai angka-angka keuangan Anda yang meliputi: &lt;/p&gt;&lt;p&gt;A. Break-Even. Yaitu mengetahui berapa jumlah penjualan, jumlah pelanggan, jumlah Rupiah, yang Anda perlukan untuk menutup angka break-even Anda. Sebelum tentunya ditambah prosentase untuk mendapat laba. Caranya mudah, Anda harus tahu dulu jumlah biaya bulanan yang Anda keluarkan untuk menjalankan usaha Anda. Kemudian Anda hitung untuk memperoleh Rupiah sejumlah biaya tadi, Anda perlu penjualan berapa besar. Nilai penjualan tadi Anda perkirakan dapat diperoleh dari berapa pelanggan, dan dengan rata2 penjualan berapa banyak. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;B. Profit Margin. Nah kalau Anda sudah kuasai Break-Even mastery, dengan sendirinya Anda bisa set bujet untuk profit. Bahkan kalau usaha Anda retail, Anda bisa set bujet hingga bulanan, mingguan dan harian. Anda bisa tentukan berapa pelanggan per hari dengan rata2 nilai pembelian berapa, supaya Anda profit. Ujungnya disini adalah menentukan strategi-strategi untuk meningkatkan profit. Contoh strategi andalan untuk meningkatkan profit adalah "5 ways", dimana Anda dapat meningkatkan profit secara dahsyat dengan fokus pada 5 hal:&lt;br /&gt;- Meningkatkan jumlah leads (calon pelanggan)&lt;br /&gt;- Meningkatkan angka konversi (calon pelanggan menjadi pelanggan)&lt;br /&gt;- Meningkatkan jumlah transaksi&lt;br /&gt;- Meningkatkan rata2 nilai penjualan&lt;br /&gt;- Meningkatkan margin&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;C. Reporting. Anda harus punya angka-angka penting Anda dalam laporan yang jelas untuk membantu pembuatan keputusan. Laporan membantu Anda memahami ada dimana posisi bisnis Anda. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;D. Test and Measurement. Lakukan test dan pengukuran apakah strategi Anda berjalan dengan baik. Misalnya Anda melakukan strategi diskon untuk meningkatkan tingkat konversi. Anda harus catat dan ukur efektifitas strategi Anda. Sehingga apabila strategi diskon tadi ternyata tidak efektif meningkatkan tingkat konversi, Anda bisa segera ganti dengan strategi lain. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;2. Delivery Mastery.&lt;/strong&gt; Katakanlah Anda sekarang telah berhasil membuat calon pelanggan dan pelanggan antre untuk mendapatkan produk Anda. Apa jadinya jika Anda tidak konsisten dalam delivery Anda? Anda akan ditinggal dan mungkin mereka akan kapok. Kelangsungan dan konsistensi delivery produk dan jasa Anda akan menentukan apakah pelanggan Anda akan terus menjadi pelanggan Anda atau tidak. Bagaimana untuk memastikan anda konsisten dalam delivery. Gampang. Dengarkan pelanggan Anda. Apakah complain mereka? Kelompokkan dalam paling tidak 5 area complain, dan segera lakukan upaya perbaikan. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;3. Time Mastery.&lt;/strong&gt; Ini soal produktifitas. Produktifitas kita akan menentukan keberhasilan bisnis kita: &lt;/p&gt;&lt;p&gt;A. Goal Mastery. Pertama kita harus tahu sebenarnya usaha kita ini mau dibawa kemana. Anda harus punya: &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Vision – Inspirasi utama kita, kemana kita akan menuju.&lt;br /&gt;Mission – Bagaimana caranya mewujudkan visi kita: Bisnis kita apa, siapa tim kita, siapa pelanggan kita, apa yg membuat usaha kita beda dengan yg lain?&lt;br /&gt;Culture Statements – Nilai2 yg penting bagi owner, tim member, pelanggan, dan keberhasilan bisnis. Yg menjadi aturan main bersama bagi Anda dan tim Anda. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selanjutnya tulis tujuan2 Anda dan tonggak2 penting (milestone) yg akan membawa usaha Anda semakin dekat kepada Visi. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;B. Self Mastery. Ini soal disiplin diri. Bagaimana supaya Anda tetap focus dengan cara membuat rencana kerja yg baik. Caranya? Coba lakukan time study sederhana. Berapa waktu yg Anda gunakan untuk bekerja setiap hari nya. Catat dalam waktu satu minggu. Kemudian tulis alokasi penggunaan waktu Anda. Berapa jam Anda menggunakan waktu Anda untuk berkomunikasi (email, chat, telp, etc), melakukan pekerjaan rutin, dsb. Anda akan kaget. Betapa banyak waktu yg kita gunakan secara kurang efektif. Anda kemudian bisa mengidentifikasi pekerjaan2 yang bisa Anda delegasikan, bisa Anda kurangi karena tidak penting dan sebagainya. Ujungnya adalah Anda akan bisa mendapatkan lebih banyak waktu yg bisa Anda gunakan untuk tugas penting seperti planning, ataupun kehidupan pribadi Anda dengan keluarga. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Nah, itu baru bahasan tentang Mastery. Panjang bukan? Kalau menurut Brad Sugars masih ada 5 anak tangga lagi yaitu: Niche, Leverage, Team, Synergy, dan Results. Wah masih jauh dong perjalanan? Tenang, tenang, ini gak sekaku hitungan matematis. Pelan2 terapkan saja dulu Mastery ini, Anda akan terbawa ke anak2 tangga berikutnya. Hingga Anda dapat menikmati usaha Anda sebagai Bisnis. Bukan kerja bakti. &lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27366165-4128490866845579986?l=fauzirachmanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/feeds/4128490866845579986/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27366165&amp;postID=4128490866845579986' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/4128490866845579986'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/4128490866845579986'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/2007/04/bisnis-atau-kerja-bakti.html' title='Bisnis atau Kerja Bakti?'/><author><name>Fauzi Rachmanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14831845815996709974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_AFw7AVcDntE/ShJCO9gF3KI/AAAAAAAAAIQ/VVgCHydCDDU/S220/fauzi.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27366165.post-4862330351119749168</id><published>2007-04-08T02:10:00.000+07:00</published><updated>2007-04-08T02:15:12.887+07:00</updated><title type='text'>Bagaimana Membicarakan Bisnis Anda</title><content type='html'>&lt;p&gt;Bisnis Anda apa sih? Anda pasti pernah mendapat pertanyaan seperti di atas. Entah Anda sedang arisan keluarga, reuni sekolah, atau sedang bersebelahan dengan kenalan baru di kereta. Pertanyaan demikian sering tiba-tiba muncul. Lalu apakah jawaban Anda? Seperti yang dikatakan Michael Port dalam buku “Book Yourself Solid”, saya yakin Anda akan menjawab dengan kategori profesi Anda, misalnya konsultan IT, pedagang pakaian jadi, internet marketer, pelatih fitness, dsb. Dan menurut Michael Port, itu ternyata salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya. Jawaban tadi bisa salah, karena bisnis Anda adalah lebih dari sekedar kategori profesi yang Anda sebutkan. Malah dengan menyebutkan kategori profesi, gambaran kabur tentang profesi Anda di benak lawan bicara Anda bisa2 membuat dialog Anda tidak menguntungkan. Michael Port memberikan ilustrasi menarik. Misalnya ada seorang pelatih Yoga, bertemu dengan seseorang yang mungkin memerlukan jasa latihan Yoga, namun pernah mengenal seorang instruktur Yoga yang kelakuannya kebetulan negatif. Apa yang terjadi ketika si pelatih Yoga mengenalkan diri dan menyebutkan pekerjaan nya: pelatih Yoga. Lawan bicara akan mundur teratur, jauh sebelum si pelatih Yoga sempat menceritakan apa manfaat berlatih Yoga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus bagaimana seharusnya kita menjelaskan apa yang kita kerjakan? Michael Port dalam buku tadi menjelaskan langkah-langkah yang menurut saya sangat sederhana, praktis, tapi impact nya dahsyat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, rumuskan secara baku, kalau perlu tuliskan dan hapalkan, hal-hal berikut ini:&lt;br /&gt;1. Siapakah target market Anda?&lt;br /&gt;2. Apakah masalah terbesar yang dihadapi target market Anda?&lt;br /&gt;3. Bagaimana Anda memberikan solusi bagi target market Anda?&lt;br /&gt;4. Sebutkan hasil dramatis yang pelanggan Anda peroleh&lt;br /&gt;5. Sebutkan manfaat terdalam yang pelanggan Anda peroleh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, gunakan catatan baku tadi untuk menjawab pertanyaan “apakah bisnis Anda”. Rumus jawabannya begini:&lt;br /&gt;“Tahukah Anda, bagaimana (1 - siapakah target market Anda) melakukan (2 - masalah terbesar). Yang saya lakukan adalah (3 - solusi Anda), sehingga mereka (4 - hasil dramatis). Sekarang klien saya (5 - manfaat terdalam)”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kepanjangan Anda dapat menyingkat dalam versi yg lebih pendek. Misalnya: “Tahukah Anda, bagaimana (1 - siapakah target market Anda) melakukan (2 - masalah terbesar). Yang saya lakukan adalah (3 - solusi Anda), sehingga mereka (5 - manfaat terdalam)”. Atau, jika kesempatan Anda amat sangat pendek, gunakan rumus jawaban singkat tapi manis: “Saya membantu (1 - siapakah target market Anda) untuk mendapatkan (5 - manfaat terdalam)”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda perhatikan, jelas sekali model jawaban yang akan Anda sampaikan tidak lagi sekedar definisi profesi Anda, tapi sangat berorientasi pada pelanggan Anda dan manfaat yang mereka peroleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurang jelas? Anda perlu contoh? OK. Sebagai contoh, saya akan berikan pengalaman pribadi saya. Biasanya saya paling sulit menjawab pertanyaan apa bisnis yang dilakukan perusahaan saya: &lt;a href="http://www.sdgisolutions.com/"&gt;http://www.sdgisolutions.com/&lt;/a&gt;. Kalau saya bilang ini adalah “perusahaan IT”, saya malah ditanya harga komputer. Saya bilang saya jualan software, malah ditanya harga software bajakan di mall2, dsb. Serba salah, dan malah menciptakan dialog yg tidak bermanfaat. Dengan menerapkan ilmu Michael Port, berikut jawaban2 baru saya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Q : Fauzi, bisnis kamu sebenarnya apa sih?&lt;br /&gt;A : Oh ya, Om tentu tahu betapa besar investasi infrastruktur teknologi informasi perusahaan2 besar seperti Telkom, Yamaha, Federal, dsb. (1 - siapakah target market Anda)&lt;br /&gt;Q : Ya ... pasti besar sekali.&lt;br /&gt;A : Ya, dan asset IT yang besar tadi sangat rumit untuk dikontrol. Mereka bahkan sangat kesulitan memiliki data inventori PC yang mereka miliki, misalnya detil spesifikasi hardware nya, dan software yang terinstall di dalamnya. Ini bicara belasan ribu PC, sangat sulit kalau harus mencatat satu persatu. (2 - masalah terbesar)&lt;br /&gt;A : Nah, yang saya lakukan adalah memberikan alat bantu buat mereka untuk melakukan manajemen asset IT mereka secara mudah. (3 - solusi Anda). Yang kegunaanya sangat banyak, mulai dari bagaimana memiliki data asset IT dengan scan otomatis, hingga melakukan instalasi software serentak di seluruh PC mereka di berbagai kota. (4 - hasil dramatis)&lt;br /&gt;Q : Wah, canggih sekali solusi kamu itu.&lt;br /&gt;A : Betul Om, makanya sekarang klien kami jadi sangat efisien dalam penggunaan asset IT nya. Tidak ada investasi IT yang sia-sia. Yang ujung-ujungnya sangat membantu menekan biaya IT mereka. (5 - manfaat terdalam)&lt;br /&gt;Q : Hebat .. hebat. Ngomong2 ada teman Om yang jadi IT manager di salah satu Bank pemerintah. Kayanya dia perlu solusi kamu.&lt;br /&gt;A : Oh ya Om?, boleh Om … kalau ada nomor HP nya nanti biar saya hubungi …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah kan, dari pertanyaan sederhana, dengan menjawab secara tepat, akhirnya bisa jadi bisnis baru. Mungkin Anda protes, ah itu kan di bisnis solusi seperti IT. Di bisnis pakaian jadi misalnya, mana bisa? Hmm ... bagaimana kalau kita coba saja:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Q : Bisnis apa sekarang Teh?&lt;br /&gt;A : Kamu tahu kan sekarang banyak artis sinetron yang pada pake jilbab, kaya Inneke Koesherawati, Zaskia Mecca, dsb … Kerudung mereka kan selain keren, praktis juga modis, jadi banyak muslimah yang pengen meniru mereka.&lt;br /&gt;A : Nah, Teteh menyediakan jilbab-jilbab kaya gitu. Jadi sekarang gak cuma artis sinetron, kamu juga bisa pake jilbab gaya kaya gitu. Jadi kamu bisa tampil secantik mereka.&lt;br /&gt;Q : Ah, yang bener Teh? Kebetulan nih, saya lagi cari. Temen2 di kampus juga pada nyari tuh. Bawa sample gak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah kan. Terbukti ampuh. Daripada sekedar menjawab “jualan kerudung“, “jualan pakaian jadi“ atau “jualan busana muslimah“, misalnya. Anda dapat membuat sebuah obrolan menarik yang jauh bermanfaat. Anda coba-coba saja sendiri untuk membuat jawaban baru atas pertanyaan tentang bisnis Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku Michael Port “Book Yourself Solid” sendiri sebenarnya membicarakan tips untuk bisa laris manis (fully booked) bagi profesi2 seperti konsultan, pembicara publik, dsb. Tapi resep2 nya ternyata relevan dan bisa diterapkan untuk bidang-bidang lain. Selamat mencoba.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27366165-4862330351119749168?l=fauzirachmanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/feeds/4862330351119749168/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27366165&amp;postID=4862330351119749168' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/4862330351119749168'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/4862330351119749168'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/2007/04/bagaimana-membicarakan-bisnis-anda.html' title='Bagaimana Membicarakan Bisnis Anda'/><author><name>Fauzi Rachmanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14831845815996709974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_AFw7AVcDntE/ShJCO9gF3KI/AAAAAAAAAIQ/VVgCHydCDDU/S220/fauzi.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27366165.post-4329802400497908815</id><published>2007-04-03T18:20:00.000+07:00</published><updated>2007-04-07T10:07:30.203+07:00</updated><title type='text'>Gagal Adalah Sebuah Keputusan</title><content type='html'>Pernahkah Anda mengalami, dimana hasil dari usaha Anda tidak sesuai dengan harapan Anda. Pasti pernah. Saya juga pernah. Hal ini mungkin sangat biasa bagi para pebisnis. Target telah ditetapkan, strategi telah dipikirkan masak-masak, rencana telah disusun, dan tindakan pun telah dilakukan. Namun hasilnya? Ternyata tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Kalau hasilnya sama atau melebihi yang kita harapkan tentu tidak apa-apa, tapi kalau jauh dibawah yang kita harapkan, terkadang membuat kita berpikir, yah ... gagal deh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sesungguhnya apakah gagal itu? Saya jadi teringat sebuah cerita. Anda mungkin pernah mendengarnya dari orang lain. Tapi tidak apa-apa, saya ulang saja. Ini tentang seorang dukun Indian tua yang terkenal sangat sukses. Seperti Anda tahu, tugas utama dukun Indian adalah melakukan tarian memanggil hujan. Tidak setiap kali dukun Indian menari akan terjadi hujan, makanya tingkat keberhasilan dukun Indian diukur dari berapa kali hujan terjadi dibanding berapa kali dia menari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, dukun Indian kita ini tingkat keberhasilannya mencapai 100%. Setiap kali dia menari, pasti terjadi hujan. Sementara tingkat keberhasilan dukun Indian lain, rata2 hanya 50% – 60%.&lt;br /&gt;Berita kehebatan sang dukun tua tadi sampai ke telinga seorang dukun muda yang sangat berbakat. Dukun muda ini penasaran karena tingkat keberhasilannya baru 70%.&lt;br /&gt;Jadi rata2 dari 10 kali dia menari, tujuh kali berhasil terjadi hujan. Penasaran, dukun muda ini pun memutuskan untuk "apprentice" kepada dukun tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipelajarinya setiap langkah, gerak, dan mantra yang diucapkan si dukun tua. Dukun muda pun melakukan duplikasi. Bahkan tidak berani ATM – Amati Tiru Modifikasi, tapi ATP - Amati Tiru Persis. Hingga dukun muda pun puas karena sudah bisa menduplikasi tarian pemanggil hujan milik dukun tua. Dukun muda pun kembali ke kampung nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, setelah menerapkan seluruh ilmu dukun tua, ternyata tingkat keberhasilannya hanya naik sedikit menjadi 75% masih jauh dari 100%. Dukun muda pun kembali ke kampung dukun tua untuk protes, karena pasti masih ada rahasia yang disembunyikan. Dukun muda pun mendemonstrasikan tarian nya di depan dukun tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dukun tua setelah mengamati mengkonfirm bahwa tarian dan mantra2 dukun muda sudah betul dan tidak ada yg salah. Dukun muda pun semakin bingung, apa perbedaan antara dia dan dukun tua. Dukun muda pun pamit pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat sebelum dukun muda meninggalkan tenda, dengan mengisap pipa rokoknya dukun tua berkata: "Oh ya, sudahkah aku katakan, bahwa setiap aku menari, aku tidak pernah berhenti hingga hujan datang?" Ya. Tidak pernah berhenti! Itulah perbedaan antara sang dukun yang sukses 100% dengan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keputusan untuk berhenti, atau terus, itulah rupanya gerbang yang membedakan antara keberhasilan dan kegagalan. Ketika Anda menghadapi bahwa hasil yang Anda harapkan tidak sesuai rencana Anda, ada dua pilihan bagi Anda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Berhenti, dan mendeklarasikan kegagalan, atau&lt;br /&gt;- Menganggap hasil tadi sebagai feedback untuk&lt;br /&gt;merevisi strategi Anda, dan Anda mencoba kembali dengan strategi baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda memilih gagal, maka pilihan pertama dapat Anda ambil. Sementara orang-orang yang tidak pernah gagal, akan memilih pilihan kedua. Mereka menjadikan hasil yg tidak sesuai harapan tadi sebagai masukan, menyusun strategi baru, dan mencoba kembali. Kalau hasilnya masih tidak sesuai, strategi kembali dirumuskan ulang, dan tindakan baru diambil. Demikian berulang-ulang. Hingga "turun hujan". Jadi gagal, dan juga berhasil, adalah sebuah keputusan. Terserah Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: Versi asli artikel saya berikut, dimuat di bagian news Lepuspa.biz &lt;a href="http://lepuspa.biz/more_news&amp;news_id=3.html"&gt;http://lepuspa.biz/more_news&amp;amp;news_id=3.html&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27366165-4329802400497908815?l=fauzirachmanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/feeds/4329802400497908815/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27366165&amp;postID=4329802400497908815' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/4329802400497908815'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/4329802400497908815'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/2007/04/gagal-adalah-sebuah-keputusan.html' title='Gagal Adalah Sebuah Keputusan'/><author><name>Fauzi Rachmanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14831845815996709974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_AFw7AVcDntE/ShJCO9gF3KI/AAAAAAAAAIQ/VVgCHydCDDU/S220/fauzi.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27366165.post-7019418411356278263</id><published>2007-04-03T00:31:00.001+07:00</published><updated>2007-04-03T00:34:41.610+07:00</updated><title type='text'>Ngenger</title><content type='html'>Orang Jawa mengenal suatu tradisi yang disebut “ngenger”. Mungkin kalau Anda bukan orang jawa, akan jarang mendengar kata ini. Padahal sesungguhnya ngenger adalah suatu tradisi yang menurut saya luar biasa. Saya akan bercerita sedikit tentang ngenger.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut filosofi orang Jawa, kesuksesan hanya dapat diperoleh jika kita mendekati orang yang telah memperoleh derajat kesuksesan. Makanya, pada jaman dulu, orang-orang di kampung di Jawa tengah sana jika ingin sukses, dia akan datang ke rumah orang yang sukses untuk menjalani ngenger. Dengan harapan, kelak akan bisa mengikuti kesuksesan “Bendoro“ atau orang yang diikutinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang menjalani laku ngenger, betul-betul menyerahkan hidupnya kepada Bendoro. Hubungan nya sekilas mirip-mirip antara majikan dan pembantu. Bahkan antara majikan dan budak. Pengenger pasrah dan ikhlas kepada Bendoro, sementara sebagai imbalan atas kesetiaannya, Bendoro memberikan kesempatan bagi Pengenger untuk merubah nasibnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ditelusuri kembali dalam cerita-cerita Jawa. Laku ngenger banyak dijalani oleh para penguasa tanah jawa, sebelum mereka memperoleh kesuksesan. Misalnya, tokoh Damarwulan, yang menjalani laku ngenger kepada Patih Majapahit. Atau Jaka Tingkir yang ngenger kepada Sultan Trenggana. Belakangan Jaka Tingkir berhasil bertahta di kesultanan Pajang sebagai Sultan Hadiwijaya. Kisah-kisah seperti ini memberi insprasi kepada orang-orang jawa di kampung, yang ingin meraih sukses, untuk melakukan ngenger.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang banyak kontroversi seputar ngenger. Orang jawa modern bahkan cenderung memandang negatif kepada ngenger. Karena berkesan sangat feodal dan tidak menghormati hak Pengenger. Namun lepas dari itu, sesungguhnya banyak nilai-nilai yang dapat kita pelajari dari ngenger, misalnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1. Kesetiaan.&lt;/strong&gt; Kalau Anda menjalani laku ngenger, Anda harus total setia kepada Bendoro Anda. Dalam pengertian yang seluas-luasnya. Seluruh tenaga dan pikiran diberikan kepada Bendoro, sesuai dengan perintah yang diberikan Bendoro. Anda tidak mungkin mendua, atau mentiga, kesetiaan Anda hanya untuk Bendoro. Ini untuk menunjukkan kalau Anda percaya penuh bahwa Bendoro akan menunjukkan jalan kepada Anda. Bahkan kesetiaan Anda tidak bisa dibeli dengan uang. Karena para pelaku ngenger bahkan tidak boleh mengharapkan imbalan. Diterima untuk ngenger saja sudah suatu peluang buat mereka untuk sukses. Makanya dalam ngenger, aib menanyakan imbalan kepada Bendoro. Imbalan nanti akan dipetik ketika pelaku ngenger sudah berhasil naik tingkat menjadi Bendoro baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Kesabaran.&lt;/strong&gt; Ngenger sesungguhnya adalah sarana bagi Bendoro untuk menggembleng dan menguji apprentice nya. Maka kesabaran dan keikhlasan menjadi kunci bagi keberhasilan sang pe-ngenger. Salah satu pantangan dalam tradisi ngenger adalah, “nggersula“ atau mengomel. Apapun perintah yang diberikan Bendoro, pengenger harus memegang prinsip: dengarkan dan ikuti. Bahkan kadang proses ngenger berjalan cukup lama, karena Bendoro melihat pelaku ngenger belum pantas naik tingkat, maka pengenger harus sangat berlatih menjaga kesabarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3. Disiplin.&lt;/strong&gt; Ngenger adalah peluang belajar langsung dari orang yang sudah berhasil. Maka disini dibutuhkan disiplin yang sangat kuat dari pe-ngenger untuk mematuhi apa yang diperintahkan Bendoro. Pola belajar pada laku ngenger adalah langsung praktek, bukan teori-teori. Pe-ngenger bisa langsung mengamati kebiasaan-kebiasaan Bendoro nya, bagaimana Bendoro nya membuat keputusan dan bertindak. Dengan demikian pe-ngenger akan memiliki bekal pengalaman yang cukup jika kelak Bendoro nya memandang ia sudah cukup pengetahuan untuk memegang tanggung-jawab yang lebih besar. Tanpa disiplin, akan sulit pengenger untuk menjadi Bendoro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda pasti langsung bertanya-tanya? Lho kalau di jaman modern, ngenger ini kan jadinya mirip dengan “apprentice“? Ya ngenger mirip sekali dengan apprentice. Namun, jauh lebih dari itu. Menjalani laku ngenger memiliki protokol tertentu yang tidak boleh di langgar. Protokol kesetiaan, kesabaran dan disiplin tadi di antara nya. Ini yang sudah sulit dijalankan di jaman modern yang semua serba ingin “instant result“ ini. Ngenger tidak demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kalangan pengusaha Jawa yang sukses, sebetulnya juga banyak ditemui fenomena ngenger. Pengusaha-pengusaha tadi setiap tahunnya menerima pengenger2 baru dari kampung. Mereka lambat laun akan terseleksi menjadi segelintir orang yang memiliki kesetiaan, kesabaran dan disiplin lebih dari yang lain. Jika waktu nya tiba, maka pengenger terpilih tadi akan diberi kesempatan menjalankan bisnisnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan anggap ngenger itu mudah. Belum tentu Anda tahan menjadi pengenger. Boro2 ngomongin bayaran. Diperintah-perintah seenaknya, dimarah2in, sudah menjadi makanan sehari-hari pengenger. Ada almarhum paman saya yang sukses menjadi pebisnis, beliau dikenal tegas dan keras kepada kerabat yang ngenger di rumahnya. Menurut beliau, jika dengan ketegasan beliau saja sudah tidak tahan, bagaimana mau berhasil dalam berbisnis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun jika Anda lulus ujian dalam ngenger, imbalan yang diberikan Bendoro adalah akses terhadap semua yang Bendoro miliki. Mulai dari bisnis, kekuasaan, jaringan pertemanan, kekerabatan, bahkan jika Anda beruntung, pernikahan. Ya, banyak kasus dimana pengenger akhirnya menikah dengan anak Bendoro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, seandainya Anda diberi kesempatan memilih ngenger kepada orang2 paling sukses di dunia, Anda mau ngenger kepada siapa? Tapi ... siapkah Anda membayar harga nya?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27366165-7019418411356278263?l=fauzirachmanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/feeds/7019418411356278263/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27366165&amp;postID=7019418411356278263' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/7019418411356278263'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/7019418411356278263'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/2007/04/ngenger.html' title='Ngenger'/><author><name>Fauzi Rachmanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14831845815996709974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_AFw7AVcDntE/ShJCO9gF3KI/AAAAAAAAAIQ/VVgCHydCDDU/S220/fauzi.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27366165.post-1190176342385209648</id><published>2007-04-01T18:47:00.000+07:00</published><updated>2007-04-01T18:54:59.271+07:00</updated><title type='text'>Power of Giving</title><content type='html'>Saya kemarin mencuri baca salah satu buku koleksi anak saya. Judulnya, “Hadiah Terindah”, yang merupakan seri pertama dari Chicken Soup for the Soul Graphic Novel, kumpulan kisah nyata yang dituangkan dalam bentuk komik. Ada salah satu cerita yang menarik buat saya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkisah, ada seorang anak berumur belasan tahun bernama Clark, yang pada suatu malam akan menonton sirkus bersama ayahnya. Ketika tiba di loket, Clark dan Ayahnya mengantri di belakang serombongan keluarga besar yang terdiri dari Bapak, Ibu dan 8 orang anaknya. Keluarga tadi terlihat bahagia malam itu dapat menonton sirkus. Dari pembicaraan yang terdengar oleh Clark dan Ayahnya, Clark tahu bahwa Bapak ke-8 anak tadi telah bekerja ekstra untuk dapat mengajak anak-anaknya menonton sirkus malam itu. Namun, ketika sampai di loket dan hendak membayar, wajah Bapak 8 anak tadi nampak pucat pasi. Ternyata uang 40 dollar yang telah dikumpulkannya dengan susah payah, tidak cukup untuk membayar tiket untuk 2 orang dewasa dan 8 anak yang total harganya 60 dollar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasangan suami istri itu pun saling berbisik, bagaimana harus mengatakan kepada anak2 mereka bahwa malam itu mereka batal nonton sirkus karena uangnya kurang. Sementara anak2 nya tampak begitu gembira dan sudah tidak sabar untuk segera masuk ke sirkus. Tiba2 Ayah Clark menyapa Bapak 8 anak tadi dan berkata: “Maaf Pak, uang ini tadi jatuh dari saku Bapak”, sambil menjulurkan lembaran 20 dollar dan mengedipkan sebelah mata nya. Bapak 8 anak tadi takjub dengan apa yg dilakukan Ayah Clark. Dengan mata berkaca-kaca, ia menerima uang tadi dan mengucapkan terimakasih kepada Ayah Clark, dan menyatakan betapa 20 dollar tadi sangat berarti bagi keluarganya. Tiket seharga 60 dollar pun terbayar. Dan dengan riang gembira, keluarga besar itupun pun segera masuk ke dalam sirkus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah rombongan tadi masuk, Clark dan Ayahnya segera bergegas pulang. Ya, mereka batal nonton sirkus, karena uang Ayah Clark sudah diberikan kepada Bapak 8 anak tadi. Malam itu, Clark merasa sangat bahagia. Ia tidak dapat menyaksikan sirkus. Tapi telah menyaksikan dua orang Ayah hebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita di atas mengingatkan saya akan kekuatan memberi. The Power of Giving. Lebih tepatnya lagi “Giving and Receiving”. Karena memberi dan menerima, adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Dari cerita diatas, ada dua kebahagiaan yang terjadi dalam aktifitas memberi. Yaitu kebahagiaan bagi yang menerima, dan sekaligus kebahagiaan yang diperoleh si pemberi. Bapak 8 anak yang “diselamatkan” oleh Ayahnya Clark, tentu pada saat itu akan merasa sangat bahagia. Tapi Ayah Clark sendiri juga merasakan kebahagiaan yang sangat luar-biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan memberi (dan menerima) ini demikian dahsyat karena merupakan esensi dari alam semesta itu sendiri. Tidak berlebihan apabila Deepak Chopra dalam 7 Spiritual Law of Success mencantumkan “Law of Giving” sebagai hukum kedua untuk sukses. Alam semesta berjalan menurut sirkulasi memberi dan menerima. Coba kita perhatikan. Dalam seluruh fenomena alam, berjalan hukum memberi dan menerima. Manusia menghirup oksigen, dan menghembuskan karbon-dioksida, sementara tanaman, menggunakan karbon-dioksida dalam proses fotosintesa, dan membebaskan oksigen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses memberi dan menerima, membuat segala sesuatu di alam semesta ini berjalan, mengalir. Orang-orang jaman dahulu rupanya sangat memahami hal ini. Misalnya uang, alat tukar, dalam bahasa Inggris disebut currency, yang akar katanya adalah bahasa latin currere yang artinya mengalir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan yang paling sering muncul adalah: Apakah yang harus saya berikan? Jawabannya sama dengan pertanyaan: apa yang Anda ingin dapatkan? Jika Anda ingin mendapatkan kasih-sayang, berikan kasih sayang, jika Anda ingin pengetahuan, sebarkanlah pengetahuan, jika Anda ingin uang, maka berikanlah uang. Ya, ini sesuai dengan prinsip memberi dan menerima di atas, apa yang mengalir keluar dari Anda, adalah apa yang akan mengalir kembali kepada Anda. Alam semesta mengikuti hukum ini. Bahkan yang mengalir kembali kepada Anda, selalu lebih besar dari yg mengalir keluar dari Anda, karena semesta jauh lebih besar dari Anda! Jadi jika Anda ingin banyak uang, berikan uang. Ada yg bertanya, lalu bagaimana jika uang Anda belum banyak? Wah, kalau begitu Anda perlu memberi lebih banyak lagi, hehehe ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya giving belum menjadi habit, sebetulnya ada beberapa tips yg bisa Anda terapkan. InsyaAllah jika dilaksanakan secara rutin, akan memperkuat syaraf giving Anda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kemanapun Anda pergi untuk bertemu dengan seseorang, usahakan membawakan suatu hadiah. Apapun bentuk hadiah tadi. Hal ini sebenarnya sudah diajarkan oleh orang tua kita jaman dahulu, namun sering kita lupakan. Perhatikan saja, orang tua kita dahulu setiap berkunjung ke rumah teman atau saudara selalu membawa oleh-oleh. Anda juga bisa memulai kebiasaan ini. Mungkin sekedar membawa sebungkus coklat, bunga (lho ini mau nyatain apa ya?), atau doa. Ya, kalaupun terpaksa tangan Anda kosong, ya berikan saja doa ketika Anda bertemu dengan seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Syukuri setiap pemberian yang Anda terima hari ini. Lho, bagaimana jika hari ini saya tidak menerima pemberian apa-apa? Salah, Anda pasti menerima sesuatu dari alam semesta. Mulai dari udara pagi yang cerah, sinar matahari yang hangat, sapaan tetangga yang ramah, bahkan teguran dari orang tidak dikenal, bertemu teman lama yang Anda rindukan, dan masih banyak lagi. Ya tentu lebih konkret lagi apabila tiba-tiba hari ini ada yang memberikan handphone baru atau iPod baru kepada Anda. Jelas Anda harus syukuri apa yg Anda terima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Berkomitmenlah untuk selalu berbagi apa yang Anda sebetulnya bisa berikan setiap saat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;- Cinta&lt;/strong&gt;. Mungkin Anda langsung tertawa. Ah, kalau cuma cinta saya sudah berikan setiap saat untuk keluarga saya. Mungkin Anda benar. Yang harus Anda ingat adalah, seperti kata Stephen Covey, Cinta adalah kata kerja, bukan kata benda. Artinya, harus di praktek-kan. Ya, kalau Anda sudah memiliki cinta untuk orang-orang terdekat Anda, praktek-kan. Berapa kali Anda dalam sehari memeluk dan mengusap kepala anak Anda? Dan mengucapkan bahwa Anda sayang anak Anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;- Tawa.&lt;/strong&gt; Ini bukan hal sepele. Tertawa adalah ekspresi kebahagiaan. Bantulah orang-orang di sekitar Anda mengekspresikan rasa bahagia melalui tertawa. Berapa kali dalam sehari Anda tertawa? Tahukan Anda bahwa seorang anak tertawa rata2 150 kali dalam sehari, dan orang dewasa hanya 15 kali dalam sehari. Bergembiralah, bagikan tawa di rumah Anda, jika tidak nanti anak Anda lebih menyukai Mas Thukul daripada Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;- Pengetahuan.&lt;/strong&gt; Anda pasti tahu sesuatu labih baik dari seseorang. Mungkin Anda jago mengurus ikan Arwana, bagikan. Anda pintar dalam mengurus tanaman Aglonema? Bagikan. Anda pintar memasak, tulis resep dan bagikan. Bagikan pengetahuan Anda, karena pengetahuan adalah gift dari Yang Maha Kuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak contoh di dunia ini, dimana orang memberikan pengetahuan nya, dan menuai banyak sekali manfaat, termasuk dalam finansial. Gary Craig, penemu teknik Emotional Freedom Technic, memberikan ebook nya secara cuma-cuma. Azim Jamal, seorang penulis dan pembicara terkenal di Kanada, menyumbangkan 100% dari hasil penjulan buku nya “Power of Giving” untuk charity. Ya, 100%, bahkan semula buku nya bisa di download gratis dalam bentuk ebook, sebelum publishernya meminta Azim menghentikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tutup catatan kali ini dengan sebuah cerita humor Sufi berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkisah ada seorang Sufi yang sudah merasa teramat dekat dengan Tuhan nya. Suatu hari ketika sedang berjalan, Sang Sufi berpapasan dengan seorang yang sangat miskin. Tubuhnya kurus kering, tinggal tulang berbalut kulit yang dibungkus dengan kain compang-camping seadanya. Badan nya tergeletak lemas di pinggir jalan, bibirnya mengering, menandakan sudah lama si miskin tidak mendapat makan. Melihat penderitaan si miskin, Sang Sufi pun berteriak protes pada Tuhan nya: “Ya Tuhan, mengapa Engkau tidak lakukan sesuatu untuk orang ini !!“. Sesaat kemudian, terdengar jawaban: “Ya! Makanya Aku ciptakan kamu!“.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27366165-1190176342385209648?l=fauzirachmanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/feeds/1190176342385209648/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27366165&amp;postID=1190176342385209648' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/1190176342385209648'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/1190176342385209648'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/2007/04/saya-kemarin-mencuri-baca-salah-satu.html' title='Power of Giving'/><author><name>Fauzi Rachmanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14831845815996709974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_AFw7AVcDntE/ShJCO9gF3KI/AAAAAAAAAIQ/VVgCHydCDDU/S220/fauzi.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27366165.post-8263223761080067612</id><published>2007-03-31T09:01:00.000+07:00</published><updated>2007-04-01T17:30:33.518+07:00</updated><title type='text'>Belajar Tidak Mengatakan Tidak</title><content type='html'>Beberapa waktu lalu dalam perjalanan dari Jakarta ke Bandung saya mampir di salah satu tempat makan di rest-area untuk makan malam. Saya memesan nasi goreng teri medan, yg tertera di menu. Dulu saya sering memasak sendiri nasi goreng teri medan. Ini salah satu favorit saya. Memang enak. Tapi jika teri nya terlalu banyak, maka Anda bukan makan nasi + teri lagi, tapi serasa makan nasi + garam. Terlalu asin. Makanya biasanya saya punya special request: teri nya di pisahin dari nasi nya. Jadi baru saya campur sendiri waktu makan. Seingat saya, semua selalu mengatakan “Ya” dengan request saya tadi. Tapi tempat makan di rest area yang cukup terkenal dan punya banyak cabang di mall2 itu kemarin mengatakan “Tidak” pada saya. Menurut pelayan nya itu tidak bisa dilakukan. Saya coba jelaskan kembali pelan2, karena dalam logika saya, sebelum dicampur nasi, toh teri nya asal nya juga terpisah. Jawab nya tetap tidak bisa. Ya sudah saya mengalah, tidak apa-apa. Malu juga berdebat soal teri, hahaha …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kemudian jadi teringat artikel yg pernah saya baca tentang Hotel Burj Al Arab di Dubai. Ini hotel supermewah yang oleh kalangan media sampai-sampai dinobatkan sebagai hotel bintang tujuh. Satu-satunya di dunia. Tidak hanya kemewahannya, pelayanan hotel ini sulit ditandingi hotel mewah manapun di seluruh dunia. Saran saya, Anda harus masuk kan hotel ini dalam buku impian Anda. Hampir semua milyuner dan selebriti kelas dunia pernah kesana. Yang membuat Burj Al Arab sulit ditandingi adalah prinsip pelayanan mereka: "We never say no as a first response."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu bukan maksud saya membandingkan Burj Al Arab dengan rest area di tol Cikampek. Sudah pasti jauh berbeda. Namun ada baiknya kita semua belajar menerapkan prinsip yang juga diterapkan hotel terbaik di dunia. Belajar untuk tidak mengatakan tidak. Paling tidak pada kesempatan pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang saya amati, ketika menghadapi permintaan pelanggan yg beda, kata “tidak” rasanya lebih mudah meluncur pada kesempatan pertama, dibanding kata “ya”. Apalagi kalau permintaan pelanggan jauh dari standar delivery kita, lebih enak bilang “tidak” biar cepat selesai. Minta kok aneh-aneh, bilang saja “gak bisa”, beres. Begitu sikap yg umum kita temui. Padahal dalam setiap kata “tidak” yang kita ucapkan tadi, bisa-bisa melayang satu peluang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bisnis jasa konsultan IT yang saya tekuni, jujur saja kecenderungan untuk mengatakan “tidak”pada pelanggan ini sangat kuat. Kadang-kadang permintaan klien memang aneh-aneh, tidak masuk akal, berubah-ubah, dsb. Maklum, banyak pengguna jasa IT yg “tidak tahu apa yg mereka mau”. Makanya konsultan yg tidak sabar, dengan cepat akan mengatakan Tidak, biar cepet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya kita bisa saja menolak permintaan customer yang aneh-aneh, tanpa mengatakan tidak. Malah kadang-kadang penolakan kita jika disampaikan dengan elegan, jadi peluang bisnis baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Semua bisa dijawab Ya (asal biayanya cocok)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya Anda adalah tukang ojek yg sedang mangkal di sebuah gang di Jakarta. Tiba-tiba datang seseorang kepada Anda, dan berkata: “Mas tolong dong, saya mau ke Surabaya“ Apa reaksi Anda. Gila apa? Masa ke Surabaya naik ojek? Reaksi yang umum adalah langsung berkata tidak, beres. Tapi bagaimana jika ternyata orang tadi siap membayar Rp.10 juta jika Anda mau membantu dia ke Surabaya. Wah ini lain cerita, Anda bisa bawa dia ke Bandara pake ojek, beliin tiket pesawat, antar dia sampai cek-in, dan Anda mungkin bisa “cuan” Rp.9 juta. Jadi semua sebetulnya bisa dijawab Ya, asal biayanya cocok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya paling sering melakukan ini. Pada waktu presentasi produk kami, sering saya dihujani permintaan-permintaan ajaib. Bisa ini gak Pak, bisa itu gak Pak, bisa dirubah begini gak pak, bisa diilangin itunya gak Pak, dst. Padahal belum tentu beli. Saya selalu katakan “ya, secara teknologi bisa”. Sambil dalam hati bilang “asal Anda mau bayar ongkosnya”. Pernah ada juga prospek yang cukup jeli menanyakan kenapa saya bilang ya atas semua permintaan dia, ya saya jawab saja, betul semua bisa, asal Bapak siap menanggung biaya nya. Dia pun tertawa mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tawarkan alternatif&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang tidak suka dengan jawaban Tidak. Tapi pasti mau mempertimbangkan pilihan-pilihan. Sebelum mengatakan “Tidak”, ada baiknya tanyakan dulu kebutuhan calon pelanggan, dan berikan alternatif. Besar kemungkinan, malah alternatif tadi yang di ambil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dan istri saya mengamati, bahwa setiap kami ke counter salah satu outlet jeans dan t-shirt terkenal yg berinisial G (supaya tidak jadi iklan), hampir selalu kami membeli sesuatu. Sekalipun item yg kami cari tidak ada. Pelayannya pintar sekali memikat kami dengan menyodorkan alternatif2 lain dari model yg kami tanyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Manfaatkan Jaringan Kerja&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaman saya kuliah, saya sering beli buku di pasar Palasari Bandung. Para penjual buku disana jarang mengatakan “tidak ada” untuk setiap judul buku yang ditanyakan. Kalaupun mereka tidak punya di stok, mereka akan suruh kita tunggu, dan mereka segera carikan dari kios2 yang lain. Kalau nurutin males, mungkin bilang gak ada lebih gampang. Tapi mereka memilih bilang Ya, baru mencarikan buku nya. Mereka bisa begitu karena memanfaatkan jaringan kerja yang sangat kuat disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sering menerima permintaan melakukan pekerjaan diluar keahlian tim kami. Saya selalu berusaha katakan Ya, dgn memberikan referensi kepada kawan saya yang bisa melaksanakan. Dengan demikian saya bisa membantu klien, kawan saya, dan lumayan, tidak melakukan apa-apa tapi bisa dapat bagian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, pada satu titik kita terkadang harus mengatakan Tidak. Jika sudah tidak ada alternatif yang bisa ditawarkan. Sekalipun demikian, Anda masih bisa tetap menggunakan kata “Ya“, dengan tambahan kondisi2 yang Anda tetapkan. Manusia secara alamiah tidak suka dengan penolakan. Dengan demikian, calon pelanggan Anda akan lebih senang mendengar kata “Ya!“, atau “Bisa!“, dari mulut Anda. InsyaAllah, banyak “Ya“ banyak rejeki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Catatan Tambahan:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Catatan tambahan ini saya tulis setelah menerima beberapa feed-back dari rekan saya. Pertama, dengan belajar untuk tidak berkata tidak, tentu bukan kita terus jadi "over promise". Semua di iya in, padahal tidak mampu kita deliver. Bukan begitu maksudnya. Yang kita katakan ya, haruslah yang betul2 dapat kita deliver ke pelanggan. Kedua, dengan berkata ya, bukan berarti kita berbhohong kepada pelanggan. Konteks nya disini adalah justru untuk meningkatkan kepuasan pelanggan. Sedangkan jika kita berbohong atau over promise, justru bukan kepuasan pelanggan yang kita dapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya begini. Usaha saya adalah di bidang software dan implementasi. Jika ada pelanggan saya menanyakan kepada saya, apakah saya bisa sekalian menyediakan server? Jawaban apa yang harus saya berikan? Saya bisa berkata tidak (karena memang saya tidak jualan hardware), tapi saya juga bisa berkata, YA saya akan sediakan server sekalian, melalui partner kami. Saya lebih suka jawaban kedua.  Poin nya adalah, sebelum kita berkata TIDAK kepada pelanggan, ada baiknya untuk memikirkan dahulu: 1. apa betul kita tidak bisa, 2. apa sesungguhnya esensi permintaan pelanggan tadi, mungkin ada perspektif lain, 3. apakah tidak ada alternatif lain, 4. apakah kita tidak memiliki partner yg bisa, dst. Jadi kita men-challenge diri kita untuk lebih kreatif, sebelum akhirnya,  jika amat sangat terpaksa, mengatakan tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, pastikan, respon pertama Anda bukanlah kata "Tidak" atau "Tidak Bisa".&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27366165-8263223761080067612?l=fauzirachmanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/feeds/8263223761080067612/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27366165&amp;postID=8263223761080067612' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/8263223761080067612'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/8263223761080067612'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/2007/03/belajar-tidak-mengatakan-tidak.html' title='Belajar Tidak Mengatakan Tidak'/><author><name>Fauzi Rachmanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14831845815996709974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_AFw7AVcDntE/ShJCO9gF3KI/AAAAAAAAAIQ/VVgCHydCDDU/S220/fauzi.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27366165.post-7642097357464137700</id><published>2007-03-29T23:38:00.000+07:00</published><updated>2007-03-29T23:42:39.491+07:00</updated><title type='text'>7 Langkah Menuju Kemerdekaan</title><content type='html'>Banyak yang menanyakan kepada saya: Pak bagaimana sih cara nya untuk resign?. Mereka bilang bahwa resign itu sulit dengan berbagai alasan, misalnya: mereka tidak bisa resign karena sungkan dengan atasan, tidak enak dengan rekan kerja, kasihan bawahan, takut dianggap tidak professional, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan saya sangat berpengalaman melakukan resign. Selama karir saya menjadi karyawan, saya sudah pernah mengajukan resign sebanyak 7 kali. Maklum, saya gampang sekali tertarik offering yang lebih gede. Ya, bahkan saya pernah hanya bekerja selama 2 minggu sudah resign, karena tertarik opportunity baru. Saya juga pernah resign, namun kembali ngelamar ke perusahaan lama, dan masih diterima, eh kemudian saya malah resign lagi. Betul-betul karyawan yg tidak patut dicontoh. Barangkali karena calling nya memang bukan menjadi karyawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hikmah nya adalah, saya jadi punya pengalaman segudang tentang resign yang akan saya share kepada Anda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1. Tetapkan Keputusan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;- Temukan alasan yang tepat untuk resign. Jangan resign hanya karena emosi sesaat. Nanti Anda akan menyesal. Justru resign harus diputuskan dengan “sadar” setelah Anda melakukan pertimbangan matang. Anda harus paham dengan segala konsekuensi setelah resign. Ajak rundingan orang-orang terdekat Anda, tapi ingat, Andalah yang harus membuat keputusan.&lt;br /&gt;- Berdoalah. Mohonlah kepada Tuhan bahwa jika keputusan resign yang Anda ambil ini membawa kebaikan kepada diri Anda dan keluarga Anda, maka Anda akan dimudahkan dalam prosesnya.&lt;br /&gt;- Jadilah orang yang decisive, jangan indecisive. Tidak ada tempat di dunia ini bagi Hamlet si peragu. Timbang sana-timbang sini, sampai akhirnya tidak pernah membuat keputusan. Guyon dari kami yang gampang resign adalah: Kalau kebanyakan mikir malah gak resign-resign. Kalau udah kadung resign nanti juga terpaksa mikir. Hehehe …&lt;br /&gt;- Jika Anda sudah menikah, sepakati bersama dengan Istri/Suami keputusan ini dengan segala konsekuensi nya. Jika Istri/Suami Anda yang akan resign, tolong didukung. Beri kepercayaan 100% bahwa ini adalah keputusan terbaik. Dan yg penting jangan saling menyalahkan di kemudian hari. Jika Suami/Istri Anda tidak mendukung, beri pengertian. Kerahkan ilmu rayuan. Kalau gak bisa ngerayu kirim email ke saya, nanti saya kasih tau caranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Sampaikan Secara Verbal&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;- Setelah Anda mantap dengan keputusan Anda. Sampaikan niat Anda secara lisan kepada kolega dan atasan. Hindari rumor yang tidak perlu. Maka sebaiknya Anda menyatakan dengan lisan kepada atasan ataupun kolega, kapan Anda akan resign. Jika atasan menolak, sampaikan argumen Anda dan sampaikan bahwa keputusan Anda sudah bulat. Jangan terlihat ragu-ragu dan goyah lagi. Sekali lagi ingat, keputusan di tangan Anda.&lt;br /&gt;- Sampaikan juga secara lisan kepada anggota keluarga terdekat. Terutama Ibu. Seorang Ibu secara naluriah tidak ingin anaknya sengsara. Mereka ingin kita mapan. Beri pengertian dengan baik. Jika Ibu Anda kurang percaya, gunakan orang ketiga yg beliau segani.Dulu saya pertama kali resign, minta tolong Kakak sulung saya bantuin ngomong. Resign-resign berikutnya sih Ibu saya sudah biasa.&lt;br /&gt;- Gunakan kesempatan menyampaikan secara lisan ini untuk mohon doa restu pada orang tua, mertua, kakak2 dsb. Semoga langkah resign kita membawa kepada kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3. Sampaikan Secara Resmi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;- Setelah masa penyampaian lisan lewat, saatnya membuktikan keseriusan dengan mengajukan secara resmi lewat surat. Ikuti prosedur resign sesuai ketentuan perusahaan. Kalau ada ketentuan “one month notice“, patuhi.&lt;br /&gt;- Susun surat dengan baik dan sopan. Tunjukkan apresiasi kepada perusahaan lama Anda. Jangan bertele-tele, sampaikan dengan lugas. Ucapkan Bismillah saat menandatangani nya. Dan setelah itu, point of no return.&lt;br /&gt;- Biasanya di fase ini atasan Anda akan men-challenge lagi. Sekali lagi tunjukkan keputusan Anda sudah bulat. Pernah, waktu resign surat saya malah disobek2 atasan saya supaya tidak jadi diajukan ke SDM. Ya saya print lagi, dan ajukan lagi, sampai beliau terpaksa menerima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;4. Hormati Tawaran Balik&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;- Jika Anda karyawan yang dianggap baik, hampir pasti ada offering yang akan diajukan kepada Anda. Dalam hal ini, kembali ke point satu. Apa alasan Anda untuk resign? Kalau sekedar memperoleh kenaikan gaji, Anda layak mempertimbangkan offering tadi. Tapi jika niatnya adalah ber-hijrah menjadi pengusaha, offering apapun tidak akan sepadan.&lt;br /&gt;- Jika offering nya demikian menggiurkan, sementara Anda sudah pengen sekali jadi pengusaha, ingat baik2 cerita ini:&lt;br /&gt;Jeff Bezos sebelum mendirikan Amazon.com adalah eksekutif DE Shaw dengan gaji sekitar $80,000 per bulan. Ya, per bulan, saya tidak salah ketik. Dan ketika resign, owner DE Shaw sempat menawarkan kenaikan dan posisi nomor satu di DE Shaw. Tapi Jeff Bezos bulat dengan keputusannya. Yang dikatakan Jeff Bezos adalah: “Nanti jika sudah berumur 80 tahun, saya tidak akan ingat berapa gaji saya di DE Shaw tahun 1994, tapi saya pasti ingat dan menyesal kalau tidak terjun ke bisnis internet.”&lt;br /&gt;- Apapun keputusan Anda, berikan tanggapan dengan hormat atas offering tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;5. Lakukan Serah Terima&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;- Lakukan serah terima pekerjaan dengan baik. Jika masih ada pekerjaan Anda yang masih pending, segera tuntaskan sebelum hari terakhir Anda. Serah terimakan kunci, laptop kantor, dsb dengan berita acara. Dikemudian hari ini terkadang menimbulkan masalah yg tidak perlu.&lt;br /&gt;- Sebaiknya Anda membuat memo serah terima sekalipun tidak diminta. Sampaikan dalam memo tadi status terakhir pekerjaan Anda, poin-poin yang masih harus dilakukan setelah Anda pergi, lokasi file, dsb. Anda tidak ingin kan, disuruh balik-balik ke kantor lama lagi setelah Anda resign?&lt;br /&gt;- Bawa pulang barang2 pribadi Anda, hapus berkas-berkas Anda di komputer, dan minta Admin sistem menghapus user Anda di jaringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;6. Pamit Dengan Baik-Baik&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;- Hari terakhir Anda bekerja, datanglah lebih pagi. Gunakan kemeja terbaik Anda. Ini hari besar Anda. Anda harus pamit dengan optimisme memancar dari wajah Anda.&lt;br /&gt;- Pamitlah secara face to face, terutama ke tim Anda, atasan Anda, kolega yang selama ini mendukung Anda, termasuk rekan kantor yg pernah memusuhi Anda. Tatap mata mereka, salam dengan hangat, dan ucapkan pamit dengan baik. Anda boleh terharu, tapi jangan cengeng berlebihan. Jika ada teman Anda yg kelihatan pengen nangis tepuk bahu mereka, katakan bahwa mereka akan baik-baik saja. Pamitlah dengan dignity.&lt;br /&gt;- Jangan lupa pamit lewat email untuk rekan dan kolega yang tidak bisa Anda salamin satu persatu. Sampaikan juga email pemberitahuan bahwa Anda sudah tidak bekerja di perusahaan tersebut kepada customers dan partners Anda, silaturahmi harus tetap dijaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;7. Rayakan Kemerdekaan Anda!&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;- Thats it! Anda sudah resign. Melangkahlah keluar dari perusahaan Anda dengan tegak. Hirup napas dalam-dalam, nikmati segarnya napas kemerdekaan. You are free now. No more absen, dikejar2 bikin laporan atau meeting di perusaan itu. Jutaan orang ingin melakukan seperti yg Anda lakukan tapi tidak berani. And you just did it! Congratulation!&lt;br /&gt;- Rayakan dengan keluarga/ teman. Biasanya teman kerja yg lama minta makan2. Layani. Memang pantas di rayakan. Kalau budget Anda terbatas ya beliin aja Pizza.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian catatan saya tentang cara mudah untuk resign. Apakah Anda juga sedang ingin resign? Selamat mencoba 7 langkah diatas!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27366165-7642097357464137700?l=fauzirachmanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/feeds/7642097357464137700/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27366165&amp;postID=7642097357464137700' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/7642097357464137700'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/7642097357464137700'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/2007/03/7-langkah-menuju-kemerdekaan.html' title='7 Langkah Menuju Kemerdekaan'/><author><name>Fauzi Rachmanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14831845815996709974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_AFw7AVcDntE/ShJCO9gF3KI/AAAAAAAAAIQ/VVgCHydCDDU/S220/fauzi.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27366165.post-7312390597569313267</id><published>2007-03-28T22:55:00.000+07:00</published><updated>2007-03-28T22:58:15.906+07:00</updated><title type='text'>Think Like A Child</title><content type='html'>Sasha, anak saya yang pertama, punya sebuah “buku impian” yang ditulis diam2 di kamarnya. Kemarin, saya memperoleh privilege untuk membaca buku impian nya. Dan saya cukup kaget dengan apa yang ditulis anak saya. Isinya dahsyat. Mulai dari nama SMP favorit (dengan tulisan besar2 dibawahnya: Diterima!), nilai yang ingin dicapai lulus SD nanti, dengan siapa dia ingin menikah (ya, padahal dia baru 11 tahun), keinginan punya pesawat terbang sendiri, rumah di Hollywood dan Itali, bahkan dicantumkan juga punya uang sebesar $ 96 trilyun. Ya, dia menulis dalam dollar dan nol dua belas. Bapak nya saja tidak berani bermimpi se-dahsyat itu. Hampir saja saya nyletuk: “Emang kamu siapa? Paris Hilton?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi teringat cerita ikon internet marketing Indonesia, Anne Ahira, sewaktu mengikuti seminar internet marketingnya beberapa waktu lalu. Ahira kecil juga adalah pengkhayal yang hebat. Saking ingin nya keliling dunia, ia pernah menempelkan foto diri nya di kalender yang berisi gambar2 kota dunia. Jadi waktu kecil Ahira sudah punya “foto” dirinya didepan obyek wisata dunia, seperti misalnya di depan Golden Gate, Menara Eiffel, dsb. Gambar-gambar tadi di fotocopy dan ditempel di dinding. Ahira kecil ngotot, sekalipun Ibu nya mencoba meyakinkan bahwa keliling dunia hanyalah mimpi bagi anak seorang buruh pabrik dan penjual gado-gado.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan belakangan, Ahira dan Ibu nya menangis terharu setelah melihat foto Ahira yang dimuat di Kompas yang menggambarkan dia sedang di depan Golden Gate. Pose nya sama persis dengan foto khayalan Ahira sewaktu kecil. Luar biasa. Thoughts become Things.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran anak-anak memang sangat jernih. Saya yakin sewaktu kecil kita semua berani bermimpi dengan segala kepolosan kita. Tanpa ada ketakutan-ketakutan apakah mimpi kita akan menjadi nyata atau tidak. Barangkali konsep-konsep seperti: berpikir positif, law of attractions, dsb. sebenarnya sudah diinstall oleh Tuhan di otak kita semua sejak kita lahir. Hanya lambat laun pikiran jernih tadi hilang. Hingga saat kita dewasa, seringkali sangat sulit untuk diinstall ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak berpikir dengan cara yang berbeda dengan kita. Ada sebuah cerita, seorang konsultan yang sedang membantu memecahkan masalah di sebuah perusahaan yang sudah listed di bursa suatu ketika ikut menghadiri manajemen meeting untuk memecahkan suatu masalah. Sang konsultan membuat sebuah titik di papan tulis. Dan bertanya:“gambar apa ini?“. Seluruh anggota manajemen kompak dengan jawaban:“sebuah titik hitam di papan tulis putih“. Sang konsultan tiga kali mengulang pertanyaan yang sama, dan mendapat jawaban yang sama. Sang konsultan pun geleng-geleng kepala.“Kemarin saya menanyakan pertanyaan yang sama di sebuat TK, dan mendapat 50 jawaban yg berbeda...“ Ya, bagi anak-anak, titik hitam tadi dapat menjadi mata seekor burung, bola semut, lalat nemplok, dsb. Kreatifitas para pemimpin puncak perusahaan tadi kalah jauh dengan anak TK. Padahal kreatifitas sangat diperlukan dalam memecahkan masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak heran jika Picasso sampai pernah berkata: "Every child is an artist. The challenge is to remain an artist after you grow up". Ya, pelan-pelan kita berubah menjadi orang dewasa dengan meniadakan kehebatan cara berpikir anak-anak yang super kreatif itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pengamatan saya, anak-anak ternyata selalu menerapkan 3B yang seringkali sudah kita lupakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Berimajinasi&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Anak-anak adalah gudang nya imajinasi. Hari ini mereka bisa menjadi guru, besok menjadi perawat, besok lagi menjadi pembalap, dsb. Hari ini bisa perang-perangan di tengah hutan, besok bisa di dalam pesawat angkasa. Imajinasi ternyata sangat penting dalam dunia pemasaran. Saya teringat cerita salah seorang teman saya yang pekerjaannya seorang marketer. Sebelum merumuskan strategi marketing. Bahkan jauh pada saat produk baru sedang di rumuskan, tim mereka berimajinasi. Misalnya dengan membayangkan bahwa produk tadi adalah sesosok manusia. Berapa umurnya, apa hobby nya, pekerjaanya, kemana kalau “hang-out”, minumnya apa, makanya apa, dst. Ini yang kemudian menjadi bahan untuk mengembangkan materi-materi iklan. Karena sudah memiliki imajinasi tentang “karakter“ produk tadi, maka penyusunan program marketing menjadi lebih mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat anak-anak, tidak ada yang tidak mungkin. Imajinasi mereka spontan dan tidak terlalu memikirkan “the how” nya. Karena bagi anak-anak semuanya mungkin terjadi. Justru orang dewasa yang sering “menyabotase” pikiran jernih mereka dengan kata2: “ah, mana mungkin”.Bayangkan kalau cara berimajinasi anak-anak ini kita terapkan dalam menetapkan visi kita kedepan. Kita tidak akan diganggu dengan pikiran-pikiran negatif “ah mana mungkin” tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bermain&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bagi anak-anak semuanya hanyalah permainan. Dengan demikian tidak ada “masalah” bagi anak-anak. Semua hal bisa dilihat dari sisi yang menyenangkan. Lihat saja, sewaktu bencana banjir di Jakarta yang baru lalu, anak-anak yang justru ceria bermain di tengah banjir. Anak-anak lebih pandai melihat sisi menyenangkan dari setiap “persoalan”. Coba kalau ini kita terapkan dalam keseharian. Betapa “persoalan” akan lebih mudah kita hadapi. Semua menjadi permainan yang menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dulu punya teman yang hampir putus asa karena punya banyak hutang. Saya juga sudah bingung mau ngomong apa. Ketika saya ucapkan kata-kata:” its just a game man …”, ternyata dia langsung bangkit kembali. Dia mendapat inspirasi bahwa bisnis yg dia jalani toh hanyalah permainan. Bahwa skor nya saat ini minus, hanyalah skor, dan mulai sekarang dia bisa bermain lebih bagus untuk mendapay skor yang lebih besar. Its just a game. And its fun!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Belajar&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Siapa bilang anak-anak malas belajar. Justru mereka belajar setiap waktu. Saya pernah baca berita suatu penelitian di MIT yang menyimpulkan bahwa cara belajar anak2 itu seperti para scientist. Mereka sangat tertarik hubungan kausalitas. Bagaimana kalau saya melakukan ini, apa reaksi nya. Ini adalah dasar eksperimen. Dan banyak eksperimen yang mereka lakukan. Bagaimana kalau mobil-mobilan ini ban nya dicopot? Bagaimana kalau rambut boneka Barbie ini dipotong, dsb. Rasa ingin tahu yang besar ini, sebenarnya bisa menjadi pendorong kesuksesan yang luar biasa jika kita pertahankan hingga dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak belajar secara alamiah untuk menjadi lebih baik. Seorang bayi yang belajar berjalan, setiap kali jatuh akan bangkit kembali. Berapa kali seorang anak terjatuh dari sepeda? Apakah dia akan berhenti dan meratap. Tidak, dia akan tertawa, bangkit lagi, dan bersepeda lebih baik. Ini adalah proses belajar yang luar biasa. Berani mencoba, berani jatuh dan berani mengevaluasi diri, ini yang sayangnya sering hilang pada saat kita menjadi manusia dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kalau Anda sekarang adalah anak-anak, Anda mau menjadi siapa? Menjadi Spiderman? Batman? Donald Trump? Atau mau jadi Paris Hilton?  Selamat berimajinasi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27366165-7312390597569313267?l=fauzirachmanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/feeds/7312390597569313267/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27366165&amp;postID=7312390597569313267' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/7312390597569313267'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27366165/posts/default/7312390597569313267'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fauzirachmanto.blogspot.com/2007/03/think-like-child.html' title='Think Like A Child'/><author><name>Fauzi Rachmanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14831845815996709974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_AFw7AVcDntE/ShJCO9gF3KI/AAAAAAAAAIQ/VVgCHydCDDU/S220/fauzi.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27366165.post-4233506390748861162</id><published>2007-03-19T11:21:00.000+07:00</published><updated>2007-03-19T11:35:50.294+07:00</updated><title type='text'>Rahasia Si Untung</title><content type='html'>Anda pasti kenal tokoh si Untung di komik Donal Bebek. Berlawanan dengan Donal yang selalu sial. Si Untung ini dikisahkan untung terus. Ada saja keberuntungan yang selalu menghampiri tokoh bebek yang di Amerika bernama asli Gladstone ini. Betapa enaknya hidup si Untung. Pemalas, tidak pernah bekerja, tapi selalu lebih untung dari Donal. Jika Untung dan Donal berjalan bersama, yang tiba-tiba menemukan sekeping uang dijalan, pastilah itu si Untung. Jika Anda juga ingin selalu beruntung seperti si Untung, dont worry, ternyata beruntung itu ada ilmunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu beruntung tadi sedikit diungkap pada seminar Luck Factor yang diselenggarakan oleh Komunitas Tangandiatas dan dibawakan oleh Bp. Ahmad Faiz Zainuddin dari LoGOS Institute (&lt;a href="http://www.seftlogos.com/"&gt;www.seftlogos.com&lt;/a&gt;) pada tanggal 15 Maret lalu. Dalam seminar tadi Pak Faiz terutama merujuk pada hasil penelitian Professor Richard Wiseman yang telah dibukukan dengan judul “The Luck Factor”, selain memberikan beberapa intrepretasi dan tambahan sesuai konsep LoGOS yang beliau rumuskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penasaran dengan ilmu keberuntungan Prof Wiseman, saya mencoba menggali lebih dalam hal-hal yang tidak sempat dibahas di seminar tadi. Kalau ingin hidup Anda seperti si Untung, simak baik-baik:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Professor Richard Wiseman dari University of Hertfordshire Inggris, mencoba meneliti hal-hal yang membedakan orang2 beruntung dengan yang sial. Wiseman merekrut sekelompok orang yang merasa hidupnya selalu untung, dan sekelompok lain yang hidupnya selalu sial. Memang kesan nya seperti main-main, bagaimana mungkin keberuntungan bisa diteliti. Namun ternyata memang orang yang beruntung bertindak berbeda dengan mereka yang sial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, dalam salah satu penelitian the Luck Project ini, Wiseman memberikan tugas untuk menghitung berapa jumlah foto dalam koran yang dibagikan kepada dua kelompok tadi. Orang2 dari kelompok sial memerlukan waktu rata-rata 2 menit untuk menyelesaikan tugas ini. Sementara mereka dari kelompok si Untung hanya perlu beberapa detik saja! Lho kok bisa? Ya, karena sebelumnya pada halaman ke dua Wiseman telah meletakkan tulisan yang tidak kecil berbunyi “berhenti menghitung sekarang! ada 43 gambar di koran ini“. Kelompol sial melewatkan tulisan ini ketika asyik menghitung gambar. Bahkan, lebih iseng lagi, di tengah2 koran, Wiseman menaruh pesan lain yang bunyinya: “berhenti menghitung sekarang dan bilang ke peneliti Anda menemukan ini, dan menangkan $250!“ Lagi-lagi kelompok sial melewatkan pesan tadi! Memang benar2 sial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkatnya, dari penelitian yang diklaimnya “scientific“ ini, Wiseman menemukan 4 faktor yang membedakan mereka yang beruntung dari yang sial:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1. Sikap terhadap peluang.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Orang beruntung ternyata memang lebih terbuka terhadap peluang. Mereka lebih peka terhadap adanya peluang, pandai menciptakan peluang, dan bertindak ketika peluang datang. Bagaimana hal ini dimungkinkan? Ternyata orang-orang yg beruntung memiliki sikap yang lebih rileks dan terbuka terhadap pengalaman-pengalaman baru. Mereka lebih terbuka terhadap interaksi dengan orang-orang yang baru dikenal, dan menciptakan jaringan-jaringan sosial baru. Orang yang sial lebih tegang sehingga tertutup terhadap kemungkinan-kemungkinan baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh, ketika Barnett Helzberg seorang pemilik toko permata di New York hendak menjual toko permata nya, tanpa disengaja sewaktu berjalan di depan Plaza Hotel, dia mendengar seorang wanita memanggil pria di sebelahnya: “Mr. Buffet!“ Hanya kejadian sekilas yang mungkin akan dilewatkan kebanyakan orang yang kurang beruntung. Tapi Helzber berpikir lain. Ia berpikir jika pria di sebelahnya ternyata adalah Warren Buffet, salah seorang investor terbesar di Amerika, maka dia berpeluang menawarkan jaringan toko permata nya. Maka Helzberg segera menyapa pria di sebelahnya, dan betul ternyata dia adalah Warren Buffet. Perkenalan pun terjadi dan Helzberg yang sebelumnya sama sekali tidak mengenal Warren Buffet, berhasil menawarkan bisnisnya secara langsung kepada Buffet, face to face. Setahun kemudian Buffet setuju membeli jaringan toko permata milik Helzberg. Betul-betul beruntung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Menggunakan intuisi dalam membuat keputusan.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Orang yang beruntung ternyata lebih mengandalkan intuisi daripada logika. Keputusan-keputusan penting yang dilakukan oleh orang beruntung ternyata sebagian besar dilakukan atas dasar bisikan “hati nurani” (intuisi) daripada hasil otak-atik angka yang canggih. Angka-angka akan sangat membantu, tapi final decision umumnya dari “gut feeling“. Yang barangkali sulit bagi orang yang sial adalah, bisikan hati nurani tadi akan sulit kita dengar jika otak kita pusing dengan penalaran yang tak berkesudahan. Makanya orang beruntung umumnya memiliki metoda untuk mempertajam intuisi mereka, misalnya melalui meditasi yang teratur. Pada kondisi mental yang tenang, dan pikiran yang jernih, intuisi akan lebih mudah diakses. Dan makin sering digunakan, intuisi kita juga akan semakin tajam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak teman saya yang bertanya, “mendengarkan intuisi” itu bagaimana? Apakah tiba2 ada suara yang terdengar menyuruh kita melakukan sesuatu? Wah, kalau pengalaman saya tidak seperti itu. Malah kalau tiba2 mendengar suara yg tidak ketahuan sumbernya, bisa2 saya jatuh pingsan. Karena ini subtektif, mungkin saja ada orang yang beneran denger suara. Tapi kalau pengalaman saya, sesungguhnya intuisi itu sering muncul dalam berbagai bentuk, misalnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Isyarat dari badan. Anda pasti sering mengalami. “Gue kok tiba2 deg-deg an ya, mau dapet rejeki kali”, semacam itu. Badan kita sesungguhnya sering memberi isyarat2 tertentu yang harus Anda maknakan. Misalnya Anda kok tiba2 meriang kalau mau dapet deal gede, ya diwaspadai saja kalau tiba2 meriang lagi.&lt;br /&gt;-         Isyarat dari per
