Tuesday, April 03, 2007

Ngenger

Orang Jawa mengenal suatu tradisi yang disebut “ngenger”. Mungkin kalau Anda bukan orang jawa, akan jarang mendengar kata ini. Padahal sesungguhnya ngenger adalah suatu tradisi yang menurut saya luar biasa. Saya akan bercerita sedikit tentang ngenger.

Menurut filosofi orang Jawa, kesuksesan hanya dapat diperoleh jika kita mendekati orang yang telah memperoleh derajat kesuksesan. Makanya, pada jaman dulu, orang-orang di kampung di Jawa tengah sana jika ingin sukses, dia akan datang ke rumah orang yang sukses untuk menjalani ngenger. Dengan harapan, kelak akan bisa mengikuti kesuksesan “Bendoro“ atau orang yang diikutinya.

Orang yang menjalani laku ngenger, betul-betul menyerahkan hidupnya kepada Bendoro. Hubungan nya sekilas mirip-mirip antara majikan dan pembantu. Bahkan antara majikan dan budak. Pengenger pasrah dan ikhlas kepada Bendoro, sementara sebagai imbalan atas kesetiaannya, Bendoro memberikan kesempatan bagi Pengenger untuk merubah nasibnya.

Kalau ditelusuri kembali dalam cerita-cerita Jawa. Laku ngenger banyak dijalani oleh para penguasa tanah jawa, sebelum mereka memperoleh kesuksesan. Misalnya, tokoh Damarwulan, yang menjalani laku ngenger kepada Patih Majapahit. Atau Jaka Tingkir yang ngenger kepada Sultan Trenggana. Belakangan Jaka Tingkir berhasil bertahta di kesultanan Pajang sebagai Sultan Hadiwijaya. Kisah-kisah seperti ini memberi insprasi kepada orang-orang jawa di kampung, yang ingin meraih sukses, untuk melakukan ngenger.

Memang banyak kontroversi seputar ngenger. Orang jawa modern bahkan cenderung memandang negatif kepada ngenger. Karena berkesan sangat feodal dan tidak menghormati hak Pengenger. Namun lepas dari itu, sesungguhnya banyak nilai-nilai yang dapat kita pelajari dari ngenger, misalnya:

1. Kesetiaan. Kalau Anda menjalani laku ngenger, Anda harus total setia kepada Bendoro Anda. Dalam pengertian yang seluas-luasnya. Seluruh tenaga dan pikiran diberikan kepada Bendoro, sesuai dengan perintah yang diberikan Bendoro. Anda tidak mungkin mendua, atau mentiga, kesetiaan Anda hanya untuk Bendoro. Ini untuk menunjukkan kalau Anda percaya penuh bahwa Bendoro akan menunjukkan jalan kepada Anda. Bahkan kesetiaan Anda tidak bisa dibeli dengan uang. Karena para pelaku ngenger bahkan tidak boleh mengharapkan imbalan. Diterima untuk ngenger saja sudah suatu peluang buat mereka untuk sukses. Makanya dalam ngenger, aib menanyakan imbalan kepada Bendoro. Imbalan nanti akan dipetik ketika pelaku ngenger sudah berhasil naik tingkat menjadi Bendoro baru.

2. Kesabaran. Ngenger sesungguhnya adalah sarana bagi Bendoro untuk menggembleng dan menguji apprentice nya. Maka kesabaran dan keikhlasan menjadi kunci bagi keberhasilan sang pe-ngenger. Salah satu pantangan dalam tradisi ngenger adalah, “nggersula“ atau mengomel. Apapun perintah yang diberikan Bendoro, pengenger harus memegang prinsip: dengarkan dan ikuti. Bahkan kadang proses ngenger berjalan cukup lama, karena Bendoro melihat pelaku ngenger belum pantas naik tingkat, maka pengenger harus sangat berlatih menjaga kesabarannya.

3. Disiplin. Ngenger adalah peluang belajar langsung dari orang yang sudah berhasil. Maka disini dibutuhkan disiplin yang sangat kuat dari pe-ngenger untuk mematuhi apa yang diperintahkan Bendoro. Pola belajar pada laku ngenger adalah langsung praktek, bukan teori-teori. Pe-ngenger bisa langsung mengamati kebiasaan-kebiasaan Bendoro nya, bagaimana Bendoro nya membuat keputusan dan bertindak. Dengan demikian pe-ngenger akan memiliki bekal pengalaman yang cukup jika kelak Bendoro nya memandang ia sudah cukup pengetahuan untuk memegang tanggung-jawab yang lebih besar. Tanpa disiplin, akan sulit pengenger untuk menjadi Bendoro.

Anda pasti langsung bertanya-tanya? Lho kalau di jaman modern, ngenger ini kan jadinya mirip dengan “apprentice“? Ya ngenger mirip sekali dengan apprentice. Namun, jauh lebih dari itu. Menjalani laku ngenger memiliki protokol tertentu yang tidak boleh di langgar. Protokol kesetiaan, kesabaran dan disiplin tadi di antara nya. Ini yang sudah sulit dijalankan di jaman modern yang semua serba ingin “instant result“ ini. Ngenger tidak demikian.

Di kalangan pengusaha Jawa yang sukses, sebetulnya juga banyak ditemui fenomena ngenger. Pengusaha-pengusaha tadi setiap tahunnya menerima pengenger2 baru dari kampung. Mereka lambat laun akan terseleksi menjadi segelintir orang yang memiliki kesetiaan, kesabaran dan disiplin lebih dari yang lain. Jika waktu nya tiba, maka pengenger terpilih tadi akan diberi kesempatan menjalankan bisnisnya sendiri.

Jangan anggap ngenger itu mudah. Belum tentu Anda tahan menjadi pengenger. Boro2 ngomongin bayaran. Diperintah-perintah seenaknya, dimarah2in, sudah menjadi makanan sehari-hari pengenger. Ada almarhum paman saya yang sukses menjadi pebisnis, beliau dikenal tegas dan keras kepada kerabat yang ngenger di rumahnya. Menurut beliau, jika dengan ketegasan beliau saja sudah tidak tahan, bagaimana mau berhasil dalam berbisnis?

Namun jika Anda lulus ujian dalam ngenger, imbalan yang diberikan Bendoro adalah akses terhadap semua yang Bendoro miliki. Mulai dari bisnis, kekuasaan, jaringan pertemanan, kekerabatan, bahkan jika Anda beruntung, pernikahan. Ya, banyak kasus dimana pengenger akhirnya menikah dengan anak Bendoro.

Jadi, seandainya Anda diberi kesempatan memilih ngenger kepada orang2 paling sukses di dunia, Anda mau ngenger kepada siapa? Tapi ... siapkah Anda membayar harga nya?

2 comments:

gnuga said...

Luarbiasa ...
Saya selalu terkesan dengan artikel-artikel mas Fauzi, saya selalu lakukan 3 langkah setelah selasai baca: CTRL-A, CTRL-C, CTRL-V. Kemudian saya bawa print untuk dibaca bersama istri di rumah.

Saya teringat sms temen saya Muflih Agus tentang, pilih mana jadi ekornya Macan atau kepalanya Kucing?

agungsc

Fauzi Rachmanto said...

Wah thanks Mas, gak nyangka ada tamu "Agung" di blog saya. Jadi seneng nulis ini sebenarnya berkat pengaruh tetangga saya sebelah rumah Mas, yg dulu pernah bikin kamus, wah saya sampai kagum sekali itu :-)salam buat beliau.