Tuesday, February 27, 2007

Bagaimana Memecahkan Mental Block

Law of attraction bekerja tidak hanya untuk hal-hal financial. Kadang-kadang ide atau pengetahuan datang kepada kita pada saat kita memerlukan. Ini contoh aktualnya:
Pada waktu diskusi film the Secret hari Minggu 25 Feb 2007 lalu, ada pertanyaan dari salah satu peserta yaitu Pak Didin Razani tentang bagaimana tips untuk menghancurkan “blocking mental” yang mungkin masih ada pada diri kita. Pada waktu itu beberapa peserta diantaranya Pak Zaki, Pak Roni selaku moderator, dan saya sendiri mencoba merangkai jawaban atas pertanyaan tadi. Namun saya terus terang belum cukup puas dengan jawaban-jawaban yang sempat muncul. Hingga dalam perjalanan pulang saya masih sempat berfikir, apa ya kira-kira jawaban yang tepat atas pertanyaan pak Didin tadi?

Senin sore saya mendapat SMS undangan untuk mengikuti Seminar Sehari tentang Entrepreneurship yang dipandu oleh owner franchise Leha-Leha dan C’lup-C’lup Pak Budi Utoyo yang dilaksanakan hari Selasa 27 Feb 2007. Entah kenapa saya merasa harus datang. Dan pagi hari nya saya pun segera berangkat ke Jakarta untuk mengikuti seminar Pak Budi. Seminarnya cukup asyik dan seru. Tapi yang paling membuat saya terkesan dan setengah tidak percaya, salah satu topik yang dibahas Pak Budi adalah: Bagaimana Memecahkan Blocking Mental! Nah ini kan pertanyaan Pak Didin yang masih menggantung di otak saya dari kemarin.

Mungkin jawaban nya sebenarnya kita semua sudah tahu, tapi Pak Budi merangkai secara sederhana dan mudah diikuti. Berikut rangkuman jawabannya, saya tuturkan kembali dalam bahasa saya, (contoh2 ilustrasi juga dari saya supaya mudah dimengerti):

Tips untuk menghancurkan Mental Block:

1. Otak kita apa kata mulut kita. Blocking mental yang masih sering muncul di otak kita, sebenarnya dapat kita kalahkan jika kita sering mengucapkan kata-kata yang positif. Karena otak kita apa kata mulut kita. Misalnya blocking mental: “ah aku mudah sakit”, “ah aku tidak bisa”, dsb. dapat kita kalahkan dengan sering mengucapakan kalimat sebaliknya seperti: “aku sehat!”, “aku bisa!” dst. Begitu mulut kita mengucapkan kata “tidak bisa” otak kita langsung berhenti memproses tindakan yang perlu dilakukan selanjutnya. Namun bila kita mengucapkan “aku bisa” maka kreatifitas otak akan mulai bekerja. Kita juga sering secara tidak sadar mengucapkan kata-kata negative yang pada akhirnya merugikan seperti “aku capek”, “aku kesal”, dsb. padahal ucapan-ucapan tadi akan memprogram otak kita.

2. Incantation. Ini lebih advanced dari afirmasi. Dapat menggunakan: I-V-V-M (Idealisasi – Visualisasi – Verbalisasi – Materialisasi)(1) Lakukan Idealisasi, yaitu menentukan kondisi ideal yang hendak kita capai. Katakan menjadi pengusaha yang memiliki kios pakaian anak dengan omzet 50 juta sebulan. (2) Kemudian visualisasikan kondisi ideal tadi secara jelas, imajinasikan seperti apa kios nya, dimana tempatnya, apa saja itemnya, bagaimana pembeli nya, dst. (3) Verbalisasi. Ucapkan, atau tuliskan dan share kepada kenalan, relasi atau siapapun kontak kita, tentang idealisasi kita tadi. (4) Materialisasi. Pada waktu nya tiba kita harus siap melakukan tindakan2 untuk mewujudkan idealisasi tadi. Misalnya tiba2 ada yang menawarkan kios, ya take action mengambil kios.

3. Self-Hypnosis. Ini bukan stage hypnosis ala Mas Romi Rafael. Tapi langkah2 sederhana untuk mempengaruhi subconscious mind kita. Caranya: (1) Tuliskan atau sediakan gambaran apa yang ingin kita capai, misalnya: memiliki kios baju anak tadi, target omzet, dsb.. (2) Setiap hari sebelum tidur siapkan catatan dan pandangi (kontemplasikan) gambaran tadi. (3) Dengarkan negative self talk yang muncul. (4) Catat semua negative self talk yang muncul, misalnya: - tidak punya modal, - tidak punya lokasi, - tidak bisa dagang, dst. (5) Buat counter statement dalam catatan negative self talk tadi. Misalnya: - tidak punya modal (bisa pinjam mertua), - tidak punya lokasi (pake garasi saja), - tidak bisa dagang (rekrut orang yg bisa dagang), dst. Sampai habis. Ulang kembali proses ini setiap hari hingga blocking terkikis habis.Untuk tiap orang perlu waktu yang berbeda-beda untuk mengikis Mental Block tadi.

Selamat mencoba.

Monday, February 26, 2007

Handphone dan Email: Kebiasaan Para Pemenang

Ini catatan saya tentang penggunaan HP dan Email. Dewasa ini dalam berbisnis kita telah banyak sekali dibantu dengandua sarana komunikasi modern tadi. Namun sepanjang karir saya sebagai profesional maupun pebisnis, saya mengamati tidak semua orang telah menggunakan alat2 bantu komunikasi tersebut dengan baik. Bahkan terkadang bisnis atau karirnya malah terganggu karena ybs secara tidak sadar telah menggunakan sarana komunikasi yang dimilikinya secara tidak benar. Di sisi yang lain saya juga mengamati bahwa “Para Pemenang“ , yaitu sosok yang sangat berhasil dalam bisnis dan karirnya, umumnya memiliki beberapa kebiasaan yang mungkin patut kita contoh. Berikut beberapa diantaranya:

1. Para Pemenang jarang berganti-ganti nomor HP.
Logikanya wajar, karena jarang berganti nomor HP, Para Pemenang mudah dihubungi ketika ada pihak yang membutuhkan produk atau jasanya. Orang yang kurang berhasil dalam usaha dan karirnya (untuk tidak menyebut mereka sebagai “orang yang kalah“) saya amati memiliki kebiasaan yang sebaliknya, yaitu sering berganti nomor HP, dan parahnya lagi sering tidak memberitahu kolega/klien. Hebatnya, jika saya tanya kenapa sering berganti nomor HP, mereka selalu saja punya alasan, entah HP hilang, SIM card rusak, dsb. Anehnya, selalu hanya mereka yg punya masalah2 tadi.

2. Para Pemenang selalu menerima panggilan jika HP nya dihubungi.
Ya, Para Pemenang kapanpun coba saya hubungi selalu menerima panggilan dengan “greeting“ yang segar dan bersemangat seperti suasana di pagi hari. Tidak peduli jam berapapun dihubungi. Mengucapkan “Halo Selamat Pagi!“ ataupun “Halo Selamat Malam!“ buat mereka sama bergairahnya. Kecuali tentu ketika mereka sedang meeting. Itupun biasanya langsung callback selesai meeting. Sebaliknya, mereka yg kurang berhasil lebih sering tidak mengangkat panggilan masuk, atau lebih parah lagi mematikan HP nya. Ada teman saya yang kurang berhasil, jujur mengakui bahwa jika nomornya tidak dikenal dia takut itu adalah debt collector. Wah, lantas bagaimana dia bisa membedakan antara debt collector dengan prospek yang akan memberikan order?

3. Para Pemenang menggunakan SMS dengan bijak.
Para Pemenang yang saya kenal umumnya sopan dalam ber-sms. Menggunakan pilihan kata yang sopan, seringkali diakhiri dengan terimakasih atau thanks. Dan tidak pernah menggunakan huruf besar secara sembarangan. Dalam nettiquete penggunaan huruf besar biasanya digunakan jika kita hendak “berteriak“ (flamming). Kebiasaan ini diteruskan di era SMS. Para Pemenang juga tidak menggunakan SMS untuk hal-hal yang urgent dan critical. Karena tidak setiap saat kita bisa reply SMS segera. Kalau memang urgent Para Pemenang biasanya langsung telpon saja. Tentu saja, Para Pemenang begini tidak termasuk umat “mis-kin- call“.

4. Para Pemenang menggunakan alamat email dengan namanya sendiri.
Silahkan diamati, umumnya Para Pemenang menggunakan alamat email sesuai namanya sendiri, tidak aneh-aneh. Mereka cukup percaya diri untuk mencantumkan nama-nya. Mungkin disingkat supaya tidak kepanjangan, tapi selalu nama mereka sendiri yang dicantumkan. Sementara mereka yang kurang berhasil kadang alamat emailnya aneh-aneh. Misalnya menggunakan nama julukan yang susah diingat (gendutz, peyanx, hacker, dst ...) Atau menggunakan nama selebritis (yang paling sering: beckham, baldwin, dsb ...) Padahal dalam bisnis kita perlu tahu dengan siapa kita berinteraksi. Lagipula sudah tahu toh tidak mirip dengan Beckham, kenapa tidak menggunakan nama pemberian orang tua kita sendiri saja? Saya yakin Bill Gates atau Larry Pages juga tidak repot2 bikin alamat email coolprogrammer@.... misalnya. Saya pernah menerima email dari rekan yang alamat emailnya “gondoruwo@ ...”, bisa Anda bayangkan betapa seramnya untuk me-reply email beliau.

5. Para Pemenang sopan dalam ber-email.
Umumnya email yang saya terima dari Para Pemenang menggunakan salam pembuka dan salam penutup. Pilihan katanya sopan, dan tidak sembarangan menggunakan huruf besar. Dan dibawah salam, dengan percaya diri mencantumkan nama lengkap dan kontak yang bisa dihubungi. Mereka yang kurang berhasil, sering emailnya tanpa salam, kadang menggunakan kata yang tidak sopan, dan sembarangan memakai huruf besar (jadi yang nerima serasa diteriakin), dan tidak pe-de mencantumkan nama nya sendiri di bawah. Saya pernah terkaget-kaget menerima email yang diketik dengan capslock semua, sudah begitu menggunakan bahasa “gaul” lagi. Waduh, sampai pusing baca nya. Padahal ternyata isi nya tidak ada yang penting.

6. Para Pemenang selalu merespon email.
Para Pemenang yang saya kenal selalu merespon setiap email yang masuk. Mereka ini adalah para CEO atau pemilik perusahaan software kelas dunia. Namun meskipun ratusan email yang masuk setiap hari nya, mereka selalu menunjukkan bahwa mereka “care” dengan email yang mereka terima. Sekalipun kadang respon nya hanya berupa forward ke staff nya dengan pesan singkat “Pls follow up”, atau reply hanya: “Got it. Will revert to you later”. Tapi setidaknya mereka menunjukkan atensi. Sebaliknya, mereka yang kurang berhasil sering justru tidak mereply email yang mereka terima. Meskipun mereka pasti lebih banyak waktu.

7. Para Pemenang bijak menggunakan email.
Sewaktu saya masih karyawan, setiap hari Jumat, mailbox saya penuh dengan teman-teman yang mengirimkan joke, intermezzo, bahkan gambar2 hot. Kadang attachement nya demikian besar sehingga mengganggu bandwidth. Belum kalau saling reply. Wah mailbox penuh oleh hal2 tidak penting. Para Pemenang yang saya kenal tidak pernah melakukan hal-hal seperti itu. Mereka menggunakan email sesuai tujuan nya, yaitu untuk melakukan komunikasi.

Apakah Anda juga seorang Pemenang? Anda bisa tambahkan lagi list diatas?

Sunday, February 18, 2007

Muhammad SAW & Napoleon Hill

Semua pecandu sukses hampir dipastikan pernah baca buku klasik karya Napoleon Hill: Think & Grow Rich yang ditulis tahun 1937. Melalui buku ini Napoleon Hill kemudian diakui sebagai salah satu pelopor dari ilmu sukses di Amerika Serikat. Saya pertama kali mengenal buku ini versi terjemahannya dulu jaman saya kuliah. Namun waktu itu saya tidak membacanya secara sungguh-sungguh. Kemudian belakangan saya juga mendownload versi asli nya dalam bentuk ebook dan baru mulai membaca secara lebih serius. Ternyata buku ini memang luar biasa. Di dalam nya termuat garis besar kaidah-kaidah untuk sukses. Mulai dari DESIRE sebagai kunci awal, kekuatan FAITH, pentingnya AUTO-SUGGESTION, kegunaan IMAGINATION, melakukan ORGANIZED PLANNING dan take DECISION, pentingnya PERSISTENCE, hingga soal kelompok MASTER MIND (ini yang belakangan sering disebut2 oleh rekan2 pebisnis di TDA) sampai bagaimana mengalahkan FEAR, semua ada di buku ini.

Pertama kali membaca, sebagai muslim saya cukup kaget karena sebagai contoh ilustrasi soal PERSISTENCE, Hill memuat riwayat Nabi Besar Muhammad SAW. Suatu contoh yang menurut saya sangat tepat. Meskipun cara penuturan nya sangat "sekuler" dan sedikit bombastis.

Kemarin sewaktu ke toko buku, saya tertarik dengan versi baru terjemahan buku klasik ini. Apalagi dibumbui embel2 "Edisi Revisi & Update Untuk Abad 21". Saya pun langsung membeli. Ternyata memang betul buku nya sudah di update oleh Arthur R. Pell. Alasan nya masuk akal, karena pembaca modern akan lebih mudah memahami jika ilustrasi yang diberikan adalah dari contoh2 kisah sukses modern. Maka Arthur Pell pun menyelipkan kisah-kisah ikon sukses modern seperti Bill Gates, Ray Kroc, Steven Spielberg, Arnold Swazheneger, Howard Schultz, dsb. Penambahan tersebut membuat buku ini terasa semakin relevan bagi pembaca modern.

Yang saya sayangkan adalah, Arthur Pell menghilangkan kisah Nabi Besar Muhammad SAW dari Bab 9 tentang Ketekunan (PERSISTENCE). Sebagai ganti nya ada kisah sukses Howard Schultz pemilik Starbuck. OK. Kisah Howard Schultz cukup inspiratif, tapi kisah Muhammad sang entrepreneur, sang filosof, sang politisi, sang jendral dan sang pembaharu sejati yang telah memperlihatkan persistensi dan dedikasi luar biasa menurut saya amat sangat layak disimak. Kalau kita terbiasa mengutip kisah luar biasa dari Mother Theressa atau Mahatma Gandhi, menurut saya kita juga jangan sungkan mengutip kisah kegigihan Muhammad.
Kalau Anda baca kisah Muhammad versi Karen Armstrong misalnya, dapat kita rasakan betapa beliau telah menjadi teladan kegigihan yang luar biasa.

Sungguh sayang Arhur Pell menghilangkan narasi tentang Muhammad, padahal dalam versi asli nya Hill sendiri mengatakan:
"Consider, for example, the strange and fascinating story of Mohammed; analyze his life, compare him with men of achievement in this modern age of industry and finance, and observe how they have one outstanding trait in common, PERSISTENCE!"
Lebih jauh, kisah Muhammad digambarkan oleh Hill sebagai: "story of one of the most astounding examples of the power of PERSISTENCE known to civilization."

Saya bayangkan, betapa sayangnya generasi sesudah saya nanti jika membaca buku Napoleon Hill tidak menemukan kisah yang demikian inspiratif. Tapi its OK lah, sebagai ganti nya di bawah saya kutipkan versi asli penutup Bab 9 buku Think & Grow Rich, semoga meskipun cerita ini dihilangkan dari buku nya, namun akan tetap menjadi inspirasi di hati kita.

THE LAST GREAT PROPHET
Reviewed by Thomas Sugrue


"Mohammed was a prophet, but he never performed a miracle. He was not a mystic; he had no formal schooling; he did not begin his mission until he was forty. When he announced that he was the Messenger of God, bringing word of the true religion, he was ridiculed and labeled a lunatic. Children tripped him and women threw filth upon him. He was banished from his native city, Mecca, and his followers were stripped of their worldly goods and sent into the desert after him. When he had been preaching ten years he had nothing to show for it but banishment, poverty and ridicule. Yet before another ten years had passed, he was dictator of all Arabia, ruler of Mecca, and the head of a New World religion which was to sweep to the Danube and the Pyrenees before exhausting the impetus he gave it. That impetus was three-fold: the power of words, the efficacy of prayer and man's kinship with God.
"His career never made sense. Mohammed was born to impoverished members of a leading family of Mecca.
Because Mecca, the crossroads of the world, home of the magic stone called the Caaba, great city of trade and the center of trade routes, was unsanitary, its children were sent to be raised in the desert by Bedouins. Mohammed was thus nurtured, drawing strength and health from the milk of nomad, vicarious mothers.
He tended sheep and soon hired out to a rich widow as leader of her caravans. He traveled to all parts of the Eastern World, talked with many men of diverse beliefs and observed the decline of Christianity into warring sects. When he was twenty-eight, Khadija, the widow, looked upon him with favor, and married him.
Her father would have objected to such a marriage, so she got him drunk and held him up while he gave the paternal blessing. For the next twelve years Mohammed lived as a rich and respected and very shrewd trader.
Then he took to wandering in the desert, and one day he returned with the first verse of the Koran and told Khadija that the archangel Gabriel had appeared to him and said that he was to be the Messenger of God.
"The Koran, the revealed word of God, was the closest thing to a miracle in Mohammed's life. He had not been a poet; he had no gift of words. Yet the verses of the Koran, as he received them and recited them to the faithful, were better than any verses which the professional poets of the tribes could produce. This, to the Arabs, was a miracle. To them the gift of words was the greatest gift, the poet was all-powerful. In addition the Koran said that all men were equal before God, that the world should be a democratic state— Islam. It was this political heresy, plus Mohammed's desire to destroy all the 360 idols in the courtyard of the Caaba, which brought about his banishment. The idols brought the desert tribes to Mecca, and that meant trade. So the business men of Mecca, the capitalists, of which he had been one, set upon Mohammed. Then he retreated to the desert and demanded sovereignty over the world.
"The rise of Islam began. Out of the desert came a flame which would not be extinguished— a democratic army fighting as a unit and prepared to die without wincing. Mohammed had invited the Jews and Christians to join him; for he was not building a new religion.
He was calling all who believed in one God to join in a single faith. If the Jews and Christians had accepted his invitation Islam would have conquered the world. They didn't. They would not even accept Mohammed's innovation of humane warfare. When the armies of the prophet entered Jerusalem not a single person was killed because of his faith. When the crusaders entered the city, centuries later, not a Moslem man, woman, or child was spared. But the Christians did accept one Moslem idea— the place of learning, the university."

Monday, February 05, 2007

The Secret

Kemarin malam, saya dan istri berdua nonton bareng DVD the Secret. Setelah menunggu anak-anak tertidur lelap akhirnya kesampaian juga nonton “film dewasa” ini berdua. Lho iya, ini film dewasa, karena insyaAllah akan mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang dewasa dan bertanggung-jawab. Film yang berdurasi sekitar 90 menit ini diproduseri oleh Rhonda Byrne dan disutradarai oleh Drew Heriot. Tidak ada jalan cerita yang perlu diikuti secara bertele-tele, karena the Secret dibuat dengan format “kuliah” dari para master dalam bidang filsafat, spiritualitas, motivasi, pengusaha, ahli keuangan, ahli fisika kuantum, dsb. Diselingi dramatisasi singkat atas topik yang diulas. The Secret di Amerika Serikat cukup ramai dibicarakan. Selain mendapat ulasan yang luas di media, the Secret juga antara lain pernah tampil pada acara Larry King November lalu, dan awal Februari 2007 ini akan tampil pada acara Oprah.

Film ini diawali dengan adegan seorang wanita yang sedang mengalami masalah hidup, kalau tidak salah diperankan Rhonda Byrne sendiri. Kemudian dia menemukan sebuah buku yang mengungkapkan rahasia terbesar sepanjang jaman. Yang merupakan jawaban atas segala persoalan yang sedang dia alami. Kemudian, karena penasaran, dimulailah pencarian akan the Secret itu sendiri, yang ternyata di masa lalu dikuasi oleh orang-orang yang telah memberikan sumbangan besar kepada dunia, seperti Newton, Emerson, Beethoven, Edison, Einstein, dsb. Byrne kemudian menemukan beberapa Secret Teacher masa kini, yang akan membeberkan rahasia tersebut.

Kemudian tampil-lah Bob Proctor memberikan pengantar tentang the Secret. Kemudian satu per satu Secret Teacher yang lain tampil memberikan penjelasan dari berbagai sudut pandang. Diantaranya John Assaraf, Rev. Michael Beckwith, John Demartini, Jack Canfield, James Arthur Ray, Joe Vitale, Lee Brower, Marie Diamond, Mike Dooley, Bob Doyle, Hale Dwoskin, Cathy Goodman, Morris E. Goodman, John Gray, John Hagelin, Bill Harris, Esther Hicks, Ben Johnson, Loral Langemeier, Lisa Nichols, David Schirmer, Marci Shimoff, Denis Waitley, Neale Donald Walsch, dan Fred Alan Wolf. Lengkap.

Jadi apakah sebenarnya the Secret yang konon di masa lalu dikubur, disembunyikan, bahkan dilarang untuk diedarkan ke publik itu? Rahasia terbesar itu adalah bahwa ternyata pikiran manusia akan membentuk realitas yang akan dia alami. Konsep ini disebut juga Law of Attraction. Bahwa pikiran kita sendiri yang selama ini menarik kejadian-kejadian yang kemudian kita alami. Like attracts like. Pikiran yang positif akan menarik hal-hal yang positif. Pikiran yang negative akan menarik hal-hal yang negative. Inilah rahasia terbesar itu. Kedengaran nya sederhana, namun membawa dampak yang luar biasa. Jika hal ini benar, maka kita akan dapat dengan mudah menentukan masa depan kita dengan mengatur pikiran kita. Pertanyaan nya bagaimana kita dapat mengatur pikiran kita. Perhatikan saja, dalam keseharian kita, betapa kita lebih sering berpikiran negatif dari pada positif. Betapa sering pikiran kita ada dalam kondisi “autopilot“, mengawang-awang, melayang-layang entah kemana. Memikirkan ketakutan-ketakutan akan masa depan, memikirkan penyesalan di masa lalu, yang akhirnya hal-hal negatif yang kita khawatirkan akan “ditarik“ ke dalam hidup kita. Manusia berpikir ribuan kali dalam sehari. Sebagian besar dilakukan tanpa kesadaran. Padahal setiap pikiran kita akan membawa “buah“ nya.

Lantas bagaimana menjaga agar kita selalu memiliki pikiran yang akan membawa hal-hal yang baik dalam hidup kita? Dalam hal ini perasaan memegang peran sangat penting. Misalnya pikiran yang membawa perasaan-perasaan marah akan membawa hal-hal yang menyebabkan rasa marah. Sementara pikiran yang membawa perasaan cinta, akan membawa hal-hal yang membuat kita tetap memiliki rasa cinta. Latar belakang “ilmiah” dari Law of Attraction ini adalah bahwa pikiran kita adalah gelombang, sebagaimana setiap partikel yang menyusun semesta ini. Sehingga pikiran kita selalu membangkitkan getaran yang akan direspon oleh semesta. Dalam fisika kuantum juga dikemukakan ide bahwa kejadian di luar sana hanyalah samudera kemungkinan-kemungkinan, yang menjadi “realitas” setelah dibentuk oleh pikiran. Jadi pikiranlah yang membentuk “dunia” kita.

Lantas bagaimana memanfaatkan the Secret? Sesederhana Aladdin menggunakan lampu wasiat nya. Kisah Aladdin adalah metafora interaksi antara manusia (Aladdin) dan semesta (digambarkan sebagai Jin). Disaat manusia sudah memutuskan permintaanya, maka semesta akan menjawab dengan: “Your wish is my command!”. Untuk itu proses kreatif yang dapat kita lakukan adalah: Pertama: Ask. Tentukan apa yang kita “minta”. Apa yang kita inginkan untuk wujudkan. Kedua: Believe. Percaya bahwa apa yang kita inginkan sudah dikabulkan. Percaya total diluar apa yang saat ini kita sedang lihat ada alami. Kemudian: Receive. Yaitu Take Action untuk menerima apa yang semesta berikan kepada kita. Proses ini dapat menjadi lebih powerful dengan menerapkan dua hal, yaitu: Gratitude, rasa syukur atas apa yang telah kita dapatkan. Dan Visualisasi, yaitu melakukan visualisasi atas apa yang kita inginkan dalam bentuk gambaran mental yang kuat, dan disertai perasaan yang mendalam.

Dalam bidang apakah the Secret dapat diterapkan? Nyaris dalam segala bidang kehidupan. Tidak hanya dalam hal keberhasilan financial. The Secret dapat kita aplikasikan dalam kesehatan, hubungan antar manusia, dsb. Selengkapnya film ini membahas The Secret: to Money, to Relationship, to Health, to the Word, to You, bahkan to Live.

Rhonda Byrne mengakui dalam komentar pada film nya, bahwa film ini dibuat setelah dia memperoleh inspirasi dari dua buah buku self-help classic, yaitu: the Science of Getting Rich (1910) karya Wallace D. Wattles dan the Master Key System (1912) karya Charles F. Haanel. The Master Key System disebut-sebut sebagai buku yang memperngaruhi Bill Gates sewaktu drop out kuliah dan mulai membangun Microsoft. Buku ini mengupas dengan sangat detil tentang Law of Attraction, jauh sebelum penulis buku motivasi bermunculan di AS. The Master Key System asli nya adalah materi kursus tertulis yang diberikan oleh Haanel. Haanel adalah seorang industrialis sukses masa lalu. Dan orang bersedia membayar $1,500 (jumlah yang sangat besar masa itu) untuk mengikuti kursus tertulisnya. Konon didikan Haanel pun mengikutu kisah sukses guru nya.

Secara umum menonton film ini jelas bermanfaat. Anda disajikan intisari dari ratusan buku sukses yang pernah ada. Langsung dari pakarnya. Tahun 2005 saya sempat juga menyaksikan film sejenis, yang berjudul What the Bleep Do We know?. “Bleep” disini maksudnya adalah sensor dari “F word”. Beda nya, the Bleep lebih mengupas tentang Quantum Physics dan bagaimana pikiran manusia membangun realitas yang dia alami. Format nya pun hampir sama. Kuliah dari pakar yang diselingi drama. Bahkan dua pakar dalam the Bleep tampil juga dalam the Secret, yaitu John Hagelin dan Fred Alan Wolf. Keduanya pakar fisika kuantum. Hanya dramatisasi dalam the Bleep jauh lebih menarik karena ada jalinan cerita nya. Pemeran nya pun tidak tanggung-tanggung, aktris tuna rungu pemenang Oscar Marlee Matlin.

Jadi? Yang belum sempat nonton, setelah tahu prinsip-prinsipnya, segara gunakan the Secret untuk menarik hal-hal positif bagi diri Anda.(FR)

Pameran Franchise

Tanggal 2 – 4 Februari yang baru lalu di Bandung berlangsung pameran Info Franchise Expo 2007. Saya menyempatkan hadir, sekalian ingin mengamati dari dekat perkembangan dunia franchise di Indonesia saat ini.

Sebagai pameran bisnis yang target nya adalah calon pebisnis/investor, pameran sendiri berjalan dengan baik. Dari segi pengunjung tentu tidak bisa diharapkan seramai pameran buku atau pameran komputer. Namun menurut saya atensi pebisnis Bandung kali ini cukup baik. Dan potensi pebisnis di Bandung sebetulnya cukup dahsyat. Saya melihatnya dari angka-angka saja. Penduduk Bandung hanya sekitar 2.7 juta jiwa. Tapi tabungan nya banyak. Dari laporan Bank Indonesia tahun lalu, saya melihat penempatan dana pihak ketiga di perbankan Bandung yang mencapai sekitar Rp.72 T. Sebagian besar dalam bentuk deposito (45 T) dan sisa nya tabungan. Dan ini sebagian besar adalah milik perorangan (hampir 70%), bukan institusional. Dapat dibayangkan betapa besar potensi dana yang masih “parkir“ di Bandung. Memang, “orang kaya“ Bandung tadi mungkin konservatif. Namun franchise bisa menjadi cara yang tepat untuk memancing dana tadi masuk ke sektor bisnis.

Peserta pameran franchise kemaren juga cukup lengkap. Dari sektor makanan ada Jesslyn Cake, Bread Story, Kebab Turki Baba Rafi, Kebab Anya, Pisang Goreng P Man, Buana Burger, Andrew Crepes, Roti Maryam, C’lup-C’lup, Dobbi Burger hingga Es Krim Campina. Yang paling ramai peminatnya saya lihat adalah booth Kebab Turki Baba Rafi. Mungkin terbantu oleh figure owner nya yang belakangan sedang ngetop. Yang lain juga sebenarnya tidak kalah potensial. Karena masing-masing booth menyediakan sample makanan, saya, istri dan anak saya yang kebetulan doyan makan semua, langsung mencoba satu persatu. Selain Kebab Turki yang memang mantap, saya lihat Roti Maryam yang enak dan unik (semacam roti cane) punya potensi besar. Disamping C’lup-C’lup sendiri yang membuat kami kaget, karena makanan tusuk ini ternyata lumayan digemari pengunjung.

Range nilai investasi di sektor makanan ini cukup bervariasi. Yang paling murah adalah Burger Buana yang hanya sekitar Rp. 2,5 juta. Kebab Turki Baba Rafi mematok range antara 40 juta (gerobak) hingga di atas 100 juta (kafe). Yang lain, sekitar Rp.15 juta hingga Rp. 29 juta. Untuk model gerobak, saya perhitungkan investasi yang masuk akal adalah Rp. 15 – 17.5 juta. Andrew Crepes cukup berani dengan mematok hingga Rp.29 juta. Investasi cukup tinggi pada franchise makanan adalah untuk bakery, mengingat tempat yang lebih permanent dan eksklusif, dan nilai stock yang besar. Jesslyn Cake mematok Rp.200 – 600 juta, sementara Bread Story bahkan mencapai lebih dari Rp.1 milyar.

Di sektor otomotif yang cukup menarik untuk dicermati adalah AutoBridal. Bisnis salon mobil ini sebetulnya saya yakin “gak ada matinya” karena trend kepemilikan mobil yang terus meningkat. Fee franchise yang Rp.75 – 150 juta juga masih masuk akal. Hanya range total investasi nya yang berkisar Rp.400 - 900 juta menurut saya terlalu besar. Meskipun sekarang tersedia paket AutoBridal Ekspress dan Motor yang investasinya bisa lebih murah. Autobridal juga terlihat aktif melakukan inovasi. Disaat snow wash sudah mulai umum, mereka punya menu cuci “es krim” yang warna-warni. Tapi apakah itu yang dibutuhkan para pemilik mobil? Jujur saja saya meragukan.

Untuk sektor retail, AlfaMart hadir menawarkan pola investasi yang menurut saya sangat masuk akal. Investasi nya sekitar Rp.300 juta. Pemilik usaha sudah akan menerima sistem, perlengkapan dan supply barang. Royalti fee berjenjang tergantung omzet. Namun saya sangat tertarik dengan kehadiran K-24. Brand Apotek lokal yang kini sedang naik daun. K-24 ini cukup berani dengan konsep 24 jam nya. Investasi nya juga cukup tinggi, berkisar Rp. 500 juta. Pengalaman saya, margin obat sangat tipis. Sementara banyak item obat juga sangat terbatas oleh waktu. Dengan beban operasional yang tinggi karena buka 24 jam, keberanian ini tentu menuntut kemampuan pengelolaan inventory yang luar biasa baik untuk menjaga harga pokok penjualan serendah mungkin.

Ada juga franchise sandang seperti Edward Forrer (sepatu) dan Shafira (busana muslim). Kedua-dua nya memiliki nilai investasi yang berkisar Rp.500 juta. Kedua brand yang lahir di Bandung ini sama-sama dikenal memiliki kualitas yang bagus. Kedua-dua nya juga terkenal sebagai innovator di bidang nya. Namun produk Edward Forrer memiliki market yang lebih luas dengan price yang masuk akal di kelas nya. Sementara Shafira dengan price yang cukup tinggi, marketnya lebih sempit (middle up Moslem), yang dewasa ini memiliki pilihan yang sangat luas. Dengan investasi yang sama, pay back period Shafira mungkin akan lebih lama dibanding Edward Forrer.

Yang masuk watch list saya sebenarnya adalah bisnis berteknologi tinggi seperti Multiplus. Multiplus yang menawarkan one stop shopping keperluan office/bisnis ini harus diakui cukup diminati konsumen. Ini sebenarnya meneruskan kesuksesan berbagai pusat “foto copy” atau solusi dokumen yang selalu laris di kota besar. Apalagi dengan nilai plus yang demikian banyak, maka Multiplus sangat menjanjikan. Selain itu ada Java Net yang menawarkan konsep internet café. Ini juga menarik, karena pengunjung tidak hanya disugihi koneksi internet, namun juga menu makanan layaknya café. Namun demikian, positioning nya menurut saya menjadi tidak jelas. Pengunjung warnet dan pengunjung café adalah dua komunitas yang berbeda. Pengunjung warnet atau game center adalah komunitas anak muda yang cuma butuh “minum teh botol” asal ada koneksi cepat dan murah. Sementara pengunjung café yang ingin makan dan minum, tidak butuh-butuh amat dengan koneksi internet. Kalaupun butuh koneski internet, sekarang banyak café yang menyediakan koneksi wi-fi gratis. Apalagi, nilai investasi yang mencapai Rp.345 (game center) hingga 700 juta (café), cukup besar. Ini berbeda dengan Wiz Game & Internet Center yang fokus hanya pada game center. Market online gamers memang sangat menjanjikan, sehingga potensi nya besar. Meskipun investasi awal Wiz Game yang mencapai Rp.350 jutaan menurut saya terlalu besar. Mendirikan online game center itu barrier to entry nya rendah, sehingga kompetisi juga akan sangat ketat. Dengan dana yang sama, orang bisa mendirikan game center yang lebih kencang dan lengkap di sebelah game center Anda. Dari group Java Net, ada peluang juga untuk menjadi outlet Micronics – distributor PC Dell. Ini cukup menarik. Dell adalah PC branded yang akhir-akhir ini sangat kompetitif. Investasi nya juga dibawah Rp.200 juta.

Selain itu saya tertarik dengan bidang Digital Imaging yang dewasa ini maju pesat. Layanan yang ditawarkan antara lain cetak pada mug, pin, t shirt, hingga photo box. Dimage menawarkan paket-paket investasi yang sangat beragam sehingga kita bisa merancang sendiri layanan apa yang cocok dengan lingkungan kita. Range investasi nya juga cukup ringan, dari Rp. 4 jutaan hingga puluhan juta. Dengan demikian investor mudah untuk memulai usaha dan menambah layanan sesuai perkembangan usaha.

Masih banyak lagi yang sebetulnya bisa di bahas. Di sektor pendidikan hadir ILP, iTutor Net, Interkatif, dsb. Saya tertarik dengan Interaktif kursus komputer anak, yang menawarkan investasi franchise yang rendah (total investasi di bawah Rp.50 juta). Di sektor spa ada Leha-Leha dan Nakamura. Leha-Leha menawarkan konsep yang lebih lengkap, mencakup spa dan klinik kecantikan. Sementara Nakamura hanya pijat refleksi. Investasi Nakamura yang mencapai Rp.250 juta menurut saya terlalu tinggi untuk usaha pijat refleksi.

Demikian sekilas info dari pameran franchise di Bandung yang baru lalu. Semoga bermanfaat.(FR)

Sabar

Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira bagi orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “ sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali“. -- Q.S. Al-Baqarah: 155-156.

Musibah adalah sesuatu yang tidak kita senangi, namun terjadi. Padam nya lampu, mobil mogok, handphone hilang, kena PHK, hingga banjir yang kini melanda Jakarta adalah musibah dalam berbagai derajatnya. Kita tidak senang hal ini terjadi, namun terjadi. Mengapa kita tidak senang atas peristiwa yang menimpa kita? Karena kita belum tahu peristiwa lengkap yang akan menimpa kita selanjutnya.

Salah seorang teman saya pernah mengalami musibah yang sangat menyedihkan hati nya. Ia kena PHK. Hari itu, bagi nya dunia seperti berakhir. Makan apa aku besok? Apa kata istriku nanti? Apa kata mertua nanti? Begitu keluhnya waktu itu. Hari itu, ia merasa mendapat musibah diluar kemampuan yang sanggup ia terima. Beberapa minggu berlalu, teman saya memutuskan menjadi wirausaha. Dan dalam hitungan bulan dia berhasil memiliki pendapatan yang jauh diatas gaji nya dulu. Maka hari ini, ia menganggap peristiwa PHK dahulu bukanlah musibah, namun adalah pintu bagi nya untuk masuk ke dunia wirausaha. Jalan bagi nya untuk lebih sukses lagi. Jawaban Tuhan atas doa2 nya.

Orang-orang yang sabar akan berhenti memberi label apakah peristiwa yang sedang ia alami adalah peristiwa baik atau peristiwa buruk. Batin nya diliputi rasa percaya yang mendalam terhadap rahmat dan kasih sayang Tuhan Yang Maha Esa. Apakah ini anugerah atau bencana? Ia tidak tahu. Ia tidak peduli dengan label nya. Ia hanya percaya, Tuhan maha mengatur segala sesuatu nya. Batin nya pasrah kepada ketentuan Tuhan nya.

Sebagai manusia, kita memiliki keterbatasan untuk memahami rangkaian kejadian yang telah diatur Yang Maha Kuasa. Apa yang hari ini kita sebut sebagai bencana, seringkali di masa depan baru terungkap, ternyata adalah jalan menuju kebaikan. Maka orang-orang sabar berhenti untuk mengutuk nasibnya. Mereka mengalir dalam hidupnya. Karena mereka tahu, siapalah kita ini berhak menghakimi kejadian yang kita sunguh tidak tahu bagaimana hasil akhirnya nanti.

“And in our willingness to step into the unknown, the field of all possibilities, we surrender ourselves to the creative mind that orchestrates the dance of the universe.” – Deepak Chopra.

Hari-hari ini, teman-teman dan saudara-saudara saya yang berada di Jakarta mengalami peristiwa banjir yang luar biasa. Saya percaya mereka adalah orang-orang yang sabar, yang sama seperti saya, yakin bahwa Tuhan telah mengatur ini semua untuk suatu kebaikan.(FR)

Saturday, February 03, 2007

Bebas Banjir Itu Bisa

Dulu ketika saya membeli rumah di daerah Bekasi untuk tempat tinggal keluarga kecil saya, pertanyaan yang saya ulang-ulang ke sales nya adalah: “Bebas banjir kan mas?“ Jawaban nya waktu itu sedikit konyol :“Kalau disini banjir, monas udah tenggelem pak ..“. Saya sedikit khawatir, karena waktu itu kami punya balita yang bakal ditinggal-tinggal seharian dengan hanya ditemani pembantu. Pada tahun 2002, hujan terus menerus mendera Jakarta. Ternyata betul, perumahan yang kami tinggali bebas banjir. Tetapi ... nah ada tapi nya, jalan akses menuju perumahan tadi terpotong oleh genangan banjir setinggi roda mobil. Istri saya bersama anak kami, sempat mengalami harus berlayar dengan mobil, bahkan karena mobil kami sedan, air pun dengan mudah masuk dalam kabin melalui celah pintu. Ajaib nya istri saya berhasil membawa mobil kami keluar dari banjir dengan selamat. Bahkan sempat menjemput saya dari kantor. Sebelum akhirnya si mobil menyerah karena dinamo nya terbakar.

Waktu itu, banyak keluarga dan teman kami yang mengalami kejadian yang jauh lebih mengenaskan. Ada yang rumahnya terendam hingga 2 meter, perabotan rusak, mobil terendam, hingga pengalaman evakuasi ditengah malam yang gelap gulita. Karena khawatir hal semacam itu akan berulang, kami pun pindah lagi ke Bandung.

Jujur saja, saya tidak sanggup jika harus hidup di lingkungan yang terus menerus kebanjiran. Anehnya, jutaan orang di Jakarta mau, sanggup, dan bersedia hidup dalam banjir. Jakarta banjir? Ah sudah biasa. Begitu jawaban yang sering kita dengar. Salah satu mantan sopir saya bercerita, kalau di tempat tinggal nya setiap musim hujan pasti banjir. Saya mendengar dengan sedikit risih cerita itu, “Kenapa tidak pindah?” Tanya saya. “Yah bagaimana lagi pak …”.

Sudah biasa. Memang beginilah Jakarta. Bagaimana lagi. Kalimat-kalimat ini mewakili pikiran-pikiran orang yang menyerah pada keadaan. Padahal kita semua mengakuai potensi kekuatan pikiran. Siapa yang dapat menyelamatkan Jakarta dari banjir kalau bukan warga Jakarta? Ketika sebagian besar warga Jakarta berpikiran bahwa banjir adalah tradisi, maka ya terjadilah banjir. Sebagai tradisi!

Padahal bebas banjir itu bisa. Kota-kota lain di dunia bisa, jadi Jakarta harus bisa. Janganlah kita mengutuk “siklus banjir 5 tahunan“, tapi bersyukurlah bahwa Tuhan masih memberi waktu 5 tahun untuk berbenah. Sudah berulang-ulang dihantam banjir. Dan apa yang telah Jakarta lakukan disaat banjir belum tiba? Warga nya tetap membuang sampah sembarangan, dan pemerintah nya menghambur-hamburkan uang untuk infrastruktur yang tidak mendesak. Padahal apa yang lebih penting dari membebaskan Jakarta dari banjir? Busway bisa ditunda, bikin gedung baru bisa ditunda, trotoar baru bisa ditunda. Tapi membebaskan Jakarta dari banjir harus sekarang.

Saya pernah mengantarkan kolega, seorang CEO perusahaan software dari UK yang baru pertama ke Jakarta. Kami menyusuri Sudirman – Thamrin menuju hotel tempat dia menginap. Waktu itu hujan deras turun. Tidak terjadi banjir, tapi genangan di jalan cukup banyak. Itupun sudah cukup membuat wajahnya tampak cemas. Tidak tahan, dia berkomentar: “They should check the drainage system …” Hampir saya nyletuk “What drainage system?” Bahkan seorang yang baru pertama ke Jakarta pun akan tahu bahwa sistem drainase di Jakarta tidak berfungsi. Dan anehnya kita tidak melakukan tindakan yang cukup untuk membereskan nya.

Jakarta (dan juga Indonesia) butuh pemimpin yang mampu memberi inspirasi bahwa kita bisa berubah kalau kita mau. Kalau sebagian besar warga Jakarta sudah yakin bahwa Jakarta bisa bebas banjir, maka pertanyaan berikutnya yaitu “bagaimana” akan lebih mudah dijawab. Orang-orang yang yakin bisa, akan lebih mudah mendapat jawaban. Ide-ide cara baru yang belum terpikirkan sebelumnya akan bermunculan. Dan insyaAllah, alam semesta mendukung.

Banjir kali ini, alhamdulillah saya sekeluarga kini tinggal di Bandung. Saya turut bersimpati dengan banjir di Jakarta. Semoga para korban banjir di Jakarta diberi ketabahan, dan semoga seluruh warga Jakarta pikiran nya tercerahkan, bahwa bebas banjir itu bisa.(FR)

Friday, January 26, 2007

Ilmu Berhutang

Berhutang. Kata ini sebelumnya tidak ada dalam kamus hidup saya sebelum saya mulai berbisnis. Maklum, saya lahir dan dibesarkan dari keluarga pegawai yang sangat konservatif. Bahkan, salah satu paman saya (almarhum) yang sangat sukses berbisnis, selalu menekankan tips bisnis beliau: “jangan pernah berhutang”. Beliau tidak mau dalam posisi berhutang kepada bank sekalipun. Dengan menjalankan prinsip tersebut, yang terjadi akhirnya banyak pihak yang malah dalam posisi berhutang pada beliau.

Sewaktu saya berkarir di perbankan, tentu saya tidak dapat menganjurkan tips paman saya tadi kepada debitur-debitur saya. Malah sebaliknya saya menganjurkan: “berhutang-lah untuk bisnis”, “jangan gunakan dana Anda sendiri, gunakan dana bank”, dsb. Namun, kehancuran sistem perbankan di Indonesia sekitar tahun 1997 – 2002, mau tidak mau membuat saya berpikir: Ada ada dengan berhutang? Mengapa efek negatifnya demikian destruktif. Mungkin banyak yang tidak sadar, bahwa biaya yang telah dikeluarkan untuk recovery sistem perbankan kita mencapai sekitar Rp.600 trilyun, melalui obligasi rekap, yang sampai sekarang ditanggung renteng orang se Indonesia melalui pajak yang kita bayar. Mau tidak mau akhirnya saya kembali merenungkan “ilmu berhutang” ini.

Misteri kertas ke-11

Untuk memahami asal muasal hutang, kita bisa belajar dari model “sistem hutang” sederhana yang terdiri dari 3 aktor dalam sebuah sistem tertutup. Mungkin sudah sering ditulis orang, saya coba menceritakan kembali dengan cara saya:
Bayangkan ada 3 orang yang tinggal di sebuah pulau terpencil, sebut namanya Andi, Budi dan Caca, atau kita singkat saja si A, B dan C. A adalah seorang pekerja yang berhasil menciptakan 10 keping emas. C adalah seorang petani yang bisa menyediakan aneka makanan, dan B adalah seorang “banker”. Singkat cerita, B berhasil meyakinkan A untuk menyimpan 10 keping emas nya pada B, supaya aman. Dan B memberikan bukti penyimpanan berupa 10 lembar kertas (inilah asal kata “bank notes”). Dengan demikian A tidak perlu membawa-bawa emas nya, cukup membawa kertas. A, B dan C sama-sama paham bahwa 10 kertas tadi setara dengan 10 keping emas. Suatu ketika, C meminjam 10 kertas tadi dari A. A bersedia, namun mensyaratkan “bunga” 10% pada saat pengembalian. Arti nya, C harus menyerahkan 11 kertas, pada saat jatuh tempo. Persoalan nya: Dari mana kertas yang ke-11? Bukankah hanya ada 10 kertas untuk 10 keping emas? Jadi, seberapa pun keras C berusaha, dia tidak akan pernah berhasil mengembalikan 11 kertas. Inilah cacat sistem hutang berbasis bunga.

Model diatas memang disimplifikasi. Namun prinsip yang sama berlaku pada sistem perbankan umum yang jauh lebih kompleks. Dalam sistem kompleks tentu cacat demikian akan tertutup oleh sistem. Tapi bisa Anda perhatikan sendiri, dalam setiap sistem perbankan selalu ada pihak yang tidak dapat mengembalikan hutang. Ini yang dari waktu ke waktu, pada akhirnya akan meledak seperti yang pernah terjadi dalam semua sistem ekonomi di muka bumi.

Hutang dan Manipulasi Rasa Takut

Jadi mengapa sistem hutang yang cacat tadi masih dipertahankan? Salah satu jawaban adalah power yang diperoleh pemberi hutang terhadap pengutang, dalam bentuk manipulasi rasa takut. Berhutang mau tidak mau akan menimbulkan rasa takut. Takut tidak mampu bayar, takut tidak memiliki cukup uang, dsb. Dan, rasa takut adalah akar dari segala kegagalan. Sementara pihak pemberi hutang akan menikmati dominasi atas pengutang. Ini berlaku tidak hanya bagi individu, namun juga perusahaan bahkan negara. Buku John Perkins “Confessions of an Economic Hit Man”, dengan jujur menceritakan bagaimana hutang luar negeri selama ini dijadikan senjata untuk mendominasi negara terbelakang.

Manipulasi rasa takut melalui hutang sering juga mematikan kreativitas pengusaha. Ambil contoh, apa yang umumnya akan dilakukan oleh debitur macet dari suatu bank? Meminta tambahan hutang! Karena rasa takut, kreativitas nya, sudah mati. Satu-satu nya jalan keluar yang terpikirkan adalah berhutang dan berhutang lagi.

Berhutang dengan Ilmu

Bukan berarti saya anti hutang. Saya hanya ingin memberi gambaran bahwa sistem hutang yang ada saat ini, by design, memiliki cacat yang membuat selalu akan ada pihak yang tidak dapat membayar hutang. Jadi pastikan Anda adalah bukan pihak tadi.

Berhati-hatilah terhadap hutang konsumsi. Hutang konsumsi sangat memanipulasi ketakutan. Dari awal offering nya saja sudah menekankan suatu pesan tersembunyi bahwa: “kita tidak punya cukup uang untuk memiliki yang kita inginkan”. Ketakutan demikian sangat berbahaya. Padahal dalam mencapai yang kita inginkan, uang bukanlah poin nya. Ketika kreativitas terbuka, bukankah sering kita memperoleh sesuatu dari sumber tak terduga? Belum lagi jika hutang konsumsi tadi macet. Ditelpon dan dikejar debt collector, betul-betul akan memanipulasi rasa takut hingga debitur sering tidak berpikir jernih lagi.

Pembiayaan produktif layak Anda pertimbangkan. Ini tentu dengan pertimbangan matang setelah memahami “ilmu hutang”. Bentuk pembiayaan harus Anda pertimbangkan baik-baik. Dan ini akan sangat tergantung pada bentuk kebutuhan Anda. Misalnya apakah pembiayaan untuk menutupi cash-flow, atau untuk berinvestasi. Untuk menutup cash-flow, hutang supplier adalah yang terbaik, karena umumnya berbiaya rendah. Atau kita juga bisa memanfaatkan pinjaman revolving dari bank, secara hati-hati. Bagaimana dengan kartu kredit? Kartu kredit adalah pinjaman konsumen berbunga sangat tinggi. Ingat biasanya rate dicantumkan dalam hitungan per bulan, jadi rate per annum nya akan sangat tinggi. Besar kemungkinan profit margin Anda sesungguhnya tidak akan menutup beban bunga.

Untuk kebutuhan investasi sebaiknya Anda menggunakan hutang investasi yang berjangka panjang dan memiliki cicilan tetap. Memang di atas kertas ini akan memudahkan kita menghitung cash-flow. Namun tetap harus hati-hati karena seharusnya Anda memasukkan faktor resiko. Hutang investasi disusun dengan berbagai asumsi. Padahal semua pengusaha paham betul, siapa yang tahu apa yang akan terjadi 5 tahun lagi?

Poin terpenting dari “ilmu berhutang” adalah jangan sampai hutang mematikan kreativitas dan memanipulasi rasa takut Anda. Jadikan hutang sebagai alat bantu Anda, dan pastikan Anda tetap memegang kendali masa depan Anda. (FR)

Monday, January 15, 2007

Bisnis IT Tidak Selalu Dari Garasi

Gelombang booming dot com sekitar kurun waktu 1995 - 2001 tak pelak membuat para pelaku bisnis IT waktu itu terpacu adrenalin nya. Bayangkan, hampir setiap hari kita mendengar cerita sukses dari anak-anak muda yang dengan mudah meraup jutaan dollar hanya bermodal kantor seadanya, bahkan, yang paling sering diekspos adalah: dari garasi rumah. Mulai meluasnya penggunaan internet pada waktu itu membuat hampir setiap pelaku IT berpikir bahwa revolusi telah tiba, dan semua hal bisa di “e-commerce” kan. Saya ingat waktu itu berbagai majalah bisnis memuat wajah-wajah muda dengan senyum mengembang, berhasil menjadi jutawan dollar baru karena dot com company nya berhasil listed di NASDAQ.

Saya dan teman-teman di Jakarta pada waktu itu juga sempat merasakan gairah yang sama. Apalagi perusahaan tempat saya bekerja waktu itu baru saja diakuisisi oleh sebuah perusahaan IT baru dari Australia, dipimpin seorang CEO nya yang masih sangat muda. Kami terkagum-kagum. Berkat kejelian sang CEO untuk masuk bursa saham Australia, perusahaan baru tadi dalam sejekejap sanggup memborong perusahaan-perusahaan IT di Asia Pasifik untuk memperluas jaringan nya. Saatnya anak muda!, saatnya ekonomi baru! itulah semangat yang kami rasakan waktu itu, seiring dengan reformasi politik yang waktu itu sedang berlangsung.

Ada teman saya yang demikian terinspirasi dengan gelombang dot-com di Amerika Serikat, hingga meniru mentah-mentah apa yang terjadi disana dengan merombak garasi rumah nya menjadi kantor! Untung istri nya setuju. Padahal rumah nya buesaar dan banyak ruangan di dalam. Sekelompok programmer tiap hari siang malam nongkrong di garasi tadi untuk membuat aplikasi-aplikasi berbasis web. Yah rada kringetan … karena garasi nya tanpa AC. Jujur saja saya waktu itu juga kepengen untuk melakukan hal yang sama, tapi sayang … rumah saya waktu itu tidak ada garasi nya.

Seperti kita ketahui bersama, gelombang dot com (pertama) di AS kemudian menjadi “dot com bubble” yang akhirnya meletup, saking banyaknya perusahan listed yang belakangan ambruk karena value nya tidak riil. Perusahaan IT Australia yang saya ceritakan di atas saham nya ambruk, CEO nya yang anak muda itu didepak.“Garage company” nya teman saya tadi juga tidak berlangsung lama.

Pelajaran pertama yang dapat saya petik dari kurang berhasil nya “bisnis dari garasi” tadi adalah, bahwa kita sering lupa akan esensi dari fenomena bisnis. Internet telah memfasilitasi kita untuk melakukan interaksi bisnis dengan mudah, cepat dan massal. Sehingga lokasi bekerja menjadi sangat fleksibel. Anda bisa bekerja dan berkolaborasi dengan rekan kerja kapan saja Anda mau. Dari mana saja Anda mau. Tapi bukan berarti harus dari garasi. Kalau Anda punya kamar ber AC atau di depan rumah Anda ada warnet berAC yang menyediakan Teh Botol dingin, ya tidak usah susah2 kepanasan bekerja di garasi. Point nya adalah fleksibilitas waktu dan tempat. Bukan garasi nya.

Garasi pada bisnis IT adalah “simbol”, bukan esensi. Banyak rekan-rekan saya terjebak dalam “simbol-simbol” bisnis, bukan esensi nya. Sehingga untuk mulai berbisnis IT mereka malah lebih pusing akan kantor nya (harus keren), peralatan nya (harus canggih), kendaraan nya (harus baru), sekretaris nya (harus cantik), dsb. Sampai lupa create sales!. Padahal dalam bisnis menggunakan internet, mereka bisa sangat minim bertatap muka. Sebagai contoh, untuk efisiensi, saya sering melakukan training atau webinar dengan memanfaatkan Webex ataupun LiveMeeting. Saya bisa tetap di rumah saya yang nyaman di Bandung, rekan-rekan saya di Jakarta dan Singapote, dan pengajar nya bisa dari US atau UK. Bersukurlah ada internet yang membebaskan Anda dari tempat kerja.

Kemudian, pelajaran yang kedua yang dapat saya ambil, bahwa sikap “me-too” rupanya sangat berbahaya. Dan ini sempat menjadi kecenderungan yang kuat di kalangan pengusaha Indonesia. Ingat booming perbankan Indonesia? Ketika ada pengusaha yang mendirikan bank, semua pengusaha besar waktu itu rame-rame mendirikan bank. Akhirnya gulung tikar nya pun rame-rame. Demikian pula waktu booming property. Kalau yang melakukan ini pengusaha generasi “tua” saya masih maklum. Tapi kalau anak-anak muda yang melakukan, saya sedikit heran. Ingat booming “kafe tenda”? Percayalah, iklim usaha yang “me-too” itu tidak sustainable. Demikian juga di bisnis IT.

“Me-too” boleh saja, tapi dengan semangat inovasi untuk menawarkan yang beda, dan lebih baik. Google membuat mesin pencari yang beda dan lebih baik dari yang lain. Membaca buku tentang kesuksesan Google, saya dapat merasakan semangat Larry Page dan Sergey Brin untuk menciptakan sesuatu yang baru. Memang mesin pencari, tapi dengan pemeringkat hasil, tidak seperti mesin pencari yang sudah-sudah. Dan mereka berhasil. Jadi kalau Anda akan memulai bisnis IT, entah dari garasi atau dari kamar kos-kos an, pertanyaan nya adalah, adakah sesuatu yang baru yang akan Anda tawarkan? (FR-Jan07).

Thursday, January 11, 2007

Tangan di Atas

Beberapa waktu lalu saya tidak sengaja nemu blog dan website Pak Roni Yuzirman (http://www.roniyuzirman.blogspot.com), pemilik Manet Vision dan pemrakarsa komunitas “Tangandiatas” (http://www.tangandiatas.com). Sebetulnya saya ingin mencari website Adi W. Gunawan, setelah membaca buku nya yang inspiratif. Karena kebetulan Pak Roni mengulas secara ringkas buku tersebut, Google pun mengarahkan saya ke blog Pak Roni. Membaca tulisan-tulisan disana, jujur saya sungguh terpesona. Pak Roni sungguh luar biasa. Wirausaha yang sukses membawa bisnisnya hingga masuk dalam 50 perusahaan terbaik majalah SWA. Komunitas “Tangandiatas” sendiri terdiri dari orang-orang dengan cita-cita luhur ingin dalam posisi “Tangan di Atas” (Pengusaha).

Saya jadi merenungkan jalan hidup saya sendiri. Alhamdulillah, kini saya termasuk “TDA”, meskipun belum sekaliber Pak Roni cs. Dulu nya saya juga “TDB” (karyawan). Namun hidup saya selama menjadi TDB memang “gak karuan”. Setelah lulus kuliah tahun 1994 gak sengaja keterima kerja di perbankan (gak nyambung dengan kuliah saya), persisnya di area corporate banking dan investment banking, kemudian gak puas pindah jadi analis di asset management company, gak puas lagi pindah jadi konsultan di salah satu software company asing. Dan waktu krismon, saya juga sempat singgah di BPPN. Kalau sekarang saya paham, sering pindah-pindah kerja ini rupanya salah satu sindrom “pengen jadi TDA”. Belakangan saya juga baru ngerti, kalau pengalaman-pengalaman saya sebagai TDB tadi sepertinya sudah diatur dari “sana” nya untuk memberi bekal buat saya menjadi TDA.

Dorongan kuat untuk TDA saya rasakan sewaktu bekerja di BPPN (2000 – 2002). Racun nya siapa lagi kalau bukan buku-buku nya Robert Kiyoshaki dan booming dot com diluar negeri. Karena saya mendalami bidang IT, khususnya solusi perbankan, saya sempat merancang beberapa software. Salah satu nya untuk manajemen reksadana yang saya beri nama “Spinoza”, meminjam nama filsuf yang pemikiran nya saat itu saya gandrungi. Nasib Spinoza gak jelas, karena konsep nya juga tidak matang. Saya sampai ngabur ke India untuk melihat bagaimana teman-teman saya disana membuat software yang bagus. Pulang dari India makin berkobar-kobar, “madhep-mantep” niat jualan solusi remote trading untuk transaksi saham. Software nya bikinan India. Teknologi nya waktu itu tergolong advanced. Sayang market nya belum siap. Investasi saya semua akhirnya jadi “ongkos belajar” saja. Padahal saking gak sabarnya jadi TDA saya sudah kadung hengkang dari BPPN, dengan mengabaikan iming-iming “golden shakehand” kalau mau nunggu BPPN dibubarkan pemerintah.

Kadung nyemplung di bidang IT, atas dorongan teman, saya bikin formal saja usaha saya, System Design Group Indonesia (SDGI). Prinsip saya, kalau orang lain bisa, masa saya gak bisa. Untung tidak hanya Mestakung (Alam Semesta Mendukung), tapi Orang Tua, Istri dan Mertua semua mendukung. Selama sepi order, saya jualan “skill” jadi Project Manager di proyek-proyek IT perusahaan lain, bikin studi kebutuhan IT, dsb. Yang semuanya saya mainkan one-man-show. Jadi dapur tetap ngebul. SDGI juga sempat nimbrung membuat solusi messaging dan telekomunikasi. Semua berakhir dengan keuntungan berupa “hasil riset”, dan investasi nya akhirnya menjadi “ongkos belajar”. Untuk tidak menyebut tiada hasil … hehehe …

Dengan prinsip “keep your hands up” seperti di film Cinderella Man itu, lama-lama orang mungkin berpikir, ini perusahaan kok bertahan terus ya, gak ada mati nya ya, ngotot ya, ngeyel ya, gak bubar2 ya … hehehe … Coba deh dikasih proyek … Mestakung pun mulai bekerja. Maka satu dua project lumayan besar mulai kami dapat. Kemudian atas jasa kawan yang ikut mendirikan SDGI, saya akhirnya berkenalan dengan beberapa principal dari US dan UK yang mempercayakan solusi nya kami jual di Indonesia. Ini membuat SDGI fokus dengan solusi yang kami berikan. Hingga hari ini. Network kami juga terus meluas ke beberapa pelaku IT di ASEAN dan Australia. Di bisnis IT yang super dinamis, saya terus belajar dari yang sudah maju. Mimpi saya sih nanti nya harus produk kita yang dijual keluar, bukan sebaliknya.

Setelah alhamdulillah SDGI berjalan dengan lumayan baik, saya jadi mulai berpikir untuk “naik kelas”, tidak lagi menjadi pengelola usaha (business manager) namun betul-betul menjadi business owner seperti cita-cita saya semula. Banyak pekerjaan yang sekarang saya lepaskan ke para konsultan kami yang pinter-pinter. Saya juga mulai berpikir untuk menciptakan “multiple streams of income”, tidak hanya dari satu bidang usaha saja. Disini saya kembali dari nol lagi. Belajar lagi. Selain itu, jika semula saya selalu berbisnis dengan rekan-rekan kerja, kali ini saya ingin berbisnis bersama-sama dengan anggota keluarga saya. Kebetulan keluarga saya, terutama Istri dan Ayah Mertua saya memiliki visi yang sama. Saat ini kami mencoba memulai usaha klinik kecantikan dan spa di Bandung. Namanya Leha-Leha. Ayah Mertua saya mem-franchise dari Bu Yati Utoyo & Pak Budi Utoyo. Dua figur luar biasa yang banyak memberi kami inspirasi sukses.

Saya sungguh bergairah dengan prospek usaha saya di masa mendatang. Selain bertekad untuk membantu keluarga saya membesarkan klinik kecantikan tadi (dan lumayan bisa treatment rutin untuk mengecilkan perut), saya juga tengah menyiapkan beberapa ide bisnis baru untuk dikembangkan bersama-sama Istri dan keluarga. Niat saya, sukses itu kalau bisa ya dicapai bersama-sama keluarga. Bukankah indah, sukses finansial dan selalu dekat dengan keluarga? Semoga perkenalan saya dengan para TDA yang telah lebih dahulu mengarungi samudra kesuksesan, bisa memberi saya inspirasi yang lebih seru lagi. (FR).

Monday, December 04, 2006

Chatting imaginer dengan Aa

BUZZ!
Aa_online : Assalamualaikum …
f_rachmanto : Waalaikumsalaam …
f_rachmanto : Aa .. lama gak online nih, … kemana aja ?
Aa_online : Ah … Aa mah disini aja, Kang Oji kumaha damang?
f_rachmanto : Baik A, kumaha bulan madu? :-)
Aa_online : Ah, eta deuy, eta deuy … hehehe …
f_rachmanto : Sori A, habis kaget nih Aa nikah lagi
Aa_online : Aduh kenapa atuh musti kaget segala. Kan berpoligami teh diijinkan Allah.
f_rachmanto : Diijinkan lho A, bukan diwajibkan
Aa_online : Betul. Hukumnya sunnah.
f_rachmanto : Kenapa sih A, nikah lagi?
Aa_online : Aduuh ini lagi pertanyaanya … Kumaha nya ngajawabnya?
f_rachmanto : Apa ada yg kurang dari Teteh?
Aa_online : Wah, insyaAllah bukan karena itu, Teteh itu wanita yang sangat luar biasa.
f_rachmanto : Jadi kenapa?
Aa_online : Begini, pernikahan Aa yang kedua ini latar belakangnya ya sama saja dengan alasan orang lain menikah. Kang Oji dulu kenapa menikah?
f_rachmanto : Mmmm … Karena saya dan istri saling cinta, dan pengen hidup bareng membangun keluarga yang sakinah?
Aa_online : Begitu juga Aa dengan pernikahan kedua ini.
f_rachmanto : Tapi Aa kan bisa menyakiti hati Teteh. Apalagi anak-anak Aa. Anak mana sih yang rela Ayahnya nikah lagi.
Aa_online : Yah, saya juga katakan ini bukan keputusan mudah. Saya mohon maaf sama Teteh dan anak-anak saya, jika keputusan ini tidak enak buat mereka. Namun saya juga berharap ini bisa jadi hikmah bagi mereka untuk melatih keikhlasan mereka. Dan alhamdulillah Teteh dan anak-anak dapat menerima …
f_rachmanto : Maaf nih A, kok tega menyakiti hati orang yang kita cintai?
Aa_online : Sudah tentu saya tidak tega, tapi …
f_rachmanto : Kalau tidak tega kenapa tetap dilaksanakan?
Aa_online : Begini, karena ada tujuan yang menurut Aa insyaAllah baik. Dan Aa yakin keluarga Aa akan dapat ikhlas menerima keputusan Aa.
f_rachmanto : Maaf A, apakah ini untuk kepuasan seks?
Aa_online : Semua pernikahan bukan nya selalu ada aspek seks? Namun seks tentu bukan satu2 nya aspek dan bukan yang paling utama.
Aa_online : Salah satu hikmah pernikahan adalah untuk mencegah manusia dari kerusakan akibat perilaku seks seperti binatang. Kang Oji bisa lihat perilaku saudara-saudara kita dewasa ini yang lama-lama menganggap seks diluar nikah bukan hal terlarang. Ini harus diluruskan …
f_rachmanto : Dengan poligami?
f_rachmanto : Bukan kah nanti jadi nya poligami iya, zina jalan terus …
Aa_online : Yah kalo masalah zina mah, kalo moral orangnya sudah mengizinkan zina ya bagaimana ya? Tapi ada pandangan juga nih. Barangkali masyarakat kita sekarang juga yang mengkondisikan perzinahan.
f_rachmanto : Maksud Aa?
Aa_online : Yah, masyarakat sekarang kan semakin permisif terhadap hubungan laki-laki dan perempuan, semakin menganggap lembaga keluarga tidak penting, menganggap lembaga pernikahan tidak penting. Sementara namanya dorongan hubungan seks adalah sesuatu yang alamiah dan pasti terjadi. Paham maksud Aa?
f_rachmanto : Rada ngantuk sih A, tapi paham lah.
f_rachmanto : Ya jujur aja sih, kalau sekarang kita denger sepasang laki-laki perempuan tinggal bersama tanpa menikah dianggap semakin biasa.
Aa_online : Padahal dulu enggak
f_rachmanto : Ya … dulu nya itu tabu.
Aa_online : Demikian pula poligami
f_rachmanto : Halahh … belok nya jago bener :-)
Aa_online : Hehehe bukan begitu. Ini kenyataan. Coba kita perhatikan dalam sejarah. Orang jaman dulu mempraktekkan poligami. Bahkan kalau tingkatannya raja atau bangsawan, istrinya bisa ratusan …
f_rachmanto : Dulu dianggap biasa, sekarang dianggap tabu.
Aa_online : Betul
f_rachmanto : Itukan dulu Aa
Aa_online : Betul, maksud Aa cuma ingin kasih gambaran bahwa pandangan masyarakat bisa berubah.
f_rachmanto : Tapi Aa, kenapa kita selalu melupakan konteks “adil” dalam ketentuan berpoligami.
f_rachmanto : Maksud saya, kalau istri pertama sampai merasa tidak ridha saja kan sudah tidak adil. Saya pernah baca sih, ada beberapa istri yang dari awal ikhlas suami nya menikah lagi, bahkan membantu mencarikan istri baru. Tapi kan angkanya sangat sedikit. Artinya, poligami baru bisa dilaksanakan dalam kondisi yang hampir mustahil.
Aa_online : Tapi mungkin
f_rachmanto : Ya …
Aa_online : Apa tidak mungkin ada istri yang ikhlas suaminya menikah lagi karena sesuatu hal, katakan yang sifatnya darurat?
f_rachmanto : Ya mungkin saja, tapi kecil …
Aa_online : Tetap saja mungkin.
Aa_online : Dan hukum agama dimaksudkan untuk memberi jalan keluar bagi hal yang mungkin tadi.
f_rachmanto : OK Aa, saya tidak pernah mempertanyakan legalitas berpoligami. Tertulis dalam teks dengan sangat jelas itu diperbolehkan.
f_rachmanto : Tapi bukankah sesuatu yang boleh belum tentu baik.
Aa_online : Misalnya …
f_rachmanto : Misalnya saya membeli mobil mewah sementara saudara-saudara saya ada yang putus sekolah karena kurang biaya, terjepit hutang, atau bahkan kelaparan ..
f_rachmanto : Beli mobil pake uang saya sendiri, halal, ya boleh dong. Tapi tidak baik saya lakukan karena akan menyakiti hati saudara-saudara saya …
Aa_online : Membeli mobil tadi “tidak baik” ukuran nya apa? Dibandingkan dengan apa?
f_rachmanto : Dibanding dengan misalnya menyedekahkan uang saya tadi …
Aa_online : Setuju. Nah, kalau dibanding dengan menggunakan uang tadi untuk berjudi di kasino?
f_rachmanto : Ya lebih baik beli mobil.
Aa_online : Sangat relatif ya?
f_rachmanto : Hmm … ya.
Aa_online : Jadi itu semua akan sangat subyektif, dan sangat tergantung konteks. Tidak bisa dihakimi secara hitam-putih begitu saja. Dari satu kasus dengan kasus lain akan berbeda.
Aa_online : Poligami itu seperti pintu darurat di sebuah pesawat. Boleh digunakan, kalau memang keadaan mengharuskan. Tapi juga jangan digunakan kalau pesawatnya baik-baik saja. Jadi harus tahu ilmunya.
f_rachmanto : Hehehe … memang pernikahan Aa sama Teteh tidak baik2 saja ..
Aa_online : Tuh kan … kalo ini mah jadi ngegosip …
f_rachmanto : Iya sori Aa, becanda. Thanks penjelasannya.
f_rachmanto : BTW ini lagi online di Daarut Tauhid A?
Aa_online : Daarut Tauhid?
f_rachmanto : Lho? Ini Aa Gym kan?
Aa_online : Aduh Ji! Ini saya mah Aa Gino, temen kerja kamu dulu …
f_rachmanto : Astaghafirullah … kirain dari tadi tuh Aa Gym …

Monday, November 20, 2006

The Emperor's coming here?

Jaman dahulu kala, nun jauh di galaksi. Seluruh penjuru galaksi telah jatuh kecengkeraman Emperor Palpatine. Namun, sekalipun stabilitas galaksi relatif terjaga berkat politik tangan besi yang dijalankan oleh Darth Vader tangan kanan sang Emperor, sekelompok pemberontak masih saja menyebarkan teror disana-sini. Dan untuk menumpas habis teroris pemberontak, sang Emperor pun memerintahkan pembangunan stasiun angkasa pemusnah, Death Star, yang jauh lebih besar dari Death Star pertama yang pernah dihancurkan pemberontak. Pembangunan Death Star kedua pun dikebut, begitu seriusnya, bahkan sang Emperor sendiri direncanakan datang ke lokasi. Persiapan pun dilakukan dengan begitu serius untuk menyambut kedatangan sang Emperor. Pasukan clone berbaris rapih, bersenjata lengkap, dengan diinspeksi langsung oleh sang komandan tertinggi Darth Vader. Ketakutan terlihat mencekam para komandan lapangan, seolah tidak ingin terjadi kesalahan sekecil apapun yang dapat membuyarkan acara kunjungan sang Emperor. Adegan yang saya ingat adalah dialog komandan Death Star dengan Darth Vader:

The Emperor's coming here?
That is correct, Commander, and he is most displeased with your apparent lack of progress.
We shall double our efforts.
I hope so, Commander, for your sake. The Emperor is not as forgiving as I am.


Saya menjadi teringat adegan dalam film Star Wars episode VI diatas ketika menyaksikan persiapan penyambutan kedatangan George W. Bush. Saya bahkan membayangkan George Bush akan datang memakai jubah dan tudung kepala a la Emperor Palpatine, karena tanpa make up pun kebetulan tampangnya mirip! Bukan cuma tampangnya, kelakuan Bush pun buat saya banyak kemiripan dengan Emperor Palpatine. Kalau Emperor Palpatine punya proyek Death Star, Emperor Bush punya proyek “War Against Terror“ (WAT). Seperti halnya Death Star yang mampu meluluh-lantak kan satu planet merdeka yang menolak bergabung dengan sang Emperor. War Against Terror juga mampu menaklukkan suatu negara bebas, menggulingkan kepala negara yang sah, membubarkan birokarasi dan sistem keamanan, dan menciptakan kekacauan dan pembunuhan sipil. Bahkan Bush dan Emperor, keduanya menggunakan bahasa yang sama: “You're either with us or against us!” Kalau gak ngedukung berarti ngelawan.

Kalau kita ikuti episode-episode prequel Star Wars, Palpatine sebelum menjadi emperor digambarkan penuh kelicikan. Berpura-pura lemah, membuat drama penyerangan dan penculikan, sebelum akhirnya punya alasan menyerang balik seluruh pihak yang berseberangan dengan legitimasi yang akhirnya memungkinkan Palpatine menjadi penguasa tunggal. Termasuk memusnahkan para Jedi, pengawal republic yang loyal. Ini mengingatkan saya pada “prequel” yang mendahului War Against Terror. Semula Bush bukanlah apa-apa. Banyak yang setuju Bush adalah produk kecelakaan berdemokrasi. Sering salah ngomong, Bush waktu itu sering digambarkan sebagai Presiden AS yang lemah, bodoh, dan menang dengan sedikit keberuntungan karena adanya kontroversi penghitungan suara. Namun kemudian datanglah peristiwa 9/11 yang memberi segala alasan bagi Bush untuk tampil dan menggelar proyek WAT. Dan kisah selanjutnya kita ketahui bersama. Dua negara diserbu. Dua pemerintahan ditumbangkan. Pendudukan militer yang berkepanjangan. Wilayah konflik baru. Menjamurnya para teroris amatir yang tak terorganisasi. Bush makin populer dan terpilih lagi. Dan dunia yang semakin tidak aman.

Tentu ada perbedaan antara Bush dan Emperor Palpatine. Jika segala tindakan Emperor dilatarbelakangi oleh “the dark-side of the force”. Sementara menurut Bush, seperti dalam sebuah pernyataan yg dilansir BBC, bilang: “I'm driven with a mission from God”. Karena dari Tuhan, misi Bush begitu mulia: menumbangkan tiran, menumpas teroris langsung ke sarangnya, memerdekakan wanita Afghan dari burqa, menghabiskan stok senjata dan bom untuk menghidupkan industri senjata, memberikan mega proyek buat perusahaan2 raksasa AS yang menyokongnya, dan memberi akses baru kepada sumber minyak. Ah, tapi itu kan kata teori konspirasi?

Yang bukan teori konspirasi mungkin adalah hitung2 an biaya yang harus dikeluarkan oleh pemerintah AS. Dari anggaran sekitar US$ 200 milyar, melihat kekacauan di Irak yang tak kunjung usai, banyak yang memperkirakan biaya pendudukan akan mencapai US$ 500 - 600 milyar, ini ditambah biaya tak langsung, misalnya untuk tunjangan prajurit yang cacat, maka angka US$ 1 trilyun bahkan akan terlewati. Satu trilyun dolar dan apa yang kita dapat? Sebagai wirausaha di bidang IT saya langsung ngebayangin, kalau dibeliin PC harga 100 - 200 dollar-an, seluruh penduduk dimuka bumi dari bayi yang baru lahir sampai Aki-Nini dapet satu orang satu! Atau kalau dijadikan modal buat bank semacam Garmeen Bank, penduduk miskin diseluruh dunia akan lebih diberdayakan. Dan kalau itu yang dilakukan, Bush kalau mau diberi hadiah Nobel setiap tahun, sepuluh tahun berturut-turut, kita semua akan dukung.

Yang lebih memprihatinkan adalah berita kutipan NY Times 11 Oktober 2006 di bawah ini:
BAGHDAD, Oct. 10 — A team of American and Iraqi public health researchers has estimated that 600,000 civilians have died in violence across Iraq since the 2003 American invasion, the highest estimate ever for the toll of the war here.
600,000 nyawa! Untuk apa? Anak-anak yang mati atau menjadi cacat itu bahkan kenal Bush pun tidak. Belum termasuk nyawa 3000 an prajurit Amerika sendiri. Dan ribuan lain di Afghanistan. Barangkali Bush juga sependapat dengan kata2 Stalin (yang kalau gak kumisan mirip Palpatine juga!): “Death of an individual is a tragedy; the death of a million is a statistic”.

Apapun, Bush bukanlah Emperor Palpatine. Kekuasaanya sebagai eksekutif kini serba terbatas, dan dalam dua tahun toh akan barakhir. Setuju tidak setuju dia ingin mampir. Tentu kita juga berhak menunjukkan kesukaan (atau ketidak sukaan kita). Toh Bush di demo bukan cuma disini. Kemanapun pergi, hampir selalu Presiden AS kini disambut demo. Proyek War Against Terror nya ternyata telah melahirkan generasi-generasi baru pembenci Amerika Serikat. Bahkan mungkin dalam skala yang belum pernah kita bayangkan sebelumnya. Seperti halnya proyek Death Star sang Emperor yang malah melahirkan pemberontak semacam Luke Skywalker, yang kelak menumbangkannya.

Dan entah apa yang besok akan dibisikkan Bush ke telinga pemimpin kita. Saya kok masih kebayang Bush pake jubah dan tudung kepala, dan berbisik dengan suara parau: “Do not under estimate the power of the dark side of the force...”.

Wednesday, November 08, 2006

Cracked Clark

Beberapa hari yang lalu saya “nyasar” ke bekas pangkalan militer Amerika Serikat airport Clark, sekitar 80 km dari Manila. Sebetulnya saya bermaksud mampir ke Manila sebelum pindah pesawat ke Singapore setelah menghadiri suatu konferensi di Cebu, namun berhubung yang bisa saya booking lewat internet adalah “budget airlines” yang tidak lewat Manila, jadilah terdampar di Clark. Meskipun fisik bangunan nya masih sangat bergaya militer, Clark kini sudah menjadi lapangan terbang sipil. Tapi rupanya kejadian tadi ada hikmahnya juga. Melihat-lihat fisik landasan dan bangunan airport Clark, saya jadi teringat perang Vietnam. Clark sejak tahun 60-an adalah pangkalan utama Amerika di asia tenggara yang menjadi tulang-punggung dalam operasi penyerbuan AS ke Vietnam.

Pada waktu itu pemerintah Amerika Serikat sangat berkepentingan untuk menjadikan Filipina menjadi “etelase demokrasi” di Asia Tenggara. Apalagi mereka sudah gagal di Vietnam. Entah sudah berapa milyar dollar dihamburkan oleh pemerintah AS untuk Filipina. Demi untuk menunjukkan kepada negara-negara di kawasan ini, bahwa menjadi sekutu AS adalah pilihan terbaik. Tidak hanya membangun pangkalan militer Angkatan Laut di Subic dan Angkatan Udara di Clark, AS juga membentuk negara tetangga kita tersebut menjadi “mini AS” lengkap dengan demokrasi ala Amerika. Dan sudah barang tentu, gaya hidup Amerika.

Namun sejarah membuktikan, kehadiran AS di Asia Tenggara lebih banyak membawa mudharat daripada manfaat. Selain menyebarkan kebinasaan kepada rakyat Vietnam melalui dua pangkalan tersebut, kehadiran tentara AS turut berperan merubah wajah masyarakat Filipina. Yang paling menonjol misalnya adalah industri pemuas syahwat yang menjamur disekitar dua pangkalan tersebut. Kota Angels yang berdekatan dengan Clark misalnya, dipenuhi dengan bar, kasino dan pelacuran untuk menyalurkan nafsu tentara AS. Di airport Clark, selebaran dan iklan untuk menawarkan bar dan kasino hingga kemarin masih sangat terlihat. Seolah tidak ada pilihan bagi Clark dan kota Angels, selain mengembangkan ekonomi melalui industri hiburan. Subic pun tidak jauh beda, bahkan konon lebih parah lagi karena tentara US Navy yang lebih banyak melaut, konon lebih haus akan hiburan. Dan setelah menerapkan seluruh resep dari guru nya AS, apakah kini Filipina berhasil menjadi negara yang maju? Dari penilaian sekilas selama disana, saya berkesimpulan bahwa secara ekonomi dan sosial pencapaian mereka masih dibawah bangsa kita.

Dengan segala keperkasaannya tersebut, pada waktu itu tidak terbayang jika suatu saat AS harus angkat kaki dari dua pangkalan strategisnya tadi. Protes negara-negara ASEAN ataupun dari negara besar disekitarnya seperti RRC dan Russia dianggap angin lalu. Namun toh akhirnya pangkalan kebanggaan AS dan Filipina tadi pada tahun 1991 harus gulung tikar. Dan siapakah yang mampu membuat sang adidaya tersebut angkat kaki? Tahun 1991, gunung berapi Pinatubo yang terletak tidak jauh dari Clark menggeliat bangkit dari tidur panjangnya selama 500 tahun. Pada waktu itu, serangkaian ledakan Pinatubo yang bahkan disebut-sebut termasuk paling dahsyat setelah Krakatau telah menghembuskan awan abu seluas asia tenggara dan banjir lava yang menghancurkan seluruh sarana dan infrastruktur yang dilewati. Termasuk beberapa bagian utama pangkalan Clark dan kota Angels. Beberapa hari sebelum ledakan terbesar Pinatubo terjadi, AS pun akhirnya memutuskan untuk menutup pangkalan Clark untuk selama-lamanya. Kemarin dari udara saya bahkan masih bisa melihat dengan jelas bekas-bekas kedahsyatan ledakan Pinatubo dan jalur banjir lava yang diciptakannya. Dan melihat sisa-sisa daya rusaknya, tidak heran militer AS memutuskan hengkang dari Filipina. Rupanya, dihadapkan pada kekuatan alam yang dahsyat, si negara superpower harus mengakui siapakah Sang Adi Daya yang sesungguhnya. Semoga menjadi pelajaran bagi kita semua. (fr)

Wednesday, November 01, 2006

Mudik

Kemarin setelah Lebaran, saya mudik – Pulang ke “udik”. Atau lebih tepatnya pulang kampung. Saya pernah berdialog panjang soal mudik ini dengan teman saya yang tidak memiliki budaya mudik. Mengapa harus mudik? Mengapa harus waktu lebaran? Bagi yang tidak memiliki budaya mudik, mengherankan memang, mengingat begitu susah nya prosesi mudik yang harus dijalani oleh jutaan manusia di Indonesia setiap tahun nya. Tidak terhitung berapa jumlah rupiah yang harus dikeluarkan demi mudik, sekian hari waktu yang harus disediakan untuk mudik, bahkan korban jiwa yang setiap tahun terus bertambah. Tapi mudik buat banyak orang, termasuk saya, itu harus.

Mudik bagi kami para perantau adalah saat untuk kembali kepada asal-usul kami. Setelah sekian waktu berusaha untuk mewujudkan cita-cita, bekerja keras dan membuat pencapaian, maka sungguh tenang dan nikmat untuk sejenak berada pada titik nol. Titik dimana dulu kita memulai segala sesuatu. Apalagi di titik nol tadi kita akan dikelilingi oleh orang-orang yang kita cintai. Yang selalu mencintai dan mendukung kita di titik manapun kita berada. Maka kembali pada titik nol tadi InsyaAllah akan memberikan energi yang luar biasa untuk kembali menjalani aktivitas di tempat kita berkarya. Simbol dari titik nol tadi buat saya adalah saat saya dan seluruh keluarga berkumpul di rumah orang tua kami, dan bersimpuh dihadapan mereka yang dulu telah melahirkan dan membesarkan kita. Sehebat apapun pencapaian kita, dihadapan Ibu yang melahirkan dan mengasuh kita, dan Ayah yang dulu berjuang mencukupi nafkah kita, kita kembali menjadi nol. Kosong.

Mudik memang melelahkan. Dari “arus mudik” hingga “arus balik” sungguh merupakan perjuangan yang berat. Melewati kepadatan dan kemacetan lalu-lintas yang demikian luar biasa butuh kesabaran dan ketenangan tersendiri. Mudik ke Jawa Tengah, buat saya mirip Pilgrimage nya Paulo Coelho. Berat untuk dilalui namun sarat akan makna. Yang utama buat saya adalah kebersamaan bersama anak2 dan istri saya. Selama sekitar 12 jam bersama-sama di dalam kendaraan merupakan moment yang tidak pernah bisa tergantikan. Buat kami, bersama-sama dalam kendaraan, mendiskusikan peta dan nama tempat, memperdebatkan tempat berhenti, permainan dan pembicaraan untuk mengusir kebosanan, adalah moment2 yang selalu kami nantikan dan rindukan setiap tahun nya.

Hebat nya lagi, mudik yang kita alami setiap tahun, selalu memberikan sesuatu yang berbeda. Bagi orang yang tidak memiliki budaya mudik, kadang mereka bertanya apakah tidak bosan dari tahun ke tahun begitu2 saja? Sesungguhnya tidak begitu2 saja. Kalau buat saya, selalu ada yang baru. Misalnya untuk tahun ini, entah apa maksud Tuhan, saya banyak bertemu dan dihubungi kembali oleh teman2 lama. Teman2 masa kecil hingga SMA yang pernah berbagi suka dan duka sewaktu saya belum meninggalkan kampung. Bayangkan, saya sudah tidak berhubungan lagi dengan beberapa teman SMA selama 18 tahun, dan kemarin tiba2 saja dengan mudah kami dapat saling berhubungan kembali. Saya yakin hal2 seperti itu tidak ada yang kebetulan, dan pasti ada himkah nya.

Selain menyambungkan kembali tali silaturahmi, mudik buat saya adalah semacam “pilgrimage” yang mencerahkan dan memperkaya batin. Mudik memberikan makna bagi kehidupan banyak orang. Banyak orang2 yang bekerja keras selama 11 bulan dengan satu alasan, mencari bekal buat mudik kelak. Ini sekaligus memberikan satu hikmah, bagaimana seharusnya kita hidup di “perantauan dunia” ini. Yaitu demi mencari bekal untuk “mudik besar” kita nanti.

Monday, October 16, 2006

Jojon

Akhir-akhir ini saya sering memperhatikan beberapa acara guyon di beberapa saluran TV Indonesia. Salah satu wajah yang sering muncul adalah superstar lawak Indonesia: Jojon. Atau mungkin lebih tepatnya saya menyebut Pak Jojon, megingat usia beliau yang tentu tidak muda lagi. Masih dengan gaya nya yang khas: kumis ala Charlie Chaplin, dan celana kebesaran yang diangkat sampai perut. Dan tentu masih lucu.

Saya tak habis pikir. Jojon hadir menghibur kita sejak saya masih SD hingga sekarang anak2 saya sudah SD. Jojon waktu itu ngetop setelah masa Bagyo cs. Salah satu superstar lawak yang lain. Bahkan sempat kedua group melakukan "duel meet" dengan tampil sepanggung. Pada masa jayanya, Jojon cs sangat ditunggu-tunggu kemunculannya di layar TVRI, satu-satunya saluran waktu itu. Bagaikan hidangan istimewa, oleh TVRI waktu itu biasanya Jojon cs juga dihadirkan pada saat2 istimewa, misalnya pada saat "panggung lebaran". Salah satu celetukan khas yang waktu itu sangat diingat oleh pemirsa adalah bagaimana Jojon dan Cahyono saling memanggil.

Yang diperlihatkan Jojon adalah persistensi dan dedikasi pada pekerjaan yang demikian luar biasa. Di usia nya yang tidak muda lagi, energi nya dalam bekerja sulit ditandingi yuniornya. Pada masa ramadhan saja, saya perhatikan Jojon tampil live di dua saluran yang berbeda, menjelang buka dan menjelang sahur. Jojon yang saya saksikan sekarang, masih sama seperti Jojon dulu yang tampil apa ada nya sebagai pelawak yang sadar akan tugas nya untuk melucu. Termasuk dengan trik-trik "pelecehan" fisik yang dilakukan yunior nya kepada Jojon.

Ini berbeda dengan beberapa pelawak generasi sekarang yang ketika sudah berhasil eksis tak mau lagi disebut pelawak. Malah ada yang barangkali risih dengan sebutan pelawak, menamakan diri sebagai "pengusaha tawa". Terbuai dengan gaya "profesional" semu, dengan kerumitan kantor2an, sekretaris, tim manajemen dan sebagainya. Pelawak yang mustinya melawak tadi malah akhirnya terjebak dalam atribut2 eksekutif, dengan berjas-berdasi selalu tampil bak eksekutif perusahaan. Dan malah tidak lucu lagi. Mungkin lupa dengan kerja kreatif yang harus dilakukan: melawak. Padahal pelawak adalah profesi sebagaimana profesi lain seperti dokter, insinyur atau pengacara. Tugasnya pun jelas: menghadirkan kelucuan bagi konsumen nya.

Dalam keseharian kita pun sering menyaksikan bagaimana kita tidak profesional dengan melupakan profesi kita sebenarnya. Olahragawan yang maunya diperlakukan seperti artis sinetron. Karyawan yang bersikap seperti owner perusahaan. Guru yang lebih senang jualan buku. Dokter yang ngomongnya jadi mirip lawyer. Pejabat pemerintah yang lebih mirip pengusaha. Anggota DPR yang maunya kerja nya mirip eksekutif. dll. Kepada Jojon mereka seharusnya berguru tentang persistensi dan dedikasi kepada pekerjaan.(fr)

Sunday, October 15, 2006

Briatore

Kalau Anda mengikuti balapan F1 pasti kenal dengan sosok flamboyan ini. Selain terkenal dalam keahlian nya mengencani para supermodel kelas dunia, Briatore dikenal sebagai team principal yang sukses mencetak juara dunia. Setelah dulu berhasil mengantarkan sang legenda Michael Schumacher menjadi WDC dua kali berturut-turut saat masih di tim Benetton sebelum akhirnya pindah ke Ferrari, tahun lalu Briatore kembali melambungkan Fernando Alonso menjadi WDC termuda, dan seperti sejarah yang seolah berulang, besar kemungkinan tahun ini Alonso akan memperoleh gelar WDC kedua sebelum pindah ke tim yang lebih kaya, McLaren, tahun depan.

Yang unik dari pribadi Briatore adalah latar belakngnya yang jauh dari dunia balapan, tidak seperti pesaing-pesaingnya seperti Jean Todt (Ferrari) atau Ron Dennis (McLaren) yang sejak awal karirnya memang di balapan. Briatore yang pernah menjadi pelayan ini adalah bekas orang susah yang akhirnya sukses menjadi pengusaha. Ini yang menjadikan Briatore lebih memiliki sisi seorang manager dibanding yang lain. Ditangan Briatore, team Renault pun dikenal sebagai tim yang relatif paling irit dibanding tim lain. Teknisi senior di Renault, atau bahkan pembalapnya digaji jauh lebih rendah dibanding tim-tim pemboros seperti Ferrari, McLaren, Honda atau Toyota. Jika dilihat dari hasil yang diperoleh Renault, dapat kita lihat betapa efisien nya Briatore. Keberanian dan kejelian nya untuk menggunakan pembalap muda juga tergolong nekat. Jika tim lain rela merogoh belasan juta dollar per tahun untuk membajak pembalap yang terbukti sudah jadi, Briatore lebih memilih pembalap muda untuk diorbitkan. Untuk menggantikan Alonso misalnya, Briatore memilih mengajak juara GP2 Heikki Kovailanen yang baru pertama kali membalap di F1 tahun depan.

Tidak seperti principal yang lain yang periuk nasi nya mengandalkan balapan. Selain di F1, Briatore juga sukses dengan bisnis nya menjalankan jaringan klub "Billionaire". Kegilaan dan komitmen nya pada pekerjaan membuat saya berpikir bahwa motivasi dibelakang Briatore adalah uang. Namun saya salah, orang seperti Briatore rupanya sudah tidak memikirkan uang lagi. Seperti yang pernah diungkapkan dalam sebuah wawancara, bagi Briatore, yang penting adalah kepuasan untuk berhasil melaksanakan pekerjaan nya itu sendiri. Bukan uang. Menurut Briatore, uang akan mengikuti dengan sendirinya. Ini berbeda dengan masa-masa dia menjadi pelayan dulu dimana hanya uang yang ia pikirkan.

Ada tiga pelajaran yang saya petik dari sosok Briatore. Pertama, Anda tidak perlu takut dengan kotak-kotak yang diciptakan lingkungan. Dunia sekarang adalah dunia yang rajin membuat kategori, sekat dan stempel. Namun Briatore memberi contoh. Jangan terlalu kaku, terobos saja sekat-sekat nya, dan lakukan yang Anda percaya. Banyak yang awalnya memberi stempel Briatore marketing-guy Benetton, bukan orang balapan. Atau dia lebih cocok ada di "kotak" pengusaha restoran. Ngapain ngurusin balapan. Namun waktu membuktikan, para "darah biru" F1 pun mengakui kepiawaian bekas pelayan restoran ini.

Kedua, sikap untuk fokus pada kualitas pekerjaan, dan bukan hasil akhir berupa uang, merupakan sikap khas orang-orang berhasil. Orang-orang semacam Briatore selalu fokus pada apa yang sedang dikerjakan saat ini dengan tingkat kesempurnaan yang tinggi, untuk memastikan apa yang dia kerjakan saat itu terlaksana dengan baik. Dan mereka percaya keberhasilan yang sering diukur dengan uang hanya masalah waktu. Orang-orang dengan karakter seperti ini adalah mereka yang pelan-pelan membangun prestasi di sekitarnya, dan menjadi semakin besar.

Pelajaran ketiga, kalau Anda sukses seperti Briatore, biarpun sudah "aki-aki", masih saja diuber supermodel :-) (FR)

Wednesday, October 11, 2006

November 1997

Senin 27 Oktober
Jam 14.00 siang. "Kita berhasil nih Fred!" Sudargo tertawa terbahak2 dibalik meja besarnya. "Bos besar kasih 50 juta dolar lewat sindikasi 5 bank. Biar gak BMPK!". Dihisapnya cerutu besarnya sambil menatap Fredy tajam2. "Kayanya mereka2 baru dapet dana likuiditas dari BI. Jadi Selamet nih perusahaan kita!". Sudargo tertawa lagi sambil menghembuskan asap cerutu. Fredy masih terdiam sedikit bingung. Sejujurnya dia muak dengan lelaki di depannya, di otaknya masih menggantung segudang masalah keuangan perusahaannya akibat ulah Sudargo selama ini. "Lu jangan bengong gitu! Legalitas udah beres. Pengikatan notariil diberesin tadi pagi. Bank kita jadi Lead Arranger jadi gampang. Lu siapin aja escrow account di Bank kita. Notice of drowdown juga udah gue teken sekalian tadi pagi. Lusa dana keluar." Sudargo nyrocos tanpa henti. "Kamis gue mau langsung TT in ke rekening kita di singapur aja lah." Fredy mengangguk pelan. "Sono Lu kerjain. Jangan lupa bawa specimen tandatangan gw. Cuma gue yang boleh keluarin duit!" Fredy berdiri dan keluar dari ruangan Sudargo.

Selasa 28 Oktober
Jam 09.00 pagi. Fredy baru menyalakan komputernya. Ruangan di kantor nya di kawasan bergengsi itu selalu rapi. Sebagai MBA alumni perguruan tinggi terkenal di Australia, di usia nya yang ke 32 tahun dia cukup beruntung sudah menduduki posisi Manager keuangan di perusahaan properti ternama, milik group usaha ternama, yang bahkan memiliki Bank yang cukup disegani. Meskipun lebih muda dari dirinya, Sudargo yang juga keponakan owner group usaha itu adalah direktur dan atasan langsungnya. Fredy teringat pagi itu dia harus segera ke Bank menyerahkan spesimen tandatangan dan copy identitas Sudargo. Fredy bergegas memanggil sekretarisnya untuk menyiapkan berkas2 perusahaan, dan langsung meluncur ke Bank.

Rabu 29 Oktober
Jam 21.30. Fredy baru memarkir mobilnya di garasi rumahnya di daerah Bekasi. Komplek perumahan yang ditempatinya dikembangkan oleh perusahaan tempat dia bekerja. Sebetulnya ini adalah rumah stock perusahannya yang tidak laku dan akhirnya dijual paksa ke para manager dengan memotong gaji. Fredy tinggal sendirian. Hanya ada pembantu yang pulang hari untuk bebersih. Baru 2 tahun Fredy tinggal di Jakarta. Setamat kuliah, dia sempat tinggal di Singapura untuk mendirikan perusahaan IT kecil-kecilan bersama paman nya, AsiaTech Solutions. Sayang pamannya sudah meninggal, sehingga Fredy memilih kembali ke Jakarta. Fredy hendak mengunci gerbang rumahnya, ketika Udin satpam perumahan lewat dengan sepeda nya. "Malem bos. Lembur terus nih. Eh, KTP Bekasi bos yg kemaren saya titipin ke Bibi udah keterima?". "Udah Din. Makasih" Jawab Fredy tersenyum. "Saya yang makasih Bos. Tips nya lumayan." Si Uding nyengir "Eh, saya juga baru tau nama bos aslinya Sudargo".

Kamis 30 Oktober
Jam 10.30 pagi. Fredy baru tiba di ruang kerjanya setelah menyelesaikan urusan pribadi di biro perjalanan langganan. Suasana kantor terlihat aneh. Karyawan bergerombol dan saling berbisik. Sekretaris nya tampak panik. Tiba2 sekretarisnya masuk tanpa permisi. "Pak kata sekretaris nya Pak Sudargo tidak bisa dihubungi, Hape nya tidak aktif! Kata sopirnya di rumahnya juga tidak ada Pak! Kata pembantu nya Tadi malam beliau pergi tiba-tiba" Fredy hanya tersenyum santai, "Oh, mungkin ada keperluan penting sama Bos besar" SMS masuk, nomor tidak dikenal, bunyinya "Fred, ada masalah penting, saya dan bos besar keluar negeri, tahan dulu semua transaksi - S". Fredy terdiam.

Jumat 31 Oktober
Jam 09.30 pagi. Bank itu terlihat sibuk seperti biasa. Fredy menyerahkan PO pengambilan rekening dollar dan instruksi transfer ke teller. "TT ya Pak, ke Singapura?. Mmm .. saya cek dulu ya Pak" Fredy mengangguk. Teller melakukan pemeriksaan rekening dan spesimen tandatangan. "OK Pak, dijalankan hari ini ya? O ya ini nama penerimanya AsiaTech Solutions ya pak? Nomor rekening sudah betul Pak?". Fredy mengangguk.

Sabtu 1 November
Jam 17.00 sore. Fredy duduk santai di apartemen nya di Orange Regency, Singapura. Dibuka laptopnya, dial-up, segera tersambung ke internet. Dilihatnya Berita.com. Berita pertama, pemerintah membekukan 16 Bank. Bank milik Bos besar nampak dalam daftar. Berita selanjutnya, bos-bos konglomerat diberitakan kabur ke luar negeri. Nama bos besar dan Sudargo, ada dalam daftar. Ditulisnya email ke kekasihnya yang tinggal di Perancis "Jemput aku Selasa pagi 4 November di Charles de Gaule airport. Kita akan menikah di Swiss".(fr)

Monday, October 09, 2006

Hari Terakhir

Pria itu menatap layar televisi yang menyiarkan kejadian terakhir di AS. Pemerintah darurat yang terbukti tidak efektif telah dibubarkan, konggres sudah lama bubar, dan bendera kebangsaan sedang diturunkan. Negara2 bagian sudah memutuskan untuk berdiri sendiri, dan masing2 sibuk mengklaim penguasaan atas sumber-daya sisa2 kebesaran AS. Perang saudara diambang pintu, terutama antar negara yang menguasai peralatan militer, termasuk senjata nuklir. Sudah hampir satu tahun kerusuhan dan penjarahan terjadi diseluruh AS, sejak nilai tukar Dollar AS mencapai titik 0. Tidak lebih berharga dari kertas toilet. Dan sejak perusahaan2 besar di AS mengalami kebangkrutan besar yang tidak dapat ditolong lagi yang memicu gelombang pengangguran yang terbesar dalam sejarah.

Pria itu menghela nafas panjang dan menghirup kopi nya. Semoga tidak terjadi perang dan korban jiwa lebih banyak. Dirinya teringat, betapa ide yang semula dianggap mengada2 kini telah mengubah sejarah. Ingatan nya kembali beberapa tahun silam, tentang diskusi nya dengan beberapa rekan dalam berbagai milis bahwa keruntuhan AS nantinya, bukan disebabkan oleh terorisme, tapi dari sistem moneter nya yang dari awal salah. Pria itu selalu mengungkapkan bahwa Dollar AS adalah sesuatu yang tidak real, karena nilai nya hanya ditopang oleh “persepsi” pengguna nya. USD juga tidak kebal terhadap penurunan persepsi atas nilai, dan secara teoritis sangat mungkin untuk tidak memiliki nilai lagi bagi pengguna nya.

Beberapa teman nya yang kini menjadi pakar di berbagai lembaga mulai mengadopsi ide yang dianggap konyol tadi. Dan entah bagaimana, tidak berapa lama di kalangan diplomatik ide tadi menjelma menjadi wacana untuk melepaskan dunia dari ketergantungan moneter terhadap USD. Pada masa itu AS mencapai puncak dominasi nya di dunia, dan dengan mudahnya menguasai wilayah2 kaya minyak di timur-tengah baik secara langsung mau pun tidak langsung. Karena sudah tidak memiliki lawan, isu sentral yang diusung untuk pembenaran kehadiran AS pada waktu itu adalah islamist terrorism.

Akhirnya setelah 2 tahun hanya menjadi wacana, OPEC yang mulai terganggu dengan dominasi AS di kawasan kaya minyak mulai mengadopsi paham baru “non-USD trade mechanism”. Perdagangan minyak tanpa USD. Sebagai gantinya OPEC membuat satuan mata uang yang berbasis cadangan minyak sebagai “jaminan”, yang disebut OBC (oil backed currency). Langkah ini segera menjadi angin segar bagi Euro yang semakin loyo. Negara2 Eropa pun akhirnya hanya menerima Euro sebagai alat transaksi. Satu tahun berjalan, trend “no USD” makin menguat. Negara2 Asia timur dengan dimotori China dan Jepang membentuk mata uang bersama “Asia”. Perdagangan intra kawasan praktis sudah tidak menggunakan USD lagi. Penurunan nilai tukar USD yang terus menerus telah memicu spekulan untuk menghabisi USD tanpa ampun. Pada tahun ke-3 sejak OBC diperkenalkan, akhirnya sistem moneter AS runtuh. Tidak ada lagi yang mau menerima USD diseluruh dunia, termasuk di AS. Perusahaan2 besar di AS sudah kesulitan sejak setahun terakhir satu demi satu dipailitkan. Pengangguran dimana2, dan AS terancam kekacauan besar.

Kepanikan akhirnya melanda pemerintah AS. Ancaman kekuatan militer pun tidak dapat digunakan lagi, karena kini AS menghadapi seluruh dunia. Puncaknya, kerusuhan di dalam negeri akhirnya membuat AS harus menarik angkatan bersenjatanya kembali pulang. Di dalam negeri public AS berulangkali menjatuhkan pemimpin nya, hingga akhirnya negara2 bagian memutuskan pemisahan diri.

Dan kini, negara yang dulu begitu berkuasa itu benar2 secara resmi dibubarkan. Pria itu berulang mengganti saluran berita di televisi nya. Berita yang sama. Direguknya lagi kopi pahitnya. Ada sedikit kesedihan di hati nya, mengingat korban yang mungkin timbul, dan kekacauan yang lebih luas. Ah, aku hanya orang sederhana nun jauh di Bandung sini. Apakah betul “kepak sayap kupu2” di Bandung sini dapat menjadikan angin topan di ujung dunia sana. Dibuka nya laptop nya, dibacanya kembali blog nya lima tahun lalu, tentang Hari Terakhir sebuah negara besar bernama Amerika Serikat. (fr)

Bubur Merah Putih

Beberapa waktu yang lalu saya secara tidak sengaja mendengar obrolan segerombolan manusia di lift. Inti nya, caci maki dan sumpah serapah kepada Ibu Pertiwi Indonesia. Dari pakaian nya, cara ngomongnya yang ¼ Inggris dan ¾ Bahasa Indonesia, kesimpulan saya mereka cukup terpelajar, mungkin pernah sekolah atau tinggal diluar negeri, atau paling tidak sering ke luar negeri. Karena dikit2 ada ucapan, “gak kaya disono ..” Saya pengen ngomong banyak sama mereka, tapi keburu keluar lift. Ini yang ingin saya ungkapkan:

Saya sendiri gak sering2 amat keluar negeri, dan asli orang kampung. Waktu lahir dan dikasih nama, orang tua saya membuat bubur merah-putih. Saya juga ingat, dulu Ayah saya mengikatkan kain merah-putih di palang kayu penyangga atap rumah. Entah apa maksudnya, tapi ini barangkali yang membuat saya memiliki pandangan yang sungguh berbeda.

Indonesia sebagai negara memang sedang menghadapi banyak masalah. Tapi bukankah kita harusnya menjadi bagian dari solusi masalah yang sedang kita hadapi, dan bukan sekedar berkoar2 mencaci maki? Kalau merasa republik ini korup, mulailah dari diri kita untuk tidak korup, dan jangan segan menolak korupsi. Kalau merasa disini banyak pengangguran, ya bantulah ciptakan lapangan kerja, bukan mengemis kerjaan. Kalau merasa disini lalu-lintas semrawut, ya ayo mulai tertib dari diri kita sendiri. Kalau menurut kita pemerintahan dan lembaga perwakilan nya masih “geblek” ya pilihlah orang2 terbaik dalam pemilu. Atau, Anda sendiri merasa cukup hebat, ya majulah jadi politikus.

Saya masih memiliki mimpi bahwa suatu saat kita akan keluar dari kesulitan dan menang. Ini bangsa besar dan hebat. Setiap mendengar orang mencaci-maki republik ini, saya teringat leluhur saya yang banyak menderita dijaman clash ke II dengan Belanda. Namun penderitaan mereka, dan jutaan lagi relawan yang telah berkorban nyawa dan harta demi berdiri nya negara republik Indonesia ini, seolah tidak ada artinya bagi para pecundang yang cuma bisa ternganga2 pencapaian orang lain dan lantas menghina bangsa sendiri. Anda bisa tebak jaman leluhur2 kita berjuang untuk merdeka dulu orang2 model begini pada kemana. Barangkali sekarangpun kalo kita dijajah lagi, pasti mereka akan duluan menyeberang jadi orang2nya penjajah. Lha wong enak, jadi budak nya negara maju yg dikagumi. Itulah mental inlander, kalo dengan orang asing dan yang serba asing, akan „munduk-munduk“, kalo sama orang sendiri akan merendahkan.

Saya tidak anti-barat, timur, negara besar atau apapun. Saya bekerja sama juga dengan banyak perusahaan dari US, UK, Australia, dan semuanya baik2 saja. Saya paham sepenuhnya kita hidup dalam komunitas global. Tentu saja saya juga senang mengkonsumsi makanan, pakaian, buku, karya seni, musik dsb karya dari negara lain. Saya juga kagum dengan kemajuan2 yang lebih dahulu dicapai negara lain. Namun kekaguman2 tadi tidak membuat saya merasa perlu untuk merendahkan diri sendiri. Saya juga tidak dalam posisi pro-pemerintah. Sejak jaman mahasiswa dulu hingga kini, saya juga senang dengan satire, kritikan, atau bahkan ledekan atas kerja pemerintahan negara kita yang memang sering tidak bagus. Tapi tidak dengan semangat merendahkan orang lain ataupun diri sendiri.

Saya juga sepakat banyak sekali yang harus dibenahi. Tapi kalau Anda cinta, Anda akan berusaha membenahi, bukan mencaci. Kalau cat rumah atau rumput di halaman Anda kalah dengan rumah tetangga, ya mari kita cat dan tanam rumput baru, bukan kagum2 melulu sama rumah orang lain. Atau Anda pikir pemerintah ataupun undang2 kita perlu diganti? Ganti lah melalu koridor demokrasi yang sudah kita sepakati.

Tapi kalau ternyata Anda bener2 sudah gak suka dengan negara sendiri, ya gak usah dipaksain. Saran saya juga jangan juga main cela. Nanti Anda yang makan hati. Kalau mau, ya sana “resign” saja sebagai warga negara Indonesia. Silakan apply jadi WN di tempat yang Anda kagumi, dan good luck. Siapa tau Anda jadi orang hebat disana. Banyak kok, teman saya yang tujuan hidupnya adalah memiliki status permanent resident di negeri orang. Atau kalau mau jalur cepat, minta dikawinin aja sama orang asing dan dibawa kesana. Itu satu pilihan hidup yang saya hormati juga. Setelah itu Anda akan tenang dan bebas merdeka tidak perlu memikirkan masalah2 Republik Indonesia lagi. Bagaimana kalau banyak yang mau pindah? Ya tidak apa2. Gak usah dihalangi, itu hak mereka. Anggaplah seleksi alam.

Kalau saya? Saya lebih suka disini. Dan bersama orang2 yang tersisa dan masih satu mimpi, kelak akan menjadikan negara ini besar dan hebat. Kalau saya belum bisa juga, akan saya wariskan semangat ini ke anak2 saya. Siapa tahu Anda kelak terkagum2 dengan negara kami (fr)

Tuesday, September 26, 2006

Kacamata

Kalau dunia sekitar Anda selalu terlihat buram.
Coba periksa mata Anda, mungkin Anda perlu kacamata baru.

Hampir tiap hari saya mendengar orang mengeluhkan "dunia" mereka yang terlihat buram. Atau mengeluhkan orang lain, atau pihak lain, yang selalu dalam posisi salah. Padahal kalau dipikir2 kesimpulan apakah dunia ini buram atau cerah, apakah orang lain salah atau tidak, ada ditangan kita sendiri.

Saya pernah bertemu dengan seorang eksekutif sebuah perusahaan besar. Pagi2 beliau sudah bersembunyi di balik meja besar nya. Di meja nya setumpuk koran selesai dibaca nya pagi itu. Kalimat2 yang menyembur dari mulutnya adalah, kecaman2 kepada pemerintah, korupsi, kriminalitas, anak buahnya yang tidak sesuai keinginan nya, dan ekonomi dunia dan nasional yang tidak kondusif, dan sebagainya. Sedikit2 Beliau mengatakan "lihat saja di koran pak!". Seolah2 Bapak tadi hidup di "alam koran" yang bertumpuk di meja nya.

Sementara banyak kompetitor perusahaan beliau dengan sigap menangkap peluang2 dibalik krisis. Beliau memilih duduk menyalahkan keadaan. Bagi beliau, semua orang salah. Pemerintah salah, anak buahnya salah, ekonomi nasional salah, ekonomi dunia apalagi. Saya pun buru2 pergi, karena saya tahu, di mata beliau, saya pun salah.