Wednesday, March 07, 2007

Marah

Akhirnya saya mengalami marah. Ya, ini termasuk peristiwa langka buat saya. Sudah berbulan-bulan saya tidak marah. Malah sejujurnya saya lupa kapan terakhir saya marah. Ada teman saya yang menyebut saya “sumbu panjang” karena pada situasi yang seharusnya saya marah, saya belum juga marah. Teman saya yang lain pernah mengatakan saya memiliki boiling point yang tinggi, meminjam salah satu judul acara di MTV.

Di kantor, saya tidak pernah marah, paling jauh saya memberikan teguran dengan nada keras, tapi bukan marah dengan nada tinggi dan emosional. Di rumah, saya jarang marah sama istri. Terakhir marahan mungkin sudah lebih dr setahun yg lalu, persisnya saya lupa. Saya juga hampir tdk pernah memarahi anak. Waktu anak saya yg pertama lahir, kakak tertua saya menasehati saya: Kalau nanti mau memarahi anak, tolong lihat baik2 wajah anak kita sambil mengingat siapa yg udah ngasih anak itu, niscaya kemarahan kita hilang. Nasehat itu ampuh hingga sekarang. Malah saya pernah mau marah ke anak saya, setelah saya menatap wajah anak saya untuk mengingat2 penciptanya, saya jadi tertawa sendiri, soalnya ekspresi anak saya lucu banget. Seolah Tuhan waktu itu sedang ngeledek saya “marah ni yee ..” lewat ekspresi anak saya.

Ayah saya malah tidak pernah marah di depan saya. Seumur hidup, saya belum pernah dimarahi sama Ayah saya. Dulu saya suka iri sama teman2 saya yang sering dimarahi Ayahnya. Teman2 Ayah saya di kantor pun sampai bingung dan bertanya pada Ibu saya:”seperti apa Bapak kalau marah?”. Karena bertahun2 bekerja bersama mereka tidak pernah melihat Ayah marah. Bahkan atasan Ayah waktu itu sengaja memancing Ayah supaya marah, dengan kata-kata yg menyakitkan. Bukan nya marah, Ayah ngeloyor meninggalkan atasan nya begitu saja. Mungkin Ayah saya waktu itu juga marah, tapi beliau memilih pergi dibandingkan teriak2an yg tidak berguna. Selain jarang marah, Ayah saya juga jarang sakit. Pasti ada korelasi positif antara marah dan sakit.

Ada teman saya yang menasehati saya, kalau marah itu tidak baik ditahan-tahan. Lebih sehat kalau sekali-kali kemarahan dilepaskan. Padahal saya juga tidak bermaksud menahan marah. Memang marahnya saja yang tidak muncul-muncul. Kalaupun muncul modelnya beda dengan kebanyakan orang marah. Ekspresi marah saya biasanya diam dan berbicara ketus dan tegas.

Tapi kemarin saya akhirnya marah “beneran”, saya membentak orang dan memukulkan tangan ke meja (sakit juga sih). Ini prestasi buat saya. Belum pernah saya semarah itu. Penyebabnya juga sepele, sebelumnya saya juga sudah sering mengalami tapi tidak pernah marah. Kemarin, tiba2 saja ada dorongan untuk marah. Dan saya biarkan keluar. Pada saat marah saya rasakan kemarahan itu, ooo begini to rasanya. Betul2 tidak nyaman dan gak perlu. Memang cuma beberapa detik, tapi kata-kata yang tidak perlu terlanjur keluar, dan rasa sakit di tangan yang gak perlu (saya baru ingat, meja nya dari marmer). Saya menyesal.

Umumnya orang setelah marah baru menyesal. Sore nya saya di telpon atasan orang yang saya marahi tadi untuk mohon maaf atas kekecewaan saya. Tapi saya malah merasa sangat menyesal dan meminta maaf juga. Betul saya menyesal. Marah saya tidak sebanding dengan kesalahan yang telah dilakukan. Kata-kata keras yang keluar ibarat paku yang terlanjur saya tancapkan di hati orang itu, dan setelah dicabut tetap meninggalkan luka. Untunglah kemarahan saya cepat sekali berlalu. Saya paham betul emosi dan pikiran negative dapat merusak hari saya, sesuai prinsip law of attraction. Jadi cepat2 saya niatkan untuk kembali tenang, damai, dan bahagia. Saya ucapkan “swicthword“ saya untuk kedamaian: BE. Langsung damai datang, dan marah hilang.

Apapun profesi Anda, pengusaha atau karyawan, untuk bisa selalu dalam kondisi damai dan tenang itu penting. Pikiran yang kacau akibat kemarahan menjadi tidak jernih. Deepak Chopra mengibaratkan ini ibarat samudra yang sedang dilanda badai. Ombaknya setinggi bukit. Jika Anda lempar batu sebesar mobil juga tidak akan terlihat dampaknya. Sebaliknya, pikiran yang tenang ibarat danau yang sangat tenang. Anda lempar kerikil pun gelombangnya akan terlihat merambat keseluruh danau. Jika Anda sedang menanam benih sukses dalam pikiran, pastikan sedang dalam keadaan tenang seperti danau yang tenang. Kalau tidak ya percuma, seperti melempar batu ke samudra ditengah badai tadi. Makanya saya segera evaluasi kenapa kemarahan saya bisa keluar.

Saya baca2 literatur, ternyata penyebab marah adalah: “Anger comes out as a response to feelings of dissatisfaction, frustration and unhappiness, which usually arise when we dislike a person, an object or a situation.” OK, jadi marah itu adalah suatu respon, sumbernya perasaan kecewa, frustasi atau ketidakbahagiaan. Kalau situasi saya kemarin, yang pasti saya tidak sedang frustasi, juga sedang bahagia, tapi masih bisa marah juga. Jadi mungkin sumbernya lebih pada kekecewaan, karena service yang saya terima tidak sesuai harapan saya.

Karena marah itu respon, artinya bisa kita control. Karena respon itu terserah kita. Pada situasi yang sama, kita bisa memilih untuk marah atau memilih untuk tenang. Berikut beberapa tips yang bisa kita lakukan untuk mengontrol kemarahan:

1. Rasakan.
- Kemarin saya merasakan ada moment sesaat sebelum marah. Ada baiknya kita melatih untuk menyadari moment marah akan datang ini , sehingga bisa langsung take control. Karena kalau kadung meledak akan susah dikendalikan.
2. Hentikan.
- Stop apa yang sedang kita lakukan saat itu. Kalau pemicu kemarahan ada di depan Anda, ya tinggalkan saja. Kalau Anda marah ketika sedang berdebat, segera hentikan debatnya. Jangan ucapkan lagi kata2, tinggalkan meeting Anda kalau perlu.
3. Alihkan Perhatian.
- Alihkan perhatian pikiran kita kepada sesuatu yang lain. Misalnya dengan menarik napas dalam2 dan hitung sampai sepuluh. Kalau Anda sedang berdiri sebaiknya duduk, ini dapat mengurangi kemarahan. Kalau Anda sedang duduk, minum air. Jika tidak ada air minum, ya minimal pejamkan mata sambil bernafas dalam-dalam dan teratur. Atau kalau buat muslim saya sarankan sambil bernafas dalam2 ber-istighfar. Mengingat2 Tuhan terbukti efektif mencegah marah kita meledak ke luar. Kalau masih mau meledak juga ambil wudhu dan shalat, atau lakukan meditasi kalau bisa nya meditasi. Begitu kena air wudhu juga biasanya marahnya hilang.
- Salah satu cara untuk mengalihkan perhatian: Ngaca. Waktu saya kecil kalau sedang marah, sama ibu saya disuruh ngaca. Memang ternyata jelek bener muka kita kalau marah. Makanya kebanyakan orang yg marah tidak mau ngaca. Jadi coba saja ngaca, mungkin kita akan malu sendiri melihat muka kita yg berlipat.
4. Sembuhkan.
- Setelah marah reda. Segera sembuhkan sakit di hati ketika sedang marah. Jika Anda belum punya, beli saja buku “Piece of Mind“ nya Sandy MacGregor. Disitu Anda dapat belajar cara membangun tempat kedamaian Anda, dan mengakses kembali secara cepat. Anda juga dapat menciptakan dan menggunakan jangkar emosi. Ini perlu latihan berulang-ulang, sebelum jadi otomatis bagi Anda.
- Atau cara paling sederhana adalah dengan mengingat-ingat saat2 paling bahagia Anda. Intinya adalah kembalikan rasa damai dan bahagia di hati Anda, karena marah akan pergi begitu damai dan bahagia datang.
- Anda juga harus memaafkan orang-orang yg memicu kemarahan Anda. Kalau belum bisa mengucapkan maaf secara langsung, maafkan dalam hati. Kekuatan memaafkan ini dapat menyembuhkan rasa marah.
5. Biarkan (Let it Go).
- Ini prinsip detachment. Kita marah karena situasi tidak sesuai keinginan kita. Padahal kita kadang tidak tahu maksud Tuhan yg sudah pasti baik. Maka biarkan saja, percayakan pada Tuhan. Makin kita attach pada apa yg kita inginkan, makin kita marah. Kalau kata Ayah saya dulu:”Yo wis ben lah. Bismillah kersaning Allah”.

Semoga bermanfaat.(FR)

8 comments:

Firdaus said...

Halo pak Fauzi,
Assalamualaikum
Saya termasuk orang yang suka mampir di blog bapak ini 2 bulan terakhir, semakin hari artikel di blog bapak semakin bagus aja.

pak Fauzi, ada yg ingin saya tanyakan, mengenai jangkar emosi, di buku adam khoo (master your mind....) dibahas juga mengenai jangkar ini, pertanyaannya bagaimana bapak bisa menjangkar emosi ketenangan dengan jangkar "switchword", karena saya sendiri pernah mencoba beberapa kali membentuk jangkar percaya diri tapi ga bisa :(

Terima kasih
Wassalam
Firdaus HM
GIS Web Developer

eka said...

Very inspiring , Pak !!
Eka

Fauzi Rachmanto said...

Pak Firdaus, Mbak Eka, thanks sudah mampir. Kunci untuk jangkar emosi dan switchword sama sih pak: practice. Lagi dan lagi. Jujur saja saya juga up and down. Untuk setiap orang jg experience nya mungkin berbeda2. Buat saya kata2 lebih powerful dibanding gerakan fisik sebagai jangkar. Saya lagi berminat mempelajari S-EFT nya pak Faiz, hasil pengembangan dr Emotional Freedom Technique. Ini jg menarik untuk dipelajari. Saya baca di website nya bisa jg untuk anger management dsb.

Yulia said...

pak fauzi marah? selamat pak! itu berarti pak fauzi masih tetep statusnya "manusia" bukan malaikat...

ombus ::mbus said...

buat orang yg udah sesungguhnya 'sadar', sikap apapun pasti ada benarnya termasuk 'marah'. jadi menjadi 'sadar' lah dan biarkan saja emosi mengalir secara sadar. entah marah, sedih, gembira atau napsu sekalipun..:)

Dadan Gumbira Pramudia said...

Saya jadi penasaran, bagaimana marahnya ya... gak kebayang, pasti muerah banget... hehe

Fauzi Rachmanto said...

Betul Bang Ombus, harus terus sadar meskipun dalam keadaan marah atau apapun, bahasa jawa nya: eling.
Yg udah pasti merah sih tangan nya Dan, diadu sama marmer :-)

Fauzi Rachmanto said...

Tepat sekali Mbak Yulia, emotions are what that make us human being, entah itu senang, sedih, jatuh cinta, marah, atau mmm ... ngambek sama suami :-)