Wednesday, April 18, 2007

Bisnis atau Kerja Bakti?

Anda pernah kerja bakti? Kerja bakti itu budaya yg bagus. Selain menambah keakraban antar peserta, kerjabakti dapat menyelesaikan banyak persoalan bersama. Kadang-kadang kerja bakti cukup melelahkan. Kita harus kerja keras berjam-jam untuk kepentingan bersama. Karena namanya juga kerja-bakti, maka Anda tidak boleh mengharap imbalan apa-apa atas kerja keras tadi. Karena memang tujuan kerja bakti bukan untuk mencari uang. Inilah beda nya kerja bakti dengan bisnis. Kalau dalam bisnis, kerja keras Anda tentu bukan for free. Namun banyak pelaku bisnis secara tidak sadar melakukan "kerja bakti", meskipun niatnya adalah berbisnis. Termasuk saya.

Saya dulu juga pernah mengalami kebingungan yang sama. Saya bekerja sangat keras. Dan karena saya bekerja sesuai passion saya di bidang IT, tentu saja saya sangat menikmati kerja keras saya. Tapi di kemudian hari, ketika tagihan2 masuk, saya lalu bingung mau membayar dengan apa. Ya, karena usaha saya waktu itu belum memberikan hasil financial yang berarti. Wah, kok jadi kerjabakti begini? Begitu dulu saya berpikir. Anda juga pernah mengalami hal yang sama? Anda tidak sendirian. Jadi mari kita sama-sama belajar untuk menjadikan bisnis kita bukan lagi kerja bakti.

Sebelumnya mari kita pahami dulu maksud dari "Bisnis" itu sendiri. Kalau menurut Brad Sugars, bisnis adalah suatu usaha komersial, yang menghasilkan profit, yang dapat berjalan tanpa kehadiran kita. Disini mulai jelas, usaha kita haruslah komersial (bukan LSM atau yayasan sosial), yang menghasilkan profit, dan bisa berjalan sendiri, meskipun kita sebagai owner tidak hadir. Sederhana kan? Jadi Anda tinggal lakukan saja self assessment sekarang, apakah bisnis Anda bisa berjalan dengan profitable, sekalipun Anda tinggal pergi jalan-jalan?. Belum bisa? Hahaha … sama dengan saya. Saya, juga masih menuju kesana. Memang kalau kata Brad Sugars, Anda harus menempuh perjalanan penuh disiplin untuk melalui 6 anak tangga menuju kondisi "bisnis terus jalan meski kita jalan-jalan" tadi.

Anak tangga yang pertama adalah Mastery. Ini merupakan penguasaan dasar yang akan membedakan bisnis Anda dari kerja bakti. Mastery yang akan membedakan apakah usaha Anda komersial atau mau jadi "yayasan sosial". Mastery memastikan bahwa kita melakukan delivery produk atau jasa kita dengan cara yang menguntungkan, produktif, dan cukup informasi untuk membuat keputusan penting. Yang harus Anda kuasai adalah:

1. Money Mastery. "Wah, kalau soal duit saya mah udah jago …" mungkin Anda berpikir begitu. Ya, membelanjakannya saya yakin Anda jago … hehehe. Bukan, disini bukan cuma soal membelanjakan uang. Tapi bagaimana Anda menguasai angka-angka keuangan Anda yang meliputi:

A. Break-Even. Yaitu mengetahui berapa jumlah penjualan, jumlah pelanggan, jumlah Rupiah, yang Anda perlukan untuk menutup angka break-even Anda. Sebelum tentunya ditambah prosentase untuk mendapat laba. Caranya mudah, Anda harus tahu dulu jumlah biaya bulanan yang Anda keluarkan untuk menjalankan usaha Anda. Kemudian Anda hitung untuk memperoleh Rupiah sejumlah biaya tadi, Anda perlu penjualan berapa besar. Nilai penjualan tadi Anda perkirakan dapat diperoleh dari berapa pelanggan, dan dengan rata2 penjualan berapa banyak.

B. Profit Margin. Nah kalau Anda sudah kuasai Break-Even mastery, dengan sendirinya Anda bisa set bujet untuk profit. Bahkan kalau usaha Anda retail, Anda bisa set bujet hingga bulanan, mingguan dan harian. Anda bisa tentukan berapa pelanggan per hari dengan rata2 nilai pembelian berapa, supaya Anda profit. Ujungnya disini adalah menentukan strategi-strategi untuk meningkatkan profit. Contoh strategi andalan untuk meningkatkan profit adalah "5 ways", dimana Anda dapat meningkatkan profit secara dahsyat dengan fokus pada 5 hal:
- Meningkatkan jumlah leads (calon pelanggan)
- Meningkatkan angka konversi (calon pelanggan menjadi pelanggan)
- Meningkatkan jumlah transaksi
- Meningkatkan rata2 nilai penjualan
- Meningkatkan margin

C. Reporting. Anda harus punya angka-angka penting Anda dalam laporan yang jelas untuk membantu pembuatan keputusan. Laporan membantu Anda memahami ada dimana posisi bisnis Anda.

D. Test and Measurement. Lakukan test dan pengukuran apakah strategi Anda berjalan dengan baik. Misalnya Anda melakukan strategi diskon untuk meningkatkan tingkat konversi. Anda harus catat dan ukur efektifitas strategi Anda. Sehingga apabila strategi diskon tadi ternyata tidak efektif meningkatkan tingkat konversi, Anda bisa segera ganti dengan strategi lain.

2. Delivery Mastery. Katakanlah Anda sekarang telah berhasil membuat calon pelanggan dan pelanggan antre untuk mendapatkan produk Anda. Apa jadinya jika Anda tidak konsisten dalam delivery Anda? Anda akan ditinggal dan mungkin mereka akan kapok. Kelangsungan dan konsistensi delivery produk dan jasa Anda akan menentukan apakah pelanggan Anda akan terus menjadi pelanggan Anda atau tidak. Bagaimana untuk memastikan anda konsisten dalam delivery. Gampang. Dengarkan pelanggan Anda. Apakah complain mereka? Kelompokkan dalam paling tidak 5 area complain, dan segera lakukan upaya perbaikan.

3. Time Mastery. Ini soal produktifitas. Produktifitas kita akan menentukan keberhasilan bisnis kita:

A. Goal Mastery. Pertama kita harus tahu sebenarnya usaha kita ini mau dibawa kemana. Anda harus punya:

Vision – Inspirasi utama kita, kemana kita akan menuju.
Mission – Bagaimana caranya mewujudkan visi kita: Bisnis kita apa, siapa tim kita, siapa pelanggan kita, apa yg membuat usaha kita beda dengan yg lain?
Culture Statements – Nilai2 yg penting bagi owner, tim member, pelanggan, dan keberhasilan bisnis. Yg menjadi aturan main bersama bagi Anda dan tim Anda.

Selanjutnya tulis tujuan2 Anda dan tonggak2 penting (milestone) yg akan membawa usaha Anda semakin dekat kepada Visi.

B. Self Mastery. Ini soal disiplin diri. Bagaimana supaya Anda tetap focus dengan cara membuat rencana kerja yg baik. Caranya? Coba lakukan time study sederhana. Berapa waktu yg Anda gunakan untuk bekerja setiap hari nya. Catat dalam waktu satu minggu. Kemudian tulis alokasi penggunaan waktu Anda. Berapa jam Anda menggunakan waktu Anda untuk berkomunikasi (email, chat, telp, etc), melakukan pekerjaan rutin, dsb. Anda akan kaget. Betapa banyak waktu yg kita gunakan secara kurang efektif. Anda kemudian bisa mengidentifikasi pekerjaan2 yang bisa Anda delegasikan, bisa Anda kurangi karena tidak penting dan sebagainya. Ujungnya adalah Anda akan bisa mendapatkan lebih banyak waktu yg bisa Anda gunakan untuk tugas penting seperti planning, ataupun kehidupan pribadi Anda dengan keluarga.

Nah, itu baru bahasan tentang Mastery. Panjang bukan? Kalau menurut Brad Sugars masih ada 5 anak tangga lagi yaitu: Niche, Leverage, Team, Synergy, dan Results. Wah masih jauh dong perjalanan? Tenang, tenang, ini gak sekaku hitungan matematis. Pelan2 terapkan saja dulu Mastery ini, Anda akan terbawa ke anak2 tangga berikutnya. Hingga Anda dapat menikmati usaha Anda sebagai Bisnis. Bukan kerja bakti.

6 comments:

eka said...

Pak Fauzi selalu inspiring tulisannya .. two thumbs up Pak !!

Fauzi Rachmanto said...

Thanks Bu Eka. Salut jg sama Bu Eka yg omzet Pernik Unik nya naik terus!

Budi said...

Bahasannya TOP pak... insyaAllah berguna untuk mengevaluasi usaha saya sehingga jadi full bisnis. Permasalahan usaha saya cukup banyak salah satunya delivery yang sering mendapat komplain dari customer dan pemasok yang tidak konsisten, pelan-pelan akan saya benahi... Thanks Pak.

yoyox said...

Pak Guru, postingan lanjutannya tentang the rest of 5 antara lain Niche, Leverage, Team, Synergy, dan Results-nya udah ditungguin loh...
Ok, pak, sukses selalu!!

Fauzi Rachmanto said...

Pak Budi Thanks. Wah itu etelase-halal nya dahsyat juga ya. Baru liat saja saya lapar. Sukses selalu Pak Budi!

Fauzi Rachmanto said...

Pak Yoyok, thanks sudah mampir. Wah ini juragan Rabbani Jawa Tengah sudah tidak sabar tancap gas kelihatannya :-) InsyaAllah nanti saya susulkan Pak. Disamping ada bbrp topik menarik lain yg ingin saya tulis. BTW itu yg jadi model Rabbani Pak Yoyok sendiri atau Gunawan ya?