Wednesday, May 23, 2007

Mengatasi Masalah Dengan Masalah

Siapa yang pernah berhutang mohon tunjuk jari? Saya yakin hampir semua yang membaca tulisan ini akan tunjuk jari. Termasuk saya sendiri. Siapa yang pernah punya masalah dengan hutang harap tunjuk jari? Nah, sekarang banyak yang tidak tunjuk jari tapi malah senyum-senyum. Mungkin ada yang teringat pengalaman pribadinya, atau mungkin sulit untuk mengakuinya. Meski kadang kita malu mengakuinya, saya yakin banyak diantara kita yang pernah memiliki masalah dengan hutang. Entah dari sekedar terlambat membayar kartu kredit hingga tiap hari ditelpon petugas kartu kredit, hingga didatangi debt collector yang kasar dan serem.

Untuk apa kita berhutang? Umumnya hutang digambarkan sebagai "solusi atas masalah keuangan kita". Lihat saja iklan2 produk perbankan, semua menggambarkan hutang sebagai solusi. Hutang memang akan menjadi solusi ketika kita bisa mengelola nya dengan benar. Namun dapat menjadi masalah ketika tidak dikelola dengan baik. Dan yang lebih penting lagi, ketika hutang sudah menjadi masalah, bagaimana mengatasinya?

Bagi Anda yang pernah ada dalam posisi berhutang dan merasakan beratnya membayar hutang, pasti ingat alternatif apa yang kita pikirkan ketika hutang menjadi masalah. Ya, berhutang lagi. Hampir selalu begitu. Pengalaman saya bekerja di perbankan adalah demikian. Sebagian besar debitur yang bermasalah, akan mencoba mengatasi masalah dengan menambah hutang. Ini sama saja mengatasi masalah dengan masalah. Hasilnya ya masalah yang lebih besar.

Saya juga pernah dalam posisi berhutang, dan Alhamdulillah dapat mengatasinya. Bagaimana saya bisa menyelesaikan masalah saya dulu? Ternyata bukan dengan berhutang lagi. Masalah ternyata tidak dapat diselesaikan dengan masalah, namun harus diselesaikan secara tuntas dari dalam ke luar (inside-out). Ibarat pengobatan, harus dari dalam, baru manjur. Berikut sharing pengalaman saya:

Jangan menghindar. Mengalami masalah dalam berhutang itu wajar dan dapat diselesaikan. Jadi Anda jangan sampai menghindar dari pemberi hutang. Semakin Anda menghindar, masalah akan semakin besar. Hadapi dan ajak bicara baik-baik. Tawarkan solusi dan ajak diskusi. Mereka juga berkepentingan supaya Anda mampu membayar hutang. Anda juga tidak perlu merasa dalam posisi di bawah. Hubungan bisnis itu posisinya setara. Para konglomerat yang punya hutang trilyunan saja (dan nunggak bertahun-tahun!) kalau bernegosiasi dengan pejabat pemerintah tampil super pe-de. Jadi kalau hutang Anda masih puluhan atau ratusan juta ya santai aja.

Jangan membuat pikiran kita terpaku dengan memikirkan masalah hutang. Semakin dipikirkan, maka masalah akan semakin berat. Lagipula, suatu masalah tidak akan selesai dengan dipikirkan. Sebagai ganti nya, mulailah berpikir tentang peluang-peluang dan kesempatan-kesempatan untuk memperoleh uang tambahan TANPA BERHUTANG. Kalau kita berpikiran bahwa solusi akan datang dengan cara mencari hutang lagi, maka itu yang akan terjadi. Jadi stop memikirkan bahwa kita akan menambah hutang untuk menutup hutang. Pikirkan peluang.

Mungkin Anda akan protes, walah susah nih, bagaimana caranya? Peluang apa? Hari ini mungkin Anda belum kepikiran, tapi InsyaAllah Tuhan akan memberikan pertolongan ketika Anda mulai berpikir tentang peluang. Perhatikan sekitar Anda, adakah peluang untuk menghasilkan uang tambahan secara halal dengan cepat? Saya yakin pasti ada. Ketika kita mulai berpikir tentang peluang, pintu rizki akan terbuka. Saya pernah membuktikannya.

Terus bersyukur. Ini yang paling berat. Mana mungkin dalam keadaan babak-belur "terjepit hutang" masih bersyukur. Justru disini tantangannya. Tuhan Maha Bijaksana. Pengalaman berhutang ini tentu ada maksudnya. Saya yakin maksud tadi adalah baik untuk Anda. Barangkali akan mengantarkan Anda pada posisi yang jauh lebih baik. Maka tidak ada alasan untuk tidak bersyukur. Tiap detik, tiap waktu, ucapkan rasa syukur di hati dan di bibir. Caranya dengan mengingat-ingat anugerah dari Tuhan yang sudah Anda terima. Anak Anda yang lucu-lucu, pasangan Anda yang baik, Pekerjaan Anda yang diperebutkan ribuan orang, bisnis Anda yang Alhamdulillah masih berjalan, dan banyak lagi. Ini penting untuk menjaga agar hati Anda selalu dalam keadaan "feel good". Peluang tidak akan datang kepada orang dengan pikiran yang suntuk dan hati yang terus menggerutu. Ganti isi pikiran dan hati Anda dengan rasa syukur yang mendalam.

Tetap berbahagia. Masalah serius yang saya amati dari orang yang menghadapi masalah hutang adalah mereka menjadi tidak bahagia. Mereka merasa jadi orang susah. "Aura" susah ini terpancar keluar dan akhirnya mereka canggung dalam berbisnis, akibatnya bisnis ya makin susah. Anda harus selalu berbahagia. Hutang Anda terjadinya di dunia "luar" Anda. Diri Anda yang ada di dalam Anda tidak terpengaruh apapun yg terjadi di luar sana. Kalau Anda mau bahagia, maka jadilah Anda bahagia SEKARANG, apapun keadaan Anda. Dengan selalu bahagia, "aura" bahagia Anda akan selalu terpancar, bahasa tubuh Anda akan enak, ngomong lancar, berbisnis pun lancar. Susah dipahami ya? Hehehe … kalau gitu praktekkan saja.

Ambil tindakan. Ketika ada peluang untuk mendapatkan rizki tambahan tanpa berhutang, segera ambil tindakan. Sekecil apapun itu. Kadang Tuhan bekerja dengan misterius. Hal-hal yg kelihatannya kecil dan sepele, kadang menjadi besar dan membawa berkah di masa depan. Jangan ada hari tanpa tindakan. Mulai setiap hari Anda dengan semangat, karena Anda tahu akan melakukan apa hari ini.

Pasrahkan. Dengan tetap berusaha, selalu pasrahkan pada Tuhan penyelesaian terbaiknya. Let it God. Tuhan Maha Tahu dan Bijaksana, pasti akan memberikan solusi yang terbaik. Kadang Tuhan membayarkan hutang Anda dengan cara yang unik, maka Anda harus selalu open-minded. Saya pernah melunasi hutang saya dengan cara barter. Hutang saya, ternyata dapat saya tukar dengan skill dan knowledge (software) yang zero cost buat saya. Peluangnya datang begitu tiba-tiba, ketika orang yang memberi hutang menanyakan dimana mencari vendor suatu software yang dia perlukan. Langsung saya sambar kesempatan ini dengan menyatakan bahwa saya bisa memberikan. Besoknya langsung saya majukan proposal. Dan ketika matanya terbelalak membaca angka di proposal saya, saya berbaik hati memberikan secara gratis, asal hutang saya dianggap nol. Kami langsung berjabat tangan.

Tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan. Termasuk hutang. Bahkan masalah yang Anda hadapi mungkin adalah salah satu bagian dari pembelajaran Anda menjadi pebisnis besar. Kalau mengatasi hutang puluhan juta saja tidak bisa bagaimana nanti jadi konglomerat yang punya hutang ratusan milyar? Jadi bagi yang sedang punya masalah dengan hutang, tetap semangat, selalu bersyukur, dan selalu hadirkan kebahagiaan di hati. InsyaAllah semua akan beres. (FR)

Tuesday, May 22, 2007

Tiga Murid

Sang Guru bijak, pagi itu menerima kembali tiga murid terbaiknya, yang telah pergi merantau selama tiga tahun. Mereka turun gunung dari kampung ke kampung dan dan dari kota ke kota, untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan dari Sang Guru: Apakah makna kekayaan bagi manusia? Jawaban dari pertanyaan tersebut akan menentukan, siapakah yang akan menjadi pengganti sang Guru kelak. Maka kini tibalah saatnya bagi mereka untuk menjawab pertanyaan Sang Guru:

Murid Pertama berkata: Ya Guru, setelah tiga tahun merantau, murid sampai pada kesimpulan, bahwa kekayaan adalah akar kejahatan. Dalam perjalanan, murid banyak menjumpai anak manusia yang rela melakukan berbagai kejahatan, melakukan tipu muslihat, kecurangan, perampokan bahkan pembunuhan untuk memperolah kekayaan. Bahkan setelah meraih kekayaan, mereka kemudian menggunakan kekayaan tadi untuk melakukan perbuatan-perbuatan keji. Mereka gunakan kekayaan untuk berjudi, berzina, mabuk-mabukan dan madat. Tidak ada kebaikan sedikitpun dari kekayaan. Demikianlah pengamatan murid, oh Guru.

Sang Guru: Oh menarik sekali pengamatanmu murid. Lalu menurutmu apa yang sebaiknya kita lakukan?

Murid Pertama: Manusia harus menjauhkan diri dari kekayaan yang merupakan sumber kejahatan ini Guru. Supaya selalu dekat dan ingat kepada Yang Maha Esa, kita harus hidup jauh dari kekayaan. Kita dekatkan diri kita kepada Yang Maha Esa dengan meninggalkan ikatan keduniawian seperti halnya kekayaan ini Guru. Kita harus memurnikan hati kita dengan meninggalkan hal-hal yang dapat membuat hati kita terpaut kepada selain Tuhan Yang Maha Esa. Demikian menurut pendapat murid, oh Guru.

Sang Guru tersenyum: Engkau sungguh memiliki kemuliaan wahai murid pertama. Aku bangga kepadamu.

Murid Kedua: Mohon maaf Guru, murid punya pendapat yang berbeda. Selama perjalanan, murid banyak berjumpa dengan raja dan saudagar kaya yang sangat dermawan. Mereka membangun tempat ibadah, mereka membangun tempat tinggal untuk orang miskin, mereka menyantuni anak yatim, mereka memberi makanan dan pertolongan untuk orang yang kesusahan. Mereka mencari kekayaan yang sangat banyak, namun juga menggunakannya untuk kebaikan banyak orang. Murid sampai pada satu kesimpulan, bahwa kekayaan adalah sumber kebaikan, yang akan membawa umat manusia kepada kebaikan. Demikian pendapat murid, oh Guru.

Sang Guru: Oh, sungguh luar biasa pengamatanmu muridku. Lalu menurutmu apa yang sebaiknya kita lakukan?

Murid Kedua: Manusia harus mencari kekayaan sebanyak-banyaknya Guru. Dengan memiliki kekayaan yang cukup, maka manusia dapat menjalani kehidupan dengan sebaik-baiknya. Dengan kekayaan yang cukup maka manusia dapat memperolah pendidikan yang baik, dapat beribadah dengan tenang, dapat bersedekah, dapat menolong keluarga dan sesama manusia yang membutuhkan. Manusia tidak boleh hidup dalam kemiskinan Guru. Kita harus melakukan seganap upaya agar manusia terbebas dari kemiskinan dan memperoleh kekayaan. Demikian pendapat murid.

Sang Guru tersenyum: Engkau adalah samudera kebijaksanaan wahai murid kedua. Aku bangga kepadamu.

Sang Guru berpaling ke Murid Ketiga: Murid ketiga, bagaimana menurutmu?

Murid Ketiga: Guru, selama perjalanan, murid telah berjumpa dengan orang kaya yang baik, namun ada juga orang kaya yang jahat. Murid bertemu dengan orang miskin yang baik, dan ada orang miskin yang jahat. Murid menjumpai ada orang kaya yang taat beribadah dan selalu ingat pada Tuhan nya, namun ada juga orang kaya yang lupa pada Tuhan. Seperti halnya ada orang miskin yang selalu ingat pada Tuhan, dan ada juga orang miskin yang lupa pada Tuhan. Banyak orang kaya yang …

Sang Guru tersenyum: Jadi apa maksudmu muridku yang baik?

Murid Ketiga: Maksud murid, ternyata kekayaan adalah sekedar alat. Semuanya akan kembali kepada diri kita sebagai manusia. Manusia yang memiliki tujuan hidup yang baik, akan menggunakan kekayaan sebagai alat untuk mewujudkan kebaikan. Demikian maksud murid, oh Guru.

Sang Guru: Lalu menurutmu apa yang sebaiknya kita lakukan?

Murid Ketiga: Manusia haruslah mengetahui hendak kemana ia akan menuju. Dengan demikian, apa pun yang dimilikinya di dunia ini hanyalah alat, bukan tujuan. Termasuk kekayaan.

Sang Guru: Lalu hendak kemanakah manusia menuju?

Murid Ketiga: Manusia adalah semata ciptaan Yang Maha Esa. Kesanalah semua manusia menuju. Jika manusia menyadari tujuannya, kekayaan dapat menjadi kendaraan untuk mendekatkan diri kepada Yang Maha Esa. Namun jika sebaliknya, maka kekayaan dapat juga menjauhkan manusia dari Yang Maha Esa.

Sang Guru tersenyum: Muridku, sungguh engkau adalah sumber kebijaksanaan dan samudera pengetahuan.

Sang Guru menundukkan kepala menghormat murid ketiga: Engkaulah Guru baru di perguruan ini.

Dan kedua murid yang lain, serentak menunduk hormat pada Murid Ketiga.(FR)

Murah, Meriah, Meriang.

Siapa yang tidak mau barang murah? Tentu semua orang mau. Pembeli pasti mencari produk atau jasa dengan harga yang paling murah. Mungkin karena logika tadi, penjual sering menerapkan strategi "jual murah" untuk memenangkan kompetisi. Banting harga. Jual dengan margin sekecil mungkin, demi memenangkan persaingan. Strategi ini yang sering digunakan terutama oleh para pendatang baru supaya eksis di market. Termasuk saya, adalah orang yang sering menerapkan strategi ini ketika harus bersaing dengan para raksasa. Tapi betulkah strategi ini efektif? Hehehe … jujur saja menurut pengalaman saya tidak.

Dalam jangka pendek, memang harga yang murah dapat membuat produk atau jasa kita kompetitif, namun dalam jangka panjang ternyata lebih banyak bikin Anda meriang. Ada beberapa alasan mengapa secara jangka panjang, strategi harga rendah bukanlah penentu kemenangan:

Pertama: Faktor kepercayaan. Harga yang murah biasanya diikuti dengan pertanyaan: bagaimana kualitasnya? Ya, produk murah yang tidak diikuti dengan kualitas yang baik, malah biasanya dihindari pelanggan. Karena bagaimanapun, pelanggan membeli suatu produk atau jasa, dengan harapan memperoleh manfaat tertentu. Jika harga yang murah tadi tidak disertai dengan manfaat minimal yang seharusnya diperoleh, maka pelanggan akan kapok. Contoh sederhananya, dulu saya pernah tertipu membeli durian di tukang buah keliling yang harganya murah sekali. Ternyata setelah dibuka, tidak lebih dari setengahnya yang enak dimakan. Setelah itu saya hanya mau membeli durian di toko buah yang terpercaya.

Di industri jasa yang saya tekuni juga demikian. Perusahaan-perusahaan besar umumnya kurang percaya dengan perusahaan yang menawarkan produk dan jasa nya dengan harga murah. Diantaranya terkait dengan factor kepercayaan tadi. Saya pernah menawarkan produk software untuk perbankan dengan harga yang lebih murah dibanding vendor lain, namun justru tidak dipilih karena menurut mereka tidak masuk akal software tadi bisa semurah itu. Rupanya saya amati pelanggan korporasi yang besar umumnya tidak memiliki kepercayaan pada software2 dengan harga murah.

Kedua: Kelangsungan usaha Anda. Sebetulnya banyak faktor yang menjadi komponen dalam penentuan harga. Diantaranya aspek biaya untuk pengembangan dan mempertahankan usaha. Saya sering menerima keluhan dari rekan2 saya sesama pebisnis IT soal tidak kompetitifnya para pebisnis/konsultan IT di Indonesia dibanding rekan2 nya dari negara lain. Padahal dari segi harga sudah banting2an. Tetap saja konsultan "bule" atau konsultan dari India lebih laku. Padahal ini pertempuran di kandang sendiri.

Kenapa bisa terjadi? Sebagian besar disebabkan kesalahan strategi harga yg selama ini dilakukan. Teman-teman saya kebanyakan terlanjur "jual murah" jasa mereka. Dampaknya adalah, mereka sendiri akhirnya hanya bisa memperoleh profit sekedar untuk bertahan hidup. Jadi jangan tanya soal melakukan research & development atau melakukan peningkatan pengetahuan. Akhirnya pengetahuannya stagnant, tidak ada improvement, kualitas delivery nya buruk, dan kelangsungan usaha nya tidak terjamin. Jadi bagaimana mau tetap kompetitif dan sustainable?

Ketiga: Memicu perang harga. Sekali Anda melakukan strategi banting harga, maka pesaing Anda akan melakukan hal yang sama. Dan ketika sebagian besar pesaing sudah menjual harga di bawah harga Anda, maka Anda akan terpaksa membanting harga lagi, dan seterusnya hingga menjadi pusaran yang menyedot Anda dan pesaing2 Anda untuk sama-sama kandas ke dasar. Siapa yang diuntungkan? Pelanggan? Tidak. Tidak ada yang diuntungkan. Bahkan pelanggan pun akan rugi jika para penyedia produk dan jasa yang mereka perlukan ambruk satu demi satu.

Banyak pendatang baru dalam bisnis mengira bahwa mereka pasti akan menang dalam perang harga dibanding pesaing2 yang sudah raksasa. Kenyataannya adalah sebaliknya. Para raksasa tadi lebih siap untuk melakukan perang harga dibanding Anda. Mereka punya infrastruktur yang lebih siap, jaringan yang lebih luas, supplier yang lebih murah dan akomodatif, dsb. Mereka bisa memenangkan perang harga dengan sekali tepuk. Jadi jangan coba-coba membangungkan raksasa tidur.

Alternatif

Strategi menekan harga harus Anda tempatkan pada konteks nya. Sebagai bagian dari taktik mungkin OK dilakukan pada waktu tertentu. Namun jika konteksnya adalah untuk menjadi kompetitif, ada banyak alternatif yang tidak akan menyakiti bottom-line Anda. Banyak metode yang mungkin Anda pernah dengar. Diantaranya menurut saya yang cukup efektif adalah:

Jadikan eksklusif. Jika produk atau jasa Anda menjadi eksklusif, maka persaingan harga menjadi tidak relevan. Orang akan loyal dan mau membayar lebih mahal untuk eksklusivitas. Jangan jadikan produk atau jasa Anda menjadi produk komoditas yang mudah dipermainkan naik turunnya harga. Caranya bagaimana, terserah kreatifitas Anda. Kadang-kadang bukan sesuatu yang luar biasa. Di Solo dulu ada penjual nasi liwet yang hanya berjualan tengah malam. Antreannya jangan tanya. Orang rela bangun dan pergi malam-malam untuk makan nasi liwet tadi. Lho kenapa gak buka siang atau sore saja? Itulah, yang buka siang atau sore sudah banyak.

Berikan nilai tambah. Pelanggan tidak akan terlalu membandingkan harga jika mereka memperoleh banyak nilai tambah dengan menggunakan produk atau jasa Anda. Tentu Anda harus pastikan nilai tambah yang Anda berikan tidak memiliki komponen biaya tinggi. Misalnya, dalam negosiasi penjualan software Anda dapat menawarkan report gratis atau pelatihan gratis, plus layanan dukungan gratis setahun, daripada misalnya menurunkan harga,. Tentu setelah berhitung, bahwa bagaimanapun hal2 tadi toh akan mengeluarkan biaya karena harus Anda kerjakan sewaktu implementasi.

Evaluasi produk atau pelanggan berbiaya tinggi. Ya, bisa jadi selama ini keuntungan Anda terhisap oleh pelanggan atau produk tertentu yang berbiaya tinggi. Pelanggan yang over demanding, tapi nilai transaksinya kecil, harus Anda evaluasi. Jika dapat nilai transaksinya di perbesar, jika tidak sebaiknya Anda tinggalkan dang gunakan resources Anda untuk melayani pelanggan yang lebih produktif. Demikian juga produk. Barangkali ada beberapa produk tertentu yang untuk mendelivernya memakan cost cukup besar, namun kontribusinya terhadap penjualan tidak signifikan. Ini wajib di evaluasi.

Demikian beberapa kiat yang bisa Anda coba. Apalagi kalau Anda termasuk penjual yang gampang jual murah. Anda wajib hati-hati. Bisa-bisa strategi jual murah Anda bukan membuat usaha Anda makin meriah, namun justru dibelakang hari bikin Anda meriang.

Tuesday, May 15, 2007

Cara Gampang Kehilangan Pelanggan

Ya, Anda gak salah baca, saya mau kasih tips bagaimana caranya supaya Anda dengan mudahnya kehilangan pelanggan. Sebenarnya tips saya kali ini ada latar-belakangnya. Saya mau cerita dulu sedikit. Baru-baru ini saya mendapat pelajaran berharga dari rekan-rekan saya di Quasar (www.quasar.net.id), salah satu ISP terkemuka di Bandung yang menyediakan koneksi internet unlimited. Sesuai kebutuhan saya. Saya tadinya adalah salah satu pelanggan yang bangga dan setia kepada mereka. Sayangnya, kesetiaan saya bertepuk sebelah tangan. Rekan-rekan di Quasar ini tidak memberikan pelayanan yang memuaskan kepada saya. Singkatnya, setelah mengalami begitu banyak kekecewaan, saat ini saya sedang mempertimbangkan untuk mengganti provider koneksi internet saya.

Saya jadi berpikir, ternyata begitu mudahnya saya sebagai pelanggan untuk pindah ke lain hati. Terus terang saya berterimakasih sama Quasar, karena telah mendapat pelajaran berharga dari mereka. Ternyata memang ada hal-hal yang akan membuat pelanggan dengan cepat ingin berpaling. Anda ingin tahu? Berikut cara gampang kehilangan pelanggan:

1. Berikan janji melebihi kemampuan delivery Anda. Ini cara paling efektif untuk mengecewakan pelanggan. Sewaktu jualan, buatlah janji-janji setinggi langit, sekalipun Anda tidak mampu mendeliver yang Anda janjikan tadi. Pasti nanti pelanggan Anda akan protes. Nah, ketika mereka protes, Anda harus pinter ngeles, jadi dalam janji Anda yang super gombal tadi, gunakanlah kata2 yang sedikit membingungkan supaya Anda dapat berlindung dibalik kata-kata tadi. Contoh? "Proses cepat, up-to 1 hari selesai". Padahal sudah tahu Anda bisanya mengerjakan paling cepet 5 hari. Kalau pelanggan protes bagaimana? Ya Anda jawab saja "kan up-to 1 hari", jadi 5 hari masih masuk. Menyebalkan bukan? Ya, dijamin pelanggan cepat kabur.

2. Abaikan Pelanggan. Sedapat mungkin jangan berkomunikasi dengan pelanggan. Jangan lakukan komunikasi langsung, apalagi yg tidak langsung. Jika Anda memberikan nomor telpon hotline, kemudian pelanggan nelpon, jangan diangkat. Biarkan berdering-dering, toh nanti pelanggan tadi akan bosan sendiri. Atau jika pelanggan berhasil menelpon melalui operator, buatlah pelanggan menjadi repot, lemparkan saja ke ekstension lain, di oper2 saja, nah nanti ujung-ujungnya tidak diangkat juga, lalu katakan supaya menghubungi di lain waktu, dst. Pokoknya hindari komunikasi dengan pelanggan. Kalau pelanggan nekat email, jangan dijawab. Anggap saja tidak ada. Kalau terlanjur masuk mailbox Anda, ya delete saja.

3. Anda selalu benar, pelanggan selalu salah. Ini harus jadi motto Anda. Kalau perlu motto ini Anda print besar2 dan tempelkan di dinding tempat kerja Anda. Kalau pelanggan berhasil menyampaikan keluhan pada Anda, bersikaplah defensive, pertahankan bahwa Anda benar dan pelanggan salah. Berdebatlah, mati-matian, jangan sampai terlihat Anda yang salah. Alasannya bisa seribu satu, pokoknya harus pelanggan dulu yang salah. Sebelum kita disalahkan. Argumentasi Anda tidak perlu berorientasi pada solusi. Jangan dengarkan feed-back dari pelanggan. Kalau mereka memberikan masukan bagaimana seharusnya Anda membuat atau mendeliver produk, abaikan saja. Anda harus merasa lebih pintar dari mereka. Kalau perlu bohongi mereka, anggap mereka tidak tahu apa-apa. Pokoknya pelanggan harus menerima segala alasan yang kita berikan.

4. Berikan kejutan tidak menyenangkan. Coba Anda bayangkan kalau Anda pergi ke bank dan tiba-tiba ada pengumuman: maaf hari ini tidak melayani transaksi, sedang ada maintenance system sampai waktu yang tidak ditentukan. Menyebalkan bukan? Nah kalau ingin kehilangan pelanggan, berikanlah kejutan-kejutan menyebalkan seperti itu.

5. Berikan ketidakpastian. Bekerjalah tanpa agenda dan jadwal yang jelas. Sehingga Anda tidak pernah bisa memberikan kepastian kepada customer. Jika customer meminta solusi dan menanyakan kapan? Jawablah "secepatnya". Secepatnya itu kapan? Ya secepatnya. Gunakan istilah2 seperti "sampai waktu yang tidak ditentukan", dsb. Biarkan saja pelanggan menunggu dan menunggu. Semakin tidak pasti Anda, semakin customer ingin meninggalkan Anda.

Silakan Anda terapkan tips diatas, maka Anda akan segera kehilangan pelanggan. Anda gak mau? Gak mau kehilangan pelanggan? Ya sudah, kalau gitu sedapat mungkin tips2 tadi harus Anda hindari. Saya sekedar mengingatkan saja, siapa tahu secara tidak sadar justru tips diatas sering kita laksanakan. Oh ya, untuk Quasar, thanks atas pelajarannya.(FR)

Monday, May 07, 2007

Putar Kunci Sukses Anda

Dalam berbagai versinya, Anda tentu pernah mendengar cerita klasik ini: Seseorang pergi meninggalkan rumahnya untuk pergi merantau mencari harta karun. Dengan perjalanan yang penuh perjuangan, tantangan dan rintangan, akhirnya yang ia temukan adalah kenyataan, bahwa harta karun yang ia cari selama ini terpendam di dalam rumahnya sendiri! Versi cerita yang sangat indah dan inspiratif tentunya pernah Anda baca di novel "the Alchemist" nya Paulo Coelho. Namun versi lain dari cerita ini bahkan sudah ada di kumpulan syair "Mathnawi" karangan Jalaludin Rumi. Cerita-cerita tadi seolah adalah pesan universal yang ingin menyampaikan satu rahasia kepada kita: bahwa yang selama ini kita cari-cari, sudah ada dalam diri kita.

Selama ini sebagian besar dari kita mendefinisikan sukses sebagai pencapaian atas hal-hal yang sesungguhnya merupakan akibat dari sukses, bukan sukses itu sendiri. Misalnya kita baru akan sukses jika sudah memiliki uang dalam jumlah tertentu, memiliki barang tertentu, atau ada dalam konsisi tertentu. Maka mulailah Anda mencari sukses diluar sana. Mulailah Anda menempuh perjalanan mencari harta karun Anda. Siang jadi malam, malam jadi siang, Anda sibuk kesana kemari, tapi kok Anda merasa tidak kunjung "sukses". Saking sibuknya Anda mencari di dunia luar Anda, sampai Anda lupa bahwa barangkali yang Anda cari2 sebenarnya sudah ada di dalam diri Anda.

Jika Anda mendefinisikan sukses sebagai kepemilikan atas benda atau situasi yang melingkupi Anda, maka sikap yang oleh Deepak Chopra dalam "Seven Spiritual Laws of Success" disebut sebagai "object-referral" tadi justru akan membelenggu Anda dengan kebutuhan pengakuan, kebutuhan untuk menguasai, kebutuhan untuk mengendalikan, dsb, yang semuanya akan berujung pada ketakutan. Ketakutan akan kehilangan, ketakutan tidak diakui, ketakutan tidak bisa memiliki, dan berbagai ketakutan lain yang semuanya bersumber pada object2 di luar diri Anda. Padahal object2 di luar diri Anda semuanya adalah hal yang semu. Hari ini ada, besok bisa lenyap tidak ada. Hari ini bisa begitu istimewa, besok tidak ada artinya. Anda akan frustasi jika mengejar sesuatu yang semu seperti itu.

Jadi dari mana memulai sukses Anda? Semua sudah ada dalam diri Anda. Diri Anda yang sejati adalah sukses itu sendiri. Master your mind, master your destiny, kalau kata Adam Khoo, sukses adalah mindset, kata Jennie S. Bev, change your thinking, change your life, kata Brian Tracy, change what's going on inside your mind, kata Bob Proctor. Semua guru sukses menyerukan hal yang sama. Mulailah dari dalam diri Anda. Kalau sukses sudah ada dalam diri Anda, artinya Anda tidak perlu mencari sukses, atau mencoba untuk sukses. Anda bisa "menjadi" sukses, "be success", saat ini juga.

Namun sukses yg ada dalam diri Anda tadi bagaikan harta karun yg tertutup rapat di dalam peti pikiran Anda. Sementara Anda sibuk mencari harta karun di luar sana. Ia tersembunyi bagaikan "hidden treasure" yang menunggu dengan setia. Menunggu Anda untuk segera tersadar dan membuka kunci sukses Anda. Pada saat pikiran dan perasaan Anda menyatakan bahwa Anda "be" sukses. Maka Anda sudah memutar kunci untuk membuka kesuksesan Anda. Dan jadilah Anda sukses.

Cukup sampai disitu? Tentu tidak. Setiap saat, jika tidak berhati-hati, maka Anda akan kembali memenjarakan kesuksesan Anda kedalam peti harta karun tadi. Paling tidak ada empat hal yang harus Anda jaga supaya Anda selalu membawa sukses beserta Anda.

Pertama adalah pikiran. Jaga pikiran Anda sebagaimana orang sukses berpikir. Orang sukses selalu berpikir tentang peluang, opportunity dan harapan. Orang yang sukses pikirannya diisi dengan optimisme masa depan. Orang yang sukses selalu meluangkan waktu untuk memikirkan rencana nya di masa mendatang, memvisualisasikan apa yang ingin diwujudkannya di masa mendatang. Pikiran orang sukses terus diisi dengan ilmu-ilmu baru untuk meningkatkan kualitas dirinya. Orang sukses tidak pernah mengisi pikirannya dengan hal-hal diluar kendali nya, seperti kejadian2 yang berlangsung di masa lalu, kejadian yang tidak berkenaan dengan dirinya seperti gossip, kehidupan orang lain, dsb.

Yang kedua, adalah perasaan. Perasaan orang sukses dipenuhi dengan rasa syukur atas apa yang telah ia terima dan yang akan ia terima. Ya, bahkan ia telah mensyukuri apa yang baru akan dia terima. Karena perasaanya dipenuhi oleh keyakinan, bahwa apa yang sedang ia upayakan ditakdirkan untuknya, dan ia bersyukur untuk itu. Perasaannya juga jauh dari kebencian dan prasangka. Ia tidak pernah iri dengan sukses orang lain, karena tahu ia juga sukses. Hatinya diluputi dengan cinta, karena ia tahu bahwa yang ia lakukan adalah perwujudan dari rasa cinta. Cinta nya pada Rabb-nya, dan kepada orang-orang yang disayanginya.

Yang ketiga adalah perkataan. Mulai sekarang berkata-kata lah seperti orang sukses. Pelajari bagaimana orang sukses berbicara, dan lakukan hal yang sama. Orang yang sukses tidak akan pernah mengucapkan kata-kata yang pesimis. Yang keluar dari mulutnya adalah semangat dan ucapan-ucapan yang membesarkan hati. Orang sukses tidak akan mengeluarkan kata-kata yang merendahkan diri nya atau orang lain. Orang sukses selalu menggunakan kalimat yang positif dan membesarkan hati, baik untuk dirinya sendiri atau orang lain.

Kemudian yang terakhir adalah tindakan. Melalui tindakan, orang sukses mengalami sukses nya. Tindakan seperti apa yang dilakukan orang sukses? Mereka akan selalu take action begitu ada peluang. Mereka aktif menyambut rejeki yang sudah menjadi miliknya. Mereka menikmati setiap tindakan sebagai ekspresi dari sukses nya. Mereka berbagi kepada sesamanya, mereka ringan tangan membantu yang membutuhkan. Mereka sadar bahwa setiap tindakan mereka, adalah manifestasi kesuksesan.

Dengan empat hal tadi, insyaAllah sukses Anda yang ada dalam diri Anda akan mewujud dalam hal-hal diluar diri Anda. Anda akan menarik kedalam hidup Anda setiap kejadian, situasi, orang, benda, yang merupakan buah dari sukses Anda. Dan pada saat itu terjadi, orang sukses akan tetap tenang dan terus menjalankan empat hal diatas. Karena orang sukses sudah mencapai tahap "tidak bersedih terhadap apa yang lepas dari tangan mu, dan tidak bangga terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu". (FR)

Thursday, May 03, 2007

Asset atau Net Worth?

Saya lagi ingin menulis topik yang membosankan. Apalagi kalau bukan dunia keuangan. Membosankan tapi kok ya penting. Jadi OK lah saya tulis aja. Kali ini tentang perbedaan Asset dan Net worth. Sering kita mendengar ungkapan, wah hebat assetnya meningkat dua kali lipat, dsb. Ini sejak lama menggelitik saya. Kenapa asset yang jadi perhatian? Bukan net-worth?

Atau Anda mungkin pernah dengar istilah "high net-worth individuals"? Dalam Bahasa Indonesianya kurang lebih adalah "para individu dengan kekayaan bersih yang tinggi". Kurang enak didengar memang. Jadi kita sebut saja high net worth individuals, disingkat HNWI. Kalau Anda sering berinteraksi dengan orang-orang di dunia jasa keuangan, pasti Anda pernah mendengarnya. Ya, kaum HNWI ini adalah orang-orang yang biasanya diburu oleh para penyedia layanan perbankan investasi, private banking, priority banking, maupun bentuk investasi lain seperti deposito, reksadana, forex ataupun saham. Mengapa mereka? Ya, karena mereka memiliki kekayaan bersih (net-worth) dalam jumlah yang relatif tinggi dibanding anggota masyarakat pada umumnya.

Kalau Anda cukup jeli, mungkin Anda akan bertanya-tanya, mengapa kriterianya adalah "net-worth", bukan "asset"?. Bukankah asset adalah kekayaan. Bukankah yang termasuk di dalam kelompok "Asset" adalah kas, investasi2 dalam bentuk tabungan deposito, dsb maupun investasi dalam harta tetap seperti tanah dan bangunan. Jadi, semesti nya kalau ingin mencari orang dengan kekayaan dalam jumlah besar, lihat saja asset-asset nya. Tentu ini bukan masalah istilah semata, namun memang ada perbedaan yang signifikan antara individu dengan banyak asset dengan individu dengan banyak net-worth.

Demikian juga ketika banker menganalisa suatu perusahaan, mereka tidak akan terlalu terpesona dengan ungkapan debitur "asset kami meningkat sekian persen", dst. Karena peningkatan asset belum tentu memiliki pengertian positif.

Sumber Asset

Mari kita bicara sedikit tentang prinsip akuntansi. Dalam neraca, seluruh kekayaan dicatat dalam kelompok asset yang berada di sebelah kiri, dan kewajiban dan modal dicatat di sebelah kanan. Sesuai namanya, "neraca" atau balance sheet. Akuntasi menganut pencatatan dua sisi, maka kita juga harus mencatat lawan atau yang menjadi sumber penambahan dan pengurangan kekayaan tadi. Lebih jelasnya pakai contoh saja:

Misalnya Anda mendirikan sebuah unit usaha dengan modal Rp.100 ribu, maka "kas" Anda, yang termasuk dalam kelompok asset akan bertambah Rp.100 ribu. Dan, Anda juga harus mencatat lawan yg menjadi sumber dari kas tadi dalam hal ini "modal disetor" sebanyak Rp.100 ribu. Jadi kelompok asset yang berada di sebelah kiri neraca akan balance dengan kelompok liabilities yang ada di kanan neraca.

Kemudian ternyata untuk menambah modal kerja, Anda meminjam uang Rp. 500 ribu dari paman Anda, maka kini "kas" Anda bertambah 500 menjadi Rp.600 ribu. Dan jangan lupa, catat juga lawan yg menjadi sumber dari kas tadi adalah "hutang" yang ada di kelompok liabilities, sebesar Rp.500 ribu. Jadi kini total asset Anda yg ada di sebelah kiri neraca adalah Rp.600 ribu dalam bentuk kas, dan total liabilities Anda disebelah kanan adalah Rp 600 juga yaitu Rp.500 dari hutang + Rp.100 ribu dari modal disetor.

Jadi, sumber asset dalam hal ini ada dua, dari modal, atau dari hutang. Kalau ingin mengetahui jumlah kekayaan bersih (net-worth), kurangkan saja nilai asset dengan jumlah hutang. Disitulah nilai kekayaan yang sebenarnya. Jika Anda ingin mengetahui nilai saham suatu perusahaan, Anda juga bisa menggunakan cara yg sama. Net-worth dibagi jumlah lembar saham. Inilah yang disebut sebagai nilai buku saham.

Lho bukankah dalam usaha semakin tinggi asset, semakin bagus? Belum tentu. Lihat dulu dari mana sumber assetnya. Jika dari hutang, maka Anda harus analisa dulu tipe hutangnya. Kalau semua terdiri dari hutang liquid yg harus dibayar kurang dari satu tahun. Sementara asset yang bertambah adalah harta tetap yang tidak liquid, maka kondisi nya justru mengkhawatirkan. Selain itu kualitas Asset juga harus diperhatikan. Asset yang tidak likuid dan tidak marketable tentu lain dengan asset yang likuid dan mudah diperjual belikan. Apalagi kalau assetnya tidak produktif. Harusnya malah di write-off.

Sumber Net-worth

Nah, supaya lebih paham, kita juga harus menganalisa darimana datangnya net-worth? Tadi di awal kita tahu bahwa sumber nya adalah modal disetor. Tapi tidak berhenti di situ. Selama usaha berjalan, Anda seharusnya menghasilkan profit. Dalam akuntansi, profit ini tidak dicatat di neraca tapi di Laporan Rugi Laba (Profit and Loss statement). Pencatatannya adalah dari hasil penjualan, dikurangi harga pokok penjualan (cost of goods sold), eits, sebentar, ada pembaca yg mungkin awam nih, apa pula HPP ini? Singkatnya ini adalah biaya yg Anda keluarkan untuk pengadaan barang yg Anda jual. Gampangnya lagi barang tersedia dijual dikurangi persediaan, itulah HPP Anda.

Nah penjualan dikurangi HPP ini adalah laba kotor Anda. Dikurangi biaya operasional maka akan ketemu laba bersih sebelum bunga dan pajak (earnings before interest and tax). Kurangkan lagi dengan pajak dan beban bunga, ketemu net profit. Nah mau dikemanakan profit Anda ini, misalnya Anda tidak apa-apakan keuntungan Anda dan akan dipergunakan untuk usaha lagi, maka dia menjadi laba ditahan (retained earnings). Nah, retained earnings ini lah yang baru boleh dicatat di sisi neraca, menambah posisi modal. Lawan nya di sisi asset adalah penambahan Kas. Dengan kata lain, laba ditahan memiliki kontribusi positif terhadap peningkatan Net-Worth.

Jadi Apa Maknanya?

Pertumbuhan usaha memang dapat kita lihat dari pertumbuhan asset. Namun harus diperhatikan sumber pertumbuhan asset tadi. Jika sumbernya adalah hutang, maka kita harus perhatikan rasio perbandingan antara hutang dan modal. Debt to equity ratio yg terlalu tinggi memiliki risiko yg lebih besar, karena hutang mengakibatkan cash-outflow di masa mendatang, baik dalam bentuk cicilan pokok maupun bunga. Beban bunga, adalah komponen yg akan mengurangi net profit, yg pada gilirannya menurunkan nilai "net-worth". Tanpa diikuti dengan pertumbuhan pendapatan (revenue) dari operasi usaha, maka dapat diduga usaha yg mengalami "pertumbuhan asset" tadi justru akan segera menghadapi masalah.

Jadi, saran saya bagi mereka yg tergila2 dengan pertumbuhan asset, perhatikan net-worth Anda. Semoga dengan demikian Anda akan cepat masuk dalam kelompok High Net Worth Individuals. Atau sudah ya?

Brad

Nama lengkapnya Bradley J. Sugars. Panggilannya Brad. Umurnya 36 tahun, sama dengan saya. Mungkin seharusnya saya dulu di kasih nama Brad juga. Karena sepertinya yg namanya Brad kok beruntung sekali. Ada Brad Pitt yang ganteng, terkenal dan jago akting. Sekarang ada Brad Sugars, ganteng juga, terkenal, dan jago bisnis. Kemarin tanggal 2 Mei 2007 Brad yg ke-2 ini sempat mampir ke Jakarta untuk bagi-bagi ilmu bisnis dalam acara yg diberi judul "Billionaire in Training", sesuai salah satu judul bukunya. Saya bersyukur sempat menghadiri, meski gak kebagian tandatangan dan foto bareng. Tapi gak penting lah, saya toh mengagumi pemikirannya, bukan fisiknya.

Sebetulnya bagi yang pernah baca buku-buku Brad, apa yang dia sampaikan pasti tidak asing lagi. Namun, dengan gaya penuturan yang asik, mendengar Brad nya sendiri yang ngomong jadi lebih berkesan. Yang pertama, Brad mengingatkan tujuan kita semua dalam berbisnis, bahwa kita berbisnis adalah untuk: "bekerja sekali, namun mendapatkan hasil selamanya". Ini berlawanan dengan kerja sebagai karyawan, dimana kita mendapat hasil sesuai dengan kerja kita. Hal ini dapat dicapai apabila kita mampu merubah sumber income kita yg semula adalah "active income" menuju "passive income". Bagaimana caranya? Menurut Brad, untuk dapat "bekerja sekali, namun mendapatkan hasil selamanya" cara terbaik adalah dengan memiliki bisnis (selain menulis buku tentunya … hehehe, yg ini dia ucapin setengah becanda, wong dia penulis) Namun kenapa banyak business owner yang gagal? Menurut Brad mereka tidak menerapkan prinsip LEARN before you EARN. Jadi belajar lah lebih dahulu, sebelum menuai hasilnya. Caranya? Salah satu nya adalah … ya baca buku nya Brad … hehehe. Sehingga nanti nya sebagai bisnis owner kita tidak sekedar dapat MAKE the money tapi juga MANAGE the money.

Disinilah kemudian Brad memaparkan tangga entrepreneur nya yang terkenal itu: Di anak tangga paling bawah, ada pelajar dan pemagang (apprentice), mereka yang masih spend money ataupun tidak terima apa-apa untuk learning. Ketika mereka akhirnya bekerja menjadi EMPLOYEE, barulah mereka dibayar untuk belajar. Ini kalau cara berpikir mereka betul bahwa bekerja adalah sarana belajar sebelum dapat membangun bisnis sendiri. Di tangga berikutnya adalah para SELF EMPLOYEE, mereka yang akhirnya memutuskan untuk mengelola bisnis sendiri. Umumnya, pada tahap awal mereka adalah para single fighter. Mengerjakan sendiri semua hal dari produksi hingga penjualan. Akhirnya kadang mereka menjadi lebih sibuk dibanding ketika menjadi karyawan. Banyak yang akhirnya tidak tahan dan kembali menjadi karyawan. Jika cukup pandai mengelola usaha, para self employee tadi, biasanya akan bertahan dan mulai merekrut tim, sehingga mereka naik tangga menjadi MANAGER. Pada tahap ini, kadang kehidupan menjadi lebih kompleks dari sebelumnya. Karena para manager ini sering harus kerja keras untuk menggaji karyawan, bukan sebaliknya. Jika berhasil mengatasi tantangan ini, mereka bisa menciptakan system dan membayar orang lain untuk mengelola bisnis, maka mereka layak naik tangga menjadi BUSINESS OWNER. Seharusnya, pada level ini business berjalan sesuai dengan definisi bisnis menurut Brad: A commercial, profitable enterprise, that work without me. Dengan menjadi business owner, maka Anda akan menciptakan cashflow yang banyak dan stabil, apakah Anda terlibat langsung atau tidak, sehingga Anda bisa naik tingkat menjadi INVESTOR. Pada tingkat investor ini, Anda dapat melipatgandakan kekayaan dengan cara yang FUNtastic. Selanjutnya? Sabar … waktu itu saya jg tdk sabar sampai ingin berteriak …. Caraanya Braad ….!

Eh, Brad Sugars malah cerita bagaimana waktu dia kecil. Ternyata bakat bisnis Brad sudah terlihat dari umur 7 tahun. Waktu itu, dia pergi ke rumah kawan Ayahnya yang sangat kaya. Dia adalah seorang pengusaha di bidang susu sapi. Brad kecil pun bertanya:"Pak, bagaimana sih Anda bisa begitu kaya?". Kawan Ayahnya menjawab:"Nak, saya kaya bukan karena menjual SUSU, tapi menjual BISNIS SUSU". Ini merupakan moment AHA saya malam kemarin. Ya, seharusnya selama ini saya berpikir bagaimana menjual BISNIS saya, bukan produk dan jasa saya semata. That's what its all about. McD besar bukan karena jualan burger sama ayam, tapi karena jualan BISNIS burger dan ayam. Demikian juga dengan Starbuck, Kebab Turki Baba Rafli, AutoBridal, dan sebagainya. Semua menjadi besar karena menjual BISNIS. Wah, saya langsung keringetan. Brad … Brad, kok pinter amat sih kamu.

Bahkan, sebagai investor, Anda dapat membeli BISNIS, selain menciptakan dari awal. Kita dapat menerapkan prinsip Buy, Build and Sell. Dengan pengetahuan yang diperoleh selama proses LEARN sewaktu kita mendaki tangga EMPLOYEE hingga OWNER, kita akan mampu melakukan ini. Selain BISNIS, investor juga dapat melakukan investasi pada PROPERTY dan STOCK (saham). Prinsip membeli bisnis, investasi pada property maupun stock, dapat dilakukan dengan cara RETAIL, maupun WHOLESALE (dengan volume tertentu dengan harga negosiasi yang lebih baik). Misalnya investasi pada property dan stock dapat dilakukan dengan harga yang sangat fantastis, sehingga investor dapat langsung untung pada waktu pembelian dilakukan (day one).

Ada beberapa prinsip dasar yang disampaikan oleh Brad dalam membeli, membangun dan menjual bisnis. Yang pertama adalah, ketika semua orang menggali emas, jadilah orang yang menjual alat nya (pan nya). Penggali emas bisa untung dan buntung, tapi penjual pan akan untung terus. Prinsip ini contohnya berlaku ketika booming internet. Dari berbagai perusahaan teknologi yang muncul dan tenggelam, yang untung adalah para investment bankernya. Selain itu dalam memilih bisnis, kita harus memperhatikan aspek "repeat business" dan potensi pertumbuhan bisnis nya. Jangan ragu dalam penentuan pricing. Be expensive, supaya profit terjamin. Ini penting, karena salah satu aspek yg vital dalam bisnis adalah cashflow nya bukan assetnya. Jadi yang dibeli dari suatu bisnis adalah cashflow bukan assetnya semata.

Jika Anda mampu mencapai tahap INVESTOR ini, maka Anda tinggal selangkah lagi untuk mencapai puncak tangga yaitu: ENTREPRENEUR. Jika INVESTOR masih berkutat pada jual beli asset fisik. Maka ENTREPRENEUR sudah mampu bergerak dalam tataran "PAPER ASSETS". Sebagai contoh, Brad menjual lisensi franchise nya untuk kawasan London senilai jutaan poundsterling. Berapa cost nya? NOL. Paling2 ongkos ngeprint kontraknya. Disinilah dahsyatnya ENTERPRENEUR sejati. Mereka bekerja dengan kertas untuk menghasilkan uang dalam jumlah yang luar biasa besar. Tandatangan sana, tandatangan sini, dan rekening bertambah. Hebat bukan? Anda mau? Pasti Anda juga bisa.(fr)

Monday, April 30, 2007

26 April

Selamat ulang tahun sayang. Tidak terasa kamu sekarang sudah 11 tahun. Rasanya baru kemarin Ayah menunggu Bunda semalaman menahan sakit menjelang kelahiran kamu. Rasanya baru kemarin Ayah mendengar tangisan pertama kamu yang keras membelah pagi subuh di Bandung yang sepi dan dingin. Rasanya baru kemarin, Ayah melihat untuk pertama kalinya wajahmu yang bercahaya kemerahan. Waktu itu Ayah langsung tahu, kamu istimewa.

Dan kemudian, Ayah pun melewati 11 tahun yang sangat luar biasa. Menyaksikan betapa kehadiran kamu selalu membawa keceriaan. Kamu pasti ingat foto-foto masa kecil kamu. Atau video kamu waktu nyanyi dirumah Kakung yang lucu banget itu. Kamu perhatikan deh, semua orang disekitar kamu melihatmu dengan takjub, dan tertawa. Kamu adalah keajaiban buat kita semua.

Kamu juga penghayal yang hebat. Dulu, waktu kita masih tinggal di rumah pertama kita yang kecil mungil. Kamu sering menepuk2 lantai rumah kita, sambil berkata :"cepat besar ya rumah …". Ah, rupanya kamu waktu itu kepengen punya rumah yang lebih besar. Dan kamu pikir rumah bisa tumbuh seperti tanaman. Tapi kamu memang benar. Putri secantik kamu, bagaimana mungkin tinggal di kamar sempit. Karena kamu ingin rumah yang lebih besar, bagaimana Ayah bisa menolak? Kamu begitu istimewa. Sementara, gaji Ayah waktu itu, meskipun lumayan, kalau ditabung-tabung mungkin baru 20 tahun lagi bisa membelikan kamu rumah yang lebih besar. Waktu itu Ayah langsung berpikir, bagaimana caranya?

Seolah petunjuk dari Tuhan, Ayah waktu itu melihat iklan sebuah buku di koran, judulnya "Rich Dad – Poor Dad". Isinya provokatif. Ayah langsung ke toko buku, membeli buku tadi, selain tentu majalah Princess buat kamu. Ayah betul-betul kaget dengan isi buku tadi. Apa yang selama ini Ayah cita-cita kan seolah dijungkir-balik kan sama Pak Robert yang ngarang buku tadi. Semula, Ayah ingin jadi CEO perusahaan multinasional. Kelihatannya sangat mungkin, melihat prestasi kerja Ayah waktu itu. Namun, ternyata kalau Ayah jalani, itu sama saja seperti tikus yang terjebak berlari-lari dalam sebuah roda. Nanti Ayah akan semakin sibuk dan gak sempat main dengan kamu. Belum lagi rumah besar kamu bagaimana? Ayah pun semakin penasaran. Bagaimana caranya?

Jadilah Ayah waktu itu makin sering ke toko buku. Ternyata banyak buku yang membahas bagaimana mencapai keberhasilan. Ayah beli satu demi satu. Tentu, selain majalah Princess buat kamu. Ayahpun jadi yakin, bahwa kita bertanggungjawab atas masa depan kita sendiri. Ayah sangat yakin bisa mewujudkan masa depan yang lebih baik. Ayah merasa harus segera melakukan sesuatu. Ayah tidak mau ragu-ragu. Waktu itu, segera Ayah putuskan untuk keluar dari pekerjaan dan membuat usaha sendiri. Waktu itu ucapan kamu yang Ayah ingat adalah: "wah Ayah jadi bos ya!" Terimakasih Nak. Kamu sudah mengapresiasi langkah Ayah.

Nak, ternyata kemudian Allah memberikan pelajaran berharga buat Ayah. Bahwa sekalipun kita merasa kuat atau hebat. Tidak selamanya apa yang kita rencanakan akan terjadi. Kecuali atas izin Allah. Rencana-rencana Ayah waktu itupun banyak yang tidak berjalan dengan baik. Sementara Bunda, Kamu dan Ade harus sudah kembali ke Bandung, karena Bunda kembali bekerja di sana. Jadilah kita harus terpisah. Malam-malam yang Ayah lalui adalah malam-malam yang sangat berat. Tanpa kehadiran kalian, dengan tekanan pekerjaan yang ternyata lebih berat dari yang Ayah kira. Tidak jarang Ayah menjadi ragu dan takut. Tapi setiap kali Ayah pulang ke Bandung dan melihat kamu dan Ade menjalani kehidupan, Ayah mendapat banyak pelajaran. Kalian selalu ceria, selalu tertawa, dan seolah tidak ada tempat bagi kesedihan dan ketakutan di hati kalian. Ayah pun jadi ingin seperti kalian. Kalianlah yang membuat Ayah tidak pernah memutuskan untuk menyerah.

Alhamdulillah, perlahan usaha Ayah berjalan sesuai rencana. Dan, seperti keinginan kamu, Ayah dan Bunda bisa membuat rumah yang lebih besar dari rumah kita dulu. Tepatnya enam kali lebih luas dari rumah kita dulu. Dan kamu punya kamar sendiri yang luas. Rumah kita memang untuk kamu sayang. Kamu bisa nonton Disney Channel kesukaan kamu, bisa browsing website idola kamu sepuas hati kamu. Dan cuma 20 menit ke sekolah kamu.

Ah Nak, kamu sudah 11 tahun. Dan semakin banyak saja kejutan buat Ayah. Entah apa yang ada di benak kamu sekarang. Kamu bahkan sudah tertarik nonton film the Secret, entah kamu paham atau tidak. Yang jelas kamu sangat terpesona dengan adegan anak yang menginginkan sepeda itu kan? Kamu juga diam2 mengambil dan mencoba membaca buku the Secret. Kamu juga sudah baca buku pemberdayaan anak-anak yang sangat luar biasa, "the Power of One" dari James Lee Valentine. Wah nak, Ayah tidak bisa membayangkan, kehidupan separti apa yang akan kamu jalani kelak. Pasti sangat luar biasa. Jaman memang sudah sangat berubah. Ayah perhatikan teman2 dekat kamu juga orang tua nya kebanyakan wirausaha seperti Ayah. Ada yang punya toko komputer, toko pakaian jadi. Ah, kamu dan teman-teman kamu ada di lingkungan yang luar biasa.

Makanya, Nak. Terus miliki ceria dan keberanian yang selalu Ayah lihat di mata bening mu itu. Sebentar lagi kamu akan ujian SD. Tapi kamu tidak usah terlalu pikirkan nilai kamu. Lakukan saja yang terbaik, dengan kejujuran dan keyakinan. Berapapun hasilnya, Ayah akan selalu bangga. Kamu juga tidak usah terlalu takut tidak keterima di SMP favorit. InsyaAllah kamu toh nanti tidak akan melamar pekerjaan. Justru kamu akan menciptakan pekerjaan. Ayah sudah baca coretan2 di buku mimpi mu. Luar biasa Nak. Beyond my dreams. Ayah yakin, kamu sedang menuju kesana. Amin.

Salam sayang,

Ayahnya Sasha.

Sunday, April 29, 2007

The Power of No

Waktu kecil mungkin Anda pernah menemani Ibu Anda ke pasar tradisional. Ingatkah Anda bagaimana Ibu-ibu kita jaman dulu menawar harga? Saya tahu, kalau Ibu-ibu jaman sekarang lebih sering berbelanja ke supermarket, yang harga nya tidak bisa ditawar. Garis besarnya pasti sama: Pertama, tawar setengah harga atau bahkan kurang, kemudian penjual akan mengatakan "TIDAK", dan menawarkan harga sedikit di bawah harga awal, kemudian Ibu kita juga akan mengatakan "TIDAK" dan pura-pura pergi meninggalkan kios, dan lima langkah kemudian sang penjual akan memanggil dengan meneriakkan harga terakhir (biasanya sedikit di atas harga yg ditawar Ibu), baru Ibu kita berbalik untuk mengatakan "YA", mungkin karena hari mulai siang. Kalau masih pagi, tawar2 an tadi bisa berlangsung lebih alot, berpindah dari kios ke kios. Anda mungkin berpikir bernegosiasi harga cara Ibu kita tadi kuno. Jangan salah, justru ditengah-tengah ratusan teori negosiasi modern, ternyata negosiasi a la Ibu-ibu di pasar tradisional tadi adalah yang paling efektif. Setidaknya demikian kata Jim Camp dalam buku nya "Start with NO".

Jim Camp menyarankan agar kita tidak terlena pada jargon "win/win" yang sering dikemukakan perusahaan besar sewaktu bernegosiasi dengan perusahaan yang lebih kecil. Kenyataannya, kesepakatan-kesepakatan yang dihasilkan dari pendekatan "win/win" tadi hanya bertujuan menguntungkan perusahaan besar. Disinilah perusahaan kecil harus waspada menghadapi permainan para "pemangsa" dari perusahaan yang lebih besar. Dan itu dapat dicapai dengan memulai dengan kata TIDAK. Seperti Ibu kita di pasar dulu.

Camp mengidentifikasikan dua kelemahan yang umumnya kita miliki sewaktu melakukan negosiasi:

Pertama: Anda terlalu membutuhkan. Ya, sadarkah Anda bahwa ketika melakukan negosiasi, seringkali kita kita datang dengan "mu-peng", muka-pengen. Saya juga sering begitu. Bahkan sewaktu berangkat sudah kepikiran: "udah deh, mau ditawar berapa aja gw iya – in". Bagaimana tidak, kontrak sudah terbayang-bayang, asik … rekening bakal nambah, bisa nutup operational cost sekian bulan, bisa beli ini-itu, wah … pokoknya harus saya yang dapet. Belum lagi ketakutan kalau ada kompetitor yang masuk. Kita tidak siap menerima kenyataan kalau kesepakatan akan batal. Maka tidak jarang, ketika kita menyampaikan penawaran harga, dan calon klien kita setelah membacanya terlihat berkerut dan terbatuk2. Langsung saja kita berkata: "Mmm .. ngomong2 harga nya bisa di nego kok Pak …". Mungkin kliennya sampai heran sendiri, lho wong belum ditawar kok sudah mau nurunin harga? Menurut Jim Camp, dalam kondisi demikian Anda sudah menganggap kontrak yg ingin Anda dapatkan menjadi sebuah kebutuhan, bukan sekedar keinginan. Dan kalau sudah butuh, Anda siap berkorban apa saja. Mulai dari margin yang sangat tipis, hingga resources yg lebih banyak. Tidak jarang, setelah dihitung-hitung Anda bahkan sebenarnya rugi. Anda tentu tidak mau bernegosiasi untuk rugi. Jadi buang jauh2 "mu-peng" Anda. Gampangnya ingat saja Ibu Anda yg "pura-pura" tidak butuh dan meninggalkan kios waktu menawar.

Kedua: Anda terlalu "sempurna". Tahun 70-80 an, TVRI pernah memutar film detektif Mr. Columbo. Wah, mungkin Anda belum lahir, atau sudah tidak ingat. Jangan dibayangkan ini adalah detektif ganteng dan jagoan seperti tipikal film Hollywood. Mr. Columbo ini tidak gagah atau ganteng, justru dekil, naik mobil butut, memelas, dan sering lupa mengajukan pertanyaan kunci. Pokoknya "katro" habis. Namun berhadapan dengan orang dalam posisi "di bawah" seperti ini, orang merasa nyaman berbicara. Dan Mr. Columbo sangat gampang mendapat informasi. Dalam bisnis kita sering berusaha memberikan kesan hebat, sehingga berusaha tampil "hebat". Padahal orang cenderung merasa baik, justru ketika melihat orang lain kurang baik. Ini yang saya lupakan ketika mengawali bisnis saya. Dulu, jika melakukan presentasi, saya dan tim saya selalu berjas-berdasi, mirip the Beatles mau manggung. Dan hasilnya nol besar. Kini kami tampil apa adanya, tanpa jas, tanpa dasi, tak jarang saya hanya memakai kemeja lengan pendek. Tentu tetap rapih dan wangi, karena sudah bawaan. Ternyata kami malah bisa membuat banyak deal. Mungkin, para IT manager yang saya temui dulu tidak nyaman berbicara dengan "the Beatles.

Dengan memperbaiki dua kelemahan tadi, kini Anda siap menerapkan teknik negosiasi yang diawali dengan kata TIDAK. Kedengarannya memang kontroversial, namun sebenarnya logis. Bagi Jim Camp, negosiasi merupakan kesepakatan antara dua pihak, dimana masing-masing pihak memiliki hak veto - hak untuk berkata TIDAK. Jadi justru kita harus berawal dari kata TIDAK, sebelum kemudian menggali hal-hal yang bisa disepakati. Memulai dengan TIDAK artinya kita berorientasi kepada keputusan. Yang justru akan membuat negosiator lawan Anda langsung berpikir pada pokok persoalan, bukan yang lain. Karena dorongan emosi dan kebutuhan, seringkali kita akan langsung berkata "YA" di depan. Sambil membayangkan keuntungan, komisi, atau BMW baru yang akan Anda beli. Dalam keadaan demikian, negosiator ulung di depan Anda akan langsung menyodorkan berbagai "JIKA … "yang akan segera membelenggu Anda. Memulai dengan TIDAK bukan untuk mengorbankan siapapun, termasuk lawan Anda, namun justru untuk mendapatkan keputusan yang logis.

Tentu bukan berarti setelah Anda berkata TIDAK, lantas berhenti. Semua negosiasi tentu ujungnya adalah kesepakatan kedua belah pihak. Langkah-langkah selengkapnya menurut Jim Camp cukup panjang, seperti: menetapkan tujuan; bagaimana menggali dan menggunakan "pain" lawan,; bernegosiasi dengan bujet waktu, tenaga, uang dan emosi; hanya bernegosiasi dengan orang yang berwenang; hingga bahaya melakukan presentasi (waduh, saya baru tahu!). Namun, saya ingin memberikan catatan pada beberapa poin yang menurut saya sangat menarik:

Ajukan Pertanyaan. Awal berbisnis dulu, (eh, sejujurnya bahkan mungkin sampai sekarang), saya sering mengira bahwa dalam negosiasi, kita harus dalam posisi dominan. Dan itu artinya mendominasi pembicaraan. Ternyata pengalaman mengajarkan sebaliknya. Justru dengan sedikit bicara dan banyak bertanya, maka Anda dalam posisi mengendalikan. Banyak teknik yang diajarkan Camp. Diantaranya adalah "mengasuh". Dimana kita mengajukan pertanyaan dengan sikap yang membuat lawan merasa nyaman, didengarkan dan dihormati. Anda harus menjadi Mr. Columbo yang mengumpulkan informasi sebanyak mungkin.Informasi tadi yang akan sangat penting untuk mendukung langkah2 Anda selanjutnya.

Netralkan Pikiran. Ini menurut saya yang paling sulit buat pemula. Dorongan untuk segera "closing the deal", bisa mengacaukan pikiran kita. Tiga pantangan agar memperoleh pikiran yang tenang dalam bernegosiasi adalah: Jangan ber-ekspektasi (berharap), Jangan ber-asumsi, Jangan bicara:

Terlalu berharap, baik harapan positif ataupun negatif, dapat berbahaya. Negosiator ulung pandai mengumbar harapan yang menjebak. Salah satu umpan yang klise adalah: "saya minta harga untuk pembelian dalam jumlah banyak". Dan ketika Anda setuju,sekaligus membuka kartu berapa harga ter-rendah Anda, mereka akan mengorder dalam jumlah kecil, dengan alasan bahwa pembelian akan dilakukan parsial. Dan ingat, kapanpun mereka dapat membatalkan kesepakatan. Saya pernah mengalami hal semacam ini, dan ternyata menurut Jim Camp, di Amerika juga sering terjadi hal yang sama. Ber-asumsi juga jelas berbahaya, karena asumsi adalah sekedar asumsi, lebih baik Anda lakukan verifikasi untuk memperoleh realitas yang sebenarnya. Sebaiknya kerjakan riset Anda.

Bagaimana dengan "jangan berbicara". Maksudnya adalah, Anda sebaiknya sesedikit mungkin berbicara, apalagi kalau Anda tidak tahu mau berbicara apa, lebih baik tidak berbicara. Saya jadi teringat salah satu bagian dari novel Godfather karya Mario Puzo. Sewaktu Don Corleone berunding dengan Virgil Sollozzo. Don didampingi putra tertuanya Sonny, dengan satu perintah tegas: jangan berbicara. Don yang sudah kenyang asam garam perundingan tahu, bahwa setiap kata yang keluar dari mulut Sonny dapat berbahaya. Dan betul saja, ketika Don secara tegas mengatakan TIDAK, atas usulan Sollozzo, dan Sollozo tengah mencerna ucapan Don, Sonny tidak tahan untuk mengucapkan komentar. Sebuah komentar tak perlu yang mengungkapkan fakta bagi Sollozzo, bahwa ada kemungkinan perbedaan pandangan antara Don dan anaknya. Bahwa keluarga Corleone mungkin tidak se-solid kelihatannya. Dan di kemudian hari, Sollozzo pun berani bertindak. Don Corleone ditembak.

Demikianlah kekuatan kata TIDAK, menurut Jim Camp. Cukup menarik untuk diaplikasikan. Yang jelas kata TIDAK, menyebabkan orang berpikir tentang poin apa yang menyebabkan dia ditolak. Saya ingin menutup catatan ini dengan sebuah cerita yang sangat relevan:

Ada seorang anggota US Marine (AL) yang bertugas untuk merekrut lulusan2 terbaik dari salah satu sekolah di Amerika. Anggota US Marine tadi mendapat giliran terakhir untuk melakukan presentasi, setelah anggota US Air Force (AU) dan US Army (AD). Ternyata dua presentasi sebelumnya telah menghabiskan sebagian besar waktu yg tersedia. Akhirnya sang perwira AL, yang tinggal memiliki waktu tidak lebih dari 5 menit tadi hanya mengatakan: "Maaf, Saya TIDAK melihat banyak kandidat yang bisa saya rekrut disini. Saya perhatikan paling banyak hanya 5 orang yang pantas menjadi anggota US Marine. Jika Anda merasa salah seorang diantaranya, hubungi saya setelah ini." Dan, sebagian besar siswa pun akhirnya melamar menjadi anggota US Marine!

Wednesday, April 18, 2007

Bisnis atau Kerja Bakti?

Anda pernah kerja bakti? Kerja bakti itu budaya yg bagus. Selain menambah keakraban antar peserta, kerjabakti dapat menyelesaikan banyak persoalan bersama. Kadang-kadang kerja bakti cukup melelahkan. Kita harus kerja keras berjam-jam untuk kepentingan bersama. Karena namanya juga kerja-bakti, maka Anda tidak boleh mengharap imbalan apa-apa atas kerja keras tadi. Karena memang tujuan kerja bakti bukan untuk mencari uang. Inilah beda nya kerja bakti dengan bisnis. Kalau dalam bisnis, kerja keras Anda tentu bukan for free. Namun banyak pelaku bisnis secara tidak sadar melakukan "kerja bakti", meskipun niatnya adalah berbisnis. Termasuk saya.

Saya dulu juga pernah mengalami kebingungan yang sama. Saya bekerja sangat keras. Dan karena saya bekerja sesuai passion saya di bidang IT, tentu saja saya sangat menikmati kerja keras saya. Tapi di kemudian hari, ketika tagihan2 masuk, saya lalu bingung mau membayar dengan apa. Ya, karena usaha saya waktu itu belum memberikan hasil financial yang berarti. Wah, kok jadi kerjabakti begini? Begitu dulu saya berpikir. Anda juga pernah mengalami hal yang sama? Anda tidak sendirian. Jadi mari kita sama-sama belajar untuk menjadikan bisnis kita bukan lagi kerja bakti.

Sebelumnya mari kita pahami dulu maksud dari "Bisnis" itu sendiri. Kalau menurut Brad Sugars, bisnis adalah suatu usaha komersial, yang menghasilkan profit, yang dapat berjalan tanpa kehadiran kita. Disini mulai jelas, usaha kita haruslah komersial (bukan LSM atau yayasan sosial), yang menghasilkan profit, dan bisa berjalan sendiri, meskipun kita sebagai owner tidak hadir. Sederhana kan? Jadi Anda tinggal lakukan saja self assessment sekarang, apakah bisnis Anda bisa berjalan dengan profitable, sekalipun Anda tinggal pergi jalan-jalan?. Belum bisa? Hahaha … sama dengan saya. Saya, juga masih menuju kesana. Memang kalau kata Brad Sugars, Anda harus menempuh perjalanan penuh disiplin untuk melalui 6 anak tangga menuju kondisi "bisnis terus jalan meski kita jalan-jalan" tadi.

Anak tangga yang pertama adalah Mastery. Ini merupakan penguasaan dasar yang akan membedakan bisnis Anda dari kerja bakti. Mastery yang akan membedakan apakah usaha Anda komersial atau mau jadi "yayasan sosial". Mastery memastikan bahwa kita melakukan delivery produk atau jasa kita dengan cara yang menguntungkan, produktif, dan cukup informasi untuk membuat keputusan penting. Yang harus Anda kuasai adalah:

1. Money Mastery. "Wah, kalau soal duit saya mah udah jago …" mungkin Anda berpikir begitu. Ya, membelanjakannya saya yakin Anda jago … hehehe. Bukan, disini bukan cuma soal membelanjakan uang. Tapi bagaimana Anda menguasai angka-angka keuangan Anda yang meliputi:

A. Break-Even. Yaitu mengetahui berapa jumlah penjualan, jumlah pelanggan, jumlah Rupiah, yang Anda perlukan untuk menutup angka break-even Anda. Sebelum tentunya ditambah prosentase untuk mendapat laba. Caranya mudah, Anda harus tahu dulu jumlah biaya bulanan yang Anda keluarkan untuk menjalankan usaha Anda. Kemudian Anda hitung untuk memperoleh Rupiah sejumlah biaya tadi, Anda perlu penjualan berapa besar. Nilai penjualan tadi Anda perkirakan dapat diperoleh dari berapa pelanggan, dan dengan rata2 penjualan berapa banyak.

B. Profit Margin. Nah kalau Anda sudah kuasai Break-Even mastery, dengan sendirinya Anda bisa set bujet untuk profit. Bahkan kalau usaha Anda retail, Anda bisa set bujet hingga bulanan, mingguan dan harian. Anda bisa tentukan berapa pelanggan per hari dengan rata2 nilai pembelian berapa, supaya Anda profit. Ujungnya disini adalah menentukan strategi-strategi untuk meningkatkan profit. Contoh strategi andalan untuk meningkatkan profit adalah "5 ways", dimana Anda dapat meningkatkan profit secara dahsyat dengan fokus pada 5 hal:
- Meningkatkan jumlah leads (calon pelanggan)
- Meningkatkan angka konversi (calon pelanggan menjadi pelanggan)
- Meningkatkan jumlah transaksi
- Meningkatkan rata2 nilai penjualan
- Meningkatkan margin

C. Reporting. Anda harus punya angka-angka penting Anda dalam laporan yang jelas untuk membantu pembuatan keputusan. Laporan membantu Anda memahami ada dimana posisi bisnis Anda.

D. Test and Measurement. Lakukan test dan pengukuran apakah strategi Anda berjalan dengan baik. Misalnya Anda melakukan strategi diskon untuk meningkatkan tingkat konversi. Anda harus catat dan ukur efektifitas strategi Anda. Sehingga apabila strategi diskon tadi ternyata tidak efektif meningkatkan tingkat konversi, Anda bisa segera ganti dengan strategi lain.

2. Delivery Mastery. Katakanlah Anda sekarang telah berhasil membuat calon pelanggan dan pelanggan antre untuk mendapatkan produk Anda. Apa jadinya jika Anda tidak konsisten dalam delivery Anda? Anda akan ditinggal dan mungkin mereka akan kapok. Kelangsungan dan konsistensi delivery produk dan jasa Anda akan menentukan apakah pelanggan Anda akan terus menjadi pelanggan Anda atau tidak. Bagaimana untuk memastikan anda konsisten dalam delivery. Gampang. Dengarkan pelanggan Anda. Apakah complain mereka? Kelompokkan dalam paling tidak 5 area complain, dan segera lakukan upaya perbaikan.

3. Time Mastery. Ini soal produktifitas. Produktifitas kita akan menentukan keberhasilan bisnis kita:

A. Goal Mastery. Pertama kita harus tahu sebenarnya usaha kita ini mau dibawa kemana. Anda harus punya:

Vision – Inspirasi utama kita, kemana kita akan menuju.
Mission – Bagaimana caranya mewujudkan visi kita: Bisnis kita apa, siapa tim kita, siapa pelanggan kita, apa yg membuat usaha kita beda dengan yg lain?
Culture Statements – Nilai2 yg penting bagi owner, tim member, pelanggan, dan keberhasilan bisnis. Yg menjadi aturan main bersama bagi Anda dan tim Anda.

Selanjutnya tulis tujuan2 Anda dan tonggak2 penting (milestone) yg akan membawa usaha Anda semakin dekat kepada Visi.

B. Self Mastery. Ini soal disiplin diri. Bagaimana supaya Anda tetap focus dengan cara membuat rencana kerja yg baik. Caranya? Coba lakukan time study sederhana. Berapa waktu yg Anda gunakan untuk bekerja setiap hari nya. Catat dalam waktu satu minggu. Kemudian tulis alokasi penggunaan waktu Anda. Berapa jam Anda menggunakan waktu Anda untuk berkomunikasi (email, chat, telp, etc), melakukan pekerjaan rutin, dsb. Anda akan kaget. Betapa banyak waktu yg kita gunakan secara kurang efektif. Anda kemudian bisa mengidentifikasi pekerjaan2 yang bisa Anda delegasikan, bisa Anda kurangi karena tidak penting dan sebagainya. Ujungnya adalah Anda akan bisa mendapatkan lebih banyak waktu yg bisa Anda gunakan untuk tugas penting seperti planning, ataupun kehidupan pribadi Anda dengan keluarga.

Nah, itu baru bahasan tentang Mastery. Panjang bukan? Kalau menurut Brad Sugars masih ada 5 anak tangga lagi yaitu: Niche, Leverage, Team, Synergy, dan Results. Wah masih jauh dong perjalanan? Tenang, tenang, ini gak sekaku hitungan matematis. Pelan2 terapkan saja dulu Mastery ini, Anda akan terbawa ke anak2 tangga berikutnya. Hingga Anda dapat menikmati usaha Anda sebagai Bisnis. Bukan kerja bakti.

Sunday, April 08, 2007

Bagaimana Membicarakan Bisnis Anda

Bisnis Anda apa sih? Anda pasti pernah mendapat pertanyaan seperti di atas. Entah Anda sedang arisan keluarga, reuni sekolah, atau sedang bersebelahan dengan kenalan baru di kereta. Pertanyaan demikian sering tiba-tiba muncul. Lalu apakah jawaban Anda? Seperti yang dikatakan Michael Port dalam buku “Book Yourself Solid”, saya yakin Anda akan menjawab dengan kategori profesi Anda, misalnya konsultan IT, pedagang pakaian jadi, internet marketer, pelatih fitness, dsb. Dan menurut Michael Port, itu ternyata salah.

Ya. Jawaban tadi bisa salah, karena bisnis Anda adalah lebih dari sekedar kategori profesi yang Anda sebutkan. Malah dengan menyebutkan kategori profesi, gambaran kabur tentang profesi Anda di benak lawan bicara Anda bisa2 membuat dialog Anda tidak menguntungkan. Michael Port memberikan ilustrasi menarik. Misalnya ada seorang pelatih Yoga, bertemu dengan seseorang yang mungkin memerlukan jasa latihan Yoga, namun pernah mengenal seorang instruktur Yoga yang kelakuannya kebetulan negatif. Apa yang terjadi ketika si pelatih Yoga mengenalkan diri dan menyebutkan pekerjaan nya: pelatih Yoga. Lawan bicara akan mundur teratur, jauh sebelum si pelatih Yoga sempat menceritakan apa manfaat berlatih Yoga.

Terus bagaimana seharusnya kita menjelaskan apa yang kita kerjakan? Michael Port dalam buku tadi menjelaskan langkah-langkah yang menurut saya sangat sederhana, praktis, tapi impact nya dahsyat:

Pertama, rumuskan secara baku, kalau perlu tuliskan dan hapalkan, hal-hal berikut ini:
1. Siapakah target market Anda?
2. Apakah masalah terbesar yang dihadapi target market Anda?
3. Bagaimana Anda memberikan solusi bagi target market Anda?
4. Sebutkan hasil dramatis yang pelanggan Anda peroleh
5. Sebutkan manfaat terdalam yang pelanggan Anda peroleh

Kedua, gunakan catatan baku tadi untuk menjawab pertanyaan “apakah bisnis Anda”. Rumus jawabannya begini:
“Tahukah Anda, bagaimana (1 - siapakah target market Anda) melakukan (2 - masalah terbesar). Yang saya lakukan adalah (3 - solusi Anda), sehingga mereka (4 - hasil dramatis). Sekarang klien saya (5 - manfaat terdalam)”.

Kalau kepanjangan Anda dapat menyingkat dalam versi yg lebih pendek. Misalnya: “Tahukah Anda, bagaimana (1 - siapakah target market Anda) melakukan (2 - masalah terbesar). Yang saya lakukan adalah (3 - solusi Anda), sehingga mereka (5 - manfaat terdalam)”. Atau, jika kesempatan Anda amat sangat pendek, gunakan rumus jawaban singkat tapi manis: “Saya membantu (1 - siapakah target market Anda) untuk mendapatkan (5 - manfaat terdalam)”.

Jika Anda perhatikan, jelas sekali model jawaban yang akan Anda sampaikan tidak lagi sekedar definisi profesi Anda, tapi sangat berorientasi pada pelanggan Anda dan manfaat yang mereka peroleh.

Kurang jelas? Anda perlu contoh? OK. Sebagai contoh, saya akan berikan pengalaman pribadi saya. Biasanya saya paling sulit menjawab pertanyaan apa bisnis yang dilakukan perusahaan saya: http://www.sdgisolutions.com/. Kalau saya bilang ini adalah “perusahaan IT”, saya malah ditanya harga komputer. Saya bilang saya jualan software, malah ditanya harga software bajakan di mall2, dsb. Serba salah, dan malah menciptakan dialog yg tidak bermanfaat. Dengan menerapkan ilmu Michael Port, berikut jawaban2 baru saya:

Q : Fauzi, bisnis kamu sebenarnya apa sih?
A : Oh ya, Om tentu tahu betapa besar investasi infrastruktur teknologi informasi perusahaan2 besar seperti Telkom, Yamaha, Federal, dsb. (1 - siapakah target market Anda)
Q : Ya ... pasti besar sekali.
A : Ya, dan asset IT yang besar tadi sangat rumit untuk dikontrol. Mereka bahkan sangat kesulitan memiliki data inventori PC yang mereka miliki, misalnya detil spesifikasi hardware nya, dan software yang terinstall di dalamnya. Ini bicara belasan ribu PC, sangat sulit kalau harus mencatat satu persatu. (2 - masalah terbesar)
A : Nah, yang saya lakukan adalah memberikan alat bantu buat mereka untuk melakukan manajemen asset IT mereka secara mudah. (3 - solusi Anda). Yang kegunaanya sangat banyak, mulai dari bagaimana memiliki data asset IT dengan scan otomatis, hingga melakukan instalasi software serentak di seluruh PC mereka di berbagai kota. (4 - hasil dramatis)
Q : Wah, canggih sekali solusi kamu itu.
A : Betul Om, makanya sekarang klien kami jadi sangat efisien dalam penggunaan asset IT nya. Tidak ada investasi IT yang sia-sia. Yang ujung-ujungnya sangat membantu menekan biaya IT mereka. (5 - manfaat terdalam)
Q : Hebat .. hebat. Ngomong2 ada teman Om yang jadi IT manager di salah satu Bank pemerintah. Kayanya dia perlu solusi kamu.
A : Oh ya Om?, boleh Om … kalau ada nomor HP nya nanti biar saya hubungi …

Nah kan, dari pertanyaan sederhana, dengan menjawab secara tepat, akhirnya bisa jadi bisnis baru. Mungkin Anda protes, ah itu kan di bisnis solusi seperti IT. Di bisnis pakaian jadi misalnya, mana bisa? Hmm ... bagaimana kalau kita coba saja:

Q : Bisnis apa sekarang Teh?
A : Kamu tahu kan sekarang banyak artis sinetron yang pada pake jilbab, kaya Inneke Koesherawati, Zaskia Mecca, dsb … Kerudung mereka kan selain keren, praktis juga modis, jadi banyak muslimah yang pengen meniru mereka.
A : Nah, Teteh menyediakan jilbab-jilbab kaya gitu. Jadi sekarang gak cuma artis sinetron, kamu juga bisa pake jilbab gaya kaya gitu. Jadi kamu bisa tampil secantik mereka.
Q : Ah, yang bener Teh? Kebetulan nih, saya lagi cari. Temen2 di kampus juga pada nyari tuh. Bawa sample gak?

Nah kan. Terbukti ampuh. Daripada sekedar menjawab “jualan kerudung“, “jualan pakaian jadi“ atau “jualan busana muslimah“, misalnya. Anda dapat membuat sebuah obrolan menarik yang jauh bermanfaat. Anda coba-coba saja sendiri untuk membuat jawaban baru atas pertanyaan tentang bisnis Anda.

Buku Michael Port “Book Yourself Solid” sendiri sebenarnya membicarakan tips untuk bisa laris manis (fully booked) bagi profesi2 seperti konsultan, pembicara publik, dsb. Tapi resep2 nya ternyata relevan dan bisa diterapkan untuk bidang-bidang lain. Selamat mencoba.

Tuesday, April 03, 2007

Gagal Adalah Sebuah Keputusan

Pernahkah Anda mengalami, dimana hasil dari usaha Anda tidak sesuai dengan harapan Anda. Pasti pernah. Saya juga pernah. Hal ini mungkin sangat biasa bagi para pebisnis. Target telah ditetapkan, strategi telah dipikirkan masak-masak, rencana telah disusun, dan tindakan pun telah dilakukan. Namun hasilnya? Ternyata tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Kalau hasilnya sama atau melebihi yang kita harapkan tentu tidak apa-apa, tapi kalau jauh dibawah yang kita harapkan, terkadang membuat kita berpikir, yah ... gagal deh.

Tapi sesungguhnya apakah gagal itu? Saya jadi teringat sebuah cerita. Anda mungkin pernah mendengarnya dari orang lain. Tapi tidak apa-apa, saya ulang saja. Ini tentang seorang dukun Indian tua yang terkenal sangat sukses. Seperti Anda tahu, tugas utama dukun Indian adalah melakukan tarian memanggil hujan. Tidak setiap kali dukun Indian menari akan terjadi hujan, makanya tingkat keberhasilan dukun Indian diukur dari berapa kali hujan terjadi dibanding berapa kali dia menari.

Nah, dukun Indian kita ini tingkat keberhasilannya mencapai 100%. Setiap kali dia menari, pasti terjadi hujan. Sementara tingkat keberhasilan dukun Indian lain, rata2 hanya 50% – 60%.
Berita kehebatan sang dukun tua tadi sampai ke telinga seorang dukun muda yang sangat berbakat. Dukun muda ini penasaran karena tingkat keberhasilannya baru 70%.
Jadi rata2 dari 10 kali dia menari, tujuh kali berhasil terjadi hujan. Penasaran, dukun muda ini pun memutuskan untuk "apprentice" kepada dukun tua.

Dipelajarinya setiap langkah, gerak, dan mantra yang diucapkan si dukun tua. Dukun muda pun melakukan duplikasi. Bahkan tidak berani ATM – Amati Tiru Modifikasi, tapi ATP - Amati Tiru Persis. Hingga dukun muda pun puas karena sudah bisa menduplikasi tarian pemanggil hujan milik dukun tua. Dukun muda pun kembali ke kampung nya.

Namun, setelah menerapkan seluruh ilmu dukun tua, ternyata tingkat keberhasilannya hanya naik sedikit menjadi 75% masih jauh dari 100%. Dukun muda pun kembali ke kampung dukun tua untuk protes, karena pasti masih ada rahasia yang disembunyikan. Dukun muda pun mendemonstrasikan tarian nya di depan dukun tua.

Dukun tua setelah mengamati mengkonfirm bahwa tarian dan mantra2 dukun muda sudah betul dan tidak ada yg salah. Dukun muda pun semakin bingung, apa perbedaan antara dia dan dukun tua. Dukun muda pun pamit pulang.

Sesaat sebelum dukun muda meninggalkan tenda, dengan mengisap pipa rokoknya dukun tua berkata: "Oh ya, sudahkah aku katakan, bahwa setiap aku menari, aku tidak pernah berhenti hingga hujan datang?" Ya. Tidak pernah berhenti! Itulah perbedaan antara sang dukun yang sukses 100% dengan yang lain.

Keputusan untuk berhenti, atau terus, itulah rupanya gerbang yang membedakan antara keberhasilan dan kegagalan. Ketika Anda menghadapi bahwa hasil yang Anda harapkan tidak sesuai rencana Anda, ada dua pilihan bagi Anda:

- Berhenti, dan mendeklarasikan kegagalan, atau
- Menganggap hasil tadi sebagai feedback untuk
merevisi strategi Anda, dan Anda mencoba kembali dengan strategi baru.

Jika Anda memilih gagal, maka pilihan pertama dapat Anda ambil. Sementara orang-orang yang tidak pernah gagal, akan memilih pilihan kedua. Mereka menjadikan hasil yg tidak sesuai harapan tadi sebagai masukan, menyusun strategi baru, dan mencoba kembali. Kalau hasilnya masih tidak sesuai, strategi kembali dirumuskan ulang, dan tindakan baru diambil. Demikian berulang-ulang. Hingga "turun hujan". Jadi gagal, dan juga berhasil, adalah sebuah keputusan. Terserah Anda.

Catatan: Versi asli artikel saya berikut, dimuat di bagian news Lepuspa.biz http://lepuspa.biz/more_news&news_id=3.html

Ngenger

Orang Jawa mengenal suatu tradisi yang disebut “ngenger”. Mungkin kalau Anda bukan orang jawa, akan jarang mendengar kata ini. Padahal sesungguhnya ngenger adalah suatu tradisi yang menurut saya luar biasa. Saya akan bercerita sedikit tentang ngenger.

Menurut filosofi orang Jawa, kesuksesan hanya dapat diperoleh jika kita mendekati orang yang telah memperoleh derajat kesuksesan. Makanya, pada jaman dulu, orang-orang di kampung di Jawa tengah sana jika ingin sukses, dia akan datang ke rumah orang yang sukses untuk menjalani ngenger. Dengan harapan, kelak akan bisa mengikuti kesuksesan “Bendoro“ atau orang yang diikutinya.

Orang yang menjalani laku ngenger, betul-betul menyerahkan hidupnya kepada Bendoro. Hubungan nya sekilas mirip-mirip antara majikan dan pembantu. Bahkan antara majikan dan budak. Pengenger pasrah dan ikhlas kepada Bendoro, sementara sebagai imbalan atas kesetiaannya, Bendoro memberikan kesempatan bagi Pengenger untuk merubah nasibnya.

Kalau ditelusuri kembali dalam cerita-cerita Jawa. Laku ngenger banyak dijalani oleh para penguasa tanah jawa, sebelum mereka memperoleh kesuksesan. Misalnya, tokoh Damarwulan, yang menjalani laku ngenger kepada Patih Majapahit. Atau Jaka Tingkir yang ngenger kepada Sultan Trenggana. Belakangan Jaka Tingkir berhasil bertahta di kesultanan Pajang sebagai Sultan Hadiwijaya. Kisah-kisah seperti ini memberi insprasi kepada orang-orang jawa di kampung, yang ingin meraih sukses, untuk melakukan ngenger.

Memang banyak kontroversi seputar ngenger. Orang jawa modern bahkan cenderung memandang negatif kepada ngenger. Karena berkesan sangat feodal dan tidak menghormati hak Pengenger. Namun lepas dari itu, sesungguhnya banyak nilai-nilai yang dapat kita pelajari dari ngenger, misalnya:

1. Kesetiaan. Kalau Anda menjalani laku ngenger, Anda harus total setia kepada Bendoro Anda. Dalam pengertian yang seluas-luasnya. Seluruh tenaga dan pikiran diberikan kepada Bendoro, sesuai dengan perintah yang diberikan Bendoro. Anda tidak mungkin mendua, atau mentiga, kesetiaan Anda hanya untuk Bendoro. Ini untuk menunjukkan kalau Anda percaya penuh bahwa Bendoro akan menunjukkan jalan kepada Anda. Bahkan kesetiaan Anda tidak bisa dibeli dengan uang. Karena para pelaku ngenger bahkan tidak boleh mengharapkan imbalan. Diterima untuk ngenger saja sudah suatu peluang buat mereka untuk sukses. Makanya dalam ngenger, aib menanyakan imbalan kepada Bendoro. Imbalan nanti akan dipetik ketika pelaku ngenger sudah berhasil naik tingkat menjadi Bendoro baru.

2. Kesabaran. Ngenger sesungguhnya adalah sarana bagi Bendoro untuk menggembleng dan menguji apprentice nya. Maka kesabaran dan keikhlasan menjadi kunci bagi keberhasilan sang pe-ngenger. Salah satu pantangan dalam tradisi ngenger adalah, “nggersula“ atau mengomel. Apapun perintah yang diberikan Bendoro, pengenger harus memegang prinsip: dengarkan dan ikuti. Bahkan kadang proses ngenger berjalan cukup lama, karena Bendoro melihat pelaku ngenger belum pantas naik tingkat, maka pengenger harus sangat berlatih menjaga kesabarannya.

3. Disiplin. Ngenger adalah peluang belajar langsung dari orang yang sudah berhasil. Maka disini dibutuhkan disiplin yang sangat kuat dari pe-ngenger untuk mematuhi apa yang diperintahkan Bendoro. Pola belajar pada laku ngenger adalah langsung praktek, bukan teori-teori. Pe-ngenger bisa langsung mengamati kebiasaan-kebiasaan Bendoro nya, bagaimana Bendoro nya membuat keputusan dan bertindak. Dengan demikian pe-ngenger akan memiliki bekal pengalaman yang cukup jika kelak Bendoro nya memandang ia sudah cukup pengetahuan untuk memegang tanggung-jawab yang lebih besar. Tanpa disiplin, akan sulit pengenger untuk menjadi Bendoro.

Anda pasti langsung bertanya-tanya? Lho kalau di jaman modern, ngenger ini kan jadinya mirip dengan “apprentice“? Ya ngenger mirip sekali dengan apprentice. Namun, jauh lebih dari itu. Menjalani laku ngenger memiliki protokol tertentu yang tidak boleh di langgar. Protokol kesetiaan, kesabaran dan disiplin tadi di antara nya. Ini yang sudah sulit dijalankan di jaman modern yang semua serba ingin “instant result“ ini. Ngenger tidak demikian.

Di kalangan pengusaha Jawa yang sukses, sebetulnya juga banyak ditemui fenomena ngenger. Pengusaha-pengusaha tadi setiap tahunnya menerima pengenger2 baru dari kampung. Mereka lambat laun akan terseleksi menjadi segelintir orang yang memiliki kesetiaan, kesabaran dan disiplin lebih dari yang lain. Jika waktu nya tiba, maka pengenger terpilih tadi akan diberi kesempatan menjalankan bisnisnya sendiri.

Jangan anggap ngenger itu mudah. Belum tentu Anda tahan menjadi pengenger. Boro2 ngomongin bayaran. Diperintah-perintah seenaknya, dimarah2in, sudah menjadi makanan sehari-hari pengenger. Ada almarhum paman saya yang sukses menjadi pebisnis, beliau dikenal tegas dan keras kepada kerabat yang ngenger di rumahnya. Menurut beliau, jika dengan ketegasan beliau saja sudah tidak tahan, bagaimana mau berhasil dalam berbisnis?

Namun jika Anda lulus ujian dalam ngenger, imbalan yang diberikan Bendoro adalah akses terhadap semua yang Bendoro miliki. Mulai dari bisnis, kekuasaan, jaringan pertemanan, kekerabatan, bahkan jika Anda beruntung, pernikahan. Ya, banyak kasus dimana pengenger akhirnya menikah dengan anak Bendoro.

Jadi, seandainya Anda diberi kesempatan memilih ngenger kepada orang2 paling sukses di dunia, Anda mau ngenger kepada siapa? Tapi ... siapkah Anda membayar harga nya?

Sunday, April 01, 2007

Power of Giving

Saya kemarin mencuri baca salah satu buku koleksi anak saya. Judulnya, “Hadiah Terindah”, yang merupakan seri pertama dari Chicken Soup for the Soul Graphic Novel, kumpulan kisah nyata yang dituangkan dalam bentuk komik. Ada salah satu cerita yang menarik buat saya:

Alkisah, ada seorang anak berumur belasan tahun bernama Clark, yang pada suatu malam akan menonton sirkus bersama ayahnya. Ketika tiba di loket, Clark dan Ayahnya mengantri di belakang serombongan keluarga besar yang terdiri dari Bapak, Ibu dan 8 orang anaknya. Keluarga tadi terlihat bahagia malam itu dapat menonton sirkus. Dari pembicaraan yang terdengar oleh Clark dan Ayahnya, Clark tahu bahwa Bapak ke-8 anak tadi telah bekerja ekstra untuk dapat mengajak anak-anaknya menonton sirkus malam itu. Namun, ketika sampai di loket dan hendak membayar, wajah Bapak 8 anak tadi nampak pucat pasi. Ternyata uang 40 dollar yang telah dikumpulkannya dengan susah payah, tidak cukup untuk membayar tiket untuk 2 orang dewasa dan 8 anak yang total harganya 60 dollar.

Pasangan suami istri itu pun saling berbisik, bagaimana harus mengatakan kepada anak2 mereka bahwa malam itu mereka batal nonton sirkus karena uangnya kurang. Sementara anak2 nya tampak begitu gembira dan sudah tidak sabar untuk segera masuk ke sirkus. Tiba2 Ayah Clark menyapa Bapak 8 anak tadi dan berkata: “Maaf Pak, uang ini tadi jatuh dari saku Bapak”, sambil menjulurkan lembaran 20 dollar dan mengedipkan sebelah mata nya. Bapak 8 anak tadi takjub dengan apa yg dilakukan Ayah Clark. Dengan mata berkaca-kaca, ia menerima uang tadi dan mengucapkan terimakasih kepada Ayah Clark, dan menyatakan betapa 20 dollar tadi sangat berarti bagi keluarganya. Tiket seharga 60 dollar pun terbayar. Dan dengan riang gembira, keluarga besar itupun pun segera masuk ke dalam sirkus.

Setelah rombongan tadi masuk, Clark dan Ayahnya segera bergegas pulang. Ya, mereka batal nonton sirkus, karena uang Ayah Clark sudah diberikan kepada Bapak 8 anak tadi. Malam itu, Clark merasa sangat bahagia. Ia tidak dapat menyaksikan sirkus. Tapi telah menyaksikan dua orang Ayah hebat.

Cerita di atas mengingatkan saya akan kekuatan memberi. The Power of Giving. Lebih tepatnya lagi “Giving and Receiving”. Karena memberi dan menerima, adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Dari cerita diatas, ada dua kebahagiaan yang terjadi dalam aktifitas memberi. Yaitu kebahagiaan bagi yang menerima, dan sekaligus kebahagiaan yang diperoleh si pemberi. Bapak 8 anak yang “diselamatkan” oleh Ayahnya Clark, tentu pada saat itu akan merasa sangat bahagia. Tapi Ayah Clark sendiri juga merasakan kebahagiaan yang sangat luar-biasa.

Kekuatan memberi (dan menerima) ini demikian dahsyat karena merupakan esensi dari alam semesta itu sendiri. Tidak berlebihan apabila Deepak Chopra dalam 7 Spiritual Law of Success mencantumkan “Law of Giving” sebagai hukum kedua untuk sukses. Alam semesta berjalan menurut sirkulasi memberi dan menerima. Coba kita perhatikan. Dalam seluruh fenomena alam, berjalan hukum memberi dan menerima. Manusia menghirup oksigen, dan menghembuskan karbon-dioksida, sementara tanaman, menggunakan karbon-dioksida dalam proses fotosintesa, dan membebaskan oksigen.

Proses memberi dan menerima, membuat segala sesuatu di alam semesta ini berjalan, mengalir. Orang-orang jaman dahulu rupanya sangat memahami hal ini. Misalnya uang, alat tukar, dalam bahasa Inggris disebut currency, yang akar katanya adalah bahasa latin currere yang artinya mengalir.

Pertanyaan yang paling sering muncul adalah: Apakah yang harus saya berikan? Jawabannya sama dengan pertanyaan: apa yang Anda ingin dapatkan? Jika Anda ingin mendapatkan kasih-sayang, berikan kasih sayang, jika Anda ingin pengetahuan, sebarkanlah pengetahuan, jika Anda ingin uang, maka berikanlah uang. Ya, ini sesuai dengan prinsip memberi dan menerima di atas, apa yang mengalir keluar dari Anda, adalah apa yang akan mengalir kembali kepada Anda. Alam semesta mengikuti hukum ini. Bahkan yang mengalir kembali kepada Anda, selalu lebih besar dari yg mengalir keluar dari Anda, karena semesta jauh lebih besar dari Anda! Jadi jika Anda ingin banyak uang, berikan uang. Ada yg bertanya, lalu bagaimana jika uang Anda belum banyak? Wah, kalau begitu Anda perlu memberi lebih banyak lagi, hehehe ...

Seandainya giving belum menjadi habit, sebetulnya ada beberapa tips yg bisa Anda terapkan. InsyaAllah jika dilaksanakan secara rutin, akan memperkuat syaraf giving Anda:

1. Kemanapun Anda pergi untuk bertemu dengan seseorang, usahakan membawakan suatu hadiah. Apapun bentuk hadiah tadi. Hal ini sebenarnya sudah diajarkan oleh orang tua kita jaman dahulu, namun sering kita lupakan. Perhatikan saja, orang tua kita dahulu setiap berkunjung ke rumah teman atau saudara selalu membawa oleh-oleh. Anda juga bisa memulai kebiasaan ini. Mungkin sekedar membawa sebungkus coklat, bunga (lho ini mau nyatain apa ya?), atau doa. Ya, kalaupun terpaksa tangan Anda kosong, ya berikan saja doa ketika Anda bertemu dengan seseorang.

2. Syukuri setiap pemberian yang Anda terima hari ini. Lho, bagaimana jika hari ini saya tidak menerima pemberian apa-apa? Salah, Anda pasti menerima sesuatu dari alam semesta. Mulai dari udara pagi yang cerah, sinar matahari yang hangat, sapaan tetangga yang ramah, bahkan teguran dari orang tidak dikenal, bertemu teman lama yang Anda rindukan, dan masih banyak lagi. Ya tentu lebih konkret lagi apabila tiba-tiba hari ini ada yang memberikan handphone baru atau iPod baru kepada Anda. Jelas Anda harus syukuri apa yg Anda terima.

3. Berkomitmenlah untuk selalu berbagi apa yang Anda sebetulnya bisa berikan setiap saat:

- Cinta. Mungkin Anda langsung tertawa. Ah, kalau cuma cinta saya sudah berikan setiap saat untuk keluarga saya. Mungkin Anda benar. Yang harus Anda ingat adalah, seperti kata Stephen Covey, Cinta adalah kata kerja, bukan kata benda. Artinya, harus di praktek-kan. Ya, kalau Anda sudah memiliki cinta untuk orang-orang terdekat Anda, praktek-kan. Berapa kali Anda dalam sehari memeluk dan mengusap kepala anak Anda? Dan mengucapkan bahwa Anda sayang anak Anda?

- Tawa. Ini bukan hal sepele. Tertawa adalah ekspresi kebahagiaan. Bantulah orang-orang di sekitar Anda mengekspresikan rasa bahagia melalui tertawa. Berapa kali dalam sehari Anda tertawa? Tahukan Anda bahwa seorang anak tertawa rata2 150 kali dalam sehari, dan orang dewasa hanya 15 kali dalam sehari. Bergembiralah, bagikan tawa di rumah Anda, jika tidak nanti anak Anda lebih menyukai Mas Thukul daripada Anda.

- Pengetahuan. Anda pasti tahu sesuatu labih baik dari seseorang. Mungkin Anda jago mengurus ikan Arwana, bagikan. Anda pintar dalam mengurus tanaman Aglonema? Bagikan. Anda pintar memasak, tulis resep dan bagikan. Bagikan pengetahuan Anda, karena pengetahuan adalah gift dari Yang Maha Kuasa.

Banyak contoh di dunia ini, dimana orang memberikan pengetahuan nya, dan menuai banyak sekali manfaat, termasuk dalam finansial. Gary Craig, penemu teknik Emotional Freedom Technic, memberikan ebook nya secara cuma-cuma. Azim Jamal, seorang penulis dan pembicara terkenal di Kanada, menyumbangkan 100% dari hasil penjulan buku nya “Power of Giving” untuk charity. Ya, 100%, bahkan semula buku nya bisa di download gratis dalam bentuk ebook, sebelum publishernya meminta Azim menghentikan.

Saya tutup catatan kali ini dengan sebuah cerita humor Sufi berikut ini:

Alkisah ada seorang Sufi yang sudah merasa teramat dekat dengan Tuhan nya. Suatu hari ketika sedang berjalan, Sang Sufi berpapasan dengan seorang yang sangat miskin. Tubuhnya kurus kering, tinggal tulang berbalut kulit yang dibungkus dengan kain compang-camping seadanya. Badan nya tergeletak lemas di pinggir jalan, bibirnya mengering, menandakan sudah lama si miskin tidak mendapat makan. Melihat penderitaan si miskin, Sang Sufi pun berteriak protes pada Tuhan nya: “Ya Tuhan, mengapa Engkau tidak lakukan sesuatu untuk orang ini !!“. Sesaat kemudian, terdengar jawaban: “Ya! Makanya Aku ciptakan kamu!“.

Saturday, March 31, 2007

Belajar Tidak Mengatakan Tidak

Beberapa waktu lalu dalam perjalanan dari Jakarta ke Bandung saya mampir di salah satu tempat makan di rest-area untuk makan malam. Saya memesan nasi goreng teri medan, yg tertera di menu. Dulu saya sering memasak sendiri nasi goreng teri medan. Ini salah satu favorit saya. Memang enak. Tapi jika teri nya terlalu banyak, maka Anda bukan makan nasi + teri lagi, tapi serasa makan nasi + garam. Terlalu asin. Makanya biasanya saya punya special request: teri nya di pisahin dari nasi nya. Jadi baru saya campur sendiri waktu makan. Seingat saya, semua selalu mengatakan “Ya” dengan request saya tadi. Tapi tempat makan di rest area yang cukup terkenal dan punya banyak cabang di mall2 itu kemarin mengatakan “Tidak” pada saya. Menurut pelayan nya itu tidak bisa dilakukan. Saya coba jelaskan kembali pelan2, karena dalam logika saya, sebelum dicampur nasi, toh teri nya asal nya juga terpisah. Jawab nya tetap tidak bisa. Ya sudah saya mengalah, tidak apa-apa. Malu juga berdebat soal teri, hahaha …

Saya kemudian jadi teringat artikel yg pernah saya baca tentang Hotel Burj Al Arab di Dubai. Ini hotel supermewah yang oleh kalangan media sampai-sampai dinobatkan sebagai hotel bintang tujuh. Satu-satunya di dunia. Tidak hanya kemewahannya, pelayanan hotel ini sulit ditandingi hotel mewah manapun di seluruh dunia. Saran saya, Anda harus masuk kan hotel ini dalam buku impian Anda. Hampir semua milyuner dan selebriti kelas dunia pernah kesana. Yang membuat Burj Al Arab sulit ditandingi adalah prinsip pelayanan mereka: "We never say no as a first response."

Tentu bukan maksud saya membandingkan Burj Al Arab dengan rest area di tol Cikampek. Sudah pasti jauh berbeda. Namun ada baiknya kita semua belajar menerapkan prinsip yang juga diterapkan hotel terbaik di dunia. Belajar untuk tidak mengatakan tidak. Paling tidak pada kesempatan pertama.

Memang saya amati, ketika menghadapi permintaan pelanggan yg beda, kata “tidak” rasanya lebih mudah meluncur pada kesempatan pertama, dibanding kata “ya”. Apalagi kalau permintaan pelanggan jauh dari standar delivery kita, lebih enak bilang “tidak” biar cepat selesai. Minta kok aneh-aneh, bilang saja “gak bisa”, beres. Begitu sikap yg umum kita temui. Padahal dalam setiap kata “tidak” yang kita ucapkan tadi, bisa-bisa melayang satu peluang.

Di bisnis jasa konsultan IT yang saya tekuni, jujur saja kecenderungan untuk mengatakan “tidak”pada pelanggan ini sangat kuat. Kadang-kadang permintaan klien memang aneh-aneh, tidak masuk akal, berubah-ubah, dsb. Maklum, banyak pengguna jasa IT yg “tidak tahu apa yg mereka mau”. Makanya konsultan yg tidak sabar, dengan cepat akan mengatakan Tidak, biar cepet.

Sebetulnya kita bisa saja menolak permintaan customer yang aneh-aneh, tanpa mengatakan tidak. Malah kadang-kadang penolakan kita jika disampaikan dengan elegan, jadi peluang bisnis baru.

Semua bisa dijawab Ya (asal biayanya cocok)

Misalnya Anda adalah tukang ojek yg sedang mangkal di sebuah gang di Jakarta. Tiba-tiba datang seseorang kepada Anda, dan berkata: “Mas tolong dong, saya mau ke Surabaya“ Apa reaksi Anda. Gila apa? Masa ke Surabaya naik ojek? Reaksi yang umum adalah langsung berkata tidak, beres. Tapi bagaimana jika ternyata orang tadi siap membayar Rp.10 juta jika Anda mau membantu dia ke Surabaya. Wah ini lain cerita, Anda bisa bawa dia ke Bandara pake ojek, beliin tiket pesawat, antar dia sampai cek-in, dan Anda mungkin bisa “cuan” Rp.9 juta. Jadi semua sebetulnya bisa dijawab Ya, asal biayanya cocok.

Saya paling sering melakukan ini. Pada waktu presentasi produk kami, sering saya dihujani permintaan-permintaan ajaib. Bisa ini gak Pak, bisa itu gak Pak, bisa dirubah begini gak pak, bisa diilangin itunya gak Pak, dst. Padahal belum tentu beli. Saya selalu katakan “ya, secara teknologi bisa”. Sambil dalam hati bilang “asal Anda mau bayar ongkosnya”. Pernah ada juga prospek yang cukup jeli menanyakan kenapa saya bilang ya atas semua permintaan dia, ya saya jawab saja, betul semua bisa, asal Bapak siap menanggung biaya nya. Dia pun tertawa mengerti.

Tawarkan alternatif

Semua orang tidak suka dengan jawaban Tidak. Tapi pasti mau mempertimbangkan pilihan-pilihan. Sebelum mengatakan “Tidak”, ada baiknya tanyakan dulu kebutuhan calon pelanggan, dan berikan alternatif. Besar kemungkinan, malah alternatif tadi yang di ambil.

Saya dan istri saya mengamati, bahwa setiap kami ke counter salah satu outlet jeans dan t-shirt terkenal yg berinisial G (supaya tidak jadi iklan), hampir selalu kami membeli sesuatu. Sekalipun item yg kami cari tidak ada. Pelayannya pintar sekali memikat kami dengan menyodorkan alternatif2 lain dari model yg kami tanyakan.

Manfaatkan Jaringan Kerja

Jaman saya kuliah, saya sering beli buku di pasar Palasari Bandung. Para penjual buku disana jarang mengatakan “tidak ada” untuk setiap judul buku yang ditanyakan. Kalaupun mereka tidak punya di stok, mereka akan suruh kita tunggu, dan mereka segera carikan dari kios2 yang lain. Kalau nurutin males, mungkin bilang gak ada lebih gampang. Tapi mereka memilih bilang Ya, baru mencarikan buku nya. Mereka bisa begitu karena memanfaatkan jaringan kerja yang sangat kuat disana.

Saya sering menerima permintaan melakukan pekerjaan diluar keahlian tim kami. Saya selalu berusaha katakan Ya, dgn memberikan referensi kepada kawan saya yang bisa melaksanakan. Dengan demikian saya bisa membantu klien, kawan saya, dan lumayan, tidak melakukan apa-apa tapi bisa dapat bagian.

Tentu saja, pada satu titik kita terkadang harus mengatakan Tidak. Jika sudah tidak ada alternatif yang bisa ditawarkan. Sekalipun demikian, Anda masih bisa tetap menggunakan kata “Ya“, dengan tambahan kondisi2 yang Anda tetapkan. Manusia secara alamiah tidak suka dengan penolakan. Dengan demikian, calon pelanggan Anda akan lebih senang mendengar kata “Ya!“, atau “Bisa!“, dari mulut Anda. InsyaAllah, banyak “Ya“ banyak rejeki.

Catatan Tambahan:

Catatan tambahan ini saya tulis setelah menerima beberapa feed-back dari rekan saya. Pertama, dengan belajar untuk tidak berkata tidak, tentu bukan kita terus jadi "over promise". Semua di iya in, padahal tidak mampu kita deliver. Bukan begitu maksudnya. Yang kita katakan ya, haruslah yang betul2 dapat kita deliver ke pelanggan. Kedua, dengan berkata ya, bukan berarti kita berbhohong kepada pelanggan. Konteks nya disini adalah justru untuk meningkatkan kepuasan pelanggan. Sedangkan jika kita berbohong atau over promise, justru bukan kepuasan pelanggan yang kita dapat.

Contohnya begini. Usaha saya adalah di bidang software dan implementasi. Jika ada pelanggan saya menanyakan kepada saya, apakah saya bisa sekalian menyediakan server? Jawaban apa yang harus saya berikan? Saya bisa berkata tidak (karena memang saya tidak jualan hardware), tapi saya juga bisa berkata, YA saya akan sediakan server sekalian, melalui partner kami. Saya lebih suka jawaban kedua. Poin nya adalah, sebelum kita berkata TIDAK kepada pelanggan, ada baiknya untuk memikirkan dahulu: 1. apa betul kita tidak bisa, 2. apa sesungguhnya esensi permintaan pelanggan tadi, mungkin ada perspektif lain, 3. apakah tidak ada alternatif lain, 4. apakah kita tidak memiliki partner yg bisa, dst. Jadi kita men-challenge diri kita untuk lebih kreatif, sebelum akhirnya, jika amat sangat terpaksa, mengatakan tidak.

Jadi, pastikan, respon pertama Anda bukanlah kata "Tidak" atau "Tidak Bisa".

Thursday, March 29, 2007

7 Langkah Menuju Kemerdekaan

Banyak yang menanyakan kepada saya: Pak bagaimana sih cara nya untuk resign?. Mereka bilang bahwa resign itu sulit dengan berbagai alasan, misalnya: mereka tidak bisa resign karena sungkan dengan atasan, tidak enak dengan rekan kerja, kasihan bawahan, takut dianggap tidak professional, dan sebagainya.

Kebetulan saya sangat berpengalaman melakukan resign. Selama karir saya menjadi karyawan, saya sudah pernah mengajukan resign sebanyak 7 kali. Maklum, saya gampang sekali tertarik offering yang lebih gede. Ya, bahkan saya pernah hanya bekerja selama 2 minggu sudah resign, karena tertarik opportunity baru. Saya juga pernah resign, namun kembali ngelamar ke perusahaan lama, dan masih diterima, eh kemudian saya malah resign lagi. Betul-betul karyawan yg tidak patut dicontoh. Barangkali karena calling nya memang bukan menjadi karyawan.

Hikmah nya adalah, saya jadi punya pengalaman segudang tentang resign yang akan saya share kepada Anda:

1. Tetapkan Keputusan
- Temukan alasan yang tepat untuk resign. Jangan resign hanya karena emosi sesaat. Nanti Anda akan menyesal. Justru resign harus diputuskan dengan “sadar” setelah Anda melakukan pertimbangan matang. Anda harus paham dengan segala konsekuensi setelah resign. Ajak rundingan orang-orang terdekat Anda, tapi ingat, Andalah yang harus membuat keputusan.
- Berdoalah. Mohonlah kepada Tuhan bahwa jika keputusan resign yang Anda ambil ini membawa kebaikan kepada diri Anda dan keluarga Anda, maka Anda akan dimudahkan dalam prosesnya.
- Jadilah orang yang decisive, jangan indecisive. Tidak ada tempat di dunia ini bagi Hamlet si peragu. Timbang sana-timbang sini, sampai akhirnya tidak pernah membuat keputusan. Guyon dari kami yang gampang resign adalah: Kalau kebanyakan mikir malah gak resign-resign. Kalau udah kadung resign nanti juga terpaksa mikir. Hehehe …
- Jika Anda sudah menikah, sepakati bersama dengan Istri/Suami keputusan ini dengan segala konsekuensi nya. Jika Istri/Suami Anda yang akan resign, tolong didukung. Beri kepercayaan 100% bahwa ini adalah keputusan terbaik. Dan yg penting jangan saling menyalahkan di kemudian hari. Jika Suami/Istri Anda tidak mendukung, beri pengertian. Kerahkan ilmu rayuan. Kalau gak bisa ngerayu kirim email ke saya, nanti saya kasih tau caranya.

2. Sampaikan Secara Verbal
- Setelah Anda mantap dengan keputusan Anda. Sampaikan niat Anda secara lisan kepada kolega dan atasan. Hindari rumor yang tidak perlu. Maka sebaiknya Anda menyatakan dengan lisan kepada atasan ataupun kolega, kapan Anda akan resign. Jika atasan menolak, sampaikan argumen Anda dan sampaikan bahwa keputusan Anda sudah bulat. Jangan terlihat ragu-ragu dan goyah lagi. Sekali lagi ingat, keputusan di tangan Anda.
- Sampaikan juga secara lisan kepada anggota keluarga terdekat. Terutama Ibu. Seorang Ibu secara naluriah tidak ingin anaknya sengsara. Mereka ingin kita mapan. Beri pengertian dengan baik. Jika Ibu Anda kurang percaya, gunakan orang ketiga yg beliau segani.Dulu saya pertama kali resign, minta tolong Kakak sulung saya bantuin ngomong. Resign-resign berikutnya sih Ibu saya sudah biasa.
- Gunakan kesempatan menyampaikan secara lisan ini untuk mohon doa restu pada orang tua, mertua, kakak2 dsb. Semoga langkah resign kita membawa kepada kebaikan.

3. Sampaikan Secara Resmi
- Setelah masa penyampaian lisan lewat, saatnya membuktikan keseriusan dengan mengajukan secara resmi lewat surat. Ikuti prosedur resign sesuai ketentuan perusahaan. Kalau ada ketentuan “one month notice“, patuhi.
- Susun surat dengan baik dan sopan. Tunjukkan apresiasi kepada perusahaan lama Anda. Jangan bertele-tele, sampaikan dengan lugas. Ucapkan Bismillah saat menandatangani nya. Dan setelah itu, point of no return.
- Biasanya di fase ini atasan Anda akan men-challenge lagi. Sekali lagi tunjukkan keputusan Anda sudah bulat. Pernah, waktu resign surat saya malah disobek2 atasan saya supaya tidak jadi diajukan ke SDM. Ya saya print lagi, dan ajukan lagi, sampai beliau terpaksa menerima.

4. Hormati Tawaran Balik
- Jika Anda karyawan yang dianggap baik, hampir pasti ada offering yang akan diajukan kepada Anda. Dalam hal ini, kembali ke point satu. Apa alasan Anda untuk resign? Kalau sekedar memperoleh kenaikan gaji, Anda layak mempertimbangkan offering tadi. Tapi jika niatnya adalah ber-hijrah menjadi pengusaha, offering apapun tidak akan sepadan.
- Jika offering nya demikian menggiurkan, sementara Anda sudah pengen sekali jadi pengusaha, ingat baik2 cerita ini:
Jeff Bezos sebelum mendirikan Amazon.com adalah eksekutif DE Shaw dengan gaji sekitar $80,000 per bulan. Ya, per bulan, saya tidak salah ketik. Dan ketika resign, owner DE Shaw sempat menawarkan kenaikan dan posisi nomor satu di DE Shaw. Tapi Jeff Bezos bulat dengan keputusannya. Yang dikatakan Jeff Bezos adalah: “Nanti jika sudah berumur 80 tahun, saya tidak akan ingat berapa gaji saya di DE Shaw tahun 1994, tapi saya pasti ingat dan menyesal kalau tidak terjun ke bisnis internet.”
- Apapun keputusan Anda, berikan tanggapan dengan hormat atas offering tadi.

5. Lakukan Serah Terima
- Lakukan serah terima pekerjaan dengan baik. Jika masih ada pekerjaan Anda yang masih pending, segera tuntaskan sebelum hari terakhir Anda. Serah terimakan kunci, laptop kantor, dsb dengan berita acara. Dikemudian hari ini terkadang menimbulkan masalah yg tidak perlu.
- Sebaiknya Anda membuat memo serah terima sekalipun tidak diminta. Sampaikan dalam memo tadi status terakhir pekerjaan Anda, poin-poin yang masih harus dilakukan setelah Anda pergi, lokasi file, dsb. Anda tidak ingin kan, disuruh balik-balik ke kantor lama lagi setelah Anda resign?
- Bawa pulang barang2 pribadi Anda, hapus berkas-berkas Anda di komputer, dan minta Admin sistem menghapus user Anda di jaringan.

6. Pamit Dengan Baik-Baik
- Hari terakhir Anda bekerja, datanglah lebih pagi. Gunakan kemeja terbaik Anda. Ini hari besar Anda. Anda harus pamit dengan optimisme memancar dari wajah Anda.
- Pamitlah secara face to face, terutama ke tim Anda, atasan Anda, kolega yang selama ini mendukung Anda, termasuk rekan kantor yg pernah memusuhi Anda. Tatap mata mereka, salam dengan hangat, dan ucapkan pamit dengan baik. Anda boleh terharu, tapi jangan cengeng berlebihan. Jika ada teman Anda yg kelihatan pengen nangis tepuk bahu mereka, katakan bahwa mereka akan baik-baik saja. Pamitlah dengan dignity.
- Jangan lupa pamit lewat email untuk rekan dan kolega yang tidak bisa Anda salamin satu persatu. Sampaikan juga email pemberitahuan bahwa Anda sudah tidak bekerja di perusahaan tersebut kepada customers dan partners Anda, silaturahmi harus tetap dijaga.

7. Rayakan Kemerdekaan Anda!
- Thats it! Anda sudah resign. Melangkahlah keluar dari perusahaan Anda dengan tegak. Hirup napas dalam-dalam, nikmati segarnya napas kemerdekaan. You are free now. No more absen, dikejar2 bikin laporan atau meeting di perusaan itu. Jutaan orang ingin melakukan seperti yg Anda lakukan tapi tidak berani. And you just did it! Congratulation!
- Rayakan dengan keluarga/ teman. Biasanya teman kerja yg lama minta makan2. Layani. Memang pantas di rayakan. Kalau budget Anda terbatas ya beliin aja Pizza.

Demikian catatan saya tentang cara mudah untuk resign. Apakah Anda juga sedang ingin resign? Selamat mencoba 7 langkah diatas!