Monday, April 30, 2007

26 April

Selamat ulang tahun sayang. Tidak terasa kamu sekarang sudah 11 tahun. Rasanya baru kemarin Ayah menunggu Bunda semalaman menahan sakit menjelang kelahiran kamu. Rasanya baru kemarin Ayah mendengar tangisan pertama kamu yang keras membelah pagi subuh di Bandung yang sepi dan dingin. Rasanya baru kemarin, Ayah melihat untuk pertama kalinya wajahmu yang bercahaya kemerahan. Waktu itu Ayah langsung tahu, kamu istimewa.

Dan kemudian, Ayah pun melewati 11 tahun yang sangat luar biasa. Menyaksikan betapa kehadiran kamu selalu membawa keceriaan. Kamu pasti ingat foto-foto masa kecil kamu. Atau video kamu waktu nyanyi dirumah Kakung yang lucu banget itu. Kamu perhatikan deh, semua orang disekitar kamu melihatmu dengan takjub, dan tertawa. Kamu adalah keajaiban buat kita semua.

Kamu juga penghayal yang hebat. Dulu, waktu kita masih tinggal di rumah pertama kita yang kecil mungil. Kamu sering menepuk2 lantai rumah kita, sambil berkata :"cepat besar ya rumah …". Ah, rupanya kamu waktu itu kepengen punya rumah yang lebih besar. Dan kamu pikir rumah bisa tumbuh seperti tanaman. Tapi kamu memang benar. Putri secantik kamu, bagaimana mungkin tinggal di kamar sempit. Karena kamu ingin rumah yang lebih besar, bagaimana Ayah bisa menolak? Kamu begitu istimewa. Sementara, gaji Ayah waktu itu, meskipun lumayan, kalau ditabung-tabung mungkin baru 20 tahun lagi bisa membelikan kamu rumah yang lebih besar. Waktu itu Ayah langsung berpikir, bagaimana caranya?

Seolah petunjuk dari Tuhan, Ayah waktu itu melihat iklan sebuah buku di koran, judulnya "Rich Dad – Poor Dad". Isinya provokatif. Ayah langsung ke toko buku, membeli buku tadi, selain tentu majalah Princess buat kamu. Ayah betul-betul kaget dengan isi buku tadi. Apa yang selama ini Ayah cita-cita kan seolah dijungkir-balik kan sama Pak Robert yang ngarang buku tadi. Semula, Ayah ingin jadi CEO perusahaan multinasional. Kelihatannya sangat mungkin, melihat prestasi kerja Ayah waktu itu. Namun, ternyata kalau Ayah jalani, itu sama saja seperti tikus yang terjebak berlari-lari dalam sebuah roda. Nanti Ayah akan semakin sibuk dan gak sempat main dengan kamu. Belum lagi rumah besar kamu bagaimana? Ayah pun semakin penasaran. Bagaimana caranya?

Jadilah Ayah waktu itu makin sering ke toko buku. Ternyata banyak buku yang membahas bagaimana mencapai keberhasilan. Ayah beli satu demi satu. Tentu, selain majalah Princess buat kamu. Ayahpun jadi yakin, bahwa kita bertanggungjawab atas masa depan kita sendiri. Ayah sangat yakin bisa mewujudkan masa depan yang lebih baik. Ayah merasa harus segera melakukan sesuatu. Ayah tidak mau ragu-ragu. Waktu itu, segera Ayah putuskan untuk keluar dari pekerjaan dan membuat usaha sendiri. Waktu itu ucapan kamu yang Ayah ingat adalah: "wah Ayah jadi bos ya!" Terimakasih Nak. Kamu sudah mengapresiasi langkah Ayah.

Nak, ternyata kemudian Allah memberikan pelajaran berharga buat Ayah. Bahwa sekalipun kita merasa kuat atau hebat. Tidak selamanya apa yang kita rencanakan akan terjadi. Kecuali atas izin Allah. Rencana-rencana Ayah waktu itupun banyak yang tidak berjalan dengan baik. Sementara Bunda, Kamu dan Ade harus sudah kembali ke Bandung, karena Bunda kembali bekerja di sana. Jadilah kita harus terpisah. Malam-malam yang Ayah lalui adalah malam-malam yang sangat berat. Tanpa kehadiran kalian, dengan tekanan pekerjaan yang ternyata lebih berat dari yang Ayah kira. Tidak jarang Ayah menjadi ragu dan takut. Tapi setiap kali Ayah pulang ke Bandung dan melihat kamu dan Ade menjalani kehidupan, Ayah mendapat banyak pelajaran. Kalian selalu ceria, selalu tertawa, dan seolah tidak ada tempat bagi kesedihan dan ketakutan di hati kalian. Ayah pun jadi ingin seperti kalian. Kalianlah yang membuat Ayah tidak pernah memutuskan untuk menyerah.

Alhamdulillah, perlahan usaha Ayah berjalan sesuai rencana. Dan, seperti keinginan kamu, Ayah dan Bunda bisa membuat rumah yang lebih besar dari rumah kita dulu. Tepatnya enam kali lebih luas dari rumah kita dulu. Dan kamu punya kamar sendiri yang luas. Rumah kita memang untuk kamu sayang. Kamu bisa nonton Disney Channel kesukaan kamu, bisa browsing website idola kamu sepuas hati kamu. Dan cuma 20 menit ke sekolah kamu.

Ah Nak, kamu sudah 11 tahun. Dan semakin banyak saja kejutan buat Ayah. Entah apa yang ada di benak kamu sekarang. Kamu bahkan sudah tertarik nonton film the Secret, entah kamu paham atau tidak. Yang jelas kamu sangat terpesona dengan adegan anak yang menginginkan sepeda itu kan? Kamu juga diam2 mengambil dan mencoba membaca buku the Secret. Kamu juga sudah baca buku pemberdayaan anak-anak yang sangat luar biasa, "the Power of One" dari James Lee Valentine. Wah nak, Ayah tidak bisa membayangkan, kehidupan separti apa yang akan kamu jalani kelak. Pasti sangat luar biasa. Jaman memang sudah sangat berubah. Ayah perhatikan teman2 dekat kamu juga orang tua nya kebanyakan wirausaha seperti Ayah. Ada yang punya toko komputer, toko pakaian jadi. Ah, kamu dan teman-teman kamu ada di lingkungan yang luar biasa.

Makanya, Nak. Terus miliki ceria dan keberanian yang selalu Ayah lihat di mata bening mu itu. Sebentar lagi kamu akan ujian SD. Tapi kamu tidak usah terlalu pikirkan nilai kamu. Lakukan saja yang terbaik, dengan kejujuran dan keyakinan. Berapapun hasilnya, Ayah akan selalu bangga. Kamu juga tidak usah terlalu takut tidak keterima di SMP favorit. InsyaAllah kamu toh nanti tidak akan melamar pekerjaan. Justru kamu akan menciptakan pekerjaan. Ayah sudah baca coretan2 di buku mimpi mu. Luar biasa Nak. Beyond my dreams. Ayah yakin, kamu sedang menuju kesana. Amin.

Salam sayang,

Ayahnya Sasha.

Sunday, April 29, 2007

The Power of No

Waktu kecil mungkin Anda pernah menemani Ibu Anda ke pasar tradisional. Ingatkah Anda bagaimana Ibu-ibu kita jaman dulu menawar harga? Saya tahu, kalau Ibu-ibu jaman sekarang lebih sering berbelanja ke supermarket, yang harga nya tidak bisa ditawar. Garis besarnya pasti sama: Pertama, tawar setengah harga atau bahkan kurang, kemudian penjual akan mengatakan "TIDAK", dan menawarkan harga sedikit di bawah harga awal, kemudian Ibu kita juga akan mengatakan "TIDAK" dan pura-pura pergi meninggalkan kios, dan lima langkah kemudian sang penjual akan memanggil dengan meneriakkan harga terakhir (biasanya sedikit di atas harga yg ditawar Ibu), baru Ibu kita berbalik untuk mengatakan "YA", mungkin karena hari mulai siang. Kalau masih pagi, tawar2 an tadi bisa berlangsung lebih alot, berpindah dari kios ke kios. Anda mungkin berpikir bernegosiasi harga cara Ibu kita tadi kuno. Jangan salah, justru ditengah-tengah ratusan teori negosiasi modern, ternyata negosiasi a la Ibu-ibu di pasar tradisional tadi adalah yang paling efektif. Setidaknya demikian kata Jim Camp dalam buku nya "Start with NO".

Jim Camp menyarankan agar kita tidak terlena pada jargon "win/win" yang sering dikemukakan perusahaan besar sewaktu bernegosiasi dengan perusahaan yang lebih kecil. Kenyataannya, kesepakatan-kesepakatan yang dihasilkan dari pendekatan "win/win" tadi hanya bertujuan menguntungkan perusahaan besar. Disinilah perusahaan kecil harus waspada menghadapi permainan para "pemangsa" dari perusahaan yang lebih besar. Dan itu dapat dicapai dengan memulai dengan kata TIDAK. Seperti Ibu kita di pasar dulu.

Camp mengidentifikasikan dua kelemahan yang umumnya kita miliki sewaktu melakukan negosiasi:

Pertama: Anda terlalu membutuhkan. Ya, sadarkah Anda bahwa ketika melakukan negosiasi, seringkali kita kita datang dengan "mu-peng", muka-pengen. Saya juga sering begitu. Bahkan sewaktu berangkat sudah kepikiran: "udah deh, mau ditawar berapa aja gw iya – in". Bagaimana tidak, kontrak sudah terbayang-bayang, asik … rekening bakal nambah, bisa nutup operational cost sekian bulan, bisa beli ini-itu, wah … pokoknya harus saya yang dapet. Belum lagi ketakutan kalau ada kompetitor yang masuk. Kita tidak siap menerima kenyataan kalau kesepakatan akan batal. Maka tidak jarang, ketika kita menyampaikan penawaran harga, dan calon klien kita setelah membacanya terlihat berkerut dan terbatuk2. Langsung saja kita berkata: "Mmm .. ngomong2 harga nya bisa di nego kok Pak …". Mungkin kliennya sampai heran sendiri, lho wong belum ditawar kok sudah mau nurunin harga? Menurut Jim Camp, dalam kondisi demikian Anda sudah menganggap kontrak yg ingin Anda dapatkan menjadi sebuah kebutuhan, bukan sekedar keinginan. Dan kalau sudah butuh, Anda siap berkorban apa saja. Mulai dari margin yang sangat tipis, hingga resources yg lebih banyak. Tidak jarang, setelah dihitung-hitung Anda bahkan sebenarnya rugi. Anda tentu tidak mau bernegosiasi untuk rugi. Jadi buang jauh2 "mu-peng" Anda. Gampangnya ingat saja Ibu Anda yg "pura-pura" tidak butuh dan meninggalkan kios waktu menawar.

Kedua: Anda terlalu "sempurna". Tahun 70-80 an, TVRI pernah memutar film detektif Mr. Columbo. Wah, mungkin Anda belum lahir, atau sudah tidak ingat. Jangan dibayangkan ini adalah detektif ganteng dan jagoan seperti tipikal film Hollywood. Mr. Columbo ini tidak gagah atau ganteng, justru dekil, naik mobil butut, memelas, dan sering lupa mengajukan pertanyaan kunci. Pokoknya "katro" habis. Namun berhadapan dengan orang dalam posisi "di bawah" seperti ini, orang merasa nyaman berbicara. Dan Mr. Columbo sangat gampang mendapat informasi. Dalam bisnis kita sering berusaha memberikan kesan hebat, sehingga berusaha tampil "hebat". Padahal orang cenderung merasa baik, justru ketika melihat orang lain kurang baik. Ini yang saya lupakan ketika mengawali bisnis saya. Dulu, jika melakukan presentasi, saya dan tim saya selalu berjas-berdasi, mirip the Beatles mau manggung. Dan hasilnya nol besar. Kini kami tampil apa adanya, tanpa jas, tanpa dasi, tak jarang saya hanya memakai kemeja lengan pendek. Tentu tetap rapih dan wangi, karena sudah bawaan. Ternyata kami malah bisa membuat banyak deal. Mungkin, para IT manager yang saya temui dulu tidak nyaman berbicara dengan "the Beatles.

Dengan memperbaiki dua kelemahan tadi, kini Anda siap menerapkan teknik negosiasi yang diawali dengan kata TIDAK. Kedengarannya memang kontroversial, namun sebenarnya logis. Bagi Jim Camp, negosiasi merupakan kesepakatan antara dua pihak, dimana masing-masing pihak memiliki hak veto - hak untuk berkata TIDAK. Jadi justru kita harus berawal dari kata TIDAK, sebelum kemudian menggali hal-hal yang bisa disepakati. Memulai dengan TIDAK artinya kita berorientasi kepada keputusan. Yang justru akan membuat negosiator lawan Anda langsung berpikir pada pokok persoalan, bukan yang lain. Karena dorongan emosi dan kebutuhan, seringkali kita akan langsung berkata "YA" di depan. Sambil membayangkan keuntungan, komisi, atau BMW baru yang akan Anda beli. Dalam keadaan demikian, negosiator ulung di depan Anda akan langsung menyodorkan berbagai "JIKA … "yang akan segera membelenggu Anda. Memulai dengan TIDAK bukan untuk mengorbankan siapapun, termasuk lawan Anda, namun justru untuk mendapatkan keputusan yang logis.

Tentu bukan berarti setelah Anda berkata TIDAK, lantas berhenti. Semua negosiasi tentu ujungnya adalah kesepakatan kedua belah pihak. Langkah-langkah selengkapnya menurut Jim Camp cukup panjang, seperti: menetapkan tujuan; bagaimana menggali dan menggunakan "pain" lawan,; bernegosiasi dengan bujet waktu, tenaga, uang dan emosi; hanya bernegosiasi dengan orang yang berwenang; hingga bahaya melakukan presentasi (waduh, saya baru tahu!). Namun, saya ingin memberikan catatan pada beberapa poin yang menurut saya sangat menarik:

Ajukan Pertanyaan. Awal berbisnis dulu, (eh, sejujurnya bahkan mungkin sampai sekarang), saya sering mengira bahwa dalam negosiasi, kita harus dalam posisi dominan. Dan itu artinya mendominasi pembicaraan. Ternyata pengalaman mengajarkan sebaliknya. Justru dengan sedikit bicara dan banyak bertanya, maka Anda dalam posisi mengendalikan. Banyak teknik yang diajarkan Camp. Diantaranya adalah "mengasuh". Dimana kita mengajukan pertanyaan dengan sikap yang membuat lawan merasa nyaman, didengarkan dan dihormati. Anda harus menjadi Mr. Columbo yang mengumpulkan informasi sebanyak mungkin.Informasi tadi yang akan sangat penting untuk mendukung langkah2 Anda selanjutnya.

Netralkan Pikiran. Ini menurut saya yang paling sulit buat pemula. Dorongan untuk segera "closing the deal", bisa mengacaukan pikiran kita. Tiga pantangan agar memperoleh pikiran yang tenang dalam bernegosiasi adalah: Jangan ber-ekspektasi (berharap), Jangan ber-asumsi, Jangan bicara:

Terlalu berharap, baik harapan positif ataupun negatif, dapat berbahaya. Negosiator ulung pandai mengumbar harapan yang menjebak. Salah satu umpan yang klise adalah: "saya minta harga untuk pembelian dalam jumlah banyak". Dan ketika Anda setuju,sekaligus membuka kartu berapa harga ter-rendah Anda, mereka akan mengorder dalam jumlah kecil, dengan alasan bahwa pembelian akan dilakukan parsial. Dan ingat, kapanpun mereka dapat membatalkan kesepakatan. Saya pernah mengalami hal semacam ini, dan ternyata menurut Jim Camp, di Amerika juga sering terjadi hal yang sama. Ber-asumsi juga jelas berbahaya, karena asumsi adalah sekedar asumsi, lebih baik Anda lakukan verifikasi untuk memperoleh realitas yang sebenarnya. Sebaiknya kerjakan riset Anda.

Bagaimana dengan "jangan berbicara". Maksudnya adalah, Anda sebaiknya sesedikit mungkin berbicara, apalagi kalau Anda tidak tahu mau berbicara apa, lebih baik tidak berbicara. Saya jadi teringat salah satu bagian dari novel Godfather karya Mario Puzo. Sewaktu Don Corleone berunding dengan Virgil Sollozzo. Don didampingi putra tertuanya Sonny, dengan satu perintah tegas: jangan berbicara. Don yang sudah kenyang asam garam perundingan tahu, bahwa setiap kata yang keluar dari mulut Sonny dapat berbahaya. Dan betul saja, ketika Don secara tegas mengatakan TIDAK, atas usulan Sollozzo, dan Sollozo tengah mencerna ucapan Don, Sonny tidak tahan untuk mengucapkan komentar. Sebuah komentar tak perlu yang mengungkapkan fakta bagi Sollozzo, bahwa ada kemungkinan perbedaan pandangan antara Don dan anaknya. Bahwa keluarga Corleone mungkin tidak se-solid kelihatannya. Dan di kemudian hari, Sollozzo pun berani bertindak. Don Corleone ditembak.

Demikianlah kekuatan kata TIDAK, menurut Jim Camp. Cukup menarik untuk diaplikasikan. Yang jelas kata TIDAK, menyebabkan orang berpikir tentang poin apa yang menyebabkan dia ditolak. Saya ingin menutup catatan ini dengan sebuah cerita yang sangat relevan:

Ada seorang anggota US Marine (AL) yang bertugas untuk merekrut lulusan2 terbaik dari salah satu sekolah di Amerika. Anggota US Marine tadi mendapat giliran terakhir untuk melakukan presentasi, setelah anggota US Air Force (AU) dan US Army (AD). Ternyata dua presentasi sebelumnya telah menghabiskan sebagian besar waktu yg tersedia. Akhirnya sang perwira AL, yang tinggal memiliki waktu tidak lebih dari 5 menit tadi hanya mengatakan: "Maaf, Saya TIDAK melihat banyak kandidat yang bisa saya rekrut disini. Saya perhatikan paling banyak hanya 5 orang yang pantas menjadi anggota US Marine. Jika Anda merasa salah seorang diantaranya, hubungi saya setelah ini." Dan, sebagian besar siswa pun akhirnya melamar menjadi anggota US Marine!

Wednesday, April 18, 2007

Bisnis atau Kerja Bakti?

Anda pernah kerja bakti? Kerja bakti itu budaya yg bagus. Selain menambah keakraban antar peserta, kerjabakti dapat menyelesaikan banyak persoalan bersama. Kadang-kadang kerja bakti cukup melelahkan. Kita harus kerja keras berjam-jam untuk kepentingan bersama. Karena namanya juga kerja-bakti, maka Anda tidak boleh mengharap imbalan apa-apa atas kerja keras tadi. Karena memang tujuan kerja bakti bukan untuk mencari uang. Inilah beda nya kerja bakti dengan bisnis. Kalau dalam bisnis, kerja keras Anda tentu bukan for free. Namun banyak pelaku bisnis secara tidak sadar melakukan "kerja bakti", meskipun niatnya adalah berbisnis. Termasuk saya.

Saya dulu juga pernah mengalami kebingungan yang sama. Saya bekerja sangat keras. Dan karena saya bekerja sesuai passion saya di bidang IT, tentu saja saya sangat menikmati kerja keras saya. Tapi di kemudian hari, ketika tagihan2 masuk, saya lalu bingung mau membayar dengan apa. Ya, karena usaha saya waktu itu belum memberikan hasil financial yang berarti. Wah, kok jadi kerjabakti begini? Begitu dulu saya berpikir. Anda juga pernah mengalami hal yang sama? Anda tidak sendirian. Jadi mari kita sama-sama belajar untuk menjadikan bisnis kita bukan lagi kerja bakti.

Sebelumnya mari kita pahami dulu maksud dari "Bisnis" itu sendiri. Kalau menurut Brad Sugars, bisnis adalah suatu usaha komersial, yang menghasilkan profit, yang dapat berjalan tanpa kehadiran kita. Disini mulai jelas, usaha kita haruslah komersial (bukan LSM atau yayasan sosial), yang menghasilkan profit, dan bisa berjalan sendiri, meskipun kita sebagai owner tidak hadir. Sederhana kan? Jadi Anda tinggal lakukan saja self assessment sekarang, apakah bisnis Anda bisa berjalan dengan profitable, sekalipun Anda tinggal pergi jalan-jalan?. Belum bisa? Hahaha … sama dengan saya. Saya, juga masih menuju kesana. Memang kalau kata Brad Sugars, Anda harus menempuh perjalanan penuh disiplin untuk melalui 6 anak tangga menuju kondisi "bisnis terus jalan meski kita jalan-jalan" tadi.

Anak tangga yang pertama adalah Mastery. Ini merupakan penguasaan dasar yang akan membedakan bisnis Anda dari kerja bakti. Mastery yang akan membedakan apakah usaha Anda komersial atau mau jadi "yayasan sosial". Mastery memastikan bahwa kita melakukan delivery produk atau jasa kita dengan cara yang menguntungkan, produktif, dan cukup informasi untuk membuat keputusan penting. Yang harus Anda kuasai adalah:

1. Money Mastery. "Wah, kalau soal duit saya mah udah jago …" mungkin Anda berpikir begitu. Ya, membelanjakannya saya yakin Anda jago … hehehe. Bukan, disini bukan cuma soal membelanjakan uang. Tapi bagaimana Anda menguasai angka-angka keuangan Anda yang meliputi:

A. Break-Even. Yaitu mengetahui berapa jumlah penjualan, jumlah pelanggan, jumlah Rupiah, yang Anda perlukan untuk menutup angka break-even Anda. Sebelum tentunya ditambah prosentase untuk mendapat laba. Caranya mudah, Anda harus tahu dulu jumlah biaya bulanan yang Anda keluarkan untuk menjalankan usaha Anda. Kemudian Anda hitung untuk memperoleh Rupiah sejumlah biaya tadi, Anda perlu penjualan berapa besar. Nilai penjualan tadi Anda perkirakan dapat diperoleh dari berapa pelanggan, dan dengan rata2 penjualan berapa banyak.

B. Profit Margin. Nah kalau Anda sudah kuasai Break-Even mastery, dengan sendirinya Anda bisa set bujet untuk profit. Bahkan kalau usaha Anda retail, Anda bisa set bujet hingga bulanan, mingguan dan harian. Anda bisa tentukan berapa pelanggan per hari dengan rata2 nilai pembelian berapa, supaya Anda profit. Ujungnya disini adalah menentukan strategi-strategi untuk meningkatkan profit. Contoh strategi andalan untuk meningkatkan profit adalah "5 ways", dimana Anda dapat meningkatkan profit secara dahsyat dengan fokus pada 5 hal:
- Meningkatkan jumlah leads (calon pelanggan)
- Meningkatkan angka konversi (calon pelanggan menjadi pelanggan)
- Meningkatkan jumlah transaksi
- Meningkatkan rata2 nilai penjualan
- Meningkatkan margin

C. Reporting. Anda harus punya angka-angka penting Anda dalam laporan yang jelas untuk membantu pembuatan keputusan. Laporan membantu Anda memahami ada dimana posisi bisnis Anda.

D. Test and Measurement. Lakukan test dan pengukuran apakah strategi Anda berjalan dengan baik. Misalnya Anda melakukan strategi diskon untuk meningkatkan tingkat konversi. Anda harus catat dan ukur efektifitas strategi Anda. Sehingga apabila strategi diskon tadi ternyata tidak efektif meningkatkan tingkat konversi, Anda bisa segera ganti dengan strategi lain.

2. Delivery Mastery. Katakanlah Anda sekarang telah berhasil membuat calon pelanggan dan pelanggan antre untuk mendapatkan produk Anda. Apa jadinya jika Anda tidak konsisten dalam delivery Anda? Anda akan ditinggal dan mungkin mereka akan kapok. Kelangsungan dan konsistensi delivery produk dan jasa Anda akan menentukan apakah pelanggan Anda akan terus menjadi pelanggan Anda atau tidak. Bagaimana untuk memastikan anda konsisten dalam delivery. Gampang. Dengarkan pelanggan Anda. Apakah complain mereka? Kelompokkan dalam paling tidak 5 area complain, dan segera lakukan upaya perbaikan.

3. Time Mastery. Ini soal produktifitas. Produktifitas kita akan menentukan keberhasilan bisnis kita:

A. Goal Mastery. Pertama kita harus tahu sebenarnya usaha kita ini mau dibawa kemana. Anda harus punya:

Vision – Inspirasi utama kita, kemana kita akan menuju.
Mission – Bagaimana caranya mewujudkan visi kita: Bisnis kita apa, siapa tim kita, siapa pelanggan kita, apa yg membuat usaha kita beda dengan yg lain?
Culture Statements – Nilai2 yg penting bagi owner, tim member, pelanggan, dan keberhasilan bisnis. Yg menjadi aturan main bersama bagi Anda dan tim Anda.

Selanjutnya tulis tujuan2 Anda dan tonggak2 penting (milestone) yg akan membawa usaha Anda semakin dekat kepada Visi.

B. Self Mastery. Ini soal disiplin diri. Bagaimana supaya Anda tetap focus dengan cara membuat rencana kerja yg baik. Caranya? Coba lakukan time study sederhana. Berapa waktu yg Anda gunakan untuk bekerja setiap hari nya. Catat dalam waktu satu minggu. Kemudian tulis alokasi penggunaan waktu Anda. Berapa jam Anda menggunakan waktu Anda untuk berkomunikasi (email, chat, telp, etc), melakukan pekerjaan rutin, dsb. Anda akan kaget. Betapa banyak waktu yg kita gunakan secara kurang efektif. Anda kemudian bisa mengidentifikasi pekerjaan2 yang bisa Anda delegasikan, bisa Anda kurangi karena tidak penting dan sebagainya. Ujungnya adalah Anda akan bisa mendapatkan lebih banyak waktu yg bisa Anda gunakan untuk tugas penting seperti planning, ataupun kehidupan pribadi Anda dengan keluarga.

Nah, itu baru bahasan tentang Mastery. Panjang bukan? Kalau menurut Brad Sugars masih ada 5 anak tangga lagi yaitu: Niche, Leverage, Team, Synergy, dan Results. Wah masih jauh dong perjalanan? Tenang, tenang, ini gak sekaku hitungan matematis. Pelan2 terapkan saja dulu Mastery ini, Anda akan terbawa ke anak2 tangga berikutnya. Hingga Anda dapat menikmati usaha Anda sebagai Bisnis. Bukan kerja bakti.

Sunday, April 08, 2007

Bagaimana Membicarakan Bisnis Anda

Bisnis Anda apa sih? Anda pasti pernah mendapat pertanyaan seperti di atas. Entah Anda sedang arisan keluarga, reuni sekolah, atau sedang bersebelahan dengan kenalan baru di kereta. Pertanyaan demikian sering tiba-tiba muncul. Lalu apakah jawaban Anda? Seperti yang dikatakan Michael Port dalam buku “Book Yourself Solid”, saya yakin Anda akan menjawab dengan kategori profesi Anda, misalnya konsultan IT, pedagang pakaian jadi, internet marketer, pelatih fitness, dsb. Dan menurut Michael Port, itu ternyata salah.

Ya. Jawaban tadi bisa salah, karena bisnis Anda adalah lebih dari sekedar kategori profesi yang Anda sebutkan. Malah dengan menyebutkan kategori profesi, gambaran kabur tentang profesi Anda di benak lawan bicara Anda bisa2 membuat dialog Anda tidak menguntungkan. Michael Port memberikan ilustrasi menarik. Misalnya ada seorang pelatih Yoga, bertemu dengan seseorang yang mungkin memerlukan jasa latihan Yoga, namun pernah mengenal seorang instruktur Yoga yang kelakuannya kebetulan negatif. Apa yang terjadi ketika si pelatih Yoga mengenalkan diri dan menyebutkan pekerjaan nya: pelatih Yoga. Lawan bicara akan mundur teratur, jauh sebelum si pelatih Yoga sempat menceritakan apa manfaat berlatih Yoga.

Terus bagaimana seharusnya kita menjelaskan apa yang kita kerjakan? Michael Port dalam buku tadi menjelaskan langkah-langkah yang menurut saya sangat sederhana, praktis, tapi impact nya dahsyat:

Pertama, rumuskan secara baku, kalau perlu tuliskan dan hapalkan, hal-hal berikut ini:
1. Siapakah target market Anda?
2. Apakah masalah terbesar yang dihadapi target market Anda?
3. Bagaimana Anda memberikan solusi bagi target market Anda?
4. Sebutkan hasil dramatis yang pelanggan Anda peroleh
5. Sebutkan manfaat terdalam yang pelanggan Anda peroleh

Kedua, gunakan catatan baku tadi untuk menjawab pertanyaan “apakah bisnis Anda”. Rumus jawabannya begini:
“Tahukah Anda, bagaimana (1 - siapakah target market Anda) melakukan (2 - masalah terbesar). Yang saya lakukan adalah (3 - solusi Anda), sehingga mereka (4 - hasil dramatis). Sekarang klien saya (5 - manfaat terdalam)”.

Kalau kepanjangan Anda dapat menyingkat dalam versi yg lebih pendek. Misalnya: “Tahukah Anda, bagaimana (1 - siapakah target market Anda) melakukan (2 - masalah terbesar). Yang saya lakukan adalah (3 - solusi Anda), sehingga mereka (5 - manfaat terdalam)”. Atau, jika kesempatan Anda amat sangat pendek, gunakan rumus jawaban singkat tapi manis: “Saya membantu (1 - siapakah target market Anda) untuk mendapatkan (5 - manfaat terdalam)”.

Jika Anda perhatikan, jelas sekali model jawaban yang akan Anda sampaikan tidak lagi sekedar definisi profesi Anda, tapi sangat berorientasi pada pelanggan Anda dan manfaat yang mereka peroleh.

Kurang jelas? Anda perlu contoh? OK. Sebagai contoh, saya akan berikan pengalaman pribadi saya. Biasanya saya paling sulit menjawab pertanyaan apa bisnis yang dilakukan perusahaan saya: http://www.sdgisolutions.com/. Kalau saya bilang ini adalah “perusahaan IT”, saya malah ditanya harga komputer. Saya bilang saya jualan software, malah ditanya harga software bajakan di mall2, dsb. Serba salah, dan malah menciptakan dialog yg tidak bermanfaat. Dengan menerapkan ilmu Michael Port, berikut jawaban2 baru saya:

Q : Fauzi, bisnis kamu sebenarnya apa sih?
A : Oh ya, Om tentu tahu betapa besar investasi infrastruktur teknologi informasi perusahaan2 besar seperti Telkom, Yamaha, Federal, dsb. (1 - siapakah target market Anda)
Q : Ya ... pasti besar sekali.
A : Ya, dan asset IT yang besar tadi sangat rumit untuk dikontrol. Mereka bahkan sangat kesulitan memiliki data inventori PC yang mereka miliki, misalnya detil spesifikasi hardware nya, dan software yang terinstall di dalamnya. Ini bicara belasan ribu PC, sangat sulit kalau harus mencatat satu persatu. (2 - masalah terbesar)
A : Nah, yang saya lakukan adalah memberikan alat bantu buat mereka untuk melakukan manajemen asset IT mereka secara mudah. (3 - solusi Anda). Yang kegunaanya sangat banyak, mulai dari bagaimana memiliki data asset IT dengan scan otomatis, hingga melakukan instalasi software serentak di seluruh PC mereka di berbagai kota. (4 - hasil dramatis)
Q : Wah, canggih sekali solusi kamu itu.
A : Betul Om, makanya sekarang klien kami jadi sangat efisien dalam penggunaan asset IT nya. Tidak ada investasi IT yang sia-sia. Yang ujung-ujungnya sangat membantu menekan biaya IT mereka. (5 - manfaat terdalam)
Q : Hebat .. hebat. Ngomong2 ada teman Om yang jadi IT manager di salah satu Bank pemerintah. Kayanya dia perlu solusi kamu.
A : Oh ya Om?, boleh Om … kalau ada nomor HP nya nanti biar saya hubungi …

Nah kan, dari pertanyaan sederhana, dengan menjawab secara tepat, akhirnya bisa jadi bisnis baru. Mungkin Anda protes, ah itu kan di bisnis solusi seperti IT. Di bisnis pakaian jadi misalnya, mana bisa? Hmm ... bagaimana kalau kita coba saja:

Q : Bisnis apa sekarang Teh?
A : Kamu tahu kan sekarang banyak artis sinetron yang pada pake jilbab, kaya Inneke Koesherawati, Zaskia Mecca, dsb … Kerudung mereka kan selain keren, praktis juga modis, jadi banyak muslimah yang pengen meniru mereka.
A : Nah, Teteh menyediakan jilbab-jilbab kaya gitu. Jadi sekarang gak cuma artis sinetron, kamu juga bisa pake jilbab gaya kaya gitu. Jadi kamu bisa tampil secantik mereka.
Q : Ah, yang bener Teh? Kebetulan nih, saya lagi cari. Temen2 di kampus juga pada nyari tuh. Bawa sample gak?

Nah kan. Terbukti ampuh. Daripada sekedar menjawab “jualan kerudung“, “jualan pakaian jadi“ atau “jualan busana muslimah“, misalnya. Anda dapat membuat sebuah obrolan menarik yang jauh bermanfaat. Anda coba-coba saja sendiri untuk membuat jawaban baru atas pertanyaan tentang bisnis Anda.

Buku Michael Port “Book Yourself Solid” sendiri sebenarnya membicarakan tips untuk bisa laris manis (fully booked) bagi profesi2 seperti konsultan, pembicara publik, dsb. Tapi resep2 nya ternyata relevan dan bisa diterapkan untuk bidang-bidang lain. Selamat mencoba.

Tuesday, April 03, 2007

Gagal Adalah Sebuah Keputusan

Pernahkah Anda mengalami, dimana hasil dari usaha Anda tidak sesuai dengan harapan Anda. Pasti pernah. Saya juga pernah. Hal ini mungkin sangat biasa bagi para pebisnis. Target telah ditetapkan, strategi telah dipikirkan masak-masak, rencana telah disusun, dan tindakan pun telah dilakukan. Namun hasilnya? Ternyata tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Kalau hasilnya sama atau melebihi yang kita harapkan tentu tidak apa-apa, tapi kalau jauh dibawah yang kita harapkan, terkadang membuat kita berpikir, yah ... gagal deh.

Tapi sesungguhnya apakah gagal itu? Saya jadi teringat sebuah cerita. Anda mungkin pernah mendengarnya dari orang lain. Tapi tidak apa-apa, saya ulang saja. Ini tentang seorang dukun Indian tua yang terkenal sangat sukses. Seperti Anda tahu, tugas utama dukun Indian adalah melakukan tarian memanggil hujan. Tidak setiap kali dukun Indian menari akan terjadi hujan, makanya tingkat keberhasilan dukun Indian diukur dari berapa kali hujan terjadi dibanding berapa kali dia menari.

Nah, dukun Indian kita ini tingkat keberhasilannya mencapai 100%. Setiap kali dia menari, pasti terjadi hujan. Sementara tingkat keberhasilan dukun Indian lain, rata2 hanya 50% – 60%.
Berita kehebatan sang dukun tua tadi sampai ke telinga seorang dukun muda yang sangat berbakat. Dukun muda ini penasaran karena tingkat keberhasilannya baru 70%.
Jadi rata2 dari 10 kali dia menari, tujuh kali berhasil terjadi hujan. Penasaran, dukun muda ini pun memutuskan untuk "apprentice" kepada dukun tua.

Dipelajarinya setiap langkah, gerak, dan mantra yang diucapkan si dukun tua. Dukun muda pun melakukan duplikasi. Bahkan tidak berani ATM – Amati Tiru Modifikasi, tapi ATP - Amati Tiru Persis. Hingga dukun muda pun puas karena sudah bisa menduplikasi tarian pemanggil hujan milik dukun tua. Dukun muda pun kembali ke kampung nya.

Namun, setelah menerapkan seluruh ilmu dukun tua, ternyata tingkat keberhasilannya hanya naik sedikit menjadi 75% masih jauh dari 100%. Dukun muda pun kembali ke kampung dukun tua untuk protes, karena pasti masih ada rahasia yang disembunyikan. Dukun muda pun mendemonstrasikan tarian nya di depan dukun tua.

Dukun tua setelah mengamati mengkonfirm bahwa tarian dan mantra2 dukun muda sudah betul dan tidak ada yg salah. Dukun muda pun semakin bingung, apa perbedaan antara dia dan dukun tua. Dukun muda pun pamit pulang.

Sesaat sebelum dukun muda meninggalkan tenda, dengan mengisap pipa rokoknya dukun tua berkata: "Oh ya, sudahkah aku katakan, bahwa setiap aku menari, aku tidak pernah berhenti hingga hujan datang?" Ya. Tidak pernah berhenti! Itulah perbedaan antara sang dukun yang sukses 100% dengan yang lain.

Keputusan untuk berhenti, atau terus, itulah rupanya gerbang yang membedakan antara keberhasilan dan kegagalan. Ketika Anda menghadapi bahwa hasil yang Anda harapkan tidak sesuai rencana Anda, ada dua pilihan bagi Anda:

- Berhenti, dan mendeklarasikan kegagalan, atau
- Menganggap hasil tadi sebagai feedback untuk
merevisi strategi Anda, dan Anda mencoba kembali dengan strategi baru.

Jika Anda memilih gagal, maka pilihan pertama dapat Anda ambil. Sementara orang-orang yang tidak pernah gagal, akan memilih pilihan kedua. Mereka menjadikan hasil yg tidak sesuai harapan tadi sebagai masukan, menyusun strategi baru, dan mencoba kembali. Kalau hasilnya masih tidak sesuai, strategi kembali dirumuskan ulang, dan tindakan baru diambil. Demikian berulang-ulang. Hingga "turun hujan". Jadi gagal, dan juga berhasil, adalah sebuah keputusan. Terserah Anda.

Catatan: Versi asli artikel saya berikut, dimuat di bagian news Lepuspa.biz http://lepuspa.biz/more_news&news_id=3.html

Ngenger

Orang Jawa mengenal suatu tradisi yang disebut “ngenger”. Mungkin kalau Anda bukan orang jawa, akan jarang mendengar kata ini. Padahal sesungguhnya ngenger adalah suatu tradisi yang menurut saya luar biasa. Saya akan bercerita sedikit tentang ngenger.

Menurut filosofi orang Jawa, kesuksesan hanya dapat diperoleh jika kita mendekati orang yang telah memperoleh derajat kesuksesan. Makanya, pada jaman dulu, orang-orang di kampung di Jawa tengah sana jika ingin sukses, dia akan datang ke rumah orang yang sukses untuk menjalani ngenger. Dengan harapan, kelak akan bisa mengikuti kesuksesan “Bendoro“ atau orang yang diikutinya.

Orang yang menjalani laku ngenger, betul-betul menyerahkan hidupnya kepada Bendoro. Hubungan nya sekilas mirip-mirip antara majikan dan pembantu. Bahkan antara majikan dan budak. Pengenger pasrah dan ikhlas kepada Bendoro, sementara sebagai imbalan atas kesetiaannya, Bendoro memberikan kesempatan bagi Pengenger untuk merubah nasibnya.

Kalau ditelusuri kembali dalam cerita-cerita Jawa. Laku ngenger banyak dijalani oleh para penguasa tanah jawa, sebelum mereka memperoleh kesuksesan. Misalnya, tokoh Damarwulan, yang menjalani laku ngenger kepada Patih Majapahit. Atau Jaka Tingkir yang ngenger kepada Sultan Trenggana. Belakangan Jaka Tingkir berhasil bertahta di kesultanan Pajang sebagai Sultan Hadiwijaya. Kisah-kisah seperti ini memberi insprasi kepada orang-orang jawa di kampung, yang ingin meraih sukses, untuk melakukan ngenger.

Memang banyak kontroversi seputar ngenger. Orang jawa modern bahkan cenderung memandang negatif kepada ngenger. Karena berkesan sangat feodal dan tidak menghormati hak Pengenger. Namun lepas dari itu, sesungguhnya banyak nilai-nilai yang dapat kita pelajari dari ngenger, misalnya:

1. Kesetiaan. Kalau Anda menjalani laku ngenger, Anda harus total setia kepada Bendoro Anda. Dalam pengertian yang seluas-luasnya. Seluruh tenaga dan pikiran diberikan kepada Bendoro, sesuai dengan perintah yang diberikan Bendoro. Anda tidak mungkin mendua, atau mentiga, kesetiaan Anda hanya untuk Bendoro. Ini untuk menunjukkan kalau Anda percaya penuh bahwa Bendoro akan menunjukkan jalan kepada Anda. Bahkan kesetiaan Anda tidak bisa dibeli dengan uang. Karena para pelaku ngenger bahkan tidak boleh mengharapkan imbalan. Diterima untuk ngenger saja sudah suatu peluang buat mereka untuk sukses. Makanya dalam ngenger, aib menanyakan imbalan kepada Bendoro. Imbalan nanti akan dipetik ketika pelaku ngenger sudah berhasil naik tingkat menjadi Bendoro baru.

2. Kesabaran. Ngenger sesungguhnya adalah sarana bagi Bendoro untuk menggembleng dan menguji apprentice nya. Maka kesabaran dan keikhlasan menjadi kunci bagi keberhasilan sang pe-ngenger. Salah satu pantangan dalam tradisi ngenger adalah, “nggersula“ atau mengomel. Apapun perintah yang diberikan Bendoro, pengenger harus memegang prinsip: dengarkan dan ikuti. Bahkan kadang proses ngenger berjalan cukup lama, karena Bendoro melihat pelaku ngenger belum pantas naik tingkat, maka pengenger harus sangat berlatih menjaga kesabarannya.

3. Disiplin. Ngenger adalah peluang belajar langsung dari orang yang sudah berhasil. Maka disini dibutuhkan disiplin yang sangat kuat dari pe-ngenger untuk mematuhi apa yang diperintahkan Bendoro. Pola belajar pada laku ngenger adalah langsung praktek, bukan teori-teori. Pe-ngenger bisa langsung mengamati kebiasaan-kebiasaan Bendoro nya, bagaimana Bendoro nya membuat keputusan dan bertindak. Dengan demikian pe-ngenger akan memiliki bekal pengalaman yang cukup jika kelak Bendoro nya memandang ia sudah cukup pengetahuan untuk memegang tanggung-jawab yang lebih besar. Tanpa disiplin, akan sulit pengenger untuk menjadi Bendoro.

Anda pasti langsung bertanya-tanya? Lho kalau di jaman modern, ngenger ini kan jadinya mirip dengan “apprentice“? Ya ngenger mirip sekali dengan apprentice. Namun, jauh lebih dari itu. Menjalani laku ngenger memiliki protokol tertentu yang tidak boleh di langgar. Protokol kesetiaan, kesabaran dan disiplin tadi di antara nya. Ini yang sudah sulit dijalankan di jaman modern yang semua serba ingin “instant result“ ini. Ngenger tidak demikian.

Di kalangan pengusaha Jawa yang sukses, sebetulnya juga banyak ditemui fenomena ngenger. Pengusaha-pengusaha tadi setiap tahunnya menerima pengenger2 baru dari kampung. Mereka lambat laun akan terseleksi menjadi segelintir orang yang memiliki kesetiaan, kesabaran dan disiplin lebih dari yang lain. Jika waktu nya tiba, maka pengenger terpilih tadi akan diberi kesempatan menjalankan bisnisnya sendiri.

Jangan anggap ngenger itu mudah. Belum tentu Anda tahan menjadi pengenger. Boro2 ngomongin bayaran. Diperintah-perintah seenaknya, dimarah2in, sudah menjadi makanan sehari-hari pengenger. Ada almarhum paman saya yang sukses menjadi pebisnis, beliau dikenal tegas dan keras kepada kerabat yang ngenger di rumahnya. Menurut beliau, jika dengan ketegasan beliau saja sudah tidak tahan, bagaimana mau berhasil dalam berbisnis?

Namun jika Anda lulus ujian dalam ngenger, imbalan yang diberikan Bendoro adalah akses terhadap semua yang Bendoro miliki. Mulai dari bisnis, kekuasaan, jaringan pertemanan, kekerabatan, bahkan jika Anda beruntung, pernikahan. Ya, banyak kasus dimana pengenger akhirnya menikah dengan anak Bendoro.

Jadi, seandainya Anda diberi kesempatan memilih ngenger kepada orang2 paling sukses di dunia, Anda mau ngenger kepada siapa? Tapi ... siapkah Anda membayar harga nya?

Sunday, April 01, 2007

Power of Giving

Saya kemarin mencuri baca salah satu buku koleksi anak saya. Judulnya, “Hadiah Terindah”, yang merupakan seri pertama dari Chicken Soup for the Soul Graphic Novel, kumpulan kisah nyata yang dituangkan dalam bentuk komik. Ada salah satu cerita yang menarik buat saya:

Alkisah, ada seorang anak berumur belasan tahun bernama Clark, yang pada suatu malam akan menonton sirkus bersama ayahnya. Ketika tiba di loket, Clark dan Ayahnya mengantri di belakang serombongan keluarga besar yang terdiri dari Bapak, Ibu dan 8 orang anaknya. Keluarga tadi terlihat bahagia malam itu dapat menonton sirkus. Dari pembicaraan yang terdengar oleh Clark dan Ayahnya, Clark tahu bahwa Bapak ke-8 anak tadi telah bekerja ekstra untuk dapat mengajak anak-anaknya menonton sirkus malam itu. Namun, ketika sampai di loket dan hendak membayar, wajah Bapak 8 anak tadi nampak pucat pasi. Ternyata uang 40 dollar yang telah dikumpulkannya dengan susah payah, tidak cukup untuk membayar tiket untuk 2 orang dewasa dan 8 anak yang total harganya 60 dollar.

Pasangan suami istri itu pun saling berbisik, bagaimana harus mengatakan kepada anak2 mereka bahwa malam itu mereka batal nonton sirkus karena uangnya kurang. Sementara anak2 nya tampak begitu gembira dan sudah tidak sabar untuk segera masuk ke sirkus. Tiba2 Ayah Clark menyapa Bapak 8 anak tadi dan berkata: “Maaf Pak, uang ini tadi jatuh dari saku Bapak”, sambil menjulurkan lembaran 20 dollar dan mengedipkan sebelah mata nya. Bapak 8 anak tadi takjub dengan apa yg dilakukan Ayah Clark. Dengan mata berkaca-kaca, ia menerima uang tadi dan mengucapkan terimakasih kepada Ayah Clark, dan menyatakan betapa 20 dollar tadi sangat berarti bagi keluarganya. Tiket seharga 60 dollar pun terbayar. Dan dengan riang gembira, keluarga besar itupun pun segera masuk ke dalam sirkus.

Setelah rombongan tadi masuk, Clark dan Ayahnya segera bergegas pulang. Ya, mereka batal nonton sirkus, karena uang Ayah Clark sudah diberikan kepada Bapak 8 anak tadi. Malam itu, Clark merasa sangat bahagia. Ia tidak dapat menyaksikan sirkus. Tapi telah menyaksikan dua orang Ayah hebat.

Cerita di atas mengingatkan saya akan kekuatan memberi. The Power of Giving. Lebih tepatnya lagi “Giving and Receiving”. Karena memberi dan menerima, adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Dari cerita diatas, ada dua kebahagiaan yang terjadi dalam aktifitas memberi. Yaitu kebahagiaan bagi yang menerima, dan sekaligus kebahagiaan yang diperoleh si pemberi. Bapak 8 anak yang “diselamatkan” oleh Ayahnya Clark, tentu pada saat itu akan merasa sangat bahagia. Tapi Ayah Clark sendiri juga merasakan kebahagiaan yang sangat luar-biasa.

Kekuatan memberi (dan menerima) ini demikian dahsyat karena merupakan esensi dari alam semesta itu sendiri. Tidak berlebihan apabila Deepak Chopra dalam 7 Spiritual Law of Success mencantumkan “Law of Giving” sebagai hukum kedua untuk sukses. Alam semesta berjalan menurut sirkulasi memberi dan menerima. Coba kita perhatikan. Dalam seluruh fenomena alam, berjalan hukum memberi dan menerima. Manusia menghirup oksigen, dan menghembuskan karbon-dioksida, sementara tanaman, menggunakan karbon-dioksida dalam proses fotosintesa, dan membebaskan oksigen.

Proses memberi dan menerima, membuat segala sesuatu di alam semesta ini berjalan, mengalir. Orang-orang jaman dahulu rupanya sangat memahami hal ini. Misalnya uang, alat tukar, dalam bahasa Inggris disebut currency, yang akar katanya adalah bahasa latin currere yang artinya mengalir.

Pertanyaan yang paling sering muncul adalah: Apakah yang harus saya berikan? Jawabannya sama dengan pertanyaan: apa yang Anda ingin dapatkan? Jika Anda ingin mendapatkan kasih-sayang, berikan kasih sayang, jika Anda ingin pengetahuan, sebarkanlah pengetahuan, jika Anda ingin uang, maka berikanlah uang. Ya, ini sesuai dengan prinsip memberi dan menerima di atas, apa yang mengalir keluar dari Anda, adalah apa yang akan mengalir kembali kepada Anda. Alam semesta mengikuti hukum ini. Bahkan yang mengalir kembali kepada Anda, selalu lebih besar dari yg mengalir keluar dari Anda, karena semesta jauh lebih besar dari Anda! Jadi jika Anda ingin banyak uang, berikan uang. Ada yg bertanya, lalu bagaimana jika uang Anda belum banyak? Wah, kalau begitu Anda perlu memberi lebih banyak lagi, hehehe ...

Seandainya giving belum menjadi habit, sebetulnya ada beberapa tips yg bisa Anda terapkan. InsyaAllah jika dilaksanakan secara rutin, akan memperkuat syaraf giving Anda:

1. Kemanapun Anda pergi untuk bertemu dengan seseorang, usahakan membawakan suatu hadiah. Apapun bentuk hadiah tadi. Hal ini sebenarnya sudah diajarkan oleh orang tua kita jaman dahulu, namun sering kita lupakan. Perhatikan saja, orang tua kita dahulu setiap berkunjung ke rumah teman atau saudara selalu membawa oleh-oleh. Anda juga bisa memulai kebiasaan ini. Mungkin sekedar membawa sebungkus coklat, bunga (lho ini mau nyatain apa ya?), atau doa. Ya, kalaupun terpaksa tangan Anda kosong, ya berikan saja doa ketika Anda bertemu dengan seseorang.

2. Syukuri setiap pemberian yang Anda terima hari ini. Lho, bagaimana jika hari ini saya tidak menerima pemberian apa-apa? Salah, Anda pasti menerima sesuatu dari alam semesta. Mulai dari udara pagi yang cerah, sinar matahari yang hangat, sapaan tetangga yang ramah, bahkan teguran dari orang tidak dikenal, bertemu teman lama yang Anda rindukan, dan masih banyak lagi. Ya tentu lebih konkret lagi apabila tiba-tiba hari ini ada yang memberikan handphone baru atau iPod baru kepada Anda. Jelas Anda harus syukuri apa yg Anda terima.

3. Berkomitmenlah untuk selalu berbagi apa yang Anda sebetulnya bisa berikan setiap saat:

- Cinta. Mungkin Anda langsung tertawa. Ah, kalau cuma cinta saya sudah berikan setiap saat untuk keluarga saya. Mungkin Anda benar. Yang harus Anda ingat adalah, seperti kata Stephen Covey, Cinta adalah kata kerja, bukan kata benda. Artinya, harus di praktek-kan. Ya, kalau Anda sudah memiliki cinta untuk orang-orang terdekat Anda, praktek-kan. Berapa kali Anda dalam sehari memeluk dan mengusap kepala anak Anda? Dan mengucapkan bahwa Anda sayang anak Anda?

- Tawa. Ini bukan hal sepele. Tertawa adalah ekspresi kebahagiaan. Bantulah orang-orang di sekitar Anda mengekspresikan rasa bahagia melalui tertawa. Berapa kali dalam sehari Anda tertawa? Tahukan Anda bahwa seorang anak tertawa rata2 150 kali dalam sehari, dan orang dewasa hanya 15 kali dalam sehari. Bergembiralah, bagikan tawa di rumah Anda, jika tidak nanti anak Anda lebih menyukai Mas Thukul daripada Anda.

- Pengetahuan. Anda pasti tahu sesuatu labih baik dari seseorang. Mungkin Anda jago mengurus ikan Arwana, bagikan. Anda pintar dalam mengurus tanaman Aglonema? Bagikan. Anda pintar memasak, tulis resep dan bagikan. Bagikan pengetahuan Anda, karena pengetahuan adalah gift dari Yang Maha Kuasa.

Banyak contoh di dunia ini, dimana orang memberikan pengetahuan nya, dan menuai banyak sekali manfaat, termasuk dalam finansial. Gary Craig, penemu teknik Emotional Freedom Technic, memberikan ebook nya secara cuma-cuma. Azim Jamal, seorang penulis dan pembicara terkenal di Kanada, menyumbangkan 100% dari hasil penjulan buku nya “Power of Giving” untuk charity. Ya, 100%, bahkan semula buku nya bisa di download gratis dalam bentuk ebook, sebelum publishernya meminta Azim menghentikan.

Saya tutup catatan kali ini dengan sebuah cerita humor Sufi berikut ini:

Alkisah ada seorang Sufi yang sudah merasa teramat dekat dengan Tuhan nya. Suatu hari ketika sedang berjalan, Sang Sufi berpapasan dengan seorang yang sangat miskin. Tubuhnya kurus kering, tinggal tulang berbalut kulit yang dibungkus dengan kain compang-camping seadanya. Badan nya tergeletak lemas di pinggir jalan, bibirnya mengering, menandakan sudah lama si miskin tidak mendapat makan. Melihat penderitaan si miskin, Sang Sufi pun berteriak protes pada Tuhan nya: “Ya Tuhan, mengapa Engkau tidak lakukan sesuatu untuk orang ini !!“. Sesaat kemudian, terdengar jawaban: “Ya! Makanya Aku ciptakan kamu!“.

Saturday, March 31, 2007

Belajar Tidak Mengatakan Tidak

Beberapa waktu lalu dalam perjalanan dari Jakarta ke Bandung saya mampir di salah satu tempat makan di rest-area untuk makan malam. Saya memesan nasi goreng teri medan, yg tertera di menu. Dulu saya sering memasak sendiri nasi goreng teri medan. Ini salah satu favorit saya. Memang enak. Tapi jika teri nya terlalu banyak, maka Anda bukan makan nasi + teri lagi, tapi serasa makan nasi + garam. Terlalu asin. Makanya biasanya saya punya special request: teri nya di pisahin dari nasi nya. Jadi baru saya campur sendiri waktu makan. Seingat saya, semua selalu mengatakan “Ya” dengan request saya tadi. Tapi tempat makan di rest area yang cukup terkenal dan punya banyak cabang di mall2 itu kemarin mengatakan “Tidak” pada saya. Menurut pelayan nya itu tidak bisa dilakukan. Saya coba jelaskan kembali pelan2, karena dalam logika saya, sebelum dicampur nasi, toh teri nya asal nya juga terpisah. Jawab nya tetap tidak bisa. Ya sudah saya mengalah, tidak apa-apa. Malu juga berdebat soal teri, hahaha …

Saya kemudian jadi teringat artikel yg pernah saya baca tentang Hotel Burj Al Arab di Dubai. Ini hotel supermewah yang oleh kalangan media sampai-sampai dinobatkan sebagai hotel bintang tujuh. Satu-satunya di dunia. Tidak hanya kemewahannya, pelayanan hotel ini sulit ditandingi hotel mewah manapun di seluruh dunia. Saran saya, Anda harus masuk kan hotel ini dalam buku impian Anda. Hampir semua milyuner dan selebriti kelas dunia pernah kesana. Yang membuat Burj Al Arab sulit ditandingi adalah prinsip pelayanan mereka: "We never say no as a first response."

Tentu bukan maksud saya membandingkan Burj Al Arab dengan rest area di tol Cikampek. Sudah pasti jauh berbeda. Namun ada baiknya kita semua belajar menerapkan prinsip yang juga diterapkan hotel terbaik di dunia. Belajar untuk tidak mengatakan tidak. Paling tidak pada kesempatan pertama.

Memang saya amati, ketika menghadapi permintaan pelanggan yg beda, kata “tidak” rasanya lebih mudah meluncur pada kesempatan pertama, dibanding kata “ya”. Apalagi kalau permintaan pelanggan jauh dari standar delivery kita, lebih enak bilang “tidak” biar cepat selesai. Minta kok aneh-aneh, bilang saja “gak bisa”, beres. Begitu sikap yg umum kita temui. Padahal dalam setiap kata “tidak” yang kita ucapkan tadi, bisa-bisa melayang satu peluang.

Di bisnis jasa konsultan IT yang saya tekuni, jujur saja kecenderungan untuk mengatakan “tidak”pada pelanggan ini sangat kuat. Kadang-kadang permintaan klien memang aneh-aneh, tidak masuk akal, berubah-ubah, dsb. Maklum, banyak pengguna jasa IT yg “tidak tahu apa yg mereka mau”. Makanya konsultan yg tidak sabar, dengan cepat akan mengatakan Tidak, biar cepet.

Sebetulnya kita bisa saja menolak permintaan customer yang aneh-aneh, tanpa mengatakan tidak. Malah kadang-kadang penolakan kita jika disampaikan dengan elegan, jadi peluang bisnis baru.

Semua bisa dijawab Ya (asal biayanya cocok)

Misalnya Anda adalah tukang ojek yg sedang mangkal di sebuah gang di Jakarta. Tiba-tiba datang seseorang kepada Anda, dan berkata: “Mas tolong dong, saya mau ke Surabaya“ Apa reaksi Anda. Gila apa? Masa ke Surabaya naik ojek? Reaksi yang umum adalah langsung berkata tidak, beres. Tapi bagaimana jika ternyata orang tadi siap membayar Rp.10 juta jika Anda mau membantu dia ke Surabaya. Wah ini lain cerita, Anda bisa bawa dia ke Bandara pake ojek, beliin tiket pesawat, antar dia sampai cek-in, dan Anda mungkin bisa “cuan” Rp.9 juta. Jadi semua sebetulnya bisa dijawab Ya, asal biayanya cocok.

Saya paling sering melakukan ini. Pada waktu presentasi produk kami, sering saya dihujani permintaan-permintaan ajaib. Bisa ini gak Pak, bisa itu gak Pak, bisa dirubah begini gak pak, bisa diilangin itunya gak Pak, dst. Padahal belum tentu beli. Saya selalu katakan “ya, secara teknologi bisa”. Sambil dalam hati bilang “asal Anda mau bayar ongkosnya”. Pernah ada juga prospek yang cukup jeli menanyakan kenapa saya bilang ya atas semua permintaan dia, ya saya jawab saja, betul semua bisa, asal Bapak siap menanggung biaya nya. Dia pun tertawa mengerti.

Tawarkan alternatif

Semua orang tidak suka dengan jawaban Tidak. Tapi pasti mau mempertimbangkan pilihan-pilihan. Sebelum mengatakan “Tidak”, ada baiknya tanyakan dulu kebutuhan calon pelanggan, dan berikan alternatif. Besar kemungkinan, malah alternatif tadi yang di ambil.

Saya dan istri saya mengamati, bahwa setiap kami ke counter salah satu outlet jeans dan t-shirt terkenal yg berinisial G (supaya tidak jadi iklan), hampir selalu kami membeli sesuatu. Sekalipun item yg kami cari tidak ada. Pelayannya pintar sekali memikat kami dengan menyodorkan alternatif2 lain dari model yg kami tanyakan.

Manfaatkan Jaringan Kerja

Jaman saya kuliah, saya sering beli buku di pasar Palasari Bandung. Para penjual buku disana jarang mengatakan “tidak ada” untuk setiap judul buku yang ditanyakan. Kalaupun mereka tidak punya di stok, mereka akan suruh kita tunggu, dan mereka segera carikan dari kios2 yang lain. Kalau nurutin males, mungkin bilang gak ada lebih gampang. Tapi mereka memilih bilang Ya, baru mencarikan buku nya. Mereka bisa begitu karena memanfaatkan jaringan kerja yang sangat kuat disana.

Saya sering menerima permintaan melakukan pekerjaan diluar keahlian tim kami. Saya selalu berusaha katakan Ya, dgn memberikan referensi kepada kawan saya yang bisa melaksanakan. Dengan demikian saya bisa membantu klien, kawan saya, dan lumayan, tidak melakukan apa-apa tapi bisa dapat bagian.

Tentu saja, pada satu titik kita terkadang harus mengatakan Tidak. Jika sudah tidak ada alternatif yang bisa ditawarkan. Sekalipun demikian, Anda masih bisa tetap menggunakan kata “Ya“, dengan tambahan kondisi2 yang Anda tetapkan. Manusia secara alamiah tidak suka dengan penolakan. Dengan demikian, calon pelanggan Anda akan lebih senang mendengar kata “Ya!“, atau “Bisa!“, dari mulut Anda. InsyaAllah, banyak “Ya“ banyak rejeki.

Catatan Tambahan:

Catatan tambahan ini saya tulis setelah menerima beberapa feed-back dari rekan saya. Pertama, dengan belajar untuk tidak berkata tidak, tentu bukan kita terus jadi "over promise". Semua di iya in, padahal tidak mampu kita deliver. Bukan begitu maksudnya. Yang kita katakan ya, haruslah yang betul2 dapat kita deliver ke pelanggan. Kedua, dengan berkata ya, bukan berarti kita berbhohong kepada pelanggan. Konteks nya disini adalah justru untuk meningkatkan kepuasan pelanggan. Sedangkan jika kita berbohong atau over promise, justru bukan kepuasan pelanggan yang kita dapat.

Contohnya begini. Usaha saya adalah di bidang software dan implementasi. Jika ada pelanggan saya menanyakan kepada saya, apakah saya bisa sekalian menyediakan server? Jawaban apa yang harus saya berikan? Saya bisa berkata tidak (karena memang saya tidak jualan hardware), tapi saya juga bisa berkata, YA saya akan sediakan server sekalian, melalui partner kami. Saya lebih suka jawaban kedua. Poin nya adalah, sebelum kita berkata TIDAK kepada pelanggan, ada baiknya untuk memikirkan dahulu: 1. apa betul kita tidak bisa, 2. apa sesungguhnya esensi permintaan pelanggan tadi, mungkin ada perspektif lain, 3. apakah tidak ada alternatif lain, 4. apakah kita tidak memiliki partner yg bisa, dst. Jadi kita men-challenge diri kita untuk lebih kreatif, sebelum akhirnya, jika amat sangat terpaksa, mengatakan tidak.

Jadi, pastikan, respon pertama Anda bukanlah kata "Tidak" atau "Tidak Bisa".

Thursday, March 29, 2007

7 Langkah Menuju Kemerdekaan

Banyak yang menanyakan kepada saya: Pak bagaimana sih cara nya untuk resign?. Mereka bilang bahwa resign itu sulit dengan berbagai alasan, misalnya: mereka tidak bisa resign karena sungkan dengan atasan, tidak enak dengan rekan kerja, kasihan bawahan, takut dianggap tidak professional, dan sebagainya.

Kebetulan saya sangat berpengalaman melakukan resign. Selama karir saya menjadi karyawan, saya sudah pernah mengajukan resign sebanyak 7 kali. Maklum, saya gampang sekali tertarik offering yang lebih gede. Ya, bahkan saya pernah hanya bekerja selama 2 minggu sudah resign, karena tertarik opportunity baru. Saya juga pernah resign, namun kembali ngelamar ke perusahaan lama, dan masih diterima, eh kemudian saya malah resign lagi. Betul-betul karyawan yg tidak patut dicontoh. Barangkali karena calling nya memang bukan menjadi karyawan.

Hikmah nya adalah, saya jadi punya pengalaman segudang tentang resign yang akan saya share kepada Anda:

1. Tetapkan Keputusan
- Temukan alasan yang tepat untuk resign. Jangan resign hanya karena emosi sesaat. Nanti Anda akan menyesal. Justru resign harus diputuskan dengan “sadar” setelah Anda melakukan pertimbangan matang. Anda harus paham dengan segala konsekuensi setelah resign. Ajak rundingan orang-orang terdekat Anda, tapi ingat, Andalah yang harus membuat keputusan.
- Berdoalah. Mohonlah kepada Tuhan bahwa jika keputusan resign yang Anda ambil ini membawa kebaikan kepada diri Anda dan keluarga Anda, maka Anda akan dimudahkan dalam prosesnya.
- Jadilah orang yang decisive, jangan indecisive. Tidak ada tempat di dunia ini bagi Hamlet si peragu. Timbang sana-timbang sini, sampai akhirnya tidak pernah membuat keputusan. Guyon dari kami yang gampang resign adalah: Kalau kebanyakan mikir malah gak resign-resign. Kalau udah kadung resign nanti juga terpaksa mikir. Hehehe …
- Jika Anda sudah menikah, sepakati bersama dengan Istri/Suami keputusan ini dengan segala konsekuensi nya. Jika Istri/Suami Anda yang akan resign, tolong didukung. Beri kepercayaan 100% bahwa ini adalah keputusan terbaik. Dan yg penting jangan saling menyalahkan di kemudian hari. Jika Suami/Istri Anda tidak mendukung, beri pengertian. Kerahkan ilmu rayuan. Kalau gak bisa ngerayu kirim email ke saya, nanti saya kasih tau caranya.

2. Sampaikan Secara Verbal
- Setelah Anda mantap dengan keputusan Anda. Sampaikan niat Anda secara lisan kepada kolega dan atasan. Hindari rumor yang tidak perlu. Maka sebaiknya Anda menyatakan dengan lisan kepada atasan ataupun kolega, kapan Anda akan resign. Jika atasan menolak, sampaikan argumen Anda dan sampaikan bahwa keputusan Anda sudah bulat. Jangan terlihat ragu-ragu dan goyah lagi. Sekali lagi ingat, keputusan di tangan Anda.
- Sampaikan juga secara lisan kepada anggota keluarga terdekat. Terutama Ibu. Seorang Ibu secara naluriah tidak ingin anaknya sengsara. Mereka ingin kita mapan. Beri pengertian dengan baik. Jika Ibu Anda kurang percaya, gunakan orang ketiga yg beliau segani.Dulu saya pertama kali resign, minta tolong Kakak sulung saya bantuin ngomong. Resign-resign berikutnya sih Ibu saya sudah biasa.
- Gunakan kesempatan menyampaikan secara lisan ini untuk mohon doa restu pada orang tua, mertua, kakak2 dsb. Semoga langkah resign kita membawa kepada kebaikan.

3. Sampaikan Secara Resmi
- Setelah masa penyampaian lisan lewat, saatnya membuktikan keseriusan dengan mengajukan secara resmi lewat surat. Ikuti prosedur resign sesuai ketentuan perusahaan. Kalau ada ketentuan “one month notice“, patuhi.
- Susun surat dengan baik dan sopan. Tunjukkan apresiasi kepada perusahaan lama Anda. Jangan bertele-tele, sampaikan dengan lugas. Ucapkan Bismillah saat menandatangani nya. Dan setelah itu, point of no return.
- Biasanya di fase ini atasan Anda akan men-challenge lagi. Sekali lagi tunjukkan keputusan Anda sudah bulat. Pernah, waktu resign surat saya malah disobek2 atasan saya supaya tidak jadi diajukan ke SDM. Ya saya print lagi, dan ajukan lagi, sampai beliau terpaksa menerima.

4. Hormati Tawaran Balik
- Jika Anda karyawan yang dianggap baik, hampir pasti ada offering yang akan diajukan kepada Anda. Dalam hal ini, kembali ke point satu. Apa alasan Anda untuk resign? Kalau sekedar memperoleh kenaikan gaji, Anda layak mempertimbangkan offering tadi. Tapi jika niatnya adalah ber-hijrah menjadi pengusaha, offering apapun tidak akan sepadan.
- Jika offering nya demikian menggiurkan, sementara Anda sudah pengen sekali jadi pengusaha, ingat baik2 cerita ini:
Jeff Bezos sebelum mendirikan Amazon.com adalah eksekutif DE Shaw dengan gaji sekitar $80,000 per bulan. Ya, per bulan, saya tidak salah ketik. Dan ketika resign, owner DE Shaw sempat menawarkan kenaikan dan posisi nomor satu di DE Shaw. Tapi Jeff Bezos bulat dengan keputusannya. Yang dikatakan Jeff Bezos adalah: “Nanti jika sudah berumur 80 tahun, saya tidak akan ingat berapa gaji saya di DE Shaw tahun 1994, tapi saya pasti ingat dan menyesal kalau tidak terjun ke bisnis internet.”
- Apapun keputusan Anda, berikan tanggapan dengan hormat atas offering tadi.

5. Lakukan Serah Terima
- Lakukan serah terima pekerjaan dengan baik. Jika masih ada pekerjaan Anda yang masih pending, segera tuntaskan sebelum hari terakhir Anda. Serah terimakan kunci, laptop kantor, dsb dengan berita acara. Dikemudian hari ini terkadang menimbulkan masalah yg tidak perlu.
- Sebaiknya Anda membuat memo serah terima sekalipun tidak diminta. Sampaikan dalam memo tadi status terakhir pekerjaan Anda, poin-poin yang masih harus dilakukan setelah Anda pergi, lokasi file, dsb. Anda tidak ingin kan, disuruh balik-balik ke kantor lama lagi setelah Anda resign?
- Bawa pulang barang2 pribadi Anda, hapus berkas-berkas Anda di komputer, dan minta Admin sistem menghapus user Anda di jaringan.

6. Pamit Dengan Baik-Baik
- Hari terakhir Anda bekerja, datanglah lebih pagi. Gunakan kemeja terbaik Anda. Ini hari besar Anda. Anda harus pamit dengan optimisme memancar dari wajah Anda.
- Pamitlah secara face to face, terutama ke tim Anda, atasan Anda, kolega yang selama ini mendukung Anda, termasuk rekan kantor yg pernah memusuhi Anda. Tatap mata mereka, salam dengan hangat, dan ucapkan pamit dengan baik. Anda boleh terharu, tapi jangan cengeng berlebihan. Jika ada teman Anda yg kelihatan pengen nangis tepuk bahu mereka, katakan bahwa mereka akan baik-baik saja. Pamitlah dengan dignity.
- Jangan lupa pamit lewat email untuk rekan dan kolega yang tidak bisa Anda salamin satu persatu. Sampaikan juga email pemberitahuan bahwa Anda sudah tidak bekerja di perusahaan tersebut kepada customers dan partners Anda, silaturahmi harus tetap dijaga.

7. Rayakan Kemerdekaan Anda!
- Thats it! Anda sudah resign. Melangkahlah keluar dari perusahaan Anda dengan tegak. Hirup napas dalam-dalam, nikmati segarnya napas kemerdekaan. You are free now. No more absen, dikejar2 bikin laporan atau meeting di perusaan itu. Jutaan orang ingin melakukan seperti yg Anda lakukan tapi tidak berani. And you just did it! Congratulation!
- Rayakan dengan keluarga/ teman. Biasanya teman kerja yg lama minta makan2. Layani. Memang pantas di rayakan. Kalau budget Anda terbatas ya beliin aja Pizza.

Demikian catatan saya tentang cara mudah untuk resign. Apakah Anda juga sedang ingin resign? Selamat mencoba 7 langkah diatas!

Wednesday, March 28, 2007

Think Like A Child

Sasha, anak saya yang pertama, punya sebuah “buku impian” yang ditulis diam2 di kamarnya. Kemarin, saya memperoleh privilege untuk membaca buku impian nya. Dan saya cukup kaget dengan apa yang ditulis anak saya. Isinya dahsyat. Mulai dari nama SMP favorit (dengan tulisan besar2 dibawahnya: Diterima!), nilai yang ingin dicapai lulus SD nanti, dengan siapa dia ingin menikah (ya, padahal dia baru 11 tahun), keinginan punya pesawat terbang sendiri, rumah di Hollywood dan Itali, bahkan dicantumkan juga punya uang sebesar $ 96 trilyun. Ya, dia menulis dalam dollar dan nol dua belas. Bapak nya saja tidak berani bermimpi se-dahsyat itu. Hampir saja saya nyletuk: “Emang kamu siapa? Paris Hilton?”

Saya jadi teringat cerita ikon internet marketing Indonesia, Anne Ahira, sewaktu mengikuti seminar internet marketingnya beberapa waktu lalu. Ahira kecil juga adalah pengkhayal yang hebat. Saking ingin nya keliling dunia, ia pernah menempelkan foto diri nya di kalender yang berisi gambar2 kota dunia. Jadi waktu kecil Ahira sudah punya “foto” dirinya didepan obyek wisata dunia, seperti misalnya di depan Golden Gate, Menara Eiffel, dsb. Gambar-gambar tadi di fotocopy dan ditempel di dinding. Ahira kecil ngotot, sekalipun Ibu nya mencoba meyakinkan bahwa keliling dunia hanyalah mimpi bagi anak seorang buruh pabrik dan penjual gado-gado.

Dan belakangan, Ahira dan Ibu nya menangis terharu setelah melihat foto Ahira yang dimuat di Kompas yang menggambarkan dia sedang di depan Golden Gate. Pose nya sama persis dengan foto khayalan Ahira sewaktu kecil. Luar biasa. Thoughts become Things.

Pikiran anak-anak memang sangat jernih. Saya yakin sewaktu kecil kita semua berani bermimpi dengan segala kepolosan kita. Tanpa ada ketakutan-ketakutan apakah mimpi kita akan menjadi nyata atau tidak. Barangkali konsep-konsep seperti: berpikir positif, law of attractions, dsb. sebenarnya sudah diinstall oleh Tuhan di otak kita semua sejak kita lahir. Hanya lambat laun pikiran jernih tadi hilang. Hingga saat kita dewasa, seringkali sangat sulit untuk diinstall ulang.

Anak-anak berpikir dengan cara yang berbeda dengan kita. Ada sebuah cerita, seorang konsultan yang sedang membantu memecahkan masalah di sebuah perusahaan yang sudah listed di bursa suatu ketika ikut menghadiri manajemen meeting untuk memecahkan suatu masalah. Sang konsultan membuat sebuah titik di papan tulis. Dan bertanya:“gambar apa ini?“. Seluruh anggota manajemen kompak dengan jawaban:“sebuah titik hitam di papan tulis putih“. Sang konsultan tiga kali mengulang pertanyaan yang sama, dan mendapat jawaban yang sama. Sang konsultan pun geleng-geleng kepala.“Kemarin saya menanyakan pertanyaan yang sama di sebuat TK, dan mendapat 50 jawaban yg berbeda...“ Ya, bagi anak-anak, titik hitam tadi dapat menjadi mata seekor burung, bola semut, lalat nemplok, dsb. Kreatifitas para pemimpin puncak perusahaan tadi kalah jauh dengan anak TK. Padahal kreatifitas sangat diperlukan dalam memecahkan masalah.

Tidak heran jika Picasso sampai pernah berkata: "Every child is an artist. The challenge is to remain an artist after you grow up". Ya, pelan-pelan kita berubah menjadi orang dewasa dengan meniadakan kehebatan cara berpikir anak-anak yang super kreatif itu.

Menurut pengamatan saya, anak-anak ternyata selalu menerapkan 3B yang seringkali sudah kita lupakan:

Berimajinasi
Anak-anak adalah gudang nya imajinasi. Hari ini mereka bisa menjadi guru, besok menjadi perawat, besok lagi menjadi pembalap, dsb. Hari ini bisa perang-perangan di tengah hutan, besok bisa di dalam pesawat angkasa. Imajinasi ternyata sangat penting dalam dunia pemasaran. Saya teringat cerita salah seorang teman saya yang pekerjaannya seorang marketer. Sebelum merumuskan strategi marketing. Bahkan jauh pada saat produk baru sedang di rumuskan, tim mereka berimajinasi. Misalnya dengan membayangkan bahwa produk tadi adalah sesosok manusia. Berapa umurnya, apa hobby nya, pekerjaanya, kemana kalau “hang-out”, minumnya apa, makanya apa, dst. Ini yang kemudian menjadi bahan untuk mengembangkan materi-materi iklan. Karena sudah memiliki imajinasi tentang “karakter“ produk tadi, maka penyusunan program marketing menjadi lebih mudah.

Buat anak-anak, tidak ada yang tidak mungkin. Imajinasi mereka spontan dan tidak terlalu memikirkan “the how” nya. Karena bagi anak-anak semuanya mungkin terjadi. Justru orang dewasa yang sering “menyabotase” pikiran jernih mereka dengan kata2: “ah, mana mungkin”.Bayangkan kalau cara berimajinasi anak-anak ini kita terapkan dalam menetapkan visi kita kedepan. Kita tidak akan diganggu dengan pikiran-pikiran negatif “ah mana mungkin” tadi.

Bermain
Bagi anak-anak semuanya hanyalah permainan. Dengan demikian tidak ada “masalah” bagi anak-anak. Semua hal bisa dilihat dari sisi yang menyenangkan. Lihat saja, sewaktu bencana banjir di Jakarta yang baru lalu, anak-anak yang justru ceria bermain di tengah banjir. Anak-anak lebih pandai melihat sisi menyenangkan dari setiap “persoalan”. Coba kalau ini kita terapkan dalam keseharian. Betapa “persoalan” akan lebih mudah kita hadapi. Semua menjadi permainan yang menyenangkan.

Saya dulu punya teman yang hampir putus asa karena punya banyak hutang. Saya juga sudah bingung mau ngomong apa. Ketika saya ucapkan kata-kata:” its just a game man …”, ternyata dia langsung bangkit kembali. Dia mendapat inspirasi bahwa bisnis yg dia jalani toh hanyalah permainan. Bahwa skor nya saat ini minus, hanyalah skor, dan mulai sekarang dia bisa bermain lebih bagus untuk mendapay skor yang lebih besar. Its just a game. And its fun!

Belajar
Siapa bilang anak-anak malas belajar. Justru mereka belajar setiap waktu. Saya pernah baca berita suatu penelitian di MIT yang menyimpulkan bahwa cara belajar anak2 itu seperti para scientist. Mereka sangat tertarik hubungan kausalitas. Bagaimana kalau saya melakukan ini, apa reaksi nya. Ini adalah dasar eksperimen. Dan banyak eksperimen yang mereka lakukan. Bagaimana kalau mobil-mobilan ini ban nya dicopot? Bagaimana kalau rambut boneka Barbie ini dipotong, dsb. Rasa ingin tahu yang besar ini, sebenarnya bisa menjadi pendorong kesuksesan yang luar biasa jika kita pertahankan hingga dewasa.

Anak-anak belajar secara alamiah untuk menjadi lebih baik. Seorang bayi yang belajar berjalan, setiap kali jatuh akan bangkit kembali. Berapa kali seorang anak terjatuh dari sepeda? Apakah dia akan berhenti dan meratap. Tidak, dia akan tertawa, bangkit lagi, dan bersepeda lebih baik. Ini adalah proses belajar yang luar biasa. Berani mencoba, berani jatuh dan berani mengevaluasi diri, ini yang sayangnya sering hilang pada saat kita menjadi manusia dewasa.

Jadi, kalau Anda sekarang adalah anak-anak, Anda mau menjadi siapa? Menjadi Spiderman? Batman? Donald Trump? Atau mau jadi Paris Hilton? Selamat berimajinasi.

Monday, March 19, 2007

Rahasia Si Untung

Anda pasti kenal tokoh si Untung di komik Donal Bebek. Berlawanan dengan Donal yang selalu sial. Si Untung ini dikisahkan untung terus. Ada saja keberuntungan yang selalu menghampiri tokoh bebek yang di Amerika bernama asli Gladstone ini. Betapa enaknya hidup si Untung. Pemalas, tidak pernah bekerja, tapi selalu lebih untung dari Donal. Jika Untung dan Donal berjalan bersama, yang tiba-tiba menemukan sekeping uang dijalan, pastilah itu si Untung. Jika Anda juga ingin selalu beruntung seperti si Untung, dont worry, ternyata beruntung itu ada ilmunya.

Ilmu beruntung tadi sedikit diungkap pada seminar Luck Factor yang diselenggarakan oleh Komunitas Tangandiatas dan dibawakan oleh Bp. Ahmad Faiz Zainuddin dari LoGOS Institute (www.seftlogos.com) pada tanggal 15 Maret lalu. Dalam seminar tadi Pak Faiz terutama merujuk pada hasil penelitian Professor Richard Wiseman yang telah dibukukan dengan judul “The Luck Factor”, selain memberikan beberapa intrepretasi dan tambahan sesuai konsep LoGOS yang beliau rumuskan.

Penasaran dengan ilmu keberuntungan Prof Wiseman, saya mencoba menggali lebih dalam hal-hal yang tidak sempat dibahas di seminar tadi. Kalau ingin hidup Anda seperti si Untung, simak baik-baik:

Professor Richard Wiseman dari University of Hertfordshire Inggris, mencoba meneliti hal-hal yang membedakan orang2 beruntung dengan yang sial. Wiseman merekrut sekelompok orang yang merasa hidupnya selalu untung, dan sekelompok lain yang hidupnya selalu sial. Memang kesan nya seperti main-main, bagaimana mungkin keberuntungan bisa diteliti. Namun ternyata memang orang yang beruntung bertindak berbeda dengan mereka yang sial.

Misalnya, dalam salah satu penelitian the Luck Project ini, Wiseman memberikan tugas untuk menghitung berapa jumlah foto dalam koran yang dibagikan kepada dua kelompok tadi. Orang2 dari kelompok sial memerlukan waktu rata-rata 2 menit untuk menyelesaikan tugas ini. Sementara mereka dari kelompok si Untung hanya perlu beberapa detik saja! Lho kok bisa? Ya, karena sebelumnya pada halaman ke dua Wiseman telah meletakkan tulisan yang tidak kecil berbunyi “berhenti menghitung sekarang! ada 43 gambar di koran ini“. Kelompol sial melewatkan tulisan ini ketika asyik menghitung gambar. Bahkan, lebih iseng lagi, di tengah2 koran, Wiseman menaruh pesan lain yang bunyinya: “berhenti menghitung sekarang dan bilang ke peneliti Anda menemukan ini, dan menangkan $250!“ Lagi-lagi kelompok sial melewatkan pesan tadi! Memang benar2 sial.

Singkatnya, dari penelitian yang diklaimnya “scientific“ ini, Wiseman menemukan 4 faktor yang membedakan mereka yang beruntung dari yang sial:

1. Sikap terhadap peluang.
Orang beruntung ternyata memang lebih terbuka terhadap peluang. Mereka lebih peka terhadap adanya peluang, pandai menciptakan peluang, dan bertindak ketika peluang datang. Bagaimana hal ini dimungkinkan? Ternyata orang-orang yg beruntung memiliki sikap yang lebih rileks dan terbuka terhadap pengalaman-pengalaman baru. Mereka lebih terbuka terhadap interaksi dengan orang-orang yang baru dikenal, dan menciptakan jaringan-jaringan sosial baru. Orang yang sial lebih tegang sehingga tertutup terhadap kemungkinan-kemungkinan baru.

Sebagai contoh, ketika Barnett Helzberg seorang pemilik toko permata di New York hendak menjual toko permata nya, tanpa disengaja sewaktu berjalan di depan Plaza Hotel, dia mendengar seorang wanita memanggil pria di sebelahnya: “Mr. Buffet!“ Hanya kejadian sekilas yang mungkin akan dilewatkan kebanyakan orang yang kurang beruntung. Tapi Helzber berpikir lain. Ia berpikir jika pria di sebelahnya ternyata adalah Warren Buffet, salah seorang investor terbesar di Amerika, maka dia berpeluang menawarkan jaringan toko permata nya. Maka Helzberg segera menyapa pria di sebelahnya, dan betul ternyata dia adalah Warren Buffet. Perkenalan pun terjadi dan Helzberg yang sebelumnya sama sekali tidak mengenal Warren Buffet, berhasil menawarkan bisnisnya secara langsung kepada Buffet, face to face. Setahun kemudian Buffet setuju membeli jaringan toko permata milik Helzberg. Betul-betul beruntung.

2. Menggunakan intuisi dalam membuat keputusan.
Orang yang beruntung ternyata lebih mengandalkan intuisi daripada logika. Keputusan-keputusan penting yang dilakukan oleh orang beruntung ternyata sebagian besar dilakukan atas dasar bisikan “hati nurani” (intuisi) daripada hasil otak-atik angka yang canggih. Angka-angka akan sangat membantu, tapi final decision umumnya dari “gut feeling“. Yang barangkali sulit bagi orang yang sial adalah, bisikan hati nurani tadi akan sulit kita dengar jika otak kita pusing dengan penalaran yang tak berkesudahan. Makanya orang beruntung umumnya memiliki metoda untuk mempertajam intuisi mereka, misalnya melalui meditasi yang teratur. Pada kondisi mental yang tenang, dan pikiran yang jernih, intuisi akan lebih mudah diakses. Dan makin sering digunakan, intuisi kita juga akan semakin tajam.

Banyak teman saya yang bertanya, “mendengarkan intuisi” itu bagaimana? Apakah tiba2 ada suara yang terdengar menyuruh kita melakukan sesuatu? Wah, kalau pengalaman saya tidak seperti itu. Malah kalau tiba2 mendengar suara yg tidak ketahuan sumbernya, bisa2 saya jatuh pingsan. Karena ini subtektif, mungkin saja ada orang yang beneran denger suara. Tapi kalau pengalaman saya, sesungguhnya intuisi itu sering muncul dalam berbagai bentuk, misalnya:

- Isyarat dari badan. Anda pasti sering mengalami. “Gue kok tiba2 deg-deg an ya, mau dapet rejeki kali”, semacam itu. Badan kita sesungguhnya sering memberi isyarat2 tertentu yang harus Anda maknakan. Misalnya Anda kok tiba2 meriang kalau mau dapet deal gede, ya diwaspadai saja kalau tiba2 meriang lagi.
- Isyarat dari perasaan. Tiba-tiba saja Anda merasakan sesuatu yang lain ketika sedang melihat atau melakukan sesuatu. Ini yang pernah saya alami. Contohnya, waktu saya masih kuliah, saya suka merasa tiba-tiba excited setiap kali melintasi kantor perusahaan tertentu. Beberapa tahun kemudian saya ternyata bekerja di kantor tersebut. Ini masih terjadi untuk beberapa hal lain.
- Isyarat dari luar. “Follow the omen” demikian kalau kata Paulo Coelho di buku the Alchemist. Baca “isyarat2” dari luar yang datang pada Anda. Saya juga beberapa kali mengalami. Misalnya pernah saja tiba2 di TV saya kok merasa sering melihat iklan suatu perusahaan tertentu, kemudian ketemu teman kok membicarakan perusahaan itu lagi, di jalan melihat iklan perusahaan tadi. Belakangan perusahaan tadi ternyata menjadi klien saya. Jadi kalau akhir2 ini Anda sering berpapasan dengan Mercedez S Class dua pintu, barangkali itu suatu pertanda.

3. Selalu berharap kebaikan akan datang.
Orang yang beruntung ternyata selalu ge-er terhadap kehidupan. Selalu berprasangka baik bahwa kebaikan akan datang kepadanya. Dengan sikap mental yang demikian, mereka lebih tahan terhadap ujian yang menimpa mereka, dan akan lebih positif dalam berinteraksi dengan orang lain. Coba saja Anda lakukan tes sendiri secara sederhana, tanya orang sukses yang Anda kenal, bagaimana prospek bisnis kedepan. Pasti mereka akan menceritakan optimisme dan harapan.

4. Mengubah hal yang buruk menjadi baik.
Orang-orang beruntung sangat pandai menghadapi situasi buruk dan merubahnya menjadi kebaikan. Bagi mereka setiap situasi selalu ada sisi baiknya. Dalam salah satu tes nya Prof Wiseman meminta peserta untuk membayangkan sedang pergi ke bank dan tiba-tiba bank tersebut diserbu kawanan perampok bersenjata. Dan peserta diminta mengutarakan reaksi mereka. Reaksi orang dari kelompok sial umunya adalah: “wah sial bener ada di tengah2 perampokan begitu”. Sementara reaksi orang beruntung, misalnya adalah: “untung saya ada disana, saya bisa menuliskan pengalaman saya untuk media dan dapet duit“. Apapun situasinya orang yg beruntung pokoknya untung terus. Mereka dengan cepat mampu beradaptasi dengan situasi buruk dan merubahnya menjadi keberuntungan.

Sekolah Keberuntungan

Bagi mereka yang kurang beruntung, Prof Wiseman bahkan membuka Luck School. Saya yakin Anda semua sudah beruntung dan tidak perlu bersekolah di Luck School. Tapi ada baiknya mengintip sedikit, latihan2 apa yang diberikan di Luck School.

Salah satu yang menonjol dari orang sial adalah betapa mereka sering mengabaikan hal-hal yang positif di sekitar mereka. Misalnya salah satu pasien Prof Wiseman, adalah seorang wanita single parent, yang sangat sial. Ketika diminta menceritakan hidupnya akan segera nyerocos menceritakan setiap detil kesialannya. Betapa sulitnya memperoleh pasangan, sudah ketemu pria yang cocok tapi si pria jatuh dari motor, di lain kesempatan si pria jatuh dan patah hidungnya, sudah hampir menikah, gereja nya terbakar, dan sebagainya. Pokoknya benar2 sial. Padahal, dalam setiap interview, si wanita datang membawa 2 orang anak yang sangat lucu2 dan sehat. Sebagian besar dari kita akan merasa sangat beruntung memiliki 2 anak tadi. Tapi tidak bagi si wanita sial tadi. Karena 2 anak lucu tadi tidak ada dalam pikiran si wanita, yang otaknya sudah penuh dengan “kesialan”.

Latihan yang diberikan Wiseman untuk orang2 semacam itu adalah dengan membuat “Luck Diary“, buku harian keberuntungan. Setiap hari, wanita tadi harus mencatat hal-hal positif atau keberuntungan yang terjadi. Mereka dilarang keras menuliskan kesialan mereka. Awalnya mungkin sulit, tapi begitu mereka bisa menuliskan satu keberuntungan, besok-besoknya akan semakin mudah dan semakin banyak keberuntungan yg mereka tuliskan. Dan ketika mereka melihat beberapa hari kebelakang Lucky Diary mereka, semakin mereka akan sadari betapa mereka beruntung. Dan sesuai prinsip “law of attraction”, semakin mereka memikirkan betapa mereka beruntung, maka semakin banyak lagi lucky events yang datang pada hidup mereka.

Jadi, sesederhana itu rahasia si Untung. Ternyata semua orang juga bisa beruntung. Termasuk Anda. Siap mulai menjadi si Untung hari ini?

Monday, March 12, 2007

10 Pertanyaan Paling Menantang

Sewaktu menikah, kata orang kami berdua merupakan “pasangan ideal”, karena istri saya pegawai negeri dan saya karyawan bank swasta. Sudah punya karir, punya anak dua, punya rumah, punya mobil, kurang apa? Begitu kebanyakan teman dan keluarga bilang ke saya ketika saya memutuskan menjadi pengusaha. Paling susah jika ada acara kumpul2 keluarga atau teman. Biasanya muncul pertanyaan ataupun pernyataan luar biasa yg rada2 susah dijawab. Ada yang sempat saya jawab, ada yang bikin saya speechless. Berikut diantaranya:

1. Kenapa sih jadi pengusaha?
Jawab: Karena terlanjur! Hahaha … Jujur saja, tadinya karena terlanjur bikin perusahaan, jadi terpaksa serius. Ya begitulah hidup, kadang2 ada saja yang terjadi diluar rencana. Tapi setelah saya renungkan, menjadi pengusaha adalah pilihan hidup saya. Saya tetap menghormati pilihan hidup orang lain. Jadi karyawan juga tidak ada salahnya. Tapi saya pribadi pilih jadi pengusaha. Karena hanya dengan menjadi pengusaha, saya bisa melakukan banyak hal yang tidak mungkin saya lakukan ketika menjadi karyawan, misalnya:
- Memiliki potensi pendapatan yang sangat besar. Sementara kalau terus jadi karyawan, setinggi apapun jabatan saya pendapatan saya terbatas.
- Hanya dengan menjadi pengusaha saya dapat memberikan kesempatan buat orang lain untuk mencari nafkah di perusahaan saya. Istilahnya, bisa menjadi saluran rizki buat orang lain.
- Lebih banyak waktu bersama anak2 dan keluarga saya, sementara pendapatan terus mengalir. Sementara kalau jadi karyawan waktu saya habis tersita untuk perusahaan.

2. Bukankah hidup pengusaha itu susah, tidak bahagia?
Jawab: Ya, ada pengusaha yang tidak bahagia. Banyak juga karyawan yang tidak bahagia. Bahagia sebetulnya kan bukan soal profesi kita apa. Bahagia adalah pilihan hati kita mau bahagia atau tidak. Saya sih pilih bahagia.

3. Tapi kan pusing dan capek mikirin usaha?
Jawab: Ya, memang pusing kalau cuma dipikirin. Makanya usaha tidak untuk dipikirin saja, tapi juga dijalanin. Kalau sudah dijalanin sih pusing nya ilang kok. Diganti sama deg2 an ... hehehe. Dulu sebelum tahu ilmu nya saya juga capek. Dulu tidak ada delegasi ke tim, jadi semua saya jalanin sendiri. Saya ikutan dari mulai jualan, melakukan implementasi, sampai nagih. Caaape’ deeeh. Tapi sekarang dengan delegasi ke tim, alhamdulillah saya bisa lebih rileks.

4. Jadi pengusaha kan bisa bangkrut?
Jawab: Semua ada risiko nya. Jadi pengusaha penuh risiko. Jadi karyawan apalagi. Malah, yang harusnya paling takut perusahaan bangkrut itu justru para karyawan. Kalau perusahaan bangkrut, karyawan langsung dipecat. Kalau perusahaan saya bangkrut, belum tentu saya pribadi ikut bangkrut. Lagi pula saya sedang belajar menciptakan multiple streams of income, supaya sumber pendapatan saya tidak hanya dari satu usaha saja.

5. Gak takut banyak saingan?
Jawab: Dulu ya, saya takut saingan. Tapi setelah dijalani ternyata persaingan itu tidak menakutkan sama sekali. Malah positif buat kita karena memacu kita untuk selalu lebih baik. Kalau kita selalu lebih baik dari saingan, tidak ada lagi yang perlu ditakutkan.

6. Jadi karyawan kan lebih tentram?
Jawab: Ya ini kan soal pilihan. Mungkin jaman orang tua kita dulu menjadi karyawan cukup menentramkan dari segi finansial. Tapi dengan laju inflasi, semakin besarnya biaya sekolah, semakin tingginya biaya hidup, dan sebagainya, kalau saya terus jadi karyawan, justru saya tidak akan bisa tentram lagi ketika anak2 saya kuliah nanti.

7. Sudah punya karir kok ditinggalkan, apa tidak bersyukur kepada Tuhan?
Jawab: Saya sangat bersyukur atas apa yang Allah telah berikan kepada saya. Bahkan, dengan menjadi pengusaha saya semakin memahami arti bersyukur. Dulu, saya tinggal menunggu tanggal 25 semua beres, menghabiskan nya juga enteng saja. Kini, saya semakin dapat mensyukuri setiap rupiah yang saya terima. Betapa dibalik setiap rupiah tadi adalah rizki dari yang Maha Penyayang. Lagipula, menjadi pengusaha memungkinkan saya mengembangkan seluruh potensi yang Allah sudah berikan kepada saya. Itulah salah satu cara saya bersyukur.

8. Gak punya darah pengusaha kok jadi pengusaha?
Jawab: Ya, dulu memang kebanyakan pengusaha tradisional hanya meneruskan usaha orang tua nya. Maka muncul mitos soal darah pengusaha ini. Kenyataannya sekarang siapapun bisa jadi pengusaha. Karena mengelola usaha itu ternyata ada ilmunya dan bisa dipelajari. Saya memang masih belajar, tapi siapapun yg mau belajar insyaAllah pasti bisa.

9. Kenapa gak merangkap saja punya usaha tapi tetap jadi karyawan?
Jawab: Ya. Mungkin saja begitu. Saya juga pernah begitu. Tapi kok malah tidak maksimal. Usaha tidak berkembang, jadi karyawan juga gak tenang. Mungkin masalahnya di fokus. Kalau saya bekerja untuk perusahaan orang lain, semestinya dedikasi saya 100% untuk perusahaan itu. Dengan “nyambi“, saya kok merasa “selingkuh“ gitu. Itu kalau saya lho, mungkin orang lain tidak.

10. Kok sering dirumah, sebenernya kerjanya apa sih?
Jawab: Hehehe ... begini Oom, memang jaman sekarang sudah maju. Pertama, jasa yang perusahaan saya berikan memang lebih banyak pakai otak daripada otot, jadi saya bisa menyelesaikan sebagian besar kerjaan saya dimanapun lewat internet. Kedua, sebagian besar kerjaan yang butuh kehadiran fisik sudah saya delegasikan pada tim saya yang lebih muda dan lebih pinter, dan saya bayar mahal pula. Jadi saya tinggal memonitor saja. Memang sekarang mungkin aneh, tapi makin lama akan makin banyak orang yang bekerja seperti saya.

Sunday, March 11, 2007

Santaplah Makanan Anjing Anda Sendiri.

Yang bener saja, masa manusia menyantap makanan anjing? Tentu bukan begitu maksudnya. Ini saya kutip dari salah satu resep untuk menghasilkan produk yang revolusioner dari Guy Kawasaki. Maksud sebenarnya adalah: gunakan produk Anda sendiri, sebagaimana pelanggan Anda menggunakan produk Anda. Ungkapan lama ini konon dulu asalnya dari iklan2 makanan anjing di AS pada awal era TV yang masih serba live, dimana hingga iklan berakhir seringkali anjingnya sendiri ternyata ogah menyantap makanan yg diiklankan.

Kalau diperhatikan, para penghasil produk unggulan memang selalu memastikan bahwa konsumen memperoleh pengalaman yang optimal dengan produk mereka. Salah satunya dengan menggunakan sendiri produk mereka. Guy Kawasaki memberikan contoh, setiap hari sekitar 300 karyawan Gillette bercukur di shaving-lab mereka dengan menggunakan aneka produk alat cukur yang mereka hasilkan. Ini sudah menjadi ritual yang membanggakan bagi mereka. Karyawan pusat pengembangan Porsche sampai2 menolak jalan menuju ke kantor mereka yang berkelok-kelok dan berlobang diperbaiki. Karena justru setiap hari, jalan tadi menjadi ajang bagi mereka untuk menjajal Porsche mereka. Karyawan pabrik sepeda Cannondale, didorong untuk pulang-pergi dengan sepeda mereka. Di film The Aviator yang menceritakan kehidupan salah satu ikon industri penerbangan Howard Hughes, kita menyaksikan betapa Hughes selalu menerbangkan sendiri pesawat2 baru nya. Meskipun dengan resiko hampir kehilangan nyawanya.

Dengan mencoba dan mengalami sendiri, pengusaha sekelas Howard Schultz, pendiri dan chairman Starbuck bahkan berhasil menemukan hal-hal yang telah hilang dari Starbuck. Sebagai penggemar kopi, sejak lama saya memperhatikan bahwa Starbuck belumlah memberikan pengalaman menikmati kopi yang dicari oleh penggemar kopi sejati. Benar saja, pertengahan Februari 2007 lalu, chairman Howard Schultz mengirimkan memo kepada CEO Jim Donald, yang isinya menegaskan kekecewaan Schultz atas hilangnya tradisi Starbuck yang sebenarnya. Memo yang bocor keluar dan sempat menghebohkan AS tadi salah satu bagian nya berbunyi: “Some people even call our stores sterile, cookie cutter, no longer reflecting the passion our partners feel about our coffee. In fact, I am not sure people today even know we are roasting coffee.” Wow, betul-betul otokritik yang luarbiasa. Semoga setelah ini saya bisa lebih menikmati Starbuck.

Dalam skala yang jauh lebih kecil, saya dan keluarga juga mencoba menerapkan hal ini. Karena klinik dan spa yang kami kelola menjual produk2 aromaterapi, maka kini setiap pagi dan sore, di rumah kami menyalakan burner aromaterapi. Kami jadi tahu persis berapa lama lilin burner akan habis, beda nya burner berbahan logam dan keramik, berapa tetes minyak essential yang diperlukan, termasuk efek-efek yang terasa dengan menghirup aroma tertentu. Hampir seluruh produk dan jasa klinik juga telah kami coba sendiri. Bagaimana rasanya treatment penghilangan lemak dengan meso-lipo, facial dengan alat microdermabrasi hingga akupuntur, kami sudah rasakan sendiri. Kami membuktikan sendiri secara langsung apa yang selama ini kami promosikan, sekaligus kami menjadi pihak pertama yang menemukan beberapa kelemahan yang harus diperbaiki.

Apakah Anda seorang pengusaha restoran, pengrajin aksesoris, pengusaha salon, atau pemilik toko pakaian jadi. Saya sarankan Anda untuk selalu menggunakan produk Anda sendiri. Apalagi jika produk Anda adalah pakaian atau aksesoris, Anda dapat menjadi “kapstok berjalan” untuk sekaligus mempromosikan produk Anda. Cara ini beberapa waktu lalu sukses dijalankan oleh istri saya ketika ikut jualan produk aksesoris dari Mozly. Dengan memakai sendiri produk2 aksesoris Mozly, calon pelanggan lebih tertarik, bahkan tak jarang langsung meminta produk yang saat itu sedang dipakai istri saya.

Singkatnya, banyak sekali keuntungan yang akan Anda peroleh dengan selalu menggunakan produk sendiri. Jadi, selamat menikmati “makanan anjing“ Anda.

Saturday, March 10, 2007

Rudy

Indonesia dipastikan tidak akan memperoleh gelar pada turnamen bulu-tangkis paling bergengsi All England 2007. Sudah empat tahun berturut-turut pahlawan-pahlawan bulu tangkis Indonesia belum berhasil membawa pulang gelar dari All England.

Saya jadi teringat masa-masa kecil saya dulu. Waktu itu All England merupakan event yang sangat ditunggu-tunggu oleh seluruh rakyat Indonesia. Sekarang mungkin bahkan banyak orang Indonesia yg tidak tahu ketika All England berlangsung. Prestasi pahlawan-pahlawan bulutangkis seperti Rudy Hartono, Liem Swie King, Iie Sumirat, dkk betul-betul sangat membanggakan. Apalagi jika Rudy Hartono yang main, seakan aktivitas seluruh negeri terhenti untuk mengikuti jalannya pertandingan. Seluruh perhatian, emosi, harapan dan doa tertumpah pada perjuangan seorang Rudy.

Padahal pada masa itu televisi belumlah sepopuler sekarang. Saya dan keluarga sempat mengalami masa-masa ketika pertandingan bulutangkis hanya bisa diikuti melalui radio. Ya, jadi bukan menyaksikan pertandingan tapi mendengarkan pertandingan. Disitulah “ciamik” nya penyiar olahraga RRI waktu itu. Kita mendengarkan pertandingan dengan imajinasi. Betul2 terasa hidup, seakan kita ikut menyaksikan perjuangan Rudy dkk. Pada saat itu kami sekeluarga akan berkumpul mengerumuni radio bersama2, dengan ketegangan, teriakan, deru nafas dan degup jantung yang sama. Betul-betul suasana kebersamaan yang luar biasa.

Rudy sendiri menjadi juara All England sebanyak 8 kali, 7 kali diantaranya berturut-turut, sebelum dominasinya di dunia bulutangkis diserahkan kepada pahlawan Indonesia yang lain, Liem Swie King. Tidak dapat disangkal, Rudy adalah pemain bulutangkis terbesar sepanjang jaman. Majalah TIME bahkan sampai menobatkan Rudy sebagai “Asian Hero”, betul-betul pengakuan yang layak. Dan jika kita ingin sukses seperti Rudy, mungkin ada baiknya kita belajar dari kunci keberhasilan seorang Rudy Hartono.

Saya pernah membaca bahwa ketika ditanya kunci keberhasilannya. Rudi menjawab singkat: “berdoa”. Lho kalau cuma berdoa, bukankah kita semua berdoa. Ternyata menurut Rudy, dia berdoa tidak hanya sebelum bertanding tetapi juga selama bertanding, sehingga akan membangkitkan percaya diri dalam hati dan pikiran.

Selain berdoa, Rudy juga setiap saat mengucapkan rasa syukur. Ini tidak hanya ketika Rudy memenangkan pertandingan. Bahkan untuk setiap poin yang ia peroleh selama bertanding, ia ucapkan: “Terima kasih Tuhan untuk poin ini.” Dan ini akan terus ia ucapkan hingga skor terakhir dan pertandingan berakhir. Rudy percaya penuh bahwa manusia berusaha namun Tuhan yang memutuskan.

Ternyata seorang juara sejati tidak pernah putus berdoa dan bersyukur. Saya yakin ini yang membuat Rudy sangat tegar dan persisten dalam setiap pertandingan. Saya teringat betul, dalam tekanan hebat melawan musuh2 bebuyutannya seperti Svend Pri atau Prakash Padukone, Rudy tetap tenang dan yakin. Mungkinkah itu yang mulai hilang dari diri kita?

Lantas, dalam “pertandingan” kehidupan kita sehari-hari entah itu dalam bisnis atau pekerjaan kita, sudah kah kita juga percaya apa yang dikatakan Rudy?

Friday, March 09, 2007

G r a t i s ! !

Nah, Anda pasti penasaran kan, apanya yang gratis? Pasti langsung scroll-down ke bawah apa ada link yang kasih free voucher, free-ebook, atau freeware? Bukan. Saya bukan sedang memberikan penawaran gratis produk atau jasa tertentu. Saya sedang duduk di salah satu café di Bandung, menikmati black coffee kesukaan saya dan nulis blog menggunakan koneksi internet wi-fi gratis. Betul-betul gratis. Tidak seperti di Jakarta yang kebanyakan mall dan cafe nya hanya menyediakan koneksi wi-fi yang harus bayar, hampir semua mall di Bandung sekarang memiliki fasilitas wi-fi gratis. Dan saya senang yang gratis. Tidak hanya saya, pasti semua orang senang dengan gratisan.

Saya jadi teringat salah satu strategi Long Tail nya Chirs Anderson bahwa setiap orang pasti suka dengan hal yang gratis. Jadi strategi memberikan gratisan bisa sangat diandalkan untuk memperpanjang long-tail Anda. Seperti ISP yang menyediakan wi-fi gratis yang sedang saya nikmati ini. Sebagian besar pendapatannya diperoleh dari customer rumahan dan corporate, namun masih mau “repot-repot” menyediakan wi-fi gratis di mall-mall. Akibat langsung yang saya rasakan adalah meningkatnya awareness saya terhadap keberadaan ISP tadi. Belum lagi kestabilan koneksi dan kecepatan pada wi-fi gratis nya akan membuat siapapun akan berpikir, kalau gratis nya saja kenceng gini, gimana kalau langganan di rumah. Betul-betul strategi yang baik, apalagi infrstruktur wi-fi sekarang sudah relative murah.

Salah satu penawaran gratis menarik lain yang pernah saya lihat adalah gratis Business Check-Up yang sering diberikan oleh ActionCoach pada seminar-seminarnya. Setiap pemilik usaha yang ingin maju pasti ingin di check-up kondisi bisnisnya. Apalagi oleh coach ternama. Gratis lagi.

Sebagai pemilik bisnis, meskipun kecil-kecilan, kita semua sebetulnya juga bisa menerapkan strategi gratisan ini. Tentu dengan berbagai pertimbangan, supaya strategi gratisan-nya dapat memperpanjang ekor, bukan malah merugikan diri sendiri. Dari sisi pemilik usaha, pada dasarnya produk gratisan nya sendiri dapat dialokasikan sebagai salah satu komponen biaya. Sehingga dari awal bisa dilakukan justifikasi apakah akan menguntungkan atau tidak. Tapi yang paling penting sebenarnya adalah tujuan apakah yang ingin dicapai melalui pemberian gratisan tadi?

Kita dapat menggunakan 5 area penting pada model “Business Chassis” nya Brad Sugars, untuk memetakan strategi gratisan kita: Peningkatan Lead Generation, Peningkatan Conversion Rate, Peningkatan Number of Transactions, Peningkatan Average Sale, dan Peningkatan Profit Margin.

Lead Generation.
Lead adalah calon pelanggan Anda. Siapapun yang datang kepada Anda atau tertarik pada produk atau layanan Anda. Anda harus meningkatkan Lead sebanyak-banyaknya. Strategi gratisan dapat Anda pergunakan untuk meningkatkan Lead.
- Cara paling sederhana adalah memberikan sesuatu yang gratis dan pada saat Anda memperkenalkan produk Anda. Ini yang paling sering dilakukan orang. Kelemahannya adalah, kadang orang suka dengan barang gratisan nya, tapi justru cepat melupakan produk yang Anda tawarkan.
- Cara yang sedikit advanced dan umum diterapkan dalam bisnis online adalah, Anda dapat memberikan sesuatu yang gratis, namun sebelumnya calon pelanggan harus mengisikan data pribadinya terlebih dahulu. Database calon pelanggan yang terkumpul dapat Anda manfaatkan dalam Lead Generation, misalnya dengan secara rutin mengirimkan newsletter, perkenalan produk dsb.

Conversion Rate.
Setelah calon pelanggan datang, maka tugas selanjutnya adalah membuat mereka menjadi pelanggan Anda, atau secara riil melakukan pembelian. Kalau Anda disiplin melakukan pencatatan berapa jumlah Lead dan berapa yang melakukan pembelian, maka Anda akan memiliki angka Conversion Rate. Ini juga dapat ditingkatkan melalui strategi gratisan.
- Misalnya gratis produk tertentu untuk pembelian sekarang juga. Gratis produk tertentu untuk pembelian pada tanggal tertentu, dsb. Yang inti nya mendorong Lead take decision melakukan pembelian sekarang.

Number of Transactions.
Pelanggan yang melakukan lima kali pembelian, tentu efeknya akan jauh berbeda dengan hanya satu kali pembelian. Disini disiplin pencatatan sekali lagi sangat penting. Anda harus memiliki data berapa jumlah transaksi yang dilakukan oleh pelanggan Anda. Sehingga Anda dapat memonitor berapa jumlah transaksi yang dilakukan pelanggan Anda. Hal ini juga dapat kita tingkatkan melalui strategi gratisan.
- Misalnya Potong rambut lima kali gratis satu kali. Beli tiga selimut gratis satu. dsb.

Average Value Sale.
Selain banyaknya pembelian, hal yang cukup penting adalah rata-rata nilai penjualan nya sendiri. Semakin tinggi rata-rata nilai penjualan tentu semakin baik. Strategi gratisan juga sangat efektif dalam hal ini.
- Gratis produk tertentu jika nilai pembelian mencapai angka tertentu. Misalnya gratis tas cantik untuk pembelian busana senilai 1 juta rupiah. dsb. Intinya adalah untuk mendorong atau memaksimalkan nilai belanja pelanggan.

Profit Margin.
Ini sedikit challenging, bagaimana mungkin meningkatkan profit margin dengan memberikan barang gratisan. Ternyata bisa saja.
- Misalnya naikkan harga jual produk Anda dan tambahkan barang gratisan sebagai bonus. Dengan memberikan gimmick, nilai produk yang lebih tinggi tidak akan jadi concern pelanggan.

Bagaimana menerapkan strategi gratisan di atas? Apakah satu demi satu atau bersamaan? Jawabannya tentu tergantung tujuan yang hendak kita capai. Dan ini terkait dengan hasil testing dan measurement yang kita lakukan sebelumnya. Jika dari hasil testing dan measurement kita identifikasikan bahwa lead generation yang perlu ditingkatkan, maka kita lakukan penerapan strategi gratisan untuk lead generation. Selanjutnya setelah diterapkan, dalam waktu tertentu sebaiknya dilakukan kembali testing & measurement untuk melihat improvement yang terjadi.

Jadi, setelah memahami strategi gratisan ini, Anda siap memberikan program gratisan untuk saya?

Wednesday, March 07, 2007

Marah

Akhirnya saya mengalami marah. Ya, ini termasuk peristiwa langka buat saya. Sudah berbulan-bulan saya tidak marah. Malah sejujurnya saya lupa kapan terakhir saya marah. Ada teman saya yang menyebut saya “sumbu panjang” karena pada situasi yang seharusnya saya marah, saya belum juga marah. Teman saya yang lain pernah mengatakan saya memiliki boiling point yang tinggi, meminjam salah satu judul acara di MTV.

Di kantor, saya tidak pernah marah, paling jauh saya memberikan teguran dengan nada keras, tapi bukan marah dengan nada tinggi dan emosional. Di rumah, saya jarang marah sama istri. Terakhir marahan mungkin sudah lebih dr setahun yg lalu, persisnya saya lupa. Saya juga hampir tdk pernah memarahi anak. Waktu anak saya yg pertama lahir, kakak tertua saya menasehati saya: Kalau nanti mau memarahi anak, tolong lihat baik2 wajah anak kita sambil mengingat siapa yg udah ngasih anak itu, niscaya kemarahan kita hilang. Nasehat itu ampuh hingga sekarang. Malah saya pernah mau marah ke anak saya, setelah saya menatap wajah anak saya untuk mengingat2 penciptanya, saya jadi tertawa sendiri, soalnya ekspresi anak saya lucu banget. Seolah Tuhan waktu itu sedang ngeledek saya “marah ni yee ..” lewat ekspresi anak saya.

Ayah saya malah tidak pernah marah di depan saya. Seumur hidup, saya belum pernah dimarahi sama Ayah saya. Dulu saya suka iri sama teman2 saya yang sering dimarahi Ayahnya. Teman2 Ayah saya di kantor pun sampai bingung dan bertanya pada Ibu saya:”seperti apa Bapak kalau marah?”. Karena bertahun2 bekerja bersama mereka tidak pernah melihat Ayah marah. Bahkan atasan Ayah waktu itu sengaja memancing Ayah supaya marah, dengan kata-kata yg menyakitkan. Bukan nya marah, Ayah ngeloyor meninggalkan atasan nya begitu saja. Mungkin Ayah saya waktu itu juga marah, tapi beliau memilih pergi dibandingkan teriak2an yg tidak berguna. Selain jarang marah, Ayah saya juga jarang sakit. Pasti ada korelasi positif antara marah dan sakit.

Ada teman saya yang menasehati saya, kalau marah itu tidak baik ditahan-tahan. Lebih sehat kalau sekali-kali kemarahan dilepaskan. Padahal saya juga tidak bermaksud menahan marah. Memang marahnya saja yang tidak muncul-muncul. Kalaupun muncul modelnya beda dengan kebanyakan orang marah. Ekspresi marah saya biasanya diam dan berbicara ketus dan tegas.

Tapi kemarin saya akhirnya marah “beneran”, saya membentak orang dan memukulkan tangan ke meja (sakit juga sih). Ini prestasi buat saya. Belum pernah saya semarah itu. Penyebabnya juga sepele, sebelumnya saya juga sudah sering mengalami tapi tidak pernah marah. Kemarin, tiba2 saja ada dorongan untuk marah. Dan saya biarkan keluar. Pada saat marah saya rasakan kemarahan itu, ooo begini to rasanya. Betul2 tidak nyaman dan gak perlu. Memang cuma beberapa detik, tapi kata-kata yang tidak perlu terlanjur keluar, dan rasa sakit di tangan yang gak perlu (saya baru ingat, meja nya dari marmer). Saya menyesal.

Umumnya orang setelah marah baru menyesal. Sore nya saya di telpon atasan orang yang saya marahi tadi untuk mohon maaf atas kekecewaan saya. Tapi saya malah merasa sangat menyesal dan meminta maaf juga. Betul saya menyesal. Marah saya tidak sebanding dengan kesalahan yang telah dilakukan. Kata-kata keras yang keluar ibarat paku yang terlanjur saya tancapkan di hati orang itu, dan setelah dicabut tetap meninggalkan luka. Untunglah kemarahan saya cepat sekali berlalu. Saya paham betul emosi dan pikiran negative dapat merusak hari saya, sesuai prinsip law of attraction. Jadi cepat2 saya niatkan untuk kembali tenang, damai, dan bahagia. Saya ucapkan “swicthword“ saya untuk kedamaian: BE. Langsung damai datang, dan marah hilang.

Apapun profesi Anda, pengusaha atau karyawan, untuk bisa selalu dalam kondisi damai dan tenang itu penting. Pikiran yang kacau akibat kemarahan menjadi tidak jernih. Deepak Chopra mengibaratkan ini ibarat samudra yang sedang dilanda badai. Ombaknya setinggi bukit. Jika Anda lempar batu sebesar mobil juga tidak akan terlihat dampaknya. Sebaliknya, pikiran yang tenang ibarat danau yang sangat tenang. Anda lempar kerikil pun gelombangnya akan terlihat merambat keseluruh danau. Jika Anda sedang menanam benih sukses dalam pikiran, pastikan sedang dalam keadaan tenang seperti danau yang tenang. Kalau tidak ya percuma, seperti melempar batu ke samudra ditengah badai tadi. Makanya saya segera evaluasi kenapa kemarahan saya bisa keluar.

Saya baca2 literatur, ternyata penyebab marah adalah: “Anger comes out as a response to feelings of dissatisfaction, frustration and unhappiness, which usually arise when we dislike a person, an object or a situation.” OK, jadi marah itu adalah suatu respon, sumbernya perasaan kecewa, frustasi atau ketidakbahagiaan. Kalau situasi saya kemarin, yang pasti saya tidak sedang frustasi, juga sedang bahagia, tapi masih bisa marah juga. Jadi mungkin sumbernya lebih pada kekecewaan, karena service yang saya terima tidak sesuai harapan saya.

Karena marah itu respon, artinya bisa kita control. Karena respon itu terserah kita. Pada situasi yang sama, kita bisa memilih untuk marah atau memilih untuk tenang. Berikut beberapa tips yang bisa kita lakukan untuk mengontrol kemarahan:

1. Rasakan.
- Kemarin saya merasakan ada moment sesaat sebelum marah. Ada baiknya kita melatih untuk menyadari moment marah akan datang ini , sehingga bisa langsung take control. Karena kalau kadung meledak akan susah dikendalikan.
2. Hentikan.
- Stop apa yang sedang kita lakukan saat itu. Kalau pemicu kemarahan ada di depan Anda, ya tinggalkan saja. Kalau Anda marah ketika sedang berdebat, segera hentikan debatnya. Jangan ucapkan lagi kata2, tinggalkan meeting Anda kalau perlu.
3. Alihkan Perhatian.
- Alihkan perhatian pikiran kita kepada sesuatu yang lain. Misalnya dengan menarik napas dalam2 dan hitung sampai sepuluh. Kalau Anda sedang berdiri sebaiknya duduk, ini dapat mengurangi kemarahan. Kalau Anda sedang duduk, minum air. Jika tidak ada air minum, ya minimal pejamkan mata sambil bernafas dalam-dalam dan teratur. Atau kalau buat muslim saya sarankan sambil bernafas dalam2 ber-istighfar. Mengingat2 Tuhan terbukti efektif mencegah marah kita meledak ke luar. Kalau masih mau meledak juga ambil wudhu dan shalat, atau lakukan meditasi kalau bisa nya meditasi. Begitu kena air wudhu juga biasanya marahnya hilang.
- Salah satu cara untuk mengalihkan perhatian: Ngaca. Waktu saya kecil kalau sedang marah, sama ibu saya disuruh ngaca. Memang ternyata jelek bener muka kita kalau marah. Makanya kebanyakan orang yg marah tidak mau ngaca. Jadi coba saja ngaca, mungkin kita akan malu sendiri melihat muka kita yg berlipat.
4. Sembuhkan.
- Setelah marah reda. Segera sembuhkan sakit di hati ketika sedang marah. Jika Anda belum punya, beli saja buku “Piece of Mind“ nya Sandy MacGregor. Disitu Anda dapat belajar cara membangun tempat kedamaian Anda, dan mengakses kembali secara cepat. Anda juga dapat menciptakan dan menggunakan jangkar emosi. Ini perlu latihan berulang-ulang, sebelum jadi otomatis bagi Anda.
- Atau cara paling sederhana adalah dengan mengingat-ingat saat2 paling bahagia Anda. Intinya adalah kembalikan rasa damai dan bahagia di hati Anda, karena marah akan pergi begitu damai dan bahagia datang.
- Anda juga harus memaafkan orang-orang yg memicu kemarahan Anda. Kalau belum bisa mengucapkan maaf secara langsung, maafkan dalam hati. Kekuatan memaafkan ini dapat menyembuhkan rasa marah.
5. Biarkan (Let it Go).
- Ini prinsip detachment. Kita marah karena situasi tidak sesuai keinginan kita. Padahal kita kadang tidak tahu maksud Tuhan yg sudah pasti baik. Maka biarkan saja, percayakan pada Tuhan. Makin kita attach pada apa yg kita inginkan, makin kita marah. Kalau kata Ayah saya dulu:”Yo wis ben lah. Bismillah kersaning Allah”.

Semoga bermanfaat.(FR)