Wednesday, March 28, 2007

Think Like A Child

Sasha, anak saya yang pertama, punya sebuah “buku impian” yang ditulis diam2 di kamarnya. Kemarin, saya memperoleh privilege untuk membaca buku impian nya. Dan saya cukup kaget dengan apa yang ditulis anak saya. Isinya dahsyat. Mulai dari nama SMP favorit (dengan tulisan besar2 dibawahnya: Diterima!), nilai yang ingin dicapai lulus SD nanti, dengan siapa dia ingin menikah (ya, padahal dia baru 11 tahun), keinginan punya pesawat terbang sendiri, rumah di Hollywood dan Itali, bahkan dicantumkan juga punya uang sebesar $ 96 trilyun. Ya, dia menulis dalam dollar dan nol dua belas. Bapak nya saja tidak berani bermimpi se-dahsyat itu. Hampir saja saya nyletuk: “Emang kamu siapa? Paris Hilton?”

Saya jadi teringat cerita ikon internet marketing Indonesia, Anne Ahira, sewaktu mengikuti seminar internet marketingnya beberapa waktu lalu. Ahira kecil juga adalah pengkhayal yang hebat. Saking ingin nya keliling dunia, ia pernah menempelkan foto diri nya di kalender yang berisi gambar2 kota dunia. Jadi waktu kecil Ahira sudah punya “foto” dirinya didepan obyek wisata dunia, seperti misalnya di depan Golden Gate, Menara Eiffel, dsb. Gambar-gambar tadi di fotocopy dan ditempel di dinding. Ahira kecil ngotot, sekalipun Ibu nya mencoba meyakinkan bahwa keliling dunia hanyalah mimpi bagi anak seorang buruh pabrik dan penjual gado-gado.

Dan belakangan, Ahira dan Ibu nya menangis terharu setelah melihat foto Ahira yang dimuat di Kompas yang menggambarkan dia sedang di depan Golden Gate. Pose nya sama persis dengan foto khayalan Ahira sewaktu kecil. Luar biasa. Thoughts become Things.

Pikiran anak-anak memang sangat jernih. Saya yakin sewaktu kecil kita semua berani bermimpi dengan segala kepolosan kita. Tanpa ada ketakutan-ketakutan apakah mimpi kita akan menjadi nyata atau tidak. Barangkali konsep-konsep seperti: berpikir positif, law of attractions, dsb. sebenarnya sudah diinstall oleh Tuhan di otak kita semua sejak kita lahir. Hanya lambat laun pikiran jernih tadi hilang. Hingga saat kita dewasa, seringkali sangat sulit untuk diinstall ulang.

Anak-anak berpikir dengan cara yang berbeda dengan kita. Ada sebuah cerita, seorang konsultan yang sedang membantu memecahkan masalah di sebuah perusahaan yang sudah listed di bursa suatu ketika ikut menghadiri manajemen meeting untuk memecahkan suatu masalah. Sang konsultan membuat sebuah titik di papan tulis. Dan bertanya:“gambar apa ini?“. Seluruh anggota manajemen kompak dengan jawaban:“sebuah titik hitam di papan tulis putih“. Sang konsultan tiga kali mengulang pertanyaan yang sama, dan mendapat jawaban yang sama. Sang konsultan pun geleng-geleng kepala.“Kemarin saya menanyakan pertanyaan yang sama di sebuat TK, dan mendapat 50 jawaban yg berbeda...“ Ya, bagi anak-anak, titik hitam tadi dapat menjadi mata seekor burung, bola semut, lalat nemplok, dsb. Kreatifitas para pemimpin puncak perusahaan tadi kalah jauh dengan anak TK. Padahal kreatifitas sangat diperlukan dalam memecahkan masalah.

Tidak heran jika Picasso sampai pernah berkata: "Every child is an artist. The challenge is to remain an artist after you grow up". Ya, pelan-pelan kita berubah menjadi orang dewasa dengan meniadakan kehebatan cara berpikir anak-anak yang super kreatif itu.

Menurut pengamatan saya, anak-anak ternyata selalu menerapkan 3B yang seringkali sudah kita lupakan:

Berimajinasi
Anak-anak adalah gudang nya imajinasi. Hari ini mereka bisa menjadi guru, besok menjadi perawat, besok lagi menjadi pembalap, dsb. Hari ini bisa perang-perangan di tengah hutan, besok bisa di dalam pesawat angkasa. Imajinasi ternyata sangat penting dalam dunia pemasaran. Saya teringat cerita salah seorang teman saya yang pekerjaannya seorang marketer. Sebelum merumuskan strategi marketing. Bahkan jauh pada saat produk baru sedang di rumuskan, tim mereka berimajinasi. Misalnya dengan membayangkan bahwa produk tadi adalah sesosok manusia. Berapa umurnya, apa hobby nya, pekerjaanya, kemana kalau “hang-out”, minumnya apa, makanya apa, dst. Ini yang kemudian menjadi bahan untuk mengembangkan materi-materi iklan. Karena sudah memiliki imajinasi tentang “karakter“ produk tadi, maka penyusunan program marketing menjadi lebih mudah.

Buat anak-anak, tidak ada yang tidak mungkin. Imajinasi mereka spontan dan tidak terlalu memikirkan “the how” nya. Karena bagi anak-anak semuanya mungkin terjadi. Justru orang dewasa yang sering “menyabotase” pikiran jernih mereka dengan kata2: “ah, mana mungkin”.Bayangkan kalau cara berimajinasi anak-anak ini kita terapkan dalam menetapkan visi kita kedepan. Kita tidak akan diganggu dengan pikiran-pikiran negatif “ah mana mungkin” tadi.

Bermain
Bagi anak-anak semuanya hanyalah permainan. Dengan demikian tidak ada “masalah” bagi anak-anak. Semua hal bisa dilihat dari sisi yang menyenangkan. Lihat saja, sewaktu bencana banjir di Jakarta yang baru lalu, anak-anak yang justru ceria bermain di tengah banjir. Anak-anak lebih pandai melihat sisi menyenangkan dari setiap “persoalan”. Coba kalau ini kita terapkan dalam keseharian. Betapa “persoalan” akan lebih mudah kita hadapi. Semua menjadi permainan yang menyenangkan.

Saya dulu punya teman yang hampir putus asa karena punya banyak hutang. Saya juga sudah bingung mau ngomong apa. Ketika saya ucapkan kata-kata:” its just a game man …”, ternyata dia langsung bangkit kembali. Dia mendapat inspirasi bahwa bisnis yg dia jalani toh hanyalah permainan. Bahwa skor nya saat ini minus, hanyalah skor, dan mulai sekarang dia bisa bermain lebih bagus untuk mendapay skor yang lebih besar. Its just a game. And its fun!

Belajar
Siapa bilang anak-anak malas belajar. Justru mereka belajar setiap waktu. Saya pernah baca berita suatu penelitian di MIT yang menyimpulkan bahwa cara belajar anak2 itu seperti para scientist. Mereka sangat tertarik hubungan kausalitas. Bagaimana kalau saya melakukan ini, apa reaksi nya. Ini adalah dasar eksperimen. Dan banyak eksperimen yang mereka lakukan. Bagaimana kalau mobil-mobilan ini ban nya dicopot? Bagaimana kalau rambut boneka Barbie ini dipotong, dsb. Rasa ingin tahu yang besar ini, sebenarnya bisa menjadi pendorong kesuksesan yang luar biasa jika kita pertahankan hingga dewasa.

Anak-anak belajar secara alamiah untuk menjadi lebih baik. Seorang bayi yang belajar berjalan, setiap kali jatuh akan bangkit kembali. Berapa kali seorang anak terjatuh dari sepeda? Apakah dia akan berhenti dan meratap. Tidak, dia akan tertawa, bangkit lagi, dan bersepeda lebih baik. Ini adalah proses belajar yang luar biasa. Berani mencoba, berani jatuh dan berani mengevaluasi diri, ini yang sayangnya sering hilang pada saat kita menjadi manusia dewasa.

Jadi, kalau Anda sekarang adalah anak-anak, Anda mau menjadi siapa? Menjadi Spiderman? Batman? Donald Trump? Atau mau jadi Paris Hilton? Selamat berimajinasi.

Monday, March 19, 2007

Rahasia Si Untung

Anda pasti kenal tokoh si Untung di komik Donal Bebek. Berlawanan dengan Donal yang selalu sial. Si Untung ini dikisahkan untung terus. Ada saja keberuntungan yang selalu menghampiri tokoh bebek yang di Amerika bernama asli Gladstone ini. Betapa enaknya hidup si Untung. Pemalas, tidak pernah bekerja, tapi selalu lebih untung dari Donal. Jika Untung dan Donal berjalan bersama, yang tiba-tiba menemukan sekeping uang dijalan, pastilah itu si Untung. Jika Anda juga ingin selalu beruntung seperti si Untung, dont worry, ternyata beruntung itu ada ilmunya.

Ilmu beruntung tadi sedikit diungkap pada seminar Luck Factor yang diselenggarakan oleh Komunitas Tangandiatas dan dibawakan oleh Bp. Ahmad Faiz Zainuddin dari LoGOS Institute (www.seftlogos.com) pada tanggal 15 Maret lalu. Dalam seminar tadi Pak Faiz terutama merujuk pada hasil penelitian Professor Richard Wiseman yang telah dibukukan dengan judul “The Luck Factor”, selain memberikan beberapa intrepretasi dan tambahan sesuai konsep LoGOS yang beliau rumuskan.

Penasaran dengan ilmu keberuntungan Prof Wiseman, saya mencoba menggali lebih dalam hal-hal yang tidak sempat dibahas di seminar tadi. Kalau ingin hidup Anda seperti si Untung, simak baik-baik:

Professor Richard Wiseman dari University of Hertfordshire Inggris, mencoba meneliti hal-hal yang membedakan orang2 beruntung dengan yang sial. Wiseman merekrut sekelompok orang yang merasa hidupnya selalu untung, dan sekelompok lain yang hidupnya selalu sial. Memang kesan nya seperti main-main, bagaimana mungkin keberuntungan bisa diteliti. Namun ternyata memang orang yang beruntung bertindak berbeda dengan mereka yang sial.

Misalnya, dalam salah satu penelitian the Luck Project ini, Wiseman memberikan tugas untuk menghitung berapa jumlah foto dalam koran yang dibagikan kepada dua kelompok tadi. Orang2 dari kelompok sial memerlukan waktu rata-rata 2 menit untuk menyelesaikan tugas ini. Sementara mereka dari kelompok si Untung hanya perlu beberapa detik saja! Lho kok bisa? Ya, karena sebelumnya pada halaman ke dua Wiseman telah meletakkan tulisan yang tidak kecil berbunyi “berhenti menghitung sekarang! ada 43 gambar di koran ini“. Kelompol sial melewatkan tulisan ini ketika asyik menghitung gambar. Bahkan, lebih iseng lagi, di tengah2 koran, Wiseman menaruh pesan lain yang bunyinya: “berhenti menghitung sekarang dan bilang ke peneliti Anda menemukan ini, dan menangkan $250!“ Lagi-lagi kelompok sial melewatkan pesan tadi! Memang benar2 sial.

Singkatnya, dari penelitian yang diklaimnya “scientific“ ini, Wiseman menemukan 4 faktor yang membedakan mereka yang beruntung dari yang sial:

1. Sikap terhadap peluang.
Orang beruntung ternyata memang lebih terbuka terhadap peluang. Mereka lebih peka terhadap adanya peluang, pandai menciptakan peluang, dan bertindak ketika peluang datang. Bagaimana hal ini dimungkinkan? Ternyata orang-orang yg beruntung memiliki sikap yang lebih rileks dan terbuka terhadap pengalaman-pengalaman baru. Mereka lebih terbuka terhadap interaksi dengan orang-orang yang baru dikenal, dan menciptakan jaringan-jaringan sosial baru. Orang yang sial lebih tegang sehingga tertutup terhadap kemungkinan-kemungkinan baru.

Sebagai contoh, ketika Barnett Helzberg seorang pemilik toko permata di New York hendak menjual toko permata nya, tanpa disengaja sewaktu berjalan di depan Plaza Hotel, dia mendengar seorang wanita memanggil pria di sebelahnya: “Mr. Buffet!“ Hanya kejadian sekilas yang mungkin akan dilewatkan kebanyakan orang yang kurang beruntung. Tapi Helzber berpikir lain. Ia berpikir jika pria di sebelahnya ternyata adalah Warren Buffet, salah seorang investor terbesar di Amerika, maka dia berpeluang menawarkan jaringan toko permata nya. Maka Helzberg segera menyapa pria di sebelahnya, dan betul ternyata dia adalah Warren Buffet. Perkenalan pun terjadi dan Helzberg yang sebelumnya sama sekali tidak mengenal Warren Buffet, berhasil menawarkan bisnisnya secara langsung kepada Buffet, face to face. Setahun kemudian Buffet setuju membeli jaringan toko permata milik Helzberg. Betul-betul beruntung.

2. Menggunakan intuisi dalam membuat keputusan.
Orang yang beruntung ternyata lebih mengandalkan intuisi daripada logika. Keputusan-keputusan penting yang dilakukan oleh orang beruntung ternyata sebagian besar dilakukan atas dasar bisikan “hati nurani” (intuisi) daripada hasil otak-atik angka yang canggih. Angka-angka akan sangat membantu, tapi final decision umumnya dari “gut feeling“. Yang barangkali sulit bagi orang yang sial adalah, bisikan hati nurani tadi akan sulit kita dengar jika otak kita pusing dengan penalaran yang tak berkesudahan. Makanya orang beruntung umumnya memiliki metoda untuk mempertajam intuisi mereka, misalnya melalui meditasi yang teratur. Pada kondisi mental yang tenang, dan pikiran yang jernih, intuisi akan lebih mudah diakses. Dan makin sering digunakan, intuisi kita juga akan semakin tajam.

Banyak teman saya yang bertanya, “mendengarkan intuisi” itu bagaimana? Apakah tiba2 ada suara yang terdengar menyuruh kita melakukan sesuatu? Wah, kalau pengalaman saya tidak seperti itu. Malah kalau tiba2 mendengar suara yg tidak ketahuan sumbernya, bisa2 saya jatuh pingsan. Karena ini subtektif, mungkin saja ada orang yang beneran denger suara. Tapi kalau pengalaman saya, sesungguhnya intuisi itu sering muncul dalam berbagai bentuk, misalnya:

- Isyarat dari badan. Anda pasti sering mengalami. “Gue kok tiba2 deg-deg an ya, mau dapet rejeki kali”, semacam itu. Badan kita sesungguhnya sering memberi isyarat2 tertentu yang harus Anda maknakan. Misalnya Anda kok tiba2 meriang kalau mau dapet deal gede, ya diwaspadai saja kalau tiba2 meriang lagi.
- Isyarat dari perasaan. Tiba-tiba saja Anda merasakan sesuatu yang lain ketika sedang melihat atau melakukan sesuatu. Ini yang pernah saya alami. Contohnya, waktu saya masih kuliah, saya suka merasa tiba-tiba excited setiap kali melintasi kantor perusahaan tertentu. Beberapa tahun kemudian saya ternyata bekerja di kantor tersebut. Ini masih terjadi untuk beberapa hal lain.
- Isyarat dari luar. “Follow the omen” demikian kalau kata Paulo Coelho di buku the Alchemist. Baca “isyarat2” dari luar yang datang pada Anda. Saya juga beberapa kali mengalami. Misalnya pernah saja tiba2 di TV saya kok merasa sering melihat iklan suatu perusahaan tertentu, kemudian ketemu teman kok membicarakan perusahaan itu lagi, di jalan melihat iklan perusahaan tadi. Belakangan perusahaan tadi ternyata menjadi klien saya. Jadi kalau akhir2 ini Anda sering berpapasan dengan Mercedez S Class dua pintu, barangkali itu suatu pertanda.

3. Selalu berharap kebaikan akan datang.
Orang yang beruntung ternyata selalu ge-er terhadap kehidupan. Selalu berprasangka baik bahwa kebaikan akan datang kepadanya. Dengan sikap mental yang demikian, mereka lebih tahan terhadap ujian yang menimpa mereka, dan akan lebih positif dalam berinteraksi dengan orang lain. Coba saja Anda lakukan tes sendiri secara sederhana, tanya orang sukses yang Anda kenal, bagaimana prospek bisnis kedepan. Pasti mereka akan menceritakan optimisme dan harapan.

4. Mengubah hal yang buruk menjadi baik.
Orang-orang beruntung sangat pandai menghadapi situasi buruk dan merubahnya menjadi kebaikan. Bagi mereka setiap situasi selalu ada sisi baiknya. Dalam salah satu tes nya Prof Wiseman meminta peserta untuk membayangkan sedang pergi ke bank dan tiba-tiba bank tersebut diserbu kawanan perampok bersenjata. Dan peserta diminta mengutarakan reaksi mereka. Reaksi orang dari kelompok sial umunya adalah: “wah sial bener ada di tengah2 perampokan begitu”. Sementara reaksi orang beruntung, misalnya adalah: “untung saya ada disana, saya bisa menuliskan pengalaman saya untuk media dan dapet duit“. Apapun situasinya orang yg beruntung pokoknya untung terus. Mereka dengan cepat mampu beradaptasi dengan situasi buruk dan merubahnya menjadi keberuntungan.

Sekolah Keberuntungan

Bagi mereka yang kurang beruntung, Prof Wiseman bahkan membuka Luck School. Saya yakin Anda semua sudah beruntung dan tidak perlu bersekolah di Luck School. Tapi ada baiknya mengintip sedikit, latihan2 apa yang diberikan di Luck School.

Salah satu yang menonjol dari orang sial adalah betapa mereka sering mengabaikan hal-hal yang positif di sekitar mereka. Misalnya salah satu pasien Prof Wiseman, adalah seorang wanita single parent, yang sangat sial. Ketika diminta menceritakan hidupnya akan segera nyerocos menceritakan setiap detil kesialannya. Betapa sulitnya memperoleh pasangan, sudah ketemu pria yang cocok tapi si pria jatuh dari motor, di lain kesempatan si pria jatuh dan patah hidungnya, sudah hampir menikah, gereja nya terbakar, dan sebagainya. Pokoknya benar2 sial. Padahal, dalam setiap interview, si wanita datang membawa 2 orang anak yang sangat lucu2 dan sehat. Sebagian besar dari kita akan merasa sangat beruntung memiliki 2 anak tadi. Tapi tidak bagi si wanita sial tadi. Karena 2 anak lucu tadi tidak ada dalam pikiran si wanita, yang otaknya sudah penuh dengan “kesialan”.

Latihan yang diberikan Wiseman untuk orang2 semacam itu adalah dengan membuat “Luck Diary“, buku harian keberuntungan. Setiap hari, wanita tadi harus mencatat hal-hal positif atau keberuntungan yang terjadi. Mereka dilarang keras menuliskan kesialan mereka. Awalnya mungkin sulit, tapi begitu mereka bisa menuliskan satu keberuntungan, besok-besoknya akan semakin mudah dan semakin banyak keberuntungan yg mereka tuliskan. Dan ketika mereka melihat beberapa hari kebelakang Lucky Diary mereka, semakin mereka akan sadari betapa mereka beruntung. Dan sesuai prinsip “law of attraction”, semakin mereka memikirkan betapa mereka beruntung, maka semakin banyak lagi lucky events yang datang pada hidup mereka.

Jadi, sesederhana itu rahasia si Untung. Ternyata semua orang juga bisa beruntung. Termasuk Anda. Siap mulai menjadi si Untung hari ini?

Monday, March 12, 2007

10 Pertanyaan Paling Menantang

Sewaktu menikah, kata orang kami berdua merupakan “pasangan ideal”, karena istri saya pegawai negeri dan saya karyawan bank swasta. Sudah punya karir, punya anak dua, punya rumah, punya mobil, kurang apa? Begitu kebanyakan teman dan keluarga bilang ke saya ketika saya memutuskan menjadi pengusaha. Paling susah jika ada acara kumpul2 keluarga atau teman. Biasanya muncul pertanyaan ataupun pernyataan luar biasa yg rada2 susah dijawab. Ada yang sempat saya jawab, ada yang bikin saya speechless. Berikut diantaranya:

1. Kenapa sih jadi pengusaha?
Jawab: Karena terlanjur! Hahaha … Jujur saja, tadinya karena terlanjur bikin perusahaan, jadi terpaksa serius. Ya begitulah hidup, kadang2 ada saja yang terjadi diluar rencana. Tapi setelah saya renungkan, menjadi pengusaha adalah pilihan hidup saya. Saya tetap menghormati pilihan hidup orang lain. Jadi karyawan juga tidak ada salahnya. Tapi saya pribadi pilih jadi pengusaha. Karena hanya dengan menjadi pengusaha, saya bisa melakukan banyak hal yang tidak mungkin saya lakukan ketika menjadi karyawan, misalnya:
- Memiliki potensi pendapatan yang sangat besar. Sementara kalau terus jadi karyawan, setinggi apapun jabatan saya pendapatan saya terbatas.
- Hanya dengan menjadi pengusaha saya dapat memberikan kesempatan buat orang lain untuk mencari nafkah di perusahaan saya. Istilahnya, bisa menjadi saluran rizki buat orang lain.
- Lebih banyak waktu bersama anak2 dan keluarga saya, sementara pendapatan terus mengalir. Sementara kalau jadi karyawan waktu saya habis tersita untuk perusahaan.

2. Bukankah hidup pengusaha itu susah, tidak bahagia?
Jawab: Ya, ada pengusaha yang tidak bahagia. Banyak juga karyawan yang tidak bahagia. Bahagia sebetulnya kan bukan soal profesi kita apa. Bahagia adalah pilihan hati kita mau bahagia atau tidak. Saya sih pilih bahagia.

3. Tapi kan pusing dan capek mikirin usaha?
Jawab: Ya, memang pusing kalau cuma dipikirin. Makanya usaha tidak untuk dipikirin saja, tapi juga dijalanin. Kalau sudah dijalanin sih pusing nya ilang kok. Diganti sama deg2 an ... hehehe. Dulu sebelum tahu ilmu nya saya juga capek. Dulu tidak ada delegasi ke tim, jadi semua saya jalanin sendiri. Saya ikutan dari mulai jualan, melakukan implementasi, sampai nagih. Caaape’ deeeh. Tapi sekarang dengan delegasi ke tim, alhamdulillah saya bisa lebih rileks.

4. Jadi pengusaha kan bisa bangkrut?
Jawab: Semua ada risiko nya. Jadi pengusaha penuh risiko. Jadi karyawan apalagi. Malah, yang harusnya paling takut perusahaan bangkrut itu justru para karyawan. Kalau perusahaan bangkrut, karyawan langsung dipecat. Kalau perusahaan saya bangkrut, belum tentu saya pribadi ikut bangkrut. Lagi pula saya sedang belajar menciptakan multiple streams of income, supaya sumber pendapatan saya tidak hanya dari satu usaha saja.

5. Gak takut banyak saingan?
Jawab: Dulu ya, saya takut saingan. Tapi setelah dijalani ternyata persaingan itu tidak menakutkan sama sekali. Malah positif buat kita karena memacu kita untuk selalu lebih baik. Kalau kita selalu lebih baik dari saingan, tidak ada lagi yang perlu ditakutkan.

6. Jadi karyawan kan lebih tentram?
Jawab: Ya ini kan soal pilihan. Mungkin jaman orang tua kita dulu menjadi karyawan cukup menentramkan dari segi finansial. Tapi dengan laju inflasi, semakin besarnya biaya sekolah, semakin tingginya biaya hidup, dan sebagainya, kalau saya terus jadi karyawan, justru saya tidak akan bisa tentram lagi ketika anak2 saya kuliah nanti.

7. Sudah punya karir kok ditinggalkan, apa tidak bersyukur kepada Tuhan?
Jawab: Saya sangat bersyukur atas apa yang Allah telah berikan kepada saya. Bahkan, dengan menjadi pengusaha saya semakin memahami arti bersyukur. Dulu, saya tinggal menunggu tanggal 25 semua beres, menghabiskan nya juga enteng saja. Kini, saya semakin dapat mensyukuri setiap rupiah yang saya terima. Betapa dibalik setiap rupiah tadi adalah rizki dari yang Maha Penyayang. Lagipula, menjadi pengusaha memungkinkan saya mengembangkan seluruh potensi yang Allah sudah berikan kepada saya. Itulah salah satu cara saya bersyukur.

8. Gak punya darah pengusaha kok jadi pengusaha?
Jawab: Ya, dulu memang kebanyakan pengusaha tradisional hanya meneruskan usaha orang tua nya. Maka muncul mitos soal darah pengusaha ini. Kenyataannya sekarang siapapun bisa jadi pengusaha. Karena mengelola usaha itu ternyata ada ilmunya dan bisa dipelajari. Saya memang masih belajar, tapi siapapun yg mau belajar insyaAllah pasti bisa.

9. Kenapa gak merangkap saja punya usaha tapi tetap jadi karyawan?
Jawab: Ya. Mungkin saja begitu. Saya juga pernah begitu. Tapi kok malah tidak maksimal. Usaha tidak berkembang, jadi karyawan juga gak tenang. Mungkin masalahnya di fokus. Kalau saya bekerja untuk perusahaan orang lain, semestinya dedikasi saya 100% untuk perusahaan itu. Dengan “nyambi“, saya kok merasa “selingkuh“ gitu. Itu kalau saya lho, mungkin orang lain tidak.

10. Kok sering dirumah, sebenernya kerjanya apa sih?
Jawab: Hehehe ... begini Oom, memang jaman sekarang sudah maju. Pertama, jasa yang perusahaan saya berikan memang lebih banyak pakai otak daripada otot, jadi saya bisa menyelesaikan sebagian besar kerjaan saya dimanapun lewat internet. Kedua, sebagian besar kerjaan yang butuh kehadiran fisik sudah saya delegasikan pada tim saya yang lebih muda dan lebih pinter, dan saya bayar mahal pula. Jadi saya tinggal memonitor saja. Memang sekarang mungkin aneh, tapi makin lama akan makin banyak orang yang bekerja seperti saya.

Sunday, March 11, 2007

Santaplah Makanan Anjing Anda Sendiri.

Yang bener saja, masa manusia menyantap makanan anjing? Tentu bukan begitu maksudnya. Ini saya kutip dari salah satu resep untuk menghasilkan produk yang revolusioner dari Guy Kawasaki. Maksud sebenarnya adalah: gunakan produk Anda sendiri, sebagaimana pelanggan Anda menggunakan produk Anda. Ungkapan lama ini konon dulu asalnya dari iklan2 makanan anjing di AS pada awal era TV yang masih serba live, dimana hingga iklan berakhir seringkali anjingnya sendiri ternyata ogah menyantap makanan yg diiklankan.

Kalau diperhatikan, para penghasil produk unggulan memang selalu memastikan bahwa konsumen memperoleh pengalaman yang optimal dengan produk mereka. Salah satunya dengan menggunakan sendiri produk mereka. Guy Kawasaki memberikan contoh, setiap hari sekitar 300 karyawan Gillette bercukur di shaving-lab mereka dengan menggunakan aneka produk alat cukur yang mereka hasilkan. Ini sudah menjadi ritual yang membanggakan bagi mereka. Karyawan pusat pengembangan Porsche sampai2 menolak jalan menuju ke kantor mereka yang berkelok-kelok dan berlobang diperbaiki. Karena justru setiap hari, jalan tadi menjadi ajang bagi mereka untuk menjajal Porsche mereka. Karyawan pabrik sepeda Cannondale, didorong untuk pulang-pergi dengan sepeda mereka. Di film The Aviator yang menceritakan kehidupan salah satu ikon industri penerbangan Howard Hughes, kita menyaksikan betapa Hughes selalu menerbangkan sendiri pesawat2 baru nya. Meskipun dengan resiko hampir kehilangan nyawanya.

Dengan mencoba dan mengalami sendiri, pengusaha sekelas Howard Schultz, pendiri dan chairman Starbuck bahkan berhasil menemukan hal-hal yang telah hilang dari Starbuck. Sebagai penggemar kopi, sejak lama saya memperhatikan bahwa Starbuck belumlah memberikan pengalaman menikmati kopi yang dicari oleh penggemar kopi sejati. Benar saja, pertengahan Februari 2007 lalu, chairman Howard Schultz mengirimkan memo kepada CEO Jim Donald, yang isinya menegaskan kekecewaan Schultz atas hilangnya tradisi Starbuck yang sebenarnya. Memo yang bocor keluar dan sempat menghebohkan AS tadi salah satu bagian nya berbunyi: “Some people even call our stores sterile, cookie cutter, no longer reflecting the passion our partners feel about our coffee. In fact, I am not sure people today even know we are roasting coffee.” Wow, betul-betul otokritik yang luarbiasa. Semoga setelah ini saya bisa lebih menikmati Starbuck.

Dalam skala yang jauh lebih kecil, saya dan keluarga juga mencoba menerapkan hal ini. Karena klinik dan spa yang kami kelola menjual produk2 aromaterapi, maka kini setiap pagi dan sore, di rumah kami menyalakan burner aromaterapi. Kami jadi tahu persis berapa lama lilin burner akan habis, beda nya burner berbahan logam dan keramik, berapa tetes minyak essential yang diperlukan, termasuk efek-efek yang terasa dengan menghirup aroma tertentu. Hampir seluruh produk dan jasa klinik juga telah kami coba sendiri. Bagaimana rasanya treatment penghilangan lemak dengan meso-lipo, facial dengan alat microdermabrasi hingga akupuntur, kami sudah rasakan sendiri. Kami membuktikan sendiri secara langsung apa yang selama ini kami promosikan, sekaligus kami menjadi pihak pertama yang menemukan beberapa kelemahan yang harus diperbaiki.

Apakah Anda seorang pengusaha restoran, pengrajin aksesoris, pengusaha salon, atau pemilik toko pakaian jadi. Saya sarankan Anda untuk selalu menggunakan produk Anda sendiri. Apalagi jika produk Anda adalah pakaian atau aksesoris, Anda dapat menjadi “kapstok berjalan” untuk sekaligus mempromosikan produk Anda. Cara ini beberapa waktu lalu sukses dijalankan oleh istri saya ketika ikut jualan produk aksesoris dari Mozly. Dengan memakai sendiri produk2 aksesoris Mozly, calon pelanggan lebih tertarik, bahkan tak jarang langsung meminta produk yang saat itu sedang dipakai istri saya.

Singkatnya, banyak sekali keuntungan yang akan Anda peroleh dengan selalu menggunakan produk sendiri. Jadi, selamat menikmati “makanan anjing“ Anda.

Saturday, March 10, 2007

Rudy

Indonesia dipastikan tidak akan memperoleh gelar pada turnamen bulu-tangkis paling bergengsi All England 2007. Sudah empat tahun berturut-turut pahlawan-pahlawan bulu tangkis Indonesia belum berhasil membawa pulang gelar dari All England.

Saya jadi teringat masa-masa kecil saya dulu. Waktu itu All England merupakan event yang sangat ditunggu-tunggu oleh seluruh rakyat Indonesia. Sekarang mungkin bahkan banyak orang Indonesia yg tidak tahu ketika All England berlangsung. Prestasi pahlawan-pahlawan bulutangkis seperti Rudy Hartono, Liem Swie King, Iie Sumirat, dkk betul-betul sangat membanggakan. Apalagi jika Rudy Hartono yang main, seakan aktivitas seluruh negeri terhenti untuk mengikuti jalannya pertandingan. Seluruh perhatian, emosi, harapan dan doa tertumpah pada perjuangan seorang Rudy.

Padahal pada masa itu televisi belumlah sepopuler sekarang. Saya dan keluarga sempat mengalami masa-masa ketika pertandingan bulutangkis hanya bisa diikuti melalui radio. Ya, jadi bukan menyaksikan pertandingan tapi mendengarkan pertandingan. Disitulah “ciamik” nya penyiar olahraga RRI waktu itu. Kita mendengarkan pertandingan dengan imajinasi. Betul2 terasa hidup, seakan kita ikut menyaksikan perjuangan Rudy dkk. Pada saat itu kami sekeluarga akan berkumpul mengerumuni radio bersama2, dengan ketegangan, teriakan, deru nafas dan degup jantung yang sama. Betul-betul suasana kebersamaan yang luar biasa.

Rudy sendiri menjadi juara All England sebanyak 8 kali, 7 kali diantaranya berturut-turut, sebelum dominasinya di dunia bulutangkis diserahkan kepada pahlawan Indonesia yang lain, Liem Swie King. Tidak dapat disangkal, Rudy adalah pemain bulutangkis terbesar sepanjang jaman. Majalah TIME bahkan sampai menobatkan Rudy sebagai “Asian Hero”, betul-betul pengakuan yang layak. Dan jika kita ingin sukses seperti Rudy, mungkin ada baiknya kita belajar dari kunci keberhasilan seorang Rudy Hartono.

Saya pernah membaca bahwa ketika ditanya kunci keberhasilannya. Rudi menjawab singkat: “berdoa”. Lho kalau cuma berdoa, bukankah kita semua berdoa. Ternyata menurut Rudy, dia berdoa tidak hanya sebelum bertanding tetapi juga selama bertanding, sehingga akan membangkitkan percaya diri dalam hati dan pikiran.

Selain berdoa, Rudy juga setiap saat mengucapkan rasa syukur. Ini tidak hanya ketika Rudy memenangkan pertandingan. Bahkan untuk setiap poin yang ia peroleh selama bertanding, ia ucapkan: “Terima kasih Tuhan untuk poin ini.” Dan ini akan terus ia ucapkan hingga skor terakhir dan pertandingan berakhir. Rudy percaya penuh bahwa manusia berusaha namun Tuhan yang memutuskan.

Ternyata seorang juara sejati tidak pernah putus berdoa dan bersyukur. Saya yakin ini yang membuat Rudy sangat tegar dan persisten dalam setiap pertandingan. Saya teringat betul, dalam tekanan hebat melawan musuh2 bebuyutannya seperti Svend Pri atau Prakash Padukone, Rudy tetap tenang dan yakin. Mungkinkah itu yang mulai hilang dari diri kita?

Lantas, dalam “pertandingan” kehidupan kita sehari-hari entah itu dalam bisnis atau pekerjaan kita, sudah kah kita juga percaya apa yang dikatakan Rudy?

Friday, March 09, 2007

G r a t i s ! !

Nah, Anda pasti penasaran kan, apanya yang gratis? Pasti langsung scroll-down ke bawah apa ada link yang kasih free voucher, free-ebook, atau freeware? Bukan. Saya bukan sedang memberikan penawaran gratis produk atau jasa tertentu. Saya sedang duduk di salah satu café di Bandung, menikmati black coffee kesukaan saya dan nulis blog menggunakan koneksi internet wi-fi gratis. Betul-betul gratis. Tidak seperti di Jakarta yang kebanyakan mall dan cafe nya hanya menyediakan koneksi wi-fi yang harus bayar, hampir semua mall di Bandung sekarang memiliki fasilitas wi-fi gratis. Dan saya senang yang gratis. Tidak hanya saya, pasti semua orang senang dengan gratisan.

Saya jadi teringat salah satu strategi Long Tail nya Chirs Anderson bahwa setiap orang pasti suka dengan hal yang gratis. Jadi strategi memberikan gratisan bisa sangat diandalkan untuk memperpanjang long-tail Anda. Seperti ISP yang menyediakan wi-fi gratis yang sedang saya nikmati ini. Sebagian besar pendapatannya diperoleh dari customer rumahan dan corporate, namun masih mau “repot-repot” menyediakan wi-fi gratis di mall-mall. Akibat langsung yang saya rasakan adalah meningkatnya awareness saya terhadap keberadaan ISP tadi. Belum lagi kestabilan koneksi dan kecepatan pada wi-fi gratis nya akan membuat siapapun akan berpikir, kalau gratis nya saja kenceng gini, gimana kalau langganan di rumah. Betul-betul strategi yang baik, apalagi infrstruktur wi-fi sekarang sudah relative murah.

Salah satu penawaran gratis menarik lain yang pernah saya lihat adalah gratis Business Check-Up yang sering diberikan oleh ActionCoach pada seminar-seminarnya. Setiap pemilik usaha yang ingin maju pasti ingin di check-up kondisi bisnisnya. Apalagi oleh coach ternama. Gratis lagi.

Sebagai pemilik bisnis, meskipun kecil-kecilan, kita semua sebetulnya juga bisa menerapkan strategi gratisan ini. Tentu dengan berbagai pertimbangan, supaya strategi gratisan-nya dapat memperpanjang ekor, bukan malah merugikan diri sendiri. Dari sisi pemilik usaha, pada dasarnya produk gratisan nya sendiri dapat dialokasikan sebagai salah satu komponen biaya. Sehingga dari awal bisa dilakukan justifikasi apakah akan menguntungkan atau tidak. Tapi yang paling penting sebenarnya adalah tujuan apakah yang ingin dicapai melalui pemberian gratisan tadi?

Kita dapat menggunakan 5 area penting pada model “Business Chassis” nya Brad Sugars, untuk memetakan strategi gratisan kita: Peningkatan Lead Generation, Peningkatan Conversion Rate, Peningkatan Number of Transactions, Peningkatan Average Sale, dan Peningkatan Profit Margin.

Lead Generation.
Lead adalah calon pelanggan Anda. Siapapun yang datang kepada Anda atau tertarik pada produk atau layanan Anda. Anda harus meningkatkan Lead sebanyak-banyaknya. Strategi gratisan dapat Anda pergunakan untuk meningkatkan Lead.
- Cara paling sederhana adalah memberikan sesuatu yang gratis dan pada saat Anda memperkenalkan produk Anda. Ini yang paling sering dilakukan orang. Kelemahannya adalah, kadang orang suka dengan barang gratisan nya, tapi justru cepat melupakan produk yang Anda tawarkan.
- Cara yang sedikit advanced dan umum diterapkan dalam bisnis online adalah, Anda dapat memberikan sesuatu yang gratis, namun sebelumnya calon pelanggan harus mengisikan data pribadinya terlebih dahulu. Database calon pelanggan yang terkumpul dapat Anda manfaatkan dalam Lead Generation, misalnya dengan secara rutin mengirimkan newsletter, perkenalan produk dsb.

Conversion Rate.
Setelah calon pelanggan datang, maka tugas selanjutnya adalah membuat mereka menjadi pelanggan Anda, atau secara riil melakukan pembelian. Kalau Anda disiplin melakukan pencatatan berapa jumlah Lead dan berapa yang melakukan pembelian, maka Anda akan memiliki angka Conversion Rate. Ini juga dapat ditingkatkan melalui strategi gratisan.
- Misalnya gratis produk tertentu untuk pembelian sekarang juga. Gratis produk tertentu untuk pembelian pada tanggal tertentu, dsb. Yang inti nya mendorong Lead take decision melakukan pembelian sekarang.

Number of Transactions.
Pelanggan yang melakukan lima kali pembelian, tentu efeknya akan jauh berbeda dengan hanya satu kali pembelian. Disini disiplin pencatatan sekali lagi sangat penting. Anda harus memiliki data berapa jumlah transaksi yang dilakukan oleh pelanggan Anda. Sehingga Anda dapat memonitor berapa jumlah transaksi yang dilakukan pelanggan Anda. Hal ini juga dapat kita tingkatkan melalui strategi gratisan.
- Misalnya Potong rambut lima kali gratis satu kali. Beli tiga selimut gratis satu. dsb.

Average Value Sale.
Selain banyaknya pembelian, hal yang cukup penting adalah rata-rata nilai penjualan nya sendiri. Semakin tinggi rata-rata nilai penjualan tentu semakin baik. Strategi gratisan juga sangat efektif dalam hal ini.
- Gratis produk tertentu jika nilai pembelian mencapai angka tertentu. Misalnya gratis tas cantik untuk pembelian busana senilai 1 juta rupiah. dsb. Intinya adalah untuk mendorong atau memaksimalkan nilai belanja pelanggan.

Profit Margin.
Ini sedikit challenging, bagaimana mungkin meningkatkan profit margin dengan memberikan barang gratisan. Ternyata bisa saja.
- Misalnya naikkan harga jual produk Anda dan tambahkan barang gratisan sebagai bonus. Dengan memberikan gimmick, nilai produk yang lebih tinggi tidak akan jadi concern pelanggan.

Bagaimana menerapkan strategi gratisan di atas? Apakah satu demi satu atau bersamaan? Jawabannya tentu tergantung tujuan yang hendak kita capai. Dan ini terkait dengan hasil testing dan measurement yang kita lakukan sebelumnya. Jika dari hasil testing dan measurement kita identifikasikan bahwa lead generation yang perlu ditingkatkan, maka kita lakukan penerapan strategi gratisan untuk lead generation. Selanjutnya setelah diterapkan, dalam waktu tertentu sebaiknya dilakukan kembali testing & measurement untuk melihat improvement yang terjadi.

Jadi, setelah memahami strategi gratisan ini, Anda siap memberikan program gratisan untuk saya?

Wednesday, March 07, 2007

Marah

Akhirnya saya mengalami marah. Ya, ini termasuk peristiwa langka buat saya. Sudah berbulan-bulan saya tidak marah. Malah sejujurnya saya lupa kapan terakhir saya marah. Ada teman saya yang menyebut saya “sumbu panjang” karena pada situasi yang seharusnya saya marah, saya belum juga marah. Teman saya yang lain pernah mengatakan saya memiliki boiling point yang tinggi, meminjam salah satu judul acara di MTV.

Di kantor, saya tidak pernah marah, paling jauh saya memberikan teguran dengan nada keras, tapi bukan marah dengan nada tinggi dan emosional. Di rumah, saya jarang marah sama istri. Terakhir marahan mungkin sudah lebih dr setahun yg lalu, persisnya saya lupa. Saya juga hampir tdk pernah memarahi anak. Waktu anak saya yg pertama lahir, kakak tertua saya menasehati saya: Kalau nanti mau memarahi anak, tolong lihat baik2 wajah anak kita sambil mengingat siapa yg udah ngasih anak itu, niscaya kemarahan kita hilang. Nasehat itu ampuh hingga sekarang. Malah saya pernah mau marah ke anak saya, setelah saya menatap wajah anak saya untuk mengingat2 penciptanya, saya jadi tertawa sendiri, soalnya ekspresi anak saya lucu banget. Seolah Tuhan waktu itu sedang ngeledek saya “marah ni yee ..” lewat ekspresi anak saya.

Ayah saya malah tidak pernah marah di depan saya. Seumur hidup, saya belum pernah dimarahi sama Ayah saya. Dulu saya suka iri sama teman2 saya yang sering dimarahi Ayahnya. Teman2 Ayah saya di kantor pun sampai bingung dan bertanya pada Ibu saya:”seperti apa Bapak kalau marah?”. Karena bertahun2 bekerja bersama mereka tidak pernah melihat Ayah marah. Bahkan atasan Ayah waktu itu sengaja memancing Ayah supaya marah, dengan kata-kata yg menyakitkan. Bukan nya marah, Ayah ngeloyor meninggalkan atasan nya begitu saja. Mungkin Ayah saya waktu itu juga marah, tapi beliau memilih pergi dibandingkan teriak2an yg tidak berguna. Selain jarang marah, Ayah saya juga jarang sakit. Pasti ada korelasi positif antara marah dan sakit.

Ada teman saya yang menasehati saya, kalau marah itu tidak baik ditahan-tahan. Lebih sehat kalau sekali-kali kemarahan dilepaskan. Padahal saya juga tidak bermaksud menahan marah. Memang marahnya saja yang tidak muncul-muncul. Kalaupun muncul modelnya beda dengan kebanyakan orang marah. Ekspresi marah saya biasanya diam dan berbicara ketus dan tegas.

Tapi kemarin saya akhirnya marah “beneran”, saya membentak orang dan memukulkan tangan ke meja (sakit juga sih). Ini prestasi buat saya. Belum pernah saya semarah itu. Penyebabnya juga sepele, sebelumnya saya juga sudah sering mengalami tapi tidak pernah marah. Kemarin, tiba2 saja ada dorongan untuk marah. Dan saya biarkan keluar. Pada saat marah saya rasakan kemarahan itu, ooo begini to rasanya. Betul2 tidak nyaman dan gak perlu. Memang cuma beberapa detik, tapi kata-kata yang tidak perlu terlanjur keluar, dan rasa sakit di tangan yang gak perlu (saya baru ingat, meja nya dari marmer). Saya menyesal.

Umumnya orang setelah marah baru menyesal. Sore nya saya di telpon atasan orang yang saya marahi tadi untuk mohon maaf atas kekecewaan saya. Tapi saya malah merasa sangat menyesal dan meminta maaf juga. Betul saya menyesal. Marah saya tidak sebanding dengan kesalahan yang telah dilakukan. Kata-kata keras yang keluar ibarat paku yang terlanjur saya tancapkan di hati orang itu, dan setelah dicabut tetap meninggalkan luka. Untunglah kemarahan saya cepat sekali berlalu. Saya paham betul emosi dan pikiran negative dapat merusak hari saya, sesuai prinsip law of attraction. Jadi cepat2 saya niatkan untuk kembali tenang, damai, dan bahagia. Saya ucapkan “swicthword“ saya untuk kedamaian: BE. Langsung damai datang, dan marah hilang.

Apapun profesi Anda, pengusaha atau karyawan, untuk bisa selalu dalam kondisi damai dan tenang itu penting. Pikiran yang kacau akibat kemarahan menjadi tidak jernih. Deepak Chopra mengibaratkan ini ibarat samudra yang sedang dilanda badai. Ombaknya setinggi bukit. Jika Anda lempar batu sebesar mobil juga tidak akan terlihat dampaknya. Sebaliknya, pikiran yang tenang ibarat danau yang sangat tenang. Anda lempar kerikil pun gelombangnya akan terlihat merambat keseluruh danau. Jika Anda sedang menanam benih sukses dalam pikiran, pastikan sedang dalam keadaan tenang seperti danau yang tenang. Kalau tidak ya percuma, seperti melempar batu ke samudra ditengah badai tadi. Makanya saya segera evaluasi kenapa kemarahan saya bisa keluar.

Saya baca2 literatur, ternyata penyebab marah adalah: “Anger comes out as a response to feelings of dissatisfaction, frustration and unhappiness, which usually arise when we dislike a person, an object or a situation.” OK, jadi marah itu adalah suatu respon, sumbernya perasaan kecewa, frustasi atau ketidakbahagiaan. Kalau situasi saya kemarin, yang pasti saya tidak sedang frustasi, juga sedang bahagia, tapi masih bisa marah juga. Jadi mungkin sumbernya lebih pada kekecewaan, karena service yang saya terima tidak sesuai harapan saya.

Karena marah itu respon, artinya bisa kita control. Karena respon itu terserah kita. Pada situasi yang sama, kita bisa memilih untuk marah atau memilih untuk tenang. Berikut beberapa tips yang bisa kita lakukan untuk mengontrol kemarahan:

1. Rasakan.
- Kemarin saya merasakan ada moment sesaat sebelum marah. Ada baiknya kita melatih untuk menyadari moment marah akan datang ini , sehingga bisa langsung take control. Karena kalau kadung meledak akan susah dikendalikan.
2. Hentikan.
- Stop apa yang sedang kita lakukan saat itu. Kalau pemicu kemarahan ada di depan Anda, ya tinggalkan saja. Kalau Anda marah ketika sedang berdebat, segera hentikan debatnya. Jangan ucapkan lagi kata2, tinggalkan meeting Anda kalau perlu.
3. Alihkan Perhatian.
- Alihkan perhatian pikiran kita kepada sesuatu yang lain. Misalnya dengan menarik napas dalam2 dan hitung sampai sepuluh. Kalau Anda sedang berdiri sebaiknya duduk, ini dapat mengurangi kemarahan. Kalau Anda sedang duduk, minum air. Jika tidak ada air minum, ya minimal pejamkan mata sambil bernafas dalam-dalam dan teratur. Atau kalau buat muslim saya sarankan sambil bernafas dalam2 ber-istighfar. Mengingat2 Tuhan terbukti efektif mencegah marah kita meledak ke luar. Kalau masih mau meledak juga ambil wudhu dan shalat, atau lakukan meditasi kalau bisa nya meditasi. Begitu kena air wudhu juga biasanya marahnya hilang.
- Salah satu cara untuk mengalihkan perhatian: Ngaca. Waktu saya kecil kalau sedang marah, sama ibu saya disuruh ngaca. Memang ternyata jelek bener muka kita kalau marah. Makanya kebanyakan orang yg marah tidak mau ngaca. Jadi coba saja ngaca, mungkin kita akan malu sendiri melihat muka kita yg berlipat.
4. Sembuhkan.
- Setelah marah reda. Segera sembuhkan sakit di hati ketika sedang marah. Jika Anda belum punya, beli saja buku “Piece of Mind“ nya Sandy MacGregor. Disitu Anda dapat belajar cara membangun tempat kedamaian Anda, dan mengakses kembali secara cepat. Anda juga dapat menciptakan dan menggunakan jangkar emosi. Ini perlu latihan berulang-ulang, sebelum jadi otomatis bagi Anda.
- Atau cara paling sederhana adalah dengan mengingat-ingat saat2 paling bahagia Anda. Intinya adalah kembalikan rasa damai dan bahagia di hati Anda, karena marah akan pergi begitu damai dan bahagia datang.
- Anda juga harus memaafkan orang-orang yg memicu kemarahan Anda. Kalau belum bisa mengucapkan maaf secara langsung, maafkan dalam hati. Kekuatan memaafkan ini dapat menyembuhkan rasa marah.
5. Biarkan (Let it Go).
- Ini prinsip detachment. Kita marah karena situasi tidak sesuai keinginan kita. Padahal kita kadang tidak tahu maksud Tuhan yg sudah pasti baik. Maka biarkan saja, percayakan pada Tuhan. Makin kita attach pada apa yg kita inginkan, makin kita marah. Kalau kata Ayah saya dulu:”Yo wis ben lah. Bismillah kersaning Allah”.

Semoga bermanfaat.(FR)

Tuesday, March 06, 2007

Long Tail vs 80/20

Chris Anderson mengatakan bahwa dengan semakin berkembangnya Long Tail business, aturan 80/20 akan semakin ditinggalkan. Namun untuk saat ini, saya lihat baik aturan 80/20 ataupun Long Tail dua2 nya berlaku sesuai konteks nya. Bukan sesuatu yang hitam-putih, dimana jika yg satu kita pegang, yang lain kita tinggalkan. Jika market dimana kita berkiprah yang ada adalah big head dan short tail, dipastikan aturan 80/20 sangat kuat berlaku. Yang ingin disampaikan oleh Anderson adalah fakta bahwa kini sisi ekor ternyata semakin panjang karena 3 kekuatan yang telah saya ungkapkan pada review sebelumnya. Jika selama ini kita mengabaikan sisi ekor, Anderson mengingatkan semua orang bahwa model bisnis ekonomi baru justru harus memperhatikan ekor yg semakin panjang.

Beberapa rekan menanyakan contoh bisnis apakah yang berjalan sesuai konsep ini? Setelah membaca buku ini, saya baru sadar bahwa ternyata Long Tail ada dimana2, hanya mungkin kita tidak menyadarinya:

- Bisnis SDGI (http://www.sdgisolutions.com/) yang saya jalankan sendiri ternyata menggarap sisi Long Tail. Solusi yang kami tawarkan, yaitu sistem untuk IT Asset Management (ITAM) dan IT Service Management (ITSM) oleh perusahaan2 IT yang jauh lebih besar bukanlah prioritas yang masuk dalam aturan 80/20 mereka. Kontrak2 senilai puluhan ribu hingga ratusan ribu dollar buat mereka masuk ke sisi “ekor”, dibanding kontrak2 jutaan dollar yang lebih mereka prioritaskan. Akibatnya alokasi resources untuk menggarap sisi long tail ini juga sangat minimal. Ini peluang bagi kami, yang fokus mengerjakan solusi ITSM/ITAM. Jika menyangkut solusi ITSM/ITAM, kami menjadi lebih kompetitif, menikmati margin yang lebih baik, dan memiliki kualitas delivery yang lebih baik. Kami tidak seterkenal perusahaan2 IT yang besar, namun kalau sudah menyangkut ITSM/ITAM perusahaan2 sekelas Telkom, FIF, Yamaha, dsb mencari kami. Dan permintaan untuk solusi2 tadi terus tumbuh, bahkan ruang gerak kami tidak lagi dibatasi wilayah geografis. Kami juga bisa melakukan hal yang sama untuk perusahaan2 di luar Indonesia. Inilah ciri Long Tail.
- Teman2 anggota komunitas Tangandiatas yang menjual produk2 seperti selimut, busana muslim, baju renang muslim, pernak-pernik, dst. secara online, pada dasarnya juga sedang merambah sisi Long Tail. Berapa persenkah penjualan baju muslim atau pernik-pernik pada toko2 besar seperti Sogo, Metro, dsb. Dipastikan ada pada sisi ujung dari ekor kurva penjualan mereka. Bagaimana dengan selimut? Sama saja? Baju renang muslim? Wah mungkin malah gak jual. Namun di tangan teman2 TDA produk ini semua dapat dibeli kapan saja dan darimana saja. Untuk menjual selimut atau sprei mungkin dulu Anda harus punya kios di Tanah Abang, tapi kini seorang Work at Home Mom dapat tetap jualan apapun, kapanpun, sambil mengasuh anak dirumah. Ini juga ciri Long Tail.
- Perbankan adalah salah satu industri yang sangat kaku menerapkan 80/20. Pengalaman saya waktu masih kerja di bank, dengan mudah kredit puluhan milyar kita berikan kepada para debitur “besar“. Alasan kami waktu itu, dengan effort yang sama kita mendapat pendapatan bunga dan fee yang jauh lebih besar dibanding mengurusi kredit untuk UKM. Risiko nya juga lebih terkendali karena mereka adalah nama-nama besar. Ini adalah salah satu contoh diskriminasi 80/20. Krisis perbankan membuktikan kesalahan asumsi tadi. UKM justru yang terbukti survive dalam krisis. Bank2 yang kemudian menengok kepada Kredit UKM dan Mikro adalah penganut bisnis Long Tail. Dan kedepan saya yakin jauh lebih prospektif. Memang cost untuk mengelola kredit kecil lebih besar. Namun dengan teknologi, sangat mungkin bank saat ini menerapkan mekanisme kontrol risiko terhadap UKM sebagaimana terhadap perusahaan konglomerat.

Menurut saya, ini tidak berarti kita mengabaikan aturan 80/20. Aturan 80/20 juga bisa berlaku dimana saja. Bisa jadi 80/20 berlaku dalam “ekor“ yg sedang kita garap. Bahkan menurut Anderson, dalam “ekor“ yang sedang kita garap juga mungkin masih ada “ekor“ lagi. Poin-nya adalah, jika selama ini kita lebih senang dengan kepala dan mengabaikan ekor, ada baiknya kita lihat sisi ekor, apalagi kalo ekornya puaaaanjaaaang. Pasti lebih sedap dari kepala nya.(FR)

Sunday, March 04, 2007

The Long Tail: Berakhirnya Aturan 80/20?

Dunia kita selama ini telah dikendalikan oleh kultur “Hit“. Anda pasti akrab dengan istilah Top-10, Top-20 atau Top-40, semua memiliki makna yang sama: The Law of Vital View . Prioritaskan yang sedikit namun vital. Semua pebisnis faham benar prinsip ini. Dari 100 item barang yang terjual, mungkin hanya 20 item yang menyumbang 80% pemasukan. Jadi prioritaskan yang top-20 tersebut. Dari 100 nasabah bank, mungkin hanya 20 orang atau bahkan kurang, yang menyumbang 80% simpanan. Jadi prioritaskan yang 20 orang tadi. Adalah ilmuwan berkebangsaan Italia, Vilfredo Pareto yang pada akhir abad ke 19 sampai pada kesimpulan bahwa 80 persen pendapatan masyarakat ternyata dikuasai oleh hanya 20 persen populasi. Prinsip 80/20 yang kemudian sering disebut sebagai prinsip Pareto tersebut kemudian ternyata diakui berlaku untuk hampir setiap bidang dengan berbagai variasi nya.

Jika digambarkan dalam bentuk kurva, maka kurva distribusi tadi akan membentuk lengkungan dari sisi kiri yang tebal (kepala/head), yang ke arah kanan makin menipis (ekor/tail). Secara tradisional, kultur “Hit” mengajarkan kepada kita bahwa bagian “kepala” yang tebal tadi adalah yang vital, disinilah berkumpulnya hit, berkumpulnya 20% yang harus menjadi pusat perhatian. Sementara bagian “ekor”, karena hanya menyumbang sedikit, bukanlah prioritas. Jika Anda selama ini memiliki cara pandang seperti itu, maka bersiap-siaplah untuk menata ulang bisnis Anda. Melalui buku “The Long Tail: Bagaimana Pilihan Tak Terbatas Menciptakan Permintaan Tak Terbatas”, Chris Anderson secara cerdas telah mengungkap kecenderungan baru bahwa ekonomi kita kedepan akan lebih banyak ditentukan oleh bagian “ekor“ yang ternyata semakin panjang: The Long Tail.

Ekor Yang Semakin Panjang

Melalui penelitian yang mendalam dengan menggunakan data-data dari angka penjualan track musik secara online, Anderson menemukan sebuah kenyataan yang menakjubkan. Track-track musik yang menjadi “hit” memang menempati posisi teratas permintaan, namun apakah track-track yang lain penjualan-nya kosong sama sekali? Ternyata tidak! Tetap saja terjadi penjualan untuk hampir semua item. Kios musik online seperti Rhapsody misalnya, menyediakan setidaknya 1,5 juta track yang bisa dibeli secara online. Dan penjualan terjadi tidak hanya untuk 100 – 200 track paling popular saja. Penelitian Anderson memperlihatkan bahwa penjualan terjadi dari track peringkat 1 hingga 900,000. Bahkan lebih dari itu, karena hampir setiap Rhapsody menambahkan track, terjadi penjualan. Ada tiga kekuatan utama yang menurut Anderson telah membuat ekor menjadi semakin panjang:

Demokratisasi Produksi. Selama ini, alat-alat produksi hanya dikuasai oleh pemilik modal besar. Hanya pemilik studio-studio besar yang dapat memproduksi karya-karya musik atau film. Hanya percetakan besar yang dapat menerbitkan buku-buku yang selama ini kita baca. Dan seterusnya. Namun, alat-alat produksi tadi semakin lama semakin terdemokratisasi. Perangkat video editing yang canggih dengan mudah dapat diperoleh dan digunakan oleh siapapun yang memiliki komputer di rumahnya. Demikian juga kamera video, alat rekaman, atau studio musik rumahan yang semakin lama semakin canggih namun semakin murah. Buku bahkan tidak selalu perlu dicetak, namun bisa diproduksi dalam format elektronis. Revolusi “open-source“ pada industri software membuktikan bahwa kolaborasi amatir – professional dapat menghasilkan produk yang handal. Banyak lagi contoh serupa disekitar kita. Semakin banyak produsen-produsen baru yang kecil dalam skala namun siap menyediakan produk layaknya perusahaan besar.

Demokratisasi Distribusi. Memajang sebuah produk pada rak memerlukan biaya yang jumlahnya harus masuk akal dibanding nilai penjualannya. Produk yang tidak terjual dan masih ada di rak adalah biaya. Hal ini yang kemudian dirombak oleh toko online seperti Amazone. Setiap item yang ada di Amazone tidak memerlukan rak fisik yang memerlukan biaya tertentu. Bahkan lebih jauh lagi Amazone mengembangkan konsep “print on demand”, dimana buku baru dicetak setelah dipesan. Artinya, sebelum ada yang memesan, buku yang dipajang di “rak” Amazone hanyalah sekumpulan bit informasi yang ada di server Amazone. Jika rak toko fisik dibatasi oleh wilayah, maka rak toko online dapat diakses dari belahan bumi manapun. Jika rak toko fisik dibatasi oleh waktu, Anda dapat mengakses toko online kapan saja. Dulu, hanya perusahaan ekspor-impor besar yang bisa menjual produknya ke pasar luar negeri. Kini ribuan pemilik toko online yang mengelola usahanya dari rumah melakukan hal yang sama. Metoda distribusi baru yang ikut membentuk ekor yang lebih panjang.

Menghubungkan Supply & Demand. Dahulu konsumen hanya dapat mengandalkan informasi dari iklan, daftar 10 besar, rekomendasi pakar dsb. Internet telah menciptakan kultur baru, bahwa konsumen berkuasa. Melalui ribuan blog, komentar pengguna, rekomendasi dari toko-toko online dsb. dengan mudah kini konsumen dapat mendengar sendiri komentar dari sesama pengguna ataupun review yang lebih independen. Inilah “wisdom of the crowds“ yang ikut mendorong terbentuknya ekor panjang.

Ekonomi Long Tail

Banyak perusahaan “aggregator Long Tail” yang telah membuktikan kesuksesan dalam menggali potensi di sisi ekor yang panjang. Jasa iklan Google Adwords/Adsense adalah bukti kekuatan sisi ekor panjang. Secara tradisional jasa periklanan ditawarkan kepada perusahaan besar dengan nilai kontrak ratusan ribu bahkan jutaan dollar. Adwords menyediakan jasa iklan kelas mikro. Anda dapat pasang iklan dengan bujet Rp. 50 ribu sekalipun. Namun dengan potensi “Long Tail” yang nyaris tanpa batas. Konsultan bisnis umumnya menggarap perusahaan kelas kakap yang sanggup membayar jutaan dollar. Namun, Brad Sugars dengan Action Business Coach nya malah menggarap sisi “Long Tail”dengan menjual jasa Coach kepada pengusaha-pengusaha dalam tahap tinggal landas yang jumlah nya di seluruh dunia nyaris tanpa batas. Long Tail betul-betul tidak dapat kita abaikan.

Kultur “hit” pada dasarnya berangkat dari sudut pandang ekonomi yang berbasis kelangkaan (economics of scarcity). Permintaan adalah tidak terbatas, sementara penawaran adalah terbatas. Fenomena long-tail justru berbicara sebaliknya. Tersedia pilihan tak terbatas yang menciptakan permintaan tak terbatas. Ini adalah ekonomi kelimpahan (economics of abundance). Maka untuk menjadi salah satu aggregator Long Tail maka rahasia utamanya adalah menyajikan ketersediaan yang nyaris tanpa batas, disertai bantuan untuk memilih. Berikut adalah beberapa kaidah untuk membangun usaha Anda menjadi aggregator Long Tail:

>> Menggunakan virtual inventory. Produk yang Anda tampilkan pada inventori, bisa saja lokasi fisiknya ada pada gudang supplier Anda.
>> Menggunakan “crowdsourcing“. Terbukti konsumen dengan senang hati membantu. Biarkan mereka ikut menentukan bagaimana produk Anda harus dikembangkan misalnya.
>> Menggunakan variasi metoda distribusi, produk dan harga. Ada konsumen yang suka online, ada yang ingin melihat secara fisik. Satu produk juga dapat dinikmati dengan berbagai cara. Orang berbeda bersedia membayar dengan harga berbeda untuk satu alasan. Ini adalah beberapa ciri permintaan tanpa batas pada ekonomics of abundance yang dapat dimanfaatkan.
>> Gunakan informasi. Sajikan informasi, review produk, rekomendasi, resensi, peringkat, dsb. Berikan semua informasi yang akan membantu konsumen dalam memilih.
>> Gunakan “dan” bukan “atau”. Prinsip kelimpahan adalah menawarkan keseluruhan bukan pilihan-pilihan terbatas. Keputusan lebih mudah dibuat jika Anda tawarkan “dan“.
>> Percayakan pada pasar. Lempar saja produk Anda ke pasar dan lihat bagaimana reaksinya. Format digital memungkinkan proses ini berbiaya rendah.
>> Keampuhan gratisan. Orang suka dengan free. Berikan sesuatu yang dapat digunakan secara gratis, misalnya membership gratis (tapi selain itu bayar), basic service gratis (premium service nya bayar), dan masih banyak lagi seperti ebook, knowledge update, dsb.

Masa depan bisnis ada pada sisi ekor yang panjang itu. Kini Anda dapat mulai mengidentifikasikan potensi bagian ekor panjang pada tempat Anda berkiprah, sambil mulai menata bisnis Anda untuk menjadi aggregator Long Tail yang handal. (FR)

Thursday, March 01, 2007

Menjadi Revolusioner

Guy Kawasaki (lahir di Honolulu, 1954) adalah mantan eksekutif Apple Computer. Di tangan Guy sebagai Chief Evangelist, pada waktu itu Apple terkenal dengan "evangelism marketing". Kalau Anda mengenal pengguna PC atau laptop Macintosh, Anda bisa perhatikan betapa "fanatik"nya pemilik Mac tadi. Sangat sulit "menggoyahkan iman" mereka untuk berganti ke produk lain, dengan sejuta alasan yang mereka akan segera kemukakan. Alih-alih mempertimbangkan berganti produk, mereka malah akan berkhotbah tentang sejuta keunggulan Apple Mac dibanding PC lain. Inilah "evangelism". Bukannya sekedar menjual, Apple telah menciptakan para evangelist atas produk nya.

Dengan track-record nya yang mampu mencetak jutaan evangelist Apple PC, maka buku Guy Kawasaki yang berjudul "Rules for Revolutionaries", yg sudah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia oleh Buana Ilmu Populer, segera mempesona saya. Ini buku wajib yang harus dibaca oleh siapa saja yang ingin menciptakan produk dan jasa yang revolusioner. Atau dalam penuturan Guy Kawasaki yang cerdas, kocak dan kadang kasar dilukiskan sebagai "manifesto baru kaum kapitalis": Mencipta Seperti Dewa, Memerintah Seperti Raja, Bekerja Seperti Budak. Bagaimana Guy Kawasaki menjelaskannya?

Mencipta Seperti Dewa (Create Like a God)

Untuk dapat mencipta seperti dewa , pertama Anda harus dapat berpikir berbeda dari orang kebanyakan. Dalam istilah Guy, kita harus dapat membuang "berhala-berhala" lama kita. Ambil contoh Kereta Api yang selama ini kita kenal adalah KA dengan 1 lokomotif dan gerbong2 yang mengikut dibelakangnya. Kalau mau lebih cepat, maka mesin lokomotifnya yang diperbesar dan diperbesar lagi. Namun KA supercepat ternyata dimungkinkan setelah "berhala" mesin di lokomotif tadi dibuang, dan dibuat inovasi dengan meletakkan mesin pada setiap gerbong. Berpikir beda juga dapat dilakukan dengan cara memisahkan bentuk dan fungsi. Ini yang terjadi melalui fenomena toko online. Sebuah toko fungsi nya adalah menjual. Maka apakah dia hadir atau tidak secara fisik adalah sekedar bentuk. Toko-toko online menolak tunduk pada bentuk, mereka kedepankan fungsi nya, yaitu berinteraksi dan melayani penjualan kepada pelanggan.

Tentu saja sebagai "dewa" Anda tidak cukup hanya berpikir beda. Bisa-bisa produk Anda sekedar aneh. Maka Anda juga harus menciptakan produk hebat yang memenuhi kriteria yang disingkat oleh Guy sebagai: DICEE. Deep (mendalam) – Indulging (mengasyikkan) – Complete (lengkap) – Elegant (elegan) – dan Evocative (membangkitkan kenangan). Produk yang hebat itu mendalam, punya fitur yang tidak serba tanggung, produk yang serba tanggung umumnya akan gagal di pasar. Produk yang hebat juga Indulging (mengasyikkan) menawarkan hal-hal dan experience baru yang membuat pelanggan merasa asyik untuk mengexplore setiap hal yang ditawarkan. Dan selain elegan, faktor evocative yang melibatkan emosi dan kenangan akan membuat pelanggan menjadi fanatik terhadap produk Anda.

Setelah itu Anda juga harus pastikan bahwa produk Anda terus diperbaharui. Guy menggambarkan bahwa semua orang tahu produk Apple sesungguhnya jauh lebih baik dari produk Microsoft, namun Microsoft berani merelease lebih dahulu produk mereka yang "tidak sempurna" tadi dan terus memperbaharuinya.

Memerintah Seperti Raja (Command Like a King)

Memiliki produk hebat (menurut pandangan Anda), tidak serta merta akan membuat pelanggan baru menubruk produk Anda. Sesungguhnya ada jurang yang sangat lebar antara calon pelanggan Anda dengan produk Anda. Membawa mereka menyeberang dengan selamat adalah tugas berikutnya. Dan penghalang antara produk Anda dan para calon pelanggan harus diruntuhkan, misalnya produk Anda meskipun hebat, tapi ternyata memiliki kompleksitas yang membuat calon pelanggan ragu. Maka hal ini harus disiasati. Guy sendiri misalnya, pernah memimpin perusahaan pembuat software database relational yang sangat hebat, namun gagal karena terlalu sulit digunakan pengguna baru.

Langkah paling penting dalam "Memerintah Seperti Raja" ini adalah menciptakan para evangelis bukan sekedar penjualan. Para evangelis bukan sekedar menggunakan produk Anda, namun juga fanatik dan akan terus menerus menceritakan kehebatan produk Anda kepada siapapun. Ada teman saya yang sangat fanatik dengan merk HP tertentu, sehingga tiap ada orang akan berganti HP dia akan nyerocos tentang berbagai kelebihan merk tersebut. Dibayar pun tidak, teman tadi sudah jadi evangelis produk HP yang ia gunakan. Ada beberapa tahapan yang dipaparkan Guy mengenai evangelisme, diantaranya adalah untuk selalu melibatkan faktor emosi disamping fakta sebenarnya tentang produk Anda. Saya lihat ini memang mulai kita gunakan. Misalnya, iklan produk yang menjanjikan "berat badan dijamin turun 3 Kg" sudah memberikan fakta, tapi "dijamin berat badan Anda turun 3 Kg dan makin disayang suami"
memberikan fakta dan emosi.

Selain itu Guy juga mengingatkan kita untuk tidak terjebak dalam "magnet kematian", yaitu sekumpulan asumsi yang dipercayai banyak orang namun sesungguhnya dapat menjebak. Salah satu contoh adalah magnet kematian "Produk terbaik unggul". Ya, tidak selamanya produk yg terbaik unggul, misalnya jika produk lawan nya sudah memadai bagi pelanggan, dipromosikan dengan baik, dan terus diperbaharui. Jika memang "produk terbaik unggul" berlaku, maka Bill Gates saat ini sudah pindah kerja ke Starbuck, sibuk membuat espresso dan tinggal di apartemen sewaan … demikian kata Guy.

Bekerja Seperti Budak (Work Like a Slave)

Guy mengajarkan bahwa seorang revolusioner akan "makan seperti burung, buang air seperti gajah". Betul2 perumpamaan yang aneh, dan Anda akan sering menemui perumpamaan yg aneh2 sepanjang buku ini. Maksudnya adalah, seorang revolusioner akan terus menerus mencari dan menyerap informasi tentang industri dan pelanggan dari manapun (seperti burung), dan menyebarkan dengan cepat dan dalam jumlah besar pengetahuan yang sudah ia dapatkan (seperti gajah). Informasi dan pengetahuan adalah kunci bagi revolusioner. Maka menyerap dari berbagai sumber dan menyebarkan memang suatu konsekuensi logis.

Guy menyarankan bahwa meskipun kita sudah sangat dibantu dengan teknologi, namun kita harus tetap "berpikir digital, dan bertindak analog". Artinya hal-hal yang sifatnya hubungan antar-pribadi harus tetap terjaga. Ini yang kadang terlupakan oleh para pengusaha yang memanfaatkan internet untuk berinteraksi dengan pelanggan. Guy memberikan contoh bagaimana industri hotel menerapkan ini, meskipun umumnya mereka telah menggunakan internet untuk memperluas interaksi dengan pelanggan, namun hal-hal yang sifatnya personal tetap terjaga.

Selain itu, Guy juga mengingatkan bahwa kita jangan pernah meminta pelanggan melakukan hal yang kita sendiri tidak mau lakukan. Pernahkah Anda mencoba menghubungi nomer telpon contact center penyedia produk atau jasa tertentu? Misalnya bank atau operator seluler. Anda akan diterima oleh mesin IVR (interactive voice response) dan dipandu untuk menekan angka tertentu. Kadang demikian bertele-tele nya panduan dari IVR, sehingga kita tidak sabar untuk menunggu kalimat "tekan 9 untuk berbicara dengan petugas kami". Dan ketika kita tekan 9, jawaban nya adalah "maaf seluruh petugas kami sedang sibuk …" Yah!. Jadi, jika Anda sendiri tidak mau mengalami hal tersebut, jangan buat pelanggan Anda mengalami hal yang sama.

Menarik mengikuti alur berpikir Guy Kawasaki yang "revolusioner" dalam buku ini. Guy Kawasaki sendiri sudah lama keluar dari Apple. Mungkin karena sifat revolusionernya, konon sekarang bahkan dia berhenti menjadi pengguna Mac dan beralih ke Linux. Sekarang Guy memilih menjadi seorang venture-capitalist melalui perusahaannya Garage.com yang menyediakan modal untuk perusahaan hi-tech pemula. Rupanya Guy juga sepakat bahwa "Tangan di Atas" lebih baik dari "Tangan di Bawah",

Blog Guy Kawasaki yang berjudul "How to Change the World" dapat diakses di http://blog.guykawasaki.com/

Barangkali ada diantara Anda yang sama revolusionernya seperti Guy Kawasaki?

Tuesday, February 27, 2007

Bagaimana Memecahkan Mental Block

Law of attraction bekerja tidak hanya untuk hal-hal financial. Kadang-kadang ide atau pengetahuan datang kepada kita pada saat kita memerlukan. Ini contoh aktualnya:
Pada waktu diskusi film the Secret hari Minggu 25 Feb 2007 lalu, ada pertanyaan dari salah satu peserta yaitu Pak Didin Razani tentang bagaimana tips untuk menghancurkan “blocking mental” yang mungkin masih ada pada diri kita. Pada waktu itu beberapa peserta diantaranya Pak Zaki, Pak Roni selaku moderator, dan saya sendiri mencoba merangkai jawaban atas pertanyaan tadi. Namun saya terus terang belum cukup puas dengan jawaban-jawaban yang sempat muncul. Hingga dalam perjalanan pulang saya masih sempat berfikir, apa ya kira-kira jawaban yang tepat atas pertanyaan pak Didin tadi?

Senin sore saya mendapat SMS undangan untuk mengikuti Seminar Sehari tentang Entrepreneurship yang dipandu oleh owner franchise Leha-Leha dan C’lup-C’lup Pak Budi Utoyo yang dilaksanakan hari Selasa 27 Feb 2007. Entah kenapa saya merasa harus datang. Dan pagi hari nya saya pun segera berangkat ke Jakarta untuk mengikuti seminar Pak Budi. Seminarnya cukup asyik dan seru. Tapi yang paling membuat saya terkesan dan setengah tidak percaya, salah satu topik yang dibahas Pak Budi adalah: Bagaimana Memecahkan Blocking Mental! Nah ini kan pertanyaan Pak Didin yang masih menggantung di otak saya dari kemarin.

Mungkin jawaban nya sebenarnya kita semua sudah tahu, tapi Pak Budi merangkai secara sederhana dan mudah diikuti. Berikut rangkuman jawabannya, saya tuturkan kembali dalam bahasa saya, (contoh2 ilustrasi juga dari saya supaya mudah dimengerti):

Tips untuk menghancurkan Mental Block:

1. Otak kita apa kata mulut kita. Blocking mental yang masih sering muncul di otak kita, sebenarnya dapat kita kalahkan jika kita sering mengucapkan kata-kata yang positif. Karena otak kita apa kata mulut kita. Misalnya blocking mental: “ah aku mudah sakit”, “ah aku tidak bisa”, dsb. dapat kita kalahkan dengan sering mengucapakan kalimat sebaliknya seperti: “aku sehat!”, “aku bisa!” dst. Begitu mulut kita mengucapkan kata “tidak bisa” otak kita langsung berhenti memproses tindakan yang perlu dilakukan selanjutnya. Namun bila kita mengucapkan “aku bisa” maka kreatifitas otak akan mulai bekerja. Kita juga sering secara tidak sadar mengucapkan kata-kata negative yang pada akhirnya merugikan seperti “aku capek”, “aku kesal”, dsb. padahal ucapan-ucapan tadi akan memprogram otak kita.

2. Incantation. Ini lebih advanced dari afirmasi. Dapat menggunakan: I-V-V-M (Idealisasi – Visualisasi – Verbalisasi – Materialisasi)(1) Lakukan Idealisasi, yaitu menentukan kondisi ideal yang hendak kita capai. Katakan menjadi pengusaha yang memiliki kios pakaian anak dengan omzet 50 juta sebulan. (2) Kemudian visualisasikan kondisi ideal tadi secara jelas, imajinasikan seperti apa kios nya, dimana tempatnya, apa saja itemnya, bagaimana pembeli nya, dst. (3) Verbalisasi. Ucapkan, atau tuliskan dan share kepada kenalan, relasi atau siapapun kontak kita, tentang idealisasi kita tadi. (4) Materialisasi. Pada waktu nya tiba kita harus siap melakukan tindakan2 untuk mewujudkan idealisasi tadi. Misalnya tiba2 ada yang menawarkan kios, ya take action mengambil kios.

3. Self-Hypnosis. Ini bukan stage hypnosis ala Mas Romi Rafael. Tapi langkah2 sederhana untuk mempengaruhi subconscious mind kita. Caranya: (1) Tuliskan atau sediakan gambaran apa yang ingin kita capai, misalnya: memiliki kios baju anak tadi, target omzet, dsb.. (2) Setiap hari sebelum tidur siapkan catatan dan pandangi (kontemplasikan) gambaran tadi. (3) Dengarkan negative self talk yang muncul. (4) Catat semua negative self talk yang muncul, misalnya: - tidak punya modal, - tidak punya lokasi, - tidak bisa dagang, dst. (5) Buat counter statement dalam catatan negative self talk tadi. Misalnya: - tidak punya modal (bisa pinjam mertua), - tidak punya lokasi (pake garasi saja), - tidak bisa dagang (rekrut orang yg bisa dagang), dst. Sampai habis. Ulang kembali proses ini setiap hari hingga blocking terkikis habis.Untuk tiap orang perlu waktu yang berbeda-beda untuk mengikis Mental Block tadi.

Selamat mencoba.

Monday, February 26, 2007

Handphone dan Email: Kebiasaan Para Pemenang

Ini catatan saya tentang penggunaan HP dan Email. Dewasa ini dalam berbisnis kita telah banyak sekali dibantu dengandua sarana komunikasi modern tadi. Namun sepanjang karir saya sebagai profesional maupun pebisnis, saya mengamati tidak semua orang telah menggunakan alat2 bantu komunikasi tersebut dengan baik. Bahkan terkadang bisnis atau karirnya malah terganggu karena ybs secara tidak sadar telah menggunakan sarana komunikasi yang dimilikinya secara tidak benar. Di sisi yang lain saya juga mengamati bahwa “Para Pemenang“ , yaitu sosok yang sangat berhasil dalam bisnis dan karirnya, umumnya memiliki beberapa kebiasaan yang mungkin patut kita contoh. Berikut beberapa diantaranya:

1. Para Pemenang jarang berganti-ganti nomor HP.
Logikanya wajar, karena jarang berganti nomor HP, Para Pemenang mudah dihubungi ketika ada pihak yang membutuhkan produk atau jasanya. Orang yang kurang berhasil dalam usaha dan karirnya (untuk tidak menyebut mereka sebagai “orang yang kalah“) saya amati memiliki kebiasaan yang sebaliknya, yaitu sering berganti nomor HP, dan parahnya lagi sering tidak memberitahu kolega/klien. Hebatnya, jika saya tanya kenapa sering berganti nomor HP, mereka selalu saja punya alasan, entah HP hilang, SIM card rusak, dsb. Anehnya, selalu hanya mereka yg punya masalah2 tadi.

2. Para Pemenang selalu menerima panggilan jika HP nya dihubungi.
Ya, Para Pemenang kapanpun coba saya hubungi selalu menerima panggilan dengan “greeting“ yang segar dan bersemangat seperti suasana di pagi hari. Tidak peduli jam berapapun dihubungi. Mengucapkan “Halo Selamat Pagi!“ ataupun “Halo Selamat Malam!“ buat mereka sama bergairahnya. Kecuali tentu ketika mereka sedang meeting. Itupun biasanya langsung callback selesai meeting. Sebaliknya, mereka yg kurang berhasil lebih sering tidak mengangkat panggilan masuk, atau lebih parah lagi mematikan HP nya. Ada teman saya yang kurang berhasil, jujur mengakui bahwa jika nomornya tidak dikenal dia takut itu adalah debt collector. Wah, lantas bagaimana dia bisa membedakan antara debt collector dengan prospek yang akan memberikan order?

3. Para Pemenang menggunakan SMS dengan bijak.
Para Pemenang yang saya kenal umumnya sopan dalam ber-sms. Menggunakan pilihan kata yang sopan, seringkali diakhiri dengan terimakasih atau thanks. Dan tidak pernah menggunakan huruf besar secara sembarangan. Dalam nettiquete penggunaan huruf besar biasanya digunakan jika kita hendak “berteriak“ (flamming). Kebiasaan ini diteruskan di era SMS. Para Pemenang juga tidak menggunakan SMS untuk hal-hal yang urgent dan critical. Karena tidak setiap saat kita bisa reply SMS segera. Kalau memang urgent Para Pemenang biasanya langsung telpon saja. Tentu saja, Para Pemenang begini tidak termasuk umat “mis-kin- call“.

4. Para Pemenang menggunakan alamat email dengan namanya sendiri.
Silahkan diamati, umumnya Para Pemenang menggunakan alamat email sesuai namanya sendiri, tidak aneh-aneh. Mereka cukup percaya diri untuk mencantumkan nama-nya. Mungkin disingkat supaya tidak kepanjangan, tapi selalu nama mereka sendiri yang dicantumkan. Sementara mereka yang kurang berhasil kadang alamat emailnya aneh-aneh. Misalnya menggunakan nama julukan yang susah diingat (gendutz, peyanx, hacker, dst ...) Atau menggunakan nama selebritis (yang paling sering: beckham, baldwin, dsb ...) Padahal dalam bisnis kita perlu tahu dengan siapa kita berinteraksi. Lagipula sudah tahu toh tidak mirip dengan Beckham, kenapa tidak menggunakan nama pemberian orang tua kita sendiri saja? Saya yakin Bill Gates atau Larry Pages juga tidak repot2 bikin alamat email coolprogrammer@.... misalnya. Saya pernah menerima email dari rekan yang alamat emailnya “gondoruwo@ ...”, bisa Anda bayangkan betapa seramnya untuk me-reply email beliau.

5. Para Pemenang sopan dalam ber-email.
Umumnya email yang saya terima dari Para Pemenang menggunakan salam pembuka dan salam penutup. Pilihan katanya sopan, dan tidak sembarangan menggunakan huruf besar. Dan dibawah salam, dengan percaya diri mencantumkan nama lengkap dan kontak yang bisa dihubungi. Mereka yang kurang berhasil, sering emailnya tanpa salam, kadang menggunakan kata yang tidak sopan, dan sembarangan memakai huruf besar (jadi yang nerima serasa diteriakin), dan tidak pe-de mencantumkan nama nya sendiri di bawah. Saya pernah terkaget-kaget menerima email yang diketik dengan capslock semua, sudah begitu menggunakan bahasa “gaul” lagi. Waduh, sampai pusing baca nya. Padahal ternyata isi nya tidak ada yang penting.

6. Para Pemenang selalu merespon email.
Para Pemenang yang saya kenal selalu merespon setiap email yang masuk. Mereka ini adalah para CEO atau pemilik perusahaan software kelas dunia. Namun meskipun ratusan email yang masuk setiap hari nya, mereka selalu menunjukkan bahwa mereka “care” dengan email yang mereka terima. Sekalipun kadang respon nya hanya berupa forward ke staff nya dengan pesan singkat “Pls follow up”, atau reply hanya: “Got it. Will revert to you later”. Tapi setidaknya mereka menunjukkan atensi. Sebaliknya, mereka yang kurang berhasil sering justru tidak mereply email yang mereka terima. Meskipun mereka pasti lebih banyak waktu.

7. Para Pemenang bijak menggunakan email.
Sewaktu saya masih karyawan, setiap hari Jumat, mailbox saya penuh dengan teman-teman yang mengirimkan joke, intermezzo, bahkan gambar2 hot. Kadang attachement nya demikian besar sehingga mengganggu bandwidth. Belum kalau saling reply. Wah mailbox penuh oleh hal2 tidak penting. Para Pemenang yang saya kenal tidak pernah melakukan hal-hal seperti itu. Mereka menggunakan email sesuai tujuan nya, yaitu untuk melakukan komunikasi.

Apakah Anda juga seorang Pemenang? Anda bisa tambahkan lagi list diatas?

Sunday, February 18, 2007

Muhammad SAW & Napoleon Hill

Semua pecandu sukses hampir dipastikan pernah baca buku klasik karya Napoleon Hill: Think & Grow Rich yang ditulis tahun 1937. Melalui buku ini Napoleon Hill kemudian diakui sebagai salah satu pelopor dari ilmu sukses di Amerika Serikat. Saya pertama kali mengenal buku ini versi terjemahannya dulu jaman saya kuliah. Namun waktu itu saya tidak membacanya secara sungguh-sungguh. Kemudian belakangan saya juga mendownload versi asli nya dalam bentuk ebook dan baru mulai membaca secara lebih serius. Ternyata buku ini memang luar biasa. Di dalam nya termuat garis besar kaidah-kaidah untuk sukses. Mulai dari DESIRE sebagai kunci awal, kekuatan FAITH, pentingnya AUTO-SUGGESTION, kegunaan IMAGINATION, melakukan ORGANIZED PLANNING dan take DECISION, pentingnya PERSISTENCE, hingga soal kelompok MASTER MIND (ini yang belakangan sering disebut2 oleh rekan2 pebisnis di TDA) sampai bagaimana mengalahkan FEAR, semua ada di buku ini.

Pertama kali membaca, sebagai muslim saya cukup kaget karena sebagai contoh ilustrasi soal PERSISTENCE, Hill memuat riwayat Nabi Besar Muhammad SAW. Suatu contoh yang menurut saya sangat tepat. Meskipun cara penuturan nya sangat "sekuler" dan sedikit bombastis.

Kemarin sewaktu ke toko buku, saya tertarik dengan versi baru terjemahan buku klasik ini. Apalagi dibumbui embel2 "Edisi Revisi & Update Untuk Abad 21". Saya pun langsung membeli. Ternyata memang betul buku nya sudah di update oleh Arthur R. Pell. Alasan nya masuk akal, karena pembaca modern akan lebih mudah memahami jika ilustrasi yang diberikan adalah dari contoh2 kisah sukses modern. Maka Arthur Pell pun menyelipkan kisah-kisah ikon sukses modern seperti Bill Gates, Ray Kroc, Steven Spielberg, Arnold Swazheneger, Howard Schultz, dsb. Penambahan tersebut membuat buku ini terasa semakin relevan bagi pembaca modern.

Yang saya sayangkan adalah, Arthur Pell menghilangkan kisah Nabi Besar Muhammad SAW dari Bab 9 tentang Ketekunan (PERSISTENCE). Sebagai ganti nya ada kisah sukses Howard Schultz pemilik Starbuck. OK. Kisah Howard Schultz cukup inspiratif, tapi kisah Muhammad sang entrepreneur, sang filosof, sang politisi, sang jendral dan sang pembaharu sejati yang telah memperlihatkan persistensi dan dedikasi luar biasa menurut saya amat sangat layak disimak. Kalau kita terbiasa mengutip kisah luar biasa dari Mother Theressa atau Mahatma Gandhi, menurut saya kita juga jangan sungkan mengutip kisah kegigihan Muhammad.
Kalau Anda baca kisah Muhammad versi Karen Armstrong misalnya, dapat kita rasakan betapa beliau telah menjadi teladan kegigihan yang luar biasa.

Sungguh sayang Arhur Pell menghilangkan narasi tentang Muhammad, padahal dalam versi asli nya Hill sendiri mengatakan:
"Consider, for example, the strange and fascinating story of Mohammed; analyze his life, compare him with men of achievement in this modern age of industry and finance, and observe how they have one outstanding trait in common, PERSISTENCE!"
Lebih jauh, kisah Muhammad digambarkan oleh Hill sebagai: "story of one of the most astounding examples of the power of PERSISTENCE known to civilization."

Saya bayangkan, betapa sayangnya generasi sesudah saya nanti jika membaca buku Napoleon Hill tidak menemukan kisah yang demikian inspiratif. Tapi its OK lah, sebagai ganti nya di bawah saya kutipkan versi asli penutup Bab 9 buku Think & Grow Rich, semoga meskipun cerita ini dihilangkan dari buku nya, namun akan tetap menjadi inspirasi di hati kita.

THE LAST GREAT PROPHET
Reviewed by Thomas Sugrue


"Mohammed was a prophet, but he never performed a miracle. He was not a mystic; he had no formal schooling; he did not begin his mission until he was forty. When he announced that he was the Messenger of God, bringing word of the true religion, he was ridiculed and labeled a lunatic. Children tripped him and women threw filth upon him. He was banished from his native city, Mecca, and his followers were stripped of their worldly goods and sent into the desert after him. When he had been preaching ten years he had nothing to show for it but banishment, poverty and ridicule. Yet before another ten years had passed, he was dictator of all Arabia, ruler of Mecca, and the head of a New World religion which was to sweep to the Danube and the Pyrenees before exhausting the impetus he gave it. That impetus was three-fold: the power of words, the efficacy of prayer and man's kinship with God.
"His career never made sense. Mohammed was born to impoverished members of a leading family of Mecca.
Because Mecca, the crossroads of the world, home of the magic stone called the Caaba, great city of trade and the center of trade routes, was unsanitary, its children were sent to be raised in the desert by Bedouins. Mohammed was thus nurtured, drawing strength and health from the milk of nomad, vicarious mothers.
He tended sheep and soon hired out to a rich widow as leader of her caravans. He traveled to all parts of the Eastern World, talked with many men of diverse beliefs and observed the decline of Christianity into warring sects. When he was twenty-eight, Khadija, the widow, looked upon him with favor, and married him.
Her father would have objected to such a marriage, so she got him drunk and held him up while he gave the paternal blessing. For the next twelve years Mohammed lived as a rich and respected and very shrewd trader.
Then he took to wandering in the desert, and one day he returned with the first verse of the Koran and told Khadija that the archangel Gabriel had appeared to him and said that he was to be the Messenger of God.
"The Koran, the revealed word of God, was the closest thing to a miracle in Mohammed's life. He had not been a poet; he had no gift of words. Yet the verses of the Koran, as he received them and recited them to the faithful, were better than any verses which the professional poets of the tribes could produce. This, to the Arabs, was a miracle. To them the gift of words was the greatest gift, the poet was all-powerful. In addition the Koran said that all men were equal before God, that the world should be a democratic state— Islam. It was this political heresy, plus Mohammed's desire to destroy all the 360 idols in the courtyard of the Caaba, which brought about his banishment. The idols brought the desert tribes to Mecca, and that meant trade. So the business men of Mecca, the capitalists, of which he had been one, set upon Mohammed. Then he retreated to the desert and demanded sovereignty over the world.
"The rise of Islam began. Out of the desert came a flame which would not be extinguished— a democratic army fighting as a unit and prepared to die without wincing. Mohammed had invited the Jews and Christians to join him; for he was not building a new religion.
He was calling all who believed in one God to join in a single faith. If the Jews and Christians had accepted his invitation Islam would have conquered the world. They didn't. They would not even accept Mohammed's innovation of humane warfare. When the armies of the prophet entered Jerusalem not a single person was killed because of his faith. When the crusaders entered the city, centuries later, not a Moslem man, woman, or child was spared. But the Christians did accept one Moslem idea— the place of learning, the university."

Monday, February 05, 2007

The Secret

Kemarin malam, saya dan istri berdua nonton bareng DVD the Secret. Setelah menunggu anak-anak tertidur lelap akhirnya kesampaian juga nonton “film dewasa” ini berdua. Lho iya, ini film dewasa, karena insyaAllah akan mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang dewasa dan bertanggung-jawab. Film yang berdurasi sekitar 90 menit ini diproduseri oleh Rhonda Byrne dan disutradarai oleh Drew Heriot. Tidak ada jalan cerita yang perlu diikuti secara bertele-tele, karena the Secret dibuat dengan format “kuliah” dari para master dalam bidang filsafat, spiritualitas, motivasi, pengusaha, ahli keuangan, ahli fisika kuantum, dsb. Diselingi dramatisasi singkat atas topik yang diulas. The Secret di Amerika Serikat cukup ramai dibicarakan. Selain mendapat ulasan yang luas di media, the Secret juga antara lain pernah tampil pada acara Larry King November lalu, dan awal Februari 2007 ini akan tampil pada acara Oprah.

Film ini diawali dengan adegan seorang wanita yang sedang mengalami masalah hidup, kalau tidak salah diperankan Rhonda Byrne sendiri. Kemudian dia menemukan sebuah buku yang mengungkapkan rahasia terbesar sepanjang jaman. Yang merupakan jawaban atas segala persoalan yang sedang dia alami. Kemudian, karena penasaran, dimulailah pencarian akan the Secret itu sendiri, yang ternyata di masa lalu dikuasi oleh orang-orang yang telah memberikan sumbangan besar kepada dunia, seperti Newton, Emerson, Beethoven, Edison, Einstein, dsb. Byrne kemudian menemukan beberapa Secret Teacher masa kini, yang akan membeberkan rahasia tersebut.

Kemudian tampil-lah Bob Proctor memberikan pengantar tentang the Secret. Kemudian satu per satu Secret Teacher yang lain tampil memberikan penjelasan dari berbagai sudut pandang. Diantaranya John Assaraf, Rev. Michael Beckwith, John Demartini, Jack Canfield, James Arthur Ray, Joe Vitale, Lee Brower, Marie Diamond, Mike Dooley, Bob Doyle, Hale Dwoskin, Cathy Goodman, Morris E. Goodman, John Gray, John Hagelin, Bill Harris, Esther Hicks, Ben Johnson, Loral Langemeier, Lisa Nichols, David Schirmer, Marci Shimoff, Denis Waitley, Neale Donald Walsch, dan Fred Alan Wolf. Lengkap.

Jadi apakah sebenarnya the Secret yang konon di masa lalu dikubur, disembunyikan, bahkan dilarang untuk diedarkan ke publik itu? Rahasia terbesar itu adalah bahwa ternyata pikiran manusia akan membentuk realitas yang akan dia alami. Konsep ini disebut juga Law of Attraction. Bahwa pikiran kita sendiri yang selama ini menarik kejadian-kejadian yang kemudian kita alami. Like attracts like. Pikiran yang positif akan menarik hal-hal yang positif. Pikiran yang negative akan menarik hal-hal yang negative. Inilah rahasia terbesar itu. Kedengaran nya sederhana, namun membawa dampak yang luar biasa. Jika hal ini benar, maka kita akan dapat dengan mudah menentukan masa depan kita dengan mengatur pikiran kita. Pertanyaan nya bagaimana kita dapat mengatur pikiran kita. Perhatikan saja, dalam keseharian kita, betapa kita lebih sering berpikiran negatif dari pada positif. Betapa sering pikiran kita ada dalam kondisi “autopilot“, mengawang-awang, melayang-layang entah kemana. Memikirkan ketakutan-ketakutan akan masa depan, memikirkan penyesalan di masa lalu, yang akhirnya hal-hal negatif yang kita khawatirkan akan “ditarik“ ke dalam hidup kita. Manusia berpikir ribuan kali dalam sehari. Sebagian besar dilakukan tanpa kesadaran. Padahal setiap pikiran kita akan membawa “buah“ nya.

Lantas bagaimana menjaga agar kita selalu memiliki pikiran yang akan membawa hal-hal yang baik dalam hidup kita? Dalam hal ini perasaan memegang peran sangat penting. Misalnya pikiran yang membawa perasaan-perasaan marah akan membawa hal-hal yang menyebabkan rasa marah. Sementara pikiran yang membawa perasaan cinta, akan membawa hal-hal yang membuat kita tetap memiliki rasa cinta. Latar belakang “ilmiah” dari Law of Attraction ini adalah bahwa pikiran kita adalah gelombang, sebagaimana setiap partikel yang menyusun semesta ini. Sehingga pikiran kita selalu membangkitkan getaran yang akan direspon oleh semesta. Dalam fisika kuantum juga dikemukakan ide bahwa kejadian di luar sana hanyalah samudera kemungkinan-kemungkinan, yang menjadi “realitas” setelah dibentuk oleh pikiran. Jadi pikiranlah yang membentuk “dunia” kita.

Lantas bagaimana memanfaatkan the Secret? Sesederhana Aladdin menggunakan lampu wasiat nya. Kisah Aladdin adalah metafora interaksi antara manusia (Aladdin) dan semesta (digambarkan sebagai Jin). Disaat manusia sudah memutuskan permintaanya, maka semesta akan menjawab dengan: “Your wish is my command!”. Untuk itu proses kreatif yang dapat kita lakukan adalah: Pertama: Ask. Tentukan apa yang kita “minta”. Apa yang kita inginkan untuk wujudkan. Kedua: Believe. Percaya bahwa apa yang kita inginkan sudah dikabulkan. Percaya total diluar apa yang saat ini kita sedang lihat ada alami. Kemudian: Receive. Yaitu Take Action untuk menerima apa yang semesta berikan kepada kita. Proses ini dapat menjadi lebih powerful dengan menerapkan dua hal, yaitu: Gratitude, rasa syukur atas apa yang telah kita dapatkan. Dan Visualisasi, yaitu melakukan visualisasi atas apa yang kita inginkan dalam bentuk gambaran mental yang kuat, dan disertai perasaan yang mendalam.

Dalam bidang apakah the Secret dapat diterapkan? Nyaris dalam segala bidang kehidupan. Tidak hanya dalam hal keberhasilan financial. The Secret dapat kita aplikasikan dalam kesehatan, hubungan antar manusia, dsb. Selengkapnya film ini membahas The Secret: to Money, to Relationship, to Health, to the Word, to You, bahkan to Live.

Rhonda Byrne mengakui dalam komentar pada film nya, bahwa film ini dibuat setelah dia memperoleh inspirasi dari dua buah buku self-help classic, yaitu: the Science of Getting Rich (1910) karya Wallace D. Wattles dan the Master Key System (1912) karya Charles F. Haanel. The Master Key System disebut-sebut sebagai buku yang memperngaruhi Bill Gates sewaktu drop out kuliah dan mulai membangun Microsoft. Buku ini mengupas dengan sangat detil tentang Law of Attraction, jauh sebelum penulis buku motivasi bermunculan di AS. The Master Key System asli nya adalah materi kursus tertulis yang diberikan oleh Haanel. Haanel adalah seorang industrialis sukses masa lalu. Dan orang bersedia membayar $1,500 (jumlah yang sangat besar masa itu) untuk mengikuti kursus tertulisnya. Konon didikan Haanel pun mengikutu kisah sukses guru nya.

Secara umum menonton film ini jelas bermanfaat. Anda disajikan intisari dari ratusan buku sukses yang pernah ada. Langsung dari pakarnya. Tahun 2005 saya sempat juga menyaksikan film sejenis, yang berjudul What the Bleep Do We know?. “Bleep” disini maksudnya adalah sensor dari “F word”. Beda nya, the Bleep lebih mengupas tentang Quantum Physics dan bagaimana pikiran manusia membangun realitas yang dia alami. Format nya pun hampir sama. Kuliah dari pakar yang diselingi drama. Bahkan dua pakar dalam the Bleep tampil juga dalam the Secret, yaitu John Hagelin dan Fred Alan Wolf. Keduanya pakar fisika kuantum. Hanya dramatisasi dalam the Bleep jauh lebih menarik karena ada jalinan cerita nya. Pemeran nya pun tidak tanggung-tanggung, aktris tuna rungu pemenang Oscar Marlee Matlin.

Jadi? Yang belum sempat nonton, setelah tahu prinsip-prinsipnya, segara gunakan the Secret untuk menarik hal-hal positif bagi diri Anda.(FR)

Pameran Franchise

Tanggal 2 – 4 Februari yang baru lalu di Bandung berlangsung pameran Info Franchise Expo 2007. Saya menyempatkan hadir, sekalian ingin mengamati dari dekat perkembangan dunia franchise di Indonesia saat ini.

Sebagai pameran bisnis yang target nya adalah calon pebisnis/investor, pameran sendiri berjalan dengan baik. Dari segi pengunjung tentu tidak bisa diharapkan seramai pameran buku atau pameran komputer. Namun menurut saya atensi pebisnis Bandung kali ini cukup baik. Dan potensi pebisnis di Bandung sebetulnya cukup dahsyat. Saya melihatnya dari angka-angka saja. Penduduk Bandung hanya sekitar 2.7 juta jiwa. Tapi tabungan nya banyak. Dari laporan Bank Indonesia tahun lalu, saya melihat penempatan dana pihak ketiga di perbankan Bandung yang mencapai sekitar Rp.72 T. Sebagian besar dalam bentuk deposito (45 T) dan sisa nya tabungan. Dan ini sebagian besar adalah milik perorangan (hampir 70%), bukan institusional. Dapat dibayangkan betapa besar potensi dana yang masih “parkir“ di Bandung. Memang, “orang kaya“ Bandung tadi mungkin konservatif. Namun franchise bisa menjadi cara yang tepat untuk memancing dana tadi masuk ke sektor bisnis.

Peserta pameran franchise kemaren juga cukup lengkap. Dari sektor makanan ada Jesslyn Cake, Bread Story, Kebab Turki Baba Rafi, Kebab Anya, Pisang Goreng P Man, Buana Burger, Andrew Crepes, Roti Maryam, C’lup-C’lup, Dobbi Burger hingga Es Krim Campina. Yang paling ramai peminatnya saya lihat adalah booth Kebab Turki Baba Rafi. Mungkin terbantu oleh figure owner nya yang belakangan sedang ngetop. Yang lain juga sebenarnya tidak kalah potensial. Karena masing-masing booth menyediakan sample makanan, saya, istri dan anak saya yang kebetulan doyan makan semua, langsung mencoba satu persatu. Selain Kebab Turki yang memang mantap, saya lihat Roti Maryam yang enak dan unik (semacam roti cane) punya potensi besar. Disamping C’lup-C’lup sendiri yang membuat kami kaget, karena makanan tusuk ini ternyata lumayan digemari pengunjung.

Range nilai investasi di sektor makanan ini cukup bervariasi. Yang paling murah adalah Burger Buana yang hanya sekitar Rp. 2,5 juta. Kebab Turki Baba Rafi mematok range antara 40 juta (gerobak) hingga di atas 100 juta (kafe). Yang lain, sekitar Rp.15 juta hingga Rp. 29 juta. Untuk model gerobak, saya perhitungkan investasi yang masuk akal adalah Rp. 15 – 17.5 juta. Andrew Crepes cukup berani dengan mematok hingga Rp.29 juta. Investasi cukup tinggi pada franchise makanan adalah untuk bakery, mengingat tempat yang lebih permanent dan eksklusif, dan nilai stock yang besar. Jesslyn Cake mematok Rp.200 – 600 juta, sementara Bread Story bahkan mencapai lebih dari Rp.1 milyar.

Di sektor otomotif yang cukup menarik untuk dicermati adalah AutoBridal. Bisnis salon mobil ini sebetulnya saya yakin “gak ada matinya” karena trend kepemilikan mobil yang terus meningkat. Fee franchise yang Rp.75 – 150 juta juga masih masuk akal. Hanya range total investasi nya yang berkisar Rp.400 - 900 juta menurut saya terlalu besar. Meskipun sekarang tersedia paket AutoBridal Ekspress dan Motor yang investasinya bisa lebih murah. Autobridal juga terlihat aktif melakukan inovasi. Disaat snow wash sudah mulai umum, mereka punya menu cuci “es krim” yang warna-warni. Tapi apakah itu yang dibutuhkan para pemilik mobil? Jujur saja saya meragukan.

Untuk sektor retail, AlfaMart hadir menawarkan pola investasi yang menurut saya sangat masuk akal. Investasi nya sekitar Rp.300 juta. Pemilik usaha sudah akan menerima sistem, perlengkapan dan supply barang. Royalti fee berjenjang tergantung omzet. Namun saya sangat tertarik dengan kehadiran K-24. Brand Apotek lokal yang kini sedang naik daun. K-24 ini cukup berani dengan konsep 24 jam nya. Investasi nya juga cukup tinggi, berkisar Rp. 500 juta. Pengalaman saya, margin obat sangat tipis. Sementara banyak item obat juga sangat terbatas oleh waktu. Dengan beban operasional yang tinggi karena buka 24 jam, keberanian ini tentu menuntut kemampuan pengelolaan inventory yang luar biasa baik untuk menjaga harga pokok penjualan serendah mungkin.

Ada juga franchise sandang seperti Edward Forrer (sepatu) dan Shafira (busana muslim). Kedua-dua nya memiliki nilai investasi yang berkisar Rp.500 juta. Kedua brand yang lahir di Bandung ini sama-sama dikenal memiliki kualitas yang bagus. Kedua-dua nya juga terkenal sebagai innovator di bidang nya. Namun produk Edward Forrer memiliki market yang lebih luas dengan price yang masuk akal di kelas nya. Sementara Shafira dengan price yang cukup tinggi, marketnya lebih sempit (middle up Moslem), yang dewasa ini memiliki pilihan yang sangat luas. Dengan investasi yang sama, pay back period Shafira mungkin akan lebih lama dibanding Edward Forrer.

Yang masuk watch list saya sebenarnya adalah bisnis berteknologi tinggi seperti Multiplus. Multiplus yang menawarkan one stop shopping keperluan office/bisnis ini harus diakui cukup diminati konsumen. Ini sebenarnya meneruskan kesuksesan berbagai pusat “foto copy” atau solusi dokumen yang selalu laris di kota besar. Apalagi dengan nilai plus yang demikian banyak, maka Multiplus sangat menjanjikan. Selain itu ada Java Net yang menawarkan konsep internet café. Ini juga menarik, karena pengunjung tidak hanya disugihi koneksi internet, namun juga menu makanan layaknya café. Namun demikian, positioning nya menurut saya menjadi tidak jelas. Pengunjung warnet dan pengunjung café adalah dua komunitas yang berbeda. Pengunjung warnet atau game center adalah komunitas anak muda yang cuma butuh “minum teh botol” asal ada koneksi cepat dan murah. Sementara pengunjung café yang ingin makan dan minum, tidak butuh-butuh amat dengan koneksi internet. Kalaupun butuh koneski internet, sekarang banyak café yang menyediakan koneksi wi-fi gratis. Apalagi, nilai investasi yang mencapai Rp.345 (game center) hingga 700 juta (café), cukup besar. Ini berbeda dengan Wiz Game & Internet Center yang fokus hanya pada game center. Market online gamers memang sangat menjanjikan, sehingga potensi nya besar. Meskipun investasi awal Wiz Game yang mencapai Rp.350 jutaan menurut saya terlalu besar. Mendirikan online game center itu barrier to entry nya rendah, sehingga kompetisi juga akan sangat ketat. Dengan dana yang sama, orang bisa mendirikan game center yang lebih kencang dan lengkap di sebelah game center Anda. Dari group Java Net, ada peluang juga untuk menjadi outlet Micronics – distributor PC Dell. Ini cukup menarik. Dell adalah PC branded yang akhir-akhir ini sangat kompetitif. Investasi nya juga dibawah Rp.200 juta.

Selain itu saya tertarik dengan bidang Digital Imaging yang dewasa ini maju pesat. Layanan yang ditawarkan antara lain cetak pada mug, pin, t shirt, hingga photo box. Dimage menawarkan paket-paket investasi yang sangat beragam sehingga kita bisa merancang sendiri layanan apa yang cocok dengan lingkungan kita. Range investasi nya juga cukup ringan, dari Rp. 4 jutaan hingga puluhan juta. Dengan demikian investor mudah untuk memulai usaha dan menambah layanan sesuai perkembangan usaha.

Masih banyak lagi yang sebetulnya bisa di bahas. Di sektor pendidikan hadir ILP, iTutor Net, Interkatif, dsb. Saya tertarik dengan Interaktif kursus komputer anak, yang menawarkan investasi franchise yang rendah (total investasi di bawah Rp.50 juta). Di sektor spa ada Leha-Leha dan Nakamura. Leha-Leha menawarkan konsep yang lebih lengkap, mencakup spa dan klinik kecantikan. Sementara Nakamura hanya pijat refleksi. Investasi Nakamura yang mencapai Rp.250 juta menurut saya terlalu tinggi untuk usaha pijat refleksi.

Demikian sekilas info dari pameran franchise di Bandung yang baru lalu. Semoga bermanfaat.(FR)

Sabar

Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira bagi orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “ sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali“. -- Q.S. Al-Baqarah: 155-156.

Musibah adalah sesuatu yang tidak kita senangi, namun terjadi. Padam nya lampu, mobil mogok, handphone hilang, kena PHK, hingga banjir yang kini melanda Jakarta adalah musibah dalam berbagai derajatnya. Kita tidak senang hal ini terjadi, namun terjadi. Mengapa kita tidak senang atas peristiwa yang menimpa kita? Karena kita belum tahu peristiwa lengkap yang akan menimpa kita selanjutnya.

Salah seorang teman saya pernah mengalami musibah yang sangat menyedihkan hati nya. Ia kena PHK. Hari itu, bagi nya dunia seperti berakhir. Makan apa aku besok? Apa kata istriku nanti? Apa kata mertua nanti? Begitu keluhnya waktu itu. Hari itu, ia merasa mendapat musibah diluar kemampuan yang sanggup ia terima. Beberapa minggu berlalu, teman saya memutuskan menjadi wirausaha. Dan dalam hitungan bulan dia berhasil memiliki pendapatan yang jauh diatas gaji nya dulu. Maka hari ini, ia menganggap peristiwa PHK dahulu bukanlah musibah, namun adalah pintu bagi nya untuk masuk ke dunia wirausaha. Jalan bagi nya untuk lebih sukses lagi. Jawaban Tuhan atas doa2 nya.

Orang-orang yang sabar akan berhenti memberi label apakah peristiwa yang sedang ia alami adalah peristiwa baik atau peristiwa buruk. Batin nya diliputi rasa percaya yang mendalam terhadap rahmat dan kasih sayang Tuhan Yang Maha Esa. Apakah ini anugerah atau bencana? Ia tidak tahu. Ia tidak peduli dengan label nya. Ia hanya percaya, Tuhan maha mengatur segala sesuatu nya. Batin nya pasrah kepada ketentuan Tuhan nya.

Sebagai manusia, kita memiliki keterbatasan untuk memahami rangkaian kejadian yang telah diatur Yang Maha Kuasa. Apa yang hari ini kita sebut sebagai bencana, seringkali di masa depan baru terungkap, ternyata adalah jalan menuju kebaikan. Maka orang-orang sabar berhenti untuk mengutuk nasibnya. Mereka mengalir dalam hidupnya. Karena mereka tahu, siapalah kita ini berhak menghakimi kejadian yang kita sunguh tidak tahu bagaimana hasil akhirnya nanti.

“And in our willingness to step into the unknown, the field of all possibilities, we surrender ourselves to the creative mind that orchestrates the dance of the universe.” – Deepak Chopra.

Hari-hari ini, teman-teman dan saudara-saudara saya yang berada di Jakarta mengalami peristiwa banjir yang luar biasa. Saya percaya mereka adalah orang-orang yang sabar, yang sama seperti saya, yakin bahwa Tuhan telah mengatur ini semua untuk suatu kebaikan.(FR)

Saturday, February 03, 2007

Bebas Banjir Itu Bisa

Dulu ketika saya membeli rumah di daerah Bekasi untuk tempat tinggal keluarga kecil saya, pertanyaan yang saya ulang-ulang ke sales nya adalah: “Bebas banjir kan mas?“ Jawaban nya waktu itu sedikit konyol :“Kalau disini banjir, monas udah tenggelem pak ..“. Saya sedikit khawatir, karena waktu itu kami punya balita yang bakal ditinggal-tinggal seharian dengan hanya ditemani pembantu. Pada tahun 2002, hujan terus menerus mendera Jakarta. Ternyata betul, perumahan yang kami tinggali bebas banjir. Tetapi ... nah ada tapi nya, jalan akses menuju perumahan tadi terpotong oleh genangan banjir setinggi roda mobil. Istri saya bersama anak kami, sempat mengalami harus berlayar dengan mobil, bahkan karena mobil kami sedan, air pun dengan mudah masuk dalam kabin melalui celah pintu. Ajaib nya istri saya berhasil membawa mobil kami keluar dari banjir dengan selamat. Bahkan sempat menjemput saya dari kantor. Sebelum akhirnya si mobil menyerah karena dinamo nya terbakar.

Waktu itu, banyak keluarga dan teman kami yang mengalami kejadian yang jauh lebih mengenaskan. Ada yang rumahnya terendam hingga 2 meter, perabotan rusak, mobil terendam, hingga pengalaman evakuasi ditengah malam yang gelap gulita. Karena khawatir hal semacam itu akan berulang, kami pun pindah lagi ke Bandung.

Jujur saja, saya tidak sanggup jika harus hidup di lingkungan yang terus menerus kebanjiran. Anehnya, jutaan orang di Jakarta mau, sanggup, dan bersedia hidup dalam banjir. Jakarta banjir? Ah sudah biasa. Begitu jawaban yang sering kita dengar. Salah satu mantan sopir saya bercerita, kalau di tempat tinggal nya setiap musim hujan pasti banjir. Saya mendengar dengan sedikit risih cerita itu, “Kenapa tidak pindah?” Tanya saya. “Yah bagaimana lagi pak …”.

Sudah biasa. Memang beginilah Jakarta. Bagaimana lagi. Kalimat-kalimat ini mewakili pikiran-pikiran orang yang menyerah pada keadaan. Padahal kita semua mengakuai potensi kekuatan pikiran. Siapa yang dapat menyelamatkan Jakarta dari banjir kalau bukan warga Jakarta? Ketika sebagian besar warga Jakarta berpikiran bahwa banjir adalah tradisi, maka ya terjadilah banjir. Sebagai tradisi!

Padahal bebas banjir itu bisa. Kota-kota lain di dunia bisa, jadi Jakarta harus bisa. Janganlah kita mengutuk “siklus banjir 5 tahunan“, tapi bersyukurlah bahwa Tuhan masih memberi waktu 5 tahun untuk berbenah. Sudah berulang-ulang dihantam banjir. Dan apa yang telah Jakarta lakukan disaat banjir belum tiba? Warga nya tetap membuang sampah sembarangan, dan pemerintah nya menghambur-hamburkan uang untuk infrastruktur yang tidak mendesak. Padahal apa yang lebih penting dari membebaskan Jakarta dari banjir? Busway bisa ditunda, bikin gedung baru bisa ditunda, trotoar baru bisa ditunda. Tapi membebaskan Jakarta dari banjir harus sekarang.

Saya pernah mengantarkan kolega, seorang CEO perusahaan software dari UK yang baru pertama ke Jakarta. Kami menyusuri Sudirman – Thamrin menuju hotel tempat dia menginap. Waktu itu hujan deras turun. Tidak terjadi banjir, tapi genangan di jalan cukup banyak. Itupun sudah cukup membuat wajahnya tampak cemas. Tidak tahan, dia berkomentar: “They should check the drainage system …” Hampir saya nyletuk “What drainage system?” Bahkan seorang yang baru pertama ke Jakarta pun akan tahu bahwa sistem drainase di Jakarta tidak berfungsi. Dan anehnya kita tidak melakukan tindakan yang cukup untuk membereskan nya.

Jakarta (dan juga Indonesia) butuh pemimpin yang mampu memberi inspirasi bahwa kita bisa berubah kalau kita mau. Kalau sebagian besar warga Jakarta sudah yakin bahwa Jakarta bisa bebas banjir, maka pertanyaan berikutnya yaitu “bagaimana” akan lebih mudah dijawab. Orang-orang yang yakin bisa, akan lebih mudah mendapat jawaban. Ide-ide cara baru yang belum terpikirkan sebelumnya akan bermunculan. Dan insyaAllah, alam semesta mendukung.

Banjir kali ini, alhamdulillah saya sekeluarga kini tinggal di Bandung. Saya turut bersimpati dengan banjir di Jakarta. Semoga para korban banjir di Jakarta diberi ketabahan, dan semoga seluruh warga Jakarta pikiran nya tercerahkan, bahwa bebas banjir itu bisa.(FR)